CHAPTER 6 (Kacamata)

Mizuki's P.O.V

"Jangan bilang kalau aku terlibat ya. Bilang saja kalau kamu yang menemukannya atau siapa, yang penting jangan sebut namaku jika dia menanyakan," punggung Levi-san menjauh dari pandanganku.

"Memangnya kenapa aku tidak boleh memberitahu nee-chan?" aku berkata pada diriku sendiri, mencoba berpikir apa yang menyebabkan Levi-san tidak ingin namanya disebut saat nee-chan menanyakan siapa yang menolongnya. Dasar aneh.

...

"Ne nee-chan, kapan kamu siuman? Ini sudah tiga hari..." gumamku menundukkan kepala.

# # #

Reader's P.O.V

'Ahhh... hangatnya. Terimakasih bintang, dan maafkan karena kelakuanku yang buruk kepadamu. Hahh... hangatnya.'

Aku menatap sekeliling, walaupun aku merasa hangat, tapi aku tidak tahu ada dimana sekarang. Semuanya putih seperti kanvas. Sebenarnya aku ingin berkeliling mencari jalan keluar, tapi entah mengapa aku malas, mungkin karena aku sudah tenggelam dalam kenyamanan dan kehangatan disini.

Ku pejamkan mata, sebisa mungkin aku menikmati kehangatan ini selagi bisa. Siapa tahu kalau nanti tiba-tiba aku berada di tempat yang dingin.

"Are, Mizuki?" aku celingak-celinguk mencari asal suara yang samar-samar itu. Suaranya mirip Mizuki.

"Nee-chan, mau sampai kapan tidur terus? Padahal banyak hal yang mengejutkan sudah terjadi. Dan pastinya Nee-chan enggak akan percaya kalau aku ceritain," aku mendengar desahan nafas Mizuki.

"Aku tidak peduli Nee-chan bisa mendengarku atau tidak, tapi aku akan tetap cerita. Waktu Nee-chan hilang, Levi-san ikut nyariin. Aku enggak tahu dia udah nyari kemana aja. Tapi yang jelas waktu di UGD, Levi-san berantakan sekali. Mantel dan celananya kotor, rambutnya acak-acakan, bahkan Ia berkeringat di pergantian musim ini. Nafasnya pun tidak teratur, seperti sedang tegang. Aku rasa ini lampu hijau buat Nee-chan. Manfaatin bener-bener ya kesempatan ini."

Entah mengapa aku bisa merasakan Mizuki tersenyum lebar, aku juga bisa merasakan genggaman tangan Mizuki.

"Mizuki? Itu kamu kan?"

Tidak ada jawaban.

"Apa dia tidak mendengarku?" aku mendengus kesal. "Aku mau pulang..."

Aku memejamkan mata, berusaha untuk tenang. Tiba-tiba figur seorang Levi muncul di kepalaku.

"Levi... rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Aku benar-benar ingin pulang. Kumohon bawa aku pulang bintang."

# # #

Aku membuka mata perlahan, mengedipkan mata berkali-kali untuk memperjelas penglihatanku. Aku terbangun di atas kasur rumah sakit, saat ini gelap, hanya ada cahaya remang-remang bulan yang berasal dari jendela. Disampingku juga ada infus yang terhubung dengan lengan kiriku.

"Apa yang terjadi?" gumamku memegangi kepala. "Apa itu?"

Aku melihat banyak sekali kartu tergeletak di atas meja yang berada di samping tempat tidurku.

"Hahhh..." aku mendesah kesal, semua kartu ini dari Erwin. Tidak ada satupun dari orang lain, apalagi Levi.

Aku melirik jam dinding yang ada di ruanganku. Pukul 01.00 dini hari dan aku sama sekali tidak mengantuk. Dan aku sendirian lagi, disini, di ruangan rumah sakit. Setidaknya aku aman, hal buruk apa yang bisa terjadi di sebuah rumah sakit?

Aku memandang ke arah jendela, mengamati pemandangan gedung-gedung di malam hari dengan lampu yang berwarna-warni. Dan... bintang yang berkerlap-kerlip.

# # #

"Nee-chan bisa pulang seore ini, bukankah itu bagus?" kata Mizuki.

"Ya, dan aku harus segera mengejar ketinggalan pelajaran..." kataku lirih. Sejenak aku berpikir. Apakah suara yang aku dengar itu benar milik Mizuki? Terus, apakah cerita itu semua benar? Lalu apa maksudnya lampu hijau? Aku benar-benar tidak mengerti.

"Ne Mizuki," panggilku.

"Hm?" Mizuki mengalihkan pandangan dari manganya.

"Aku tahu ini aneh dan tidak masuk akal. Tapi dengarkan aku dan jangan tertawa."

Alis Mizuki bertaut, Ia terlihat bingung. Ia memajukan kursinya lebih dekat ke arahku.

"Waktu aku tidak sadarkan diri, aku sempat mendengar suara seseorang sedang bercerita kepadaku. Suara orang itu mirip dengan suaramu," aku mendesah, agak ragu untuk melanjutkan ceritaku.

"Terus?"

Aku menarik nafas. "Orang itu cerita tentang Levi. Tentang Levi mencariku sampai rupanya acak-acakan dan tegang saat di UGD. Apakah yang bercerita itu kamu?"

Mizuki mendesis, mengalihkan pandangannya ke arah lain. "I-itu aneh sekali nee-chan, mana mungkin orang yang tidak sadarkan diri bisa mendengar suara?"

Aku tahu Mizuki berbohong.

"Jujurlah Mizuki, aku tahu kau berbohong."

"Aku tidak berbohong. Jika dipikir menggunakan logika, kan aneh jika orang yang tidak sadarkan diri bisa mendengar suara."

"Jadi, semua yang aku dengar hanya mimpi? Dan cerita itu juga khayalan?"

"Tentu saja. Kemungkinan seseorang bermimpi saat sedang tidak sadarkan diri kan besar."

Aku menghela nafas. Mungkin Mizuki memang tidak berbohong. Ya sudahlah. Buat apa aku memikirkan hal yang tidak penting dan pasti tidak mungkinnya. Hanya membuang tenaga.

"Sebaiknya nee-chan bersiap. Aku bantu ya."

# # #

Aku turun dari mobil yang dikemudikan Mama. Mulai sekarang Mama akan menjadi supirku, dan itu sangat menyebalkan. Aku diperlakukan seperti anak kecil! Hanya gara-gara hari itu, kemanapun aku pergi Mama akan mengantar dan menjemput.

'Gahhhh... menyebalkan! Aku bukan anak kecil lagi! Aku bisa mengatur kehidupanku sendiri! Ugh... kalau begini terus, aku enggak akan bisa ke toko lagi setiap hari!'

Aku mengepalkan tanganku sambil menggerutu di dalam hati. Ditambah lagi anak-anak lain melihatku dengan tatapan aneh, bahkan ada yang berbisik bisik, ada pula yang tertawa melihatku turun dari mobil.

Itu semua karena aku sendirian yang diantar. Mereka pasti berpikir kalau aku anak yang manja.

"Hai Chiharu. Akhirnya kau masuk sekolah juga. Rasanya hidupku hampa tanpa kehadiranmu di sekolah," Erwin menghampiriku dengan kedua tangan terbuka, siap memelukku.

Aku langsung menghindar. "Jangan coba-coba, itu menjijikkan," aku mempercepat langkahku.

Aku mendesah. "Semoga tidak ada surat-surat terr- ahh!"

Bruk!

Aku terjatuh di turunan dekat loker sepatu. Kacamataku sampai terjatuh. Aku bisa mendengar tawa-tawa iblis disekelilingku.

"Dasar cupu, kalau jalan lihat-lihat dongg!"

Aku mengabaikan mereka, kemudian segera bangkit dan mengambil kacamata berlensa normalku yang terjatuh cukup jauh. Saat aku hendak mengambilnya, seseorang telah mengambilnya.

"Kalau kau tidak cacat mata, tidak usah pakai kacamata," kata orang itu.

Aku menoleh. Itu... Levi?

Krek!

Dia mematahkan kacamataku, lensanya remuk dan framenya patah.

"Hah!" aku menatap tajam ke arah Levi. Aku tidak peduli kalau dia orang yang aku sukai dan orang yang menurutku paling tampan di dunia. Yang jelas sekarang, aku sangat sangat sangat marah.

"Kenapa kau rusak kacamataku? Hah?!"

"Karena kau tidak cacat mata."

"Darimana kau tahu aku tidak cacat mata?"

"Barusan kau bisa mengambil kacamatamu, membuktikan bahwa kau tidak cacat mata."

"Bisa saja cacat mataku kecil, misalnya 0.25."

Levi terlihat jengkel. Aku tidak peduli, karena aku juga jengkel, bisa-bisanya Dia merusak kacamataku.

"Bisa kau ganti dengan yang baru?"

"Kau tidak cacat mata, karena kau selalu membaca manga tanpa kacamata, belajar tanpa kacamata. Semua kegiatan di luar sekolah kau lakukan tanpa memakai kacamata!" seru Levi.

Tiba-tiba suasana hening, semua anak memperhatikan Levi termasuk aku. Bagaimana Dia bisa tahu semua kegiatanku? Membaca manga hanya aku lakukan di rumah. BAGAIMANA BISA?

Aku menundukkan kepala dalam-dalam, mencoba menyembunyikan semburat merah muda yang muncul di pipiku.

"B-bagaimana k-k-kau tahu s-semua itu?" tanyaku dengan terbata-bata.

Levi terdiam.

"Ada yang menguntit si cupu!" seru seseorang.

Aku merasa orang-orang disekelilingku berbisik-bisik. Arrghh! Aku melihat Levi berbalik meninggalkan kerumunan orang-orang ini. Aku pun juga buru-buru ke kelas, berharap semoga waktu bisa berjalan lebih cepat.

# # #

"Perhatian!" seru Petra, ketua kelasku. "Hari ini sensei ijin karena ada urusan, jadi beliau meninggalkan tuga untuk kita."

Anak-anak kelasku langsung gaduh, sebagian besar dari mereka mengeluh.

"Tolong diam!" Petra mengetuk-ngetuk penggaris. "Sensei menyuruh kita meresensi novel. Waktunya 2 minggu, dan tugasnya berkelompok 2 orang. Novelnya sudah ditentukan oleh sensei," Petra mengambil kapur, kemudian menuliskan daftar novel yang harus kami resensi.

"Argh! Aku benci tugas kelompok..." gumamku lirih.

"Nah, ini daftar novelnya. Nanti pilih salah satu. Terus kelompoknya..."

Aku tidak terlalu mendengarkan Petra. Aku sibuk membaca daftar novel yang ada di papan tulis.

"Loving You, Only Yesterday, Don't Say Sayonara, itu semua roman picisan!" seruku pelan.

"Fujisaki-san berpartner dengan..."

Double chapter minna! Gomen ya updatenya lama... #AnemoneARO