Chapter 7 (Closer)

Petra's P.O.V

Mataku menjelajahi daftar partner yang diberikan sensei kepadaku, mencari namaku dan partnerku.

'Petra Ral...'

"Ah ketemu..." aku membisu. "Dengan Erwin si brengsek itu?!" gerutuku pelan.

Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak mau berpasangan dengan si brengsek itu! Bagaimana pun caranya aku harus berpasangan dengan Levi.

"Uso... Levi dan si cupu itu..." tanpa pikir panjang aku mengambil pulpen, kemudian mencoret nama si cupu itu dan ku ganti dengan namaku.

"Nah, selesai. Ini baru adil," aku tertawa dalam hati. "Levi hanya milikku."

Aku menatap seisi kelas, kemudian langsung membacakan kelompoknya.

# # #

Reader's P.O.V

"Fujisaki-san berpartner dengan Erwin Smith."

Aku langsung mendongak. Aku tidak salah dengar kan? Aku masih tidak percaya apa yang barusan ku dengar.

"Anu..." ku angkat tanganku.

"Ya Fujisaki-san?"

"Bisa ulangi partnerku siapa?"

Petra menatapku sejenak. Aku bersumpah melihatnya menyeringai.

"Dengan Erwin Smith," katanya dengan suara lembut disertai senyum.

Mungkin perasaanku saja. Tidak mungkin Petra yang baik itu menyeringai. Dia memperlakukan semua murid sama, termasuk aku. Tapi, berpartner dengan Erwin...

Aku mencoba untuk melirik Erwin. Sebuah senyuman bodoh bertengger di wajahnya. Ia melirikku dan memperlebar senyumnya. Aku langsung memalingkan wajah.

'Sialan...'

Rasanya aku ingin menghilang saja dari dunia ini. Kenapa aku tidak bisa menjalani hidup yang normal?

Tak! Tak! Tak!

Petra memukul-mukul penggaris. "Sekarang silahkan berdiskusi dengan partner kalian! Ingat waktunya hanya 2 minggu! Setahuku novel-novel itu tebal-tebal."

"Hhhhh..." aku mendesah keras.

Erwin menarik kursinya ke arahku. "Jadi, kita akan meresensi novel yang mana?"

Aku meliriknya. "Yang paling tipis," jawabku dengan nada jutek.

Erwin terus memperhatikan wajahku.

"Kau tidak mendengarku? Dan berhentilah menatap wajahku seperti itu!"

Erwin tertawa pelan. "Aku mendengarmu kok. Hanya saja, tanpa kacamata ternyata kau jauh lebih cantik."

'Dia menggodaku... hahhh...'

"Disini kita akan meresensi, oke? Jadi fokuslah pada tugas!" seruku.

"Baiklah..." Erwin mengalihkan pandangannya ke arah papan tulis. Matanya menjelajahi setiap judul yang tertulis.

"Bagaimana kalau Loving You? Berkisahkan tentang seorang pemuda yang mengejar seorang gadis, namun gadis itu sulit diraihnya."

"Apa buku itu yang paling tipis?" tanyaku dengan nada mengintimidasi.

Erwin mengangkat bahunya. "Aku hanya tahu buku itu. Aku tidak tahu tentang buku yang lain."

Aku mendesah. "Kau pernah membacanya?"

"Tentu, itu buku yang menarik."

"Berapa jumah halamannya?"

"Seingatku ada 330 halaman."

Aku membelalak. "330?! Apa semua novel roman picisan setebal itu?!" seruku sedikit berteriak.

"Rata-rata segitu," Erwin terdiam. "Tunggu, jadi kau tidak pernah sekalipun membaca novel roman picisan?"

"Tidak, menurutku semua novel roman picisan itu menjijikkan. Jalan ceritanya, karakter tokohnya, semuanya menjijikkan."

"Jadi yang kau baca hanya buku pelajaran?" Erwin terus mengintimidasiku.

"Tidak juga..."

'Aduh, kalau dia sampai tahu aku hanya membaca manga, bisa gawat. Aku harus memilah kata-kata!'

"Kau tahu, disini kita sedang membicarakan tugas. Jangan lari kemana-mana!"

"Kita pakai Loving You saja, sudah kasus ditutup!"

"Hei! Waktu kita 2 minggu, lebih baik kita pakai semaksimal mungkin. Aku mau besok kita sudah mulai mengerjakan!" seruku.

Erwin tersenyum lebar. "Ok! Kita kerjakan di rumahku ya?"

Aku menatap Erwin tajam.

'Apa dia pikir aku akan langsung setuju, huh? Di rumahnya, yang benar saja?'

"T-I-D-A-K, Aku lebih memilih di taman atau-"

Tiba-tiba aku teringat perkataan Mama.

'Mulai sekarang kemana-mana kau harus dalam pengawasan. Minimal dengan Mizuki atau dengan Mama. Kau tidak boleh lagi pergi sendiri.'

"Ada apa?"

Aku terdiam, bingung harus menjawab apa. Kalau aku minta ditemani Mizuki, pasti Mizuki enggak mau, soalnya ini kan tugas kelompok. Kalau dia ku undang ke rumah...

'Tidak tidak! Jangan sampai dia aku undang ke rumah. Itu hal terbodoh yang pernah ku pikirkan. Aku harus mencari solusi lain.'

"Umm... bagaimana kalau mengerjakannya setiap pulang sekolah di perpustakaan?"

Erwin menatapku bingung. "Kurasa tidak akan cukup waktunya. Kita hanya punya waktu satu jam untuk mengerjakan setiap harinya. Karena perpus tutup satu jam setelah pulang sekolah."

"Arrggh! Ya sudah, besok aku kasih tahu solusinya," kataku dengan nada jengkel.

# # #

Drrt... drrt...

Ponselku bergetar. Pasti ada sms. Aku langsung membukanya.

"Tunggulah satu jam lagi, Mama masih ada sedikit urusan. Ingat! Jangan kemana-mana!" gumamku membacakan sms. "Iya, iya aku tahu. Lagi pula aku mau kemana?!"

Aku berjalan menuju pohon sakura legendaris, kemudian duduk bersandar di bawahnya. Walaupun disini dingin sekali, tetapi rasanya nyaman duduk di bawah pohon ini. Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikiranku.

"Ngomong-ngomong, nasib band sekolah gimana ya? Ini sudah lewat dari hari Jum'at. Entah kenapa aku merasa bersalah. Apa mereka sudah dapat vokalis?" gumamku.

Aku mendesah keras. "Kenapa aku harus khawatir mengenai mereka? Lebih baik aku menyanyi. Sudah lama aku tidak menyanyi."

# # #

Levi's P.O.V

"Dasar sialan! Percuma saja latihan kalau tidak ada vokalis!" gerutuku pelan.

Aku menyandarkan diri ke pohon sakura legendaris. Sudah 10 menit aku disini, biar saja mereka mencariku. Aku tidak peduli.

Tiba-tiba aku mendengar seseorang menyanyi. Suaranya terdengar familiar dan sangat dekat dengan posisiku.

"Chiharu..."

Aku memejamkan mata, mencoba mencari asal suara tanpa bergerak. Suara itu berasal dari sisi lain pohon ini. Aku mencoba menikmati nyanyian ini. Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengarnya bernyanyi. Diam-diam aku mengintipnya dari sisi lain pohon.

Ia benar-benar cantik, secantik suaranya dan bintang yang berkerlap-kerlip di malam hari. Aku ingin sekali menggenggam tangannya yang lembut itu. Tiba-tiba aku merasa kesal, kesal dengan diriku sendiri. Kesal karena kepecundanganku yang tidak mampu untuk menyatakan perasaan. Kadang aku takut kalau Chiharu diambil orang lain. Tapi...

"LEVI! Kamu ngapain disana?! Ayo balik latihan!"

# # #

Reader's P.O.V

"LEVI! Kamu ngapain disana?! Ayo balik latihan!"

Aku terloncat kaget dan langsung menghentikan nyanyianku. Teriakan siapa barusan? Dan orang itu memanggil Levi. Rasanya... seperti Levi ada di sekitar sini.

Seketika aku langsung berdiri, kemudian berjalan ke sisi lain pohon.

"L-l-levi, a-apa yang k-kau l-lakukan d-disini?" ucapku tidak bisa mengontrol lidah.

Levi menatapku kaget, tiba-tiba Ia menarik tanganku dan berlari. Rasanya jantungku semakin berdegup kencang. Aku mulai merasa kepanasan. Dia mau membawaku kemana?! Aku hampir angkat bicara, tapi Levi memotongnya.

"Diam dan ikut saja."

'Diam dan ikut saja? Apa maksudnya? Aku mau dibawa kemana? Aaaahhhh! Rasanya aku mau meledak!'

Jalan ini... ke arah ruang band! Tunggu, tunggu, apa anak band mau menjebakku?

"Kenapa kita kesini? Kalian tidak sedang menjebakku, kan?"

Levi melirikku. "Untuk apa kami menjebakmu. Aku hanya sedang melarikan diri dari mereka. Kalau kita bersembunyi di belakang sini pasti tidak akan ketahuan."

"Hahh... hahh... hahh..." aku mencoba menormalkan kembali tarikan nafasku.

Levi terlihat sedang mengawasi keadaan. Ahhh... bodohnya aku. Harusnya tadi aku melepaskan tangannya saja.

"Mitsuketta!"

Aku dan Levi Menoleh, terlihat Karin dan Mai dengan aura-aura gelap di sekitar meraka. Levi meraih tanganku lagi, kali ini Ia kabur ke arah lain.

"Mau kemana?" Mike mencegat kami.

"Tch..."

"Kenapa kau kabur, Levi?" tanya Karin.

Levi menatap semua anggota band. "Untuk apa latihan kalau posisi vokalis kosong?"

Semua terdiam. Aku jadi canggung berada di sini. Apa aku harus bergabung dengan mereka. Tapi bagaimana kalau mereka memperlakukanku seperti teman-temanku dulu?

'Apa yang harus aku lakukan? Apa aku gabung saja ya? Lagipula hanya sampai festival musim dingin selesai, setelah itu aku keluar. Yosh, sudah aku putuskan!'

"A-anu... a-aku ingin membantu kalian..." kataku menundukkan kepala.

"Haahhh... yang benar Chiharu-chan?" Mai memegang kedua pundakku.

Aku mengangguk pelan.

"Wahhh... yatta!"