Chapter 8 (Finally Join In)

"Fujisaki-san, kamu serius ingin bergabung bersama kami?" tanya Karin.

Aku menatap sepatuku, aku merasakan jantungku berdetak cepat. Mungkin karena aku akan memasuki dunia pertemanan yang kejam lagi. Tapi aku sudah terlanjur membuat keputusan, dan akan aku laksanakan hingga tuntas.

Aku menatap mata Karin. "Tentu! Tapi hanya sampai festival musim dingin."

"Chiharu?" aku mendengar suara Ibu. Ternyata Ibu ada di belakangku.

"Eh- ibu..."

"Ngapain di sini? Kan Ibu bilang tunggu di gerbang," Ibu menyilangkan kedua tangannya.

"Eh, anu... tadi-"

"Udah diem! Ayo pulang!" Ibu menarik tanganku, meninggalkan teman-temanku yang kebingungan.

Aku hanya menunduk, mengikuti langkah Ibu.

"Kenapa kamu enggak tunggu di gerbang?!" tanya Ibu dengan nada meninggi.

Aku terdiam sebentar. "Maaf..."

"Kamu tahu kan Ibu capek. Setiap pulang dari kantor harus jemput kamu. Harusnya kamu bisa menghargai Ibu dong."

"Masuk!" Ibu membukakan pintu mobil, menyuruhku masuk dengan nada marah.

Dengan situasi seperti ini mana mungkin aku bilang kalau aku gabung ke band. Huft... memang salahku sendiri sih. Harusnya aku langsung ke gerbang, bukannya malah nongkrong di bawah pohon sakura legendaris. Malah akhirnya aku diseret Levi, terus gabung ke band.

Aku merasakan wajahku memanas mengingat Levi menarik tanganku. Dengan situasi seperti ini mana mungkin aku bilang kalau aku gabung ke band. Huft... memang salahku sendiri sih. Harusnya aku langsung ke gerbang, bukannya malah nongkrong di bawah pohon sakura legendaris. Malah akhirnya aku diseret Levi, terus gabung ke band.

Aku merasakan wajahku memanas mengingat Levi menarik tanganku. Genggamannya lembut. Dengan tangannya yang lebih besar dariku, aku merasa aman. Apalagi kami akan lebih sering bertemu. Kyaaa!

Aku memegangi wajahku. Tenang Chiharu! Tenang! Saat ini kau harus membereskan urusan dengan Ibu.

Aku melirik Ibu yang sedang menyetir. Aku menelan ludah. Aku sudah siap kata-kata di otak. Tetapi suaraku tak mau keluar.

Akhirnya sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam. Tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Arrgghh! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Padahal aku sudah janji dengan mereka.

# # #

Aku membanting diri ke kasur. Menghembuskan nafas berat.

"Hahh... bagaimana ini? Memang seharusnya aku tidak usah menerima tawaran mereka," gumamku.

Aku memejamkan mata sambil berpikir untuk membantu mereka mencari vokalis lain. Karena aku tidak mempunyai teman di sekolah, tidak ada satu pun orang yang muncul di kepalaku. Aku langsung duduk ketika otakku memunculkan seseorang.

"Petra!" seruku. "Suaranya juga bagus. Pasti dia lebih cocok jadi vokalis daripada aku."

Yosh! Besok pagi akan ku ajukan dia ke klub band. Daripada itu, AKU MASIH PUNYA PR MATEMATIKA! Jam berapa sekarang?! Aku buru-buru menuju meja belajar, menyalakan lampu kemudian segera mengerjakan.

# # #

Levi's P.O.V

Haruskah aku ke rumahnya sekarang? Atau besok saja? Tapi band dalam keadaan darurat. Cuma Chiharu yang cocok jadi vokalis. Pokoknya aku harus mendapatkan Chiharu bagaimanapun caranya.

Aku memakai mantel dan berjalan ke rumah Chiharu. Kira-kira apa yang harus aku katakan untuk membujuk Ibu Chiharu? Haruskah aku bilang kalau aku akan mengawasinya, mengantarnya pulang sampai festival musim dingin selesai dengan syarat Chiharu boleh jadi vokalis band? Ya, aku tidak tahu apa itu hal yang benar untuk dikatakan. Tetapi jika tidak dicoba aku tidak akan mengetahui hal itu benar atau salah.

Ting tong!

Aku memencet bel rumah Chiharu.

"Haikk!" terdengar suara seseorang dari dalam.

"Ahh, nak Levi. Ada apa malam-malam kemari? Ingin mencari Chiharu ya?" tanya Ibu Chiharu yang sedang membawa pengocok telur.

"I-iiee... aku ingin berbicara dengan ba-san," aku merasakan kejutan kecil di dadaku saat mendengar kata-kata 'Ingin mencari Chiharu, ya?'.

"Ohh, kalau begitu masuk dulu."

Aku melepas sepatuku.

"Duduk dulu nak Levi, baa-san ambilkan cokelat panas dulu," Ibu Chiharu beranjak menuju dapur.

"Tidak usah repot-repot baa-san. Aku hanya sebentar kok."

"Sudahlah, lagipula di luar dingin. Tunggu sebentar ya!" seru Ibu Chiharu dari dapur.

Aku menghela nafas. Kalau dipikirkan lagi, mengapa aku sampai sejauh ini untuk membujuk Chiharu? Padahal kami bisa saja mencari vokalis lain. Tapi, mengapa aku bersikeras agar Chiharu menjadi vokalis? Aku merasakan wajahku memanas.

PLAK! PLAK!

Aku menampar pipiku. Tidak, tidak! Aku tidak cukup baik untuk Chiharu. Aku...

"Apa yang ingin kau bicarakan nak Levi?" tanya Ibu Chiharu sambil menaruh secangkir cokelat panas dihadapanku. "Sambil diminum ya!"

Aku memandangi kedua kakiku sejenak. Kemudian aku menarik nafas dalam-dalam.

"Apa boleh Chiharu menjadi vokalis band sekolah?"

Ibu Chiharu terlihat bimbang. Dari raut wajahnya sudah terlihat kalau tidak boleh.

"Tapi-"

"Aku akan menjaga Chiharu sampai festival musim dingin selesai!" seruku memotong perkataan Ibu Chiharu. "Aku akan menjaganya kemanapun. Di sekolah, saat dia pergi, aku juga akan mengantarnya pulang. Tidak, aku akan mengantarnya kemanapun. Jadi, kumohon baa-san!" aku berdiri dan membungkukkan badan.

Ibu Chiharu menatapku. "Tapi apa itu semua tidak merepotkanmu?"

Masih posisi membungkuk, aku berseru dengan mantap. "Tidak sama sekali! Aku akan senang sekali melakukannya."

"Duduklah lagi nak Levi!"

Aku mengangkat kepalaku kemudian duduk. Aku bisa melihat Ibu Chiharu tersenyum lebar. Butiran-butiran air mata mengalir dari matanya.

"Baa-san senang sekali ada orang yang perhatian dengan Chiharu. Baiklah kalau begitu, baa-san percayakan Chiharu kepadamu sampai festival musim dingin berakhir."

"A-arigatou baa-san!"

# # #

Reader's P.O.V

Aku meregangkan tubuh kuat-kuat. Ku buka jendela balkonku lebar-lebar yang menyebabkan angin musim gugur yang dingin menyerbu masuk ke kamarku.

"Hahh... segarnya!" seruku menghirup dalam-dalam angin segar yang dingin itu.

Krieekk!

Aku menoleh ke belakang. Terlihat kepala Mizuki menyembul dari balik pintu.

"Ahh, kau memang yang paling rajin ya Mizuki. Pagi-pagi begini udah rapi," kataku menghampiri Mizuki.

"Hehe, Mizuki gitu loh. Oh iya, cepetan nee-chan! Nanti ketinggalan bus."

"Iya-iya, udah kamu sarapan dulu aja!"

"Ok!" seru Mizuki sambil menutup pintu.

"Mou, Mizuki itu..." gumamku terkekeh. Aku melirik jam dinding yang ada di kamarku.

"Aku harus cepat-cepat nih!" seruku menyambar handuk kemudian masuk kamar mandi.

# # #

"Ohayou!" aku menaruh tasku di kursi kemudian duduk dan memakan sarapan.

"Onee-chan, udah ditungguin tuh. Cepetan makannya!" bisik Mizuki.

Aku mengerutkan dahi. "Udah ditungguin? Siapa?"

Ibu datang dari dapur sambil membawa 2 bento dan setoples kecil kue kering. Kemudian Ibu duduk di sebelahku.

"Cepatlah Chiharu! Mulai sekarang kamu kemana-mana sama dia ya. Cuma sampai festival musim dingin selesai kok. Sebagai gantinya kamu boleh ikut band sekolah. Kamu juga jangan terlalu merepotkannya!" kata Ibu.

Aku meneguk susu kemudian angkat bicara. "Ibu nyewa bodyguard?"

Ibu terkekeh. "Lihat saja sendiri! Sudah cepat berangkat! Ini bentonya, oh iya kue kering ini nanti untuk anak band. Dimakan bersama ya!"

"Iya-iya, jaa ittekimasu!" aku berlari menuju pintu depan.

"Osoi na omae," aku mendengar suara dari ruang tamu. Aku yang sudah sampai pintu pun berbalik.

"L-L-Levi?! K-k-kamu kenapa di sini?" tanyaku tergagap-gagap. Dan wajahku memerah seketika. Merah padam.

"Masaka..."

"Aku akan mengawalmu kemana-mana," Levi menyandang tasnya kemudian mendekatiku. "Jangan salah paham, ini aku lakukan demi band. Setelah festival musim dingin selesai anggap saja kita tidak pernah kenal. Hanya teman sekelas biasa yang tidak pernah mengobrol."

"Ahh, kalau itu aku juga tahu. Jaa yoroshiku onegaishimasu. Aku akan berusaha untuk tidak merepotkanmu."

Hah... aku sedikit kecewa. Aku kira Levi melakukannya karena perasaannya sendiri. Ternyata demi band. Yah, sudah jelas juga kalau dia melakukannya untuk band. Tidak mungkin dia melakukannya karena perasaannya sendiri. Lebih baik aku menyerah saja, tidak ada kesempatan untukku.

"Ayo berangkat!" Levi berjalan meninggalkanku.

"Ahh, matte yo!" seruku berlari menyusul Levi.

# # #

Mai's P.O.V

"Ne~ ne~ Karin-chan," aku membuka kaleng jus.

"Nani?" jawab Karin-chan, matanya tidak terlepas dari keyboard.

"Kamu merasa aneh enggak?"

"Aneh apa sih?" Karin-chan duduk di sebelahku.

"Aku belum selesai ngomong!" seruku menggembungkan pipi. "Soal hubungan antara Levi sama Chiharu-chan. Aku merasa mereka itu..."

"Apa? Menurutku mereka biasa aja tu. Enggak akrab dan enggak musuhan juga."

"Demo demo, aku pernah lihat mereka berargumen soal kacamata di dekat rak sepatu. Kelihatannya Levi tahu banyak tentang Chiharu-chan. Terus waktu kita nyariin Levi. Ternyata Levi ngumpet di dekat pohon sakura legendaris, waktu kita panggil bukannya Levi lari sendiri malah dia narik Chiharu-chan juga. Bukannya lebih cepat kalau lari sendiri? Pokoknya aku merasa ada yang aneh sama mereka!"

"Haik haik, itu cuma perasaanmu saja. Ngomong-ngomong Mike sama Levi kemana?" tanya Karin-chan sambil meneguk jus kotaknya.

"Tadi sih Mike bilang mau ke kantin. Kalau Levi emang belum dateng. Kemana ya dia? Enggak biasanya dia telat."

Krieekk...

"Ossu!"

"Ahh, Hanji-san!" Karin-chan menghampiri Hanji-san. "Lama tidak bertemu. Ada apa Hanji-san kemari?"

"Aku kan guru kalian. Jadi sudah pasti aku akan ngajar," Hanji-san menggantungkan mantelnya di belakang pintu.

"Ngajar? Kan posisi vokalis masih kosong. Lagipula Chiharu-chan belum pasti ikut, gara-gara kemarin Ibunya kayak enggak ngijinin," kataku.

"Tapi Levi yang menelponku. Dia bilang posisi vokalis udah keisi."

Aku dan Karin-chan bertatapan. Siapa yang ngisi posisi vokalis?

Kriekk...

"Tch, daun sialan," Levi menyingkirkan daun yang ada di rambutnya.

"Levi! Apa maksudnya posisi vokalis udah keisi?! Kok kamu enggak ngasih tau?" seru Karin-chan.

"Huuuh, dinginnya!" tubuh Chiharu menyembul dari balik tubuh Levi.

"Chiharu-chan?"

"Ahh, konnichiwa minna! Are, Hanji-san? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Chiharu sambil menutup pintu.

"Whoa Chiharu! Makin cantik saja kau, apa lagi kalau sama..." Hanji-san melirik Levi.

"Haahh...? Ngomong apa sih Hanji-san?" wajah Chiharu-chan memerah.

Ara ara, rupanya begitu. Dasar Chiharu-chan! Sudah kuduga ada yang aneh dari hubungan Levi dan Chiharu-chan. Hehehe, kesempatan bagus nih! Aku bisa nggodain Chiharu-chan.

# # #

Reader's P.O.V

Apa-apaan sih Hanji-san?! Mou, mentang-mentang aku kesininya bareng Levi.

"Ngomong-ngomong, Hanji-san ngapain di sini?" tanyaku.

"Dia pelatih band," jawab Levi yang sedang menyeruput teh hitam panas.

"Hehhhh?!"

# # #