Chapter 9 (Pikirkan Saja Dirimu Sendiri)

"Dia pelatih band," jawab Levi yang sedang menyeruput teh hitam panas.

"Hehhhh?!"

"Kenapa Chiharu? Apa kau tidak percaya? Oh iya, kau tidak pernah ke toko lagi. Ada apa?" tanya Hanji-san.

"Ah, itu ceritanya panjang. Mungkin aku sudah tidak bisa lagi pergi ke toko."

Krieek...

"Ah sudah pada ngumpul rupanya," Mike masuk sambil menenteng seplastik penuh teh kalengan hangat.

"Wow Mike, kau memang paling bisa diandalkan! Sa... ayo mulai latihan!" seru Hanji-san bersemangat.

Kami semua mengambil posisi masing-masing. Tiba-tiba Karin angkat bicara.

"Anuu... kita bakalan nyanyi apa ya? Terus bukannya lebih baik Chi- eh Fujisaki-san menunjukkan kemampuannya dulu?"

"Hmm... benar juga ya. Kalau begitu, CHIHARU!" Hanji-san menunjukku. Aku mengangkat sebelah alis.

"Nyanyikan lagu yang biasa!"

"Lagu yang biasa? Maksudmu..."

"Iya, maksudku itu."

Anggota band lain saling berpandangan. Aku menghela nafas, sejujurnya aku sedikit gugup entah mengapa. Yah, setelah sampai di sini aku tidak bisa kabur kan?

"Pakailah gitar ini dulu," Hanji-san menyodorkanku sebuah gitar.

Aku mengambil gitar itu. Aku tahu ini punya Hanji-san, karena aku sering memainkannya saat di toko.

Aku mulai memainkan intronya. Aku akan menyanyikan Ai Kotoba.

# # #

Mike's P.O.V

Aku melirik Levi saat Chiharu mulai menyanyi. Dia tidak melihat Chiharu sama sekali, melainkan hanya memejamkan mata seakan dia menikmatinya. Aku terus memerhatikan Levi, dia terlihat seperti sudah sering mendengarkan Chiharu bernyanyi. Tiba-tiba Levi membuka matanya, Ia memergokiku.

"Apa?" tanyanya dengan nada ketus. Aku menyeringai. Levi mengalihakan pandangannya.

"Tch, menyebalkan," aku bisa membaca ekspresi wajahnya.

Jrengg...

"Bagus seperti biasa Chiharu!" Hanji-san merangkul Chiharu.

"Hebat hebat!" Mai bertepuk tangan dengan keras. Sedangkan Karin hanya tersenyum di tempat.

Aku mengalihkan pandangan ke Levi. Ia masih menyeruput teh hitamnya. Akhirnya aku menghampirinya.

"Apa?" katanya tanpa mengalihkan pandangan dari cangkirnya.

"Kau... pernah mendengar Chiharu bernyanyi sebelumnya?" tanyaku.

Levi melirikku. "Kenapa kau bertanya?"

"Kau terlihat seperti pernah mendengarnya bernyanyi."

"Kalau aku jawab iya, kenapa? Kalau aku jawab enggak, kenapa?" balasnya dengan nada ketus.

"Eh... lupakan," kataku. Nampaknya Levi tidak ingin mengakuinya.

"Ayo semua mari latihan!" seru Hanji-san.

# # #

Levi's P.O.V

Akhirnya selesai juga latihannya. Mulai hari ini aku akan mengawasi Chiharu kemana-mana, jadi aku tidak perlu... ah lupakan.

"Oi Levi!" panggil Mike. Aku menoleh.

"Bagaimana kalau hari ini aku main ke rumahmu?" tanyanya.

Aku terdiam sejenak, sebenarnya aku sedang berpikir. Kalau dia main ke rumahku sekarang, dia akan tahu kalau Chiharu tetanggaku. Itu akan jadi masalah.

"Jangan hari ini, aku ada waktu luang hari Sabtu," balasku.

Mike menatapku, nampaknya dia sedikit curiga. "Ok, hari Sabtu ya," katanya kemudian berlalu pergi. Aku menghela nafas.

"Levi!" Chiharu memanggilku. "By any chance, kamu enggak lupa kan kalau kita-"

"Aku enggak lupa. Percepat langkahmu atau ku tinggal."

"Ah, matte!" seru Chiharu. Aku bisa mendengarnya berlari menyusulku.

Kira-kira sampai kapan ya aku memperlakukan Chiharu seperti ini? Aku takut kalau Ia membenciku. Tapi aku juga takut kalau aku memperlakukannya dengan baik malah Ia berbalik menyukaiku. Aku sadar kalau aku tidak cukup baik untuk Chiharu, aku tidak ingin ia menyukaiku. Hal ini yang membuatku bingung. Bagaimana cara yang terbaik untuk memperlakukan Chiharu?

"Levi?"

Aku tersadar dari lamunanku.

"Ada apa? Dari tadi kau terus melamun. Lihat, bus sudah datang!" Chiharu menunjuk bus yang hampir sampai di halte.

"Tidak apa-apa, pikirkan saja dirimu."

# # #

Reader's P.O.V

"Tidak apa-apa, pikirkan saja dirimu."

"Eh?" aku menatap Levi yang terlebih dahulu naik.

Apa maksudnya itu? Kenapa dia berkata seperti itu? Aku- aku- tidak tahu apa yang dia pikirkan! Sebelumnya melamun terus tiba-tiba berkata seperti itu.

Bruushh!

"Ahh tunggu tunggu! Aku naik!" seruku buru-buru naik ke bus.

Nafasku tidak teratur. Hampir saja aku ketinggalan bus. Tiba-tiba saja aku merasa ada yang memperhatikanku. Mataku menangkap Levi yang sedang memperhatikanku dengan wajah yang berkata 'untung dia enggak ketinggalan bus, kalau ketinggalan habis aku dibunuh ibunya.'

"Anuu, d-daijoubu desu. Aku kan enggak ketinggalan bus."

Levi menghela nafas, kemudian Ia kembali memasang wajah tanpa ekspresinya. A-aku merasa sedikit aneh.

"A-anuu, gomenasai."

"Kenapa minta maaf?" tanya Levi tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.

"H-habisnya kamu kelihatan marah," kataku menundukkan kepala.

Aku melirik Levi sekilas. Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari jendela. Jangan jangan, dia marah. Apa yang harus aku lakukan? Dia akan mengawalku sampai festival musim dingin selesai. Festival musim dingin akan dilaksanakan Januari tepat setelah libur musim dingin. Kalau kami tidak bisa bersikap normal, aahhh aku tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi. Mungkin, mungkin Levi-

"Aku tidak marah, karena itu aku berkata pikirkan saja dirimu sendiri. Belum ada semenit aku berbicara kau sudah hampir ketinggalan bus."

Aku kaget saat dia mengucapkan itu. Rasanya seperti... dia sedang mengkhawatirkanku.

"Jangan salah paham. Aku tidak mengkhawatirkanmu, ini semua karena tugasku mengawalmu sampai festival musim dingin selesai."

Aku terloncat. "K-kau b-bisa membaca p-pikiranku?!"

Levi melirikku. "Ekspresimu mengatakan semuanya."

Eh? E-ekspresiku mengatakan semuanya?! J-jadi intinya, aku orangnya mudah dibaca?! M-memalukan...

Aku menutupi wajahku yang memerah dengan tanganku.

"Ayo bersiap turun!" Levi berjalan mendekat pintu.

"Ahh, waktu berjalan terlalu cepat," gumamku. "Aku harap waktu berhenti saja."

"Chiharu!"

Aku tersentak. Ternyata bus sudah berhenti. Aku buru-buru turun dari bus.

"Seriously, kau harus berhenti melamun. Jika kau terus melamun, itu akan menjadi masalah untukku."

Aku menatap sepatu selama Levi menasihatiku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin jatuh di kepalaku. Aku langsung mendongak menatap langit.

"Salju," aku mengadahkan tangan.

"Jaa, sampai di sini saja. Kau bisa kan jalan ke rumah sendiri?"

Aku menatap Levi. "Aku bukan anak kecil. Jangan meremehkanku!" aku berbalik berjalan ke rumah.

Aku menghentikan langkah. Aku merasa harus mengucapkan sampai jumpa.

"Ada apa?"

"M-mata ashita!" seruku kemudian berlari menuju rumah.

Untuk beberapa alasan jantungku berdetak cepat sekarang. Aku gugup sekali. Ini pertama kali aku mengucapkan sampai jumpa ke teman sejak beberapa tahun yang lalu. Walaupun aku gugup, aku senang sekali karena bisa mengucapkannya.

Oh iya, musim dingin ini pasti dinginn... sekali karena salju turun. Aku harus memakai pakaian hangat yang tebal besok karena aku tidak kuat dingin. Hidung dan pipiku bisa merah sekali kalau terlalu kedinginan.

"Tadaima," aku melepas sepatu.

"Ah Chiharu! Bagaimana hari ini?" Ibu tergopoh-gopoh menghampiriku.

"Biasa saja."

"Bukan, maksud Ibu bagaimana klub mu?"

Aku terdiam.

"Chiharu? Ada masalah?"

"Lumayan menyenangkan dan aku sedikit gugup," aku beranjak menuju kamar. "Kue kering Ibu juga habis. Kami memakannya sambil minum teh hitam hangat."

Wajah ibu terlihat sumringah. "Ibu lega kamu bisa mempunyai teman lagi setelah sekian tahun. Kamu tahu? Sebenarnya Ibu khawatir kalau kamu tidak mempunyai teman sampau kamu lulus SMA."

Aku menghentikan langkah.

"Ibu takut kamu tidak bisa menikmati masa remaja seperti anak-anak lain. Kamu selalu saja di rumah. Tidak pernah ibu mendengarmu meminta izin untuk bermain dengan teman."

Aku menatap Ibu. Sepertinya Ibu sedang menahan tangis.

"Bu-"

"Karena itu, Ibu lega akhirnya kamu memasuki klub," Ibu berjalan menghampiriku. "Berjanjilah untuk berteman, ya. Tidak perlu banyak, sedikit saja tapi mereka merupakan orang yang baik dan menerimamu apa adanya," Ibu mengelus kepalaku.

Aku ikut terisak. Saat ini aku tidak mampu berkata apa-apa.

Ting tong!

"Ara, ada tamu. Siapa ya?" ibu berlari menuju pintu.

Aku tidak tertarik dengan tamu itu, aku pun berjalan ke kamar.

Kriekk...

Aku memasuki kamar dan menyalakan lampu. Setelah ganti baju, aku akan belajar sampai makan malam.

"Chiharu!" Ibu memanggilku dari bawah.

Aku buru-buru ganti baju. Ada apa ya?

Aku berlari menuruni tangga. Aku melihat seseorang sedang duduk di ruang tamu.

"Temanmu datang, dia bilang ingin mendiskusikan tugas."

Teman? Tugas? Aku pun penasaran siapa orang itu. Akhirnya aku menghampirinya.

"Yo, Chiharu-chan!" orang itu melambaikan tangan ke arahku.

Mataku melebar. "Erwin?"

"Ya, kita tidak punya banyak waktu untuk menyelesaikan resensi. Ayo kerjakan sekarang! Apa kau sudah membaca bukunya?"

Ah, sial! Kenapa juga Dia harus datang ke rumah? Menyebalkan.

"Aku baru membacanya setengah."

"Bagus, lebih baik daripada belum membaca. Ayo kita resensi sedapatnya dulu. Dan hari Sabtu aku akan datang lagi. Lebih cepat selesai lebih baik bukan?"

Aku mulai jengkel dengan orang ini. Sejak kapan Ia yang memutuskan semuanya, huh? Tapi, ada benarnya juga perkataannya. Lebih cepat selesai lebih baik. Lebih cepat selesai lebih cepat pula aku berhenti melihat wajahnya.

"Aku ambil buku dulu."

# # #