Chapter 10 ("Pfftt-")

Jum'at yang dingin ini, aku bersiap berangkat ke sekolah. Karena aku sensitif dingin, maka aku memakai pakaian ekstra.

"Pfftt-"

Aku menoleh ke arah Levi. "Ada apa?"

"Iie nandemonai," Levi membuang muka.

Kenapa Ia terlihat seperti menahan tawa? Dia juga tidak memandangku sama sekali dari tadi.

Gerbang sekolah sudah terlihat. Aku merasa diperhatikan oleh semua orang.

"Kenapa aku merasa seperti diperhatikan," gumamku.

"Pfftt-"

"Mou! Sebenernya ada apa sih?! Aku tahu kalau kamu nahan ketawa!" seruku ke arah Levi.

"Ahahahahaha, g-gomen! Aku sudah tidak kuat lagi. AHAHAHAHAHA!" Levi tertawa terpingkal-pingkal.

"Ada yang salah denganku?" tanyaku.

"L-lupakan. Segera lepas pakaian ekstramu saat kita sampai di kelas!" tiba-tiba Levi mempercepat jalannya. Aku bisa melihatnya menutup mulut seakan mencoba mengontrol tawanya.

Yang benar saja, kenapa dia hari ini? Saat ini dia seperti bukan Levi yang aku kenal. Kenapa ya?

Aku berjalan menyusuri koridor sambil memikirkan ada apa dengan Levi hari ini. Tiba-tiba sesuatu melintas di pikiranku.

"Ngomong-ngomong Levi tidak pernah tertawa terpingkal-pingkal seperti itu sebelumnya. I-ini..."

Detak jantungku semakin cepat. Aku memegangi pipiku yang mulai menghangat. Ini pertama kalinya aku melihat diri Levi yang seperti itu. Nanka... kawaii.

Sreekk!

Aku menggeser pintu kelas. Mataku berkeliling mencari Levi. Dia di sana, duduk di kursinya. Tiba-tiba Levi menoleh ke arahku.

"Pfftt-" Levi membalikkan badan ke arah lain sambil menutup mulut dengan tangannya.

Sebenarnya dia kenapa sih? Setiap melihatku dia-

"Jangan- jangan ada sesuatu yang aneh dengan diriku," gumamku.

Aku melepas mantel, topi wol, syal, dan sarung tangan. Kemudian ku masukkan ke lokerku. Setelah itu aku langsung menghampiri Levi.

"Jujurlah, ada yang aneh dariku?" tanyaku sedikit kesal.

Levi melirikku sesaat, kemudian melengos. "Tidak ada yang aneh."

Memang ada yang aneh. Kenapa perilaku Levi berubah jadi dingin lagi?

"Hahh, lupakan saja," aku beranjak pergi dari kursi Levi.

"Chiharu-chan..." Erwin menghampiriku.

Aku mendengus keras. "Ada apa?" tanyaku dengan nada ketus.

"Jangan pasang wajah itu," Erwin menaruh kepalanya di mejaku.

Wajahnya terlalu dekat!

Srekk!

Ku mundurkan kursiku jauh-jauh. Sejauh mungkin dari wajahnya. Erwin terlihat sedang memperhatikan wajahku.

"Hentikan itu!" seruku jengkel.

"Kau demam Chiharu? Hidung dan pipimu merah sekali. Apa perlu ku antar ke UKS," nada bicara Erwin tiba-tiba berubah.

Sial, walaupun sudah memakai pakaian ekstra, ternyata hidung dan pipiku tetap saja merah.

"Ini bukan apa-apa. Aku tidak demam. Sekarang kembali ke tempatmu, ini sudah mau bel."

Erwin tersenyum lebar ke arahku. "Jaa, sampai jumpa besok. Aku akan datang pukul 9 tepat," Erwin berjalan mundur sambil melambaikan tangannya.

# # #

Levi's P.O.V

Seto-sensei, wali kelas sekaligus guru bahasa kami masuk tepat setelah bel berbunyi. Dilihat dari wajahnya, dia seperti sedang kesal bercampur kecewa. Hmph, apa urusannya denganku.

"Eh... ada sesuatu dari tugas resensi yang membuat bapak bingung. Sepertinya daftar partner yang telah bapak susun telah diubah."

Seisi kelas langsung gaduh.

'Tch, masalah yang konyol. Memangnya siapa yang bakalan ngerubah daftar partner itu? Untuk tujuan apa diubah?'

"Tenang, tenang semua!" Seto-sensei memperhatikan kami satu per satu. "Bapak tidak bermaksud menuduh, coba Petra Ral maju dulu ke depan. Karena kau ketua kelasnya, mungkin kau bisa membantu."

Petra maju ke depan. Aku masih tidak mengerti tujuan dari orang itu mengubah daftar partner. Lagipula soal sepele seperti ini kenapa dibawa panjang? Dibiarkan saja daripada menyita waktu seperti ini.

"Seingat bapak, kamu menerima daftar ini langsung dari tangan bapak, bukan?" tanya Seto-sensei.

"Iya pak."

"Lalu setelah itu kau taruh mana daftar ini?"

"Seingat saya, waktu itu saya taruh di meja saya. Kemudian saya menghampiri teman saya di kelas lain."

"Lalu, saat kau kembali apa sudah ada coretan seperti ini?"

Petra terdiam. Aku mulai curiga dari gelagat Petra. Apa dia yang mengubah daftar partner?

Seto-sensei menghela nafas. "Ada saksi yang melihat ada orang yang mecoret daftar partner?"

Hening. Aku tahu ada yang janggal. Waktu itu aku melihat Petra kembali dari ruang guru, bukannya ke kelas lain melainkan Ia hanya duduk di kursinya mengeluarkan semacam majalah. Tapi, kalau aku bilang yang sebenarnya apa itu cukup?

Chiharu mengangkat tangannya. "Anuu Sensei..."

"Ya Fujisaki."

"S-saya tidak melihat ada yang mencoret daftar partner. Tapi saya melihat Petra tidak kemana-mana setelah kembali dari ruang guru. Ia hanya duduk di kursinya."

Aku melihat wajah Petra yang kaget. Ekspresinya... dia- ah tidak Levi! Positive thinking! Positive thinking!

Sepertinya kebenaran memang harus ditegakkan. Kalau hanya Chiharu yang angkat bicara, aku tidak yakin Sensei akan mempercayainya.

Aku mengangkat tangan. "Sensei, saya juga melihat Petra hanya duduk di kursinya setelah kembali dari ruang guru."

"Baik, ada saksi lain?"

Perlahan yang lain ikut mengangat tangan. Cukup sebagai saksi. Lagipula waktu itu sebagian besar anak berada di kelas.

"Ral, pulang sekolah nanti silakan ke ruang BP. Bapak perlu tahu apa alasanmu melakukan itu. Sekarang sudah terlambat untuk menukarnya lagi."

Salah satu anak mengangkat tangan. "Sensei, nama siapa yang ditukar?"

"Umm... seharusnya Chiharu Fujisaki dengan Levi Ackerman. Dan Petra Ral seharusnya dengan Erwin Smith," Sensei membenarkan letak kacamatanya. "Fujisaki dan Smith, resensi kalian sudah selesai?"

"Belum sensei, baru sekitar satu per tiga bagian," Erwin berbicara dengan lantang.

"Ackerman dan Ral, bagaimana dengan resensi kalian?"

"Belum sensei, baru seperempat bagian."

"Nah, karena sudah dikerjakan sebagian. Bapak rasa sudah terlambat untuk ditukar kembali. Sekarang lanjutkan resensi kalian!"

# # #

Erwin's P.O.V

Hmph, dasar Petra bodoh. Bisa-bisanya dia melakukan itu tanpa berpikir panjang. Kalua dipikir-pikir lagi, Petra kan suka sama Levi sejak SMP. Pantas saja tindakannya begitu bodoh.

Aku berjalan menyusuri koridor, aku berniat ingin membeli roti. Tapi, aku melihat Petra di dekat tangga sedang melamun. Aku pun menghampirinya.

"Sepertinya rencanamu gagal ya? Sayang sekali."

Petra kaget melihatku tiba-tiba muncul di belakangnya. "Apa maksudmu?"

"Kau sudah menyukai Levi sejak SMP, bukan? Lalu kau mengubah daftar itu agar kau bisa sekelompok dengan Levi, bukan? Kau pasti cemburu karena sekarang Levi dan Chiharu terlihat akrab daripada kau dengan Levi," aku menyilangkan tangan.

"Hmph, dasar sok tahu," Petra berjalan meninggalkanku.

"Tapi aku tidak salah, bukan?"

Petra tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Semua itu bukan urusanmu," kemudian Ia berjalan lagi.

"Tidak ingin mengakuinya, huh?" aku berjalan ke toko roti sekolah.

# # #

Reader's P.O.V

Aku memencet tombol teh hijau hangat di vending machine. Di luar sedang turun salju. Pasti pulang nanti jalanan licin.

"Yo, Chiharu-chan!" dari belakangku Erwin memasukkan koin ke vending machine.

Aku terloncat karena kaget. Kemudian aku segera mundur sejauh-jauhnya dari Erwin.

"Ada apa Chiharu-chan? Kenapa kau menjaga jarak dariku?"

'Kenapa? Kenapa katamu?! Jelas jelas perlakuanmu itu menjijikkan. Mana mungkin dekat-dekat denganmu.'

Aku pun pergi dari vending machine.

"Chiharu-chan, ayahmu itu pemilik Fujisaki Corp ya?"

Dheg!

'K-kenapa tiba-tiba dia menanyakan itu? Aku harus jawab apa? Aku harus jawab apa? Pokoknya rahasia itu tidak boleh terbongkar!'

"A-apa yang kau katakan? Ayahku pemilik Fujisaki Corp? Yang benar saja. Fujisaki Corp itu kan memiliki hotel, mall, restoran, bioskop, bahkan sekolah. Kau pikir aku anak dari pemilik Fujisaki Corp? Kalau begitu aku tidak mungkin bersekolah di sini. Aku lebih memilih bersekolah di sekolah elit tempat anak-anak orang super kaya bersekolah," kataku kemudian mempercepat langkahku.

Aku tidak mengerti mengapa Ia tiba-tiba menanyakan hal itu. Jangan-jangan dia tahu. Jika benar dia sudah tahu, aku akan berusaha mengelaknya. Tidak ada yang boleh tahu soal ini.

Ya, ayahku adalah pemilik Fujisaki Corp. Fujisaki Corp memiliki hotel, mall, restoran, bahkan sekolah di bawah naungannya. Ayah sekarang berada di Perancis, tempat di mana Mansion utama kami berada. Aku, Ibu, dan Mizuki tinggal di rumah yang besar juga tapi tidak sebanding dengan Mansion utama kami.

Tujuan Ibu tinggal di Jepang adalah supaya aku dan Mizuki tidak menjadi anak manja seperti anak super kaya lainnya. Ayah memasrahkan toko roti Fujisaki ke Ibu. Toko roti ini tidak semewah dan sebesar hotel atau tempat lain yang berada di bawah naungan Fujisaki Corp. Toko roti ini hanya toko roti biasa tapi cukup laris.

'Hahh... benar-benar si Erwin itu.' Aku memasukkan sesumpit nasi ke mulutku.

"Ada apa? Kau terlihat kesal," Levi tiba-tiba berdiri di samping kursiku.

"Kyaa!" jeritku.

Levi menutup telinganya. "Kenapa menjerit? Sakit telingaku!"

"Gomenn... aku hanya sedang memikirkan sesuatu," aku menatap bentoku. "Levi, nanti pulang aku memintamu untuk ekstra waspada terhadap diriku. Kau tahu? Aku ini orangnya sedikit ceroboh, bisa-bisa aku terpeleset saat berjalan nanti."

Levi melirikku. "Tidak perlu kau beritahu pun aku sudah tahu," Levi berjalan meninggalkanku.

# # #

"Ne~ Chiharu-chan... bolehkah kapan-kapan kami berdua main ke rumahmu?" Mai memasukkan bassnya ke tempatnya.

"Eh... kenapa?" tanyaku.

"Karena kita teman! Teman biasa main ke rumah satu sama lain, kan?"

"Mai! Jangan merepotkan Fujisaki-san begitu!" Karin menjitak kepala Mai.

"Ittai! Sakit tahu Karin-chan!" Mai mengelus-elus kepalanya. "Oh iya, kenapa kau memanggil Chiharu-chan dengan Fujisaki-san. Bukannya dari awal kita anggota band udah janji, laki-laki maupun perempuan harus memanggil dengan nama depan?"

"Ah... itu karena, karena Fujisaki-san terlihat pendiam dan entahlah. Aku merasa tidak terlalu dekat dengannya."

"K-kau berpikir seperti itu? Aku tidak keberatan kok kalau kau memanggilku dengan nama depan. Kalian tahu, aku yang sebenarnya tidak seperti ini. Mungkin karena sudah lama aku tidak berteman dengan siapapun, makanya aku tidak bisa menunjukkan siapa aku sebenarnya dihadapan kalian."

"Chiharu!" Levi berseru dari luar ruang band.

"Ah, aku harus pulang. Mata ashita!" aku melambaikan tangan ke arah Karin dan Mai.

"Chiharu! Jangan lupa kau beli gitar listrik, OK?! Kurasa kau lebih baik bernyanyi sambil bermain gitar," Hanji-san berteriak dari luar ruang band.

"Haik!"

Aku berlari menyusul Levi yang sudah sampai di gerbang sekolah.

"Wha-" aku hampir terpeleset di jalanan licin.

Levi langsung berlari menghampiriku. "Oi, daijoubu ka?"

Aku mengangguk. Hahh... hampir saja aku terjatuh. Aku lupa kalau jalanan licin. Hehehe.

"Pfftt-"

Aku melirik Levi. "Ada apa? Kau begitu juga tadi pagi. Ada yang aneh denganku?"

"Tidak ada."

"Kalau begitu, kenapa kau tertawa?" tanyaku sedikit kesal.

"Aku punya alasanku sendiri."

"Huh?"

"Cepatlah sedikit, atau wajahmu akan semakin merah."

"Mau bagaimana lagi, jalanan kan licin. Lagipula sebentar lagi kita sampai halte kok."

Kami berjalan sedikit lambat. Terutama aku.

"Bagaimana dengan gitar listrikmu?"

"Huh? Gitar listrik? Aku akan membelinya kok," kenapa tiba-tiba Levi menanyakan itu?

"Maksudku, kapan mau beli?"

"Kenapa tanya?"

"Arrgghh... kau kan ada di bawah pengawasanku sampai festival musim dingin selesai," nada bicara Levi agak jengkel.

"Ohh... umm... kalau besok Minggu gimana?"

"Ok, aku jemput kau dirumahmu jam 9. Jangan molor."

"Iya, iya. Kau itu ternyata cerewet juga ya."

"Tch, diamlah."

Bus terlihat dari kejauhan. "Itu busnya sudah datang!"

Bus berhenti tepat di depan halte. Aku naik perlahan karena tangga bus agak basah dan pasti agak licin.

Brussh...

Pintu bus menutup kembali. Sepanjang perjalanan aku menatap keluar jendela. Kemudian aku iseng melihat bayanganku di jendela bus.

"Astaga! Aku seperti bola salju dengan wajah merah. Apa aku terlalu berlebihan memakai pakaian ekstranya?" gumamku. "Ne, Levi. Kau tertawa karena penampilanku seperti bola salju dengan wajah merah, kan?"

"Baguslah akhirnya kau sadar juga."

Ahh... doushiyou? Aku akan berpakaian begini terus hingga akhir musim dingin. Apa sampai saat itu Levi akan menertawakanku?

"Tenang saja, mungkin besok aku sudah tidak tertawa lagi."

"Eh? Kau membaca pikiranku lagi? Apa kau punya kemampuan telepati?" tanyaku sedikit jengkel.

"Kan aku sudah pernah bilang, kau itu orangnya mudah dibaca."

Tiinnn!

"Apa? Aku tidak mendengarmu."

Levi langsung membuang muka. "Tidak apa-apa."

Tadi Levi mengatakan sesuatu. Tetapi karena klakson bus yang keras, aku tidak bisa mendengarnya.

Aku menatap Levi. Entah ini hanya imajinasiku atau bagaimana, tetapi aku melihat telinganya merah. Tidak mungkin, tidak mungkin... mana mungkin.

# # #