Chapter 11 ("...Levi itu juga menyukaimu.")

Sabtu pagi ini aku sedang menyiapkan sarapan. Karena hari ini ibu akan pergi, maka aku yang menyiapkan sarapan.

Aku membalik pancake yang sudah kecokelatan. Kemudian aku mengambil sirup maple di kabinet.

"Nee-chan! Aku mau pergi sekarang!" seru Mizuki dari pintu depan.

"Eh, sebentar sebentar. Aku ambilin bentomu," aku pun terburu-buru mengambil bento Mizuki yang ku buat.

"Nih Mizuki. Kenapa sih kok buru-buru. Ini kan libur," aku menyerahkan bentonya ke Mizuki.

"Mau nonton sama temen-temen, habis itu bikin laporan tentang filmnya."

"Hah? Tugas apaan itu?"

"Jaa ittekimasu!" Mizuki menutup pintu.

"Ittarasai!"

Kenapa harus hari ini Ibu dan Mizuki pergi? Kenapa harus di hari Erwin datang? Payah! Benar-benar payah!

"Ah- pancake nya!" aku berlari sekencang-kencangnya menuju dapur.

# # #

Pukul 09.30...

"Nah Chiharu, ibu berangkat dulu ya! Semalam ibu membuat cheese cake, makanlah bersama temanmu itu," kata Ibu dari dalam mobil.

"Iya bu."

Mobil Ibu menjauh. Aku menutup pagar kemudian segera berlari masuk rumah.

Ting Tong!

"Pasti Erwin. Pokoknya resensinya hari ini harus selesai! Yosh, semangat!" gumamku menyemangati diri sendiri.

Kriekk...

"Yo, Chiharu-chan!"

"Masuklah, mari kerjakan di kamarku," aku mengajak Erwin ke kamar.

"Ternyata rumahmu lebih luas dari yang kuduga ya."

"Bukannya kau sudah pernah ke rumahku?" tanyaku sedikit jengkel.

"Waktu itu hanya di ruang tamu. Aku tidak melihat seisi rumahmu," tiba-tiba Erwin berhenti mengikutiku. Kemudian Ia berjalan menuju ruang keluarga.

"Hei! Jangan masuk ke sana!" aku buru-buru menarik kemeja Erwin.

"Terlambat Chiharu-chan, aku sudah melihatnya. Foto keluarga yang sangat besar, huh? Ternyata kau memang anak Fujisaki Rei, pemilik Fujisaki Corp. Kenapa harus kau sembunyikan?" tanya Erwin.

"Itu bukan urusanmu, kan? Kenapa juga aku harus bilang ke orang asing. Ayolah, aku ingin menyelesaikan resensi itu hari ini," aku berjalan menuju tangga.

"Jangan galak galak begitu dong," Erwin berlari menyusulku.

Aku berjalan menuju kamar diikuti Erwin. Akhirnya Erwin diam juga. Kenapa harus dia yang mengetahui rahasiaku? Payah.

"Ini kamarku. Jangan sentuh apapun tanpa izinku," aku membuka pintu kamar.

"Wahh... kamar yang besar."

"Langsung duduk saja di kotatsu, aku ambil snack dulu," aku menutup pintu kamar.

'Hahh... dasar Erwin sialan. Dia ternyata orang yang mengerikan. Bisa-bisanya Dia tahu rumahku padahal aku tidak pernah mengajaknya sebelumnya. Dan parahnya, sekarang Dia tahu rahasiaku. Apa yang harus ku lakukan untuk menutup mulutnya?'

Aku berjalan menuju dapur, kemudian aku langsung mengeluarkan cheese cake dari kulkas. Memotongnya kemudian membuat cokelat panas.

"Dia membongkar-bongkar kamarku tidak, ya? Aku harus cepat sebelum si sialan itu membongkar sesuatu di kamarku," gumamku mempercepat gerakan.

# # #

Erwin's P.O.V

Chiharu menutup pintu kamarnya. Dia bilang aku tidak boleh menyentuh apapun. Tapi ada yang membuatku penasaran. Ada dua pintu lain di kamar Chiharu, yang satu besar yang satu kecil. Aku bisa asumsikan kalau yang kecil adalah kamar mandi. Lalu pintu yang besar itu ruangan apa?

'Ini baru 3 menit semenjak Chiharu turun. Kurasa tak apa jika mengintip sedikit.'

Aku berjalan menuju pintu besar, aku membukanya perlahan. Mataku melebar saat melihat isinya. Barang otaku! Ada 2 rak buku besar berisi manga. Ada rak kaca berisi action figure tokoh anime berjejer rapi di dalamnya. Ada poster-poster anime di dinding. Selain itu, ada sebuah grand piano di tengah ruangan. Dan satu lagi, ada pintu lagi di sebelah kiri ruangan.

"Wow kamarnya benar-benar besar. Selain itu, aku tidak pernah menyangka kalau dia seorang otaku. Tidak heran dia anti sosial," gumamku menutup kembali pintu itu.

Aku kembali menjelajahi kamar Chiharu. Aku menemukan rak besar penuh buku di dekat tempat tidur. Beberapa diantara buku itu tebal sekali.

"Managemen Perusahaan," aku membaca salah satu judul buku.

Mataku menjelajahi semua judul buku.

"Semuanya tentang managemen. Hebat sekali Chiharu, jarang sekali ada anak seumurannya yang belajar hal sesulit ini."

Krieekk...

"Hei! Sudah ku bilang jangan sentuh apapun!" seru Chiharu.

"Apa kau berencana untuk mengambil alih perusahaan ayahmu?" tanyaku kembali duduk di kotatsu.

"Entahlah, lagipula itu tidak ada urusannya denganmu, kan?" kata Chiharu sambil menaruh cangkir berisi cokelat panas.

"Entahlah? Lalu untuk apa semua buku tentang managemen perusahaan itu?"

"Sudah ku bilang, itu bukan urusanmu! Sekarang ayo mulai kerjakan. Aku ingin hari ini juga resensi ini selesai," Chiharu mengambil buku di laci meja belajarnya.

"Haik, haik. Bagaimana menurutmu kelebihan dari novel ini?"

# # #

Levi's P.O.V

"Masuklah," aku mempersilakan Mike untuk masuk ke kamarku.

"Kenapa gorden balkon kau tutup? Gelap jadinya."

"Kan ada lampu, tidak usah kau buka," aku duduk di kasur.

"Aku tahu kalau kamarmu tidak cukup sinar matahari. Aku buka ya," Mike berjalan menuju pintu balkon.

"Jangan! Biar aku yang buka," aku berlari menuju Mike kemudian membuka gorden balkon lebar-lebar.

Mataku melebar saat aku melihat Chiharu bersama Erwin sedang duduk di kotatsu berdua.

"Oi Levi, apa itu Chiharu dan Erwin? Kau bertetangga dengan siapa? Erwin atau Chiharu?" Mike memegang kaca pintu balkon, matanya menatap ke kaca balkon Chiharu.

"Bukan urusanmu. Nah, ada apa kau datang kemari?"

"Tidak ada tujuan tertentu. Hanya iseng," Mike kembali duduk di kotatsu.

'Si brengsek itu! Kenapa dia ada di kamar Chiharu? Chiharu juga bodoh, bisa bisanya dia membiarkan si brengsek itu ada di kamarnya.

"Levi, kau menyukai Chiharu, kan?"

"Hahh? Kenapa kau berpikiran seperti itu? Dan jangan membongkar-bongkar barangku! Apa yang kau cari?" seruku jengkel.

"Aku sedang mencari 'harta karun laki-laki' kau pasti punya."

"Aku tidak punya benda bodoh seperti itu! Dasar mesum!"

"Ah, aku menemukan sesuatu..." Mike mengangkat album foto biru langit.

"Hei! Taruh kembali!" aku menghampiri Mike, mencoba merebut kembali album foto tersebut.

Seketika, Mike langsung berdiri. Itu tidak adil! Dia jauh lebih tinggi daripada aku.

"Whoa, isinya foto Chiharu semua! Apa ini? Foto saat Chiharu masih SD? Dan ada foto Chiharu saat sedang menyanyi di balkon!"

Aku merebut kembali album itu dengan memanjat kursi.

"Hehh... ternyata benar kau menyukai Chiharu sampai sampai kau ngestalk dia. Jangan-jangan waktu gantungan kuncimu hilang dan ada di tangan Chiharu, kau juga menguntitnya?" Mike memasang ekspresi menyebalkan. "Wajahmu memerah kau tahu?"

"Diamlah!"

"Kalau kau terus membohongi dirimu, suatu saat kau akan menyesal. Apa salahnya menyukai seseorang? Itu normal. Chiharu juga gadis yang baik menurutku. Dia juga cantik, sayang Ia kurang menunjukkan potensi kecantikannya itu. Lakukanlah sesuatu, Levi!"

Aku hanya diam. Tidak merespons omongan Mike. Sebenarnya aku sedang berpikir. Ada benarnya juga omongan Mike. Masalahnya adalah aku. Aku tidak cukup baik untuk Chiharu.

"Mike, ini pertama dan terakhir aku konsultasi denganmu. Jadi, dengarkan baik-baik."

Mike mengangguk. "Kalau kau ingin konsultasi lagi pun juga boleh."

"Masalahnya, aku yang tidak baik untuk Chiharu," kataku dengan kepala tertunduk.

"Hahh?! Seriusan? Itu doang? Yaelah, payah banget. Gini, masalah kau itu baik atau enggak untuk Chiharu, yang memutuskan bukan kau, Levi... Tapi, Chiharu sendiri," kata Mike sambil mengupas jeruk yang ada di atas kotatsu.

"KYAAA!"

# # #

Reader's P.O.V

Aku menyalin resensi yang ada di kertas coret-coretan. Setelah ini kami selesai. Akhirnya, aku bebas dari si sialan ini.

"Chiharu-chan!"

"Apa? Cepat salin! Aku-"

"Kau menyukai Levi, kan?" kata Erwin, Ia menatap mataku.

"K-kenapa tiba-tiba? Lagipula-"

"Itu bukan urusanmu, iya memang. Tapi semenjak hari pertama masuk SMA, aku selalu mengamatimu. Dari perilakumu selama ini, aku menyimpulkan bahwa kau menyukai Levi. Tidak heran sih, dia kan te-tang-ga-mu."

"D-dari mana kau tahu?!" seruku dengan wajah merah padam.

"Itu Levi, kan? Kamarnya terlihat jelas dari sini," Erwin menunjuk ke arah belakangku.

Seketika aku langsung membalik badan. Aku kaget setengah mati melihat gorden balkon Levi terbuka lebar.

"Apa kau tahu Chiharu-chan? Levi itu juga menyukaimu," nada bicara Erwin berubah menjadi serius.

Aku langsung membalik badan. "Hahh? Jangan bodoh Erwin. Mana mungkin Levi menyukaiku."

"Akhirnya kau mengakui kalau kau menyukai Levi."

"A-apa?"

"Apa kau ingin bukti Chiharu-chan?" Erwin mendekat ke arahku.

"B-bukti apa?"

"Tentu saja bukti bahwa Levi menyukaimu."

Erwin semakin dekat ke tubuhku. Aku langsung menghindar.

"Gadis bodoh, kenapa kau memojokkan dirimu?" Erwin mendorongku ke dinding.

"A-apa yang kau lakukan?"

Erwin mendekatkan wajahnya. Semakin dekat.

"KYAA!"

Aku berusaha memberontak. "Jangan lakukan itu Erwin! Lepaskan!"

Srekk!

Duukk!

Seseorang masuk dari balkon kemudian langsung meninju Erwin. "Apa yang kau lakukan dasar brengsek!" seru Levi marah. "Jangan sentuh Chiharu dengan tangan kotormu!"

Kakiku tiba-tiba lemas. Aku jatuh terduduk. Jantungku berdetak sangat cepat.

"Oi, Chiharu! Daijoubu ka?" Levi memegang bahuku.

Aku terdiam. Aku takut sekali tadi.

"Huaaaa!" aku menangis kencang.

"Aku benar kan Chiharu-chan? Dia menyukaimu," Erwin berdiri perlahan sambil mengelap darah yang keluar dari mulutnya. "Jika dia tidak menyukaimu, tidak mungkin dia akan nekat melompat dari balkonnya langsung ke balkonmu."

Aku masih terisak. Peelahan aku menatap Levi.

"Apa yang kau bicarakan brengsek?! Apa yang kau coba lakukan pada Chiharu?" seru Levi.

"Hanya membuktikan. Aku akan pulang. Chiharu-chan, besok bawa kertas itu, biar aku menyalinnya besok," Erwin mengemas barangnya kemudian Ia keluar dari kamarku.

"Apa yang coba dilakukan si brengsek itu Chiharu? Jawab aku!" Levi mengguncang-guncangkan tubuhku.

Wajahku memerah mengingat perkataan Erwin tadi. Apa yang dikatakan Erwin benar?

"Kalian berdua!"

Aku menoleh ke arah balkon Levi. Disana berdiri Mike.

"Apa kalian baik-baik saja?!"

"Ya, tidak apa-apa Mike."

"Kenapa kau menolongku?" kataku menghindari tatapan mata Levi.

"Karena aku bertanggung jawab atas dirimu."

"Tapi kau tidak perlu melompat ke balkoku, kan?! Bagaimana kalau kau terluka?" air mata mengalir deras menuju pipiku.

Tiba-tiba Levi memelukku. "Aku tidak bisa membiarkan si brengsek itu menyentuhmu dengan tangan kotornya."

"L-Levi?"

"Ah, maaf. Aku akan pulang sekarang," Levi berdiri dan langsung berjalan ke arah pintu. "Jangan terlalu dekat dengan si brengsek Erwin itu."

Levi menutup pintu kamarku.

"K-kenapa dia memelukku?!" aku memegangi wajahku yang menghangat. "Aku akan tidur."

Aku menutup balkon. Kemudian turun untuk mengunci pintu depan.

"Aku tidak mengerti apa-apa. A-aku, arrgghh!" aku membanting pintu kamar kemudian membanting diri ke kasur.

# # #