Chapter 12 (Ini Kenyataan...)

Tok Tok Tok!

"Chiharu! Hari ini Ayah dan Ume datang! Cepat mandi kemudian bantu Ibu di dapur," pagi-pagi Ibu mengetuk pintu kamarku.

"Hmmhhh..." aku duduk di tepi kasur. "Pukul 05.30, ini masih pagi sekali..." gerutuku.

Tok Tok Tok!

"Nee-chan! Bangun! Cepat mandi!" kata Mizuki tanpa membuka pintu kamarku.

Dengan malas-malasan aku meregangkan badan kuat-kuat. "Iya, iya aku mandi..." aku pun turun dari kasur kemudian membuka gorden balkon lebar-lebar.

Aku terkejut mendapati gorden balkon Levi sudah terbuka lebar. Tiba-tiba Levi keluar menuju balkonnya.

"Oi, kau tidak lupa kan kalau hari ini mau beli gitar," katanya dengan rambut bangun tidurnya yang imut.

Aku menatapi Levi terus, tepatnya rambutnya. Rambut bangun tidurnya imut sekali. Kesempatan sekali seumur hidup ini tidak boleh ku lewatkan.

"Oi Chiharu!" serunya mengagetkanku.

"I-iya?"

"Kau dengar tidak?" tanyanya jengkel.

"Dengar apa?"

"Hhhhh... hari ini kita beli gitar. Jam 9 tepat kau harus sudah siap," Levi kembali masuk ke kamarnya.

"OH IYA, GITAR!"

Aku terburu-buru masuk ke kamar mandi. Kenapa aku bisa lupa? Mana aku belum bilang Ibu. Payah...

"Aduh bagaimana ini? Hari ini ayah dan Ume-baachan datang dan hari ini juga aku mau beli gitar. Tapi, tapi aku janji sama Levi duluan. Tapi sudah lama ayah tidak pulang, aku rindu. Arrgghh!" gerutuku keras di kamar mandi.

Setelah mandi aku cepat-cepat ganti baju kemudian langsung turun ke dapur.

"Ibu?"

"Kamu ini pagi-pagi berisik sekali. Kenapa sih teriak-teriak?" kata Ibu yang sedang memotong sayuran.

"Eh, anuu... aku lupa bilang kemarin. Hari ini aku mau beli gitar listrik sama Levi. Kami sudah janjian dari hari Kamis. Boleh tidak Bu?" tanyaku sedikit memelas.

Ibu terdiam. Jika dilihat dari reaksinya, Ibu tidak mengizinkan. Tiba-tiba Ibu menghela nafas.

"Ayah dan Ume sampai setelah makan siang. Ibu rasa tak apa jika hanya membeli gitar."

"Ibu, makasih!" aku memeluk Ibu dari belakang.

"Iya, iya. Sekarang bantu Ibu mengupas kentang."

"Haik!" kataku kemudian membuka kulkas untuk mengambil kentang.

"Belakangan ini kau jadi dekat dengan Levi ya?"

Plastik kentang yang ku pegang terjatuh akibat perkataan ibu. "I-i-ibu i-ini b-bilang apa sih?" aku memunguti kentang yang jatuh berantakan karena plastiknya sobek.

"Hihihi," Ibu terkekeh.

"Kenapa bu?" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari kentang.

"Ibu tidak menyangka perkembanganmu bisa secepat ini," kata Ibu sambil memotong sayuran.

"Hah? Perkembangan?"

Ibu kembali terkekeh. "Ini kencan pertamamu, kan? Semoga beruntung!"

Wajahku menghangat seketika. "A-apa?! I-ini bukan kencan! Kami cuma gitar listrik!"

"Iya iya, cuma beli gitar listrik."

"Terserah Ibu deh mau percaya atau enggak," kataku berdiri di samping Ibu. "Oh iya Bu, Ayah di sini sampai kapan? Tahun baru?" kataku mulai mengupas kentang.

"Hmm... katanya sih sampai musim semi. Soalnya perusahaan lagi stabil terus katanya ada urusan juga di Jepang."

"Urusan? Apa ulang tahun perusahaan? Tapi biasanya kan-"

"Huushh, itu urusan Ayah. Ibu sendiri belum diberitahu detilnya," Ibu mulai meracik bumbu.

"Perasaanku enggak enak soal ulang tahun perusahaan tahun ini," gumamku.

"Cepat selesaikan!" Ibu menjitak pelan kepalaku.

"Iya iya."

"Ibu! Serbetnya mau pakai yang mana?!" seru Mizuki dari ruang makan.

"Terserah!"

# # #

"Aku berangkat!" seruku menutup pintu depan. Ini sudah pukul 9.00 tapi Levi masih belum kelihatan.

'Apa aku ke rumahnya saja ya?'

Baru saja aku melangkah keluar pagar, Levi keluar dari rumahnya. Entah ini hanya perasaanku atau bagaimana, tetapi wajah Levi terlihat sedikit merah.

"Oi Chiharu! Ayo cepat!" seru Levi dari depan rumahnya.

Aku berjalan perlahan kearahnya. "Levi, wajahmu terlihat sedikit merah," aku memegang dahinya.

Hangat.

"Kau demam? Kalau begitu kita tidak usah pergi saja. Lebih baik kau istirahat."

'Tte... ke-kenapa aku memegang dahinya? Apa yang barusan aku lakukan?' aku memengangi wajahku yang menghangat.

"Aku tidak demam. Tanganmu saja yang dingin. Ayo cepat," Levi berjalan meninggalkanku.

Tanpa berbicara lagi, aku menyusulnya menuju halte. Tapi tetap saja, ada yang aneh dari Levi. Dia pasti sedang demam. Aku yakin itu. Tapi, mengapa Ia menyangkalnya?

"Hawanya semakin dingin saja ya?" kataku memulai pembicaraan.

"Ya, karena musim dingin terus berjalan."

Aku menatap Levi yang berdiri di sebelahku. Aku merasakan ada panas dari suaranya, seperti orang sedang demam.

"Bus sudah datang, bersiaplah."

"Oke..."

Bus berhenti tepat di depan halte. Kami pun naik. Hari ini bus lumayan kosong, hanya ada seorang Nenek di belakang dan seorang Ibu dan anaknya yang duduk di dekat pintu.

"Kenapa busnya sepi ya? Ini kan Minggu, harusnya lebih ramai," gumamku memandang ke luar jendela.

"Kaa-san, onii-chan dan onee-chan yang itu pacaran ya?" seorang anak laki-laki menunjukku dan Levi.

Wajahku langsung memerah mendengar perkataannya.

"Hush, jangan menunjuk seperti itu! Tidak sopan!" Ibu itu memarahi anaknya. "Maaf ya..." Ibu itu tersenyum.

Aku membalas senyuman Ibu itu. Ahh... memalukan sekali. Anak kecil seperti dia bisa-bisanya tahu tentang pacaran.

Aku melirik Levi sekilas. Nampakya Ia cuek. Daritadi Ia tidak merubah posisinya sedikit pun.

'Apa yang aku pikirkan? Mengharapkan Levi akan salah tingkah itu mustahil, semustahil mencari jarum di tumpukan jerami.'

Aku menghela nafas. Benar, apa yang aku pikirkan? Bodohnya mengharap Levi untuk salah tingkah. Dia bukan tipe orang yang seperti itu.

'Kalau diingat-ingat soal tadi, kenapa ya ada perasaan nggak enak tentang ulang tahun perusahaan tahun ini ya? Mudah-mudahan cuma perasaan. Mudah-mudahan.'

"Oi Chiharu, kita turun di sini," Levi menepuk pundakku.

"A-ah! Iya iya."

Aku dan Levi turun, di dekat halte ada toko alat musik yang besar. Dan daerah ini... kan dekat tokonya Hanji-san! Aaaaaa! Aku ingin kesana!

"Ayo masuk," Levi berjalan mendahuluiku.

Aku langsung berjalan di sebelahnya. "Anuu... bisakah setelah ini kita mampir sebentar ke tempat lain?"

"Kemana?"

"Ke-" aku langsung terdiam. Bodohnya aku! Kenapa aku mengajaknya ke toko otaku?

"Mau ke tokonya Hanji?" tanya Levi.

"Eh?"

Tanpa berkata apa-apa lagi, Levi melangkah masuk toko musik. Ia berbicara dengan pegawainya. Aku masih tidak percaya apa yang dikatakan Levi tadi, sehingga aku hanya terdiam di depan pintu toko.

'Aku enggak salah dengar, kan? Dia benar-benar ngomong mau ke tokonya Hanji, kan?'

Levi membuka pintu toko. "Ayo masuk, kenapa di luar?" tanyanya sedikit jengkel.

"Ah, hahaha maaf maaf."

Aku melangkah masuk. Toko alat musik ini lengkap sekali. Aku bisa melihat berbagai macam jenis alat musik. Sepertinya lantai satu ini untuk alat musik tiup. Dan alat musik jenis lain mungkin ada di atas.

"Gitar listriknya di mana?" tanyaku sambil menatap Levi yang berjalan di sebelahku "Lantai 3," jawabnya, singkat dan padat.

'Tidak diragukan, aku merasa ada yang aneh dari Levi. Sepertinya dia memang sakit.'

"Umm... Levi? Aku benar-benar merasakan ada sesuatu yang aneh darimu," aku menatapnya.

Levi memencet tombol lift. Ia melirikku kemudian menghela nafas.

"Aku tidak apa-apa. Berhentilah memikirkan hal aneh seperti itu!"

Ting!

Pintu lift terbuka lebar. Kami pun masuk. Tiba-tiba aku teringat tentang ulang tahun perusahaan Ayah. Entah mengapa perasaanku benar-benar tidak enak. Aku pun menggenggam tali tasku erat-erat.

Lift berhenti, kami pun keluar dari lift. Dari sini, mataku sudah disuguhi bermacam-macam gitar sejauh mata memandang. Ada banyak sekali rak dengan berbagai jenis dan ukuran.

Tanpa ku sadari, Levi sudah berjalan jauh di depan. Aku terkejut kemudian segera menyusulnya. Ia berjalan menuju rak paling ujung, seakan Ia sudah hapal betul tempat ini.

"Ini bagian gitar listrik. Pilih yang kau suka," kata Levi. "Aku akan menunggu di sana," Ia menunjuk bangku panjang yang menghadap jendela besar.

"Hm..." aku mengangguk.

Aku melihat kanan dan kiri. Banyak sekali bentuk gitar di sini, warnanya juga bagus-bagus.

"Nahh, gitar mana yang harus ku pilih?"

# # #

"Terimakasih atas kunjungannya!" seru pegawai toko.

Aku melihat jam tanganku. "Whoaa, sudah hampir makan siang!" seruku terkejut.

"Jadi ke tokonya Hanji?" tanya Levi, wajahnya semakin merah dan nafasnya terengah-engah.

"L-levi?" aku memegang dahinya.

Panas.

"Levi! Kita harus segera pulang! Kau panas sekali. Aku akan menelpon taksi," dengan cepat aku mengeluarkan ponselku.

Levi memegang tanganku. "Kau masih ingin ke tokonya Hanji, kan?"

"Tidak! Ayo pulang!"

"Jangan pikirkan aku."

Aku tidak memerdulikan perkataan Levi.

"Ya, saya ingin pesan taksi. Di depan Toko Alat Musik Melodi. Atas nama Fujisaki Chiharu."

Pip.

"Aku sudah pesan taksi. Aku tidak terlalu ingin ke tokonya Hanji-san. Lagipula Ayahku hari ini datang, aku harus segera pulang. Dan kau harus segera istirahat," aku menengok ke kanan jalan raya.

Levi hanya diam. Nampaknya Ia sudah kehabisan tenaga sehingga tak sanggup berbicara lagi.

"Aku pinjamkan bahu," aku meraih tangan Levi.

"Ti-tidak usah. Hahh hahh..." nafas Levi terengah-engah.

"Tidak usah berlagak keren, kau sedang sakit," aku meletakkan tangan Levi di bahuku.

Aku menengok ke kanan lagi. Taksi pesananku terlihat sedang menuju kemari. Taksi itu berhenti, supirnya keluar.

"Pak, tolong masukkan dia ke taksi. Dia sedang sakit," pintaku ke supir taksi.

Supir taksi itu membantu Levi untuk masuk ke taksi. Aku menyusul masuk sambil membawa gitar baruku dengan hati-hati.

# # #

"Terimakasih, pak!" aku membayar ongkos taksi.

Sambil menyandang gitar listrik, aku membantu Levi untuk berjalan ke rumahnya. Saat aku akan membuka pagarnya, pagarnya terkunci.

"Levi? Di rumahmu ada orang?" tanyaku.

Levi mengeluarkan kunci rumah dari kantongnya. Itu artinya tidak ada orang di rumah. Aku mengambil kunci itu kemudian membuka pagarnya.

"Pulanglah... aku baik...baik... saja," kata Levi mengambil kunci dari tanganku.

"Tidak! Aku akan memastikan kau sampai di kamarmu," aku mengambil kembali kunci itu kemudian segera membuka pintu rumah Levi.

Aku menaruh gitarku di dekat pintu utama. Aku membantu Levi berjalan menuju kamarnya.

"Di mana kamarmu?" tanyaku.

"Di atas... pintu kedua setelah... tangga," jawab Levi lemas.

"Oke."

Kami berjalan perlahan menuju kamar Levi. Perjalanan menuju kamar Levi terasa panjang dan lama.

Kriekk...

"Pulanglah..."

"Tidak-tidak! Tidur dulu di tempat tidur, setelah itu aku pulang," kataku membantu Levi berjalan menuju tempat tidurnya.

Levi duduk di tepi tempat tidurnya.

"Kenapa tidak tidur?" tanyaku.

"Aku... harus ganti... baju dulu," kata Levi, sekilas aku melihat Ia menyeringai.

"Ahahah, baiklah aku akan pulang," aku memegang gagang pintu.

Bruk... bruk...

Tiba-tiba Levi menahanku.

"A-apa?" aku berbalik, wajahnya sangat dekat dengan wajahku.

"Bukankah... kau akan... menungguku... tidur di tempat... tidur?" tanyanya, Ia bertelanjang dada.

"Whoaa... aku akan pulang! Aku sudah bilang aku akan pulang!" aku menutup mata erat-erat.

Cup...

Bibirnya menempel ke bibirku. Kemudian Ia kembali lagi ke tempat tidur dengan sempoyongan.

Aku terpaku di tempat. Tidak percaya apa yang barusan terjadi. Aku mencubit pipiku.

Sakit.

"Ini nyata..." gumamku.

"Waaahhh!" aku berlari keluar rumah Levi.