TITLE :
Sorry, You're Hurt Because of My Love Chapter 2
Cast :
Jung Taekwon
Lee Jaehwan
N
Warn :
Boys love l Hurt l Dramatis l Romance l Mpreg l Typo l Gaje
N pov
Saat aku memasuki rumah kulihat Halmoni sedang memandangi foto yang terbingkai figura yang berada digenggaman tangan Halmoni. Aku menghampiri Halmoni, saat jarakku berdiri 1,5 meter dengan tempat duduk Halmoni indra penglihatanku dapat menemukan setetas air mata yang mengaliri pipi Halmoni.
"Halmoni" panggilku disertai langkah kakiku yang menuju kearah Halmoni duduk. Dapatku lihat Halmoni menolehkan kepalanya kearahku saat mendengar aku memanggilnya. Melihat aku yang sudah berdiri disamping ia duduk Halmoni mengusap pipinya yang terbasahi oleh air matanya.
"Kau sudah pulang N?" Tanya Halmoni kepadaku dengan sebuah senyum manis yang aku yakini senyuman itu tak semanis keadaan hatinya saat ini. Aku pun mengambil duduk disamping kanan Halmoni.
"Ne, saat aku memasuki rumah aku melihat Halmoni termenung di sini. Halmoni memangnya apa yang saat ini mengganggu fikiran Halmoni heum?" aku bertanya dengan merengkuh pundak sang Halmoni. Halmoni hanya tersenyum melihat sikapku.
"Ani, Halmoni hanya memikirkan bagaimana mungkin putriku melupakan anaknya sendiri. Bahkan aku yakin putriku pasti sudah melupakanmu N. Halmoni yakin itu" Halmoni menjawab dengan tangan yang memperlihatkan sebuah foto wanita dengan pria yang tangan kirinya memegang perut besar sang wanita dan tangan kanan yang digunakan untuk memeluk pundak sang wanita yang menjadi anak Halmoni dan sekaligus menjadi orang tuaku dan aku yakin perut besar itu berisi aku dengan adikku yang menjadi kembaranku.
"Mereka terlihat bahagiakan? Dan sekarang pun mereka bahagia. Tapi kau? Kau tidak sebahagia mereka, Kau bahkan dilupakan. Aku sangat kecewa padanya kenapa ia melakukan ini padamu. Kau juga anaknya tapi mereka lebih memilih mengurus adikmu dan menyuruhku membawa pergi dirimu darinya."sudah keseratus kali Halmoni berkata seperti itu padaku mengenai itu. orang tuaku yang melahirkanku dan adikku, orang tuaku yang lebih menyayangi adikku,orang tuaku yang memberikanku pada Halmoni,orang tuaku yang melupakan aku. Semua itu sudah kuingat semenjak aku berusia 16 tahun saat aku memasuki bangku pertama SHS.
"Halmoni sudahlah jangan pernah mengingat itu. aku sudah melupakan itu aku yakin mereka pasti memiliki alasan sendiri karena meninganggalkanku dan aku mohon pada Halmoni untuk tidak membenci mereka. Lagi pula bukankah ibuku adalah putrimu?" hiburku pada Halmoni agar Halmoni tidak selalu mengingat itu terus. Kalau Halmoni selalu mengingat dan mengungkit masalah ini aku takut bila dendam akan menghinggapi hatinya. Dan aku tidak mau itu terjadi.
"N, kau memang sangat baik. Halmoni bangga kepadamu. Tapi N, entah mengapa Halmoni sangat sulit untuk melupakan kejadia itu. apalagi saat Halmoni mengingat perjuanganmu untuk bisa seperti sekarang ini sangatlah tidak mudah dan ini..."
"sstt. Halmoni dengarkan aku. Lupakan masa lalu yang sudah terjadi padaku dan Halmoni. Sekarang ini sudah malam sebaiknya kita tidur. Jja kita tidur Halmoni" potongku agar Halmoni tidak meneruskan perkataannya. Aku melihat Halmoni tersenyum hangat kepadaku.
"Baiklah kka kita tidur. Aku yakin kau pasti lelah" kata Halmoni yang kini sudah berdiri dan aku pun mengikuti Halmoni dari belakang.
"Oh ya N. Apa kau sudah makan malam?" tanya Halmoni yang kini berdiri didepan pintu kamarnya dan menoleh kepadaku.
"Sudah,tadi Leo sudah mengajakku makan malam tadi" jawabku.
"Baiklah. Kalau begitu kau tidurlah. Kau pasti sudah lelah kan"
"Ne. Halmoni juga beristirahatlah. Mimpi yang indah Halmoni" setelah mengatakan itu aku pun masuk kedalam kamarku. Aku merebahkan tubuhku diatas kasur empuk milikku yang tidak memiliki ukuran besar tapi cukup nyaman jika dipakai tidur untuk dua orang.
"hufff" aku menghela nafas pendek mataku menatap plafon kamarku yang berwarna putih polos itu. fikiranku melayang jauh memikirkan apa yang dikatakan oleh Halmoni tadi. Entah karena letih atau apa mataku mulai tertutup secara perlahan tanpa aku menyuruhnya dan aku pun mulai memejamkan penuh mataku dan menjelajahi dunia mimpi.
######
Sinar matahari yang mulai membangunkan seluruh penduduk bumi dengan pancaran sinar terangnya itu dan tak ada satu orang pun yang tidak terganggu denga pancaran sinarnya yang terlalu terang itu,dan itulah yang dirasakan oleh seorang pemuda yang mulai mengerutkan keningnya tanda kalau ia akan terbangun dari tidur panjangnya itu. Dalam hitungan detik mata sang pemuda itu pun terbuka tanpa malu-malu. Merasa ada beban diatas keningnya tangan pemuda yang bernama Ken itu pun meraba benda diatas keningnya.
"Cih,aku demam lagi? Ken apa kau memang namja lemah? " gumam Ken kesal karena mendapati kain yang menempel dikeningnya-sebenarnya bukan kesal pada kainnya tapi pada dirinya sendiri. Baru bermain dengan anak-anak panti saja sudah membuatnya demam. Apa lagi kalau ia melakukan aktifitas seperti orang pada umumnya.
Cklek
Pintu terbuka dan tampaklah Ny. Lee yang membawa nampan berisi bubur,air,susu dan obat untuk putranya itu.
"Kau sudah bangun Ken?" sapa Ny. Lee dan dibalas anggukan oleh Ken. Ken yang duduk bersender pada kepala ranjang memperhatikan sang eomma yang kini sudah berada disampingnya dan meletakkan nampan yang dibawanya dimeja sebelah ranjang Ken. Ny. Lee pun mengambil duduk disamping kanan Ken lalu mengambil semangkuk bubur yang ia letakkan dimeja tadi.
"Ayo,sekarang kau harus makan lalu minum obatmu dan setelah itu bersiap ke rumah sakit untuk terapimu"terang sang eomma. Ken hanya menganggukkan kepalanya dan menerima suapan bubur dari sang eomma.
"Eomma,apa kemarin malam aku demam lagi?" tanya Ken memastikan
"Ne,kau terlalu asyik bermain dengan anak-anak panti hingga kau tidak memperdulikan tubuhmu dan akibatnya kau kelelahan dan pingsan"balas Ny. Lee dengan menyuapkan bubur pada mulut Ken.
"Aku terlalu senang eomma bisa bermain bersama mereka"timpal Ken dengan mulut yang dipenuhi dengan bubur itu.
"Ne eomma tau,nah karena itu kau harus cepat sembuh agar nanti malam kau bisa bertemu dengan Leo"
"Ne eomma"
####
Dua bibir yang saling terpaut itu kini mulai mengambil jarak 10 inchi. Mereka melepaskan tautan bibir mereka karena salah satu dari pemilik bibir itu membutuhkan udara untuk memasuki paru-parunya.
"Kau ingin membunuhku Tuan Jung?" tanya salah satu pemuda itu yang dikenal dengan N dengan nada yang mencibir. Jung Leo yang masih berada didekatnya hanya terkekeh kecil serta menggunakan tangan kanannya mengusap pipi kiri N. N tersipu malu mendapatkan perlakuan yang lembut dari Leo.
"Ani, aku hanya ingin menikmati bibirmu Nyonya Jung" jawab Leo enteng.
"awww" N yang mendengar Leo menyebutnya Nyonya Jung itu segera mencubit perut Leo yang menyebabkan Leo menjerit sakit yah meski sedikit tapi tetap saja sakit.
"Salah sendiri kenapa kau memanggilku Nyonya Jung huh? Tuan Jung apa kau lupa aku ini pria dan margaku Lee bukan Jung" ucap N dengan nada kesal dan mendorong bahu Leo untuk menjauh darinya dan Leo pun menurutinya terbukti yang kini Leo sudah duduk di kursi kemudinya disamping N.
"Ah Arraseo. Benahilah pakaianmu kau tidak ingin mereka curigakan?"titah Leo dan disetejui N yang kini mulai merapikan penampilannya.
"Sudah rapi. Ayo kita berangkat" ajakan N pun disanggupi Leo. Dan mobil sport berwarna putih mengantarkan dua pemuda itu menuju perusahaan.
Saat ini Ken sedang bersiap untuk memeriksakan kondisi tubuhnya dan melakukan terapi sulih enzim. Ken hanya menggunakan kaos putih berlengan pendek dengan celana selutut. Setelah selesai dengan penampilannya Ken pun segera turun dari kamar saat ia menuruni tangga dilihatnya sang Eomma sedang menunggunya diruang keluarga dengan majalah yang berada dipangkuannya.
" Eomma. Ken sudah siap ayo kita berangkat" kata Ken yang kini sudah berada disamping Nyonya Lee. Nyonya Lee melihat Ken. ia tersenyum lalu meletakkan majalahnya diatas meja dan meraih tasnya yang berada disampingnya lalu berdiri.
"Ayo kita berangkat Pak Park sudah menunggu"kata Nyonya Lee dan hanya dibalas anggukan oleh Ken. dan mereka pun melangkah menuju halaman depan rumah dimana mobil yang akan mengantarkan mereka sudah siap didepan rumah. Mereka pun memasuki mobil Audi berwarna putih dan setelah mereka sudah masuk kedalam mobil sang supir pun melajukan mobilnya untuk meninggalkan pekarangan rumah keluarga Lee.
####
"Apa putraku ada di dalam sekretaris N?" tanya Tuan Jung yang kini sudah berdiri didepan meja kerja N. N yang terlalu fokus bekerja kaget saat mendengar suara sang pemilik perusahaan bertanya padanya. N segera berdiri dan membungkukkan badannya 900 dan Tuan Jung hanya tersenyum.
"Sajangnim ada di ruangannya Tuan Jung" balas N dengan sopan. Tuan Jung menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Kau boleh meneruskan pekerjaanmu Sekretaris N" setelah mengatakan itu Tuan Jung langsung menemui putranya itu. saat Tuan Jung memasuki ruangan putranya ia melihat putranya yang sedang berkutat dengan komputer didepannya. Tuan Jung menghampiri putranya.
"Oh Appa. Ada apa Appa datang kemari?" tanya Leo yang melihat Appanya yang sudah berdiri didepan meja kerjanya. Leo menghentikan pekerjaannya dan memfokuskan pandangannya kepada sang Appa yang kini mengambil duduk di kursi yang sudah disediakan di depan meja kerja anaknya.
"Appa hanya ingin berkunjung saja. Apa yang sedang kau kerjakan Leo?" tanya Tuan Jung yang melirik berkas yang ada di meja Leo. Leo yang melihat sang Appa melirik berkas yang ada dibawah tangannya juga mengarahkan retinanya keberkas .
"Hanya mengecek seberapa besar keuntungan yang kita peroleh untuk bulan ini Appa" jawab Leo. Tuan Jung menganggukkan kepalanya mengerti.
"Appa dengar Manager Goo, sudah menyiapkan produk terbaru untuk bulan ini. karena katanya produk yang Mall kita jual ada yang harus diganti karena peminatnya yang mulai berkurang dan Manajer Goo sudah merencanakan pembuatan produk itu"jelas Tuan Jung dengan jempol dan telunjukkan diletakkan didagunya dan siku yang bertumpu pada tangan kursi. Leo yang mendengarkan itu mengangguk paham.
"Ya. Kemarin Manajer Goo juga sudah mengatakan itu kepadaku Appa. Aku rasa kinerja Manajer Goo sangat bagus dalam menangani masalah produk kita dan akan sangat diuntungkan lagi jika Manajer Goo dan Manajer Seo melakukan kerjasama" ucar Leo dan disetujui oleh Tuan Jung dengan anggukan kepala.
"Kau benar Leo. Tapi Appa dengar mereka memang akan bekerjasama dalam pembuatan produk baru kita. Manajer Goo juga sudah bekerjasama dengan Dokter Cho untuk pembuatan produk ini karena produk ini tentang produk alat kosmetik wanita agar produknya sempurna dan tidak merugikan konsumen"
"Baguslah kalau begitu. Kita tinggal menunggu hasil produk itu selesai"
"Ya. Oh Leo, apa pekerjaanmu masih banyak?" tanya Tuan Jung dengan mata yang mengarah pada berkas-berkas yang ada dimeja Leo.
"Lumayan Appa. Tapi Leo bisa menyelesaikan dengan waktu yang cepat" jawab Leo yang kini menyandarkan punggungnya ke kursi kebanggaannya.
"Kau jangan lupa malam ini kita akan makan malam dengan keluarga Tuan Lee" Tuan Jung mengingatkan.
"Ne Appa"
"Appa sangat kasihan pada anaknya Tuan Lee" ada nada prihatin dalam suara Tuan Jung dan wajah yang sedikit yang tidak berminat dengan topik yang dibicaran oleh Appanya hanya bergumam sekenanya saja.
"Ya sudahlah. Appa akan pergi. Kau kerjakan kembali pekerjaanmu dan setelah selesai kau cepatlah pulang mengerti" Tuan Jung mengingatkan dan Leo hanya menganggukkan kepalanya patuh. Tuan Jung pun berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruangan Leo. Setelah kepergian Appanya Leo mengehela nafas pendek lalu mengerjakan kembali pekejaan yang sempat ia tunda karena kedatangan sang Appa.
####
Saat ini Nyonya Lee dan Ken sedang berada di ruangan Dokter Kang. Ken baru saja selesai melakukan terapinya. Dokter Kang yang duduk didepan Nyonya Lee dan Ken akan memberitahukan kondisi tubuh Ken.
"Bagaimana Dokter Kang?" tanya Nyonya Lee. Ken melihat kearah ibunya sebentar lalu melihat Dokter Kang yang tangannya membawa hasil rontgen hati dan paru-parunya.
"Nyonya Lee saat ini kondisi putra anda memang stabil. Tetapi,jika Ken tidak segera mendapatkan donor hati maka penyakitnya akan semakin parah dan itu juga akan berdampak pada paru-parunya. Nyonya Lee saya sudah mengatakan hal ini kepada anda dan Tuan Lee bahwa kekurangan Alfa-1 antitripsin memungkinkan enzim-enzim lainnya merusak jaringan paru-paru. Kekurangan enzim ini dalam darah,menunjukkan kegagalan hati dalam mengeluarkan alfa-1 antitripsin. Enzim yang tetap berada dalam sel-sel hati bisa menyebabkan kerusakan fibrosis dan sirosis. Dan kondisi ini sudah terjadi pada Ken. meskipun terapi sulih enzim memang menjanjikan tetapi pencakokan hati tetaplah solusi yang paling terbaik Nyonya Lee" keta Dokter Kang dengan wajah yang sedih dan tidak tega untuk mengatakan ini pada Nyonya Lee terlebih pada Ken. Nyonya Lee sendiri yang mendengar penjelasan Dokter Kang tidak bisa membendung air matanya. Ken yang melihat Eommanya menangsi meletakkan tangannya diatas tangan sang Eomma yang berada dipangkuan paha Nyonya Lee. Ken menggenggam tangan Eommanya memberikan kekuatan untuk sang Eomma. Nyonya Lee menatap putranya yang tersenyum manis padanya. Nyonya Lee yang melihat ketegaran pada mata Ken menggenggam tangan Ken yang ada dipangkuannya yang juga menggenggam tangannya.
"Eomma tidak apa-apa pasti akan ada jalan untuk masalah ini. benarkan Dokter Kang?" tanya Ken disertai dengan pandangannya yang melihat pada Dokter Kang. Nyonya Lee pun juga memandang Dokter Kang menunggu jawaban yang akan diberikan Dokter Kang atas pertanyaan putranya. Dokter Kang yang melihat ketegaran Ken tersenyum lirih.
"Seperti yang saya bilang tadi Ken. kau akan sembuh jika kau melakukan pencangkokakkan hati. Kami pihak rumah sakit juga akan mencarikan donor hati yang cocok untukmu. Sebenarnya ini akan semakin mudah jika salah satu keluarga anda mendonorkannya untuk Ken Nyonya Lee"jawab Dokter Kang. Ken yang mendengar perkataan terakhir itu Dokter Kang kuarang senang.
"Dokter Kang aku memang membutuhkan donor hati. Tapi aku tidak akan menerima jika donor hati itu berasal dari keluargaku dan orang hidup yang merelakan hatinya untukku. Aku akan menerima donor hati dari orang yang memang sudah tidak membutuhkan hati itu dan orang yang sudah tidak membutuhkan hati hanya orang yang sudah meninggal. Dan intinya aku hanya ingin mendapatkan donor hati dari orang yang sudah meninggal" kata Ken dengan nada yang sedikit marah. Nyonya Lee yang mendengarkan itu hanya bisa menghela nafas berat dan memandang Dokter Kang dengan tatapan putus asa karena tidak bisa membujuk Ken untuk menerimaa donor hati dari orang yang masih hidup.
"Tapi Ken itu akan..."
"Akan sangat sulit? Aku tau itu tapi aku tetap tidak akan mau menerima donor hati dari orang yang masih hidup. Dokter Kang, Eomma. Tolong mengertilah akan keputusanku ini adalah yang terbaik untuk kita semua" potong Ken dengan mata yang berkaca-kaca. Nyony Lee dan Dokter Kang hanya bisa menuruti kemauan Ken.
"Baiklah jika itu keputusanmu Ken. tapi pihak rumah sakit pasti juga akan membantumu Ken. tapi kau jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatanmu mengerti" ucap Dokter Kang yang dibalas anggukan semangat dari Ken dan Nyonya Lee hanya tersenyum kecil melihat sikap putranya itu.
"Baiklah seperti biasa kau harus menebus obat ini Ken agar kondisi tubuhmu tetap setabil dan juga kau jangan terlalu lelah seperti kemarin malam mengerti"titah Dokter Kang disertai dengan tangannya yang memberikan secarik kertas resep obat untuk ditebus Nyonya Lee ke apotik rumah sakit. Dan Nyonya Lee menerima kertas yang disodorkan Dokter Kang.
"Ne. Aku akan menjaga kondisi tubuhku Dokter Kang" kata Ken.
"Baiklah Dokter Kang kami akan pergi dan terima kasih untuk hari ini. jika ada berita baik tolong beritahu kami" kata Nyonya Lee yang kini sudah berdiri diikuti Ken dan Dokter Kang.
"Ne pasti Nyonya Lee" setelah Dokter Kang menyelesaikan perkataannya Nyonya Lee pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Dokter Kang dan Dokter Kang pun menyambut itu. Ken pun juga berjabat tangan dengan Dokter Kang.
"Baiklah saya permisi dulu Dokter Kang"pamit Nyonya Lee dengan membungkukkan badannya sedikit diikuti dengan Ken kemudian meninggalkan ruangan Dokter Kang. Setelah Nyonya Lee dan Ken sudah keluar dari ruangannya Dokter Kang menghela nafas berat.
"Kau anak yang sangat baik Ken. semoga kau cepat sembuh" gumam Dokter Kang dengan senyum kecut. Dokter Kang sangat menyayangi Ken karena Ken sudah ia anggap seperti anaknya sendiri dan karena Ken pasien tetapnya.
####
Setelah menebus obat di apotik rumah sakit kini Nyonya Lee dan Ken berada di depan supermarket yang tak jauh dari rumah sakit. Sebelum mereka kembali ke rumah mereka ke supermarket dulu untuk berbelanja kebutuhan dapur yang sudah mulai menipis. Kini Ken dan Nyonya Lee mulai menjelajahi setiap sudut supermarket itu.
"Eomma, Ken kesana dulu ya" tunjukkan Ken ke arah stan aksesoris-aksesoris.
"Ne, berhati-hatilah Ken" kata Nyonya Lee dan diangguki oleh Ken. ken pun meninggalkan Eommanya. Nyonya Lee pun mulai mengambil bahan keperluan dapur.
"Semuanya sudah tinggal dagingnya" gumam Nyonya Lee dengan mata yang menelisik barang yang sudah ia beli dikeranjangnya. Nyonya Lee pun mendorong keranjangnya dan menuju ke stan daging. Saat Nyonya Lee akan mengambil salah satu daging ada tangan juga yang mau mengambil daging itu.
"Ah mian..." Nyonya Lee tidak meneruskan perkataannya saat melihat orang yang akan mengambil daging yang ia incar. Orang itu pun juga terdiam saat melihat Nyonya Lee dihadapannya.
"Eo-Eomma" gumam Nyonya Lee. Orang yang dipanggil Eomma itu hanya diam ditempatnya.
"Eomma. Ini kau? Eomma kau ada disini" kata Nyonya Lee dengan tangan yang diulurnya untuk bisa menyentuh pundak sang Eomma. Tapi belum sampai tangan itu menyentuh pundak Eommanya. Wanita yang dipanggil Eomma itu menepis tangan Nyonya Lee. Wanita yang dipanggil Eomma oleh Nyonya Lee menatap tajam putrinya itu.
"Wae? Kau mau apa? Apa kau mau memamerkan kehidupan bahagiamu bersama suami dan anakmu?" tanya wanita yang bernama Nyonya Han pada Nyonya Lee. Nyonya Lee tersentak mendengar nada suara benci dari Eommanya.
"Eomma apa yang Eomma katakan? Apa maksud Eomma" tanya Nyonya Lee. Nyonya Han yang merasa putrinya berpura-pura tidak tau itu melengos sinis pada putrinya.
"Kau tidak tau apa kau pura-pura tidak tau heum?" tanya Nyonya Han sarkatis. Nyonya Lee terdiam mendengarkan itu dan menundukkan padangannya.
"Dari mana saja kau ? kau tidak pernah menemui putramu. Nara jika kau tidak menemui Eommamu ini tidak apa. Tapi kau jangan melupakan anakmu" kata Nyonya Han yang sudah melunak pada Nyonya Lee. Nyonya Lee yang mendengar kata putramu segera menatap Eommanya. Nyonya Han yang ditatap seperti itu mengerti maksud putrinya.
"Oh, iya aku lupa. Kau kan hanya memiliki satu putra ia kan?" tanya Nyonya Han dengan nada menyindir.
"Eomma apa yang kau katakan? Aku dan Jungsoo oppa tidak pernah melupakannya. Aku dan Jungsoo oppa hanya belum ..."
"Belum apa? Belum sempat atau memang sudah tidak perduli lagi huh?" tanya Nyonya Han dengan jari telunjuknya yang mengarah pada wajah Nyonya Lee.
"Eomma aku..."
"Eomma kau disini? Aku mencarimu Eomma" perkataan Nyonya Lee terpotong dengan kedatangan Ken yang langsung melayangkan pertanyaan pada Nyonya Lee. Nyonya Han menatap tajam Ken yang sudah berdiri diantara mereka.
"Ah Halmoni. Halmoni kenal Eommaku?" tanya Ken yang melihat ada Nyonya Han yang bersama Eommanya. Nyonya Han menatap benci pada Ken dan Nyonya Lee mengetahui itu.
"Cih, "bukannya menjawab pertanyaan Ken. Nyonya Han malah meninggalkan mereka berdua dengan tatapan sinisnya. Ken yang melihat tingkah Nyonya Han menatap bingung Nyonya Han lalu menatap Eommanya meminta penjelasan. Nyonya Lee yang mengerti maksud Ken hanya tersenyum kecil dan menepuk lembut pundak Ken.
"Sudahlah tak apa. Ayo kita pulang. Kau sudah selesai kan?" tanya Nyonya Lee dengan mata yang melihat barang bawaan Ken.
"Ne Eomma. Ken sudah selesai . ayo kita ke kasir lalu pulang Eomma" kata Ken dengan meletakkan barang bawaannya kedalam keranjang dorong sang Eomma dan menggangtikan sang Eomma mendorong kereta belanjaannya.
####
Nyonya Han memasuki rumahnya dengan terburu-buru Nyonya Han meletakkan barang belanjaannya diatas meja makan lalu Nyonya Han berlari menuju kamarnya Nyonya Han menangis. Ia menangisi dirinya sendiri yang tidak mampu melapangkan hatinya untuk menerima semua dengan ikhlas. Entah bagaimana Nyonya Han merasa membenci cucunya yang satu itu. nyonya Han membuka laci dimeja samping tempat tidurnya ia mengmbil figura yang ada foto putri dan menantunya.
"Aku kecewa pada Han Nara,Lee Jungsoo. Aku sangat kecewa padamu karena telah menelantarkan salah satu putramu menelantarkan cucu yang paling kusayangi"kata Nyonya Han dengan memandang foto itu.
"Dan aku membenci putramu yang paling kau sayangi. Aku membencinya karena dirinya kau menelantarkan cucu kesayanganku dan karena dirinya cucuku harus mengalami berbagai permsalahan hidup. Aku membencinya" kata Nyonya Han dengan tatapan tajam dan ingatan yang menampilkan wajah cerah Ken tadi tangan Nyonya Han terkepal kuat.
####
Saat ini Nyonya Lee tengah duduk di ranjang kamarnya dan sang suami menunggu sang suami selesai mandi. Nyonya Lee melamun mengingat pertemuannya dengan sang Eomma. Karena terlalu asyik melamun Nyonya Lee tidak sadar jika Tuan Lee sudah selesai mandi dan berjalan menghampirinya. Tuan Lee yang melihat sang istri yang melamun mengerutkan keningnya.
"Yeobeo" panggil Tuan Lee yang kini sudah berdiri didepan Nyonya Lee. Nyonya Lee yang merasa dirinya dipanggil mendongakkan kepalanya menatap sang suami.
"Oppa" kata Nyonya Lee lirih dengan pandangan sendu. Tuan Lee yang menyadari jika istrinya dalam kondisi hati yang tidak baik segera mengambil duduk disamping sang istri dan mengarahkan bahu istrinya untuk berhadapan dengannya.
"Apa ada sesuatu yang buruk terjadi?" tanya Tuan Lee dengan tangan yang memegang pipi kiri istrinya mengusapnya lembut.
"Oppa, aku bertemu dengan Eomma" jawab Nyonya Lee dengan kepala yang menunduk. Tuan Lee yang mendengarkan itu menghentikan gerakan jempolnya yang mengusap pipi istrinya dan memfokuskan penuh pandangannya pada sang istri.
"Dimana?"
"Supermarker. Setelah pulang dari rumah sakit aku dan Ken mampir ke supermarket dekat rumah sakit. Saat aku berada disatan daging aku melihat Eomma. Aku berbicara pada Eomma tapi belum sempat aku menyelesaikan perbincangan kami Ken datang. Dan aku melihat tatapan benci Eomma pada Ken. oppa aku takut jika Eomma membenci Ken. aku takut putraku membenci adiknya. Oppa bagaimana ini?" kata Nyonya Lee yang kini sudah menangis menatap suaminya. Tuan Lee yang melihat istrinya menangis segera merengkuh tubuh istrinya kepelukannya menepuk lembut punggung sang istri agar tenang.
"Tenanglah yeobeo. Aku yakin itu hanya kemarahan Eomma sesaat. Kita akan mencari mereka dan kita akan meminta maaf pada putra kita satu lagi. Kau bilang Eomma berada di supermarket dekat rumah sakit itu berarti rumah mereka juga tidak jau dari supermarket itu. kau tenganlah kita hadapi masalah ini bersama"hibur Tuan Lee dan diangguki oleh Nyonya Lee. Setelah merasa lebih tenang Nyonya Lee melepaskan pelukannya dan menatap Tuan Lee. Tuan Lee yang melihat ada bekas air mata dipipi Nyonya Lee menghapuskan dengan jempolnya.
"Kau merasa sudah tenang?" tanya Tuan Lee dan diangguki oleh Nyonya Lee.
"kalau begitu ayo kita bersiap. Kita akan makan malam dengan keluarga Tuan Jung" titah Tuan Lee dan mereka pun bersiap untuk pergi ke rumah Tuan Jung.
####
Tok tok tok
Nyonya Jung mengetuk pintu kamar anaknya. Dan tak lama pintu kamar terbuka dan mucullah Leo. Nyonya Jung tersenyum manis melihat putranya. Tapi sedetik kemudian Nyonya Jung melayangkan tatapan kaget saat melihat putranya hanya memakai pakaian kaos putih polos tipis dan celana trening.
" Leo kau belum bersiap?" tanya Nyonya Jung melayangkan tatapan horor untuk putranya. Dan Leo hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Nyonya Jung melihat sikap acuh putranya hanya menggelengkan kepala. Nyonya Jung kini mengikuti Leo memasuki kamar putranya.
"Aih jinjja. Cepat kau bersiap. Sebentar lagi Tuan Lee dan keluarganya akan tiba. Kau ini memang sengaja apa lupa kalau kita akan makan malam dengan keluarga Lee." Nyonya Jung mulai mengomeli putranya. Nyonya Jung pun membuka almari putranya dan mengambil kemeja hitam dan celana hitam panjang.
"Pakai ini saja" titah Nyoya Jung sambil memberikan baju yang diambilnya pada Leo. Leo hanya menuruti titah sang Eomma. Leo pun memasuki kamar mandi dan mengganti bajunya. Tak membutuhkan waktu yang lama Leo pun keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang dipilihkan sang Eomma tadi.
"Nah ini baru putra Eomma yang tampan. Kau terlihat tampan dengan pakaian itu" puji sang Eomma yang sudah berdiri di depan putranya dan mengelus rambut sang anak yah meski harus sedikit berjinjit karena badan sang anak yang tinggi.
"Aku memang tampan Eomma" kata Leo seadanya. Nyonya Jung hanya memutar bola matanya jengah melihat sikap sang anak.
"Ais Leo kau ini. ya sudah kalau kau sudah selesai bersiap cepat turun. Mengerti" Leo hanya menganggukkan kepalanya mendengar perintah sang Eomma. Nyonya Jung pun meninggalkan sang putra dan turun kebawah menemani sang suami.
"Apa Leo sudah bersiap?" tanya Tuan Jung saat melihat Nyonya Jung berjalan kearahnya.
"Ne. Aku sudah menyuruhnya untuk segera turun jika sudal selesai bersiap" jawab Nyonya Jung yang kini sudah mengambil duduk disamping sang suami. Tuan Jung mengangguk mengerti. Tak berapa lama terdengar suara klakson mobil di pintu gerbang rumahnya.
"Itu pasti mereka sudah datang. Ayo kita sambut"ajak Tuan Jung kepada sang istri dan pasangan suami-istri itu pun menyambut kedatangan keluarga Lee didepan rumahnya. Baru mereka keluar rumah mobil keluarga Tuan Lee behenti tepat didepan halaman rumahnya. Tak berapa lama pintu mobil itu pun terbuka dan mucullan Tuan Lee dari sisi kiri pintu kemudi dan Nyonya Lee dari sisi kanan sebelah kemudi dan pintu belakang sebelah kanan turunlah Ken.
"Selamat datang Tuan Lee" sapa Tuan Jung pada Tuan Lee yang kini berjalan mendekat pada Tuan Jung mereka pun berpelukan ringan dan berjabat tangan.
"Baik Tuan Lee" kata Tuan Lee dengan membalas pelukan ringan dan jabat tangan Tuan Jung. Sedangkan Nyonya Lee dan Nyonya Jung bercium pipi dan bersalaman.
"Ah ini Ken?" tanya Nyonya Jung saat melihat pemuda dengan kemeja biru dan celana jeans berdiri disamping Nyonya Lee.
"Ne. Ini Ken. Ken perkenalkan ini Nyonya Jung. Tetangga kita dulu yah meski hanya 6 bulan menjadi tetangga kita"
"Annyeong haseyo Ken imnida" kata Ken dengan membungkukkan badannya. Tuan Jung yang melihat itu tersenyum kecil begitu pula dengan Nyonya Jung. Nyonya Jung mengelus lembut puncak kepala Ken.
"Kau sangat manis Ken." puji Nyonya Jung. Ken hanya tersenyum malu mendapatkan pujian itu.
"Ah ayo kita masuk" ajak Tuan Jung dan mereka pun memasuki rumah disertai dengan obrolan ringan.
"Leo sini. Tuan Lee dan keluarganya sudah sampai kau berikan salam untuk mereka" kata Tuan Jung saat melihat Leo menuruni tangga. Semua mata tertuju pada Leo 'tampan' batin Ken saat melihat Leo yang berjalan kearah mereka.
"Annyeong haseyeo ahjussi, ahjumma. Leo imnida" kata Leo dengan membungkukkan badannya. Setelah itu Leo mengambil duduk disamping sang appa.
"Putramu sangat tampan Tuan Jung" puji Tuan Lee dan Leo hanya tersenyum samar menanggapi itu.
"Oh ya. Leo ini Ken anaknya Tuan Lee. Ken ini Leo anaknya ahjussi. Kau masih ingat tidak dengan Leo?" tanya Tuan Jung pada Ken. Leo menatap Ken tajam. Ken yang mendapat tatapan tajam Leo menjadi takut dan tak berani menatap Leo.
"Ne Ahjussi" balas Ken lirih. Tuan Jung tersenyum melihat tingkah Ken.
"Apa kau mengingatnya Leo?" sekarang giliran Nyonya Jung yang bertanya pada putranya.
"Ani" jawab Leo singkat dan terkesan malas dan acuh. Ken yang mendengarkan itu entah mengapa hatinya nyeri. Nyonya Lee yang melihat raut wajah putranya mengusap punggung tangan Ken mencoba menenangkan putranya. Suasana menjadi hening karena sikap Leo barusan.
"Sepertinya ini sudah waktunya makan malam. Ayo kita makan malam" ajak Tuan Jung dan menggiring mereka semua ke ruang makan untuk makan malam.
####
Leo Pov
Entah mengapa aku merasa makan malam ini membosankan. ingin rasanya aku undur diri saat sudah selesai makan malam tapi Eomma malah menyuruhku menemani pemuda yang tidak aku kenal sama mengitari rumah. Akhirnya aku mengajak ia duduk di gasebo depan rumah. Pemuda yang kata Eomma bernama Ken itu orang yang pendiam terbukti ia yang dari tadi hanya diam saja. Saat suasana hening seperti ini tiba-tiba ponselku berbunyi aku pun segera mengambil ponselku yang berada disaku kemejaku. Tertera nama N dilayar ponselku. Aku pun segera menekan tombol hijau untuk menerima panggilan dari kekasihku itu.
"Ne chagi" sapa Leo tanpa melihat ekspresi dari pemuda yang duduk disampingnya. 'jadi Leo hyung sudah memiliki kekasih?' ucap Ken dalam hati entah mengapa mengetahui hal itu hati Ken sakit. Ken mengepalkan tangannya erat. Karena terlena dengan dunia lamunannya Ken tidak mengetahui jika Leo sudah selesai dengan bertelpon ria dengan kekasihnya. Ken tidak sadar jika ia melamun menghabiskan waktu 20 menit. Leo yang melihat Ken melamun.
"Ken" panggil Leo dengan tangan yang menepuk bahu Ken. Ken pun tersadar dari lamunannya. Ia pun menatap Leo yang menatapnya heran.
"Ah mianhae"kata Ken dengan senyum kikuk. Leo hanya mengangkat bahunya acuh.
"Aku akan masuk kedalam kau disini apa ikut masuk kedalam?" tanya Leo yang kini sudah berdiri dari duduknya.
"Aku akan kedalam" jawab Ken pelan. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Leo memasuki rumahnya diikuti Ken dibelakangnya.
"Ah itu Leo dan Ken" kata Nyonya Jung saat Leo dan Ken tiba diruang tamu. Leo dan Ken pun berhenti berjalan berdiri heran.
"Leo,Ken kesinilah. Ada yang ingin kami sampaikan" kata Tuan Jung. Leo dan Ken pun mendekat pada mereka dan mengambil duduk. Leo yang duduk disebelah Eommanya begitupula dengan Ken.
"Memangnya ada apa Appa?" tanya Leo penasaran. Ken melirik sekilas pada Leo. Nyonya Lee melihat Ken lalu mengenggam tangan putranya Ken yang tangannya digenggam sang Eomma menoleh pada sang Eomma. Nyonya Lee hanya tersenyum.
"Leo sebenarnya Appa mengundang Tuan Lee datang kesini tidak hanya untuk makan malam saja tapi ada hal lain yang Appa rencanakan. Tadi sudah Appa dan Tuan Lee bicarakan dan mereka tidak keberatan akan hal itu"
DEG DEG
Leo yang mendengarkan itu tiba-tiba jantungnya berdetak kencang. Entah mengapa fikiran Leo mengarah ke arah yang tidak Leo harapkan. Berbeda dengan Leo. Ken justru tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Tuan Jung itu.
"Memangnya apa yang Appa rencanakan?" tanya Leo was-was. Tuan,Nyonya Jung tersenyum.
"Kami akan menjodohkanmu dengan Ken" Ken yang awalnya menundukkan kepalanya secara reflek mendongakkan kepalanya. Leo menatap mata sang ayah mencoba mencari keyakinan dari mata sang ayah dan Leo menemukan itu.
"Appa. Apa yang Appa lakukan? Aku tidak mau" tolak Leo tanpa melihat situasi dan kondisi Leo langsung menyatakan ketidaksetujuannya itu. Ken hanya diam melihat itu. Nyonya Lee mengeratkan genggaman tangannya pada tangan putranya.
"Leo kau tidak bisa menolak karena ini keputusan mutlak dari Appa. Selama ini Appa sudah memberikan kebebasan padamu untuk melakukan apa yang kau suka dan sekarang kali ini saja kau turuti Appa" Tuan Jung mengatakan hal itu dengan nada yang tegas dan menuntut.
"Ah terserahlah" kata Leo dengan nada yang dingin lalu meninggalkan ruang tamu itu.
TBC
