TITLE :
Sorry, You're Hurt Because of My Love Chapter 5
Cast :
Jung Taekwon
Lee Jaehwan
N
Warn :
Boys love l Hurt l Dramatis l Romance l Mpreg l Typo l Gaje
##
Saat ini Leo dan N sedang berada di restoran cepat saji yang terletak tak jauh dari kantor mereka. Leo dan N yang terlihat menunggu pesanan mereka, tempat duduk yang mereka pilih tepat dipojok ruangan bangunan restoran yang memang didesain dengan dinding berkaca membuat mereka dapat terlihat jelas dari luar restoran.
##
Nyonya Jung yang baru pulang dari kantor suaminya untuk mengantar makan siang sang suami pun tak sengaja matanya melihat suasana luar melalui kaca jendela mobil. Matanya tak sengaja melihat dua orang pemuda yang amat ia kenal.
"Pak Lee tolong tepikan mobilnya" Tuan Lee pun menepikan mobilnya dan berhenti. Nyonya Jung mengerutkan keningnya saat melihat Leo dan Sekretarisnya N makan siang bersama.
"Bukankah Ken sudah mengantarkan makan siang untuk Leo? Dan sekarang Leo makan siang ditempat ini dengan sekretarisnya?" gumam Nyonya Jung dengan dahi yang berkerut menandakan bingung.
Mata Nyonya Jung mendelik saat melihat kejadian saat Leo mengusap sudut bibir N, entah mengapa Nyonya Jung menjadi sedikit curiga dengan mereka saat melihat interaksi mereka berdua yang terlihat tidak seperti atasan dan bawahan.
Nyonya Jung pun mengambil tasnya yang berada disebelah kanannya lalu mengambil ponselnya dan mendial nomor seseorang.
"Awasi Leo dan Sekretarisnya N sekarang,kau mengerti"perintah Nyonya Jung dengan nada datar dan terlihat pancaran kemarahan dimatanya saat melihat pemandangan N yang mencium cepat pipi putranya.
"..."
Nyonya Jung pun memutus sambungan teleponnya, tangan Nyonya Jung mengepal dengan erat bertanda sedang menahan kemarahan.
Nyonya Jung mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan untuk mengontrol emosinya. "Lajukan mobilnya Pak Lee" Pak Lee pun melajukan mobilnya meninggalkan restoran itu.
##
Ken menatap foto pernikahannya dengan Leo yang ia letakkan dibadrest samping tempat tidurnya. Ken mengambil foto itu dan mengusap wajah Leo, "Apa kau tidak bisa membuka hatimu untukku hyung?" Ken mengatakan hal itu dengan senyum sendu,"Apa kau sudah memiliki kekasih hyung? Apa kau mencintai orang lain?" air mata Ken pun menetes,mengapa sulit baginya untuk membuat Leo hangat padanya seperti saat mereka kecil.
Saat Ken sibuk dengan rasa merananya tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ken mengusap pipinya yang ada air matanya lalu mengambil ponselnya yang berada diatas bedrestnya tertera nama Eommanim dilayar ponselnya.
Ken pun menyentuh tombil hijau dan menemperlkan ponselnya pada telinganya," Yeobeseyeo" sapanya dengan sura yang lirih
"..."
"Ne, aku sudah mengantarnya Eommanim"
"..."
"Ani. Leo hyung menerimanya dengan tersenyum senang dan ia juga memakannya langsung"
"..."
"Ne,Eommanim"
Ken menurunkan ponselnya dengan gerakan lemas,ia terpaksa berbohong pada mertuanya jika Leo menerima makanan siang yang ia bawakan tadi. Ia terpaksa melakukan ini agar para orang tua tidak mengetahui hubungannya dengan Leo yang sebenarnya.
##
Malam telah datang dan kebanyakan para pekerja pun sudah pulang begitu pula dengan Leo dan N yang kini dalam perjalanan pulang ke rumah N. N yang duduk disebel kemudi menatap kendaraan yang berada didepannya sedangkan Leo terfokus pada kemudinya meski sesekali menatap N.
"Kau ingin makan malam diluar?" tanya Leo memecah keheningan diantara mereka. N menatap Leo sekilas,"Tidak,aku makan dirumah bersama Halmoni saja"jawab N.
"Baiklah...eum apa aku boleh makan bersama kalian?" N menatap Leo yang kini menatapnya dengan penuh harap. N menghembuskan nafasnya pasrah,"Baiklah"
Setelah menempuh waktu 30 menit kini mereka sudah sampai didepan rumah N. Leo menghentikan mobilnya dan turun dari mobilnya begitu juga dengan N. Mereka berjalan menuju pintu dengan tangan yang saling menggenggam hingga masuk kedalam rumah kecil itu.
Tanpa mereka sadari jika sejak tadi ada dua orang berpakaian hitam mengikuti mereka dari kantor hingga rumah N dan mengambil gambar dimana tangan mereka yang saling bertaut.
##
Disebuah ruang makan disalah satu rumah terlihat seorang pemuda yang memakai piyama berwarna putih yang bergambarkan pikacu sedang meletakkan kepalanya diatas meja makan,terlihat ia sedang menunggu seseorang.
Ia menatap makanan sederhana yang ia buat dengan resep yang diberikan oleh sang mertua. Pemuda yang bernama Ken menghela nafas lelah.
"Apa Leo hyung lembur ya?" tanyanya pada diri sendiri. Ken pun mengambil ponselnya lalu mendial nomor Leo hingga terdengar bunyi sambungan,Ken dengan sabar menunggu jawaban dari Leo hingga sebuah suara operator terdengan jika sipenerima telepon tidak dapat menerima panggilannya.
Dengan enggan Ken menurunkan ponselnya yang ia lekatkan pada telinganya. "Apa ada sesuatu yang terjadi pada Leo hyung? Atau memang Leo hyung sedang sibuk?" terpancar jelas kekhawatiran Ken saat Leo menolak panggilannya.
Kruyuk kruyuk
Ken menundukkan kepalanya mengelus lembut perutnya yang lapar,ia ingin memakan makanan ini tapi Leo belum pulang,"Bersabarlah sebentar lagi Leo hyung pulang dan aku akan segera mengisimu perut"Ken berbicara pada perutnya yang kosong, ia berbicara seakaan perut itu bisa mendengarkannya.
##
Jika Ken yang menahan laparnya untuk bisa makan malam bersama dengan Leo. Maka lain halnya dengan Leo yang mengisi perutnya dengan senyum bahagia karena bisa bersama dengan kekasihnya dan nenek kekasihnya.
"Ah, Halmoni kenapa ikannya diberikan pada Leo hyung. Aku juga mau lagi ikannya" keluh N dengan nada kesal saat sepotong ikan yang akan ia ambil malah diambil terlebih dulu oleh sang halmoni yang diletakkan dipiring Leo.
"Ais, apa kau tidak tau jika kau sudah memakan ikannya 3 potong heum? Biarkan ini untuk Leo" sergah Nyonya Han. N mencibir dan Leo hanya tersenyum geli melihat interaksi nenek dan cucu ini.
"Leo makanlah. Kau sudah jarang sekali makan disini kan" Leo tersenyum menanggapi perkataan Nyonya Han. Meski tadi N sempat mencibir kemudian ia tersenyum saat neneknya terlihat masih menyayangi Leo setelah Leo menyakitinya.
Kenyamanan mereka pun sedikit terusik saat ponsel Leo berbunyi, Leo yang meletakkan ponselnya disaku kemejanya segera mengambil ponselnya. Leo terdiam saat mengetahui siapa yang menelponnya, Nyonya Han dan N mengamati diamnya Leo dengan tatapan bingung.
Leo melirik N yang menatapnya dan kemudian berganti menatap Nyonya Han yang juga menatapnya. Leo pun menyentuh tombol merah lalu mematikan ponselnya dan meletakkannya kembali kesaku kemejanya.
"Kenapa tidak kau angkat Leo?" tanya Nyonya Han. Leo tersenyum kikuk lalu mengusap leher belakangnya. "Ah itu tidak penting Halmoni jadi jangan terlalu difikirkan"
Dengan melihat reaksi yang diberikan Leo, N sudah tau jika yang menelpon barusan adalah istrinya Leo yang tak lain Ken.
Mereka pun melanjutkan makanan malam mereka. Setelah mereke selesai mereka mengobrol ringan diruang tamu yang digunakan juga sebagai ruang keluarga itu.
##
Saat Leo memasuki rumahnya yang terlihat sepi dan gelap. Leo pun berjalan menuju tangga saat kakinya akan menapaki anak tangga pertama dilihatnya lampu ruang makan menyala. Leo pun berjalan menuju ruang makan yang melekat pada dapur itu.
Saat sudah memasuki ruang makan retina matanya menangkap bahu kecil seseorang yang tertidur dengan kepalanya diletakkan diatas meja makan dengan kedua tangan yang bergelantung.
Leo mengambil nafas lalu membuangnya pelan sedikit rasa bersalah terselib dihatinya takkala matanya juga menatap beberapa makanan sederhana yang tersaji diatas meja. Karena rasa benci Leo yang mendonasi ia mengenyapkan rasa bersalah itu ia berfikir jika ini memang salah Ken sendiri siapa suruh ia menunggunya'batin Leo.
Leo beranjak meninggalkan ruang makan akan tetapi ia menghentikan langkahnya dilangkah ke lima. Ia kembali menolehkan pandangannya pada bahu kecil itu. meski ia membenci Ken tapi melihat bahu kecil itu tidur dengan posisi seperti itu membuat Leo iba.
Tanpa menitik beratkan kebenciannya Leo mendekat kembali kearah Ken dan berdiri disamping Ken. sadar jika tidak ada tanda-tanda Ken akan bangun Leo pun merendahnya badannya untuk memeluk lutut dan punggung Ken, Leo menggendong Ken dengan gaya bridal style.
'badannya sangat ringan bahkan aku serasa mengangkat karung beras'batin Leo saat ia mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan.
Leo menatap wajah Ken yang terpejam saat ia menaiki tangga untuk meletakkan Ken dikamarnya yang berada dilantai dua. "Masih tetap manis"gumam Leo tanpa sadar.
##
Suara kicauan burung yang memasuki gendang telinga Ken membuat mata Ken yang terpejam terpaksa terbuka. Ken mengamati langit-langit atap tempatnya berada.
"Bukankah ini kamarku?" gumam Ken bingung. Pasalnya tadi malam ia berada di ruang makan dan tertidur disana dengan perut yang masih kosong. Tapi mengapa ia berada di dalam kamarnya pagi ini?.
"Apa mungkin Leo hyung? Tapi..."gumam Ken, "Ah sudahlah daripada aku memikirkan itu sekarang aku mandi saja" setelah mengatakan hal itu Ken beranjak dari ranjangnya dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.
20 menit waktu yang dibutuhkan oleh Ken untuk membersihkan dirinya dipagi hari ini,setelah mandi Ken berjalan ke meje riasnya yang berada disamping bedrestnya. Ia menyisir rambutnya lalu memakaikan lotion dikaki dan tangannya setelah merasa dirinya rapi Ken keluar dari kamarnya.
Saat Ken keluar dari kamarnya Ken melihat pintu kamar Leo terbuka sedikit Ken mencoba melihat apa yang dilakukan Leo. Ken dapat melihat Leo sedang memilih pakaian kantornya dengan menggunakan handuk yang menutupi sebatas pinggang hingga lutut.
Pipi putih Ken memerah melihat penampilan Leo yang seperti itu, Ken segera pergi turun kebawah. Jantungnya terasa berdetak kencang saat melihat tubuh atletis Leo yang ia lihat tadi.
"Ani ani aku tidak melihatnya" kata Ken dengan menggelengkan kepalanya sambil berjalan menuruni tangga.
Ken langsung membuka lemari dapurnya dan mengambil selai serta bluband lalu membawanya untuk diletakkan dimeja makan.
Setelah itu Ken membuat susu putih untuknya dan air putih untuk Leo. Setelah selesai membuat susu ia pun meletakkan susu dan air putih diatas meja makan lalu mengambil duduk yang ia duduki kemarin malam.
Ia pun mengambil sepotong roti dan pisau makan untuk mengambil selai yang akan ia oleskan pada roti. Setelah selesai mengolesi selai itu Ken meletakkan dipiring Leo yang berada didepannya berhadapan dengannya.
"Apa yang kau lakukan?" pertayaan Leo yang bernada datar membuat Ken sedikit terkejut. Ken pun menoleh pada Leo yang berjalan kearah kursi makannya dan meletakkan tas kerjanya dikursi i sebelahnya.
"Ah...a-ani"Ken gugup. Leo pun memakan rotinya dengan kebisuan.
Ken menatap Leo. 'Leo hyung sangat tampan'batin Ken dengan pandangan kagum. "Eum hyung. Kemarin malam a-aku...menunggumu "Ken memelankan suaranya dikalimat terakhir yang ia ucapkan. Ken menundukkan kepalanya saat ditatap datar oleh mata hitam Leo.
Leo hanya menatap datar Ken. Mata Leo menangkap segelas susu yang berada disisi kanan Ken lalu menatap Ken.
Tanpa berbicara lagi Leo mengambil segelas air putih lalu meminumnya. Tanpa berpamitan Leo meninggalkan Ken dan pergi ke kantor.
Ken hanya tersenyum sendu saat melihat suara mobil Leo yang keluar dari rumahnya. "Leo hyung apa ini menyakitkan untukmu?"
##
"Kau tau sekretaris Leo?" perkataan datar dari Nyonya Jung membuat Tuan Jung yang akan meminum secangkir kopinya menghentikan gerakannya lalu menatap istrinya.
"N? Ada apa dengan N?" tanya Tuan Jung dengan kening yang mengkerut.
"Tidak. Aku hanya bertanya saja"
Tuan Jung menganggukkan kepalanya mengerti menanggapi Nyonya Jung. Tuan Jung pun meminum kembali kopinya.
'sekretaris putramu akan menghancurkan rumah tangga putramu. Tapi sebelum itu terjadi aku akan mencegahnya dan takkan kubiarkan mereka bersama jika memang mereka memiliki hubungan yang tidak semestinya'batin Nyonya Jung.
##
"Kau akan mengunjungi Ken?" tanya Tuan Lee pada Nyonya Lee yang berdiri disampingnya untuk mengantarnya memasuki mobil yang akan membawanya ke kantor.
Nyonya Lee tersenyum kecil lalu mengangguk seraya berkata, "Ne. Aku akan mengunjunginya sudah beberapa hari ini aku tidak melihat keadaannya. Aku bahkan hampir melupakannya karena masalah ini" jawab Nyonya Lee dengan wajah yang sedikit sedih.
Tuan Lee menepuk pundak istrinya pelan untuk menenangkannya,"Kau tidak melupakannya hanya saja kau mencoba membuatnya mandiri. Kau tidak perlu sedih" hibur Tuan Lee. Nyonya Lee menatap Tuan Lee,"Ba-bagaimana jika Eomma melukai Ken?" Nyonya Lee bertanya pada Tuan Lee dengan nada khawatir yang kentara dari suaranya dan kepala yang menunduk.
Tuan Lee tertawa kecil mendengar kekhawatiran istrinya,"Nara-ya. Apa yang kau fikirkan heum? "Tuan Lee menghentikan perkataannya dan memegang dagu Nyonya Lee yang menundukkan kepalanya guna menatapnya kini sepasang suami istri itupun saling menatap. Tuan Lee tersenyum menenangkan lalu berkata,"Kenapa kau berfikir seperti itu kepada Eommanim. Eommanim tidak mungkin berbuat sejahat itu pada cucunya meskipun ia benci pada Ken. eommanim sesungguhnya hanya kecewa dan marah pada kita karena terlalu besarnya rasa kecewa dan marahnya Eommanim menjadi melampiaskannya pada Ken dan berujung membencinya. Tapi percayalah dihati kecilnya ada rasa sayangnya untuk Ken, jadi kau jangan terlalu khawatir mengerti"Nyonya Lee pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah aku kekantor dulu. Jika terjadi apa-apa segera hubungi aku. Dan jangan lupa sampaikan salamku pada putraku itu" Nyonya Lee kembali menggerakkan kepalanya untuk menanggapi permintaan suaminya itu. Tuan Lee memasuki mobilnya dan sang sopir pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah keluarga Lee.
##
Saat ini Nyonya Han berdiri didepan kediaman Lee dimana putri dan menantunya tinggal. Nyonya Han menatap sinis bangunan rumah itu,"Tertawalah sesukamu karena setelah ini aku akan membuat Ken kalian menangis darah"setelah mengatakan itu mata Nyonya Han menangkap sebuah mobil Mercedez hitam keluar dari pagar rumah mewah itu.
Dengan wajah angkuhnya Nyonya Han memasuki taksi yang bertengger tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Nyonya Han mengikuti kemana arah mobil Nyonya Lee berjalan. Taksi Nyonya Han berhenti tatkala mobil Nyonya Lee berhenti didepan sebuah rumah minimalis tanpa meninggalkan kesan mewah rumah itu.
Tak berapa lama keluarlah seorang pemuda yang menggunakan T-shit berwarna merah muda dan celana selutut berwarna putih dan sepatu kets yang berwarna senada dengan celananya. Pemuda yang bernama Ken memasuki mobil Nyonya Lee dan tak lama mobil hitam itu pergi meninggalkan rumah itu.
"Ikuti terus kemana mobil itu pergi pak"suruh Nyonya Han pada sang supir dan sang supir pun mengikuti apa yang diperintahkan sang pelanggan.
Hingga kini mereka berada disebuah rumah sakit, Nyonya Han turun dari mobil mengikuti mereka. Nyonya Han bersembunyi dibilik tembok saat Nyonya Lee menoleh kebelakang karena merasa ada yang mengikuti,karena tidak ada orang yang mencurigakan Nyonya Lee pun kembali berjalan dan mengabaikan perasaannya.
Nyonya Lee dan Ken memasuki ruang Dr. Kang, Dr. Kang yang sedang memeriksa berkas riwayat kesehatan pasiennya segera menutup bukunya saat mendengar melihat Nyonya Lee dan Ken sudah masuk kedalam ruangannya.
"Ken, apa kabar kau?" tanya dr. Kang yang kini berdiri memberi salam untuk mereka. Ken dan Nyonya Lee tersenyum lalu mengambil duduk dikursi depan meja Dr. Kang.
"Baik dokter. " jawab Ken dengan senyuman manis. Dr. Kang menganggukkan kepalanya, "Kau memang harus selalu baik Ken-ah" kata Dr. Kang.
"Dokter apa sudah ada donor hati untuk Ken?" tanya Nyonya Lee penuh harap, senyum yang tadi terpancar diwajah Dr. Kang kini luntur saat mendapatkan pertanyaan dari Nyonya Lee mengenai donor hati untuk Ken.
"Maafkan kami Nyonya Lee. Tapi sepertinya kita harus bersabar lagi untuk menunggu mendapatkan donor hati untuk Ken"jawab Dr. Kang dengan nada penyesalan. Nyonya Lee menjadi murung Ken yang melihat wajah murung Eommanya menjadi sedih.
"Ah tak apa lagi pula akhir-akhir ini aku merasa sehat jadi kalian jangan khawatir aku pasti bisa bertahan hingga donor hati ada untukku"hibur Ken dengan penuh keyakinan dan juga senyuman ceria yang terpancar dari bibirnya.
Nyonya Lee tersenyum lalu tangannya ia gunakan untuk mengusap lembut rambut Ken,"Eomma berharap itu terjadi sayang"kata Nyonya Lee yang disetujui oleh Dr. Kang.
Mereka pun mengobrol seputar kesehatan Ken. Nyonya Han mencuri dengan obrolan mereka. Nyonya Han tersenyum misterius lalu meninggalkan ruangan Dokter Kang.
##
Meja kerja Leo terlihat kosong karena sang pemilik sedang berada disofa yang terletak disudut ruangannya,Leo menindih N dengan bibirnya yang menjamah bibir N. pergulatan bibir mereka terlihat panas. N mengcengkram kuat kemeja depan Leo melampiaskan kenikmatan pada bibirnya. Leo yang memegang tenguk N dan memiringkan kepalanya untuk memperdalam hisapannya.
Entah karena terlalu nikmatnya pergulatan bibir mereka atau apa hingga mereka tidak menyadari blizt cahaya kamera yang memotret adegan bibir mereka.
##
Saat ini Nyonya Lee dan Ken sedang berada didapur rumah Ken,setelah pulang dari rumah sakit Ken meminta sang Eomma untuk mengajarinya memasak.
Ken yang mencuci sayuran dan Nyonya Lee yang terlihat memasukkan bumbu kedalam wajan.
"Ken-ah,kau harus makan dengan teratur. Lihatlah tubuhmu semakin kurus saja. Kau harus ingat apa kata Dr. Kang jika beratmu turun 3 kg. Itu tidak baik untuk kesehatanmu sayang" petuah Nyonya Lee pada Ken. ken hanya memutar matanya malas karena sejak tadi Eommanya tidak berhenti mengomelinya mengenai berat badannya yang turun. Meski Ken juga mengakuinya dalam hati karena ia memang jarang makan bahkan kemarin malam ia tidur dalam keadaan perut belum makan alias tidak makan malam.
Ken yang sudah selesai mencuci sayurannya membawanya pada Eommanya,"Ne Eomma. Aku akan mengingat petuah Eomma yang panjang itu" Ken meletakkan sayurannya disebelah sang Eomma setelah itu ia berjalan kearah kulkas dengan melanjutkan perkataannya yang terpotong dengan suara lirih berharap Eommanya tidak mendengar ,"lagipula akhir-akhir ini memang aku jarang makan malam Eomma dan bahkan lupa untuk makan siang juga"sial untuk Ken karena sang Eomma mendengar perkataannya barusan, Nyonya Lee langsung mematikan kompornya dan berjalan kearah Ken yang tengah menggigit apelnya. Ken yang sibuk dengan kunyahan apelnya tidak menyadari jika sang Eomma berdiri tepat didepannya.
"Apa Leo tidak memperhatikanmu?" Ken terlonjak kaget melihat sang Eomma berdiri didepannya, Ken sedikit gugup melihat tatapan itimidasi dari sang Eomma. "A-anio a-anio Eomma. Leo hyung memperhatikanku ha-hanya saja...ia terlalu sibuk" Ken mengatakan itu dengan mengusap tengkuknya tanpa melihat kearah mata sang Eomma. Nyonya Lee yang melihat reaksi Ken tau jika putranya berbohong padanya.
"Ah... Eomma sepertinya kita harus cepat karena kurang 1,5 jam lagiwaktunya jam istirahat Leo hyung" kata Ken dengan melihat jam tangan yang berada di tangan kanannya ia berusaha mencoba mengalihakan perhatian sang Eomma.
Ken dengan membawa apelnya yang baru ia gigit 3 kali berjalan kearah kompor dan menyalakan kompornya dan meneruskan masakan sang Eomma yang masih berdiri mematung ditempatnya tadi.
"Kau berbohong pada Eomma"Ken yang mengorak-arik bumbu menghentikan gerakkannya namun sedetik kemudian ia melanjutkan kembali kegiatannya. Nyonya Lee menghampiri Ken dan menarik lengan kurus Ken agar menghadapnya. Pandangan ibu dan anak saling bertemu, "Kenapa kau berbohong pada Eomma? Ken saat Eomma menelponmu kau bilang kau makan dengan baik dan meminum obatmu tepat waktu. Dan tadi kau bilang jika kau jarang makan. Kenapa kau berbohong pada Eomma? Dan apa Leo tidak memperhatikan pola makanmu?" tanya Nyonya Lee dengan mata sendu,Ken menolehkan padangannya ia tidak ingin menatap tatapan sendu Eommanya karena itu membuat hatinya sakit.
"Jawab Ken. apa yang sebenarnya terjadi" kata Nyonya Lee dengan mengguncang kecil kedua lengan Ken. "Eomma. Leo hyung sibuk jadi ia sedikit melupakan tentang pola makanku ... tapi percayalah jika Leo hyung sangat baik dan perhatian kepadaku" kata Ken dengan kedua tangannya menggenggam tangan Eommanya.
"Tapi..."
"Eomma sudahlah jangan dipermasalahkan lagi masalah ini. lagipula kesehatanku stabilkan? Jadi tidak akan ada masalah besar dan aku janji aku akan makan secara teratur" Nyonyaa Lee memandang Ken mencari kesungguhan dimanik mata bening sang anak. Nyonya Lee pun menganggukkan kepalanya dan Ken pun tersenyum senang. Mereka pun melanjutkan kegiatan memasak mereka.
##
Ken melihat N yang berkutat dengan komputernya dan tak menyadari kehadirannya. Ken tersenyum melihat itu,Ken pun menghampiri N.
"N hyung" sapa Ken. N yang mendengar ada orang yang menyapanya ia pun menolehkan kepalanya dan melihat Ken berdiri didepan meja kerjanya dengan wajah tersenyum bahagia.
N berdiri dengan tersenyum,"Kau datang lagi Ken?" tanya N yang langsung mendaptkan respon anggukan kepala dari Ken. "Leo hyung ada didalam kan?" tanya Ken memastikan.
"Ne. Sajangnim berada didalam kau bisa masuk"dan kedua kalinya Ken menanggapi ucapan N dengan anggukan kepala. Ken pun masuk kedalam ruangan Leo.
Dilihatnya Leo yang sedang bertelepon ria dengan seseorang, Ken menunggu Leo selesai bertelepon. Ken duduk disofa ruangan itu dengan meletakkan paperbag diatas meja kaca.
Leo melihat Ken dengan tatapan datar,"Ah Baiklah kita akan bertemu di hotel nanti sore. Sampai jumpa" sambungan telepon pun terputus. Leo mengahampiri Ken dengan malas.
"Ada apa?" tanya Leo yang kini duduk berhadap dengan Ken. Ken tersenyum dengan mata melihat kearah Leo,"Aku mengirimkan ma..."
"Kau mengirimiku makan siang?" potong Leo yang langsung diangguki oleh Ken. Leo melihat paperbag berwarna cokelat yang berada diatas meja lalu ia mengambil paperbagi itu dengan menatap Ken yang menatap tangan Leo yang memegang paperbag,"Kau memberikannya kepadaku?" Leo memastikan. Ken mengalihakan tatapannya pada wajah Leo yang datar kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Berhentilah melakukan itu"perintah Leo dengan suara yang dingin, Ken diam membatu,"Karena aku tidak suka dan membenci segala bentuk apapun yang kau lakukan untukku"ingin rasanya air mata Ken mengalir tapi sebisa mungkin Ken menahan agar airmata itu tidak mengalir. "Pergilah" Ken menatap Leo dengan tatapan sendu yang dibalas Leo dengan tatapan datar. Ken menyerah ia pun beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Leo.
Ken keluar ruangan Leo dengan mata memerah, N yang melihatnya menjadi merasa bersalah pasti Leo menolaknya lagi. Ken keluar dari ruangan tanpa berpamitan pada N.
N yang melihat Ken sudah memasuki lift segera beranjak dari duduknya dan memasuki Leo yang duduk disofa dengan tatapan mata terpaku pada paperbag yang ada diatas meja. N menghampiri Leo dan duduk disamping Leo.
"Kau menolaknya lagi?" tanya N. Leo terdiam dalam posisinya. N menghembuskan nafasnya pelan, "Kau tidak bisa berlaku kasar padanya kau tidak kasihan padanya?" tanya N lagi dan dibalas diam oleh Leo. N semakin jengah melihat tingkah Leo.
"Leo"
"Sudahlah N, itu salahnya sendiri mengapa mengantar makan siang kepadaku aku tidak minta"
"Tapikan kau..."
"Aku ingin makan siang,kau ikut?"tawat Leo, N hanya bisa mengangguk pasrah dan mengikuti Leo keluar ruangan mereka untuk makan siang.
##
Hari ini hari libur Ken berjalan-jalan mengitari Myongdong untuk melihat-lihat dan jika ada barang yang membuatnya tertarik ia akan membelinya. Hingga kini ia bersinggah ditoko pernak-pernik dan aksesoris saat ia memilih gelang ada seseorang datang dan berdiri disampingnya. Ia menolehkan kepalanya melihat siapa orangnya dan matanya berbinar senang saat melihat orang itu N.
"N hyung"panggil Ken. N yang merasa namanya dipanggil menoleh,"Ken?" Ken menganggukkan kepalanyaa dengan wajah tersenyum. "N hyung juga disini? N hyung ingin membeli gelang juga?" tanya Ken dengan nada ceria. N tersenyum lalu mengangguk sambil berkata,"Ne. Aku ingin membeli gelang"balasnya.
"Aku juga ingin membeli gelang. Em N hyung membeli gelang 2 untuk siapa saja?" tanya Ken saat N memegang dua gelang. N yang ditanya sedemikian menjadi tegang, ia tidak mungkin mengatakan jika gelang ini untuk suamimu juga bisa hancur semuanya.
"A-ah i-ini untukku berikan pada se-seorang... ia seseorang"jawab N dengan nada gugup dengan raut wajah tegang. Ken menganggukkan kepalanya,"Pasti untuk kekasihmu kan?" tebak Ken dengan menarik turunkan kedua alisnya bermaksud menggoda N. N semakin tegang mendengar godaan Ken,"A-ah ... ini.. " N menghentikan perkataannya saat melihat Ken tertawa, "Hahahah... H-hyung kau jangan tegang seperti itu harusnya kau gugup saja tidak perlu tegang...kau tau hyung ekspresimu seperti kau memacari suami orang saja hahaha"
DEG
Perkataan Ken membuat jantungnya seperti terpikam perkataan Ken tepat menusuk jantungnya dalam. "Hyung kenapa wajahmu pucat? Kau sakit? Apa perlu aku antar ke rumah sakit hyung?" tanya Ken dengan wajah khawatir. N menatap Ken, ia merasa bersalah pada lelaki dihadapannya ini. 'Ken pemuda yang baik tapi kenapa aku menyakitinya'batin N.
"Hyung"panggil Ken menyadarkan N pada dunianya sendiri, N menggerakkan kepalanya gelisah mencoba menenangkan fikirannya. "Ah tidak Ken aku hanya... hanya kurang air putih saja mungkin"jawab N dengan ragu. Ken hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
"Baiklah kita kecafe depan saja untuk minum agar hyung bisa lebih baik. "ajak Ken dan N pun menganggukkan kepalanya dan ia pun berjalan beriringan. Setelah mereka membayar barang yang mereka beli sebelum mereka pergi ke cafe.
##
"Kau tau hyung aku sangat ingin Leo hyung bisa bersikap lembut padaku seperti dulu saat ia selalu bersamaku dan melindungiku" Ken mencurahkan semua isi hatinya pada N yang diam terpaku ditempatnya.
Ken yang meletakkan kedua siku tangannya diatas meja dengan dagunya ia sandarkan dikedua tangannya. Ken melihat gumpalan awan ia menerewang jauh memikirkan cintanya, "Ia bersikap dingin dan datar padaku dadaku terasa sesak, kadang aku berfikir apakah Leo hyung punya kekasih dan mencintai orang lain?. Kau tau hyung aku berfikir jika itu benar memikirkannya saja hatiku sudah sakit apalagi jika itu memang benar aku tidak tau bagaimana hatiku nantinya"
Dengan tangan gemetar N meraih cangkir kopi yang ia pesan dan meminumnya dengan tangan yang masih gemetar. Ken tidak memperhatikan keadaan N, ia terlalu fokus pada fikirannya sendiri sehingga tidak mengamati sekitar.
"Aku berfikir orang yang dicintai Leo hyung pasti ia orang yang beruntung dan baik sehingga Leo hyung tidak mau melihat hatiku jangankan melihat hatiku memanggil namaku ia enggan" N menemukan kesedihan didalam mata Ken saat mengatakan itu. melihat kesedihan itu entah mengapa hati N nyeri ia seperti tidak kuat melihat mata sedih itu ia merasa menjadi kakak yang buruk bagi Ken, N menundukkan kepalanya menatap lantai seakan lebih menarik daripada Ken.
"Kau sangat beruntung hyung" kata Ken dengan nada putus asa dan senyum kecut. N perlahan menundukkan kepalanya matanya menemukan sesetes air mata menuruni pipi merah itu. "Kau beruntung karena pasti kekasihmu mencitamu seperti kau mencintanya atau mungkin lebih ... sedangkan aku? ... aku memiliki suami yang tidak mencintaku seperti aku mencintainya" kata Ken lalu tertawa hambar. N menatapnya nanar. Sungguh ia tidak tega melihat Ken seperti itu ia merasa menjadi orang yang paling jahat didunia ini.
"Hahah..."Ken mencoba menghentikan tawa hambarnya itu,"Ah.. aku sudah banyak bercerita disini sekarang giliran hyung yang bercerita padaku" kata Ken dengan senyum cerianya yang ia paksakan itu.
N tersenyum tipis dengan mata menatap kosong vas bungan yang berada ditengah-tengah mereka,"Aku ditinggalkan orang tua dan adik kembarku"Ken yang dengan serius mendengarkan cerita N kini mengerutkan keningnya saat N diam tak meneruskan ceritanya. "Itu saja hyung?" tanya Ken dengan tatapan bingung dan mata bening bulat yang membulat. N tersenyum melihat ekspresi lucu Ken," Ya itu saja,hyung rasa itu sudah cukup" kata N. Ken mengerucutkan bibirnya,"Hyung..." tawa N pun meledak melihat wajah lucu dan imutnya Ken. sedangkan Ken mendelik tidak suka saat N mengatakan jika ia sangat lucu dan menggemaskan.
##
Karena terlalu asyik berbicara dengan N,Ken menjadi lupa waktu ia sekarang berjalan kaki dari gerbang perumahan rumah mereka. Ken membuka pagar rumahnya dilihatnya mobil Leo terparkir apik di parkir mobil rumah mereka.
Ken memasuki rumahnya dapat ia lihat jika Leo sedang menonton sepak bola dengan khidmat. Ken jadi ingat dengan gelang yang ia belikan untuk Leo tadi,dengan langkah riang ia menghampiri Leo dan duduk disamping Leo. Leo tidak bergeming ia masih fokus pada tontonannya.
Ken membuka paperbagnya dan mencari gelangnya,ketemu. Ia pun meletakkan paperbagnya dibawah,"Leo hyung ini untukmu"kata Ken dengan menyodorkan gelang dihadapan Leo. Leo menatap datar gelang yang disodorkan padanya, ia lalu menatap kembali tayangan televisi dihadapannya. Ken yang tadi tersenyum cerah kini memudar digantikan tatapan sendu akan tetapi bukan Ken namanya jika ia terus murung tanpa mencoba kembali.
"Hyung terimalah..."Masih tidak ada respon,"Baiklah aku akan memakaikannya langsung padamu kalau begitu" kata Ken yang kini mengambil tangan Leo yang bertengger manis diatas pahanya, Ken berusaha memakaikannya ditangan Leo. Leo yang merasa Ken tidak sopan karena menyentuhnya tanpa izin menepis tangan Ken yang hampir memasukkan gelangnya dipergelangan tangan Leo sehingga gelang itupun jatuh kelantai.
"Jangan menyentuhku"kata Leo dingin dan penuh peringatan. Ken diam terpaku dengan wajah syoknya Ken mengambil gelang yang terjatuh tadi. "Hyung terimalah"Ken tidak menyerah ia tetap memaksa Leo untuk menerima gelang pemberiannya, Leo menatap datar Ken dan gelang itu dengan tatapan bergantian. "Kau ingin aku menerimanya?" tanya Leo dengan tatapan memutilasi dengan ragu Ken menggerakkan kepalanya. "Kau tak bisakah kau..."
"Terima saja Leo. Lagipula itu gelang pemberian istrimukan?" sebuah suara memotong perkataan Leo yang akan dilontarkannya pada Ken. dua pemuda itupun terpaku tatkala telinganya mendengar suara sang ibu dan ayah mertua. Dengan gerakan yang bersamaan mereka menolehkan kepalanya keasal suara dan dilihatnya orang tua Leo berdiri tak jauh dari mereka. Mereka terkejut melihat orang tua Leo berada di rumah mereka,kapan mereka masuk? Itulah pertayaan yang muncul dikepala Ken.
Ken dan Leo berdiri dari duduknya bersamaan,Nyonya Jung menghampiri dua pemuda yang berdiri mematung. Nyonya Jung berdiri diseberang meja dengan mata yang masih mengamati kedua pemuda yang masih terdiam, Nyonya Jung mengalihakan pandangannya pada gelang yang ada digenggaman tangan Ken,"Pakaikan gelang itu pada tangan suamimu Ken" perintah Nyonya Jung. "Y-ye?"kata Ken yang berusaha kembali dari rasa terkejutnya.
Nyonya Jung tersenyum kecil,"Terimalah gelang itu Leo suatu saat kau akan menyesal karena berlaku kasar pada menantuku yang manis ini" perkataan Nyonya Jung membuat Leo kaget kembali 'apa eomma melihat kejadian tadi?'batin Leo.
"Eum...Eommanim dan Appanim duduklah. Aku akan membuatkan kalian minuman" Tuan Jung berjalan kearah istrinya dengan bibir yang tersenyum wibawa.
"Kau terlalu kasar padanya Leo. Lihatlah betapa lembut dan manisnya menantuku itu" Tuan Jung berkomentar atas perlakuan Leo pada Ken. Leo hanya menunduk diam sedangkan Nyonya Jung menatap tajam putranya yang terdiam itu. "Cih, putramu itu memang kasar pada istrinya sendiri tapi begitu lembut dan hangat pada sekretarisnya" sindir Nyonya Jung. Kedua lelaki beda usia diruangan itu menatap satu-satunya wanita yang ada diruangan itu dengan pandangan yang berbeda. Jika Leo menatap dengan pandangan kaget dan was-was sedangkan Tuan Jung menatap dengan pandangan 'jangan memulai'yang dipahami oleh Nyonya Jung dan sayangnya diabaikan oleh istrinya itu.
Saat Leo akan membuka suaranya Ken sudah memasuki ruang keluarga dengan nampan yang berisi minuman dan cemilan untuk mertuanya.
"Silakan dinikmati Eommanim,Appanim"kata Ken dengan senyum cerianya. Tuan Jung tersenyum melihat tingkah menantunya. "Kau sangat manis sekali Ken-ah" puji sang ayah mertua dan membuat pipi putih Ken merona. saat Tuan Jung dan Ken sibuk mengobrol Nyonya Jung dan Leo saling melayangkan tatapan penuh arti hingga,"Eommanim tidak minum?" suara Ken memutuskan tatapan kedua ibu dan anak itu. nyonya Jung menatap pada Ken dan tuan Jung hanya menggelengkan kepalanya. "Baiklah Eomma akan minum" setelah mengatakan itu Nyonya Jung mengambil cangkir tehnya.
TBC
