Previous chapter~
Luhan menggebrak meja. Sudah habis kesabarannya, ia ingin meninju orang yang ada di sampingnya ini sekarang. Tidak perduli kalau dia anak pemilik kampus, cucu pemilik kampus, atau apalah luhan lupa, yang pasti berperan penting dalam kampusnya.
''kris, pergilah. Atau luhan akan marah kepadamu,''
Sosok bernama kris tersebut berdiri. Ia tersenyum remeh memandang luhan dari atas sampai bawah. Tangannya ingin kembali merangkul bahu luhan, namun dengan cepat luhan menepisnya dengan kasar. Nafas nya berderu, membuat chanyeol dan baekhyun bergidik ngeri.
''kau menolakku? Jalang tidak berguna ! bahkan kau pernah tidur bersama ku. Sombong sekali kau.''
''sudah ku katakan JANGAN MENDEKATIKU !''
Luhan mengarahkan tangannya tepat di perut kris. Belum sampai menyentuh perut kris, tiba-tiba angin kencang membantu mendorong tangan luhan hingga kris terpental sangat jauh, hampir lebih dari 10 meter dari jarak luhan berdiri.
Semua yang ada di kantin tersebut bingung dengan tragedi kris yang terpental jauh. Luhan, baekhyun, dan chanyeol masih ternganga di tempat. Baekhyun dan chanyeol memandang luhan tidak berkedip.
Luhan memandang tangannya. Sedikit ia gerak-gerakkan, tangan yang mulus ini bisa mengeluarkan sesuatu yang dahsyat. Benarkah ?
''untung saja aku datang tepat waktu. Dia sudah kembali,''
.
.
.
.
.
.
.
BACK IN TIME
.
.
Cast :
Xi Luhan
Oh Sehun
.
.
Support Cast :
OFFICIAL EXO COUPLE. NO CRACK.
.
.
.
.
.
.
.
''aku? aku terpilih menjadi pengawal pribadi pangeran mahkota? ini tidak mungkin.''
''jangan terlalu senang seperti itu, Luhan. Aku tau, sejak dulu, kau menyukai pangeran itu bukan?,''
Luhan nampak malu-malu, namun dirinya menganggukkan kepalanya pelan.
''entah kenapa, pesona yang pangeran oh keluarkan membuat yang melihatnya langsung jatuh cinta padanya. Tapi, aku juga merasa sedih jika aku memiliki perasaan ini terhadapnya, Baekhyun-ah.''
Baekhyun menyentil kening luhan dengan pelan. Temannya sejak kecil ini benar-benar membuatnya gemas sekaligus kesal, bercampur menjadi satu hingga tak bisa di jelaskan perasaan apa yang di alami Baekhyun pada Luhan.
''apa yang membuatmu sedih, hm? Bukankah kau sangat mencintainya? Bahkan kau rela mengikuti latihan bela diri adu pedang yang hampir membuatku jantungan demi pangeran aneh itu.''
Luhan melotot pada baekhyun, namun ia kembali menundukkan kepalanya dalam.
''jangan sebut dia pangeran aneh. Dia itu segalanya bagiku, tapi aku menyadari satu hal. Jika aku menjadi pengawal pribadinya, otomatis aku hanya akan menjadi pengawalnya, tidak lebih. Itu yang membuatku merasa sedih, baekhyun-ah.''
Baekhyun mengangguk mengerti. Begitu kah rasanya cinta? Mereka rela mengorbankan apa saja bahkan diri mereka sendiri untuk orang yang kita sayangi. Baekhyun tidak pernah merasakan jatuh cinta, karena setiap hari ia harus mencintai bahan-bahan masakan yang di sediakan di kerajaan Oh. Walaupun sebenarnya dia selalu berdebar ketika berada di dekat Panglima Chan.
''Lu, aku tau semua tentangmu. Kebiasaanmu, sifat baik burukmu, cara bicaramu, karena kita berteman sejak kecil, kecil sekali. Bahkan saat kita masih hanya bisa merangkak, kita sudah bermain dalam ruang lingkup yang sama. Luhan yang kukenal bukan seperti ini. Luhan yang ku kenal itu, adalah luhan yang tidak pernah menyerah karena hal sepele seperti itu. Hanya karena perbedaan derajat? Itu konyol, Luhan. Semua orang berhak merasakan cinta sesuai arah hati mereka. Tidak peduli derajat mereka jauh berbeda, mereka tetap memperjuangkannya. Kau mengerti maksudku?,''
Luhan menoleh kepada baekhyun, melihat senyuman tipis yang terukir di bibir tipis baekhyun. Senyuman itu penuh dengan ketulusan, dan tidak ada kebohongan sama sekali di dalamnya. Mata luhan berkaca-kaca, ia langsung memeluk baekhyun dengan erat karena sahabatnua ini sudah memerikan saran yang terbaik untuknya.
''terima kasih, baekhyun. Aku sangat menyayangimu,''
''setidaknya kau lebih menyayangi pangeran aneh itu, bukan? Jangan larut dalam kesedihan terlalu lama. Cepat siapkan dirimu. Nanti malam aku akan datang ke rumahmu untuk memberikanmu baju dengan kain berkualitas bagus sebagai keberhasilanmu. Bagaimana? Kau suka?,''
Luhan mengangguk mantap sebagai jawaban.
.
.
.
.
.
.
.
Ruangan inti istana kini penuh dengan para pejabat tinggi, para menteri kerajaan, juga sanga raja dan anaknya, Raja Oh dan Pangeran Mahkota Oh tentunya.
Mereka masih kasak-kusuk membicarakan pengawal pribadi sang pangeran, yang menurut informasi atau kabar burung yang terdengar, bahwa pengawal pribadi sang pangeran adalah seorang perempuan. Raja Oh sendiri yang melantiknya.
Pangeran sedari tadi memandangi pintu masuk yang terbuka lebar, menunggu pengawal barunya dating. Bagaimana kalau pengawal barunya sangat cerewet? Bagaiamana kalau pengawal barunya jelek dan kejam? Bagaimana kalau…. Ah, pangeran mahkota tidak ingin otak anehnya menghantui pikirannya.
''salam hormat, Yang Mulia Raja Oh. Maaf atas keterlambatan saya.''
Luhan yang masuk dengan langkah lebar langsung membungkuk dalam di hadapan sang Raja. Sorotan mata kini semua tertuju pada Luhan. Luhan meneguk salivanya kuat-kuat, menelan rasa gugup yang menyelimuti dirinya.
''tidak apa-apa, Nona Xi. Kau bisa duduk dengan yang lainnya,''
''terima kasih, Yang Mulia.''
Luhan kembali menunduk dalam, kemudian dia berjalan menuju kursi kosong bersama para deretan pejabat tinggi yang lain. Sayup-sayup, luhan mendengar pembicaraan mereka.
''apa ini pengawal barunya? Tidak sopan membuat sang raja menunggu,''
''lihatlah tubuhnya yang kecil. Apa dia bisa melindungi pangeran mahkota dengan tubuh yang seperti itu?,''
Kedua telinga luhan memanas. Tangannya terkepal kebawah, memberanikan diri untuk berdiri dan berhadapan langsung dengan kedua pejabat tinggi tersebut. Sebelumnya, luhan membungkuk dalam kepada mereka lebih dulu.
''benar, saya nona Xi. Pengawal baru pangeran mahkota. Kalau boleh tau, apa masalah anda membicarakan saya?,'
''a-apa? K-kami tidak-''
''membuat seseorang menunggu tidaklah sopan. Tapi, sekarang aku bertanya kepada anda berdua. Apa kalian pernah membuat seseorang menunggu? Lalu, bagaimana jika semua orang mengatai anda berdua di anggap tidak sopan karena membuat orang itu menunggu? Saya datang terlambat karena ada sebuah alasan tertentu. Bukankah semua orang memiliki urusan sendiri-sendiri? Terlebih lagi, Yang Mulia tidak keberatan menunggu saya, mengapa kalian berdua mengatai saya seperti itu. Dan lagi, tubuh saya memang kecil, namun anda berdua belum pernah beradu pedang dengan saya bukan? Atau kalian berdua ingin menghajar saya? Apa kalian mau melakukan itu untuk membuktikan bahwa saya ini bukan orang yang lemah?,''
Dua pejabat tinggi tadi hanya terdiam mendengar ucapan panjang lebar yang keluar dari mulut tipis Luhan. Semua orang di sana nampak terkejut, sangat tekejut. Pengawal baru seperti luhan memang langka.
''jika anda memandang saya melalui fisik perempuan saya, saya memang lemah. Karena saya perempuan, jadi saya cenderung lemah untuk kalian berdua. Tapi tidak menurut saya, perempuan bukan lah lemah, melainkan hati mereka yang terlalu lembut. Maaf jika saya menceramahi kalian berdua, karena telinga saya panas maka saya perlu mendinginkannya. Terima kasih.''
Luhan kembali duduk di samping dua pejabat yang membicarakannya tadi. Dua pejabat tersebut nampak takut-takut pada Luhan, mereka duduk menjauhi Luhan, menatap Luhan dengan aneh karena baru ada seseorang yang berani dengan mereka.
Raja oh tersenyum puas. Ia memang tidak salah pilih, Luhan memang pantas menjadi pengawal pribadi anaknya. Sedangkan anaknya, masih dengan ekpresi orang tolol dengan mulut yang terbuka lebar dan juga mata nya hampir keluar.
.
.
.
.
.
.
.
Raja Oh mengakhiri pertemuan yang telah beliau adakan. Penyambutan pengawal pribadi pangeran mahkota yang baru juga perekonomian pasar yang kian membaik. Beliau memimpin dengan sangat bijaksana dan memang pantas di jadikan sebagai pemimpin kerajaan dan wilayah di sekitarnya.
Kemudian, beliau juga menyuruh pangeran Oh untuk mengajak pengawal barunya berjalan-jalan berkeliling istana untuk melihat satu per satu ruangan untuk Luhan hafalkan.
Mulai dari tempat dimana pangeran Oh bermain pedang atau biasa pangeran gunakan untuk melatih dirinya dalam bidang bela diri bersama Panglima kepercayaan ayahnya, panglima Chan, sampai ke dapur istana. Di dapur, ia melihat baekhyun menyuruh para bawahannya yang masih sangat belia lihai dalam hal memasak. Mereka nampak cekatan walau hanbok kebesaran melekat pada tubuh mereka. Sepertinya, baekhyun melatih para pemasak itu dengan baik. Maka dari itu, baekhyun di jadikan sebagai Ketua di dapur, walau agak cerewet.
Pangeran oh kembali mengajak Luhan ke taman belakang istana. Disana, terlihat jurang yang curam dari kejauhan begitu curam, namun ada sisi indah juga di dalamnya. Hamparan bunga dandelion yang begitu banyak membuat mata dan hati Luhan menjadi tenang. Kakinya melangkah, berlari-lari kecil dalam hamparan bunga rapuh tersebut.
''sepertinya, kau menyukai mereka, nona Xi.''
Luhan mengangguk sebagai jawaban. Bunga yang di tabrak oleh Luhan, mulai berterbangan dan melayang di atas Luhan. Pangeran Oh awalnya tersenyum melihat Luhan yang menari-nari, namun lama kelamaan, Pangeran Oh membayangkan Luhan mengenakan hanbok pink bermotif bunga sakura juga menari dalam bung dandelion. Nampak sangat anggun dan cantik. Membuat jantung sang pangeran berdebar kencang.
''pangeran? Apakah anda melamun?,''
Pangeran oh mulai tersadar dan melihat pengawal barunya memiringkan kepalanya lucu. Ingin sekali rasanya pangeran mencubit pipi agak gembil yang tertutup oleh masker hitam tersebut dan menariknya sekuat tenaga, tapi ia masih terlalu canggung untuk melakukannya.
''bisakah kita bicara selayaknya? Maksudku, umurku tidak jauh berbeda bukan dengan umurmu? Jadi aku perintahkan kau, tidak perlu menggunakan bahasa yang terlalu formal kepadaku. Jujur, aku agak canggung,''
''tapi, saya hanya…''
''jangan memandang derajat. Aku tidak suka jika kau merendah. Anggap saja aku ini teman sebayamu, bagaimana? Agar kita lebih akrab dan bisa saling memahami dengan mudah,''
Luhan tersenyum tipis di balik maskernya, kemudian dia mengangguk dan gantian pangeran oh yang tersenyum tampan.
.
.
.
.
.
.
.
Sejak saat itu, pangeran oh dan pengawalnya yang memiliki mata rusa yang indah Nampak sangat dekat. Hampir setiap hari, mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Seperti berburu, berkuda, mengunjungi keadaan pasar, bermain di taman, semua di lakukan berdua. Membuat benih cinta dalam hati pangeran oh kian menumbuh setiap harinya.
Mata rusa yang menyipit menjadi favoritnya. Mendengar tawa luhan, membuat hatinya tenang dan lambat laun ia juga ikut tertawa. Bukan karena apa yang luhan tertawakan, tetapi dia tertawa karena senang, ia bisak berdua dengan pengawal cantiknya. Walau sampai sekarang, yang ia tau hanya mata rusa indahnya saja. Juga hanya mengenalnya dengan sebutan ''Nona Xi''.
Luhan tetap memandang kalau dirinya hanyalah seorang pengawal. Dia tidak ingin mencintai pangeran oh lagi seperti dulu saat sebelum dia diangkat menjadi pengawal. Luhan tetap menganggap dirinya rendah, walau sang pangeran terus saja menganggap derajatnya dan derajat pangeran sama. Mencintai pangeran oh, hanya akan membuat hatinya sakit, karena takdir yang begitu pahit tidak akan bias menyatukan mereka, bagaimanapun caranya,
Sekarang, luhan dan pangeran oh sedang sembunyi di semak-semak, karena mereka akan membidik rusa jantan berbadan besar sedang makan rumput. Pangeran oh menunggu aba-aba dari luhan. Namun naasnya, pangeran oh tidak sengaja mundur selangkah, membuat kakinya menginjak ranting kecil hingga menimbulkan suara dan tidak sengaja melepaskan anak panahnya.
Rusa jantan tersebut mendengar suara ranting yang patah. Itu artinya, nyawanya akan terancam. Dengan segera, rusa tersebut pergi berlari dengan kecang saat panah akan menancap di perutnya. Luhan berdiri dan mendesah panjang. Ia berkacak pinggang dan melihat pangeran oh dengan kesal.
''ada apa denganmu, pangeran? Aku bilang diam, seharusnya kau juga diam. Percuma saja kakiku pegal karena berjongkok dengan orang yang payah.''
''kenapa aku yang salah? Aku bahkan tidak sengaja menginjak ranting sialan itu. Seharusnya yang di salahkan itu ranting ini, bukan aku.''
Luhan mendelik, kenapa atasannya berotak dangkal seperti ini?
''apa kau gila? Kenapa harus ranting tak bersalah ini? Sebenarnya dimana otakmu, pangeran?,''
Pangeran Oh nampak kesal karena Luhan terus saja menghina dirinya. Ia ikut berdiri, karena tubuhnya tinggi jadi luhan agak mendongak melihat mata elang yang tajam itu, beradu dengan mata rusanya. Pangeran Oh membusungkan dada, nampak tidak terima dengan penyataan Luhan.
''apa yang kau katakan tadi? Menghina pangeran sama saja hukuman mati, asal kau tau.''
''peraturan macam apa itu? Seharusnya, pangeran berotak dangkal sepertimu, tidak layak menjadi seorang pangeran.''
Luhan pergi begitu saja, meninggalkan pangeran Oh yang berdecih dan tidak menyangka karena Luhan berani mengatainya seperti itu.
Sepanjang perjalanan, luhan terus menggerutu karena sikap bodoh pangeran Oh. Kakinya terus saja melangkah sesuai nalurinya dan mulutnya terus saja bergumam tidak jelas. Hingga dirinya sampai di air terjun yang begitu indah di kelilingi oleh rerumputan hijau, juga bunga-bunga liar yang kecil ikut menghiasi.
Luhan takjub, belum pernah ia menemukan tempat seindah ini. Kakinya kembali melangkah, ia memilih berjongkok di tepi sungai dan memainkan air yang begitu dingin. Bibirnya terus saja tersenyum, setidaknya, ini bias menghilangkan rasa kesalnya saat ini.
Pangeran Oh sedang mencari pengawalnya yang entah pergi kemana. Pengawalnya memang keras kepala dan cerewet, namun perasaannya tdak pernah berubah. Setiap kali Luhan berbicara, atau mata Luhan menatap matanya, maka ia akan merasakan sensasi yang berbeda dari biasanya.
Sejak awal, dirinya jatuh dalam pesona Luhan. Pernah ia bertanya pada Luhan, dirinya bagi Luhan itu seperti apa. Luhan hanya menjawab,
''kau itu teman terbaikku, kenapa terus bertanya seperti itu?,''
Dirinya tidak mampu menjawab, apa karena perbedaan derajat? Pangeran Oh tetap mencintai sosok mungil namun tegar diluarnya tersebut. Luhan mampu membuat hari-harinya lebih berwarna dari biasanya.
Semak demi semak pangeran Oh telusuri, hingga akhirnya dirinya menemukan pengawal cantiknya sedang duduk manis di tepi sungai dan bermain air dengan seangnya.
Pangeran Oh tersenyum, kenapa bias ia mencintai sosok yang keras kepala tersebut? Bukankah dia menjengkelkan tadi?
Perlahan, pangeran oh berjalan mendekati Luhan. Dirinya berjalan mengendap-endap mendekati Luhan, bermaksud untuk mengageti Luhan. Ia menghitung langkahnya, dan perlahan pangeran oh menepuk pundak Luhan dengan kencang, membuat luhan terlonjak kaget dan-
BYUR !
-luhan terjatuh dalam sungai. Pangeran Oh menertawai Luhan, namun Luhan masih berusaha menggapai apa yang bias ia gapai. Sungai dekat air terjun terlalu dalam untuk Luhan, dan terlebih lagi, Luhan tidak bias berenang.
''tolong..hupphh..aku..huphh..tolongh..huphh''
Luhan pura-pura tenggelam sebenarnya. Di balik maskernya, Luhan tersenyum licik, berusaha mengerjai pangeran Oh. Saat pangeran Oh menyelamatkannya nanti, ia akan menenggelamkan pangeran bodoh itu dengan sekuat tenaga karena menjatuhkannya di sungai yang dingin tersebut.
''ayolah, jangan bercanda, Nona Cerewet. Aku tidak akan terkena jebakan mu,''
''aku..huph..serius..huphh..selamatkan aku..''
Pangeran Oh melirik air sungai dengan ragu. Dia tidak bisa berenang, dan itu membuat keraguannya membesar untuk menyelamatkan Luhan. Namun ketika melihat luhan meminta tolong dan sebentar lagi Nampak akan tenggelam, maka pangeran Oh memilih untuk melepaskan semua lapisan hanbok yang ia kenakan. Hanya tersisa baju putih tipis dan juga celana pendek yang dikenakan.
Pangeran oh melihat air benih di sungai, dan pandangannya beralih pada Luhan yang masih berakting tenggelam, terlihat tangannnya masih berusaha menggapai apapun yang bias ia gapai.
BYUR !
Pangeran oh memberanikan diri. Dia melawan apa yang ia tidak bias demi orang yang sayangi. Lebih baik dia mati untuk menolong orang terkasihnya daripada dia melihat orang yang dikasihnya mati.
Luhan tertawa dan mulai menjaga keseimbangannya agar tidak tenggelam. Ia terkikik geli karena melihat tingkah konyol pangeran Oh. Bagaimana dia bisa menjadi raja kalau dia mudah tertipu seperti itu?
Sedangkan pangeran Oh sendiri, masih berusaha menggapai apa saja. Dia benar-benar tidak bisa berenang. Kakinya mulai kaku karena tidak terbiasa dengan kedalaman air. Dia terus saja menyebutkan ''Nona Xi'' tapi dirinya sendiri tidak bisa berenang.
Luhan yang melihat pangeran Oh menenggelamkan dirinya mulai panic. Kali ini, pangeran Oh terlihat tidak bercanda dan dia benar-benar tenggelam. Luhan dengan cekatan, langsung berenang menuju pangeran Oh dan membantu sang pangeran menuju ke tepian.
Tubuh pangeran memang berat, namun dengan sekuat tenanga, luhan berusaha untuk menjaga keseimbangannya dan menolong pangeran Oh. Itu sudah menjadi tugasnya menjadi pengawal pribadi yang harus selalu menjaga dan menolong sang pangeran. Setidaknya sang Raja selalu berkata seperti itu. Hanya menjaga, tidak lebih.
Di baringkannya tubuh kekar yang kaku dalam kedinginan tersebut. Luhan panik, melihat wajah pucat sang pangeran membuat hatinya teriris.
Luhan mulai menekan-nekan dada sang pangeran, berusaha mengeluarkan semua air yang masuk ke dalam tubuh sang pangeran. Terus ia lakukan, ia ingin melihat mata elang tersebut terbuka dan kembali memandangnya penuh cinta.
''ayo bangunlah, ku mohon, hiks..hiks..,''
Luhan sudah tidak sanggup lagi. Dirinyakini yang harus ia salahkan. Kenapa dia tadi tidak langsung naik ke tepi dan memarahi pangeran Oh? Dengan begitu tidak akan terjadi seperti ini. Dan hal yang penting harus luhan ingat, pangeran Oh tidak bisa berenang.
Tidak ada pilihan lain. Luhan membuka maskernya, dan bibirnya langsung menempel pada bibir hangat pangeran Oh. Begitu hangat dan menenangkan. Hati luhan sangat senang, karena ciuman pertamanya bersama orang yang dicintainya, seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya. Benar-benar membahagiakan.
Luhan terus melakukan nafas buatan sampai pangeran Oh terbatuk, luhan dengan segera menyudahinya dan dengan cepat ia mengenakan maskernya kembali. Ia tidak ingin sang pangeran melihat wajah aslinya. Dia pemalu, asal kalian tau.
''uhuk uhuk…''
Luhan menghela nafas lega. Setidaknya mendengar suara batuk dari pangeran Oh membuatnya tenang sekarang. Lihatlah, kini sang pangeran sedang berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Setelah merasa cukup, baru ia melihat Luhan dengan tatapan tajam.
''kenapa kau melakukan hal itu? Kau tau, aku sangat menghawatirkanmu, bodoh ! Kau bisa berenang, kan? Aku akan memakanmu !''
''kau tidak akan tega melakukan hal itu,''
Memang, karena aku sangat mencintaimu, Nona Xi.
''lupakan, ayo pulang. Aku jadi basah karenamu,''
Luhan mendengus sebal. ia mengerucutkan bibir di belakang pangeran Oh, tanpa melihat langit yang mendung. Dan tiba-tiba saja, hujan deras turun dengan mudahnya. Luhan segera mengedarkan pandangannya dan melihat sebuah pondok kecil tidak jauh dari air terjun. Luhan segera mengambil hanbok milik pangeran Oh, kembali dengan menggenggam tangan pangeran Oh dan mengajaknya untuk berteduh.
.
.
.
.
.
Sejam berlalu, dan hujan masih setia menapakkan kaki kaki kecil mereka menuju bumi. Tidak peduli kedua manusia di dalam pondok kecil dekat air terjun tengah menggigil kedinginan. Apalagi Luhan, tubuhnya basah kuyup karena jatuh ke sungai, dan hujan deras pula. Mau tidak mau, ia harus menahan rasa dingin tersebut sampai hujan reda. Yang di lakukannya hanya memeluk lutut, untuk menjaga suhu tubuhnya agar tetap hangat. Tapi itu tetap tidak berhasil.
Pangeran Oh sendiri melirik Luhan yang bergetar karena kedinginan. Ia ingin sekali memeluk tubuh mungil itu, berbagi kehangatan satu sama lain agak tidak terlihat tersiksa seperti yang Luhan alami sekarang.
''apa kau kedi- NONA XI !''
Pangeran Oh di kejutkan oleh Luhan yang sudah terbaring di pahanya dengan wajah yang pucat pasi. Pangeran Oh bertindak cepat, ia membuka seluruh pakaian yang Luhan kenakan, namun tidak dengan maskernya. Ia sangat menjunjung tinggi privasi milik orang lain. Maka dari itu, dia membiarkan masker lembab itu berada di wajah Luhan.
Kini Luhan sudah telanjang bulat. Pangeran Oh meneguk salivanya dengan kasar karena melihat payudara Luhan yang terlihat pas dan imut. Tubuhnya yang mulus, putih bersih tanpa noda. Membuat pangeran Oh tergoda sejenak dengan ciptaan sang Kuasa ini.
Namun dengan cepat ia menepis pemikirannya yang kotor. Ia mangambil pakaian hanboknya dan ia kenakan pada Luhan. Semuanya, tidak ada yang tersisa. Dengan begini, Luhan bisa tetap hangat, tidak peduli dirinya harus mati kedinginan, Luhan harus tetap hangat.
.
.
.
.
.
.
Setengah jam kembali berlalu. Luhan perlahan membuka matanya, badannya terasa berat, seperti tertindih sesuatu. Luhan melirik ke bawah dan melihat pangeran Oh menggeram karena kedinginan. Kembali, ia melihat pakaian pangeran Oh melekat di tubuhnya, pantas saja dia tidak kedinginan.
''bodoh ! Dia terus saja memikirkan ku daripada keadaannya ! dasar pangeran bodoh ! Hiks hiks.. bodoh bodoh..''
Luhan menyeka air matanya. Dia harus bergegas kembali membalas kebaikan sang pangeran untuk yang kedua kalinya. Di baringkannya tubuh kekar namun lemah tersebut, dan tangan Luhan dengan nakal membuka semua pakaian pangeran Oh. Namun tidak dengan celana. Luhan tidak akan berani.
Pangeran oh sudah bertelanjang dada. Celananya tipis dan sudah agak sembab, jadi mungkin tidak akan beresiko. Ia membuka lapis demi lapis hanbok sang pangeran, dan ia mulai berbaring di samping pangeran Oh. Ia menutup tubuh sang pangeran dengan hanbok yang ia kenakan. Tidak peduli tubuh polosnya menepel sempurna dengan tubuh polos sang pangeran, Luhan harus menolongnya.
GREP !
Luhan di buat kaget karena merasakan tangan kekar melingkar sempurna di pinggang kecilnya. Ia melihat pangeran Oh menyembunyikan kedua wajahnya di antara payudaranya. Bukan untuk masud jorok, melainkan hanya untuk mencari kehangatan.
''terima kasih, Nona Xi. Aku mencintaimu,''
DEG !
Jantung Luhan berdegup kencang. Cinta? Pangeran Oh juga mencintainya?
Namun tak lama setelah itu, ia mendengar dengkuran halus dari pangeran Oh. Luhan tersenyum miris, mungkin pangeran hanya mengigau atau semacamnya, Luhan tidak tau. Tidak mungkin sang pangeran mencintai pengawalnya sendiri. Mereka tidak akan pernah bersatu.
Di kecupnya kening pangeran Oh dengan bibir manis Luhan, membuat Luhan kembali maerasakan bahagia yang teramat sangat. Mereka memang tidak akan pernah bersatu. Namun di kehidupan berikutnya, siapa yang tau?
.
.
.
.
.
.
BACK IN TIME
.
.
.
.
.
.
Isu dimana Luhan si bocah angin kini sudah menyebar luas di seluruh kampus. Membuatnya menutupi wajah cantiknya. Sedangkan Baekhyun dan Chanyeol masih tertegun karena Luhan memiliki kekuatan angin seperti kemarin.
Kris, mantan Luhan yang pernah membuat masa depan Luhan hampir terancam. Kris bukan orang yang baik, Luhan yang mengalaminya sendiri. Dia bisa di bilang bandar narkoba, juga pecandu narkoba. Luhan pernah mabuk dan tidur bersamanya, dan pada saat itu kris menawarinya obat berbahaya yang akan menjadi candu tersendiri.
Luhan hampir saja meminum benda haram itu, namun Chanyeol dan Baekhyun langsung datang untuk mencari keberadaan Luhan. Chanyeol yang saat itu menghajar Kris habis-habisan, sedangkan baekhyun membantu Luhan mengenakan pakaiannya dan juga membantu Luhan berjalan keluar dari perangkap kris.
Kris di penjara entah berapa lama. Namun kali ini, ia kembali lagi. Mungkin karena ia orang yang berada jadi keluar dari jeruji besi merupakan hal yang mudah bukan?
Lupakan soal kris. Kali ini, kampus sedang membicarakan Luhan si bocah angin.
''bukankah ini aneh? Aku sama sekali tidak memiliki kekuatan supranatural seperti itu. Asal kalian tau, sepertinya ada orang pintar yang membantuku. Saat aku ingin memukul perut kris, tanganku sterasa di dorong oleh angin yang kuat, dan itu membuat kris terpental jauh sampai masuk rumah sakit karena cedera punggung,''
Baekhyun dan chanyeol mulai mencerna pernyataan konyol temannya. Mana ada orang pintar memiliki kekuatan angin di zaman sekarang?
''aku tidak ingin memiliki teman yang berfikiran gila sepertimu, Luhan-ah.''
Baekhyun mengangguk setuju dengan ucapan kekasihnya, membuat Luhan mendelik kesal.
''AKU SERIUS ! Benar-benar aneh, mana ada hembusan angin yang kuat seperti kemarin? Apa lihat-lihat? Oh, aku tau isi otak kalian. Kalian berfikir bahwa aku adalah seorang titisan dari raja berkekuatan angin, begitu?,''
''bukan raja, tapi ratu tepatnya.''
Kali ini gantian chanyeol yang mengangguk.
''kalian membuatku semakin kesal, lebih baik aku pulang saja.''
Tangan luhan mengambil ransel kecinya dengan kasar. Langkahnya terlihat lebar menuju parkiran mobil. Di bukanya pintu mobil tersebut, di banting pula pintu tak bersalah itu dengan kancang. Luhan mencengeram setir mobilnya, kemudian memukulnya karena ia tidak tau harus kemana untuk melampiaskan rasa kesalnya.
''kenapa mereka berdua menyebalkan sekali? Sahabat macam apa itu?,''
''kau sedang apa? Dasar gila,''
Luhan terdiam, mencerna kembali pendengarannya, barangkali ia salah dengar atau berhalusinasi. Beberapa detik yang lalu, ia seperti mendengar suara pangeran idiot itu. Kepalanya menoleh, dan Nampak wajah tampan sekaligus mengerikan ada di sampingnya, dengan cengiran yang idiot tentu saja.
''YAAAAKKKK ! KENAPA KAU ADA DISINI? B-BAGAIMANA KAU BISA MASUK?,''
''aku berusaha melacak keberadaanmu. Karena jiwaku bersatu dengan angin, maka dari itu sangat sulit untuk melacak dimana dirimu berada. Aku sempat bingung, ini tempat apa aku saja tidak tahu. Apalagi benda kotak dengan roda empat berlalu-lalang di jalan. Seperti milikmu ini, sangat mengganggu system pendengaran.''
''jiwamu, bersatu dengan angin? A-apa maksudnya?,''
''seorang cenayang mengatakan padaku, bahwa jiwaku sangat melekat dengan angin. Maka aku melatih diriku untuk lebih dekat dengan angin. Dan karena angin inilah, aku dapat bertahan berates-ratus tahun dalam liontin mu itu.''
Luhan mengernyitkan keningnya.
''aku tidak mengerti apa maksudmu,''
''kau tau cenayang? Seorang cenayang menyuruhku untuk mendekatkan diriku pada angin karena jauh dalam jiwaku, sudah bersatu dengan angin. Mungkin aku titisan dewa angin, aku saja tidak mengerti. Dia menyuruhku untuk masuk dalam liontin merah yang kau temukan saat peperangan berlangsung. Dia menyuruhku masuk ke dalam liontin karena aku harus menemukan takdirku, bersama takdirku lah kejahatan yang sebenarnya akan musnah tak bersisa. aku masih tidak mengerti, tapi itulah yang ia katakan. Takdirku bukanlah gadis pilihan ayahku. Cenayang itu berkata, takdirmu sangat dekat dengan dirimu. Hanya karena kau berada di atas dan dia berada di bawah, untuk di zaman ini kalian tidak akan bersatu dulu, dan-''
''perang?,''
Terlihat sehun mengangguk. Apa perang yang pernah di bahas waktu Luhan menguping rapat ayah sehun? Perang bersama Wu Yi Fan?
Dan juga takdir Oh Sehun, berarti takdir nya bukan Putri Zhang? Lalu siapa? Oh, Luhan ingat ! Apakah takdirnya adalah Nona Xi? Pengawal pribadi Sehun yang saat itu di cium sehun di taman bunga dandelion?
''t-tunggu sebentar. Jadi, yang menolongku di kantin kemarin, kau?,''
Sehun tersenyum idiot, kemudian menganggukkan kepalanya. Luhan mengepalkan tangannya, dan secara tiba-tiba, tangan luhan mendarat tepat di atas kepala sehun, membuat sehun mengaduh.
''kenapa kau lakukan hal itu? Kris mengalami cedera, asal kau tau.''
''oh, namanya kris. Pria tinggi yang merangkul pinggangmu itu? Aku tidak bias melihat wajahnya, namun kalau aku berhasil menemukannya lagi, aku akan mematahkan semua tulangnya di hadapanmu.''
''k-kenapa harus seperti itu?,''
Sehun terdiam sejenak.
''mmm entahlah, aku tidak suka siapapun menyentuhmu dengan mesra seperti tadi,''
Pernyataan tidak jelas sehun, berhasil membuat jantung luhan berdebar kencang. Tangan kanannya meremas pakaian di bagian dada sebelah kiri. Terasa ingin meledak hanya karena ucapan bodoh sehun.
''l-lalu, kau datang kesini untuk mencari takdirmu itu? Tapi, siapa orang jahatnya?,''
''eh? Mmm i-itu.. ah aku lapar. Ayo cepat jalankan benda kotak ini, tadi aku lihat di jalan dia bias berjalan dengan cepat.''
Luhan memutar bola matanya dengan malas. Di nyalakannya mobil pemberian ayahnya, dan ia bersama sehun segera pulang ke rumah.
''maafkan aku jika aku telah berbohong padamu, ini terlalu rumit. Karena kau mulai percaya padaku, maka hanya kau yang bias membantuku. Tapi belum saatnya,''
.
.
.
.
.
.
BACK IN TIME
.
.
.
.
.
.
.
Hallooooooo hiks hiks lama ya ngga update TT. Maafkan keterlambatan author ya. Bener-bener sibuk sama tugas sekolah yang numpuk setinggi gunung fuji /ggg.
Gimana sama chap ini? Lumayan panjang kan ya? Oh iya, author baca review kalian, ada yang bilang, patung yang di kuil bulguksa itu siapa? Pokoknya inti pertanyaan dia gitu.
Cerita ini ngga ada sangkut pautnya sama patung itu, itukan cuma bualan Luhan aja. Salahkan aja chanbaek yang membuat Luhan frustasi karena rencana aneh mereka kkk~. Sama ini nggak terispirasi dari Rooftop prince. Mungkin kalian berfikir ini mirip drama tersebut hanya karena Luhan dulunya make penutup muka, sama kayak yang main sama Yoochun. Tapi ini jauh berbeda. Tidak sama dengan drama tersebut. Makanya kalau penasaran, baca aja terus dan review yang banyak wkwkwk.
Cuap-cuapnya udah ya, yang mau deket sama author bias add Dinnda Byun II
Arigatou gozaimatsu~
.
.
.
.
.
.
.
Last, review or end?
