Previous chapter~!
''k-kenapa harus seperti itu?,''
Sehun terdiam sejenak.
''mmm entahlah, aku tidak suka siapapun menyentuhmu dengan mesra seperti tadi,''
Pernyataan tidak jelas sehun, berhasil membuat jantung luhan berdebar kencang. Tangan kanannya meremas pakaian di bagian dada sebelah kiri. Terasa ingin meledak hanya karena ucapan bodoh sehun.
''l-lalu, kau datang kesini untuk mencari takdirmu itu? Tapi, siapa orang jahatnya?,''
''eh? Mmm i-itu.. ah aku lapar. Ayo cepat jalankan benda kotak ini, tadi aku lihat di jalan dia bias berjalan dengan cepat.''
Luhan memutar bola matanya dengan malas. Di nyalakannya mobil pemberian ayahnya, dan ia bersama sehun segera pulang ke rumah.
''maafkan aku jika aku telah berbohong padamu, ini terlalu rumit. Karena kau mulai percaya padaku, maka hanya kau yang bias membantuku. Tapi belum saatnya,''
.
.
.
.
.
.
.
.
BACK IN TIME
.
.
Cast :
Xi Luhan
Oh Sehun
.
.
Support cast :
OFFICIAL EXO COUPLE. NO CRACK.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Raja Oh terlihat tergopoh-gopoh ketika mendengar kerajaan Wu sedang dalam perjalanan. Pasukannya memang sudah siap, namun rencana mereka belum sepenuhnya sempurna. Jauh dari kata sempurna, karena masih ada hal yang perlu di bicarakan kembali.
Beliau memerintahkan panglima Chan untuk mengumpulkan semua pejabat tinggi kerajaan Oh di ruang pertemuan. Panglima Chan mengangguk dalam, dan dengan segera dia pergi ke seluruh penjuru kerajaan untuk mencari mereka semua.
Baekhyun melihat Panglima Chan yang berlari dengan keringat yang membasahi wajahnya. Wajah itu, wajah yang membuatnya selalu gugup. Ritme jantungnya juga menjadi tidak karuan, seperti yang di rasakan Luhan ketika bersama Pangeran Oh.
Baekhyun menjinjing hanboknya agak tinggi, dan berjalan menuju Panglima Chan yang sedang memanggil para pejabat di ruangan mereka masing-masing. Panglima Chan agak terkejut, ketika melihat seseorang menepuk pundak kirinya dengan kencang. Ia membalikkan badannya, dan melihat sosok mungil nan cantik ada di depannya.
''ada apa? Katakan padaku, apa yang terjadi?,''
''kebetulan kau disini. Aku butuh bantuanmu. Bisakah kau membantuku untuk memberitahu semua pekerja yang ada di dapur untuk segera berkemas? Terima kasih.''
Panglima Chan ingin melanjutkan pencariannya, namun tangan kekarnya di tahan oleh tangan lentik Baekhyun.
''aku bertanya padamu, apa yang terjadi? Apakah kerajaan Wu akan tiba disini? Pada hari ini? Apa itu benar?,''
Baekhyun mencengkeran kuat tangan Panglima Chan. Matanya mulai memerah dan berkaca-kaca, ia takut akan kehilangan sosok yang membuatnya selalu berdebar, selalu membuatnya gugup, selalu membuatnya salah tingkah, dan berhasil membuatnya merasakan apa itu cinta untuk yang pertama kali.
''mengapa wajahmu santai seperti itu? Apakah kau tidak tau, betapa khawatirnya aku? Apa kau tau bagaimana perasaanku saat ini? Apa kau tau, panglima Chan?,''
Baekhyun tidak berhasil, air mata yang ia sembunyikan, akhirnya ia keluarkan dengan begitu mudahnya. Jika peperangan akan terjadi, maka dia akan menghawatirkan Panglima Chan. Panglima menyebalkan –dan ia cintai- ini pasti akan maju ke depan terlebih dahulu untuk membuktikan pengabdiannya pada kerajaan.
Baekhyun menunduk dan terisak pelan. Ia tidak menginginkan mayat Panglima Chan ada di hadapannya nanti, ia ingin panglima ini selalu ada untuknya.
''nona Byun… kau menyukaiku?,''
Baekhyun langsung mengangguk. Ia tidak peduli dengan ego nya, dia tidak ingin ego sialan itu membuat Panglima Chan meninggal. Ia hanya menghawatirkan keselamatan Panglima Chan, tidak ada yang lain.
Baekhyun masih menangis. Mengetahui bahwa hatinya sudah berhasil di curi oleh Panglima Chan, kemudian mendengar bahwa kerajaan Wu akan datang sebentar lagi. Ini jauh lebih menyakitkan daripada terisis oleh pisau daging dan semacamnya.
GREP !
Baekhyun membelalakkan matanya ketika merasakan tubuh hangan dan kokoh mendekapnya dengan erat. Jantungnya kembali berpacu begitu cepat. Tak segan-segan ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang tersebut, memeluk tubuh kokoh itu dengan erat, berharap keselamatan panglima Chan tetap aman. Melihat Panglima Chan mati sama saja membuatnya mati perlahan.
''ku mohon… jangan tinggalkan aku, hiks hiks…''
Panglima Chan ikut menangis, namun tidak seperti Baekhyun. Ia hanya menitikkan air matanya saja, berusaha tetap tegar di depan orang yang ia sayangi. Walaupun ia sering dimarahi olehnya, hal itu tidak mengurangi rasa sayang juga cintanya pada Baekhyun.
Panglima Chan melepaskan pelukannya. Kedua tangannya mencengkeram kedua lengan Baekhyun. Matanya bertemu dengan mata sipit Baekhyun, menelisik mata tulus Baekhyun yang terlihat begitu menyayanginya.
''maafkan aku, Nona Byun. Aku bukanlah orang yang baik, maafkan aku. Aku bukan orang yang pantas denganmu, aku bukan orang yang baik untukkmu. Kau bisa mencari penggantiku. Kau hmphh-''
Baekhyun dengan cepat memotong ucapan Panglima Chan dengan menempelkan bibirnya pada panglima Chan. Panglima Chan terdiam, namun ia merasa saat ini ia sedang berada dalam taman bunga yang begitu indah, terasa menenangkan.
Ciuman itu hanya berlangsung sebentar. Baekhyun yang mengawali, dia pula yang melepaskan ciuman mendadaknya terlebih dulu. Tangannya masih mencengeram kuat baju kebanggaan milik panglima Chan. Baekhyun tidak mau melepaskannya, apapun alasannya, baekhyun tidak akan mau.
Tangan kekar milik panglima Chan meraih tangan lembut Baekhyun. Di kecupnya tangan lentik tersebut, dengan jeda waktu yang cukup lama dan penuh dengan kelembutan. Baekhyun hanya membelalakkan matanya, masih dengan mata basah karena air mata sialan yang keluar tanpa permisi.
''A-apa yang kau…''
''aku tidak ingin melukai mu secara fisik maupun hati, Nona Byun. Aku ingin kau bahagia. Takdirku bukan bersamamu, karena aku ditakdirkan untuk membela kerajaan ini. Aku ditakdirkan mati saat peperangan besar telah tiba. Jadi, salahkah jika aku mengatakan hal seperti tadi terhadapmu? Aku bukanlah orang yang pantas bersanding denganmu. Aku tidak akan bisa menjagamu selamanya.''
Baekhyun mengepalkan tangannya. Dia berfikir, panglima ini bodoh atau apa? Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu dengan mudah di hadapannya.
''kau memang tidak pantas bersanding denganku, sangat tidak pantas. Tapi, jika sesuatu terjadi padamu, siapa yang akan memberikan suatu perhatian untuk penyemangatmu? Siapa yang akan memasak setiap harinya untukmu? Siapa yang akan membuat kedua orangtuamu bahagia jika mereka menanyakan calon menantu? Apa kau sanggup menjawabnya? Jangan fikirkan ego mu yang terlalu besar, Panglima Yang Agung. Di sekitarmu, juga ada orang-orang yang sangat menyayangimu, termasuk aku, dan kedua orang tuamu. Dan kau? Malah berfikir akan mati dengan mudah saat di medan perang? Kau fikir aku ingin melihatmu mati, begitu? Melihat mayatmu di bakar dengan suasana menyedihkan, begitu? Aku tidak tau jalan fikiranmu. Permisi.''
Panglima Chan terdiam, ketika mulut baekhyun kembali meyakinkan dirinya. Meyakinkan bahwa takdirnya bukan hanya untuk perang. Itu bukan takdir, melainkan kewajiban, kewajibannya sebagai panglima yang sudah bersedia mengabdi untuk kerajaan. Bukan lah sebuah takdir. Memang bukan.
Hati panglima Chan terketuk ketika mendengar penjelasan panjang dari Baekhyun. Ia hanya tidak ingin menyakiti makhluk kecil penyayang itu. Karena dengan hal itu, dia tidak bisa berjanji untuk tetap menemaninya.
Bukan hanya itu, karena setiap wanita yang ia cintai, akan berakhir dengan kisah yang tragis. Kemudian, hidupnya akan menanggung sebuah kata yang begitu menyakitkan. Trauma.
.
.
.
.
.
.
''apakah semua sudah disiapkan dengan matang, panglima setia kerajaan Kim Jong Dae?,''
''semuanya sudah siap. Namun, menurut informasi yang saya cari, rencana yang telah kita susun mungkin agak sedikit tersendat karena adanya pengawal tangguh kerajaan Oh. Apakah anda mengenal Panglima Chan?,''
''mengapa aku tidak terfikirkan oleh kehadirannya? Dia teman karibku, jangan khawatir. Masalah dengan dia, biarlah menjadi urusanku nanti. Aku bisa mengatasinya.''
''baiklah, Yang Mulia. Lalu, apa yang akan saya lakukan?,''
''kita akan berangkat secepatnya, sesuai perintahku. Dan, perintahkan kepada semua anak buahmu, jika rakyat harus membayar pajak dua kali lipat dari biasanya.''
''t-tapi, bagaimana bisa, Yang Mulia?,''
''aku sedang tidak enak hati, maka dari itu, jangan menanyaiku lagi.''
''b-baik, Yang Mulia."
Panglima yang beranama Kim Jong Dae langsung mengundurkan diri dari tuannya.
''Putri Huang, maafkan aku..''
.
.
.
.
.
.
BACK IN TIME
.
.
.
.
.
Luhan melajukan mobilnya agak cepat karena cuaca hari ini sedang mendung. Sedangkan Sehun, masih sibuk dengan pemandangan kota atau kendaraan yang berlalu lalang di depan matanya. Matanya bergerak-gerak pusing melihat mobil berukuran besar melintas di sampingnya, juga benda berbentuk kotak besar terpampang di gedung tinggi dan menampilkan wajah wanita cantik sedang tersenyum.
Cuaca dingin membuat Luhan merasa sakit. Ia sudah menyalakan pemanas ruangan di mobilnya, namun hawa dingin masih menjelajahi tubuh mungilnya. Membuat tubuhnya menggigil pelan.
Tangannya sibuk menyetir, dan pandangannya masih fokus ke depan. Terkadang, dia melirik ke samping, melihat sehun yang masih sibuk dengan acara melihat pemandangan. Oh, Luhan merasa seperti membawa anak taman kanak-kanak berwisata dan dia menjadi pemandu nya.
Tepat saat mobilnya berhenti di depan rumah Luhan, hujan deras langsung turun. Sehun yang baru saja keluar dari mobil langsung kebasahan, begitu juga dengan Luhan. Luhan berdecak sebal, kemudian dengan segera ia berlari menuju rumah untuk berteduh.
Sedangkan Sehun, ia masih tetap di tempat. Tangannya menengadah, merasakan air hujan menghampiri tangannya. Hujan ini, masih terasa sama dengan hujan yang dulu. Dimana dia hanya berdua dengan pengawal pribadinya, Nona Xi.
Sehun mendongak. Kini wajahnya yang di hujami oleh air rintik-rintik dari langit. Kembali merasakn sensasi saat ia bersama dengan sang pengawal pribadi, yang menyuruhnya untuk berteduh di gubuk kecil. Memakaikan hanboknya, dan berakhir dengan mereka tidur saling menempel dalam satu pakaian.
Sampai saat ini, ia masih bingung dengan apa yang ia lakukan di masa sekarang. Kalau benar untuk mencari orang jahat itu, mengapa ia tidak menemukan tanda orang-orang tersebut?
''apa yang kau lakukan? Dasar bodoh, kau bisa sakit!,"
Tangan luhan langsung menggenggam tangan besar milik Sehun, membuat jantung Sehun berdetak dengan kencang secara tiba-tiba. Tangan ini, terasa sama seperti ajakan sang pengawal untuk berteduh.
Tangan yang lembut, menariknya masuk ke dalam rumah. Pandangan Sehun masih menatap punggung kecil milik Luhan. Benar-benar terasa sama, masih lembut namun kuat di dalamnya.
.
.
.
.
.
''kau tuli, ya? Eh, putra mahkota tuli? Ckckck,"
''hentikan ejekanmu, Luhan. Hatchiii !''
''ck! Dasar keras kepala. Ini yang kau dapatkan ketika bermain hujan seperti tadi.''
''aku sedang sakit, seharusnya kau menjadi tabib yang baik hati sekarang.''
Luhan mendelik sebal. ia memeras sapu tangan yang ia gunakan untuk mengompres kening Sehun dengan kuat karena emosinya yang meletup. Dengan kasar, Luhan menempelkan sapu tangan tersebut ke kening Sehun, membuat Sehun sedikit mringis karena kepalanya memang pusing.
''daritadi aku memanggil namamu, tapi kau masih setia mendongak dan memejamkan mata. Kau gila, ya?,''
Sehun tidak membalas perkataan Luhan. Matanya masih sibuk mengamati wajah Luhan yang memang cantik jika di lihat dari dekat. Sehun ingin meyakini apa yang ada dalam hatinya, kalau Luhan adalah renkarnasi dari pengawal pribadinya, Nona Xi. Tangan Luhan, terasa sama dengan tangan Nona Xi yang begitu lembut dan kuat.
Sehun mengulurkan tangannya untuk memegang kembali tangan Luhan. Luhan mengernyitkan alisnya. Bingung dengan apa yang di lakukan Sehun. tanpa sadar, pipinya merona karena tangan hangat Sehun menggenggam tangannya.
''apakah kau….tidak merasakannya?,''
''m-merasakan apa?,''
Pupus sudah harapan Sehun. Ia melempar tangan Luhan dengan kasar, membuat Luhan kembali marah dan tidak terima. Luhan mengarahkan kepala Sehun menuju kepala kasur yang terbuat dari kayu. Dan dengan tega, luhan mempertemukan mereka –kepala sehun dan kepala kasur yang terbuat dari kayu- sehingga sehun mengaduh.
''hey ! aku sedang sakit ! haish, kalau kau jadi tabib, pasienmu pasti akan mati dalam sekejap.''
''aku bukan tabib ! kau fikir, aku pria dengan jubah kebesaran seperti itu? Orang-orang menyebutnya dokter sekarang.''
''d-dok..ter?,''
''lupakan saja. Aku mau istirahat, setelah itu aku bisa mengerjakan tugas dengan tenang.''
Luhan ingin kembali ke kamarnya. Namun, tangan kekar milik Sehun kembali mencegahnya. Luhan menoleh, melihat wajah Sehun yang begitu berharap.
''a-apa kau… benar-benar tidak merasakannya?,''
Luhan kembali mengernyit. Sebenarnya yang di maksudkan sehun merasakan apa? Luhan jadi bingung sendiri.
''merasakan apa? Daritadi, kau selalu bertanya seperti itu. Sebenarnya ada apa?,''
Perlahan, Sehun melepaskan genggamannya. Ia menoleh ke arah lain dan berkata,
''kau memang orang lain. Kau jauh berbeda dengan dia.''
Luhan kembali memasang wajah dengan mimik yang tidak suka. Ingin rasanya kedua tangan yang terkepal milik Luhan, mendarat tepat di pipi Sehun. Tapi itu adalah hal yang tidak mungkin.
Luhan memilih berbalik. Ia berhenti, tidak melanjutkan perjalanannya menuju kamar. Karena ia ingin mengatakan sesuatu pada sehun sebelum ia pergi.
''jangan lepaskan kompres yang ada di keningmu. Kalau sudah tidak pusing,kau bisa memanggilku. Aku akan langsung menemuimu.''
.
.
.
.
.
''bagaimana dengan negosiasi tadi? Kau mau?,''
''bajingan kau ! Keparat !''
''ugh, mulutmu pedas juga ya. Aku menanyakan tentang negosiasi kita berdua, bagaimana menurutmu hm? Kau tega, melihat kekasihmu mati dengan mulut berbusa karena overdosis?,''
''enyah kau, bajingan ! aku tidak sudi jika harus bekerja sama denganmu !''
''kau menolak? Berani sekali kau. Kau meragukan ucapanku?,''
''…''
''bujuklah dia. Dia akan ku jadikan umpan setelah sekian lama aku tidak menemuinya.''
''dengan mengorbankan kekasihku? Kenapa kau seperti ini?''
''aku hanya butuh satu jawaban, antara iya dan tidak.''
''….''
''untuk apa aku berbohong? Kau hanya melakukan yang mudah ini, maka kekasihmu akan selamat. Bagaimana?''
''…''
''tidak mau menjawab ya?,''
''b-baiklah, aku mau.''
''keputusan yang bijak, terima kasih.''
.
.
.
.
.
.
BACK IN TIME
.
.
.
.
.
.
Yoshh, akhirnya selesai chapter ini. Author ngetiknya ngebut, jadi maaf kalo ada typo. Author janji kan, udah berusaha update secepatnya? Responnya mohon ya, para readers /bow/. Review yang banyak okeh.
.
.
.
.
.
.
Last, review or end?
