Blackrabbit8 Present
Inside of me
GOT7 fanfict [2Jae Couple]
Romance
Rated M [For Mature Content]
Warning!
YAOI FANFICT, BOYS LOVE AREA
YADONG, MESUM, ETC
GA JELAS, TYPO BERTEBARAN, OOC-PENISTAAN KARAKTER
GA SUKA BACK/EXIT/MENJAUH JUSEYOOO
GA TERIMA BASH
BACA? REVIEW!
BACA, GA REVIEW? JAMBAN JUSEYOO
FAV/FOLLOW TANPA REVIEW? KEBIANGNYA JAMBAN SAJA SANA ;)
Aku ingatkan, fav/follow tanpa review itu ga sopan! Songong!
Tanpa banyak ngemeng lagi/?
Inside of me Chapter 2
Here we go!
.
.
Youngjae menghempaskan tubuhnya ke sofa. Kedua tangannya terlipat di belakang tengkuk, sedang matanya menerawang ke langit-langit ruang keluarga kediaman Choi. Dahinya sesekali terlihat berkerut, seperti Youngjae disaat sedang belajar keras menjelang waktu ujian. Kepalanya kadang bergerak ke kiri maupun kanan, membuat surai ke abuan-nya menjadi tak karuan menutupi dahinya.
'Temui aku jika kau ingin memastikan itu, manis. dan akan ku pastikan kau bergerak liar dibawah kendaliku'
"Yha! Brengsek!" Makinya saat sekelibatan kalimat dari lelaki bernama Jaebum itu muncul di kepalanya. Youngjae mengambil posisi duduk, dengan nafas terengah. Sial, hanya karna sebaris kalimat laknat dari senior tak dikenalnya itu, nyatanya mampu membuat perasaannya tak karuan. Ya, hanya karna ajakan yang seharusnya tak perlu Youngjae hiraukan, atau cemaskan. Tapi.. Karna dia bukan seorang gay, harusnya Youngjae menganggap ucapan Jaebum hanya sebuah angin lalu.
"Omong kosong! aku tak perlu menggubris si gila itu. Aku normal, dan aku mengencani banyak gadis. Ya, benar, memang seperti itu, dan akan terus begitu" Ucapnya meyakinkan diri.
Benar kan? Tak ada yang perlu di khawatirkan. Youngjae bukan gay, dia hanya er-bisa di bilang mungkin ini akibat dari berakhirnya hubungan nya dengan Suzy siang tadi. atau.. balasan dari langit seperti yang junghong katakan tadi? hm, entahlah.
Hah-diambilnya nafas dalam sekali lagi, dan mulai merebahkan lagi dirinya di atas sofa. Sebelah tanganya bergerak ke atas wajahnya, membuat sebelah matanya tertutup diikuti sebelah lainnya. Tiba-tiba kantuk menyerang, dan sepertinya mengistirahatkan sejenak tubuh dan pikirannya merupakan ide yang bagus.
Youngjae dalam perjalanan menuju alam bawah sadarnya, sampai pemikirannya sendiri mengacaukan semua yang telah di rajutnya.
'Bergerak liar dibawah kendalinya? Apa.. itu menyenangkan? Dibawah kendalinya.. seorang Im Jaebum'
Tunggu dulu, dibawah kendalinya? Itu berarti..
"YAISH! OTAK BODOH! APA YANG SUDAH KU PIKIRKAN, HAH?!"
.
.
"Yha, ayolah! Bantu aku. Kau ini kejam sekali"
Jaebum sesekali memperhatikan lelaki yang sibuk dengan sambungan teleponnya. Entah dengan siapa Junghong bicara, Jaebum tak peduli-sungguh. Tapi jika pembicaraan yang sudah berlangsung hampir 10 menit lamanya itu tak juga membuat Junghong cepat menyelesaikan tanggung jawabnya, maka Jaebum pastikan Junghong tak akan melihat namanya sendiri di daftar tim utama-di keluarkan.
"Ya, Choi Youngjae!"
Seruan spontan Junghong membuat seluruh mata di ruangan itu tertuju padanya. Menyadari apa yang di perbuatnya, segera ia memberi gesture memohon maaf dan mencoba kembali bernegosiasi dengan sepupunya yang super menyebalkan di ujung sambungan.
"Ya, Youngjae-yaa, haish-sepupu macam apa kau ini?" Kali ini suaranya terdengar sangat pelan dengan nada protes yang begitu kentara. Merasa pembicaraannya begitu mengganggu-karna suaranya yang tak bisa di kontrol, Junghong memilih menarik dirinya dari keramaian.
Sepeninggalnya Junghong, Jaebum masih saja menatap ke arah hilangnya anak itu. pikirannya menerawang jauh. Youngjae? Apa Youngjae yang Junghong sebut tadi.. Youngjae si abu-abu? Mengingat Youngjae memiliki marga 'Choi' yang juga merupakan marga dari Junghong sendiri.
"Jadi.. mereka masih satu kerabat rupanya" Gumam Jaebum.
Ditengah lamunannya. Sosok Junghong kembali muncul dari balik pintu. meski hanya kepalanya saja yang mencuat ke dalam namun itu mampu mengagetkan beberapa orang di dalam ruangan, termasuk Jaebum sendiri.
"Jaebum sunbae-nim! Maaf aku harus pergi sebentar. Sepupuku Youngjae akan datang kira-kira 15 menit lagi membawakan barang pesananmu. Maaf tapi.. dosen Kim sedang menungguku diruangannya. Maafkan aku sunbae, aku pergi dulu" Dan Junghong pun benar-benar lenyap.
Jaebum tak pernah mempercayai sebuah kebetulan dalam hidupnya. Ia yakin setiap pertemuannya dengan beberapa orang memang sudah digariskan oleh Tuhan. Namun, bertemu dengan seseorang yang mampu mengusik hatinya secara beruntun di waktu yang menurutnya tepat dan berdekatan pula. Apakah itu artinya takdir yang bagus telah digariskan untuknya?
Sibuk dengan dirinya sendiri membuat Jaebum tak menyadari bahwa ruangan ini sudah hampir kosong. Hanya tinggal dirinya dan..
"Hey Jaebum! Aku sudah selesai, bisa aku pergi sekarang?" Ucap Mark yang sibuk memakai ranselnya.
"Tentu"
"Apa kau akan pergi juga?" Mark berhenti tepat di depan pintu. Menunggu jawaban Jaebum atas pertanyaannya tadi.
"Aku akan pergi sebentar lagi, aku sedang menunggu seseorang.." Jaebum melihat Mark mengacungkan satu ibu jarinya. Setelah anggukan mengerti Jaebum berikan, Mark mulai membuka pintu di depannya dan benar-benar meninggalkan Jaebum sendirian.
Arlojinya mulai menunjukkan pukul 6 sore. Pertanda Jaebum melewatkan kerja part time nya sore ini. Ah sudahlah, toh hanya sekali ini ia membolos, pikir Jaebum. Lagi pula kesempatan langka seperti ini tentu tak akan datang dua kali. Menunggu roll film pesanannya diantar oleh si manis yang sejak lama menarik perhatiannya terdengar seperti kesempatan 1 kali dalam 100 tahun masa hidupnya. Berlebihan? Oh tentu tidak jika kau tengah berhadapan dengan pemikiran tak rasional seorang pria jika jatuh cinta. Kasmaran bisa membuat siapapun menjadi konyol, bukan?
Lagi pula ada alasan lain selain menunggu pesanan yang dibawakan Youngjae. Yap! Jaebum menduga Youngjae sudah memikirkan penawarannya tadi siang. Jaebum akui penawarannya tadi siang er-tak senonoh untuk kesan pertama bertemu seseorang. Salahkan Youngjae sendiri yang selalu berhasil membuat Jaebum bergetar di dalam dirinya. Oh hanya karna memikirkan ucapannya sendiri tadi siang nyatanya mampu membuatnya gemetar. Gila! Jaebum tak percaya dirinya bisa segila itu.
Jaebum menepuk pelan kedua pipinya. Berusaha menjernihkan otaknya dari ucapan memalukan yang pernah terlontar dari bibirnya. "Tenang, Jaebum. Kau hanya mencoba membantunya! Dan mengajaknya bercinta tak serta merta membuatmu terlihat seperti seorang penjahat seks. Oh astaga!" Ucapnya menenangkan diri.
Terlalu banyak bicara membuat Jaebum haus. Youngjae juga belum menunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Ugh, lebih baik Jaebum mampir ke mini market untuk membeli beberapa kaleng soda untuknya-dan Youngjae tentunya.
Baru saja Jaebum meraih dompet miliknya dari ransel, sampai pintu ruangan yang bertuliskan 'dance practice room' itu terbuka dan suara teriakan seseorang terdengar mengagetkannya.
"YHA! JUNGHONG SIALAN!"
.
.
Youngjae tak percaya pada dirinya sendiri. Seingatnya, ia tengah tertidur di sofa sampai dering telpon dari seseorang yang mengaku sebagai sepupunya memintanya datang ke kampus, detik itu juga. Oh astaga, suara sialan tadi terdengar seperti si manja Junghong, dengan nada bentakan dan perintah yang ditujukan padanya. Youngjae berdecak sebal. Cih, apakah itu sikap yang baik untuk meminta pertolongan pada orang lain?
Taxi yang di tumpanginya pun berhenti. Tepat di gerbang Universitas yang sangat-sangat Youngjae kenali dari luarnya. Oh tentu saja, hampir kesehariannya di usia muda ia habiskan di tempat ini. Belajar, mengencani banyak gadis-oh maaf, abaikan kalimat terakhir.
Setelah memberi beberapa lembar uang, Youngjae melenggang santai memasuki gerbang besar. Meski hari hampir benar-benar gelap, toh tetap saja masih banyak yang berkeliaran disekitar kampusnya. Menenteng sebuah papper bag berwarna coklat, Youngjae menelusuri koridor utama guna menuju ruangan tempat biasa Junghong menghabiskan sorenya.
Dance practice room
Disinilah Youngjae berada. Tepat di depan pintu besar bertuliskan 'dance practice room'. Dihelanya nafas dalam, hah-menyusahkan. Youngjae melirik lagi papperbag di jinjingannya. Roll film? Untuk kelas menari? Apa Junghong bercanda? Untuk apa kelas menari membutuhkan sebuah roll film baru?
"Mungkin saja mereka menggunakan ini untuk film dokumenter. Dan yang pasti bukan Junghong yang akan jadi pemeran utamanya" Youngjae menertawai ucapannya sendiri. ia memutar pelan handle pintu di depannya.
"YHA! JUNGHONG SIALAN!"
Tanpa basa basi atau sekedar permisi sebagai tanda sopan, Youngjae memasuki ruangan. Terhentak ia melihat seseorang di penglihatannya. Im Jaebum? Untuk apa dia ada di tempat ini?
"K-kau?"
Yang ditemukan pun tak kalah terkejutnya. Jaebum mencoba bersikap acuh dengan keterkejutannya. Berdiri dengan pose andalannya-melipat kedua tangan didada, dan mendekat perlahan. Merasa tak nyaman dengan situasi mereka berdua, Youngjae mengambil langkah kebelakang.
"Oh, hai manis. Apa kau kesini memang untuk bertemu denganku?" Jaebum berpura-pura tak tau tujuan kedatangan si manis.
"Apa? Cih, untuk apa aku bertemu denganmu?" Ia berhenti tepat di depan pintu yang kembali menutup. Bersiap untuk tindakan pencegahan jika orang didepannya ini berani melakukan hal yang tak Youngjae inginkan.
Jaebum terkekeh melihat sikap awas si abu-abu. "Untuk apa? Ku kira kau menerima tawaranku siang tadi"
Youngjae merasa tersudut. Sial! Kenapa ia bisa bertemu lagi dengan orang ini? dan lagi, untuk penawaran memalukan itu jujur youngjae belum bisa memutuskannya. Apa Youngjae harus kembali menjadi dirinya dan mengencani gadis dengan kehidupan normal sebagaimana mestinya.
Atau.. mencari sisi lain kedalam dirinya sendiri? sisi tak normal yang mungkin saja bisa menunjukkan siapa dirinya.
Sebuah dilema ditengah kesempitan.
Menyaksikan Youngjae diam berperang dengan pemikirannya sendiri membuat Jaebum agak merasa bersalah. Mungkin Youngjae butuh waktu untuk penawarannya. Mengingat penawaran darinya mungkin saja-atau memang, bisa merubah hidup si manis ini kedepannya. Jaebum hanya bisa memberi sedikit solusi dari kegalauan Youngjae. Jaebum akui ia sudah gerah melihat cara berkencan Youngjae yang menyedihkan itu. Berkencan-berciuman-putus. Dari pada membuang waktu dengan ketidak pastian, lebih baik Youngjae benar-benar membuka hatinya untuk cinta yang sebenarnya. Cinta dari seorang Im Jaebum, pria asing yang menjadi bayangnya dalam diam.
"Letakkan saja papper bag itu di dekat pintu dan pulang. Hari sudah malam dan sepertinya Junghong tak akan kembali lagi kesini. Kalau begitu aku keluar dulu" Jaebum mendekati Youngjae yang masih tertunduk di depan pintu. Tangannya baru saja hendak meraih handle pintu sampai pergerakan cepat Youngjae padanya seperti mampu menghentikan eksistensi waktu. Dunia Jaebum terasa berhenti di tempat.
Bibir itu..
Terasa manis di bibirnya.
Bibir keduanya bertabrakan dengan lembut. Diam pada awalnya namun mulai berani bergerak, melumat pasangannya. Jaebum tak tau siapa yang memulai. Otaknya terasa terhalang kabut. Nafasnya berderu saling bersautan dengan lumatan yang mereka lakukan.
Keduanya terus melumat, menghisap dengan gigitan kecil yang tak terasa menyakitkan. Semakin berani dengan lidah yang merasa dominan menerobos masuk menginvasi setiap bagian yang disentuhnya.
Terbawa suasana Jaebum semakin menyudutkan Youngjae dengan buaiannya. Terhimpit antara pintu dan tubuh yang lebih tinggi darinya membuat nafas Youngjae semakin menipis. Ditambah cumbuan yang Jaebum lakukan-Youngjae mengeratkan peganannya pada bahu Jaebum.
Satu, dua detik, Youngjae bepaling hingga ciuman keduanya otomatis berhenti detik itu juga. Terlihat jelas si manis terengah dihiasi semburat samar di kedua pipinya. Oh seberapa besar usaha Youngjae menutupinya toh jarak antara wajah keduanya sangat dekat. Jaebum merasa jantungnya berdesir, begitu tau Youngjae tersipu karna ulahnya.
"Youngjae.." suara berat Jaebum terdengar, hingga atensi si manis tertuju padanya. Kedua pasang netra itu bertemu. Sempat terpejam namun indra penglihatan si manis kembali terbuka. Tersirat jelas dan tanpa keraguan Youngjae menatap Jaebum. Diiringi keheningan dan debaran entah milik siapa menggema di telinga keduanya.
"Youngjae.." ucapnya lagi. Agak khawatir mengingat Youngjae tak mengeluarkan suara sejak ciuman singkat mereka berakhir. Pegangan erat pada bahunya kini melonggar, dan tangan itu hilang dari tubuhnya.
"Kau melakukannya.." Lirih Youngjae.
"Melakukan apa?"
Youngjae menarik diri dengan tatapan masih berpusat ke depan matanya.
"Kau melakukannya, sunbae. Kau berhasil membuatku berdebar"
.
(to be continue)
.
My note:
Hallooo!
Blm ada adegan mesumnya ya disini, baru sekedar er-kisseu/? Kkk aku sebut youngjae si abu-abu karna disini, warna rambutnya lagi yang itu ya/?
Abu-abu gelap ada gradasi coklat+hitam gitu, aku pernah liat dan itu maannniiiissssss bbggttttt! Aawww my cutie pie youngjae-yaa~ kalau ga salah itu pas jamannya fanmeeting got7 di malay atau di singapore ya? Lupa -_-
Cie ada yang berhasil bikin my cutie pie berdebar XP kira-kira bakalan diterima ga ya 'tawaran' si leader jaebum? REVIEW XD
Oh iya, sekali lagi thanks ya yang udah review di chapt sebelumnya, ada yang belum aku bales lewat pm? Buat yg review ga pake akun, aku balesin review kalian mulai chapter depan, oke?
Ahgase, Review lagi ya? ;)
