-CHAPTER 2-


+NaruIno #TEGANG

By Akira

No Baka :P

-.-

JUST ENJOY IT

AND

HAYATI...

LAH

...

DON'T LIKE?

.

.

.

UDEH BACA AJA

TERLANJUR MASUK KAN?

#HOHO#

SEKALIAN RVW YAP...


Posisi mereka saling berhadapan, ketika ia mengamati pemuda di depannya yang bersender lemah di pohon. Ino merasa takut namun juga iba, melihat keadaannya yang sungguh memprihatinkan. Kemudian ia memberanikan diri untuk memulai percakapan dengan pemuda asing itu.

"Uh, umm… Hosh-hosh… kau siapa? Nama mu?" ucap Ino yang masih ngos-ngosan karena telah berjalan cukup jauh.

Pemuda bermata sapphire itu hanya balas melihat Ino dengan nafas yang tersenggal-senggal. Ia seperti sedang menahan rasa sakit dengan meringis kecil.

Naluri keibuaan Ino, sebagai gadis yang baik hati pun muncul ketika melihat banyak darah yang merembes dari bagian perut pemuda itu. "Ah, kau… kenapa tidak bilang kalau kau terluka, kalau aku tahu, aku akan mengobatimu dengan segera."

Ino pun beranjak dari tempat dukuknya dan menghampiri sang pemuda. "Ano, mari ku bersihkan dulu lukamu, kebetulan di dekat sini ada danau yang sangat bersih. Kita harus mensterilkan lukanya terlebih dahulu." Ucap Ino dengan mencoba menggeser tangan pemuda itu dari perut yang berlumuran darah.

"Cckkk…" decaknya. Pemuda itu kemudian diam, dan seperti menolak tawaran Ino untuk mengobatinya.

"Anoo, ayolah tuan muda kau-kau tidak usah sungkan begitu. Aku tidak akan menyakitimu, kalau dibiarkan kau akan mengalami pendarahan. Dan setelah itu kau bisa Ma-"

"Ahhh… Urusai…!" teriaknya. Lalu, pemuda yang masih tidak diketahui namanya itu dengan susah payah bangkit dari duduknya dan berusaha berdiri sekuat tenaga, untuk berjalan menjauh dari Ino.

"EH? Kau mau kemana? HEY, kau masih terluka parah…kau bisa ma-" tiba-tiba Ino pun menutup mulutnya. Ia berusaha mengendalikan kata-kata nya agar orang tidak tesinggung. "Huh, Ino… Omaewa Baka-ka. Kenapa kau bicara seperti itu pada orang yang hampir sekarat?"

Sementara pemuda itu, dengan langkah gontainya masih berusaha untuk meraih beberapa pohon rimbun sebagai alat bantunya untuk berjalan menjauh, sembari tangan kirinya memegang bekas luka yang semakin merembes mengeluarkan darah segar.

Ino ingin menghentikan pemuda itu, namun ia tahu kalau sekarang ia… "AH, astaga! Pesanan Bunga! Aku harus mengantarnya. Ta-tapi, aku tak bisa membiarkan nyawa orang melayang begitu saja. Ta-tapi, ini sudah jam? Kami-sama! Jam 5 sore… aduh, ibu pasti menghawatirkan ku." Ujar Ino, usai dia melihat jam yang ia bawa dalam bentuk liontin.

Ia pun menyadari kalu ini sudah sangat larut… ia kemudian melihat kembali kearah pemuda yang tadi sempat ia selamatkan. "Ah, ke-kemana pemuda itu? ce-cepat sekali menghilang? Apa jangan-jangan dia adalah…? I-ie, aku sempat menggotongnya jadi mana mungkin dia adalah hantu." Gadis muda itu sontak menggelengkan kepalanya cepat, kemudian ia mengambil beberapa bak bunga yang sempat ia biarkan, dan memutuskan untuk mengantarkan pesanannya terlebih dahulu.


(Di rumah Ino)

Terlihat seorang wanita paruh baya berjalan mondar-mandir, ia kelihatan cemas, sembari melirik jam yang ada di dinding ruang tamunya. Sudah dapat diketahui dari mimiknya bahwa ia sangat mencemaskan anaknya yang tak kunjng pulang. Padahal matahari sudah mulai terbenam.

"Ino… dimana kau? Seharusnya aku tidak menyuruh dia untuk pergi tadi… ini salah ku." Ucapnya sembari menggigit jari-jari kuku.

Kemudian ia duduk di sebuah kursi kayu sederhana, dan menatapi sebuah figura berisi foto seorang lelaki yang tersenyum ringan dengan rambut khasnya. "Inoichi… maafkan aku, ini salah ku. Anak kita belum tiba. Tapi setelah ia pulang aku berjanji, akan selalu menjaganya. Dan tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi."


"Tok-tok-tok! Permisi, bunga pesanan anda datang…" Ino mengetuk pintu kayu dengan gagang pintu khas jaman kuno, berbentuk sepatu kuda. Tak lama kemudian orang dari dalam rumah itu membuka pintunya.

"Ini, pesanan anda… maaf terlambat…" ucap Ino sembari membungkuk dengan menyerahkan beberaba baki bunganya.

"Ah, Ino-chan… kenapa kau lama sekali? Apa kau tersesat? Apa kau tidak ingat rumah ku lagi?" ucap client itu sembari memegang bahu Ino.

"I-ie, Oba-san… aku hanya memiliki beberapa kesulitan, tadi… kebetulan ibu memang menyuruhku agak sore untuk mengantarkan ini." Jawabnya dengan nada yang sopan.

"Oh, kalau begitu mampirlah dulu, kau bisa menginap semalam di sini…" tawar client itu dengan sopan. Sembari membayar uang pesanannya kepada Ino.

"Ah, haha… tidak usah, ibu ku sudah menunggu ku di rumah. Ia pasti sangat cemas, aku tidak mau membuatnya khwatir." Ino pun membalasnya dengan membungkukkan badan setengah.

"Oh, zanen desu ne… padahal kau bisa telpon ibu mu dari sini, dan bilang saja kalau kau menginap di sini semalam."

"Aah, ano… sekali lagi maaf Oba-san… etto- Ibuku sendirian dirumah, pasti dia sangat sedih… aku selalu menemaninya. Tak ada orang di rumah selain kami berdua." Ino menolaknya, dengan nada yang sopan sekali lagi. Kemudian ia mulai melangkah mundur sedikit, untuk beranjak. Karena hari sudah mulai sangat gelap sekali.

"Aduh, kau ini keras kepala juga. Hmm, asal kau tahu ya, gadis muda… di hutan sana jika jam 6 sore akan muncul suara-suara aneh seperti gonggongan serigala atau semacamnya. Kau pasti akan merasa sangat ketakutan, lebih baik kau tinggal di si_"

"Ahaha... Gomen nasai, Oba-san. Aku tahu, kalau itu sangat menakutkan… tapi, tak ada yang lebih ku takutkan lagi selain tidak bersama dengan ibu. Aku mohon permisi dulu..." setelah membungkukkan badan sejenak, Ino pun berlari dengan kencang untuk mengejar senja. Agar tidak terlalu gelap.

"Ah, haha… baguslah kalau begitu." Ucap wanita paruh baya itu dengan tersenyum licik. 'Berarti umurmu bisa lebih panjang lagi.' Batinnya.


...

Tak lama kemudian ia pun sampai di hutan lebat itu lagi. Tetap saja, ia gagal untuk mencegah hari menjadi malam dengan hanya berlari saja. Hasilnya, ia hanya menjadi ngos-ngosan sebelum ia sampai di desa seberang ketika ia bertemu pemuda asing itu.

"Ah, ia pemuda itu… dimana dia? Apa dia masih di sini? Atau jangan-jangan dia sudah ma-?" Ino kemudian teringan pemuda blonde itu. Namun, ia masih sangat khawatir tidak bisa pulang dengan cepat. Karena rimbunnya pepohonan hutan, membuatnya tidak dapat melihat dengan benar di langit yang biru gelap itu.

"Mungkin ini adalah keputusan terbodohku, karena aku tidak ingat sama sekali untuk membawa korek api atau lentera. Hosh-hosh…" kata Ino sembari ngos-ngosan.

"GRESSSEEK…! GRESSEK…"

"A-aa apa itu? Kenapa ada suara? Ah, mungkin itu hanya gemersik daun saja." Ucapnya, ia pun kembali melanjutkan perjalannan, dengan sesekali memicingkan matanya untuk melihat lebih tajam. Padahal, ia tahu itu tidak berguna.

"Aduh,,, ini benar-benar gelap, aku sudah tidak bisa melihat dengan jelas lagi. Terpaksa aku harus mencari kayu untuk meraba-raba seperti orang buta." Ino pun bergegas mencari patahan ranting pohon yang ada di sekitarnya untuk digunakan sebagai alat penunjuk jalan.

Tak lama setelah ia menemukan ranting itu…

"GGGRRRRRRRR…."

"AAAUUUMMM…"

"HAH? Si-siapa itu?" bulu kuduk Ino berdiri, ketika mendengar beberapa suara yang membuatnya merinding. Ino pasrah, ia harus melawan rasa takutnya di kegelapan sendirian, demi untuk menemui ibunya yang masih setia menunggu.

Tiba-tiba, suara yang tadi sempat ia dengar, semakin ia berjalan, semakin mendekati dirinya.

"GRRFFRR... GGGRRRGGRRR…"

"Yang benar saja, apa itu? Bola mata… astaga ku rasa aku akan mati." Yah, Ino melihat sepasang bolang mata kuning menyala di gelapan malam, dan suara menggeram serigala, dengan endusannya yang khas, seperti sudah mengenali bau mangsanya.


"Hiks… ini sudah jam 7. Apa yang harus ku lakukan?" ibu gadis muda itu pun terlihat sangat ketakutan, dan beberapa kali ia melihat jam dindingnya. Padahal ia sudah menyiapkan makan malam kesukaan Ino, yaitu kare.

"Baiklah, aku akan lapor ke tetangga desa... kami memutuskan untuk mencarinya bersama-sama. Tunggu Oka-san mu ini Ino…" wanita itu pun, mengambil obor di depan pintu rumahnya yang sudah tersedia, kemudian mencoba utuk menemui warga untuk meminta bantuan.


"GGGRRRRGG… GUKKK GUUKK!"

Gelapnya malam membuat Ino semakin ketakutan melihat sesosok serigala besar, yang semakin dibiarkan semakin menuju ke arahnya. Ino pun mundur selangkah, demi selangkah untuk menghindari serigala besar cokelat itu. Namun…

BRAAAK

"Aarrgghhh... " kakinya tersandung batu besar. Yah, batu besar. Ia ingat, ini adalah tempat terakhir kali ia menemukan pemuda itu. Kemudian ia mencoba meraba bagian dibelakangnya untuk meraih batu besar itu.

"GGGRRRRRRRHHHFFF... " serigala itu terus maju mendekatinya. Sedangkan dirinya saat ini sangat di ujung tanduk. Bisa-bisa kalau salah ambil langkah, ia akan kehilangan nyawanya, hanya dalam satu malam.

"Aarrrggghhh... Ino kau harus kuat mengangkat batu ini, lalu melemparkan pada binatang buas itu dan buat dia ketakutan." Dalam suasana yang meneggangkan itu Ino mencoba mengangkat batu yang sempat ia angkat.

BBRRRAAAKK!

"AAAUURRRFF…" batu itu berhasil ia angkat, namun tak mengenai serigala itu. Ia pun semakin mundur untuk menghindari serigala yang terus melangkah maju, mengawasi dirinya itu.

Ino tahu, kalau ia lari, sama saja dengan bunuh diri. Karena, langkahnya tidak sebanding dengan tuan serigala yang ada di depannya itu.

"Hikkss… A-aku mohon, kau jangan makan aku. I-ibu ku, menungguku di rumah, dia tak bisa hidup tanpa ku." Ucap Ino, tak terasa air mata menetes dari sudut matanya hingga mengalir ke pipi.

"GGGRRRAAUAUUGGGHH…"

'II-IIIEEE..."

TBC

*CURCOLAUTHOR : (hitungan)

OHOHOHO… harap dibaca dengan bahasa dan kalimat jepang ya.. biar terasa greget. SORRY BANYAK TYPO dan kepeleset kata dikit.

Eh, btw ini kek gimana ya… udah terasa belom gregetnya :v klo belum bilang aja ye. Biar ditambahin di chap berikutnya, klo bisa gwe update setiap minggu -_- mumpung lagi bosen. Ok bye, leave review…

R

E

V

I

E

W

Supaya gw tau kurang dan lebihnya dimana… jgn jadi silent reader doang, ntar jadi Valak lho mau? *_* (peace Lak…)

eh btw, emang Valak baca ffn juga? *Plak! Ok, let it go…