Chapter 3
+NaruIno #BAFER
By Akira
No Baka :P
-.-
JUST ENJOY IT
...
DON'T LIKE?
.
.
.
SUKA AJA KALI YA…
SUKA AJA YA… YA…
(Puppy eyes)
#HOHO# maksa
SEKALIAN RVW YAP.
…
BRRRAAAKKK!
DDAASSHHH
AAAUUFUFGHHH…
"PERGILAH TEMAN KECIL, SEBELUM KU BUAT KAU MENJADI SANTAPAN YANG LAINNYA." Gretak seseorang dari kegelapan.
"GGUUKK…GUUKK" seketika serigala jantan yang beringas itu, berubah menjadi anjing kampung yang penurut.
"Hikksss… i-ie, aku akan mati… aku pasti sudah mati." Ino, gadis itu masih menangis dengan menelungkupkan wajahnya, dengan red velvet yang ia gunakan sebagai pelindungnya.
"Hey, kau!"
"Ii-iee… pergi! Serigala … hiks, hiks…" Ino masih menelungkupkan wajahnya, dengan menangis dan tak mau melihat dirinya sendiri untuk disantap.
"Ini aku nona… baka…" jawabnya sembari memegang tangan gadis berkerudung merah itu yang tadinya Ino gunakan untuk melindungi dirinya sendiri.
"Ah? Si-siapa kau? Chotto… iris itu…" ia menyipitkan matanya kearah bola mata menyala itu.
"Hmm… berdirilah dulu, memangnya kau mau tidur semalaman di sini?" ucap pemuda itu dengan santainya.
Ino pun berdiri, sembari menatap pemuda di depannya. Pemuda itu, merasa risih melihat Ino terlalu intens menggunakan mata marine nya untuk menatap. Ia pun menyalakan sebatang korek api. Sebagai penerangan.
"Ini aku, yang kau selamatkan tadi sore." Ucapnya datar namun antusias.
"CHHOTTO! Bu-bukannya kau sudah ma-. Ta-tapi kenapa kau masih ada di sini?" Ino terlihat gugup dan juga sedikit tenang karena serigala itu sudah pergi. Namun, ia mulai berfikir yang tidak-tidak, ketika pemuda yang terluka parah kemudian muncul untuk mengusir serigala dengan tangan kosong, dan tiba-tiba memberimu korek api.
"Apa kau Ha-hantu?" Tanya Ino reflex, memundurkan dirinya selangkah namun masih menggunakan korek api sebagai penerangan.
"Ahahaha… itu konyol sekali nona. Kalau aku hantu, aku tidak akan memberimu korek api sekarang dan kalau aku hantu, aku akan bekerja sama dengan serigala itu untuk menjadikan mu makan malam." Jelas pemuda itu dengan tertawa renyah, sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"GLLEEK!" Ino menelan salivanya kemudian menghentikan langkah mundurnya.
"Aa-ano… Arigatou gozaimasu!" ucapnya spontan dengan membungkuk. Hal itu, membuat korek api yang ia pegang terjatuh, dan suasana sekitar menjadi gelap lagi.
"Ah, baka… kenapa aku menjatuhkan koreknya…" Ino pun kembali mencari korek itu di kegelapan malam, dengan berjongkok sembari meraba–raba daerah sekitarnya.
Seketika, ia tersentak ketika merasakan dinginnya sesuatu, yang berada di atas tangannya. Namun, ia bisa merasakan hangatnya sesuatu yang mengalir di dalam sana. 'Yah, mungkin itu adalah tangan pemuda ini.' Batinnya.
"Hmmm… apa yang kau lakukan.,, ini koreknya, kau seperti orang buta tau." Pemuda itu pun angkat bicara lagi, dengan memberikan korek yang sama yang sempat dijatuhkan oleh Ino.
"Ah, terimakasih. Kau sudah menolongku lagi, Ano-" Ino terdiam sesaat, seketika ia terpana melihat kedua iris pemuda dihadapannya yang begitu tajam dan menyala dalam gelap, seperti mata kucing. Walaupun ia tidak ingat betul rupa pemuda itu saat ini.
Pemuda itu balas menatapnya, kemudian melanjutkan pembicaraan. "Ku rasa, kau harus pergi dari sini. Aku akan mengantarmu keluar dari hutan ini." Ucapnya, kemudian berdiri dan disambut dengan anggukan kepala dari Ino, yang kebetulan sudah menyalakan korek api itu lagi.
Di tengah perjalanan, sungguh senyap. Namun anehnya, suara–suara seram itu tidak lagi terdengar, ketika ia bersama pemuda itu. Yah, ia baru menyadarinya.
"A-ano, ku rasa kau butuh korek untuk melihat jalannya." Ucap Ino berusaha untuk membuka percakapan terlebih dahulu di suasana yang hening itu.
"Tidak usah, mata saja sudah cukup untuk ku melihat. Lagi pula, kalau terlalu banyak penerangan, kau akan menarik perhatian para pemangasa di sini." Jawab pemuda itu dingin.
"Ah, souka… gomen…" Ino menurutinya, kemudian tak sengaja ia tersandung sesuatu lagi.
"Aaww, i-ttai…"
GGRREEB! Pemuda itu reflex langsung memeganginya agar tidak terjatuh. Karena di sana sangat gelap, sulit untuk mencari seseorang jika ia terpisah. Walau hanya satu meter sekalipun.
Sekali lagi, mereka bertemu pandang. Membuat semburat merah muncul dari wajah Ino. Namun, dia yakin pemuda itu tidak akan melihat rona dipipinya, karena memang betul gelap. Hanya bulan, yang memberikan pencahayaan ala kadarnya.
'Ada apa dengan wanita muda ini? Apa dia sakit?' batin pemuda itu. Tentunya ia bisa melihat dengan jelas, karena matanya itu.
"Kau baik-baik saja?" lanjutnya, dengan balas menatap Ino.
"Ba-baik, aku baik-baik saja. Sekali lagi maafkan aku… aku tidak berhati-hati." Ino pun bangkit untuk berjalan. Dan sedikit meringis, mereka pun lanjut berjalan dalam kegelapan.
Beberapa meter, dari Ino terjatuh ia pun menepuk jidatnya. "A-astaga… aku lupa, kalau tadi aku menjatuhkan korek apinya."
"Hah? Huft… yang benar saja kau ini… kenapa sampai seceroboh itu?" balas pemuda itu dengan menghentikan langkahnya, melihat kearah Ino.
Beberpa detik…
Ino hanya terdiam, dan menunduk. "Aano… hiks,,, ma-mafkan aku. Aku memang ceroboh, hiks…" ia sedikit terisak.
"Eh? Kau menangis? Kenapa? Ah, ayolah… tidak masalah, aku hanya berkata begitu. Apa kau tersinggung?"
"Hiks… tidak, aku hanya rindu ibuku. Maksudku, kata ibu jangan sampai menyusahkan orang. Ta-tapi aku…"
"Ah, sudahlah… kalau begitu kau berpegangan padaku saja, untuk keluar dari hutan ini. Ayolah…" Pemuda itu pun mengerahkan lengan kekarnya ke arah Ino. Namun, Ino tidak menyambutnya.
"Baiklah, kau harus segera keluar dari sini, sebelum tengah malam." Ucapnya yang langsung menggandeng tangan Ino dan mengajaknya terus berjalan.
"Ah, Ha-hai… maaf telah menyusahkan mu." Ucap ino dengan mengakhiri isak tangisanya.
…
"TOK… TOK!"
(suara ketukan pintu)
CLEK…
"Ah, Yamanaka San… Nande?"
"A-ano… aku ingin meminta tolong kepada mu Iruka sensei. Ino-chan menghilang, ia belum juga pulang dari jam 4 tadi." Ucap wanita paruh baya itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ha? Benarkah? Kau yakin dia tidak ada di sekitar desa ini?" Tanya pria itu kemudian diiringi dengan keluarnya istri si pria bernama Iruka itu dari balik pintu rumahnya.
"Hai, aku yakin. Karena waktu itu aku sempat menyuruhnya, mengantarkan pesanan ke client desa seberang." Jawab ibu Ino dengan wajah yang sangat ketakutan.
"Yamanaka-san, daijobou… Iruka-san akan memberitahukan warga setempat untuk mencarinya." Balas Kurenai, berusaha menenangkan wanita yang terihat sangat cemas itu sembari memeluknya.
"Ah, baiklah. Aku akan memberitahukan warga desa dulu." Iruka pun bergegas, keluar dari rumahnya dan memberithahukan kepada warga desa setempat.
"Hiks… Ino-chan… aku sangat mengkhawatirkan mu."
"Te-tenanglah Yamanaka-san. Ino akan baik-baik saja, kau disini saja bersamaku. Sementara para pria akan mencari keberadaan Ino."
…
Sudah cukup, jauh mereka berjalan. Pemuda sapphire itu terus menuntun Ino dengan lengannya menuju jalan agar bisa bebas dari hutan terlarang itu.
Ino merasa sangat penasaran, dengan mencoba bertanya sesuatu pada pemuda itu. "Ano… aku ingin bertanya, kenapa tadi serigala itu dapat melihat ku. Padahal aku tidak menimbulkan bunyi sama sekali."
Hening sejenak. Pemuda itu menatapnya."Kau… velvetmu itu, sangat menganggu." Jawabnya datar.
"A-apa? Maksudmu velvet ini? Hey, ini adalah pemberian ayahku yang sangat berharga." Nada Ino seketika meninggi, ketika pembahasan menyangkut tentang velvet yang ia kenakan. Ia memang sedikit sensitive jika disinggung tentang hal itu.
"Maaf saja, tapi itu terlalu cerah untuk dipakai pada malam hari di tengah hutan seperti ini. Asal kau tahu, itu akan mudah bercahaya di mata hewan buas dan makhluk lainnya. Lebih baik kau lepaskan itu, agar serigala lain tidak muncul kembali." Jawab pemuda itu dengan jelas, kemudian menghentikan langkah kakinya lagi sejenak.
"Baiklah, kalau begitu." Ino pun dengan berat hati sengaja melepaskan velvetnya dan melipatnya lalu menggenggamnya di tangan, agar terasa hangat.
…
(Few Hours Later)
"Hmm, apa kita sudah sampai? Apa masih jauh lagi?" Tanya Ino sembari melangkah dengan hati-hati.
"Yah, sedikit lagi kita akan segera sampai. Kau jangan cemas, kita akan segera keluar dari sini." Ucap pemuda itu sembari melangkahkan kakinya menuju jalan yang lumayan terlihat terang dari sebelumnya.
"A-ano, tapi kenapa ya. Terasa sangat jauh sekali pada malam hari. Padahal, waktu siang hari tidak begini." Ino pun kembali membuka pembicaraan.
"Pppsssttt... kau jangan berbicara seperti itu, ini adalah trik mereka untuk memperbanyak mangsa. Dan seharusnya kau tidak bicara terlalu keras." Jawab pemuda itu, dengan meletakkan telunjuknya ke bibir Ino sembari berjalan.
"Ma-maksudmu? Maaf… Tapi, ini sungguh terasa lama. Apa kau memang tahu jalan keluarnya?" Tanya Ino dengan berpegangan semakin erat pada pemuda itu. Karena cuacanya semakin lama semakin dingin.
"Yah, kau tenang saja… ngomong-ngomong kenapa kau harus kembali lagi ke sini? Kenapa tidak tinggal semalam saja di desa seberang?" Tanya pemuda itu kembali.
"Ah, apa aku benar salah dalam mengambil keputusan untuk tidak menginap semalam di sana." Jawab Ino, kembali menatap mata sapphire itu dalam gelap dengan penuh harap.
"Ahaha… tidak-tidak, keputusan mu itu tepat. Lagipula desa itu tak baik untuk gadis seumuran mu." Pemuda itu kemudian mengalihkan pandangannya dan berjalan lebih cepat dari sebelumnya, hingga Ino juga ikut berjalan cepat.
"Maksudmu? Apa aku-?"
"Sudahlah… Itu tidak bagus untuk dibahas. Lebih baik kau, percepat langkah kakimu itu agar lekas sampai." Ucapnya datar, Ino kembali mengangguk dan mempercepat langkah kakinya dua kali lipat.
GGGGRRRRRR… (suara dari belakang mereka)
…
Secercah cahaya mulai menerangi mereka, sekarang Ino bisa melihat dengan normal. Tanpa adanya gangguan dari pepohonan yang sangat rimbun. Ia mulai menyeringai, ternyata ia bisa mempercayai pemuda itu.
"Ahaa… ini benar terlihat jelas sekali, kau benar kalau tahu jalannya." Ucap Ino ia pun kembali menatap pemuda di sampingnya.
Ia tersentak, ketika melihat mata sapphire itu lagi. Terggorokan nya terasa tercekat ketika ia mencoba mengutarakan terimakasih kepada pemuda itu. Ia hanya dapat terpana dan membisu, ketika indahnya iris sapphire itu yang masih setia bersinar tajam di bawah remangnya bulan sabit. Sekarang ia bisa melihat, wajah pemuda itu sangat dekat di sampingnya.
Kulit nya berwarna tan. Tentunya iris sapphire itu dan rambut blonde, yang sebenarnya jarang ia temukan di beberapa orang setempat, dan bibir tipis yang diam biasa. Namun, pesona keindahan itu dapat mengundang lawan jenisnya untuk meraihnya. Serta alis yang sedikit tebal menukik ketika pemuda itu mengernyitkan jidatnya melihat ekspresi gadis muda di hadapannya yang tiba-tiba membisu. Setelah sekian perjalanan terus berbicara.
"A-apa ada yang salah? Apa aku terlihat menyeramkan?" Tanya-nya dengan ekspresi bingung.
Ino tersentak, kemudian melepaskan genggaman tangan nya dari lengan pemuda itu. "Ah, ahaha... ti-tidak… aku hanya, aku… Oh ya, bagaimana luka di perutmu apakah sudah sembuh?" Ia mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik lainnya. Walau semburat di wajahnya belum hilang dengan sempurna.
"Ya, aku baik-baik saja…" jawab pemuda itu singkat padat dan jelas.
"Uh, bagaimana kau bisa bertahan dengan darah yang waktu itu. Menurutku sangat banyak kau keluarkan? Dan seharusnya kau sudah ma-" Ino mencoba bertanya lebih serius. Namun, ia menghentikan ucapannya lagi.
"Yah, aku tidak akan mati dengan hanya pendarahan biasa. Dan, kau mestinya tidak mengucapkan kata mati semudah itu. Kau tidak pernah tau, bagaimana rasanya mati. Hanya mudah mengucapkannya, tanpa tahu rasa yang akan kau derita." Pemuda itu lalu terdiam, namun matanya yang menawan itu masih menatap Ino dengan seksama, membuat gadis muda itu merasa bersalah atas apa yang telah ia katakan. Ino menunduk tak berani menatap mata lawan bicaranya itu.
"Ah, baiklah ku rasa ini sudah cukup. Kau tahu jalan ini kan?" Tanya pemuda itu lagi.
"Ya-ya, tentu saja. Ini jalannya." Jawab Ino dengan sedikit terbata. Posisi mereka saat ini berhadapan. Ino di depan jalan masuk desanya, sedangkan pemuda itu di depan hutan.
"Hmm. Baiklah, aku akan pergi. Sebaiknya kau lekaslah pulang. Ini sudah jam 8."
"Ya… Eh, tapi bagaimana dengan mu? Apa kau?"
"Hmm… sudahlah, rumah ku tak jauh dari sini. Tak apa."
"Oh, hmm… kalau begitu hati-hati…" ucapnya, kemudian membalikkan badannya ke arah yang berlawanan. Seketika langkahnya terhenti, ia ingat akan suatu hal.
"Eh, tunggu… si-siapa nama-?" Ino berbalik, namun dibelakangnya nihil. Apakah ia sedang bermimpi? Itu membuatnya merinding sejenak. Tapi, ia yakin kalau yang ia lihat barusan itu adalah asli.
"Ccckk… masa bodohlah dengan apa yang ku alami malam ini. Ku rasa aku harus segera pulang menemui ibu, ia pasti ketakutan setengah mati." Ino pun bergegas dengan berlalari kencang, keluar dari perbatasan anatara hutan terlarang dengan desanya itu.
TBC
*CURCOLAUTHOR :
OHOHOHO… gak kerasa udah update aja nih fic. Eh, gimana nih? Kerasa gak bafer nya? Wkwkwk… author abal ini ingin bertransformasi membuat fic romance. Kalau gak cocok, T_T apalah-apalah daya ku?
Tolong beri masukkan ya…. Biar ditambahin di chap berikutnya, update masih tiap minggu -_- mumpung lagi bosen. Ok bye, leave review…
R
E
V
I
E
W
Hoho… dalam rangka menjalin silaturahmi, gw bakal reply aja nih review 1 by 1. Mayan lah… buat nambahin words. (Kurang kerjaan)
CEKIDOT :
Ryuui Momochi chapter 2 . Jun 19
lanjooot :'v
RE : yup, ni dah kok…
xoxo chapter 2 . Jun 19
greget ko tapi kurang begitu sih ehehe
but seruuu nih! lanjut lagi yaapp
RE : wiss... dah greget? But, apa lagi yg perlu ditambahin Xo? Eh, gw manggilnya apaan nih? Asyikk… dibilang seru. XOXO (peluk) #plaak…. Abaikan
Shinji gakari chapter 2 . Jun 19
0kkee lanjooot!
RE : ok! Ini dah lanjooot Nji…:p
rohimbae88 chapter 2 . Jun 19
ok next senpai. klo perlu update entar subuh biar greget
RE : Yo! Thanks Rohim masukkan nya… emang subuh adalah waktu paling pas datangnya Inspirasi, dan yang paling penting adalah jaringan cepet #Waaakksss!
Fina chapter 2 . Jun 19
Serigala itu naruto kn? Trus yg wanita mesan bunga ino jahat y kykny, msh byk misteri dan ditunggu updateny
RE : siapa Fina saya? Abang serigala itu yah… Ah, pasti udah kejawab kan di chap. Ini ? Yup! Emang masih banyak sekali misterinya. (Ampe gw bingung ngaitinnya -_-) ok baca terus ya say… #plaak-kek org jualan aja.
varsyi dobe chapter 2 . Jun 20
Type your review tor yg cpet ya
RE : Hoho… ketahuan gw. Lo rvw lewat *pera khan? Sebab gw juga make… U.U #Waakss. Ngapain coba Vars cepet-cepet? Emang lu kebelet boker? *peace…
Ya lah, ini dah update. Ikutin terus yah Vars… 0.0
Maklum ya... Author ini baru aja bebas dari RSJ. Jadi agak SKSD. :o
Udah ketahuan dari pen-name gw kan?
Ala-ala gitu, ala kadarnya XD
WARM REGARDS TO EVERYBODEH
:*
(nie Author lebeh amet -_-)
