Chapter 4

+NaruIno #SECRET

By Akira

No Baka :P

-.-

JUST ENJOY IT

...

DON'T LIKE?

.

.

.

JUST READ IT!

#HOHO#

SEKALIAN RVW YAP...


Sedangkan dilain sisi, para warga desa sedang ricuh mereka berkumpul di pusat desa dengan membawa lentera masing-masing. Malam hari yang seharusnya sepi kini digantikan oleh suasana yang ramai, beberapa ibu bergosip tentang ada apa gerangan mereka dikumpullkan pada pukul 20.00 waktu setempat.

"Mohon semuanya bersikap tenang dulu." Ucap salah satu pria yang memiliki jambang di wajahnya.

"Sebelumnya, saya berterimakasih banyak kepada warga desa karena telah berkenan untuk berkumpul disini." Lanjutnya dengan isyarat menenangkan mereka, dengan suara yang lantang.

"Aku, Iruka-sensei. Hanya ingin memberitahukan, bahwa anak dari Yamanaka-san telah hilang saat pukul 4 sore dini hari." Ucapnya, masih dengan suara yang agak keras. Sementara beberapa warga berbisik dan mulai ricuh kembali.

"Ya, dia menghilang. Hingga saat ini belum ditemukan. Aku juga sudah menanyakan beberapa anggota keluarga, bahwa benar tidak ada Ino Yamanaka yang bermain ke rumah mereka." Salah satu warga membenarkan ucapan Iruka sensei.

"Iya, dia tidak ada di rumah siapapun." Teriak salah satu pria dari kejauhan.

"Hmm… maka dari itu, dengan amat sangat. Aku memohon pada kalian untuk berpartisipasi mencari anak satu-satunya ibu ini." Ujar Iruka sembari menunjuk wanita paruh baya di sampingnya yang sedang berlinang air mata.

"Tunggu! Sebelum kita mencarinya, kami harus tahu dulu kemana sebelumnya ia pergi." Ucap salah satu warga dengan menunjuk tangan.

"Ah, ya kau benar… Nah, Yamanaka-san apa kau ingat dimana terakhir kali kau menyuruhnya?"

Kata pria itu lagi, menanyakan nya pada ibu Ino.

"Hiks… terakhir pada jam 4 sore, saya menyuruhnya untuk mengantarkan bunga ke desa seberang. Dan-"

"Apa? Desa seberang? Hmm… berarti anak mu melewati hutan terlarang itu?" Tanya salah satu warga desa.

"Ya-ya."

"Astaga. Mustahil sekali jika anakmu itu bisa selamat." Lanjut salah satu orang lagi menyambung kalimat temannya.

"Ya, benar itu…" kata warga desa serempak.

"Arrrhh, hiks… hiks…" wanita itu pun mulai menjadi-jadi tangisnya, sementara Kurenai terus saja menenangkan janda bernak satu itu.

"Heh, sudah-sudah. Kenapa kalian semua berfikiran negative seperti itu. Aku hanya meminta bantuan kepada kalian saja untuk mencari bukannya membuat ibu ini tambah bersedih."

Ucap Iruka dengan nada suara yang semakin meninggi.

Seketika warga desa pun terdiam beberapa detik, mereka saling berpandangan satu sama lain.

"Ya sudah, jika memang hal itu terjadi. Setidaknya kita harus temukan jasadnya." Lanjut Iruka dengan nada yang bijak.


TAAP TAPP TAPP…

Sedangkan dari kejauhan terlihat sesosok gadis remaja dengan rambut pirang yang sedikit acak-acakan sembari membawa red velvetnya yang masih setia di tangan. Langkah kaki yang sebelumnya cepat, kini semakin melambat. Ketika banyak sekali warga setempat yang berkumpul di sana saat malam hari.

"A-ada apa ini." Ucapnya pelan. Ino yang merasa sangat bingung pun segera melangakahkan kakinya ke dalam kerumunan itu, sembari menengok dengan menjinjitkan kaki mungilnya yang masih muda itu.

'Ku rasa aku harus bertanya saja.' Batin Ino. Sedangkan para warga itu, tidak menyadari sama sekali kehadiran gadis yang sedang mereka cari itu.

"Ano, permisi paman… ada apa sedang ribut?" Tanya nya dengan menepuk pundak seorang pria yang ia sebut paman itu.

"Ya, ini kami sedang mencari anak janda yang hilang itu." Ucapnya datar, menengok sekilas kearah sumber suara dan lanjut focus ke depan.

"Hah? Anak janda?" Ino mengernyitkan alisnya menunjukkan ekspresi bingung yang berlebihan.

"Ya, dia itu bernama Yamanaka…" ucap paman itu sembari menengok Ino lagi dan mememelankan suaranya.

Hening beberapa detik, ia melihat hal yang sangat nyata.

"Yaaaiiikkksss I-Ino… Hantu…." Teriaknya, ketika menyadari kehadiran gadis pirang itu sepenuhnya berada di sampingnya yang sedang serius mendengarkan intruksi dari Iruka sensei.

Orang itu lari terpontang panting melihat Ino yang memang lumayan pucat, karena melewati dinginnya malam tanpa red velvet kesayangannya itu.

Mendengar teriakan salah seorang pria yang begitu keras, membuat semua warga yang berkumpul refleks menengok ke belakang.

"Ah, Ha-hantu…" teriak salah satu warga lagi yang masih berada di belakang. Dan seketika beberapa warga menyadari kehadiran gadis muda itu, yang mereka respon dengan suasana ricuh.

Mendengar hal itu, nyonya Yamanaka segera menghentikan tangisnya dan berbalik melihat kearah gerombolan manusia yanga berlari ricuh meminggir ke rumah mereka masing-masing, dan membuat Iruka berteriak semakin keras untuk membuat mereka tetap tenang.

Namun hal itu sia-sia, suasana semakin menjadi ketika beberapa wanita setempat berteriak histeris melihat kehadiran gadis belia pucat di hadapannya. Barisan para warga desa yang awalnya tertutup dan sempit. Kini mulai terbelah di tengah-tengah, sehingga menyebabkan Ino terlihat jelas oleh orang yang sedang memberikan intruksi.

Melihat pemandangan di depannya, meskipun jauh. Seketika pupil nyona Yamanaka itu membulat, dan segera berlari menuju ke arah gadis yang sedang berdiri di tengah kerumuran. Yang mana gadis itu masih sangat kebingungan akan situasi yang sedang menimpanya.

"Haaa… Ino-chan." Teriaknya.

TAP TAP TAP…

"Hiks, hiks, hiks… kemana saja kau nak. Ibu sangat ketakutan jika terjadi sesuatu padamu." Wanita paruh baya itu pun menciumi dan memeluk anak itu dengan kasih sayang seorang ibu.

"I-ibu aku baik-baik saja. Sudah ku bilang ibu jangan sering menangis, nanti penyakit ibu bisa kambuh." Ucap gadis belia itu, sembari merasakan peluk cium dari sang ibu.

"Eh, dia itu hantu Ino kan? Dia baru saja mati kan? Lihat bibir dan kulitnya yang sangat pucat." bisik salah satu warga desa. Mereka memang jarang, melihat Ino melepas velvetnya. Sehingga mereka tidak tahu persis warna kulit Ino yang memang pucat asli. Ditambah lagi hawa dingin yang sangat menusuk di hutan itu.

"I-ino-chan, kenapa kau dingin dan pucat sekali." Tanya ibu Ino, melepaskan pelukannya kemudian memandang anaknya itu dengan prihatin.

"Ti-tidak bu, aku hanya kedinginan saja." Ucap Ino singkat, dengan ekspresi yang masih sangat bingung menanggapi sikap ibunya yang cemas berlebihan itu kepadanya.

Iruka dan Kurenai pun bergegas, menemui kedua orang itu. Terutama Iruka, yang terlihat sangat antusias menyambut kedatangan Ino. Ia kemudian menghentikan nyonya Yamanaka itu sejenak, untuk terlalu mendekat kepada anaknya.

"Tunggu Yamanaka-san. Kita harus memastikan bahwa dia benar Ino." Ungkapnya sembari menghalangkan tangan kanannya diantara ibu dan anak itu. Yamanaka pun tersentak, ketika menyadari hal yang Iruka lakukan barusan.

"Ti-tidak, dia benar anakku Ino." Elaknya, dengan nada menolak yang masih berlinangan air mata.

"Yamanaka. Kau tidak mau hal itu terulang kembali bukan? Kau sudah mengetahui hal ini bukan?" ucap Iruka dengan nada yang tegas. "Kita tidak tahu, apakah mereka mengirim ini, untuk melanjutkan kutukan." Sambungnya.

Tanpa basa-basi ia pun langsung mengambil tangan gadis muda itu, seperti mengecek detak nadinya. Kemudian berpindah ke leher pucat Ino. Dan terakhir adalah nafas hidungnya.

Iruka terdiam sejenak, dan melepaskan genggamannya. Namun ekspresinya masih seperti menunjukkan 'Bagaimana mungkin?' lalu melanjutkan, "Ya, dia anakmu." Ucapnya.

"Ah, Ino-chan sayang. Maafkan ibumu ini… nak." Tangis ibunya dengan memeluk anak satu-satunya itu lebih erat lagi.

"Mungkin dia hanya kedinginan." Sambung Iruka.

"Ya, ayo kita pulang nak. Terimakasih banyak kalian semua, terimakasih banyak telah membantu, dan Iruka-san kami sangat terbantu Kurenai-san juga." Wanita paruh baya itu membungkuk, memberikan ucapan terimakasih di tengah-tengah desa kepada seluruh penduduknya.

Iruka dan isterinya hanya merespon ucapan wanita paruh baya itu dengan tersenyum ringan. Kemudian mempersilahkan mereka untuk pulang ke rumah. Sedangkan warga desa masih dilanda rasa penasaran dan ketakutan. Karena mereka belum yakin penuh bahwa gadis muda itu adalah Ino yang selama ini mereka kenal.

Usai kejadian itu, Iruka pun menyuruh mereka pulang ke rumah masing-masing, tanpa harus mengingat kejadian malam itu lagi. Dia hanya berpesan untuk lebih berhati-hati serta menjaga anggota keluarga mereka masing-masing, serta tidak berbuat lalai.


(Kediaman keluarga Yamanaka)

Ketika kejadian malam yang penuh duka itu. Yamanaka sebagai seorang ibu pun dengan sangat panik menyiapkan air hangat untuk anaknya mandi, serta memanaskan makanan yang sudah dingin itu.

Kemudian mereka berbagi tempat tidur disamping anak kesayangannya. Ino pun masih terlihat sangat bingung, ketika ibunya yang biasa-biasa saja berubah menjadi sangat posesive terhadapnya. Mereka pun berpelukan dalam tidur, Ino mulai hanyut dalam butir-butir kegelapan yang kemudian berubah menjadi mimpi.

Di padang yang sangat luas nan hijau, udara terasa sangat sejuk dan dingin. Ia melihat banyak pepohonan tumbuh di sana sangat bagus dan menenangkan. Rumput-rumput hijau pun bergoyang ditiup sepoian angina sore.

Ia berdiri di suatu bukit, entah sedang menunggu apa. Tapi ia hanya tahu kalau dirinya-Yamanaka Ino sedang berdiri di sana, mungkin saja hanya untuk menyaksikkan pemandangan nan sangat indah itu. Ia bisa merasakan udara sejuk ketika dirinya merentangkan kedua tangan guna merasakan belaian angin dan mengirup udara segar yang tak pernah ia rasakan itu dengan mata tertutup.

Beberapa detik kemudian ia membuka matanya. Di sana terdapat banyak orang yang sedang asyik bermain dan berkumpul bersama keluarga mereka. Melihat kedamaian itu membuat Ino tersungging kecil dan ia pun mengeok kesebelahnya lagi. Ketika tak sengaja, ia mendapati seorang anak kecil blonde merunduk bersedih di bawah pohon rindang yang sudah tua.

Ino merasa sedih, jiwa keibuannya mulai bertanya-tanya mengapa anak kecil itu menangis sendirian, sedangkan yang lain tertawa bahagia bersama orang tua mereka.

"Hiks…Hiks…" anak laki-laki itu terisak kecil, Ino dapat medengarnya dengan jelas. Karena merasa iba, ia pun menghampiri anak itu dan berniat menanyakan apa gerangan yang membuatnya menangis. Beberapa langkah lagi ia mulai menyentuh anak laki-laki itu. Namun…

BRRUUUSSHHH…

Seketika tanah yang ia pijak, tersedot masuk ke dalam lubang hitam dan…

KKRRRIING!

KKRRRIIING!

Alarm pagi membangunkannya. Ino masih bisa merasakan sejuknya hawa dingin pepohonan itu. Tapi yang paling menegangkan, ia dapat merasakan detak jantungnya yang berdegup semakin kencang serasa habis lari dikejar serigala. Ya, ia masih mengingat serigala itu, dan pastinya pemuda yang telah berjasa menyelamatkan nyawanya dari hutan terlarang.

Alhasil paginya, Ino terbangun lebih awal. Ia masih terlihat ngos-ngosan mencoba menetralisir detak jantungnya. Dan segera ke dapur untuk mengambil ari putih. Saat itu, Ino sudah melihat ibunya dengan keringat yang menetes sedang memasak dan memotong sayuran di dapur.

Ia hanya terdiam, sembari meneguk satu gelas air putih. Kemudian hening sejenak, mungkin ia tahu kalau ibunya belum menyadari kehadiran dirinya di dapur itu.

Ketika sang ibu ingin mengambil bumbu masak yang lain di dekat ino mengambil air putih, ia pun baru menyadari kalau putri sematawayangnya itu telah bangun lebih awal dari hari biasanya.

"Eh, Ino-chan… kau sudah bangun ya." Ucapnya sembari tersenyum ramah kearah Ino.

"I-iya oka-san. Apa yang oka-san lakukan pukul enam pagi begini? Bukannya oka-san baru memasak pada jam tujuh?" Tanya Ino dengan wajah yang sangat polos.

"Ahaha… tidak, memangnya oka-san tidak boleh bangun lebih awal ya untuk menyiapkan sarapanmu sayang?" Tanya ibunya itu dengan nada penuh kasih sayang.

"I-ie, hanya saja aku terkejut." Balas Ino sembari memegang gelas air putihnya.

"Heh? Uh, tapi jadinya ketahuan deh, padahal oka-san ingin menyiapkan makanan special untuk hari ulang tahunmu." Lanjut ibunya itu dengan masih tersenyum sembari memotong beberapa daging.

"O-oka san, bukannya hari ulang tahunku 5 hari lagi?" sontak saja Ino membulatkan pupilnya..

"Hehe… kau ini. Lebih cepat lebih baik, kan? Belum tentu ibu akan membuat daging seenak ini lagi untuk kedua kalinya." Wanita paruh baya itu masih menanggapi pertanyaan puterinya itu dengan senang hati.

"Oh… hai." Ucap Ino, kemudian hening lalu meletakkan gelas yang ia minum.


Ketika jam tujuh pagi Ino dan Ibunya telah usai sarapan, ia pun kemudian mencuci piring-piring bekas makanan. Lalu langsung saja Ino menuju ruang tengah untuk merangkai dan menyusun beberapa karangan bunga yang akan dikirim lagi beberapa hari nanti.

Dengan senang hati, ia tersenyum ketika merangkai Bungan tulip dan mencium harumnya yang semerbak. Terkadang ketika stok bunga di toko mereka habis, ia bersama ibunya pergi ke padang bunga di dekat bukit. Ino sangat senang setiap kali berkunjung kesana.

SSRREEEKK (bunyi pintu digeser)

"Hei, Ino-chan. Kau terlihat sangat senang hari ini." Tegur wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dapur tempat mereka makan.

"Ah, hai oka-san. Bunga ini terlihat indah sekali hari ini." Jawab Ino, menengok sejenak pada ibunya lalu melanjutkannya untuk merangkai.

"Heh, aneh sekali. Bukannnya setiap hari kau bertemu dengan bunga-bunga itu." Ujar nyonya Yamanaka, ia melapkan tangannya yang basah ke clemek memasaknya lalu melepaskan clemek itu.

"Hmm… tapi entahlah. Hari ini sungguh berbeda." Ino masih fokus pada rangkaiannya agar terlihat indah dan rapi.

Ibunya membuka lemari mengambil velvet Ino dan beberapa peralatan untuk menjahit. Lalu wanita paruh baya itu pun duduk di kursi goyang di depan Ino yang sedang sibuk mengurus bunga.

"Ino, kau ini… apa saja yang kau lakukan, sampai-sampai velvetmu ada yang sobek?" ucap wanita itu seraya memasukkan benang berwarna merah ke dalam jarum.

"Huh?" Ino menengok. "Benarkah oka-san? Aku tak menyadarinya." Lanjutnya.

"Ya, tidak apa-apa. Tapi tetap saja kan, kau harus menjaganya dengan baik." Wanita itu kemudian mulai menjahit beberapa sobekan yang menyebabkan kain merah itu sedikit bolong.

"Ya, oka-san aku tahu. Apalagi itu adalah pemberian Tou-san." Jawabnya, muka Ino kemudian berubah menjadi sedikit sedih.

"Hai-hai… sebenarnya velvet ini oka-san yang membuatnya. Tapi, tou-san mu yang mencurinya untuk diberikan kepadamu. Hehe…" jelas ibunya, dengan terkekeh kecil.

"Huh? Benarkah? oka-san pasti bohong. Kata mendiang tou-san, dia yang membelinya untuk ku di toko sebelah." Ino mengerucutkan bibirnya bak anak kecil.

"Hehe… ya oka-san mengerti, tidak apa-apa kalau tidak percaya." Ibu Ino lalu melanjutkan kegiatan menjahitnya lagi.

"Hmm… ya sudahlah, toh jadinya kan itu juga dari kalian berdua." Ino pun kembali melanjutkan pekerjaan menyusun bungnya dengan senyum ringan.

"Hmm…" jawab wanita paruh baya yang kini tinggal sedikit lagi menyelesaikan jahitannya.

"Anno, ngomong-ngomong oka-san…?" Ucap gadis itu dengan nada bertanya, tapi pandangan matanya masih terarah pada bunga yang kini sedang ia satukan.

"Huh?" ibu dari anak tunggal itu menengok setengah ketika putri kesayangannya menggantungkan kalimatnya.

"Apa maksud dari warga desa tentang kutukan itu? Kutukan apa yang mereka maksud?" Ino mengalihkan pandangannya pada wanita paruh baya itu.

"Uhuk…" seketika wanita itu tersedak. "Bukan apa-apa sayang, mereka hanya terlalu cemas ketika kau menghilang." Lanjutnya dengan santai.

"Hmm…oh ya oka-san, kenapa hutan itu dinamakan hutan terlarang?" Ino mengajukan pertanyaan lagi.

"Huft… Ino-chan, hal itu karena disana banyak binatang buasnya. Seperti harimau, beruang, ular-"

"HUH? Tidak ada seriga oka-san?" Ino langsung memotong perkataan ibunya dengan tak sengaja membelalakkan mata marinenya itu.

"A-aa… sudahlah Ino-chan, kau tidak usah memikirkan kejadian itu lagi, yang penting kau sudah sampai di rumah dengan selamat." Jawab ibunya dengan setenang mungkin, walau sebelumnya ia sempat tak tahu harus memberikan jawaban apa kepada puterinya yang lugu itu.

"Tapi, apakah ibu tidak penasaran kenapa aku bisa selamat?" Ino terus menerus bertanya pada ibunya, seperti mengumpani ikan dengan cacing. Arah pembicaraan pun mulai serius.

Sedangkan sang ibu tiba-tiba menghentikan aktivitas menjahitnya sejenak, lalu menatap penuh arti pada anaknya. Namun, ino tak menatap ibunya, ia terus saja asyik dengan pekerjaan yang ia lakukan sembari terus lanjut berbicara dengan nada yang sangat polos.

"Yah, aku bertemu dengan serigala besar di hutan. Lalu ada seorang pemuda yang menyelamatkan ku. Dia tampan dan baik sekali oka-san. Oh ya, sebenarnya sebelum itu, aku telah menyelamatkannya dari bahaya aku ingin mengobatinya tapi dia menolak. Eh ternyata, dia membalas budi dengan cara balik menolongku yang hampir saja jadi santapan serigala besar yang buas oka-san." Jelas anaknya panjang lebar, seperti menceritakan hari-harinya lewat buku diary. Kemudian ia pun meletakkan bunga-bunga yang telah ia satukan ke dalam kaca.

Ino pun membalikkan badannya guna melihat ekspresi sang ibu, yang sedari tadi tak memotong pembicaraannya.

Seketika air muka wanita paruh baya itu berubah drastis, wajahnya memanas. Ia pun berdiri dari kursinya. "Ino Yamanaka! Dimana kau menemukan pemuda itu?" Tanya nya dengan nada yang keras.

"Oh, etto… dia berteriak dari dalam bangunan tua. Dia seperti dipasung, lebih tepatnya dirantai. Dan dia meminta tolong, lalu aku pun melepaskannya, oka-san." Jawab gadis muda itu dengan tersenyum.

"APA! INO-CHAN. AKU SUDAH MEMBERITAHUMU JANGAN BICARA PADA SIAPAPUN KETIKA KAU MELEWATI HUTAN ITU, APA KAU INGAT KATA-KATA KU INO YAMANAKA?" Ibunya seketika berubah menjadi sangat garang dengan berteriak lepas kearah puterinya.

"O-oka san, aku hanya menolongnya buka-"

"Sudahlah, kepala ku mau istirahat. Tolong jangan bicara padaku satu hari penuh ini."

"Oka-san. Hiks… oka-san…" Ino mengejar wanita paruh baya yang sedang menuju kamarnya itu dan menutup pintu gesernya dengan kencang.

Tak sempat ia menanyakan hal itu pada ibunya, Ino yang tak tahu apa-apa hanya dapat menangis sesenggukan ketika ibunya tiba-tiba berubah seperti itu.

"Hiks… Hiks… apa salah ku? Bukankah ibu yang mengajariku tentang tolong menolong?" ucapnya dengan nada yang tersenggal-senggal.


TBC

*CURCOLAUTHOR :

HIKS HIKS… gak kerasa udah update aja nih fic. Yah, ane jadi keikut baper, liat Ino nangis. Btw, maafin dosa Author abal ini ke kalian ya… udah update gak tepat waktu, karena sehabis lebaran kemaren Author useless ini SAKIT keras. #FYI walau gak da yang nanya. But, fic ini udah apdet! TARA… udah bacakan? Do'a in Author ya supaya gak sakit sakit lagi, jadi bisa updet on time. Hiks…hiks… Ok don't forget to leave a review!

R

E

V

I

E

W

Hoho… dalam rangka menjalin silaturahmi, gw bakal reply aja nih review 1 by 1. Mayan lah… buat nambahin words. (Kurang kerjaan) Author ini selalu kuker…

CEKIDOT :

Ryuui Momochi chapter 2 . Jun 19

lanjooot :'v

RE : yup, ni dah kok…

xoxo chapter 2 . Jun 19

greget ko tapi kurang begitu sih ehehe
but seruuu nih! lanjut lagi yaapp

RE : wiss... dah greget? But, apa lagi yg perlu ditambahin Xo? Eh, gw manggilnya apaan nih? Asyikk… dibilang seru. XOXO (peluk) #plaak…. Abaikan

Shinji gakari chapter 2 . Jun 19

0kkee lanjooot!

RE : ok! Ini dah lanjooot Nji…:p

rohimbae88 chapter 2 . Jun 19

ok next senpai. klo perlu update entar subuh biar greget

RE : Yo! Thanks Rohim masukkan nya… emang subuh adalah waktu paling pas datangnya Inspirasi, dan yang paling penting adalah jaringan cepet #Waaakksss!

Fina chapter 2 . Jun 19

Serigala itu naruto kn? Trus yg wanita mesan bunga ino jahat y kykny, msh byk misteri dan ditunggu updateny

RE : siapa Fina saya? Abang serigala itu yah… Ah, pasti udah kejawab kan di chap. Ini ? Yup! Emang masih banyak sekali misterinya. (Ampe gw bingung ngaitinnya -_-) ok baca terus ya say… #plaak-kek org jualan aja.

varsyi dobe chapter 2 . Jun 20

Type your review tor yg cpet ya

RE : Hoho… ketahuan gw,. Lo rvw lewat *pera khan? Sebab gw juga make… U.U #Waakss. Ngapain coba Vars cepet-cepet? Emang lu kebelet boker? *peace…

Ya lah, ini dah update. Ikutin terus yah Vars… 0o0

dll... sorry gk bsa bales semua... gomen nee :o