"Tazaki?"
"Ya?"
"Kau serius soal yang tadi?"
"Yang mana?"
Mata Kaminaga melirik ke kanan dan ke kiri, lalu lurus menatapnya. "Soal aku bisa berhenti menyukainya dan ganti menyukaimu saja?"
"Aku tidak akan bercanda soal hal-hal seperti ini."
"Kalau kau kasihan, aku tidak perlu dikasihani."
"Bukan kok. Aku hanya mau tahu kalau perasaanku bakal berbalas atau tidak," kata Tazaki, "soalnya kalau menunggu terlalu lama, nanti orang yang kusuka keburu ikut pertukaran pelajar atau yang semacam itu."
"Aku jadi tidak yakin harus tersinggung atau bagaimana." Dengusannya diikuti dengan tawa. Kaminaga berguling lagi, kembali melingkarkan lengannya di tubuh Tazaki, kemudian duduk dan mengubur wajah di pundaknya.
"Aku tidak akan ke mana-mana," ujar Tazaki.
"Aku tahu." Jeda sedikit. "Terima kasih."
Kaminaga belum benar-benar memberinya jawaban, tapi rengkuhannya mengerat. Di akhir ia bisa saja berkata ya ataupun tidak, atau malah mungkin tak mengatakan apa pun sama sekali, persis seperti saat ia memilih bungkam dan Tazaki jadi menanti-nanti. Namun begitu pun tidak apa-apa, karena Tazaki sanggup menunggu dengan sabar, sama seperti ia menunggu waktunya gerimis berhenti dan langitnya cerah lagi.
Di balik kaca jendela, titik-titik air meringan. Di lantai dekat kaki mereka, piring-piring kecil yang kosong dan garpu yang bernoda selai diletakkan. Dalam dekapannya, Kaminaga bersandar dengan nyaman. Tazaki bukan orang yang muluk-muluk, tidak juga banyak menuntut. Buatnya yang sekarang ini sudah cukup; meski hujan, cheesecake dan patah hati memanglah bukan kombinasi yang serasi.
