Mereka semua melompati dinding yang memiliki tinggi lebih dari dua meter, tatapan tajam mereka tidak akan berubah selama kau menatapnya dalam. Pakaian olahraga yang sudah bercampur dengan darah dan tanah coklat sudah tidak enak untuk dipandang. Semuanya akan terulang terus-menerus, latihan berat, pelajaran berat, untuk menuju suatu hal kosong hitam yang akan menjadi tujuan mereka melakukan semua ini.

Kau akan mendapatkan apapun.

Para Komisioner selalu mengatakan hal itu ketika mereka berlatih, terus menerus, melebihi dari seratus kali perkata ketika mereka memasuki indra pendengarmu. Satu kalimat itu sudah melekat jelas dalam otakmu.

Ketiga belas siswa menengah atas disana seakan menjadikan bahwa satu kalimat itu sebagai motto hidup mereka, mereka akan melakukan apapun demi mendapatkan keinginan terbesar mereka.

Kelas membunuh, kelas hitam, kelas kosong—adalah julukan dari orang-orang untuk kelas mereka yang suram. Hanya ada satu orang guru yang akan mengajar mereka. Hanya ada puluhan Komisioner yang akan membimbing mereka melakukan hal yang orang-orang biasa tidak bisa lakukan.

Salah satu dosa besar adalah membunuh seseorang.

Dan mereka melakukannya hampir setiap hari. Setiap Hari.


Classe Suicide—

Seventeen

Project2016

Inspired by Akuma No Riddle—The God of High School.

Warn; banyak kata-kata yang harus disensor tapi tidak kusensor lol.


Dari dalam sudut pandang miliknya, tidak ada tokoh antagonis terburuk dari yang pernah dilihatnya selain Kim Mingyu. Keparat yang tidak tahu sopan santun bahkan terlalu berandal dan brengsek untuk dicap sebagai manusia, didalam pikirannya hanya satu taktik yang dapat melumpuhkannya dan satu kali lemparan pisau yang dapat membuatnya bertekuk lutut dan memohon maaf sambil bersujud ketakutan—yang itu butuh waktu lama untuk terjadi. Tidak ada hal lain yang mampu membuatnya bangkit kembali selain pemikiran itu, dia hidup hanya untuk membalaskan dendam salah satu keluarganya yang baru saja berpaling dari dunia, tidak, Jeon Wonwoo tidak pernah seserakah dan semenyedihkan ini sebelumnya.

Pada dasarnya dia hanya pemuda polos yang selalu berdiam diri dirumah, membiarkan adik laki-lakinya untuk bermain diluar sana dengan bebas tanpa mengekangnya dan melarangnya untuk melakukan apapun—tapi satu waktu, dia berharap bahwa waktu dapat berputar semestinya, dia ingin memutar waktu yang dia lalui pada lima bulan yang lalu, dia ingin rasanya menyesal untuk selamanya karena kehilangannya.

Jeon Jungkook, mati.

"Lupakan."

Jeonghan menepuk pundaknya ketika melihatnya sedang berpaling dan menatap hamparan rumput hijau disana, kedua matanya berpandang dan bersiborok dengan manik lembut milik Jeonghan yang menenangkan, mengabaikan manik coklat tersebut yang bisa berubah menjadi kilatan mengerikan saat berada di arena.

"Aku akan membunuhnya hyung."

"Kau sudah kalah dua kali darinya, dua minggu kemarin."

Tersenyum sangat tipis, dia menoleh dan menyipit tajam pada Jeonghan yang hanya memandangnya datar, "tidak menyenangkan kalau langsung menang bukan? Aku hampir memotong kepalanya dua kali minggu kemarin."

"Mingyu tidak semudah itu dikalahkan," Jeonghan beranjak berdiri dan menepuk celana bahan hitam miliknya, rumput hijau yang tadi didudukinya sedikit bergoyang ketika dia beranjak tiba-tiba, Wonwoo tidak mengikuti, hanya terdiam dan sesekali melemparkan kerikil super kecil pada danau buatan dihadapannya, Pledis School terlalu luas dengan lahan yang bisa dibuat untuk apa saja, "dia monster," lanjut Jeonghan dan berbalik, menjauh dari Wonwoo yang kembali terdiam dengan decakan pelan dan tajam.

"Well, Mingyu adalah property bagus untuk dikalahkan. Membiarkannya hidup sama saja membuang waktu berhargaku."

.

Dekskripsi untuk Pledis School yang terletak di tengah-tengah kota Seoul, Korea Selatan, adalah salah satu sekolah tertutup namun juga memiliki berbagai penghargaan akan prestasi siswa-siswinya, sudah diakui oleh Pemerintah sebagai sekolah paling ternama dan terbaik diseluruh Korea Selatan. Tapi mereka hanya menerima enam ratus siswa dari sekitar sepuluh ribu yang mendaftar masuk kesana, lima ratus siswa yang bersekolah dan belajar seperti pada umumnya, delapan puluh siswa yang bersekolah hanya untuk belajar bela diri, tujuh orang yang menjadi siswa terbuang—percayalah banyaknya dikskriminasi disini, dan tiga belas orang yang berada dikelas khusus, Sementara itu, Gedung Kelas Hitam berada paling ujung dengan cat tembok berwarna merah terasi dengan 10 lantai yang disetiap lantainya bisa dipakai untuk arena pembunuhan—uji nyali yang disediakan diakhir minggu dan juga Ujian akhir.

Classe Suicide atau kelas hitam, kelas kosong, hanya ditempati oleh tiga belas siswa terpilih, mereka dipilih oleh pemerintah langsung—Komisioner berwenang yang memilih mereka langsung dari sekolah asal mereka dari berbagai penjuru Korea Selatan, mereka bertiga belas hanya siswa-siswa yang dipindahkan diawal semester untuk program baru yang ditetapkan pemerintah pada Pledis School sebagai sekolah terbaik dan tertutup.

Pledis memiliki hampir sepuluh Gedung Utama sebagai fasilitas, empat Gedung Asrama, dan enam Gedung Kelas, Labolatorium, Kantin, Gedung Olahraga dan Gedung Kesehatan dan sebagainya. Jarak Gedung kelas dan Gedung Asrama adalah yang terjauh, bisa mencapai satu kilo jauhnya—luasnya Pledis School tidak main-main, bahkan ada Danau ditengah-tengah sekolah sebagai tempat rekreasi siswa untuk akhir minggu. Maka sebab itu, setiap siswa diwajibkan memiliki kendaraan yang bersifat pribadi—minus mobil, itu tidak diperbolehkan disini.

Namun Gedung Asrama milik kelas khusus yang masih menjadi rahasia umum itu dibiarkan terpisah dan terdapat dipaling ujung bagian sekolah, sengaja dibiarkan tertutup agar tidak diketahui siswa biasa lainnya, mereka hanya menganggap kelas khusus—hitam sebagai kelas yang berisi murid-murid pandai, tampan dan berprestasi. Tidak ada dugaan lain bahwa mereka dilatih untuk saling membunuh.

Namun disisi lain tidak banyak siswa yang terlalu excited untuk bersekolah disini, dia hanya menjadi pion bagi Pledis—dia hanya menjadi siswa pindahan terpilih yang secara langsung dipilih oleh Menteri[1] Pledis untuk memasuki kelas hitam tanpa diketahui oleh murid kelas hitam lainnya.

Pembunuh, dengan kedok siswa teladan dan juga seorang actor yang dapat mengelabui setiap orang dengan wajah hangat beserta sifat baiknya yang hanya menjadi topeng belaka—dia tidak menunjukan sifat aslinya ketika berada diluar, namun Pledis adalah tempat yang tepat baginya sebagai tempat tinggal dengan dikelilingi oleh orang-orang serupa sepertinya.

Tapi dia membenci lingkungan disini, bahwa ketika dia menyadari baru saja bertemu, bahkan berada disatu ruangan dengan seorang kakak korban yang baru saja dibunuhnya lima bulan yang lalu, dia selalu dianggap antagonis utama dalam cerita ini, dia yang paling arrogant, dia paling menjadi incaran setiap siswa untuk dilenyapkan sebagai target pertama ketika Ujian akhir dimulai, meski semua hanya sia-sia.

Orang-orang hanya menyebutnya sebagai, psikopat berkedok malaikat, monster, dan pengkhianat.

"Mereka hampir tahu seluk belukku," kedua matanya mengerling dan sedikit menyipit tajam ketika seseorang beranjak mendekatinya dengan langkah tanpa suara, sebuah seringai; yang lebih terlihat seperti senyuman datang untuk menyapa seseorang disana, dia membungkuk hormat namun pria tinggi dengan wajah tampan angkuh tersebut hanya mengangkat telapak tangannya, menyuruhnya untuk berhenti melakukan hal formal semacam itu.

"Kau tidak perlu seformal itu padaku, Mingyu."

"Kau yang datang untuk membawaku kesini," dia tersenyum hangat meski tidak menghilangkan suatu kesan gelap dalam dirinya, pesonanya selalu datang tepat waktu dan membuat beberapa wanita bisa bertekuk lutut padanya.

U-Know terkekeh kecil dan mengangkat suatu tongkat tipis berwarna coklat, dia mendorong bahu Mingyu dengan tongkat miliknya, "lakukan semuanya dengan benar, kau hanya perlu membunuh mereka dan menjadi juaranya."

"Aku hanya pion."

"Kau aset berharga kami, lakukan dengan baik. Bukankah ada seseorang yang membuatmu semakin tertarik dengan permainan ini?"

Mingyu yang tadinya hanya merunduk menghormati Professor muda itu kembali mendongak, dan seberkas harapan kecil muncul dalam lautan coklat pada kedua mata tajam disana, "Jeon Wonwoo."

"..."

"Aku akan melenyapkannya sebagai penutup saja, Prof," U-Know tersenyum tipis yang lambat laun berubah menjadi seringaian, "lakukan sesukamu, kau hanya perlu menjadi juara dan mendapatkan hadiahmu sebagai pion."

"Ya."

Kemudian semuanya dapat berakhir cepat seperti hilangnya asap, Menteri—Professor U-Know sudah pergi dari sana secepat kilat menyambar, tapi toh Mingyu tidak peduli juga. Ada waktu tiga minggu sebelum Ujian akhir datang, dia akan mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan, latihan, latihan, latihan dan latihan. Komisioner akan membimbing kelas mereka untuk berlatih selama waktu berjalan tanpa menyianyiakannya.

Jadi ketika dia sudah merasa bosan berada diatap tertinggi Gedung Kelas hitam—lantai sepuluh, dia beranjak dari sana dan menuruni anak-anak tangga untuk menuju satu lantai dibawahnya, dia memilih tangga daripada lift, berolahraga dengan berjalan atau berlari kecil diatas anak tangga tidak buruk—tapi bisa menjadi hal buruk dan membosankan ketika dia melihat soerang pemuda datar yang sudah memandangnya dengan pandangan penuh kebencian.

"Halo hyung."

Tidak ada respon berarti yang didapat, hanya angin lalu dan decakan kecil ketika Jeon Wonwoo baru saja berjalan melewatinya, Mingyu menyapa disertai senyuman namun hal itu tidak memberi kesan apa-apa pada pemuda datar disana, dia terlalu benci untuk sekadar menatap pemuda tan yang kini baru saja berhenti berjalan dan berbalik menatapnya.

"Kau terlalu membenciku."

Tap.

Perbedaan anak tangga mereka hanya sekitar lima langkah, Wonwoo berhenti berjalan tanpa berbalik, bahunya sedikit bergetar menahan amarah yang sudah tertelan ditengah kerongkongan. Mingyu hanya tersenyum kembali dengan sangat lembut, dia hanya perlu memberi kesan baik pada semua orang dan berubah menjadi psikopat mengerikan ketika diarena.

"Tapi, aku tidak akan meminta maaf," katanya dengan nada dingin tiba-tiba, "Adikmu yang datang padaku untuk bermain denganku."

"Aku tidak perlu maafmu, keparat."

Guliran bola matanya menatap Mingyu sinis dari sudut mata, dia mengepalkan tangan keras-keras berusaha meredam emosi, yang tadinya hanya berniat untuk berjalan-jalan biasa dan menghirup udara segar, menjadi menghirup udara busuk untuk bertemu dengan Mingyu disaat seperti ini.

"Jungkook yang perlu maafmu—"

"Tidak. Dia sudah mati, orang mati mana yang bisa berbicara dan berkata 'aku memaafkanmu' konyol sekali," katanya remeh, dia mendongak angkuh dan mengacak rambut hitamnya dan berbalik, hendak pergi dari sana, namun sebelum hal itu terjadi, sebuah pukulan tinggi hampir mendarat pada sudut dagunya—wow gerakannya cepat juga dalam posisi seperti ini, Mingyu bahkan tidak dapat menyadari gerakan cepat tadi.

Tapi, toh yang ada kepalan tangan itu yang dipegang erat dalam telapak tangan penuh Mingyu, membuat Wonwoo tiba-tiba jatuh terpelanting kebawah dengan tangan kanan yang masih berada dalam genggaman Mingyu sendiri.

"Kau mudah diprediksi, Hyung."

Krek!

Dan bunyi tulang retak membuat sebuah seringai kecil dari Mingyu datang, Wonwoo yang sudah melotot kaget dan berteriak kesakitan, telapak tangannya yang terbuka berada digenggaman Mingyu yang meremasnya sangat keras, dan dalam kurun waktu dua detik tubuhnya sudah kembali jatuh menabrak lantai dibawah, Mingyu menendangnya dengan pandangan merendahkan.

Brugh!

"Kau bisa menang kalau lawannya bukan aku, hyung."

"Brengsek enyah saja keparat!"

"Kau masih suka memaki, Jungkook tidak seperti itu lho~" Mingyu terkekeh dan menepuk pakaian bagian bahunya kecil, Wonwoo bangkit tapi kembali terjatuh ketika merasakan keram tiba-tiba pada bagian dengkulnya—ini buruk, "Sial," maki Wonwoo dalam hati ketika kaki bagian kirinya tidak bisa digerakkan sama sekali, keram pada bagian dengkul benar-benar menyakitkan, seperti tulang tempurungmu tiba-tiba bergeser tempat.

Tapi Mingyu tidak mengambil tindakan, dia hanya menghela nafas dan tersenyum begitu lebar, menciptakan charming hangat kalau saja dia tidak habis membuat Wonwoo seperti orang yang terlihat menyedihkan tadi. Jadi dia pergi dari sana dengan melangkahi Wonwoo santai sebelum kembali berkata dengan nada dingin dan beku, "Well, kau terlihat menyedihkan. Kau bisa menang kalau kau menendang bukan memukulku, Wonwoo hyung."

Dan dia pergi dari sana, sebelum Wonwoo mendesis keras penuh kekesalan, dia tidak bisa membalas lagi.

Selalu ada masalah yang datang padanya ketika semuanya baru saja dimulai.

Dan Wonwoo selalu membenci hidupnya yang seperti, dia terlihat lemah ketika berhadapan dengannya.


Seungkwan menata rambut coklatnya menjadi sedemikian rupa, dia lebih terlihat seperti pelayan disalon daripada murid kelas hitam yang terlihat lebih creepy, misterius dan juga penuh kegelapan.

Dia mencolek bahu Mingyu yang duduk tepat disebelahnya, hari sudah petang dan sebagian siswa Pledis dari berbagai kelas sudah kembali ke asrama, hari sabtu tidak ada kelas malam—tapi hal itu berlaku bagi kelas hitam. Bagian Asrama siswa biasa akan dijaga ketat dan diberi sistem kedap suara selama semalam penuh dan mereka tidak dibiarkan untuk keluar dari Gedung Asrama sama sekali—mereka tidak mengetahui alasannya karena pihak Pledis selalu merahasiakan tentang hal ini.

Tapi kelas hitam sudah mengetahuinya—itu karena malam ini adalah pertandingan akhir minggu—duel yang dilakukan di seluruh area sekolah selama semalam penuh, tidak ada acara pembunuhan untuk akhir minggu, hanya menguji kemampuan mereka—tapi luka ringan maupun luka parah dibiarkan asal tidak memotong anggota tubuh; tapi hal itu kembali diperbolehkan untuk ujian akhir nanti.

Mingyu terlihat tenang-tenang saja sembari mengelus seekor anjing yang tidak diketahui pemiliknya diarea sekolah; ditaman yang kini tidak terlalu ramai pengunjung, sebagian siswa Pledis berada disini untuk mengisi waktu senggang mereka sebelum nanti malam tepat pukul sembilan mereka tidak diperbolehkan sama sekali untuk keluar kamar.

"Siapa targetmu minggu ini, hyung?" Seungkwan bertanya dengan masih menata rambut kecoklatannya sebelum beralih pada rambut hitam Mingyu, dia mengabaikannya dan tetap berfokus pada anjing coklat dibawah, namun alih-alih menjawab, Mingyu kembali memberi pertanyaan, "kau tidak takut padaku?"

Kedua kelereng coklatnya melirik sekilas pada tangan Seungkwan yang bermain dirambutnya, Seungkwan terkejut dan terbatuk kecil, "tidak. Kau manusia."

"Semua orang takut dan benci padaku, Boo."

"Mereka sudah mengetahui bagaimana kau hyung."

"Dari luar aku kelihatan baik.. dan ramah."

Tidak ada respon, sebelum beberapa detik kemudian sebuah tawa keras meluncur dari Seungkwan, Mingyu menoleh dan membiarkan anjing coklat itu mennggelepar dibawahnya dan menjilati sepatunya, "kenapa?"

"Kelihatan baik?" Seungkwan menghentikan tawanya sesaat dan menghapus titik air mata kecil pada sudut matanya yang terlihat menggenang, "siswa biasa menganggapmu sebagai pemuda yang tampan, ramah dan hangat. Tapi bagi kami; murid kelas hitam, itu semua tidak berarti."

Dia menarik nafas sesaat dan tersenyum sebelum menatap Mingyu kembali, "kau adalah monster."

"Aku manusia."

"Err, Well, itu seperti perumpamaan untuk penggambaran dirimu. Kau terlihat biasa-biasa saja ketika berbicara denganku sekarang," Seungkwan mengangguk-ngangguk kecil entah karena apa, Mingyu menyandar pada bangku taman sembari menengadah dan menatap garis kekuningan dan gradasi oranye pada langit yang kini sudah semakin beranjak sore, "tapi di hari biasa, kau benar-benar terlihat menakutkan. Tidak salah mereka menganggapmu monster dan juga psikopat berkedok malaikat."

Mingyu menahan senyum, dia terlampau geli untuk mendengar panggilan nama aneh untuk dirinya.

Tapi dia tidak membantah kalau dia benar-benar murid yang memiliki kepribadian terburuk di Pledis—tepatnya kelas hitam, tapi setidaknya Wen Junhui lebih menyebalkan daripada dirinya yang selalu menganggu orang lain, setidaknya lima hari yang lalu—Mingyu meleset untuk melempar pisau lipat yang bertujuan untuk memotong telinga si Wen itu.

"Aku hanya akan bersembunyi nanti malam Boo."

"Kau memberitahukan rencanamu?!"

"Serangan kejutan tidak masalah kan?" seringai tipis terulas, Mingyu beranjak dari sana dengan langkah santai, dan Seungkwan lebih terkejut lagi ketika melihat anjing coklat yang sudah setengah sekarat dibawah kursi yang tadi Mingyu duduki.

Dia bahkan terlampau kejam untuk membunuh seekor anjing tidak bersalah.

"Anjing malang, setidaknya Mingyu hyung tidak membawa telinga dan gigi taringmu untuk dijadikan koleksi," gumamnya dan menepuk kedua pipinya keras-keras ketika melihat anjing coklat tadi mati terbunuh dengan salah satu bola mata yang terinjak hancur dan cakar-cakarnya yang dipotong asal—tak lupa bagian lidahnya yang sengaja dipotong serta digantung pada salah satu pegangan bangku taman.

"Kuharap tidak ada yang melihatnya melakukan ini astaga! Aku harus memanggil Komisioner Key untuk membersihkan ini sebelum orang-orang melihatnya!"

Seungkwan merasa menyesal berada ditempat yang sama dengan Mingyu beberapa menit yang lalu. Dia bahkan tidak menyadari kapan Mingyu melakukan hal itu padahal dia daritadi duduk disampingnya.

Itu sebabnya mereka memanggilnya monster serta psikopat berkedok malaikat—siapa yang menyangka? Dia berbaik hati kepada anjing tersebut, yang pada akhirnya dia membunuhnya sendiri.

Dan Seungkwan hanya tidak menyadari—bahwa anjing itu hanya menjadi pengingat sekaligus pengancam untuk dirinya sendiri.


To Be Continued


Note[1] Ada kata Menteri[1] Pledis, maksud disana Menteri Pledisitu lebih seperti Dewan Sekolah seperti anggota staff sekolah namun langsung berhubungan dengan Negara.

Note[2] Alurnya aneh dan susah dimengerti atau bikin bingung? malah aku yang bingung kalian bingungnya dimana 'loh. jadi silahkan tanyakan di private massage atau kotak review.

Note[3] Maaf Mingyu disini gue buat kaya jahat dan jadi tokoh antagonis banget, tapi itu feel yang ada dipikiran gue lol.

Note[4] Sempet-sempetin bikin cover ga penting kaya begini, karena biasanya cover di FFN buram, jadi buat yang penasaran nanti malam bisa cek ig gue; miraraf. gaperlu follow, bukan promote akun ig gue kok.

Note[5] tertarik?;; atau tidak sama sekali? terserah hoho, gue bakal tetep lanjut karena semuanya udah setegah jalan sampai konfliknya.

Last, review, fan and follow please3 don't be silent reader.