WARNING! CHAPTER INI FULL DENGAN PEMBUNUHAN [;no - jijik? out sj pls:) takutnya koar-koar nanti hmz, maaf ga sadis[? eaea, penjabaran kurang atau gimana [/bow
Sudah diperingatkan ya! FULL M.
Ruangan ini kedap suara—dan mereka berdua berdiri saling membelakangi tanpa adanya niat untuk saling menyapa. Wen Junhui sudah terlebih dahulu hendak keluar dari kamar Asrama mereka dengan sebuah tas ransel hitam kecil pada punggungnya, sarung tangan yang dipenuhi oleh berbagai jarum berbeda ukuran, tapi dia melupakan sesuatu, bahwa tidak ada yang mudah untuk membuat Kim Mingyu benar-benar kalah ditangannya saat ini—untuk informasi selama tiga bulan dia berada disini, dia belum pernah mengalahkan Kim Mingyu sama sekali, terbukti bahwa dia memang benar-benar lawan yang kuat.
Jadi ketika dia memijit beberapa tombol angka pada pintu, sebuah suara sudah membuatnya berdiri beku didepan pintu dengan jari-jari yang melayang hendak memijit beberapa tombol angka disana, "aku akan mengalah padamu."
Omong kosong.
"Kau kasihan padaku?" Junhui berbicara tanpa berbalik, masih terpaku pada deretan tombol angka password pintu kamar mereka, selama mereka sekamar, mereka belum pernah berbagi canda tawa—karena well, Junhui juga begitu membencinya; kalau dilihat-lihat Junhui selalu melindungi Wonwoo kemanapun, itu sebabnya dia begitu membenci Mingyu si property Wonwoo untuk dilenyapkan dalam list nomor satunya.
"Tidak, aku terlalu malas malam ini," Mingyu menjatuhkan tubuhnya pada tempat tidur dengan kedua tangan sebagai bantalan, waktu juga sudah menunjukan pukul sembilan lewat sepuluh, dan dua puluh menit lagi duel antar murid kelas hitam akan dimulai—semuanya dilakukan di arena sekolah, entah Gedung atau area luar Gedung, mereka bebas melakukannya.
Seperti bermain petak umpet—yang pertama ditemukan maka akan menjadi korban pertama yang akan terluka.
"Terserah, aku tahu kau memiliki rencana."
Pip!
Pintu minimalis yang memiliki tebal hampir lima belas senti berwarna silver itu terbuka, dia melangkah keluar dan sempat mendesis tajam untuk Mingyu. Dia begitu mengesalkan dan menganggap remeh setiap lawannya—tapi Junhui yakin, Mingyu dapat bergabung kapan saja tidak seperti dua belas orang lainnya.
Itu karena dia pion dan kartu as bagi pihak Pledis sendiri—bisa dibilang mungkin mereka bekerja sama dan itu cukup untuk menimbulkan ketidakadilan.
"Merepotkan berada dikelas yang sama denganku."
Classe Suicide—
Seventeen
Chaptered
Kedua belas orang dengan berbagai perlengkapan ditangan berdiri berjajar dihadapan seorang lelaki dengan Tuxedo hitam formal, rambut coklat berantakan sedikit tertiup angin malam; well, mereka berada diatas atap Gedung kelas hitam yang memiliki lantai sepuluh—dan kini mereka berada dilantai paling atas.
Komisioner Aiden—berdiri dengan pandangan datar dihadapan mereka, kedua kelereng hitamnya bergerak cepat mengabsen siswa-siswa kelas hitam, sebelum dia kembali berdecak keras dan mengurut pelipisnya, "dimana Kim Mingyu?"
Tidak ada respon, bahkan Seungcheol si pemimpin kelas hitam hanya mengalihkan pandangannya, Komisioner Aiden sedikit mengerling pada Junhui yang menjadi teman sekamar Mingyu untuk tiga bulan ini, "dimana Kim Mingyu?" tanyanya lagi, Junhui mendongak dari posisi menunduknya, sedikit mengerang malas.
"Dia akan datang terlambat," sudah seperti rutinitas setiap Minggu, Mingyu akan datang terlambat dalam beberapa kali duel yang dilaksanakan, dia terlalu malas untuk menghadiri hal-hal bodoh dan tidak penting seperti ini, dia sedikit melangkah mundur untuk melihat mimik wajah Jeon Wonwoo yang kini berdiri disebelahnya—wajah datar yang penuh dengan kebencian, Junhui tidak akan membiarkan siapapun untuk menyentuhnya.
Tidak ada suara untuk selama beberapa detik, semuanya terlalu sibuk dengan pemikiran mereka sendiri, menyusun berbagai rencana untuk menjadi si bertahan di duel minggu kali ini, meski selama delapan minggu berturut-turut, hanya si Monster Mingyu yang bertahan tanpa luka goresan sedikitpun.
Komisioner Aiden membuka mulutnya—dia menunjuk ponsel miliknya, gestur menyuruh kedua belas orang disana untuk membuka ponsel dan membaca pesan yang dikirimkan dari pusat Pledis sebagai peraturan bermain untuk kali ini.
"Peraturan yang mudah, tidak ada yang boleh membunuh siswa lain dan tidak boleh memotong anggota tubuh. Diperbolehkan memberikan luka bakar dan luka parah lainnya kecuali dua larangan tadi."
Komisioner Aiden kembali menyimpan ponsel segiempat itu kedalam sakunya yang berada dibalik jas bagian dalam, kedua tangannya terlipat dibelakang punggung dan mengamati mimik siswa kelas hitam—kebanyakan tidak berekspresi dan terlalu kaku seperti sebuah mesin pembunuh yang bisa lepas landas kapan saja.
"Diperbolehkan menggunakan seluruh area Pledis—tidak akan ada yang menganggu selama duel berlangsung. Dimulai pada pukul sepuluh dan berakhir pukul empat pagi, gunakan Carats[1] untuk keselamatan kalian, dan satu hal, yang terluka sangat parah dan sulit disembuhkan oleh Carats akan tersingkir secara otomatis."
"Itu saja, Permainan dimulai—"
10.00 PM KST—GAME IS ON.
Dua belas dari mereka memilih berpencar diarea seluruh Pledis, bersembunyi, menyusun rencana sebelum menyerang secara gila-gilaan dan melukai teman sekelas mereka hanya untuk melihat bagaimana potensi mereka saat ini, namun ada beberapa hal yang membuat mereka sedikit takut untuk lebih melangkah maju—
Ketakutan akan kematian memang selalu datang, tapi ketakutan akan rasa sakit mereka tidak bisa merasakannya, mereka sudah kebal—berbagai luka goresan pada tubuh mereka ada beberapa yang tidak bisa hilang dan meninggalkan bekas luka mengerikan.
Jeon Wonwoo berlari menuju atap Gedung Kesehatan yang mempunyai sekitar tujuh lantai tingginya—dia akan memulai dengan serangan jarak jauh, dia pengguna senjata api dan well, dia sedikit buruk dengan pertarungan jarak dekat, tapi itu tidak menjadikannya sebagai siswa terlemah, yang ada dia menjadi siswa kelas hitam yang sangat dihindari setelah Mingyu dan Seungcheol, itu karena membuat mereka para siswa kelas hitam lain sedikit berhati-hati dengan serangan jarak jauh Wonwoo yang bisa tepat menembus anggota tubuh mereka tanpa meleset sedikitpun.
Dia mengeluarkan senjata laras panjang—bertipe XM109 Barret dengan kaliber sebesar 25x59mm, jarak tembak efektif bisa mencapai tiga kilometer jauhnya—dan well itu bisa menjadi ancaman berbahaya bagi murid kelas hitam lain.
Wonwoo bersiap dengan posisi menembak sebelum mendecak sebal ketika pandangannya sedikit memburam akibat terlalu lama melihat ditengah kegelapan malam, jadi untuk beberapa saat Wonwoo akan menjadikan lantai tujuh Gedung Kesehatan sebagai tempat berdiam dirinya—meski ia yakin, bisa saja ada yang menemukannya dan menyerangnya dari belakang. Tapi itu tidak masalah, dia bisa saja menggunakan ilmu bela dirinya yang sudah dipelajari sejak sekolah dasar hingga seusia ini.
"Kita tunggu saja, siapa target pertamaku?"
Tiga puluh menit sudah berlalu, disisi lain dua orang saling berhadapan dengan beberapa luka gores yang sudah menghias kulit putih mereka, Lee Chan memegang belati miliknya erat-erat dengan pandangan tajam pada pemuda tinggi dihadapannya, Lee Seokmin benar-benar menyebalkan, dia benar-benar psikopat badut yang sulit untuk dipengaruhi, rencana bodoh bertemu dengannya diawal menit seperti ini.
"Maknae! Kupikir kau sudah berkembang ternyata tidak ya?" Seokmin tertawa terbahak dan hampir kapak ditangannya terlempar menembus kaca jendela di Gedung Olahraga, mereka berdua berdiri ditengah koridor remang dengan suasana yang menegangkan secara tiba-tiba, Chan sedikit paranoid ketika melihat Seokmin tiba-tiba sudah berada dibelakangnya dan mengayunkan kapak besar yang hampir memenggal kepalanya tadi kalau saja refleksnya tidak bagus. Tapi yang membuatnya semakin paranoid adalah Seokmin yang memakai topeng badut jelek mengerikan yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Berhenti tertawa hyung," Chan menjaga jarak sekitar lima meter, dia menghela nafas dan sedikit meringis ketika gelang Carats meremas pergelangan tangannya kuat dan menampilkan sebuah profile seseorang.
Name : Lee Seokmin
HP : 620
Level : 8
Nickname : Clown Ax.
Sudah level delapan?! Minggu kemarin dia masih level enam sepertiku?! Tidak percayanya didalam hati dengan perasaan yang terlampau kaget, tapi, itu tidak membuatnya mundur. Diam-diam Chan menyeringai kecil, dia menunduk sesaat dan berjalan mundur sekitar dua langkah yang membuat Seokmin memiringkan kepalanya yang memakai topeng badut yang tersenyum lebar dari sudut telinga sampai telinga lainnya.
Tapi dalam kurun waktu lima detik, Seokmin sudah dibuat terkaget ketika Chan berlari cepat dan sudah menggores lehernya dengan belati kecil, membuat goresan panjang dari sudut lehernya.
Seokmin bahkan tidak sempat menghindar sehingga Chan kembali menendang tulang punggungnya dan hampir membuatnya tersungkur jatuh kalau dia tidak cepat mengayunkan kapan besarnya sehingga merobek pakaian bagian perut milik Chan—tidak sampai menggores kulit, Seokmin kini hanya mampu meringis kesal dibalik topengnya, sebelah tangannya yang bebas menutup luka memanjang dilehernya agar pendarahannya tidak terlalu banyak, meski Carats bisa menyembuhkannnya, tapi itu tidak spontan dapat sembuh setelah luka dibuat. Ah, sial.
"Well, dugaanku salah. Maknae," Seokmin menyeringai dibalik topeng, Chan mendelik sebal mendengarnya dan mengambil belati lain dibalik kantung celana Jeans yang dipakainya, bersiap-siap melemparkannya kalau-kalau Seokmin tiba-tiba membuat serangan dadakan seperti minggu kemarin dan hampir menusuk kornea matanya kalau tidak cepat.
Dia sedikit oleng ketika pusing melandanya, tapi Seokmin sudah segera menahan bobot tubuhnya dengan kapak besar miliknya yang menyandar pada sisi jendela, dia menghela nafas sebentar sebelum topeng badutnya terjatuh dan menampakan wajah miliknya sepenuhnya, wajah tampan dengan hidung bangir seperti pinokio—namun itu semua ditepis jauh-jauh ketika kilatan mata penuh hasrat membunuh menusuk Chan seketika.
"Ah, sudah cukup main-mainnya, aku bahkan belum sampai pemanasan," Seokmin berujar dan mengusap dahinya yang terdapat titik keringat karena menahan sakit akibat goresan luka dilehernya, dia mengambil kapak besar miliknya yang menjadi senjata utamanya kini, dia menatap Chan dingin sebelum berlari mendekat dan mengayunkan kapak besarnya tiba-tiba, berniat membuat serangan kejutan dan menggores bahu milik Chan yang terlihat nyaman untuk dikoyak dengan kapak besar miliknya, tapi dia kembali meleset ketika Chan sudah bergeser cepat sebelum kapak itu menggores bahu miliknya dan mengayunkan kaki kanannya tinggi untuk menendang Seokmin dalam satu ayunan.
Dia berniat membuat Seokmin terjatuh dengan posisi tengkurap, tapi itu tidak terjadi ketika Seokmin sudah membawa kapaknya untuk menahan kaki kanan Chan yang hendak menendangnya, seringai tipis datang dan Chan tidak bisa menghindar ketika kapak besar itu sudah menusuk tulang kering miliknya.
Jleb!
"Khh!"
"Itu tidak menyakitkan bukan? Kapakku tidak memotong kakimu, ah, peraturan untuk tidak memotong anggota tubuh benar-benar merepotkan."
"Dasar badut sialan!" maki Chan dan meringis kesakitan ketika kapak besar itu ditarik paksa oleh Seokmin dan membuat darah merah memuncrat mengenai lantai dibawahnya, Chan hampir berteriak kesakitan kembali saat kapak itu sudah mengenai bahunya duluan, dia tidak sempat menghindar cepat seperti tadi karena kakinya yang sedikit pincang dan sangat sakit untuk digerakan.
Seokmin sengaja mengincar bahunya untuk memperlambat gerakan Chan dalam melempar belati-belati menjengkelkan.
Dia berjongkok serta meringis, Chan memang yang paling muda diantara siswa kelas hitam lainnya, kalau dilihat seperti dia yang paling lemah disini, namun itu tidak membuatnya menjadi siswa paling lemah yang mudah ditindas, meski perawakannya memang kecil, tapi otaknya tidak sekecil dan sebodoh kelihatannya.
Dia selalu bermain menggunakan otaknya disaat seperti ini, jadi dalam keadaan kritis dia mulai mencoba berpikir mencari rencana untuk keluar dari permasalahan dan posisi tidak menguntungkan, Seokmin juga tidak banyak menyerang setelah serangan terakhir tadi, dia hanya menatap Chan datar dan malas, sebelum sebuah cengiran lebar datang dan itu artinya—
Dia terlambat untuk lari dari sini.
Ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi, mereka tidak bisa menyelesaikan duel kali ini dengan mudah tanpa adanya orang yang tersingkir, satu persatu dari mereka akan tersingkir dan menyisakan satu pemenangnya, menjadi nilai tambah untuk ujian akhir yang akan dilaksanakan sebentar lagi.
Tapi, Mingyu tidak mengharapkan apa-apa, itu karena dia hanya pion yang bekerja untuk Pledis—menjadi murid baik dan ramah, meski di arena itu semua tidak berarti apa-apa. Meskipun kalau dia menang dalam ujian akhir, dia hanya akan meminta agar waktu kembali berputar dan mengembalikan masa kecilnya agar dia bisa memulai semuanya dari awal.
Namun itu semua kembali dia tepis, pikiran itu hanya dapat merepotkannya untuk saat ini, dia berguling ke arah kirinya dan menemukan ponsel hitamnya bergetar diatas meja nakas, berdecak pelan dan menggapai benda yang berkedip-kedip dengan tidak minat, dia mulai menggeser tanda hijau, dan suara dingin yang sangat khas langsung menyapanya.
"Mingyu."
Mingyu terkesiap sedikit sebelum kembali tenang, dia menempatkan ponselnya tepat disamping ditelinganya, "Professor."
"Sudah saatnya kau masuk bukan?"
Dia tidak membalas dalam kurun waktu sepuluh detik, dan suara disebrang kembali terdengar, "cukup main-mainnya, kau harus menang lagi kali ini, atau mungkin kau mau kalau sepupu Chou-mu ini menjadi bahan percobaan kembali sepertimu?"
"Jangan menyentuhnya, Prof. Aku akan datang."
Pip!
Ponsel yang dibuang sembarang dan diinjak sengaja, Mingyu mendesis keras dan segera memakai jas sekolahnya yang tadi tergeletak asal dilantai, dia tidak mau seseorang yang tidak tahu apa-apa bisa terlibat dalam masalahnya seperti ini—dia tidak mau sepupu baiknya itu terlibat dalam hal seperti ini, menjadi pion bagi Pledis tidak semudah kelihatannya, dia memang ganas dan tidak mempunyai belas kasihan—tapi dia masih peduli terhadap keluarganya. Pledis pada dasarnya memang brengsek, menciptakan seorang pembunuh untuk kepentingan pribadi mereka yang bertujuan menguasai negara dan dunia agar menjadi milik mereka, membuat dinding tebal dan menciptakan monster sepertinya.
Mingyu hanya manusia—monster hanya panggilannya, tapi dia memang bahan percobaan, pihak Pledis yang sudah mengincarnya dari sejak dia sekolah dasar, membawanya kedalam laboratorium yang dipenuhi obat-obatan dan menyuntikan suatu zat menyakitkan yang membuatnya menjadi seperti ini—dia kehilangan sisi manusianya dalam sekejap.
Tapi setidaknya sisi sadarnya masih menyayangi keluarganya sendiri agar tidak perlu terlibat dalam hal seperti ini.
"Yep. Aku hanya pion."
Dia bergerak cepat dan tanpa repot-repot membuka kunci password pada pintu, dia hanya membuka jendela kamarnya yang sebesar tinggi tubuhnya dan melompat kebawah tanpa rasa takut, tinggi kamarnya berada dilantai lima, dan dia mendarat pada tanah dibawahnya tanpa luka sedikitpun.
Dia kembali berpijak dengan aman ditanah kering disana, dia tidak perlu repot-repot mengendap takut akan diserang.
Tapi sepertinya melanggar peraturan yang dibuat untuk hari ini tidak masalah bukan?
Sebuah seringaian terulas, dia berlari menuju salah satu gedung besar dan gelap yang tidak memiliki penerangan sedikitpun. Bersembunyi disana dan menunggu seseorang masuk kedalam sana dan masuk dalam perangkap miliknya. Dia hanya perlu menunggu, dia terlalu malas menyerang untuk saat ini.
Satu jam sudah berlalu semenjak dia menginjakan kakinya disini, Mingyu menuju salah satu ruangan yang dipenuhi oleh berbagai meja panjang dan kursi panjang lainnya, dan dia menyadari bahwa dia sedang berada di Gedung Kantin Pledis.
Mendengus sebelum duduk disalah satu bangku disana, dia berhenti berjalan dan terdiam selama beberapa detik, hanya suara angin yang terdengar sebelum sebuah lenguhan dan hembusan nafas kelelahan terdengar, ada seseorang lain yang datang kesini. Dan itu artinya, orang itu akan menjadi target pertamanya.
Bip!
Gelang Carats milik Mingyu semakin mengerat pada pergelangan tangannya dan berkedip selama beberapa kali, menampilkan profile seorang pemuda.
Name : Boo Seungkwan
HP : 670/-500 170
Level : 7
Nickname : Boosickle
Mingyu menoleh melewati bahu, dia tersenyum sangat tipis ketika siluet Seungkwan terlihat, dia berpangku pada sabit besar setinggi tubuhnya yang berwarna hitam dengan beberapa ukiran naga dan ayat lisan disana. Mingyu berjalan mendekat, dia menampakan sikap santai yang terlalu biasa, dia berlaku cuek.
"Seungkwan!" panggilnya kecil seperti mendesis, sebelah tangannya melambai, dia berada dibalik pintu geser kaca masuk ke kantin, sedangkan Seungkwan berada diluarnya dengan tatapan mata yang terlihat sayu.
"Mingyu hyung!" pekiknya dan segera berjalan mendekat, dia terlalu polos untuk menyadari bahaya.
"Kau terlihat kelelahan," kata Mingyu pelan ketika Seungkwan melangkah masuk kedalam dan berhasil melewati pintu kaca geser milik kantin, diam-diam Mingyu menutupnya kembali dan menguncinya dengan memijit tombol merah kecil disamping kenop pintu, pintu tidak bisa dibuka dengan mudah saat ini karena Mingyu baru saja menghancurkan tombol merah itu dengan memukulnya berkali-kali saat ini, dan Seungkwan hanya melenggang masuk kedalam dan duduk disalah satu bangku panjang disana.
"Kau tidak datang lagi ketika Komisioner Aiden membacakan peraturan."
Mingyu menggendik dan berbalik setelah selesai dengan urusannya, tidak ada raut wajah ramah seperti pertama bertemu, dia hanya menampakan raut dingin dan beku serta ketidakpedulian miliknya, melangkah mendekat dengan tangan kosong, dia selalu bersikap seadanya tanpa mau menampakan emosi berarti, dan Seungkwan yang bodoh atau polos hanya terdiam sembari beberapa kali menepis keringat didahinya.
"HP-mu berkurang banyak."
Seungkwan mengangguk dan mendengus dalam, dia memainkan sabit besarnya asal, dia terlihat sedikit keberatan karena membawa beban sabit seperti itu, "Jeonghan hyung benar-benar membantai habis, mataku hampir menjadi korban gunting miliknya," dia menunjuk sisi kanan kelopak matanya yang terlihat berdarah, dia kembali cuek.
"Sakit?"
"Tidak."
Hening selama beberapa detik, Seungkwan terlalu fokus pada sabitnya yang memiliki noda darah, dia sibuk membersihkannya dan mengabaikan seseorang dihadapannya.
"Kalau begitu, begini sakit?"
Crat! Kkryk!
"ARGH!"
Seungkwan jatuh terduduk dan meraung kesakitan secara tiba-tiba, suara dingin yang khas menusuk indra pendengarannya, Seungkwan tidak bisa berdiri lagi karena tiba-tiba bagian kakinya terasa kaku terinjak.
"K-kau!"
"Kau tidak menyadari bahaya, Seungkwan," ketika darah terus mengucur deras dari bagian corong mata miliknya, Mingyu sibuk memainkan sebuah benda bulat yang masih dilumuri oleh darah.
"Arkh!"
Jari telunjuk panjang miliknya telumuri cairan kental dan bau menyengat khas darah, Mingyu menatapnya datar tanpa merunduk untuk menatap Seungkwan sedikipun, dia tidak sudi untuk melihat korban secara simpati maupun empati.
"Jeonghan tidak mengambil matamu karena ini duel," ada jeda sebentar, sementara erangan kesakitan Seungkwan terus terdengar, "tapi, aku berbeda. Aku pion disini."
Crash! Nyyrk!
Bola mata itu jatuh menggelinding dan Mingyu menginjaknya hingga menimbulkan suara menjijikan dan darah yang memuncrat mengenai wajah Seungkwan yang masih berjongkok dan menutup mata sebelah kanannya menggunakan telapak tangan, dia meringis kesal dan melotot sebelum berdiri tegak dan hendak mengayunkan sabit besarnya.
Mingyu memang benar-benar brengsek. Dia tidak seharusnya mempercayainya karena tadi sore mereka berbicara baik-baik.
"K-kau melanggar peraturan brengsek!" teriak Seungkwan, dia berdiri penuh kemurkaan dan membiarkan mata sebelah kirinya terpejam erat sembari menahan sakit, dia akan buta setelah ini. Tapi Mingyu mengabaikannya, dia merunduk dan diam-diam mengulas sebuah seringaian tajam.
Sret!
Sabit itu meleset, membuat sebuah helai rambut kehitaman Mingyu terjatuh, Seungkwan mendesis keras penuh kemurkaan, persetan dengan kesopanan karena Mingyu lebih tua darinya—dia hanya perlu menghancurkannya, persetan dengan peraturan, toh Mingyu sendiri melanggarnya.
Seungkwan melaju dan berteriak seperti orang kesetanan, Mingyu hanya perlu menghindar dengan refleksnya, dia tidak menampakan emosi apa-apa, terlalu kaku, dingin dan tidak peduli. Dia tidak punya rasa kasihan, empati maupun simpati. Toh pada akhirnya setiap orang yang berhadapan dengannya akan mati bukan?
Dia melompat pada satu sisi meja panjang disana, berdiri disana dan segera mengulas seringai tajam ketika Seungkwan berlari mendekatinya dan mengayunkan sabitnya brutal, "ah, dia dibutakan kemurkaan."
Ketika sabit besar itu tinggal menggores pipinya sekitar lima senti lagi, Mingyu sudah lebih dulu melompat tinggi dengan santai, Seungkwan melotot ketika Mingyu melompat sangat tinggi hingga kakinya yang panjang tiba-tiba saja membuat tendangan memutar khas Taekwondo di udara—mengenai kepalanya sekejap dan membuatnya jatuh tersungkur membentur ujung meja panjang disana, kepalanya berdarah begitu banyak, Seungkwan kehilangan keseimbangan dan sabitnya yang masih berada dalam genggaman tiba-tiba terlepas ketika Mingyu menendangnya tanpa berucap apa-apa.
Carats mengerat pada pergelangan tangan Seungkwan, luka gores sedikit demi sedikit menghilang terobati, tapi tidak dengan matanya yang baru saja kehilangan satu bola mata yang hancur terinjak oleh Mingyu, rasanya sangat sakit.
"Khh—sial!"
Ketika gelang miliknya semakin mengerat hingga terasa sakit, profil lain datang dan mengejutkan Seungkwan.
Name : Kim Mingyu
HP : - [Unknown]
Level : - [Unknown]
Nickname : - [Unknown]
"Tidak mungkin.." gumamnya tidak percaya, salah satu matanya yang normal menatap Mingyu dengan pandangan bingung, kenapa semuanya tidak diketahui? Carats bahkan tidak bisa membacanya, ini kali pertamanya Seungkwan berduel dengan Mingyu—biasanya Mingyu hanya melenyapkan seseorang yang bersisa diakhir pertandingan, dia selalu datang terakhir, yang artinya dia hanya melenyapkan orang-orang kuat yang bertahan diakhir pertandingan.
"Sudah kubilang, aku pion disini. Kartu As milik Pledis—dan tadi sore aku memperingatkanmu, Seungkwan."
Mingyu terbatuk kecil dan menggaruk rambut kehitamannya hingga berantakan, Seungkwan menoleh cepat pada Mingyu, poni kecoklatan miliknya jatuh menutupi dahinya, dia tidak bisa selemah ini.
"Selama tiga bulan, aku mengalahkan lebih dari enam orang, bukankah itu kuat?" pegangannya semakin menguat pada sabit miliknya, dia marah.
"Kau bahkan tidak tahu rasanya bagaimana kebahagiaan bukan?"
Mingyu diam, dia berhenti melangkah dan menatap Seungkwan dengan kedua mata hitam tajamnya, tidak berkedip sedikitpun ketika Seungkwan kembali mengeluarkan suaranya, "kau menyedihkan, Mingyu. Kau bahkan tidak berteman baik dengan anggota kelas hitam lain!"
"Kau kesepian bukan?"
"..."
"Ah, itu sebabnya kau selalu—"
"Sudah selesai bicaranya?"
Seungkwan tercekat, Mingyu sudah berada didepan hidungnya dan memegang sabit miliknya dengan sangat erat sebelum tiba-tiba pegangan sabit itu patah menjadi dua bagian, Mingyu mematahkannya dengan hanya mencengkramnya, Seungkwan jatuh kebelakang menabrak meja kantin panjang lainnya—dia terkejut dan tidak menyadari bahwa Mingyu tidak peduli dengan perkataannya.
"Mau kujahit mulutmu ya?" Mingyu mendengus dan hendak melayangkan tendangan tinggi pada Seungkwan keras ketika tiba-tiba sebuah peluru berkaliber 25x99m menerobos dan membuat kaca kantin pecah dan berhasil menggores telinganya secara cepat, peluru itu meleset, dan ini pertama kalinya dia terluka dalam duel.
Mingyu mematung secara tiba-tiba, dia tidak mengucapkan apa-apa dengan kedua mata yang sedikit membulat akibat terkejut, peluru dari mana?! Kepalanya sedikit miring ke kanan yang membuat rambut hitamnya bergoyang kecil, cahaya rembulan menampakan sebuah Gedung Kesehatan yang memiliki tujuh lantai dan sebuah cahaya kecil berkedip kecil disana—ah dia tahu siapa yang melakukannya. Tapi, dia terlalu fokus dengan peluru yang baru menggores telinganya dan tidak menyadari Seungkwan yang tiba-tiba beranjak bangun dan hampir memberinya bogeman mentah kembali.
Bugh!
Tidak, Seungkwan tidak mengenainya, Mingyu menahannya dengan telapak tangan, pandangan yang kosong yang tidak peduli lagi akan semua hal yang terjadi terucap sekaligus dalam raut wajah Mingyu yang kini benar-benar beku.
Itu artinya, dia saat ini benar-benar serius untuk melenyapkan seseorang.
"Kau tahu?"
Kepalan tangan miliknya masih berada dalam genggaman Mingyu, diam-diam Seungkwan merogoh celana training hitam miliknya—hendak mengambil senjata lain, namun itu tidak terjadi ketika Mingyu tiba-tiba lebih dulu memelintir kepalan tangannya hingga suara tulang patah mengerikan terdengar.
Krak!
"ARGH!"
"Aku tidak pernah terluka."
Dan suara lainnya, krak! krak! krak!
Terus berulang, Seungkwan menjerit dan kembali melayangkan kepalan lainnya namun Mingyu berhasil menghindar, kilatan mata dingin membuat Seungkwan sedikit berjengit dan jatuh terduduk ketika Mingyu berhasil menendang dadanya, pada akhirnya Seungkwan tidak bisa menggerakan jari-jari pada tangan kanannya, jarinya sudah patah ketika Mingyu berhasil mematahkannya dalam sekejap.
"Kau—sial! Argh!"
"Itu tidak akan terasa sakit bila kau berhenti teriak, Seungkwan."
Tap.
Mingyu melangkah dan mengambil potongan sabit milik Seungkwan didekat kaki meja panjang disana, dia membungkuk sebentar sebelum berjalan mendekat pada Seungkwan yang kini posisinya terduduk sebelum akhirnya dia jatuh bersujud ketika Mingyu menginjak kepalanya agar wajahnya dapat menempel apik pada lantai dibawahnya yang kini bahkan sudah terdapat bercak darahnya, dia jatuh dalam posisi seperti bersujud, kaki Mingyu masih menekan dan menginjak kepalanya agar tidak mendongak lagi.
"Well, kau terlalu gegabah berbicara seolah kau dekat denganku Seungkwan."
"Krhh.."
"Aku memang selalu memasang topeng dengan baik," Mingyu memainkan sabit yang patah pada tangannya, bagian tajamnya masih terlihat mengkilat dan dapat merobek daging dengan mudahnya, "tapi, aku benci seseorang yang sudah berani menyentuh anggota tubuhku."
Cleb!
"ARGH—"
Cleb!
Dua kali tusukan pada punggungnya yang bebas, dan Seungkwan tidak bisa berhenti berteriak kesakitan ketika Mingyu menarik sabitnya dengan sengaja tanpa belas kasih, kepalanya mendongak angkuh dan dia menyingkirkan kakinya yang tadi menginjak kepala Seungkwan, dia berjongkok dan menarik dagu Seungkwan, wajahnya sudah penuh oleh cairan merah kental—darah yang datang pada corong matanya yang kosong.
Dia mengerling sebentar ketika merasa suasana sedikit hening, Seungkwan tidak sanggup berbicara, sebagian lukanya dapat sembuh, dan Mingyu membencinya, dia melirik Carats yang terpakai dengan erat dipergelangan tangan Seungkwan, "lukanya cepat sembuh heh."
"Aku..arhh tidak akan kalah—darimu!" katanya sedikit tersendat, Seungkwan berusaha mengatur nafasnya yang memburu, Mingyu hanya mengulas sebuah senyuman, "tentu saja."
Mingyu menarik pergelangan tangan Seungkwan, dia melepas genggamannya pada dagu milik Seungkwan dan meraba Carats yang berpendar kehijauan, menyembuhkan beberapa luka Seungkwan secara ajaib, "Carats tidak akan bisa dilepas secara paksa dan mudah," kata Mingyu terlampau santai, dia beralih menatap Seungkwan yang meringis kesakitan, "tapi.. bagaimana kalau aku memotong pergelangan tanganmu.. Boo Seungkwan? Bukankah Carats tidak akan bisa menyembuhkanmu lagi hm?"
Seringai tajam terulas, sabit terangkat tinggi dan Seungkwan sudah membelalak lebih dahulu, dan dua detik kemudian Seungkwan benar-benar merasa bahwa hidupnya akan berakhir disini.
Jleb! Klak!
Darah memuncrat begitu deras, Seungkwan merasa tubuhnya semakin lemas karena kehilangan darah begitu banyak, dia tidak sanggup berkata apa-apa, kedua belah bibirnya bergetar menahan sakit, amarah dan rasa kesal yang sudah mencapai diubun-ubun.
Seungkwan tidak berteriak kesakitan, dia hanya merasa bahwa dia memang tidak dibutuhkan kembali didunia ini. Kim Mingyu mengakhirinya dalam sekejap.
Sepotong pergelangan tangan terjatuh pada lantai, darah mengucur begitu deras dan memuncrat mengenai wajah rupawan Mingyu serta Seungkwan, "t-tanganku—"
"Apa? tanganmu satu lagi ingin kupotong juga?"
Seungkwan melotot dan beringsut kesusahan untuk menghindari Mingyu secepat mungkin, tapi toh, itu tidak menghasilkan apa-apa. Mingyu yang melihatnya hanya terkekeh dan menutup wajahnya dengan salah satu telapak tangan, "ow, ada apa?" Mingyu mengiba dengan wajah penuh kasihan.
"Kau takut?" Seungkwan mendesis kesal, dan mencoba mencerna apa yang sedang terjadi, Seungkwan membuang muka ke arah genangan darah yang masih mengucur deras dari lengannya yang baru saja dipotong.
Mingyu diam selama beberapa detik, wajahnya menjadi sebeku es, tatapan tajam yang menghujam Seungkwan dalam sekali tatap, "jawab pertanyaanku, brengsek."
Seungkwan menyeringai kecil disela-sela ringisannya, pandangannya semakin memburam, "aku tidak takut, aku hanya kasihan melihatmu begitu berambisi memenangkan duel kali ini sampai rela melanggar peraturan!"
Mingyu diam-diam menggertakan giginya menahan kesal, kepalanya menunduk yang menyebabkan sebagian poni hitamnya terjatuh menutupi dahi serta halis, "kau banyak berbicara."
Seungkwan meludah berniat mengompori Mingyu, dan kemudian memandang lurus menantang pada Mingyu yang berdiri menjulang dihadapannya, berusaha untuk tidak takut dan tidak terlihat lemah meski ia sudah sekarat. Dia meremas bagian lengannya yang baru saja dipotong dan terus mengucurkan darah.
"Mati saja kau, dasar monster!"
Mingyu menyeringai, "jangan salah paham, kau tidak berpikir aku datang dengan tangan kosong bukan?"
Sret!
"Sabit terlalu besar untuk memotong lidah serta kukumu itu," senyuman manis terukir, Seungkwan berpikir bahwa Mingyu mengidap penyakit mental karena perubahan moodnya yang sangat cepat—meski pada kenyataanya semua orang dikelas hitam memang sakit secara fisik maupun mental.
"Jadi—"
Ketika Mingyu sudah berjongkok dihadapan Seungkwan, dia menarik dagu pemuda berambut coklat itu, dia tidak melawan hanya menatap lurus padanya, meski Mingyu tahu, bahwa Seungkwan bergetar secara diam-diam untuk melawan rasa takut akan kematian yang akan menjemputnya sebentar lagi.
Seungkwan hendak berteriak dan memberontak ketika Mingyu mulai membuka mulutnya dan menarik lidahnya, kakinya menggelepar ketika Mingyu sudah menggoreskan garis melintang pada lidahnya menggunakan sebuah pisau kecil—yang mirip seperti pisau bedah.
"HMPFF—"
Mingyu mengabaikan dan tetap membuat garis panjang sebelum beberapa detik kemudian dia memotongnya tanpa berbicara apa-apa, darah mengotori wajahnya yang berhadapan pada wajah Seungkwan.
Seungkwan menjerit ketika lidahnya sudah terjatuh pada lantai dan menimbulkan suara menjijikan, dia menunduk dalam dengan kepalanya yang menunduk dan menahan sakit, tidak terasa bahwa air mata sudah mengucur deras. Lidah miliknya terlihat menggelapar diatas lantai dengan suara menjijikan dan aneh.
"Jangan menangis," kata Mingyu, "semua akan berakhir sebentar lagi."
"Kau harus tersenyum," tidak ada tanggapan, Seungkwan tidak sanggup mendongak, rasa sakit yang tidak tertahan semakin terasa.
Mingyu tersenyum, dia kembali mendekat pada Seungkwan, "hanya sentuhan terakhir, membuat senyuman pada wajahmu."
Mingyu memandang datar Seungkwan, dia menarik dagu Seungkwan yang sudah penuh oleh cairan kental merah pekat yang datang dari arah mulutnya, dia mengambil pisau bedah kecilnya dan menggoreskan pisaunya pada sudut bibir Seungkwan, membuat sebuah bentuk senyuman yang terukir dari kedua sudut bibir sampai dekat telinga.
"Hppff—"
"Stt, kalau kau bersuara akan semakin sakit."
Beberapa saat kemudian, Mingyu membuang pisau bedah berwarna perak miliknya, merasa bosan ketika tidak ada pergerakan dari Seungkwan, dia beranjak berdiri dan membiarkan Seungkwan tergolek lemah dengan bercak serta genangan darah miliknya diatas lantai yang sudah mengotori seluruh pakaiannya.
"...kenapa cepat sekali?" dia menendang pelan tubuh Seungkwan dengan pandangan kesalnya, raut wajahnya tidak terlihat jijik sama sekali.
Satu langkah mundur dan dia dapat melihat kedipan cahaya kecil dari Gedung sebrang, pemuda yang pandai dalam senjata api itu sepertinya akan mengincarnya lagi—pandai sekali dapat membidik dalam jarak seperti itu. Mingyu menoleh pelan ketika Carats miliknya berkedip cepat secara tidak beraturan dan mengeluarkan suara seperti alarm kebakaran.
"Aku melanggar peraturan ya?" gumamnya dan menatap telapak tangannya yang kotor oleh bercak-bercak darah, bau amis menyengat, dia menatap datar telapak tangannya sebelum mengelapnya pada jas sekolah yang benar-benar sudah kotor, dia terlihat tidak sadar atau mungkin tidak peduli dengan apa yang baru saja terjadi. Mungkin setelah ini ia akan terkena sanksi karena melanggar peraturan.
Atau mungkin juga tidak sama sekali.
"Kalau si sniper itu tidak menggores telingaku, aku tidak akan membunuh bocah tambun itu selama ini," desisnya tajam sebelum berbalik, hendak keluar dari ruangan itu, namun sebelum hal itu terjadi, Mingyu bergeser satu langkah secara cepat ke arah kanan, dan dua detik kemudian.
DOR! PRANG!
Pintu kaca kanti sudah terlanjur pecah, satu peluru melesat cepat, kalau dia tadi tidak menghindar dalam kurun waktu tiga detik, Mingyu yakin bahwa peluru bertimah panas itu sudah menembus kepalanya.
Dia menyeringai tajam, salah satu tangannya melesak masuk kedalam saku celananya, melangkah keluar ruangan dengan kepala mendongak angkuh, "dasar jalang, menembak saja sampai meleset."
Tidak lama kemudian, sebuah suara datang dari seluruh penjuru sekolah.
Hal yang ditunggu-tunggu oleh Kim Mingyu semenjak kegiatannya selesai.
02.34 AM KST—GAME OVER.
"GAME OVER. DUEL DIHENTIKAN."
Note[1] : Carats itu semacam gelang yang dapat memberi informasi lawan kepada kita, dapat menyembuhkan luka separah apapun itu—namun bila sudah mencapai batas; semacam luka yang didapat Seungkwan, itu akan membutuhkan waktu lama atau mungkin juga sama sekali tidak dapat disembuhkan.
Untuk part ini gue booking[?; Ost 10 Birden Zankyou No Terror (feat Arnonr Dan) & Nightcore-Where the Lonely Ones Roam buat jadi Soundtrack[?; ini chapter lolol.
Ga ngerti? Bisa tanya, insyallah gue jawab lewat pm, asal yang ga ngandung Spoiler. Maaf juga untuk semua FF yang gue buat bakal SLOW UPDATE [/bow alasannya ya karena sibuk, sebenernya ini chapter ada 6k words, tapi dipecah jadi dua biar ga terlalu panjang. Maaf gaje, garing krenyes krenyes. Maaf biasanya saya jadikan bejat/korban blabla.
Maaf garing, mengecewakan, bikin muntah, bikin kesel dan hal-hal lainnya. Kalau mau flame mohon di pm saja jangan nyampah disini. Kalau dipm boleh ngebacot sampe keluar busa. Lolol.
Love u readers nim. Dont forget review, fav or follow~ laffyaaaa! [/foto bareng mayat seungkwan [/no.
