Siapa wanita itu? Aku rasa aku tidak pernah mengenalnya.. tetapi... sangat familiar. Aku mengenal wajahnya... tapi... aku rasa seseorang yang kukenal bukanlah seorang wanita.
Tunggu...
Berwald?
Heh? Berwald transgender? Ah kagak mungkin! Cowok gentleman ketjeh kayak dia gak mungkin transgender! Teman sekolah dulu? Enggak ah, kayaknya yang punya wajah tegas hanya Berwald. Kok ane jadi mikirin Berwald, ya? Apa aku jatuh cinta dengan Berwald? KAGAK MUNGKIN! ANE MASIH NORMAL! Batin Mathias. Wanita itu mendekati Mathias dan berhasil membuat pria itu geregetan.
.
"Apakah kau... Mathias Køhler?"
.
.
"Siapa?"
Silhouette
Hetalia itu milik ABANG KETJEH HIMARUYAAAAAAH
Saya MAH yang nistain #ditabok
Warning: Typo, gaje, garing, aneh, krenyes-krenyes, tidak sesuai EYD, bahasa ancur, bahasa asing yang ancur, rating naik mendadak, crossover mendadak, author masih newbie, karakter yang dinistain, OOC, OOT, dll.
Wanita itu memperbaiki kacamatanya dan bertanya lagi,
"Apakah kau Mathias Køhler, sang model dengan paras tampan yang sangat terkenal seantero Semenanjung Scandinavia atau Nordics?"
"Bisakah kau tidak mengatakan itu? Itu membuatku malu!" jawab Mathias agak memerah. "Aku.. kurang suka dengan pujian atau kata-kata seperti itu," lanjutnya.
"Baiklah, aku tak akan mengatakan itu lagi," jawab wanita Swedia itu. Menurut Mathias, wanita yang mirip sahabatnya itu, Berwald, sangat cantik. Pada malam seperti ini, tubuhnya dibalut dengan long dress dengan sabrina collar berwarna navy blue khas Swedia dan kacamata frameless yang amat cocok dengan wajah tegasnya. Ia jadi ingat Berwald lagi. Tenang, Mathias masih normal, kok!
"Baiklah. Jadi, siapa namamu?" tanya Mathias sambil menatap mata wanita itu.
"Aku Lucia Oxenstierna. Aku berasal dari Norrköping. Mau ke bar? Akan ku traktir. Aku ingin berbicara banyak denganmu," jawab wanita itu tanpa basa-basi. Mathias menyetujuinya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang wanita bermarga Oxenstierna. Tunggu? Oxenstierna? Itukan marga Berwald. Mungkin ia mengetahui tentang pria Swedia yang ia cari selama ini dan salah satu alasan Mathias menjadi selebritis.
Ia mengikuti wanita itu ke bar di salah satu bagian hotel itu. Setelah mereka sampai ke salah satu bar di hotel itu, Lucia langsung berkata kepada bartender,
"Moët golden glamour två glas, vänligen!(1)" Ia diam-diam memberikan sebuah kertas kecil yang ia sembunyikan di cincinnya. Bartender itu tersenyum samar dan melayani apa yang diminta Lucia.
"Nona Oxenstierna, apa yang kau pesan?" tanya Mathias dengan sopan.
"Dua gelas cocktail dari white wine untukku dan untukmu. Tolong jangan terlalu formal, Mathias! Panggil aku Lucia saja," jawab wanita pirang berkacamata itu dengan sedikit dingin. Mathias berpikir, Lucia benar-benar mirip Berwald. Hanya saja, ia tidak memiliki aura mengintimidasi sekuat sahabatnya. Ia benar-benar berpikiran Berwald sudah bertransformasi menjadi seorang wanita dengan melakukan operasi transgender. Sungguh mengerikan!
"Huh, syukurlah! Aku pikir vodka atau tequila. Jika manajerku lewat dan aku ketahuan mengonsumsi vodka, aku akan dibunuh! Dia sangat mengerikan!" kata Mathias. Lucia tertawa pelan saat mendengar ocehan pria asal Denmark itu. Saat pesanannya datang, Lucia mempersilahkan Mathias untuk mencicipi cocktail tersebut.
"Skål!(2)" kata mereka berdua sambil menyenggol kedua gelas tersebut. Saat Mathias meminum cocktail tersebut, ia merasa sangat pusing. Pandangannya buyar. Ia mulai tak sadarkan diri. Ia bingung efek white wine ini sangat cepat. Padahal, saat ia meminum white wine sebelumnya, ia merasa biasa-biasa saja. Ia sudah tidak tahan lagi.
"Lu...ci...a..." bisiknya saat ia sudah benar-benar kehilangan kesadarannya dan jatuh pingsan.
.
Mathias terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya perlahan. Saat ia membuka matanya, ia kaget. Ia sudah berada di kamar suite di hotel itu dengan tangan terikat. Untungnya, seluruh pakaiannya masih melekat di tubuhnya walaupun sangat berantakan. Ia melihat wanita yang mengajaknya ke bar tadi malam datang mendekat. Ia kaget lagi. Lucia hanya mengenakan lingerie yang hanya menutupi bagian atas dada hingga atas paha.
"A-apa yang kau inginkan, Lucia? Mengapa kau mengenakan pakaian seperti itu?!" Mathias amat sensitif dengan pakaian seperti itu. Ia tidak ingin melihatnya. Walaupun ia suka hal begituan, ia juga sensitif dengan hal itu. Rumit, kan, jadi Mathias?
"Aku baru saja dari kamar mandi. Tenang saja, aku tidur di kamar sebelah. Apa yang aku inginkan? Aku hanya menginginkan dirimu, Tuan Køhler!" jawab wanita itu membuat Mathias makin geregetan.
"Baiklah, jika kau menginginkanku. Tapi, sebelum itu, aku ingin kau mengaku, Berwald! Apakah kau Berwald Oxenstierna yang bertransformasi menjadi seorang wanita?" tanya pria itu dengan sedikit kesal.
"Apakah kakak belum mengenalkanku padamu? Aku bukan Berwald, melainkan adiknya! Namaku Lucia Oxenstiena! Aku dan kakak tinggal di daerah yang berbeda saat masih kecil. Kami memang tinggal di Stockholm, tapi kami berbeda rumah. Kakak tinggal di daerah Solna dan aku serta keluarga kami tinggal di Södermalm. Memang, wajah kami sangat mirip, apalagi dia sudah dinyatakan menghilang sejak 3 tahun yang lalu. Aku menginginkanmu karena kakak menginginkanmu. Kau ingin bertemu dengan kakak, bukan? Aku tahu dimana dia berada sekarang!" Lucia angkat bicara dengan kalem tapi sedikit mengebu. Ia menghela napas agar tidak terbawa rasa kesal Mathias. Mathias terbelalak mendengar ucapan itu. Ia merasa kesal sekaligus senang. Akhirnya ia dapat bertemu dengan pria Swedia berkacamata itu lagi. Pria itu berusaha menenangkan diri. Setelah ia menenangkan diri, ia membuka mulutnya dan berkata,
"Iya, aku ingin bertemu dengannya. Kami lost contact dan Berwald menghilang begitu saja. Bukan hanya Berwald, tetapi juga Lukas, Emil, dan Tino. Sejak saat itu aku sangat kesepian. Saking kesepiannya, aku kebanjiran job. Manajerku selalu mengaturku hingga aku hampir melupakan mereka. Sekarang, mungkin statusku akan menghilang juga dan manajerku akan mencariku dan membunuhku. Aku pikir sekarang sudah terlambat, tetapi, masih ada kesempatan, kan?"
Lucia tersenyum tipis dan mengangguk kaku. Ia berjalan mendekati Mathias dan merangkak di atas tubuh pria itu. Wajah Mathias memerah. Ia bertanya,
"A-apa yang k-kau lakukan, Lucia?!"
"Melepas pengikat agar kau tidak kabur. Mengapa?"
"Posisimu... sangat..."
"Maaf. Aku tidak sengaja," jawab wanita itu polos.
"Mathias," panggil Lucia.
"Hmm?"
"Kakak sudah menunggumu, kau harus segera bersiap. Kau akan kabur dari duniamu yang sekarang. Apakah kau siap?" bisik Lucia di telinga pria itu. Suaranya terdengar seduktif.
"Baiklah. Aku siap. Ini jalan yang aku pilih. Aku tak akan menyesalinya," Mathias balas berbisik kepada wanita itu. Lucia tersenyum tipis. Ia berbisik,
"Ternyata, suaramu seduktif juga. Kau bisa membuat wanita nyaman jika kau membisikan sesuatu."
"Kau yang memulai, Lucia. Jangan salahkan aku. Salahkan dirimu sendiri. Salah sendiri kau menggodaku," jawab pria itu dengan senyum percaya dirinya. Lucia mengecup ringan bibir tipis Mathias. Wajah pria itu makin merona. Lucia menjauhkan wajahnya dan berbisik,
"Anggap saja itu bonus!" Mathias bangkit dari posisinya dan merapikan pakaiannya yang amat berantakan. Ia tersenyum saat wanita itu kembali ke kamar sebelah. Dasar wanita agresif, pikir pria itu. Setelah ia merapikan dirinya, ia menemukan sepucuk surat di atas end table. Ia membuka surat itu.
Kepada Mathias Køhler,
Aku tunggu kau di rooftop! Ini petanya. Jangan sampai kau ketahuan oleh siapapun! Kirimkan pesan kepadaku jika kau kesulitan! Aku sudah mencantumkan nomorku di telepon genggammu.
Lucia Oxenstierna
Mathias hanya bisa tersenyum canggung saat membaca itu. Lalu, ia mengecek nomor itu di telepon genggamnya. Ternyata, Lucia benar-benar sudah mencantumkan nomornya di telepon genggamnya. Ia berbisik, dia memang licik. Seperti serigala! Kemudian, ia bergegas menuju rooftop, dimana tujuan yang sudah ditentukan oleh Lucia.
.
Setelah ia mencapai rooftop, ia melihat seorang wanita Swedia mengenakan formal suit yang terlihat elegan dan keren dengan kacamata frameless yang memadukan gayanya dan rambut pirang yang diikat dengan style bohemian buns. Di sana juga ada helikopter berjenis AW 139 sudah menunggu mereka. Lucia naik ke dalam helikopter tersebut dan berkata,
"Apakah kau siap?" Mathias meraih tangan halus milik Lucia seraya berkata,
"Aku siap, bahkan jika aku harus meninggalkan duniaku sekarang!"
To be continue
Hae, ini Mijookieh!
Yak, sesuai janji, chapter 2 selesai dengan cepat tapi madesu. Dan.. ratingnya naik tiba-tiba :'v Maafkan jookieh! Ane bingung mau ngomong apa. Ini juga udah malem. Jadi... stay tune yak :v
Btw, bisa loh request buat prime time attack dan my awesome journal!
Mini dictionary:
Moët golden glamour två glas, vänligen!(1): Tolong, moët golden glamour 2 gelas! (Swedia)
Skål!(2): Bersulang! (Swedia, Denmark, Norwegia (bahasa scandinavia))
.
.
Thanks for Read! Wanna review?
