"Apakah kau siap?"
Aku siap! Bahkan, jika aku harus meninggalkan duniaku yang sekarang!
.
.
.
Aku sudah tidak tahan dengan kesendirian ini!
Silhouette
Hetalia itu milik ABANG KETJEH HIMARUYAAAAAAH
Saya MAH yang nistain #ditabok
Warning: Typo, gaje, garing, aneh, krenyes-krenyes, tidak sesuai EYD, bahasa ancur, bahasa asing yang ancur, rating naik mendadak, crossover mendadak, author masih newbie, karakter yang dinistain, OOC, OOT, dll.
Helikopter itu menuju sebuah hutan di bagian utara Swedia. Tidak seperti musim panas di København, di daerah ini masih sangat dingin. Mathias menatap Lucia dari tempat duduknya. Wajah Lucia sedingin udara di luar helikopter saat ini. Ia tampak sangat serius. Mathias sangat ingin memecah keheningan ini tetapi... ia tidak seberani kemarin. Entah apa yang membuat seorang Dane ini takut. Tidak ada yang perlu ia khawatirkan tetapi... apa yang ia khawatirkan saat ini? Terjun ke dunia yang gelap dan tak dapat melihat sinar matahari? Ia sudah siap untuk itu. Kehilangan seluruh kepopuleran dan kekayaannya? Dia tidak peduli dengan itu. Melakukan tindak kriminal? Dia sangat berbakat dalam hal itu; bakat aktingnya sangat membantunya. Darah viking-nya akan membantunya, lebih tepatnya.Entahlah, dia juga tidak tahu.
"Kapan kita akan sampai, Lucia?" tanya Mathias yang masih menatap wanita Swedia itu dari tempat duduknya.
"Sekitar 2 menit lagi! Sudah kelihatan dari sini," jawab wanita itu sambil menatap langit yang amat berawan itu. Perjalanan yang di tempuh selama 14 jam dari København ini terasa amat melelahkan. Sekarang, sudah sangat gelap. Jaringan di sini pun juga sangat terbatas. Apa boleh buat, ini sudah resikonya. Mathias pun juga sudah siap itu walaupun ia belum bisa merelakan jaringan internet di telepon genggamnya.
"Tenang, di rumah kami memiliki jaringan yang amat cepat. Disana tempat yang paling aman untuk bersembunyi," tukas Lucia sambil melihat radar. Mathias menghela napas lega. Mathias melirik ke arah jam tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 23.24. Mungkin, Nona Arlovskaya sudah mengucapkan kalimat sakralnya sambil mengacak-acak hotel, pikir pria bersurai pirang itu sambil menatap langit tanpa bintang itu.
Perlahan-lahan, helikopter menurunkan ketinggiannya. Mereka sudah sampai pada destinasi mereka; sebuah mansion besar yang luarnya terlihat tak terawat dan terletak di tengah hutan yang lebat di Swedia utara. Mathias, Lucia, dan awak helikopter turun dengan teratur. Pria berdarah viking itu memandang takjub bangunan tak terawat tersebut. Sepanjang hidupnya ia belum pernah melihat bangunan semegah ini. Mereka berjalan menuju ke sebuah pintu yang amat besar di sebelah kiri tempat parkir helikopter itu. Saat Mathias mulai mengetuk pintu, pintu itu terbuka secara tiba-tiba. Seorang pria berkacamata bertubuh besar dan proposional serta bermata aquamarine dengan rambut klimis menyambut mereka.
"Selamat malam, Nona Lucia, Hmm... Tuan... Koehler? Maaf, nama anda sedikit susah untuk diucapkan. Saya tidak terbiasa dengan bahasa Denmark. Mari, Tuan Berwald sudah menunggu kalian!" kata pria Jerman itu dengan amat sopan.
"Terima kasih, Tuan Ludwig!" respon Lucia sambil berjalan masuk dengan sangat elegannya. Mathias membuka mulut dan berkata,
"Terima kasih atas sambutannya, Tuan..."
"Ludwig. Ludwig Beilschmidt. Saya dan kakak saya berasal dari Jerman. Saya lahir di Bonn sementara kakak saya di Berlin. Sebaiknya Anda memanggil saya Ludwig karena marga kami sama," sahut Ludwig dengan amat sopan.
"U-uh... baiklah, Tuan Ludwik. Terima kasih atas sambutannya, sekali lagi," jawab Mathias berjalan masuk.
"Mari, saya antar ke ruangan Tuan Berwald!" kata Ludwig dengan bahasa Swedia yang amat lancar. Mathias sedikit terkesima dengan kemampuan bahasa pria Jerman itu. Dia sangat sopan dan terkesan sangat intelek. Sepertinya ia pernah mendengar nama pria tinggi itu, tapi... dimana?
Mereka mengikuti langkah besar dan penuh sahaja milik Ludwig. Ludwig terkesan sangat gagah dan tenang dengan langkah itu. Bagaikan pasukan barisan depan yang tangguh. Setelah beberapa lama mereka menyusuri mansion itu, akhirnya mereka sampai ke sebuah ruangan dengan pintu yang amat besar. Lucia maju selangkah dan mengetuk pintu. Wanita itu berkata,
"Kakak, aku datang!"
"Masuk!" jawab sebuah suara dengan nada berat dari dalam. Mereka bertiga membuka lebar-lebar pintu itu dan memasuki ruangan itu. Mathias terkesima lagi akan bangunan tua itu. Ruangan itu terlihat sangat simpel dengan tatanan Scandinavian style tetapi terasa amat megah. Tidak ada bangunan di København atau Stockholm yang seperti ini. Di ruangan itu, terdapat dua belas orang yang terlihat sedang bersantai besama. Tujuh orang sedang duduk di sofa secara melingkar, satu orang sedang bermain piano, seorang wanita duduk di samping pria yang sedang bermain piano, seorang pria yang ia kenal duduk di sebuah meja besar dan sepasang kembar yang berdiri di samping Berwald.
Ruangan itu terasa sangat hangat walaupun di luar sangat dingin. Mata Mathias hanya tertuju kepada satu orang; Berwald seorang. Berwald bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Lucia dan Mathias.
"Kau berhasil, Lucia! Kau berhasil membawanya kesini!" kata Berwald dengan terbata-bata.
"Ber, itukah kau?" tanya Mathias dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya, ini aku. Maaf aku harus pergi bersama yang lain. Maaf juga karena tak mengajakmu," jawab Pria berwajah stoic itu. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil. Lukas, Emil, dan Tiino berjalan ke arah dua pria viking yang sedang berhadapan satu sama lain. Mereka berdiri di depan Mathias. Mathias mulai menangis.
"Maafkan kami. Kami tak ingin kau melindungi kami terus. Kami harus pergi dari dunia itu untukmu. Dan, kami terpaksa melakukan ini. Bukan hanya kau, tapi kami juga terancam. Kita butuh tempat untuk berlindung. Kami belum bisa mengajakmu karena suatu hal. Itu demi keselamatanmu," kata Tiino dengan rasa menyesal.
"Kami tak ingin kehilanganmu, bodoh!" tukas Lukas dengan ekspresi kuudere -nya yang khas.
"Karena kau kakak kami," lanjut Emil, sang adik bungsu.
"Dan teman kami yang egois dan bodoh," lanjut Berwald dengan senyuman kecil. Mathias mulai menangis. Ia sangat terharu. Ditambah pria yang sedang bermain piano itu melantunkan lagu yang amat melankolis dan menyayat hati. Coretdanbawangyangdibelidikrustykrabyangbikinnangisitucoret. Mathias tak dapat membendung air matanya. Ia tidak bisa menahannya seperti waktu itu. Berwald, Lukas, Tiino, dan Emil memeluknya dengan erat. Mathias menangis tersedu-sedu. Mereka berempat berbicara dengan bahasa Denmark dan berkata,
"Du er ikke alene! Vi er her for dig!(1)"
"Bodoh! Mengapa kalian melakukan ini tanpa memberitahuku! Kalian benar-benar tidak awesome!" kata Mathias dalam tangisannya. Pria (mantan) selebritis itu membalas pelukan sahabat-sahabatnya.
"Hei, dia mengutip kata-kataku!" sahut seorang pria albino penderita heterochromia center.
"Lihat-lihat kondisinya, bego! Kau gak liat mereka ngapain, hah? Kamu pas habis ngeruntuhin Berlin Mauer juga kayak gitu ma adek lo! Dasar mood breaker!" kata seorang pria kecil dengan rambut pirang sedikit panjang sambil memukul pria albino itu dengan sebuah gulungan kertas.
"Ya maaf, Vash! Kau tidak perlu memukulku seperti itu!" kata pria albino itu sedikit kesal.
"Bisakah kalian tenang sejenak?" Ludwig angkat bicara dengan tatapan mautnya yang berhasil membuat kedua pria itu bungkam. Kedua pria itu hanya mengangguk sebal.
"Terima kasih," kata pria berkacamata itu.
Kelima orang itu melepaskan pelukkannya. Mathias tersenyum cerah seperti sedia kala. Ia merangkul sahabat-sahabatnya seperti yang ia lakukan dulu. Mereka berempat tidak bisa menolak rangkulan hangat dari pria Denmark tersebut.
"Selamat datang kembali," kata mereka berempat.
"Aku kembali! Apakah kalian merindukanku?" tanya Mathias dengan senyum seperti biasa.
"Tidak. Apa peduliku jika kau kembali?" tanya Lukas dengan nada amat dingin.
"Kau benar-benar bodoh," kata Berwald.
"Kakak tidak membawakanku oleh-oleh," kata Emil.
"Mathias seperti Mathias yang dulu. Tidak berubah," ucap Tiino tulus.
"Kenapa kau bisa memanggil keparat itu kakak, Emil! Panggil aku kakak!" perintah Lukas.
"Gak mau!" jawab Emil.
"Bilang kakak!" perintah pria Norwegia itu.
"Enggak MAOOOOOOO!" jawab Emil lagi.
Yah... reuni yang amat menyentuh. #gak
To be continue...
Hei, selamat malam semuaaa! Yak, masih lanjut ke chap 4! Ane bingung mau ngomong apa. Yaudah gitu dulu aja. Stay tune!
Oh ya, Berwald sengaja ane bikin ngomong jelas biar gampang. Males juga sih bikinnya klo vokalnya diilangin.
Mini dictionary:
Du er ikke alene! Vi er her for dig!(1): Kau tidak sendirian! Kami disini untukmu! (Denmark)
.
Thanks for read! Review, venligst?
