Maafkan kami!

Kami tak ingin kehilanganmu, bodoh!

Kau tidak sendirian. Kami bersamamu.

Silhouette

Hetalia itu milik ABANG KETJEH HIMARUYAAAAAAH

Saya MAH yang nistain #ditabok

Warning: Typo, gaje, garing, aneh, krenyes-krenyes, tidak sesuai EYD, bahasa ancur, bahasa asing yang ancur, rating naik mendadak, crossover mendadak, author masih newbie, karakter yang dinistain, OOC, OOT, dll.

Mathias duduk di sebelah Lucia dan Ludwig. Sedangkan Berwald sudah berada di posisi awal. Sang pianis sudah selesai bermain dan ia duduk menghadap orang-orang yang ada di situ. Berwald menarik napas dalam-dalam sebelum ia memulai percakapan ini.

"Ber, aku ingin bertanya tentang sesuatu," Mathias angkat bicara sebelum Berwald berbicara. Ia tak suka menunggu. Memang kurang sopan, tetapi, baginya, pertanyaan ini sangat mengganjal di hatinya. Ia membuka mulutnya lagi dan bertanya,

"Apa maksudmu kita terancam? Mengapa kalian tidak mengajakku karena suatu hal?"

Berwald menghela napas berat. Ia sudah menduga Mathias akan bertanya seperti ini. Ia sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan itu sejak waktu yang amat lama. Ia berkata,

"Aku sudah menduga kau akan bertanya seperti itu. Dan, itu alasan kita berada disini. Tapi, sebelum itu, aku ingin kamu berkenalan dengan mereka! Perkenalkan diri kalian satu per satu kepada tamu kita! Dimulai dari kamu, Gilbert!" Seorang pria albino menjawab,

"Baiklah, kak!" Ia berdiri dan membuka mulut. Ia mulai memperkenalkan dirinya dengan

"Baik, Tuan Køhler! Namaku Gilbert Beilschmidt, anak kedua dari keluarga ini. Aku memang berbeda karena aku albino dan memiliki heterochromia center. Dan, itu yang membuatku semakin awesome! Kesesese~! Aku lahir di Berlin, dan otomatis, aku orang Jerman dengan darah Prussia! Sekian!" Kemudian, perkenalan itu dilanjut oleh Ludwig. Ia berdiri dan mengatakan,

"Saya Ludwig Beilschmidt. Seperti yang saya katakan, tolong panggil saya Ludwig! Saya anak terakhir di keluarga ini. Saya mungkin berbeda dengan kakak saya, tetapi, kami sama-sama orang Jerman. Sebelumnya, saya berkerja sebagai teknisi dan kakak saya seorang dokter."

"Saya Elizaveta Hédérvary dan ini suami saya, Roderich Edelstein. Saya orang Hungaria dan dia orang Austria. Dia anak ketiga dari keluarga ini. Saya berharap saya dapat membantu keluarga ini dengan sepenuh hati!"

"Aku Vash Zwingli dan ini adikku, Lily! Kami orang Swiss. Kami menjalankan perusahaan industri sebelum kami dinyatakan menghilang. Jangan macam-macam dengan Lily atau aku tembak dengan senapan kesayanganku!"

"Saya Miroslava Nadezda dan saya berasal dari Republik Czech. Saya sering dipanggil Mira. Saya diangkat sebagai anak oleh Nyonya Hédérvary. Mohon bantuannya!"

"Aku Stefan Drahoslav. Panggil aku Stef! Aku lahir dan besar di Slovakia. Sebelum aku dan Mira menghilang, aku adalah tetangganya. Dan sampai sekarangpun, aku pacarnya! Doakan semoga kami langgeng seperti Tuan dan Nyonya Edelstein! Wadao!" Stefan dengan suksesnya kena pukulan dari Mira.

"Mungkin Anda belum mengenal saya, Tuan Køhler. Saya Tiina Oxenstierna. Sama seperti kakak saya, saya berasal dari Finlandia. Sebelumnya, saya bermarga Vainamoinen. Saya telah menjadi istri dari Tuan Berwald sejak dua tahun yang lalu, sehingga marga saya juga berganti. Ku harap kita saling mengenal satu sama lain."

"Saya Lucia Oxenstierna, anak keempat dari keluarga ini. Seperti Kak Berwald, saya juga orang Swedia. Mungkin kami mirip, sebenarnya sifat kami bertolak belakang. Memang tak terlihat, tapi Anda akan mengetahuinya suatu saat nanti."

Lalu, Berwald berdiri. Mathias kaget. Mengapa ia memperkenalkan dirinya lagi padahal aku sudah tahu dirinya! Pikirnya.

"Pasti kau kaget mengapa aku berdiri dan memperkenalkan diriku. Aku menyimpan sebuah rahasia darimu, Mathias. Aku anak pertama dari keluarga ini. Sebenarnya, hanya Gilbert dan Ludwig yang diasuh secara langsung oleh ayah kami. Kami diasuh oleh ayah kami hingga kami berumur 6 tahun. Ia memberi kami pilihan untuk tinggal bersamanya atau memilih rumah baru. Marga kami disesuaikan dengan rumah baru kami. Lucia mengikutiku ke utara hingga kami menjadi orang Swedia. Vash dan Lily ke selatan. Roderich ke timur. Hanya Gilbert dan Ludwig yang tinggal di Jerman. Kami sepakat untuk berkumpul di Swedia karena disini adalah tempat paling aman dan paling jauh dari keramaian.

Dan alasan kami disini karena kami dikejar oleh sekelompok mafia berasal dari daratan Eurasia," jelasnya. Mathias menganga kaget. Baru kali ini sahabatnya membocorkan rahasia yang bertahun-tahun ia simpan. Berwald menarik napas kembali dan melanjutkan,

"Sebenarnya, tidak hanya anak-anak dari Germania saja yang dikejar. Emil, Lukas, Tiino, dan Tiina juga. Kami tidak tahu apa yang mereka inginkan. Dan, apakah kau tahu, saat kau menjadi selebriti, kau juga dimata-matai oleh kelompok itu?" Mathias terbelalak. Ia tidak menyangka ia telah dimata-matai. Ia tidak tahu siapa. Ia terlalu kesepian untuk mengkhawatirkan itu. Mathias bertanya dengan suara lemah,

"Siapa yang telah memata-mataiku?"

"Natalya Arlovskaya. Dia mata-mata berkedok manajer," jawab Berwald.

"Siapa yang memberitahumu?" tanya Mathias lagi.

"Kirana Kushaparani. Dia informan yang sangat berguna. Selain itu, Kiku Honda, kenalannya Ludwig juga ikut memantaumu lewat satelit. Mereka hacker yang berbakat. Kami menunggu saat yang tepat untuk menjemputmu. Natalya benar-benar sangat waspada. Jadi, mau tak mau kami harus meninggalkanmu lebih dulu. Untungnya, keramaian itu benar-benar menyesatkannya dan Lucia berhasil "menculikmu" sebelum wanita pembunuh itu datang," jelasnya lagi. Mathias tak tahu harus berbicara apa lagi. Ia benar-benar bingung dengan semua ini. Kepalanya sangat pusing. Tiba-tiba, seorang wanita berambut kucir kuda masuk dengan membawa sebuah dokumen di tangannya.

"Maaf aku tidak mengetuk pintu terlebih dulu. Eh, kok rame? Ada apa?" tanya wanita muda itu bingung. "Omong-omong, aku terlambat, yah? Maaf aku tidak tahu!" kata wanita muda itu lagi. Lalu, ia memberikan dokumen itu kepada Tiina sambil berkata,

"Aku mendapatkannya dari Kiku dan kakakku. Mereka sudah melacak pergerakan "beruang putih". Kami belum mengetahui rencana mereka selanjutnya. Setidaknya, mereka belum tahu daerah Luvos. Kalau dilihat dari beberapa kumpulan dokumen, kita dapat melakukan pergerakan. Mereka sedang tidak waspada. Tapi, rumornya Natalya, sang winter princess sedang mengamuk. Dia telah kehilangan seseorang. Omong-omong, siapa pria yang duduk di sebelah Lucia itu?" Tiina menerima dokumen itu. Lalu, ia menjawab pertanyaan wanita berambut kucir kuda itu,

"Dia Mathias Køhler, orang Denmark yang sering dibicarakan oleh Berwald. Dia yang kau maksud dengan 'orang hilangnya si winter princess'. Akan ku ajukan ini kepada Berwald."

Sementara itu, Mathias sangat bingung. Ada sesorang lagi yang belum ia kenal. Tampaknya, ia sedikit berbeda. Bukannya rasis, tapi ia terlihat berbeda daripada orang-orang yang ada disini. Kulitnya sedikit tan. Dia seperti orang Mediterania. Ia bertanya pada Ludwig,

"Hei, siapa wanita muda yang bersama Nyonya Oxenstierna? Dia tidak mirip dengan Berwald atau Kau atau Vash." Wajah pria Jerman itu mulai tersipu. Ia mulai menyembunyikan wajahnya. Lalu, Ludwig berdehem dan membenarkan posisi kacamatanya. Ia menjawab,

"D..d-dia... Felicita Vargas. D-dia.. k-kekasihku. Kami bertemu di Italia, di negara asalnya, saat aku masih bekerja di sana. Tepatnya 2 tahun yang lalu. Ia berpisah dengan kakaknya karena pria itu memilih tinggal di Spanyol. Aku baru tahu kalau kakaknya juga anggota mafia seperti kami, malah partner keluarga ini. Aku sungguh tak menyangka."

"T-tunggu! Apa yang kau bilang tadi? Mafia? Apakah kalian telah mengatur kartel-kartel barang gelap?" bisik Mathias kaget dan tak percaya dengan ucapan pria itu. Ludwig menatap Mathias dan menjawab,

"Tidak, kami tidak menjalankan bisnis kotor itu!"

"Menjadi pembunuh bayaran?" tanya Mathias lagi.

"Apalagi itu. Walaupun kebanyakan dari keluarga kami bekas tentara dan memiliki bakat untuk membunuh, kami masih memiliki hati nurani untuk tidak membunuh. Itu bukan ide yang bagus," jawab Ludwig lagi.

"Lalu, apa alasan kalian menghilang?" Mathias masih ingin tahu.

"Seperti yang kakak kami katakan, untuk bersembunyi. Sang beruang merah, mulai meneror kami. Kami menyebutnya beruang putih karena markas mereka sangat terpencil dan selalu musim dingin. Kami hanya menyerang jika waktunya tepat dan suatu saat, kami juga akan kembali ke dunia kami masing-masing. Aku dan kakakku serta Felicita sudah merencanakan untuk hidup di Berlin. Kak Berwald akan kembali ke Stockholm dan membangun kehidupan bersama istrinya. Dan sebagainya," jelas Ludwig. "Sebaiknya Anda pergi kamar anda karena ini sudah pukul setengah dua malam. Lagipula, tadi juga perjalanan yang cukup jauh, bukan? Jangan khawatirkan kami! Kami masih perlu merapatkan strategi untuk menyerang mereka. Oh, ya, ini kunci kamarmu. Lucia akan mengantarkanmu," kata pria Jerman itu. Lucia berdiri dan membuka pintu ruangan itu sambil berkata,

"Ayo, ikut aku! Akan kutunjukan kamarmu!" Mathias bangkit dan berjalan mengikuti wanita itu.

To be continue

Chapter ini gaje, njeeer! Ane rada ngantuk pas ngerjain ini jadi... ya... rada ancur. Btw, aku sengaja menambahkan Czech dan Slovakia (biar rame, yang jelas). Itung-itung mereka juga anak (angkat) AusHun (lebih tepatnya, pecahan 2 negara itu) versi ff ini. Ane gak tau nama mereka yaudah dengan seenak jidat ane namain sendiri. #tabok

Kali ini gak ada mini dictionary-nyah!

Omake

Mereka sampai di sebuah lorong dengan banyak ruangan. Pintu-pintu ruangan itu hanya berhias kode. Di samping pintu terdapat patung kuda dalah khas Swedia. Ruangan itu di cat dengan warna coklat yang hangat sehingga mereka tidak begitu merasakan dingin.

"Baiklah, ini ruanganmu!" kata Lucia sambil menunjukan sebuah pintu bertuliskan 1207. Mathias membuka ruangan itu dengan kunci yang diberikan oleh Ludwig. Ia kaget bukan kepalang. Itu terlihat tidak seperti rumah. Terlihat seperti hotel... dengan ornamen yang kita desain sendiri. Di dalam ruangan itu terdapat banyak barang-barang yang mirip yang pria itu punya di kamar apartemennya. Ia merasa... pulang ke rumah sendiri.

"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya pria itu dengan mata berbinar-binar.

"Jangan tanya aku. Tanya Kak Berwald atau Felicita. Mereka yang mengurus semua ini," jawab wanita itu dengan senyum tulus yang mengambang. "Apakah kau senang?" tanya wanita itu.

"Aku... merasa seperti di rumahku di København. Aku tidak merasa di tempat pengasingan. Ini jauh lebih nyaman! Aku tidak merasa senang... melainkan bahagia. Dan... mereka berhasil membawa koleksiku..." kata pria itu.

"Ternyata kau suka menonton yang begituan," komentar Lucia, dingin.

"Bukan... itu hanya..." Mathias mulai mencari alasan.

"Sebaiknya kau beristirahat. Aku akan memberitahu hasil rapat nanti! Hej då!" kata Lucia, tidak peduli dan dingin. Namun, di dalam hati wanita itu, ia sangat peduli dengan Mathias. Entah apa yang ia rasakan sekarang.

Sial... dia marah sekarang... batin Mathias.

.

.

.

Thanks to Read! Wanna review?