"Tunggu? Mafia? Apakah kalian menjalankan kartel-kartel terlarang itu?"
"Tidak, kami tidak melakukan bisnis kotor itu!"
"Untuk apa kalian menghilang?"
"Sudah kakak katakan, untuk bersembunyi,"
.
.
"Mengapa mafia?"
Silhouette
Hetalia itu milik ABANG KETJEH HIMARUYAAAAAAH
Saya MAH yang nistain #ditabok
Warning: Typo, gaje, garing, aneh, krenyes-krenyes, tidak sesuai EYD, bahasa ancur, bahasa asing yang ancur, rating naik mendadak, crossover mendadak, author masih newbie, karakter yang dinistain, OOC, OOT, dll.
Mathias terbangun dari mimpi indahnya dan membuka matanya perlahan-lahan. Saat ia sudah berada dalam kesadaran penuh, ia langsung terduduk dan mengucek matanya. Awalnya, ia merasa ada yang sangat ganjil... tapi apa? Perasaan pria itu tidak melakukan apa-apa sebelum tidur, kecuali menanggalkan pakaiannya dan menyisakan celana boxer-nya. Itu masih mending karena biasanya (atau lebih tepatnya, saat dia mabuk berat) ia akan menanggalkan seluruh pakaiannya.
Pria bersurai pirang itu mengecek selimutnya. Tidak ada apa-apa di sana. Lalu, ia menengok ke sisi kirinya. Benar saja, Lucia tidur di sampingnya. Ia kaget bukan kepalang. Ia merasa wanita itu meninggalkannya sebelum ia pergi ke alam bawah sadarnya. Mana Lucia hanya memakai pakaian tidurnya... yang kelewat mini bawahannya. Oh tidak... ini belum bisa dicerna oleh otak pria Denmark itu. Ini terlalu sensitif untuknya.
Sebelum pria bermata biru itu bergerak keluar dari kasurnya, wanita bersurai pirang panjang itu sudah membuka mata.
"Mathias... kau sudah bangun?" tanya wanita itu dengan lirih. Oh tidak... kesalahpahaman akan terjadi. Baiklah, Mathias sudah siap konsekuensinya. Dia sudah biasa di cekik.
Wanita itu bangkit dari posisinya dan mengucek matanya. Ia mengambil kacamatanya dan memakainya. Mathias diam seribu bahasa. Keringatnya bercucuran. Sungguh, dia tidak tahu mau berbicara tentang apa. Tiba-tiba, mulut pria itu langsung berkata,
"Kau tidak akan menamparku atau sebagainya, kan?" Lucia tertawa pelan. Ia sedikit tersenyum pada pria itu.
"Tentu saja tidak. Aku hanya ingin tidur bersamamu. Tenang saja, kita tidak melakukan apa-apa. Sepertinya... ah sudahlah. Tidak perlu bahas itu," jawab Lucia dengan senyum yang indah.
"Apakah kau marah tadi malam?"
"Tidak, aku hanya terlalu sensitif dengan barang-barang seperti itu,"
"Dan... kenapa kau ingin tidur bersamaku?"
"Karena... kau akan mengetahuinya suatu saat nanti," Lucia bangkit dari tempat tidur pria itu dan membuka pintu. Sebelum wanita itu keluar, Mathias memanggil,
"Hei! Lucia!" wanita itu menengok.
"Ada apa?"
"Apakah kakakmu akan marah... jika mengetahui hal ini?" tanya pria itu.
"Aku harap tidak. Tenang saja, dia masih tidur saat ini. Biasanya ia bangun pukul delapan," jelas wanita itu. Mathias melirik jam di sebelahnya. Ternyata, masih pukul setengah enam pagi. Pagi juga ia bangun. Biasanya ia bisa molor sampai pukul sembilan, jika tak ada kerjaan.
"Aku harus kembali ke kamarku sebelum kakakku bangun. Mungkin, kau akan di tampar jika dia tahu ini. Dia sangat serius,"
"Aku tahu," jawab pria itu.
"Sampai nanti!" kata wanita itu sambil menutup kamarnya. Mathias melambaikan tangannya dan berbisik,
"Sampai nanti, Lucia!" Kemudian, pria itu berjalan menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air hangat. Saat ia mengelap wajahnya dengan handuk, ia merasa ada yang aneh. Wajahnya terasa sedikit panas. Ia menatap ke arah cermin dan... wajahnya benar-benar merah padam. Di dadanya, ia juga merasakan hal yang aneh. Ia merasa... berdebar-debar. Ia tidak merasakan sakit... malah... rasa senang. Jujur, ia sangat bingung dengan dirinya. Perasaan macam apa ini? Ia tidak mengerti. Mungkin ia harus bertanya pada Tiino. Tiino sangat mengerti perasaannya dari dulu. Mungkin Tiino dapat membantunya sekarang.
Setelah ia mandi dan memakai kaos kesayangannya, ia berniat mengambil telepon genggamnya di laci meja sebelah tempat tidurnya. Saat ia hendak mengambil telepon genggam miliknya, ia tidak sengaja menemukan sebuah buku tipis, sebuah telepon genggam dengan model lama, dan sebuah file berisi dokumen-entah-apa-itu. Ia membuka buku tipis itu. Buku itu tertulis nomor telepon anggota kelompok di mansion itu. Terdapat nomor telepon lama dan baru. Mereka menggunakan yang baru karena jika menggunakan yang lama, mereka dapat dilacak oleh kelompok lain, bahkan beruang putih. Dan nomor yang baru itu... dipasang di telepon genggam dengan model keluaran tahun 1997.
Ia tidak mempedulikan dokumen-entah-apa-isinya itu dan segera mencari nomor telepon baru milik Tiino. Ia sangat bersyukur dapat menemukan nomornya laki-laki finlandia itu dengan cepat. Sekarang... ah iya, dia harus mengaktifkan telepon genggam model lama itu. Jujur saja, ia sudah lupa cara mengaktifkan yang jenis itu. Setelah beberapa menit mengutak-atik handy tersebut, ia bisa mengaktifknnya. Dan di dalam handy tersebut, sudah berisi nomor baru para anggota. Ia langsung menghubungi Tiino.
"Ah, Moi! Selamat pagi! Omong-omong, ini siapa, ya?" tanya pria itu ramah di percakapan itu.
"Ini aku, Mathias! Apakah kau sudah sepenuhnya terbangun?" tanya Mathias.
"Ah, moi, aku terjaga semalaman. Aku sedang memodifikasi sebuah laras panjang milikku. Saat aku menemukannya dirumah, kupikir tidak berfungsi. Setelah aku periksa, ternyata masih berfungsi. Untuk menambah akselerasi dan ketepatan serta jarak, aku modifikasi, moi!"
"Kau benar-benar gila, Tiino. Kau tidak lelah?"
"Tentu tidak, moi! Aku sering terjaga. Bahkan, saat kuliah dulu, jika kau masih ingat, aku mengerjakan skripsi sambil mendengarkan musik heavy metal. Hehehe! Ada apa, kok pagi-pagi menelepon? Mungkinkah, hal yang amat penting?"
"Bagiku, iya. Aku harap kau bisa pergi ke kamarku, Tiino. Aku ingin curhat tentang sesuatu. Hanya kamu yang bisa membantuku,"
"Baiklah, moi! Kamarmu nomor berapa?"
"1207. Akan aku tunggu," Mathias memutuskan hubungan pada ponsel itu. Ia menghempaskan dirinya diatas kasur itu. Ia mencoba merenggangkan tubuhnya. Lalu, tadi dia ingin melakukan apa lagi? Ah, iya! Dokumen-entah-apa-isinya-itu! Ia mendudukan dirinya dan membuka dokumen itu. Dokumen itu benar-benar tebal! Seingatnya, ia tidak pernah memiliki dokumen setebal ini. Amplopnya saja ia tidak kenal. Ia mencoba untuk melihat isinya. Tunggu? 2008? Ada apa gerangan? Ia membaca dokumen itu perlahan-lahan. Ia menemukan fotonya... dalam jas putih?! Tunggu, apa maksudnya ini? Ia terus membaca hingga... ia menemukan... sebuah rahasia tentang dirinya yang bahkan ia tak tahu sama sekali.
Ia menciptakan robot saat umurnya masih 18 tahun, dan dia sebenarnya sudah menjadi seorang engineer terhebat seantero negara nordics. Ia tak tahu harus apa. Kepalanya terasa berat. Ia menciptakan sebuah robot paling maju teknologinya bahkan sampai sekarang belum ada yang menandinginya. Sesuatu yang amat penting ia tanam di robot itu. Sebuah perasaan buatan yang ia dapatkan dari ide gilanya. Ia menciptakannya bersama Berwald, Emil, Tiino, dan Lukas. Robot berjenis kelamin wanita itu memiliki nomor seri O- 33391. Dia juga dibantu oleh Gilbert dan Ludwig, walaupun ia tidak terlalu mengenalnya sekarang.
Ia membaca halaman selanjutnya. Ada sebuah potongan halaman koran di halaman itu. Tunggu, apa dia tidak salah lihat? Di potongan koran itu terpampang sebuah headline news kecelakaan pesawat pada tanggal 20 Agustus 2008. Mathias tidak pernah ingat jika dia pernah pergi ke Spanyol. Ia membaca dengan seksama. Di surat kabar itu, ia sudah dinyatakan meninggal. Mathias terkena syok. Kepalanya langsun terasa sangat berat. Ini sangat sulit untuk di terima. Ia seharusnya sudah meninggal... tetapi... mengapa dia masih bertahan hidup? Pertanyaan yang sangat membingungkan ini terus berputar di dalam kepalanya.
Kenangan-kenangan sebelum kejadian yang amat mengerikan itu terus mengelilinginya. Ia tidak bisa menerima ini. Terlalu berat untuk ditanggung oleh pria itu. Robot, makalah, riset, prestasi, penemuan, intelektual tinggi, pertemuan dengan para ilmuwan, apa maksud semua itu? Mathias tidak merasa semua itu berada di dalam dirinya.
"Tidak... itu bukan aku! Kau... bercanda, kan? Aku tidak pernah menggapai itu semua, kan? Aku hanyalah seorang model dengan otak jongkok, kan? Katakan kepadaku hal yang sebenarnya, diriku!" bisik Mathias kepada dirinya. Ia terkena stres karena syok akan fakta itu. Sesuatu yang ia sembunyikan darinya. Ia tidak tahu tentang itu semua.
Seluruh masa lalunya ia ungkap sendiri. Ia melihatnya. Ia sudah tidak kuat. Mathias akhinya pingsan dengan keringat dingin di seluruh tubuhnya.
Tiino sudah beberapa menit di luar pintu dengan nomor 1207. Ia menatap jam tangannya. Ia mengetuk lagi.
"Moi! Mathias, apakah kau di dalam? Apakah kau terlelap lagi? Aku masuk, ya!" teriak Mathias dari luar. Tiino membuka pintu tersebut dengan mudah. Oh, tidak dikunci, rupanya, batinnya. Saat pria finlandia itu masuk ke dalam kamar rekannya, ia kaget. Mathias pingsan dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya. Di sampingnya, terdapat dokumen yang berserakan. Ponsel pintarnya menyala dan ponsel model lama masih ia genggam. Tiino berlari menuju tempat tidur pria bertubuh tinggi itu.
"Moi! Mathias! Mathias! Kumohon, bangunlah! Ada apa denganmu! Bangunlah! Moi, tubuhmu sangat panas!" teriak Tiino, panik. Ia sangat panik. Ia tak tahu harus berbuat apa.
To be continue...
.
.
Thanks for read! Wanna review?
