Apakah kau ingat segalanya, dari kita kecil sampai dewasa?

Asal kau tahu, aku tidak menyesali ajakannya untuk pergi ke dunia ini.

.

Kau tahu, aku sangat bersyukur bertemu dengan kalian walaupun aku harus pergi dari duniaku!

.

"Baiklah, apakah kau siap? Kita akan merencanakan kekacauan yang sangat kau inginkan dari dulu, Mathias!"

Silhouette

Hetalia itu milik ABANG KETJEH HIMARUYAAAAAAH

Saya MAH yang nistain #ditabok

Warning: Typo, gaje, garing, aneh, krenyes-krenyes, tidak sesuai EYD, bahasa ancur, bahasa asing yang ancur, rating naik mendadak, crossover mendadak, author masih newbie, karakter yang dinistain, OOC, OOT, dll.

Kedua pria berdarah Scandinavia itu berjalan melewati koridor yang amat panjang. Seorang pria yang lebih tinggi membantu pria berkaos merah dan berambut blonde spike itu berjalan. Mathias masih sangat lemah kondisinya, tetapi mentalnya sudah menguat. Perlahan-lahan, ia kembali ke dirinya yang dulu; kuat fisik dan batin, berpikiran sangat kacau, dan terlalu percaya diri. Selama amnesia, ia memang percaya diri, tetapi tidak berlebihan dan pikirannya tidak sekacau sebelum ia mengalami kecelakaan maut itu. Ia merasa lebih hidup jika ia didekat Berwald, Emil, Lukas, dan Tiino.

Bagi Berwald, tubuh Mathias memang agak berat. Entah mengapa, sekarang terasa lebih ringan. Ia juga merasa, ia bisa menggendongnya, tentu saja jika Mathias mau. Berwald memang sering berperilaku sedikit kasar kepada Mathias yang seenaknya. Tetapi, semenjak tragedi itu, ia tidak berani melakukan hal yang ceroboh terhadap pria itu. Ia sangat rapuh. Sampai sekarang pun, ia masih merasa Mathias begitu rapuh, walau sudah mulai menguat lagi.

Tiba-tiba, Mathias tersenyum sendiri. Pria berkacamata itu bergidik ngeri. Namun, ia berusaha mengusir rasa takutnya dan menggantikannya dengan rasa penasaran. Ia bertanya,

"Ada apa? Mengapa kau menunjukan raut wajah seperti itu?"

Mathias tertawa agak pelan. Ia menjawab, "Aku mengingat sesuatu. Kau selalu membantuku seperti ini. Tetapi, kau juga yang sering mencampakanmu. Seingatku, kau tidak se-ekspresif yang sekarang. Dulu, tatapanmu hampir membunuhku, walaupun sekarang masih, sih. Kau jadi banyak omong. Tapi, aku menyukai itu. Aku jadi mengerti maksudmu."

"Oh. Aku tidak tahu itu."

Keheningan kembali menyelimuti di antara mereka. Mereka sedikit merasa canggung. Berwald membawa sahabatnya ke ruangannya agak lebih cepat dari yang tadi. Dia tidak ingin membuat seluruh anggota menunggunya.

Berwald membuka pintu ruangannya dan mereka berdua di sambut oleh para anggota yang sudah menunggu di sana. Seperti tadi malam, mereka berbincang-bincang sambil meminum teh ringan, dan Roderich... yah, dia tidak bergabung dengan sekelompok orang yang sedang mengobrol dan memilih mengalunkan lagu dengan piano kesayangannya. Lucia bangkit dan membantu Mathias berjalan ke arah sofa. Tubuh tinggi Mathias agak menyulitkan wanita itu untuk membantunya. Mathias hampir terjatuh, untung saja Lucia kuat untuk menahannya. Lalu, wanita berkacamata itu mendudukan Mathias di sofa dan duduk di sampingnya.

Berwald yang sudah duduk di mejanya tiba-tiba angkat bicara,

"Baiklah, terima kasih untuk meluangkan waktu kalian kembali. Sekarang, aku ingin membicarakan tentang rencana kita untuk penyerangan terhadap Beruang Putih. Rencana yang akan ku tawarkan adalah, kelompok ini dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok darat dan kelompok udara. Kelompok udara terdiri dari sniper, medis, dan paratrooper. Sedangkan kelompok darat hanya hitman dan penyerang jarak dekat. Kelompok darat akan menyusuri jalanan Eropa hingga ke markas Beruang Putih. Kelompok udara menyusul 2 hari setelah kelompok darat berangkat. Ada yang ingin menawarkan rencana lain?"

"Mengapa kita tidak menyerang dari udara semua dengan memberikan kejutan? Bukankah itu jauh lebih aman?" tanya Ludwig.

"Aku setuju dengan West! Kesesese~!" kata Gilbert diikuti tawanya yang khas.

"Aku juga," ujar Vash. "Dengan serangan dadakan, mereka tak memiliki kesempatan yang banyak. Mereka akan susah bergerak juga. Yah, semua ada resikonya, setidaknya, kita memiliki peluang yang lebih besar dengan serangan dadakan," lanjut Vash sambil mengelap senjata kesayangannya.

"Baiklah," kata Berwald. "Kita semua akan menyerang dari udara. Tetapi, aku ingin pergi bersama Mathias ke suatu tempat terlebih dahulu. Kami akan berangkat 2 hari lagi dan misi akan dijalankan seminggu lagi. Kalian boleh menjalankan kegiatan kalian seperti semula," lanjut Berwald.

"Ludwig!" panggil Berwald lagi.

"Ada apa, Kak Berwald?" tanya Ludwig dengan sopan.

"Selesaikan proyekmu secepatnya! Kita akan membutuhkannya disana," ujar pria stoic itu lagi.

"Kalian boleh bubar dan melakukan sesuka kalian," katanya lagi. Banyak anggota yang keluar untuk menyelesaikan misinya. Kebanyakan misi mereka adalah membuat proyek... ya, kupikir sangat penting. Seluruh proyek itu dijalankan diam-diam dan tidak akan dijual bebas di pasar gelap. Hanya beberapa orang yang beruntung dapat mencicipi hasil proyek itu selain anggota kelompok Mafia itu. Memang, kelompok itu didesain untuk melakukan penelitan rahasia mengingat kebanyakan anggotanya adalah lulusan perguruan tinggi riset. Beberapa anggota memilih tinggal karena memang, mereka sangat senggang. Mereka akan meninggalkan ruangan itu setelah seteko teh mereka habis.

"2 hari lagi, kutunggu kau di lobby barat, pukul 5 pagi!" kata Berwald sambil memegangi pundak Mathias.

"Kemana kita akan pergi?" bisik Mathias ingin tahu.

"Norrköpping. Kau akan mengingat sesuatu disana. Selain itu, beberapa barang penting milik kita masih ada yang tertinggal di sana,"

"Apakah kau masih memegang kuncinya? Seingatku, kuncinya hilang saat kecelakaan itu,"

"Itu duplikatnya. Kunci aslinya masih ditanganku. Apakah kau masih mengenakan kalung kunci itu?"

"Kalung kunci yang mana?"

"Yang sering kau kenakan dulu. Seharusnya kau masih mengenakannya, sekarang." Mathias agak lupa kalung dengan liontin kunci yang mana yang Berwald maksud. Ia mengecek kalung di lehernya. Ia memiliki liontin berbentuk silinder yang agak panjang. Di dalamnya, ada lubang kecil.

"Seperti ini?" tanya Mathias. Berwald hanya mengangguk kecil.

"Kurasa tidak mirip sebuah kunci," kata Mathias.

"Kita akan memerlukan itu di sana," jelas Berwald. Berwald langsung meninggalkan ruangannya dan pergi entah kemana. Mathias masih menatap liontin kalung itu. Ia masih bingung. Ia ingin segera ke kamarnya dan memeluk boneka kelinci kesayangannya.

To be continue

Njiiir, gaje banget! :'v Maafkan saya yang tidak bisa membuat plan yang sempurna. Ini juga cerita crime pertama saya jadi, maafkan saya!

Thanks for read! Wanna gimme review?