Mathias memeluk boneka kelinci kesayangannya yang ia dapat dari salah satu saudara sepupu Berwald, Wilhelm Van Morgen. Ia merasa ia agak bingung dengan semua ini. Memang, merebahkan diri dengan memeluk boneka favorit bisa menjadi salah satu alternatif untuk menenangkan diri. Lagu klasik yang ia putar mengalun dengan lembut. Aksen tegas dan berwibawa itu membuat hati Mathias menjadi adem. Mungkin, lagu klasik tidak berada list favorit Mathias. Roderich memberitahunya bahwa lagu klasik dan romans itu dapat membuatnya tenang.

Mungkin, pria aristokrat itu ada benarnya.

Silhouette

Hetalia itu milik ABANG KETJEH HIMARUYAAAAAAH

Saya MAH yang nistain #ditabok

Warning: Typo, gaje, garing, aneh, krenyes-krenyes, tidak sesuai EYD, bahasa ancur, bahasa asing yang ancur, rating naik mendadak, crossover mendadak, author masih newbie, karakter yang dinistain, OOC, OOT, dll.

Waktu sudah menunjukan pukul 19.18 dan matahari tak kunjung turun. Siang terasa amat panjang, walaupun disini masih dingin. Mathias memutuskan untuk membaca buku jurnalnya yang ia temukan di kotak-yang-entah-ia-temukan-dimana untuk mengisi waktu luangnya. Masih ditemani lagu klasik yang mengalun dengan indah, pikiran Mathias terbawa akan nostalgia.

Sudah 2 jam lebih ia membaca buku-buku jurnal lamanya dan entah mengapa ia tidak merasa bosan akan hal itu. Padahal, ia sangat susah untuk duduk dan membaca buku dengan tenang. Biasanya, saat mulai halaman kelima atau keenam, ia mulai keluyuran mengganggu Berwald, Lukas, Emil, atau Tiino. Hanya Tiino yang meresponnya dengan baik, sedangkan yang lain, ia mendapat sebuah pukulan yang amat manis. Mungkin, saat sahabat-sahabatnya melihat ini, mereka akan mengira ini sebuah keajaiban.

Setelah membaca 3 buku lebih, perlahan-lahan ia mengingat dirinya yang dulu; seorang pemuda yang jenius yang memiliki prestasi yang gemilang walaupun amat kacau. Bahkan, ia terkekeh pelan saat membaca momen dimana ia bertingkah amat konyol. Salah satunya, ia pernah menantang salah satu adik dari Berwald, Gilbert, untuk bertarung dengan alasan mereka berebut adalah cokelat yang diberikan oleh Ludwig. Saat itu Ludwig hanya membawa satu cokelat untuk mereka. Dia lupa membeli dua. Akibatnya, mereka berdua bertarung untuk cokelat itu. Ludwig kecil bingung harus apa dan akhirnya ia memutuskan untuk mngadukannya pada Berwald. Ternyata, Gilbert memenangkan pertarungan itu dan mendapatkan cokelatnya. Bagaimana dengan Mathias? Dia disuapi (lebih tepatnya, dipaksa) surströmming oleh kakak dari Gilbert. Akhirnya, ia muntah dengan suksesnya berkat makanan terkutuk itu (baginya, itu makanan terkutuk).

Tok.. tok... ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Mathias menutup jurnal yang ia baca dan membukakan pintu untuk sang tamu.

"God kväll, Mathias(1)," sapa Lucia. Malam ini, wanita bersurai pirang panjang ini terlihat amat cantik. Dress putih dengan lengan panjang yang membalut tubuh wanita ini terlihat imut sekaligus elegan. Ditambah, mata sapphire, wajah yang merona, dan mulut tipis yang terlihat soft pinkish itu membuat wanita ini makin cantik apa adanya. Dia berhasil membuat hati pria berambut jabrik itu luluh.

"God aften, Lucia(2). Kau terlihat cantik malam ini. Ada apa?" tanya Mathias ingin tahu akan kehadiran malaikat yang menjelma menjadi wanita ini (baginya). Wajahnya mulai memerah. Lucia hanya tersenyum melihat pria itu mulai geregetan.

"Tugasku sudah selesai, waktuku sangat luang, dan aku merasa sendirian. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu," kata wanita itu.

"Tapi, apakah kakakmu akan marah jika kau melakukan ini?" tanya Mathias sedikit menaikan sebelah alisnya. Ia takut melihat wajah Berwald yang horor itu. Lucia hanya tertawa kecil. Ia bertanya,

"Apakah kau takut dengan kakakku? Akan ku jamin, ia tak akan mengetahuinya!"

"Bagaimana jika dia mengetahuinya?"

"Itu urusan nanti! Buanglah pikiranmu tentang kakakku! Aku ingin menunjukan sesuatu kepadamu! Ayo!" Wanita itu menggapai tangan Mathias dan mengajaknya lari melewati lorong-lorong koridor itu. Mathias agak kaget. Tetapi, ia hanya menikmati waktu ini. Prime time dengan wanita itu, Lucia Oxenstiena. Hanya berdua.

Di ujung koridor itu, mereka menemukan sebuah pintu tanpa nomor. Mathias sedikit bingung mengapa pintu itu tak bernomor walaupun terletak di koridor penuh dengan kamar tidur.

"Mengapa pintu satu ini tak ada nomornya?" tanya Mathias.

"Kau akan mengetahuinya," jawab Lucia sambil tersenyum. Wanita berkacamata itu membuka pintu tersebut. Di ruangan sempit itu, mereka hanya mendapati sebuah tangga menuju lantai atas maupun bawah. Lucia menarik pria itu dan berlari menyusuri tangga yang tinggi itu hingga anak tangga itu habis. Ia kembali membuka pintu yang berada di depan dua orang itu. Saat mereka keluar ruangan itu, Mathias hampir tak percaya. Pemandangannya sangat indah. Cahaya aurora borealis di musim panas, bintang yang bertabur bak glitter, dan ditemani matahari terbenam... ini bukan mimpi, kan?

"Kau tak akan melihat ini di København. Aku menyebutnya kembang api di langit utara. Bagaimana menurutmu?" tanya Lucia sambil menatap ke arah Mathias. Mathias masih menatap kagum dengan pemandangan itu. Lalu, pria itu menjawab,

"Kau benar. Aku belum pernah melihat ini di København. Itu adalah nama yang amat indah!" Lucia menarik pria itu lagi dan mengajaknya duduk di spot favoritnya di rooftop itu. Mathias menarik napas dalam-dalam. Ia belum pernah melihat pemandangan seindah ini sebelumnya. Apalagi, orang yang berhasil membuatnya jatuh hati kepadanya, Lucia, duduk di sampingnya. Lucia benar-benar terlihat seperti fallen angel yang jatuh hanya untuk dirinya. Ia benar-benar sangat beruntung malam ini. Tetapi, bagaimana perasaan wanita itu kepadanya?

"Apa yang kau pikirkan sekarang?" tanya wanita itu kepada pria yang duduk di sampingnya. Mathias diam sejenak. Ia mencari jawaban yang tepat untuk diberikan kepada wanita itu. Ia belum menemukan jawabannya. Lantas, ia menjawab,

"Entahlah. Aku hanya memikirkan diriku yang dulu."

"Kau tahu, menurutku perubahan itu bukanlah suatu masalah. Aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya, tetapi, aku mendengarnya dari kakak. Walaupun segalanya yang kau miliki menghilang, bukan berarti jati dirimu yang sebenarnya juga ikut menghilang, kan? Aku tahu kau menjadi sangat rapuh, tetapi kau tidak benar-benar rusak, kan? Aku tahu kau menderita, tapi, jangan paksaan dirimu untuk menahannya. Kau masih bisa membangun masa depanmu sendiri, Mathias. Dirimu yang sesungguhnya masih berada di hatimu," bisik wanita itu dengan lembut. Perlahan-lahan, rasa sakit pria itu berubah menjadi sebuah air mata yang menyembuhkan luka di hatinya. Ia menjadi merasa amat tenang. Ia amat bahagia bisa bertemu wanita itu.

"Kau benar, Lucia. Aku masih punya kesempatan untuk memiliki sesuatu yang baru. Dan, kau tahu, aku tidak akan pernah menyesal bertemu denganmu. Memang, bersembunyi di dunia yang gelap awalnya membuatku takut. Kemudian, kau menjadi cahayaku. Seperti namamu, yang berarti cahaya,"

"Asal kau tahu saja, bahkan di dunia yang gelap ini kita masih bisa melihat seribu warna. Mungkin, kau tak akan melihatnya secara langsung, tetapi, hatimu akan melihatnya. Omong-omong, kalimatmu tadi sebuah gombalan semata, ya?"

"Tentu saja bukan. Aku benar-benar mengatakannya sesuai fakta. Aku tak berniat menggoda wanita seperti dirimu,"

"Baiklah, aku percaya itu. Itu sangat romantis, omong-omong. Dan, sepertinya aku menyukai itu," kedua tangan milik Lucia memegang wajah Mathias dengan lembut. Ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Mathias. Jarak antara mereka sangat sedikit, sekarang. Lucia menatap dalam-dalam ke arah mata indah milik model yang 'menghilang' itu. Mathias membalas tatapan lembut tetapi dalam milik Lucia.

"Biarkan aku masuk kedalam pikiranmu sejenak, Mathias! Biarkan aku menjadi milikmu sejenak!" bisik Lucia dengan amat lembut yang dapat membuat Mathias jatuh hati kepadanya.

"Jeg elsker dig, Lucia! Lad mig blive din!(3)" bisik Mathias dengan suara yang amat lembut.

"Jag älskar dig också, Mathias! Jag hoppas att detta kommer att vara för evigt! Du vet, du är inte ensam längre!(4)" bisik wanita itu membalas perkataan pria itu. Mereka mendekatkan bibir mereka dan saling memberikan sebuah kecupan ringan yang hangat dan tak terlupakan di malam yang dingin ini. Bagi mereka, ini adalah ciuman pertama mereka. Mereka berdua tidak menyesal kehilangan ciuman pertama yang (kononnya) amat berarti itu. Hati mereka amat berbunga-bunga. Perasaan mereka meluap-luap. Malam hari ini terasa amat hangat walaupun suhu mencapai 6 derajat celcius.

Mereka melepaskan ciuman mereka dan memandang satu sama lain dengan penuh perasaan yang amat bahagia. Dibalik itu semua, entah mengapa ada rasa sakit dihati masing-masing. Lebih tepatnya, rasa takut.

Jari-jari mereka saling menggenggam satu sama lain. Napas mereka saling beradu. Tatapan mereka menunjukan ada sebuah cinta yang nyata tetapi dipenuhi rasa ketakutan. Mathias menjadi sangat takut jika harus kehilangan Lucia dan sebaliknya. Mereka hanya berharap akan kesempatan menjalin hubungan ini bersama.

"Hei, Mathias," panggil wanita itu.

"Apa?"

"Aku takut..."

"Tenang saja. Aku ada disini,"

"Aku takut jika aku harus kehilanganmu. Jujur saja, saat misi untuk membawamu kesini, aku merasa tidak tertarik. Aku hanya menerima misi ini karena aku menghormati kakakku. Ternyata, permintaan itu adalah sebuah keajaiban. Bertemu denganmu bukanlah suatu bencana. Ternyata, jauh lebih indah daripada yang aku bayangkan,"

"Benarkah?"

"Iya. Bagaimana denganmu?"

"Jujur saja, aku tidak tahu jika aku harus menerima takdir ini. Aku merasa tidak ada penyesalan dalam diriku. Aku hanya mengikuti alur hidupku yang monoton. Berkat dirimu, aku merasa hidup. Seribu warna itu benar-benar ada. Terima kasih, Lucia. Sekarang sudah malam, aku akan mengantarkanmu ke kamarmu," Mathias menggendong wanita itu ke kamarnya dengan bridal style. Lucia merasa agak malu saat ia digendong seperti ini tetapi... ini terasa menyenangkan. Bak kedua mempelai setelah melaksanakan ritual perjanjian suci antara kedua insan yang berbeda.

To be continue

Entah apa yang kupikirkan. Maafkan saya lagi, readers! Saya lagi baper #ditabok padahal saya jones #cieyangngaku #emangjones #njeeeer #abaikancurhatanauthorgajeini

Pada chapter ini, ane bener-bener terinspirasi dari lagu Tusind Farver yang berarti 1000 warna. Dan lagu itu yang bikin saya baper. #beneran sayangnya, pake bahasa denmark jadi ya... gitu O-O

Bagi yang pengen dengerin, ini linknya:

watch?v=SKF9HcMh6Bc

dan ini translationnya:

Dan saya gak dibayar buat promosi jadi ini bukan promosi

Mini Dictionary:

God kväll, Mathias(1): Selamat malam, Mathias (greeting) (Swedia)

God aften, Lucia(2): Selamat malam, Lucia (greeting) (Denmark)

Jeg elsker dig, Lucia! Lad mig blive din!(3): Aku mencintaimu, Lucia! Biarkan aku jadi milikmu! (Denmark)

Jag älskar dig också, Mathias! Jag hoppas att detta kommer att vara för evigt! Du vet, du är inte ensam längre!(4): Aku juga mencintaimu, Mathias! Aku berharap ini akan bertahan selamanya! Kau tahu, kau tidak sendirian lagi!

Ya, gitu aja. Semoga gak baper denger lagunya #dihajar

.

.

.

Thanks for read! Wanna gimme review? :3