"Asal kau tahu saja, bahkan di dunia yang gelap ini kita masih bisa melihat seribu warna. Mungkin, kau tak akan melihatnya secara langsung, tetapi, hatimu akan melihatnya."

.

Kau benar. Aku melihatnya. Dan kurasa, itu karena kau telah menunjukkannya kepadaku.

Tapi... bagaimana jika ini pertemuan terakhir kita?

.

.

Mathias membuka matanya perlahan-lahan. Lalu, ia mengerjapkan keduanya. Ia menoleh ke arah samping kanannya.

"Selamat pagi, Lucia. Sepertinya mimpimu sangat indah, ya? Maaf, aku harus pergi sekarang. Kuharap kita dapat bertemu lagi," bisik pria itu dengan lembut. Wanita cantik bak model itu hanya tersenyum perlahan saat Mathias membisikan kata-kata yang menyakiti hatinya itu. Ia mulai meneteskan air mata. Ia mencium Lucia dengan lembut tanpa membangunkannya. Ia menyelimuti wanita yang ia kasihi itu dengan lembut. Mathias meninggalkan kamarnya dan menutupnya. Ia menenteng tas ranselnya dan menuju ke main lobby dimana Berwald sudah menunggunya.

Silhouette

Hetalia itu milik ABANG KETJEH HIMARUYAAAAAAH

Saya MAH yang nistain #ditabok

Warning: Typo, gaje, garing, aneh, krenyes-krenyes, tidak sesuai EYD, bahasa ancur, bahasa asing yang ancur, rating naik mendadak, crossover mendadak, author masih newbie, karakter yang dinistain, OOC, OOT, dll.

Mathias terus melangkah melewati lorong yang amat panjang itu. Diujung lorong, ada seorang gadis kucir kuda yang sudah menunggunya dengan sebuah koper besi kecil di tangannya. Ia menyapa Mathias dengan amat ramah. Mathias agak bingung dengan wanita ini karena dia tidak mirip dengan anggota lain dan ia memiliki aksen yang... sedikit terdengar aneh.

"Buongiorno, tuan Mathias! Biar saya antarkan Anda ke main lobby! Selain itu, saya harus menyerahkan ini kepada Anda!" kata gadis itu dengan penuh semangat.

"Ehm... siapa namamu? Dan, apa ini?" tanya Mathias ingin tahu.

"Saya Felicita Vargas! Saya berasal dari Italia utara. Awalnya, aku hanya diajak kabur sama Ludwig ke sini, tetapi, disini seru juga! Disini aku bekerja sebagai asisten dari Gilbert dan Vash. Oh, ya, ini perlengkapan yang harus kuberikan kepadamu! Ini buatan Gilbert dan Vash serta beberapa suku cadangnya dibuat oleh pria kulit pucat yang bernama... errr... Tiino atau siapalah itu."

"Baiklah, terima kasih nona Var–"

"Oh, tidak, cukup panggil aku Feli! Aku sering dipanggil seperti itu, tenang saja! Baik, ke arah sini, Tuan!" kata Felicita sambil menunjukan jalan mengarah ke main lobby mansion yang besar itu. Disana, ada beberapa orang yang sudah menunggunya, salah satunya Berwald.

"God morgon, Mathias," sapa Berwald tanpa basa-basi, singkat, padat, dan jelas.

"Ah, God morgen, Berwald. Apakah kau mengajak Wilhelm dan Luxie?" tanya Mathias saat melihat kedua kakak-beradik itu. Wajah mereka sangat dikenali oleh pria berdarah Denmark itu.

"Kami ikut karena kami memerlukan beberapa barang yang kalian buat beberapa tahun silam. Kami setuju menemani kalian asal kami mendapatkan barang-barang yang kami cari," kata Wilhelm tanpa basa-basi sambil menghembuskan asap dari pipa yang ia hisap.

"Wilhelm, berapa kali kubilang, tempat ini bebas asap rokok! Kau perlu merubah kebiasaanmu merokok, Wil!" kata Berwald sambil men-death glare saudara sepupunya.

"Baiklah! Akan kumatikan," tanggap pria erambut tulip itu dengan ketus.

"Gudde Moien, Mathias(1)! Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanya pria tinggi berambut pirang bergelombang yang menutupi sebelah matanya itu dengan ramah.

"Baik, tentu saja! Senang bertemu denganmu kembali, Luxie!" jawab Mathias sambil bersalaman dengan salah satu adik dari Wilhelm itu. Luxie memang terlihat lebih dewasa daripada kakaknya. Tapi, ia sangat hobi bermanja ria dengan kakak perempuannya, Bella Van Morgen. Sayangnya, Bella tidak ikut bersamanya sehingga dia agak terlihat kesepian.

"Hei, apakah kau baik-baik saja, Luxie?" tanya Mathias sambil melihat wajah pria berdarah Luxemburg yang terlihat sangat tenang dari ia kenal itu. Luxie membalas tatapan model yang menghilang itu sambil tersenyum tipis dan menjawab,

"Kak Bella tidak ikut karena suatu misi dan itu membuatku agak membuatku sedih." Mathias menepuk punggung pria berambut pirang yang menutupi sebelah matanya itu sambil berkata,

"Setidaknya, kau tidak benar-benar sendirian sekarang! Aku ada disini! Mana Luxie yang kurindukan?"

"Kau rindu padaku?"

"Tidak juga, sih. Bagaimana denganmu?" Luxie tertawa ringan mendengar kata-kata polos dari bibir tipis Mathias. Mathias agak bingung dibuatnya.

"Apa?" tanya Mathias sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Tidak apa-apa. Aku juga agak merindukanmu. Terutama, sejak kau menjadi selebritis, kau bahkan tidak punya waktu untuk mengunjungi Rotterdam atau kembali ke Stockholm,"

"Maafkan aku,"

"Tidak apa-apa. Santai saja. Baiklah, ayo, berangkat! Semuanya sudah masuk ke mobil," kata Luxie sambil menggiring anjing besar kesayangannya ke dalam mobil. Mathias masuk ke dalam sebuah mobil SUV hitam besar produksi Swedia yang terlihat amat gagah. Ia duduk di samping Berwald dan menutup pintunya.

"Apakah kau sudah mengucapkan selamat tinggal kepada dirinya?" tanya pria berwajah stoic itu dengan wajah agak serius.

"Sudah. Bahkan aku sudah meninggalkan sesuatu untuknya. Kenapa?" respon Mathias.

"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi disana. Selama status kita berada di kegelapan, seluruhnya akan menjadi sangat berbahaya. Bahkan perjalanan yang terlihat amat biasa pun dapat menjadi perjalanan terakhir. Syukurlah jika sudah,"

"Memangnya mengapa kau bertanya seperti itu?" tanya Mathias ingin tahu. Berwald tersenyum menyeringgai. Tatapannya menjadi agak tajam dan dingin. Ia berkata,

"Jangan kira aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku mengetahui perasaannya terhadapmu. Aku tahu juga hubunganmu dengan dia. Bahkan, kau pernah berciuman dengan dia, kan?" Wajah Mathias memerah. Jantungnya langsung berdetak dengan cepat.

"Dari mana kau mengetahuinya? Jangan-jangan–..."

"Benar sekali!" jawab pria berkacamata itu, masih dengan seringgainya. Berwald terlihat mengerikan, tetapi... itu juga lucu. Mathias melipat kedua tangannya dan memonyongkan bibirnya. Ia berkata,

"Dasar siscon..."

"Tapi... aku merestuinya. Aku percaya dia akan aman bersamamu, jika kita dapat kembali ke sini dengan aman," seringgai itu berubah menjadi senyuman tipis yang tulus. Jarang-jarang Berwald tersenyum seperti ini. Mathias hanya meliriknya dan berkata,

"Bodoh!"

Dan perjalanan ke Norrköpping dimulai.

God dag! Maafkan jookieh yang updatenya telat. Maaf juga kepada Zeesuke yang telah menunggu epep ini update dengan sabarnya. Jookieh kehilangan semangat buat lanjutin epep ini dan akhirnya selese juga walau gantung! Tenang, masih lanjut, kok! Hue hue~! Doakan semoga epep judul ini cepat selesai dan ane bisa bikin epep humor yang lain.

Harusnya di chap sebelumnya jookieh ngucapin Grattis på Födelsedagen ke bang Matthias dan Berwald.. tapi lupa #ampoen

Mini Dictionary:

Gudde Moien, Mathias(1)!: selamat pagi, Mathias! (Luxembourgish)

Omake

.

Lucia terbangun dan ia menemukan sepucuk surat disampingnya. Ia memegang wajahnya yang halus. Entah mimpi atau bukan, ia merasa Mathias menciumnya. Itu benar-benar lembut tapi menyakitkan. Seakan dia akan pergi selamanya dari Lucia. Belum pernah ia merasa sesakit ini sebelumnya. Ia membuka sepucuk surat yang ditinggalkan oleh pria yang ia cintai itu. Surat itu tertulis

Dear Lucia Oxenstierna,

Kalau kau membaca surat ini, berarti aku sudah pergi ke Norrköpping pagi ini, bersama Berwald dan mungkin bersama Wilhelm, sepupumu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi, tetapi aku mendapat ilham tadi malam, untuk menulis surat ini. Kau tahu, berkat dirimu, aku bisa merasakan cinta dari lawan jenis dan itu benar-benar hangat. Walaupun sudah banyak perempuan yang kutemui, hanya kamu yang telah membuatku jatuh hati. Itu sangat indah, tapi sangat menyakitkan. Kurasa kau adalah cinta pertamaku.

Ciuman pertama itu sangat indah, kalau boleh jujur. Seperti kau mengatakan, jangan pergi dari diriku dan kumohon tinggalah. Aku merasa seperti itu. Saat aku mengenang pertemuan pertama, aku sering berpikir, mengapa Tuhan mempertemukanku pada seorang wanita dingin tetapi seperti seorang malaikat? Mungkin sudah takdir juga.

Aku sangat benci mengatakan ini, tapi, kumohon, terimalah. Aku harus mengucapkan selamat tinggal. Aku tahu itu sangat menyakitkan, tetapi... aku tetap harus menulisnya. Tunggulah aku kembali. Aku mencintaimu.

Mathias Køhler

Lucia menemukan sesuatu selain surat itu di dalam amplop itu. Sebuah Julehjerter yang terbuat dari kertas dekorasi berwarna biru-kuning. Disitu tertulis Jeg håber på bedre dage, bedre fremtid, kærlighed, held, og lykke (aku berharap akan hari yang lebih baik, masa depan yang lebih baik, cinta, keberuntungan, dan kebahagiaan). Tanpa sadar, Lucia mulai meneteskan air matanya perlahan. Ini terasa sangat menyakitkan. Namun, ia tahu, ia harus menerimanya.

To be continue

.

.

.

Wanna gimme review?