I clearly stated that I ship Baekhyun with all semes. I ship CB, I ship HunBaek. Don't read please, if you don't like the pair. Happy reading^^
Arousing the Twins
e)(o
The Twins
El Prat de Llobregat Aeropuerto, Barcelona 07.40 CET.
Hari masih pagi, tapi bandara internasional terbesar kedua di Spanyol itu sudah dipadati penumpang. Hiruk-pikuk terjadi di setiap sudut, semuanya sibuk. Begitu juga dengan tiga sahabat yang sebentar lagi akan berpisah. Itu—yang berdiri di dekat pilar.
"Aku pergi, jaga diri kalian."
"Carloz, mi amor~(Cintaku) Jangan pernah lupakan Barcelona. Jangan pernah lupakan kami. Jaga dirimu baik-baik di Korea sana." Wanita berambut ombre biru-hijau itu langsung menenggelamkan diri di pelukan lelaki tinggi yang ia sebut Carloz.
"Tenanglah, Julieta. Aku tidak akan pernah melupakan tempat ini, apalagi dirimu. Nunca te olvidaré." Carloz mengusap rambut wanita itu, membiarkan dia terisak di dadanya. Pandangannya dialihkan ke pria lain berambut spiky warna platinum yang mengusap matanya diam-diam. (Aku tak akan pernah melupakanmu)
"Tsk, jangan sok sedih, Alejandro. Kau kutugaskan menjaga Julieta selama aku tidak disini. Kupercayakan dia padamu. Confío en ti, Alejandro (Aku percaya padamu, Alejandro).
Alejandro menyeka airmatanya yang terus meleleh. Memang aneh rasanya, pria dengan gaya urakan seperti dirinya harus menangis hanya karena sahabatnya pergi.
Atau memang persahabatan mereka saja yang terlalu solid. Julieta dan Alejandro yang berkebangsaan Spanyol sudah lama menjalin persahabatan dengan Carloz yang baru-baru ini pindah kewarganegaraan. Karena perubahan status itu pulalah mereka akhirnya harus berpisah.
"No te preocupes (Jangan khawatir). Aku akan menjaganya untukmu. Tapi kalau kau tak kembali, mungkin aku akan menjadikannya milikku."
Carloz terkekeh, sedangkan Julieta meninju dada si spiky sambil cemberut.
"Sudah seharusnya kau berpaling padanya, Julieta. Alejandro lebih baik daripada aku." Carloz melepas pelukannya sambil menyeka airmata di wajah gadis itu.
"Tapi kau lebih tampan. Eres la chico más lindo del mundo (Kau pria paling tampan di dunia ini). Aku mencintaimu, Carloz."
Carloz tertawa sambil mengacak rambut Julieta.
"Carloz, you know~ tentang Diego…" Tiba-tiba saja tawa di wajah Carloz lenyap. Alejandro memandangnya dengan raut tak enak, tapi dia merasa harus menuntaskan ucapannya.
"Aku tahu kau terpukul karena kepergiannya. Tapi aku berharap kau bisa bangkit segera. Semua itu bukan kesalahanmu, sobat."
Alejandro dan Julieta memandang lelaki paling tinggi di antara mereka itu dengan sedih. Carloz memaksakan dirinya kembali tersenyum. Seolah dirinya baik-baik saja.
"Aku pasti bangkit, kuharap kalian juga demikian. Dan satu lagi, kalian masih ingat janji yang kita buat di malam pemakaman Diego?"
Alejandro dan Julieta mengangguk. "Aku harap kita bertiga menepatinya. No more marijuanas, no more free sex, no more illegal street racing, and no more…" Carloz menghentikan ucapannya. "…no more anal sex."
Sejujurnya dada Carloz sangat perih, apalagi ketika bayangan Diego yang sekarat malam itu kembali menginvasi pikirannya. Lelaki tampan itu berusaha keras agar tidak menangis.
Julieta mengelus lengan lelaki itu. "Sudahlah, jangan khawatir. Kami akan mencoba hidup yang sehat dan normal mulai sekarang, kau juga. Kudengar marijuana ilegal di Korea, kau harus bisa membiasakan dirimu. Hati-hati di bandara, mereka ketat soal drugs."
Carloz mengangguk kemudian melirik jam tangan mahal di pergelangan kirinya.
"Aku rasa sudah waktunya untuk berangkat. Jangan menangis lagi, kumohon. Aku hanya akan pergi ke Korea, kalian bisa mengunjungiku kapanpun."
Alejandro memeluk Carloz sambil menepuk punggungnya. "Somos amigos para siempre (Kita sahabat selamanya). Kau sahabat terbaikku, Carloz Park."
"Kau juga sahabat terbaikku, Alejandro. Terimakasih atas persahabatan luar biasa yang kalian beri padaku selama ini."
Julieta bergantian memeluk Carloz, sambil mengecup seluruh bagian wajahnya. "Kami akan merindukanmu, Carloz. Sampaikan salamku pada adikmu, Sergio."
"Iya, bilang Sergio supaya mengunjungi kami liburan musim panas nanti." Carloz hanya terkekeh. Kedua sahabatnya ini memang menyukai Sergio, kembarannya. Sudah setahun Sergio tidak berkunjung ke Spanyol.
Yah, tak ada gunanya dia berkunjung. Toh Carloz akan menghabiskan sisa hidupnya di Korea mulai sekarang.
"I will miss you too. Jaga diri kalian baik-baik. Adiós mi amigos (Selamat tinggal, sahabatku)!"
Begitulah, semua pertemuan pasti akan diakhiri dengan perpisahan. Carloz berbalik sekali lagi sebelum memasuki boarding room. Di tempat yang tadi, kedua sahabatnya melambaikan tangan sambil berteriak 'Te queremos (Kami mencintaimu)' kuat-kuat. Seakan tak memperdulikan tatapan aneh penumpang lain yang berada di sekitar mereka.
Carloz hanya menunggu sepuluh menit sebelum para penumpang tujuan Seoul dipanggil untuk memasuki pesawat. Lelaki itu mengedarkan pandangan sekali lagi, kemudian mendesah dengan berat. Dia sedih harus meninggalkan Barcelona, Spanyol. Dia sedih harus meninggalkan negara yang 18 tahun ini menjadi tanah tumpah darahnya.
Korea Selatan.
Entah seperti apa negara itu, Carloz sama sekali tidak ada gambaran. Dia tidak pernah capek-capek mencari tahu di internet karena dia sama sekali tidak tertarik dengan nama itu. Selain fakta bahwa adik kembarnya tinggal disana—Carloz merasa dia tak punya ikatan sama sekali dengan negara bekas jajahan Jepang tersebut.
Oh, ada satu lagi. Nenek Park mengajarinya bahasa Korea lengkap dengan aksara yang bagi Carloz itu susah. Setidaknya dia bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang akan dia temui disana. Carloz ingin sekali berterimakasih pada Nenek Park, sayangnya wanita renta itu sudah meninggal.
Lelaki itu melangkah masuk ke dalam pesawat, mencari kursinya dan langsung menyandarkan kepala di dekat jendela. Entah hidup seperti apa yang akan menantinya di negara asing itu.
Adiós, Barcelona (Selamat tinggal, Barcelona)
Dia memejamkan mata saat lanskap kota Barcelona yang indah terlihat bagai titik-titik lalu hilang tertutup awan.
Arousing the Twins
Baekhyun berulang kali meyakinkan dirinya sendiri. Menghindari Sehun sama sekali bukan pilihan yang bijaksana. Bukan Sehun yang salah, tapi otaknya yang keliru menterjemahkan visualisasi sahabatnya itu menjadi letupan gairah.
Atau Sehun yang salah karena terlalu tampan dan seksi di saat yang bersamaan?
Seperti sekarang ini. Baekhyun tidak tahu sejak kapan gaya Sehun yang duduk di atas motor sport merah miliknya sambil berkaca melalui spion terlihat sangat keren dimatanya. Padahal sahabatnya itu hanya merapikan rambut, tapi gerakannya terlihat sangat sensual.
Kaki Baekhyun langsung lemas. Nafasnya sesak. Oke, agak berlebihan memang.
"Hai, Baek. Kau cantik sekali pagi ini."
Menyebalkan.
Tenangkan dirimu, bodoh. Makin grogi, Sehun akan makin curiga.
"Hai, Oh Se. Kau tampak jelek, seperti biasanya."
Tentu saja ucapan yang berlawanan dengan kata hati. Sehun hanya terkekeh, dia menyodorkan helm motif Minions untuk Baekhyun setelah memakai miliknya sendiri.
"Pakai ini, aku tak mau rambutmu berantakan karena kita akan kebut-kebutan pagi ini."
Ya, sepuluh menit lagi bel. Perjalanan dari rumah ke sekolah biasanya memakan waktu 20 menit.
Gara-gara kejadian tadi malam.
Baekhyun mendapati dirinya berada di pelukan Sehun saat terbangun pukul 8 malam tadi. Lelaki kelewat putih itu memeluknya seperti memeluk guling. Posisi itu membuat selangkangan Sehun berada di atas pinggulnya. Baekhyun merutuki dirinya yang menikmati
Tapi sejak kapan Sehun ada di kamarnya?
Bisa kalian bayangkan bagaimana tersiksanya pria mungil itu. Menghabiskan hampir dua jam di kamar mandi, kelelahan karena harus onani tiga kali berturut-turut. Karena itu pulalah dia bangun kesiangan.
Baekhyun kesulitan memasangkan pengait helm-nya. Bisa ditebak, Sehun turun tangan membantu si mungil untuk memakai benda itu dengan benar. Tak lupa menepuk puncak helm konyol itu sebagai sentuhan terakhir.
"Naiklah, kiddo. Jangan lupa peluk pinggangku yang erat."
Bagaimana mungkin Sehun bisa melakukannya tanpa sadar kalau Baekhyun mati-matian menahan debaran jantung?
Bahkan ketika Baekhyun naik ke boncengan Sehun, kedua kakinya agak gemetar. Apalagi ketika Sehun mulai menjalankan motor dan menarik gas kuat-kuat—tubuh Baekhyun mau tak mau terpelanting ke depan menabrak punggung lebar sahabatnya itu.
"Peluk pinggangku, Baek. Nanti kau jatuh." Ujar Sehun setengah berteriak. Baekhyun melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Sehun dengan perlahan. Merasakan betapa keras abs yang tersembunyi di balik seragam itu. Perut datar dan ramping yang ingin sekali Baekhyun elus-elus. Lelaki mungil itu membayangkan seperti apa kalau perut seksi itu menindih tubuhnya saat mereka bercinta.
Bercinta katanya tadi?
Sehun menaikkan gas, membuat tubuh Baekhyun sekali lagi membentur punggungnya. Pria itu tersenyum miring di balik helm tanpa Baekhyun ketahui.
Baekhyun boleh berbangga hati. Selain tampan dan seksi, Sehun sahabatnya itu juga dijuluki raja jalanan. Buktinya saja mereka berhasil tiba di sekolah dengan selamat lima detik sebelum gerbang ditutup. Guru Kang yang menghadang di depan sekolah hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Dah, Baek. Nanti kujemput ke kelas saat istirahat, kita makan siang bersama."
Sebenarnya tanpa Sehun ingatkan, Baekhyun sudah hafal dengan kebiasaan lelaki itu. Mereka memang berbeda kelas, Sehun di XI 1 dan Baekhyun di XI 2.
Makan siang bersama memang sudah seperti agenda wajib mereka. Selain berangkat dan pulang sekolah bersama tentunya. Sahabatnya itu melambaikan tangan sebelum dia menghilang masuk ke ruangan.
Baekhyun menghembuskan nafas panjang. Entah sejak kapan perjalanan ke sekolah naik motor Sehun menjadi semenyiksa ini. Sepanjang perjalanan, dia tidak konsentrasi sama sekali. Pria itu mati-matian menahan godaan untuk mendaratkan tangan nakalnya di selangkangan Sehun dari belakang. Dia penasaran bagaimana rasanya kalau penis berbalut celana seragam itu berada dalam genggamannya.
Baekhyun ingin sekali meloncat ke jalanan dan mati saja.
Arousing the Twin
Mata pelajaran ke-tiga untuk hari ini adalah matematika. Untungnya, guru Song berhalangan hadir karena ada pelatihan guru-guru di SNU. Bisa ditebak bagaimana senangnya penghuni XI 2. Sebagian besar langsung keluar kelas, sebagian lagi tetap tinggal—sekedar berbincang ataupun tidur di meja.
"Eh, jadi bagaimana hubunganmu dengan kakak senior itu?"
"CK—masih belum ada perkembangan yang berarti."
"Kau yakin kak Kris itu belum ada pacar? Aku lihat dia selalu saja bersama sahabatnya si Tao itu. Kau yakin mereka tidak pacaran?"
Deg.
Tadinya Baekhyun tidak ambil pusing dengan obrolan Yixing, Minseok dan Jongdae—tapi karena topiknya membuat dia merinding entah karena apa, terpaksa dia memutar tubuhnya menghadap belakang.
"Iya, tidak mungkin mereka hanya sahabat. Mereka terlihat mesra seperti itu." Xiumin menimpali. Baekhyun menelan ludahnya dengan susah payah. Aku juga mesra dengan Sehun, padahal kami kan hanya sahabat.
"Hei, kuberitahu kalian. Aku ini pakar percintaan, jaman sekarang ini, tidak ada yang namanya sahabat tapi mesra. Aku berani bertaruh, salah satu dari mereka pasti menyimpan rasa."
Padahal bukan dia yang dibicarakan, tapi telinga Baekhyun memerah. Salah satunya menyimpan rasa?
"Kau bilang kau pakar percintaan? Kenapa sampai sekarang kau masih belum punya pacar?" Minseok mencibir perkataan Jongdae barusan.
Jongdae memutar matanya, "Aku hanya belum ingin saja."
Sebenarnya itu hanya alasan. Jongdae, sebangku Baekhyun itu, pernah cerita kalau dia sebenarnya suka pada Minseok. Tapi bukan itu yang membuat Baekhyun pusing.
"Menurutmu bagaimana, Baek? Kau dan Sehun kan sangat dekat. Apa teori Jongdae tadi benar atau salah?"
Glek.
"Ha? Teori yang mana?" Baekhyun pura-pura bingung.
"Kata Jongdae, tidak ada yang namanya sahabat tapi mesra. Salah satunya pasti menyimpan rasa."
Jongdae, Yixing dan Minseok memandangnya lekat-lekat, meminta jawaban. Tapi Baekhyun mengartikan pandangan mereka itu seperti ingin minta konfirmasi hubungannya dengan Sehun itu sebenarnya seperti apa.
"A-aku…tidak tahu." Baekhyun menunduk sambil meremas pulpennya erat-erat. Dia buru-buru membalikkan tubuhnya kembali ke posisi awal, sebelum ketiga temannya itu menginterogasinya lebih lanjut.
"Sebenarnya Baekhyun tahu. Iya kan, Baek?"
Jongdae tersenyum aneh sambil melirik Baekhyun dengan pandangan curiga. Baekhyun pura-pura menulis sesuatu di bukunya sok sibuk, dalam hati merutuki sifat Jongdae yang suka mengorek-ngorek keterangan dari siapa saja.
"AKU TIDAK TAHU!" Tawa Jongdae langsung pecah. Baekhyun cemberut kemudian menarik telinga Jongdae secara paksa kemudian berbisik.
"Diam atau kuberitahu Minseok kalau kau…"
Jongdae langsung pucat pasi. "HAHA—Baekhyun tidak tahu! Iya kan Baek? Haha…"
"Yah~ tidak seru…" Yixing mendesah, tapi obrolan tentang kakak kelas incarannya itu kembali berlanjut. Baekhyun tidak ikut menyimak, dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sebenarnya seperti apa hubungannya dengan Sehun?
Kalau dipikir-pikir, sudah sewajarnya kalau mereka berdua berkencan dengan seseorang. Tapi sampai saat ini, tak satupun dari mereka yang menjalin hubungan dengan orang lain. Padahal Baekhyun sangat tahu kalau di sekolah ini yang naksir Sehun itu banyak, tapi selalu saja ditolak.
Baekhyun dan Sehun itu memang tampak terlalu mesra sebagai sahabat. Malah banyak yang salah paham, mengatakan kalau mereka itu pacaran. Tapi, Sehun tak pernah sekalipun bilang kalau dia mencintai Baekhyun, atau semacamnya. Meski perlakuan Sehun ke Baekhyun itu lebih mesra dari orang yang pacaran sih.
Baekhyun merasakan pipinya semakin panas.
Salah satunya menyimpan rasa, apakah itu aku?
Arousing the Twins
Kafetaria sudah penuh ketika Sehun dan Baekhyun tiba disana. Mereka memang agak telat karena tadi Sehun disuruh guru Shin mengembalikan buku paket yang kelas mereka gunakan ke perpustakaan.
"Kita makan di atap saja, Oh Se."
Sehun menurut. "Kalau begitu tunggu disini sebentar, ya?! Kau pesan yang biasa, kan?"
Baekhyun hanya membalas dengan anggukan. Sehun langsung berlari kecil menuju konter makanan.
Sepeninggal Sehun, Baekhyun tak sedetikpun melepas pandangan dari sahabatnya itu.
Kalau dipikir-pikir, tubuh Sehun itu termasuk salah satu yang paling tinggi di sekolah ini. Kulitnya sudah jelas, dia lelaki dengan kulit paling putih disini—Baekhyun masih kalah. Kalau soal wajah, Baekhyun tak bisa bohong kalau sahabatnya itu sangat tampan.
Lihat saja beberapa antrian gadis yang rela mundur agar Sehun bisa maju. Padahal Sehun hanya tersenyum tipis, mereka rela menyingkir tanpa disuruh.
Sehun itu nyaris sempurna. Bahkan dia berdiri antri seperti itu saja sudah terlihat keren. Sehun menyempatkan diri menoleh ke belakang dan mengedipkan mata pada Baekhyun.
"Astaga, kenapa aku ini?" Baekhyun menepuk-nepuk pipinya yang memanas secara misterius. Dulunya berada di dekat Sehun tidak seperti ini, dia nyaman, tenang dan merasa terlindungi. Sekarang juga masih tetap seperti itu, kalau saja hormon sialannya tidak meledak-ledak.
"Hey, kenapa menampari wajahmu seperti itu?"
Baekhyun terlonjak kaget ketika Sehun tiba-tiba saja menepuk pundaknya. Sial.
"Hehe, tadi ada nyamuk. Ayo cepat ke atap Oh Se, aku lapar sekali…"
Baekhyun berjalan duluan, membuat Sehun mengernyitkan dahi dengan bingung. Sahabatnya itu memang sedikit aneh belakangan ini.
Atap bukanlah tempat favorit siswa untuk menghabiskan jam istirahat. Tapi bagi Baekhyun, atap adalah tempat paling strategis di seluruh penjuru sekolah. Dia suka mengajak Sehun kesana, sekedar memandang langit atau numpang tidur saat jam kosong.
Spot kesukaan mereka adalah di dekat menara air. Sehun mengulurkan tangannya agar Baekhyun bisa naik dengan mudah. Kedua sahabat itu kemudian duduk berhadapan dengan plastik makanan berada di tengah mereka.
"Ini…" Sehun menyodorkan susu stroberi kotak setelah menancapkan sedotannya. Tak butuh tujuh detik, susu itu sudah habis seluruhnya. Baekhyun menengadahkan tangan, meminta sekotak lagi. Sehun menaikkan sebelah alisnya.
"Kau benar-benar kelaparan, Baek?" Ujar lelaki itu sambil kembali menancapkan sedotan di kotak yang baru. Baekhyun menyesap minumannya sambil mengangguk. Dia minum sambil terburu-buru. Tanpa ia sadari, tetesan susu jatuh mengaliri dagunya.
"Aku butuh protein lebih karena semalam spermaku terbuang sangat banyak. Kau tahu, aku onani sampai 5 kali, Oh Se! Penisku masih perih sampai sekarang."
"…"
"…"
"…"
"..."
Sehun menghela nafas dengan berat. Ibu jarinya mengarah ke dagu Baekhyun, mengusap susu yang belepotan disana.
"Astaga Sehun, maksudku…"
Ya ampun. Dasar mulut sialan! Mulut brengsek! Mulut kurang ajar!
Baekhyun nyaris gila sendiri. Dia mati-matian menyembunyikan aibnya agar Sehun tidak tahu, tapi mulutnya dengan mudah membeberkan rahasia yang ia tutupi rapat-rapat. Ini pasti karena aku keseringan bergaul dengan Jongdae—pikirnya. Wajah pria cantik itu memerah dengan hebat tanpa bisa dikendalikan.
"Sehun, maksudku…"
"Tak apa, Baek. Kau lelaki normal, onani itu wajar kok." Sehun tersenyum sambil meminum cola yang ia beli untuknya dengan santai.
Baekhyun merasa kepalanya dijatuhi beban jutaan ton. Dia ingin mati saja sekarang.
"Haha, kenapa tegang begitu sih, Baek? Tenang saja, onani itu kan tidak dilarang." Lelaki itu tersenyum manis sekali. Tapi Baekhyun mengartikan senyuman itu seperti tengah mengejeknya habis-habisan.
Baekhyun hampir menangis saking malunya. Dia tertunduk memandangi kotak susu kosong yang ia pegang, meremas benda itu kuat-kuat sampai tak berbentuk lagi. Waktu ibunya dulu menemukan seprei yang ia tiduri penuh cairan putih, dia bahkan tidak semalu ini.
Masalahnya yang berada di hadapannya sekarang adalah Oh. Sehun.
Sehun tersenyum samar tanpa Baekhyun ketahui. Dia membuka sebungkus sandwich isi daging dan menyodorkannya pada Baekhyun.
"Makanlah, ini ada dagingnya—proteinnya tinggi. Penting untuk mengganti protein-mu yang hilang."
Baekhyun mengangkat wajahnya. Bibirnya bergetar hebat menahan tangis, "Kau meledekku, Sehun! Tega sekali kau!"
Lelaki itu cepat-cepat berlari turun dari atap sambil menyeka matanya, meninggalkan Sehun yang tertawa terbahak-bahak di belakang sana.
Astaga, dia menggemaskan sekali.
Arousing the Twins
"Baekhyun!"
Si penyandang nama berusaha menulikan telinganya, dia memacu langkahnya lebih cepat, membaurkan diri diantara kerumunan siswa yang berebut keluar dari gerbang.
"Astaga—maaf, maaf. Baek! BAEKHYUNN!"
Sehun tak menyerah meski berulang kali dia menabrak orang-orang. Selalu seperti ini kalau Baekhyun sedang merajuk. Lelaki mungil itu akan menghindarinya, pulang duluan tanpa menunggunya dan berhenti bicara padanya selama berhari-hari.
Baekhyun itu memang sedikit kekanak-kanakan.
"Baek! Astaga, anak ini. YAK! JONGDAE, TOLONG TANGKAP BAEKHYUN!"
Jongdae kebetulan sedang bersandar di gerbang, bercengkerama dengan teman-temannya dari kelas lain. Yang seperti ini sudah sering terjadi. Baekhyun merajuk dan Sehun mengejar-ngejarnya seperti orang sinting. Ketika Baekhyun tepat berada di depannya, langsung saja ia menarik tas teman sebangkunya itu dan memeluknya dari belakang.
"YAAK! LEPAASSSS!" Baekhyun meronta-ronta sambil berusaha menendang tulang kering Jongdae yang terkekeh di belakangnya. Wajahnya merah padam, merasa terkhianati.
"Lepaskan aku, Jongdae. Aku bersumpah akan membeberkan rahasiamu pada Minseok! Aku tidak main-main!"
Jongdae makin terkekeh. Dia segera melepaskan Baekhyun ketika Sehun tiba di hadapan mereka. "Thanks, Jongdae. Kau selalu bisa diandalkan."
Baekhyun menatap Jongdae dengan galak. "Aku tidak mau lagi berteman denganmu! Mulai besok kau pindah kursi saja!" Ancamnya sambil menunjuk-nunjuk wajah Jongdae.
Jongdae hanya membalas dengan tawa nyaring yang sudah menjadi ciri khasnya. Dia menepuk pundak Sehun dan mencubit pipi Baekhyun dengan gemas, setelah itu pergi bersama gerombolannya.
Kekehan Sehun membuat Baekhyun sadar kalau orang yang ia hindari sedang berdiri di sebelah. Lelaki mungil itu hendak kabur lagi tapi Sehun sudah menarik tangannya.
"Kenapa lari, heum?"
"Lepas, Sehun! Aku benci padamu!"
"Ck, kau merajuk ya? Kenapa? Karena masalah onani tadi?"
Sial.
Baekhyun menghabiskan dua jam kosong sisa pelajaran matematika dengan menangis di kursinya. Dia juga sengaja sembunyi di UKS saat istirahat kedua agar tidak bertemu Sehun. Dan setelah bel berbunyi tadi, dia cepat-cepat kabur agar Sehun tidak mengajaknya pulang bersama.
Dia masih sangat-sangat malu.
"Hey, jangan menangis disini. Kau cengeng sekali. Lihat itu, mereka menertawaimu." Goda Sehun.
Baekhyun melirik beberapa orang murid yang senyum-senyum ketika melewati mereka. Lelaki mungil itu langsung membalikkan badan dan menyeka airmatanya cepat-cepat.
"Hey, kalian! Jangan menertawai senior seperti itu. CK—anak jaman sekarang!" Sehun pura-pura marah pada segerombolan siswi yang lewat sambil cekikikan. Mereka langsung berhenti tertawa kemudian membungkuk pada Sehun.
"Maafkan kami Sehun sunbaenim~"
"Ya sudah. Sana pulang! Hey Baek, aku sudah mengusir mereka."
Baekhyun masih cemberut tapi dia menurut saja saat Sehun menariknya ke parkiran.
"Kau ini, aku kan tidak salah apa-apa. Kenapa kau merajuk seperti itu?" Ujar Sehun sambil menyodorkan helm kesayangan Baekhyun.
Baekhyun memalingkan wajah ke arah lain, tak menggubris perkataan Sehun, apalagi menerima helm yang ia beri. Sehun sangat hafal sifat Baekhyun. Dia tahu kalau sahabat kecilnya ini sangat malu sekarang, telinganya saja sampai merah begitu.
"Hey~ lihat aku." Sehun menangkupkan pipi Baekhyun agar menghadapnya. Dia tersenyum ketika melihat mata sipit itu memerah.
"Kau malu karena keceplosan telah melakukan onani?"
Baekhyun menundukkan kepala tapi Sehun langsung memaksanya mendongak lagi. "Onani itu bukan hal memalukan, Baekhyun. Kau laki-laki, sudah sewajarnya kau melakukan itu. Itu artinya kau sehat dan normal."
Bibir Baekhyun bergerak-gerak tapi tak satupun suara keluar dari sana.
"Aku malah lega. Kupikir sahabatku ini tidak hanya mengalami kelainan tinggi badan, tapi juga…"
Sehun mendekatkan bibirnya ke bibir Baekhyun, "…kelainan seksual."
Baekhyun seperti disambar petir.
Seksual. Kelainan seksual.
"Aku benci padamu, Sehun!" Baekhyun bersiap menangis lagi tapi Sehun sudah menariknya ke pelukan. "Haha, aku hanya bercanda. Kau sudah senior sekarang, tapi kenapa kau malah makin cengeng?"
"Awass! Aku benci padamu!" Sehun hanya tertawa, ia melepaskan pelukannya. Baekhyun menghapus airmatanya yang lagi-lagi turun. Selain malu, dia juga merasa tersinggung karena Sehun bilang dia mengalami kelainan seksual.
Dia merasa tersindir.
"Baek, aku juga sering kok onani."
Ucapan Sehun barusan membuat Baekhyun mengangkat wajahnya dan menatap lelaki itu. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak semakin kencang.
"Aku berani bertaruh, rekormu onani dalam sehari pasti belum lebih dari sepuluh. Iya kan?"
Baekhyun menelan ludah. Sejujurnya dia bingung kenapa Sehun menanggapi masalah ini dengan santai, padahal dirinya sudah mati-matian menahan malu.
"Kau masih kalah dariku. Kau mau tahu rekorku berapa?"
Sialnya atau bodohnya, Baekhyun malah mengangguk.
"Aku pernah onani lebih dari 20 kali dalam sehari. Untung saja aku tidak mati."
Baekhyun kembali menundukkan wajah. Omongan terlalu vulgar yang Sehun lontarkan membuat sesuatu dalam dirinya menggeliat. Benar-benar menyiksa. Berada di dekat Sehun saja sudah membuat libidonya melonjak-lonjak. Apalagi mendengar sahabatnya itu berbicara vulgar—Baekhyun panas dingin ketika membayangkan Sehun mengocok penisnya sendiri.
"Hey~" Baekhyun tersentak ketika Sehun memegang kedua bahunya. "Intinya kau tak perlu merasa malu. Aku sahabatmu, kan? Kau harus lebih terbuka padaku."
Sial. Baekhyun menggigit bibirnya berusaha menahan gairah yang tiba-tiba muncul.
"Tapi onani terlalu sering itu tidak baik untuk kesehatan, Baek. Apalagi kau bilang penismu sampai perih. Kau melakukannya tanpa sabun pasti, iya kan?"
Kepala Baekhyun makin pusing mendengar pembicaraan tanpa sensor yang mengalir dari bibir Sehun. Lelaki itu malah asyik memberikan saran-saran onani yang baik, tanpa menyadari Baekhyun yang sudah gemetar menahan birahi.
"…jadi kau harus mengocoknya seperti ini…" Sehun mempraktekkan cara mengocok penis supaya onani lebih nikmat dengan tangannya, membuat gerakan naik turun.
"…jangan terlalu cepat, itu yang bisa bikin penis jadi lecet. Pelan-pelan saja…"
Sehun, berhentilah.
"…kau harus sering-sering menambahkan sabun, makin licin akan makin enak, Baek…"
Sialan, berhenti kataku!
"Baek? Baek? Kau mendengarku? CK, sepertinya kita harus onani bersama nanti. Aku akan mengajarimu prakteknya langsung."
"Ber-henti, Sehun. Aku tidak mau dengar!" Ucap Baekhyun dengan suara bergetar. Sehun menggigit bibirnya karena Baekhyun tiba-tiba saja menangis tanpa suara lagi.
"Astaga, maaf Baek. Aku kan hanya…"
"Aku mau pulang…"
Sehun dengan cepat menahan tubuh Baekhyun yang hendak berbalik. "Kita pulang bersama."
Baekhyun cepat-cepat menggeleng. Pulang bersama Sehun hanya akan menyiksanya lebih lanjut. Dia mau cepat-cepat sampai di rumah, menyelesaikan hasrat sialannya kemudian tidur.
"Aku mau naik taksi."
Sehun hanya bisa mendesah berat ketika sahabatnya berjalan cepat keluar dari area sekolah.
"Aish, seharusnya aku tidak bicara seperti itu padanya. Aku kan bohong soal onani 20 kali itu."
Sehun menjambaki rambutnya dengan kesal. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dia mengangkat panggilan masuk itu tanpa semangat.
"Halo. Ya? Sekarang? Aish, baiklah."
Setelah mematikan panggilan, Sehun memasukkan ponselnya ke dalam tas dan buru-buru mengejar Baekhyun yang hampir mendekati gerbang.
"Baek! Tunggu!"
Baekhyun merengut ketika Sehun menghalangi langkahnya. Sahabatnya itu langsung memberikan tasnya pada Baekhyun. "Bawa pulang tasku, please~ aku harus latihan dance dengan Kai, mungkin sampai malam."
"Bawa saja sendiri!"
Baekhyun nyaris mencampakkan tas Sehun. Tapi Sehun dengan sigap menyampirkan ranselnya di pundak Baekhyun.
"Maaf~ aku buru-buru. Kompetisi dance-nya makin dekat, kami harus berlatih lebih giat. Pulangnya hati-hati ya?! Kapan-kapan aku akan mengajarimu onani yang benar!"
Belum sempat Baekhyun melempar Sehun dengan sepatunya, lelaki itu sudah berlari menjauh sambil terbahak-bahak.
Sial.
Arousing the Twins
Baekhyun sedang enak-enaknya tidur ketika suara deringan ponsel mengganggu ketenangannya. Seperti biasa, dia menghabiskan sejam di kamar mandi—onani sambil menyumpahi Oh Sehun. Setelah melampiaskan hasratnya, lelaki itu ambruk kelelahan di atas ranjang.
Deringan ponsel berhenti sebentar, kemudian berbunyi lagi. Baekhyun kesal karena dia masih sangat mengantuk. Diraihnya ponsel yang diselipkan di bawah bantalnya. Dengan mata yang masih setengah terpejam, dia mencari-cari tombol hijau untuk mengangkat panggilan.
Seketika matanya terbuka lebar. "Eh, bukan ponselku? Jadi yang bunyi ponsel siapa?"
Baekhyun mendudukkan diri di ranjang. Deringan ponsel itu terdengar lagi, tapi bukan dari ponselnya. Dia menajamkan pendengaran, ternyata berasal dari ransel Sehun yang tergeletak di meja belajar.
Segera saja lelaki itu merogoh tas Sehun dan mengangkat panggilan, dari nomor yang tak dikenal.
"Halo? Sehun? Ini sia… APA? SEHUN DITANGKAP POLISI? Baik, baiklah…aku segera kesana."
Seketika kamar Baekhyun menjadi gaduh. Dia berganti baju dengan cepat, mengambil dompet dan telepon genggamnya, memakai sepatu dan berlari keluar rumah.
"Aish, apa lagi yang anak itu lakukan? Tadi dia bilang mau latihan dance!" Baekhyun terus merutuk kesal, tapi dia benar-benar panik. Dia menyetop taksi yang kebetulan lewat dan masuk dengan terburu-buru.
"Kantor polisi dekat Bandara Incheon…"
Meski masih agak bingung, Baekhyun langsung saja meluncur pergi ke sana. Dia masih malu karena kejadian di sekolah tadi, tapi Sehun sedang dalam masalah. Lelaki itu tak berhenti berdoa di sepanjang perjalanan, semoga Sehun baik-baik saja.
Arousing the Twins
"Hey, Nak! Aku sangat capek sekarang, aku belum makan siang. Jadi, maukah kau bekerja sama?"
Pria paruh baya bertubuh tambun itu mencampakkan berkas-berkas di hadapannya dengan kesal, terlebih lagi ketika melihat wajah orang di hadapannya yang sulit diajak kompromi sejak dua jam lalu.
"Sekali lagi kutanya, bagaimana bisa marijuana yang kau bawa lolos pendeteksian, hah?"
Pria di hadapannya hanya memandang datar dengan mulut terkunci rapat-rapat. Si pria tambun mengacak rambutnya dengan gusar. "Aishhh! Kalau kau diam terus, aku akan segera menjebloskanmu ke penjara!"
"Officer Lee, segera terbitkan surat perintah penangkapannya! Dia tetap tutup mulut, aku yakin dia ini bagian dari jaringan mafia internasional."
Si pemuda memutar matanya bosan. "Hey, Nak! Aku tidak main-main! Cepat katakan bagaimana caranya…"
"SEHUN! SEHUNNN! MANA SEHUN?!"
Ucapan polisi itu terhenti ketika seorang pemuda mungil menerobos masuk begitu saja. Orang-orang yang berada di dalam kantor polisi itu terdiam sejenak, kemudian melanjutkan aktifitasnya kembali.
"Hey! Sehun-mu disini!" Officer Kang, polisi tambun itu berdiri sambil melambaikan tangan pada si pemuda mungil, Baekhyun.
Baekhyun langsung berlari menuju meja Officer Kang yang terletak di sudut. Nafasnya terengah-engah dan wajahnya terlihat sangat ketakutan. "Mana Sehun? Apa yang terjadi padanya?"
Officer Kang menunjuk pemuda yang duduk tenang di hadapannya dengan wajah kesal. "Bukankah ini Sehun-mu?"
Baekhyun melirik pria berkaos hitam lengan panjang yang duduk santai di depan meja interogasi. Lelaki itu balas melirik Baekhyun sambil memutar matanya bosan.
"Ini Sehun?" Tanya Baekhyun bodoh. Demi apapun juga, lelaki yang duduk disana itu bukan Sehun yang ia kenal. Officer Kang mengangkat alisnya. "Jadi dia bukan Sehun? Anak ini bilang namanya Oh Sehun dari tadi."
Polisi berperut buncit itu menyeringai. "Kena kau, Nak. Selain menyelundupkan barang terlarang, kau juga berani menipuku! Habis kau ditanganku!"
Arousing the Twins
Baekhyun merasakan kepalanya benar-benar sakit sekarang. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia malah terlibat. Sejak sore tadi, polisi tambun yang keras kepala itu terus saja menginterogasi mereka berdua. Malah Baekhyun dituduh ada sangkut-pautnya dengan jaringan narkoba internasional.
Lelaki yang duduk santai di sebelahnya itu juga sama keras kepalanya. Sudah diancam dengan berbagai cara, dia tetap saja betah diam.
"Pak polisi, sekali lagi saya tegaskan, saya tidak tahu-menahu tentang marijuana dan semacamnya. Saya cuma anak SMA kelas 2 yang kehidupannya biasa-biasa saja. Kalau tidak percaya, Bapak bisa hubungi orangtua saya!"
Polisi Kang itu tertawa remeh. "Di negara lain sana anak TK juga sudah sering mengedarkan narkoba."
Baekhyun menghentakkan kakinya dengan kesal. Polisi satu ini benar-benar membuat kesabarannya habis. Dia langsung memandang pria disampingnya dengan galak. "KAU! CEPAT KATAKAN YANG SESUNGGUHNYA!"
Lelaki itu diam saja tanpa mengindahkan omelan Baekhyun.
"Menurut data pihak imigrasi dan kartu identitas, kau bernama Carloz Park, benar? Lalu kenapa kau menyebut-nyebut nama Sehun? Kau membuatku bingung saja, Nak."
Lelaki itu diam saja tanpa berekspresi apapun. Baekhyun gatal sekali ingin memukul kepalanya dan menarik telinga lebarnya itu sampai putus.
"Kau baru saja mengganti kewarganegaraanmu, dari Spanyol menjadi Korea. Hm~ apa kau ditendang dari negaramu? Karena kasus apa? Pembunuhan? Penyelundupan barang haram?" Polisi Kang itu terus saja bertingkah menyebalkan.
"Kau tidak bisa bahasa Korea? Padahal dari data ini sudah jelas kalau ayahmu adalah orang Korea asli dan Ibumu orang Spanyol."
Si Carloz itu hanya mengangkat ujung bibirnya sedikit sambil menaikkan alis. Gaya menantangnya itu membuat Baekhyun lama-lama ingin menarik pistol yang terselip di pinggang polisi Kang dan menembak kepalanya saat itu juga.
"Bapak Polisi yang Terhormat~ saya benar-benar tidak ada hubungannya dengan dia. Jadi, sudah bisakah saya pulang? Saya lapar, belum makan malam." Baekhyun berucap sambil menahan emosinya. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Polisi Kang memicingkan mata dan menatap Baekhyun dengan curiga. "Urusan kita belum selesai, Nak. Duduk manis disitu sampai aku mendapatkan keterangan dari anak ini."
Baekhyun menjambaki rambutnya frustrasi. "Hey, Kau! Kau tidak bisa bahasa Korea ya? Atau kau bisu? Atau tuli? Cepat jawab pertanyaannya—aku mau pulang!" Dia makin kesal karena Carloz tidak merespon apapun.
"Hey, tenanglah, Anak Manis. Kau bisa menghancurkan meja kerjaku!"
Baekhyun menjedutkan kepalanya di meja sambil menghentakkan kaki dengan kesal.
"Él no tiene la culpa (Dia tidak bersalah)."
Baekhyun serta-merta mengangkat kepalanya, menatap pria yang baru saja bicara dalam bahasa Spanyol itu—dan demi apapun juga, suaranya sangat berat dan seksi. Polisi Kang juga agak terkejut, tapi dia segera berdehem.
"Hey, kau bisa bicara ternyata. Kau tidak bisa menggunakan bahasa Inggris saja? Kami tidak punya penerjemah bahasa Spanyol disini."
Carloz melirik Baekhyun yang agak sedikit terpesona, kemudian memandang polisi Kang dengan datar. "La marihuana es mío. Estás satisfecho ahora? (Marijuana itu punyaku. Kau puas)" Ujarnya sambil menelengkan kepala. Kali ini giliran Baekhyun dan Polisi Kang yang kebingungan.
"Oh Sehun es mi hermano gemelo (Oh Sehun itu saudara kembarku)."
Baekhyun menebak-nebak apa yang lelaki itu katakan. Tapi dia tidak mengerti sama sekali, bahasa Spanyol yang ia tahu hanya Hola!
Lelaki itu meraih ponselnya dari saku dan menghubungi sebuah nomor. Baekhyun terperanjat ketika ponsel Sehun yang di saku jaketnya berdering.
"Ke…kenapa ini bunyi? Kau yang menelepon?"
Baekhyun memandang pria itu dan layar ponsel Sehun yang menayangkan tulisan, 'My Carloz' disana secara bergantian. Dia menerka-nerka ada hubungan apa pria ini dengan Sehun.
"HAHA, kena kau, Nak! Ternyata benar dugaanku, kalian ini bersekongkol!"
"MAKSUD BAPAK BERSEKONGKOL ITU APA? Saya benar-benar tidak mengenal orang ini. Ini ponsel teman saya, dia yang menitip…"
"Apa temanmu itu namanya Oh Sehun?"
"Iya—namanya memang Oh Sehun."
"Ssst—sudah jelas sekarang, Anak Muda. Kalian berhak membela diri di persidangan nanti, silahkan hubungi pengacara masing-masing."
Baekhyun menghembuskan nafas dengan frustrasi. Polisi Kang ini masih saja salah paham.
"Officer Lee—borgol mereka berdua!" Polisi Kang mengibas-ngibaskan tangannya dengan wajah puas. Berjam-jam menginterogasi akhirnya ketemu juga titik terangnya. Walau sedikit memaksa sih.
"PAK! ISHH—LEPASKAN! TUNGGU DULU BAPAAAK!"
Baekhyun menjerit-jerit sambil memegangi kedua tangannya agar tidak diborgol. "BIAR SAYA JELASKAN!"
Dia menatap Officer Lee dengan galak, kemudian kembali duduk dengan kasar.
"Ini—adalah ponsel sahabat sekaligus tetangga saya, Oh Sehun. Bapak menginterogasi tapi lupa menanyakan nama saya. SAYA BYUN BAEKHYUN! Byun. Baekhyun!"
Polisi Kang berdehem. "Lalu kenapa ponselnya ada padamu? Apa-apaan dengan My Carloz?"
"Ish—Sehun menitipkan ponselnya pada saya, Pak Polisi yang Baik Hati. Dia pergi latihan dance. Tentang My Carloz, saya tidak tahu—kan ini bukan ponsel saya…"
Officer Lee memutar matanya lalu kembali ke mejanya sendiri. Seisi kantor polisi ini sebenarnya sudah tahu kalau Officer Kang memang sering salah-salah dalam melakukan interogasi.
Carloz tersenyum tak kentara ketika mendengar penjelasan Baekhyun.
Polisi Kang menggaruk kepalanya dengan bingung. Sejujurnya polisi paruh baya itu sudah tidak konsentrasi. Tadi siang dia tidak sempat makan karena harus menginterogasi pemuda tinggi dari Spanyol yang ketahuan menyembunyikan marijuana di kopernya. Ternyata dia belum mendapatkan keterangan yang berarti, bahkan sampai malam begini interogasinya masih jalan di tempat.
Mungkin pengaruh usia yang semakin menua—pikirnya. Dia mengenang masa-masa dua puluh tahun silam ketika karirnya di kepolisian sedang berada di puncak.
"Bapak? Hey—bapak! Kenapa malah melamun?"
Polisi Kang tergagap ketika tangan kecil Baekhyun melambai-lambai di hadapannya. Dia benar-benar buntu sekarang.
"Kalian dipenjara. Kami akan menghubungi keluarga kalian segera."
Polisi Kang memerintahkan Officer Lee agar menjebloskan kedua anak muda itu ke penjara. Dia benar-benar buntu sekarang.
"Kenapa dipenjara, Pak? YAAAK! LEPASKAN AKUUU!"
Polisi Kang memejamkan mata ketika teriakan nyaring Baekhyun menggema di seluruh ruang interogasi. Carloz tak mengatakan apapun, dia diam saja ketika digiring memasuki sel yang berada di paling ujung. Officer Lee sampai kewalahan menyeret Baekhyun yang terus meronta-ronta histeris.
Begitu sel mereka dikunci dari luar, Carloz langsung mengambil tempat duduk bersandar di pojokan. Dia tersenyum kecil ketika melihat pemuda kecil bernama Baekhyun yang sedang menangis sambil memegangi jeruji besi itu.
Dia bukannya tidak bisa berbahasa Korea, hanya saja…
"HEY! INI SEMUA GARA-GARA KAU!"
Baekhyun berdiri di hadapannya dengan wajah penuh airmata. Carloz terkekeh tapi kemudian menatap Baekhyun dengan sinis.
"Oye, eres muy divertido (Hey, lucu sekali kau)."
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan! Bicara bahasa manusia saja, dasar orang aneh!"
Carloz memejamkan matanya, tak memperdulikan Baekhyun.
"Hey, dengarkan aku! Pikirkan caranya supaya kita bisa keluar dari sini secepatnya!"
Baekhyun makin kesal ketika lelaki itu tak menggubrisnya sedikitpun.
"YAK! Dasar penjahat internasional! Gara-gara kau aku jadi ikut dipenjara!" Baekhyun dengan sengaja menendang tulang keringnya pria bernama Carloz itu.
Tiba-tiba saja Carloz membuka mata dan menarik tangan Baekhyun sampai lelaki mungil itu terjatuh di pangkuannya.
Mereka bertatapan intens.
"Aku tidak pernah memintamu untuk terlibat. Tenang saja, aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Kau hanya perlu diam dan jangan buat aku makin kesal." Ucap Carloz dalam bahasa Korea yang sangat fasih.
Baekhyun mengerjap-erjapkan matanya.
"Aku masih capek karena jet lag sialan. Sehun dan bibiku akan datang segera. Jadi, bisakah kau tidak menambah beban pikiranku, chiquito (Litte boy)?"
~ TBC~
Haha~ maaf karena chapter ini agak membingungkan. Chapter selanjutnya akan lebih membingungkan lagi. Thanks for your support. Please Kindly Review yah cemans-cemans
Berhubung disini Carloz sama Sergio keturunan Spanyol, aku rasa wajar pake kalimat2 Spanyol, Makasih atas sarannya^^
See Ya Next Chap
