Arousing the Twins
Saat keluarga Oh tiba di kantor polisi, Baekhyun tengah tidur meringkuk di sudut yang berseberangan dengan Carloz. Pria mungil itu capek menangis dan ujung-ujungnya dia malah ketiduran. Seorang sipir bermarga Kim membuka sel dan Sehun langsung menghambur masuk.
"Yak! Kenapa tidak bilang mau datang ke Korea, estupido (bodoh)?" Maki Sehun ketika melihat kakak kembarnya duduk berselonjor di lantai penjara yang dingin. Carloz memutar mata kemudian menerima uluran tangan Sehun.
"Yah~ aku juga merindukanmu, Sergio Park." Sindirnya.
Sehun memeluk Carloz sambil memukul dadanya. "Kapan aku bilang aku merindukanmu? Di sini namaku Oh Sehun. Oh. Se-hun. Astaga—Baekhyun ah!" Sehun alias Sergio langsung menghampiri Baekhyun yang meringkuk beralaskan jaketnya.
"Baek? Baekhyun?"
"Jadi dia Little Chick peliharaanmu? Dia tampak cute di foto, tapi aslinya…menyebalkan."
Sehun mendecih sebal, "Yang menyebalkan itu kau! Kenapa bodoh sekali bisa tertangkap di bandara—dan seingatku kau bilang mau berhenti memakai barang itu."
"Aku sedang sial saja, brengsek. Aku memang berhenti memakai, tapi tidak dengan berhenti mengedarkan."
Sehun mencibir lalu menggendong Baekhyun di kedua lengannya karena lelaki itu tak kunjung bangun. Mereka bertiga keluar dari penjara dan bergabung dengan Tuan dan Nyonya Oh yang tampak sedang membicarakan sesuatu dengan polisi Kang.
Nyonya Oh langsung memeluk Chanyeol, airmata tampak menggantung di pelupuknya. "Mereka melepaskanmu, tapi barang itu disita." Bisik wanita itu. Carloz mendesah berat—untung saja yang tertangkap itu barang yang disimpan di koper. Mereka tidak tahu kalau masih ada marijuana yang dia simpan di tempat lain.
"Terimakasih atas bantuanmu, Kang hoobaenim. Kalau bukan karena kau, keponakanku pasti sudah…"
"HAHA—bukan masalah besar, Oh sunbae~ anak muda memang biasa seperti itu. Tapi dia harus lebih hati-hati lain kali." Kang dan Oh berjabat tangan sambil saling menepuk bahu. Mereka memang pernah kuliah di tempat yang sama dulunya.
Setelah sesi basa-basi yang membosankan, keluarga Oh akhirnya pamit dan segera pergi dari kantor polisi.
"Terimakasih banyak, Paman." Ujar Carloz saat mereka hendak masuk ke mobil. Tuan Oh tersenyum hangat sambil menepuk pundak pemuda itu. "Sama-sama, Park Chanyeol."
Arousing the Twins
Kaki Sehun yang melintang di dadanya adalah hal pertama yang dilihat Chanyeol ketika membuka mata. Dia segera menyingkirkan kaki adiknya itu kemudian duduk di ranjang. Lelaki itu memejamkan mata sambil memijat pelipisnya yang sedikit sakit.
"Aku tak menyangka akhirnya berada di Korea sekarang." Dia bergumam. Rasa sedih langsung menyeruak, belum apa-apa dia sudah merindukan Barcelona. Lelaki itu kemudian melirik Sehun yang masih tidur dengan pulasnya.
"Setidaknya ada kau disini, Sergio. Kaulah alasanku untuk tetap hidup." Dengan sayang diselimutinya tubuh setengah telanjang milik adiknya itu, tak lupa mengelus rambutnya yang berantakan.
Chanyeol bergegas mencuci wajah lalu turun ke bawah. Nyonya Oh tampak sedang sibuk mondar-mandir menghidangkan sesuatu di meja makan. Wanita itu tersenyum lebar ketika melihat keponakannya datang mendekat. Dia langsung memeluk lelaki tampan itu dengan erat sambil menepuk pundaknya.
"Buenos dias, mi Carloz. ¿Dormiste bien, anoche? Te traigo una taza de café?(Selamat pagi, Carloz-ku. Tidurmu nyenyak tadi malam? Mau kopi?"
Chanyeol terkekeh. "Bahasa Spanyol Bibi makin fasih saja. Aku tidur nyenyak, dan—kopi, please. Terima kasih."
Nyonya Oh tersenyum senang kemudian membuatkan kopi untuk Chanyeol.
"Paman mana?"
"Oh, masih mandi barangkali. Ini kopimu, Anak Muda."
Nyonya Oh duduk di depan Chanyeol sambil menopang tangan di dagu, memperhatikan wajah pria tampan di hadapannya. "Kau mirip sekali dengan ayahmu."
Chanyeol tersenyum kecil, "Dan Sehun semakin mirip dengan Paman."
"Kalian membicarakanku?" Tiba-tiba saja Tuan Oh sudah berada di dapur. Pria murah senyum itu langsung duduk di sebelah Chanyeol.
"Dia hanya bilang kalau Sehun makin mirip denganmu, yeobo."
"Haha, benarkah? Aku cukup tersanjung…Padahal kupikir makin lama Sehun semakin menyerupai wajah Miranda." Mereka bertiga tertawa.
Sedikit banyaknya, Chanyeol merasakan hatinya menghangat. Dia lega karena Sehun tinggal dengan keluarga baik seperti keluarga Oh ini. Tidak seperti dirinya yang—sudahlah, lupakan. Mereka terlibat pembicaraan ringan tentang Barcelona dan Korea.
Tadi malam mereka sudah membahas perihal Chanyeol yang tertangkap membawa marijuana di bandara dan sepakat pembicaraan itu berakhir saat itu juga. Tidak usah dibahas lagi.
"Oh ya…Bibi tidak tahu harus mengatakan ini atau tidak…" Nyonya Oh melirik suaminya dengan canggung. "Tapi Park Chanyeol, maukah kau memanggil kami appa dan eomma mulai sekarang?" Suami-istri Oh memandang Chanyeol dengan wajah penuh harap.
Nyonya Oh yang aslinya bernama Park Bom adalah adik kandung dari ayah si kembar, Park Yoochun. Dia menikahi wanita Spanyol bernama Miranda, tetapi ajal menjemput mereka lebih cepat. Si kembar baru berusia sebulan ketika kecelakaan maut merenggut nyawa mereka berdua.
Bom dan suaminya, Oh Kangjun memutuskan untuk mengadopsi Sergio Park dan membawanya ke Korea. Sejak itulah Sergio Park berganti marga menjadi Oh. Carloz tetap tinggal di Spanyol bersama nenek Park, yang notabenenya adalah ibu dari Yoochun dan Bom. Wanita tua itu tak mau diajak ikut ke Korea dengan alasan ingin mengurus makam putra kesayangannya.
"Chanyeol? Maukah kau…"
Lelaki berlesung pipi sebelah itu tersenyum dan mengangguk, "Appa…eomma…"
Bom tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dia langsung memeluk anak tampan itu dan menciumi wajahnya dengan penuh kasih sayang. Bagi Chanyeol tak masalah, meski dia masih agak canggung. Toh Park Bom ini adalah adik kandung ayahnya, satu-satunya keluarga mereka di Korea ini.
"Wah, sedang mesra-mesra ternyata."
Mereka bertiga serempak menoleh pada si bungsu yang hanya memakai singlet hitam dan celana pendek. Kembaran Chanyeol itu mengambil gelas kopi kakaknya dan meminum isinya sampai habis. Kangjun dan Bom bertukar senyum ketika melihat interaksi anak kembar rupawan itu.
"Jadi, apa yang terlewat olehku?"
Arousing the Twins
Baekhyun bangun pukul 11 lewat 20 menit. Untung saja hari ini adalah hari minggu. Kalau tidak, mungkin dia dan Sehun sudah kembali kebut-kebutan di jalan dan tiba lima detik sebelum gerbang sekolah ditutup.
"Sehun!"
Mata sipitnya yang tadi setengah terpejam kini terbuka lebar. Dia kaget karena mendapati dirinya tidur di kamarnya sendiri. Bukankah kemarin…
Putra tunggal keluarga Byun itu cepat-cepat melakukan ritual paginya dan kabur ke rumah tetangga sebelah ingin meminta penjelasan. Seingatnya kemarin seseorang menelepon dari kantor polisi mengabarkan kalau Sehun ditangkap. Seingatnya juga dia bergegas pergi kesana, bertemu pria menyebalkan bernama Carloz, dan mereka dimasukkan ke dalam penjara.
Tapi nyatanya dia tidur di kamarnya malam ini.
"Haha—aku hanya mimpi tadi malam! Mana mungkin aku dipenjara. Aku hanya bermimpi!" Baekhyun berkata pada dirinya sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Bibi! Mau kemana?" Baekhyun langsung menyapa Bom ketika melihat wanita itu keluar dari rumah. Dia sudah berdandan rapi, begitu juga dengan suaminya yang sedang menghidupkan mesin mobil.
"Baekhyun ah! Bibi ada urusan di luar kota. Kau tidur disini saja ya nanti malam? Masuklah—Bibi sudah buatkan makanan untukmu."
Baekhyun tersenyum lebar tentu saja. Dia memang tidak bisa memasak, untung saja tetangganya yang satu itu mau repot-repot membuatkan makanan untuknya.
"Terimakasih, Bibi Oh."
Bom tersenyum manis, "Baiklah. Kami pergi dulu ya?!"
Baekhyun membungkuk kemudian melambaikan tangan pada orangtua sahabatnya itu. "Hati-hati, Paman dan Bibi. Jangan lupa oleh-oleh ya~" Bom dan Kangjun terkekeh, mereka masuk ke dalam mobil dan mulai melaju pergi.
"Ah—pasti seru kalau Paman dan Bibi Oh jadi mertuaku…"
Mobil hitam yang mereka kendarai menghilang di kelokan. "Astaga, apa yang sudah kuucapkan?" Baekhyun tersipu sendiri ketika menyadari ucapannya. Jangan bilang kalau dia baru saja membayangkan putra keluarga Oh menikahinya.
Dia tiba-tiba saja ingat apa tujuannya datang ke rumah Sehun, membuang jauh-jauh imajinasinya yang bisa membuat selangkangan kembali menggembung.
"Oh Se~ aku dataaaaangg~ Kau dimana, Oh Seeeeh?"
Seperti biasa, Baekhyun akan mengobrak-abrik dapur, mengambil stroberi dan susu kotak jatahnya yang seakan tak pernah kehabisan stok. Dia sudah terbiasa dengan kediaman keluarga Oh. Termasuk berjalan ke kamar Sehun dengan mata tertutup. Hari libur seperti ini biasanya Sehun masih tidur pulas.
"10 anak tangga, belok kanan, dua puluh langkah, hadap kiri…SEHUUUUNNNNN…."
Baekhyun mendorong pintu sambil tersenyum lebar dengan mata yang masih tertutup. Dia selalu suka ketika Sehun memuji keahliannya berjalan dengan mata terpejam seperti itu. Saat dia membuka mata, kejadian beberapa hari lalu terulang kembali.
Tapi bukan Sehun.
Kali ini tidak setengah telanjang, tapi benar-benar telanjang. Full naked. Tanpa sensor.
Baekhyun membatu di ambang pintu. Nafasnya tercekat.
"Ka-kau…" Baekhyun memandang lelaki itu tak percaya. Dia menajamkan penglihatan sambil mengerjap-erjap, sosok di depan sana tidak menghilang—berarti dia nyata.
Pandangan Baekhyun beralih dari wajah, turun ke dada bidang yang terlihat nyaman untuk bersandar, turun ke abs yang lebih seksi daripada milik Sehun, turun makin ke bawah… Ya ampun, meski dalam keadaan setengah tegang begitu, tapi penisnya benar-benar besar.
Baekhyun sesak nafas sendiri dengan kedua bola mata yang nyaris keluar dari tempatnya. Sialnya, dia tidak bisa melepaskan pandangan dari kejantanan lelaki itu yang tampak menantang lubang siapapun di dunia ini.
"Hey, chiquito~ menikmati apa yang kau lihat, heh?"
"A-ak…akuu…" Lidah Baekhyun terasa kelu, dia merasakan tubuhnya memanas. Seluruhnya. Terutama penisnya yang masih tidur di bawah sana, tiba-tiba saja benda mungil itu melonjak kaget karena ada pemandangan indah di depan mata.
Chanyeol, lelaki itu, malah berdiri dengan santai menghadap Baekhyun sambil menatap si lelaki mungil dengan smirk andalannya. Baekhyun yang masih terdiam di ambang pintu tampak mulai gemetaran dan panas dingin.
"Kau tidak pernah belajar kalau mengintip itu adalah dosa ya?"
Telinga Baekhyun memanas. Dia mengepalkan tangan berusaha menahan gelombang birahi yang menghantamnya tiba-tiba.
"Memangnya kau tak punya penis sendiri sampai-sampai harus bernafsu melihat penis orang lain?" Chanyeol masih berbicara dengan nada sarkastis. Dia meraih handuk putih yang tergeletak di lantai kemudian memakainya. Tadinya dia mau berpakaian, tapi seseorang tiba-tiba saja membuka pintu.
"Cih—sudah kuduga, dasar gay sialan."
Baekhyun tertohok tepat di ulu hati. Aku? Gay?
"Tidak di Spanyol, tidak di Korea. Kau tahu, kaum kalian itu begitu menjijikkan." Chanyeol berjalan ke arah lemari dan mengambil kaos. Dia tidak bodoh untuk mengetahui selangkangan lelaki mungil di ambang pintu itu menggembung.
"Kenapa masih disitu? Selain tidak punya malu, kau juga tidak punya sopan santun ternyata." Dia melirik Baekhyun yang masih tetap pada posisinya. Si mungil berpegangan di sisi pintu karena lututnya yang lemas, entah karena nafsunya yang melonjak atau karena kata-kata pedas pria di hadapannya itu.
"Aku sudah tidak mempan dengan trik murahan seperti ini. Dasar manusia homo pemakan penis, kenapa kau tidak memakan penismu sendiri, hah?" Ujar Chanyeol sinis sambil memakai pakaiannya dengan santai.
Ucapan itu menghujam perasaan hati lembut seorang Byun Baekhyun.
Baekhyun nyaris jatuh kalau tidak karena tangan Sehun yang tiba-tiba menahannya dari belakang. "Baek? Kau tak apa-apa?" Dia bergantian melirik sahabatnya dan Chanyeol yang sudah berpakaian lengkap.
"A-aku…"
Baekhyun tak berani menatap Sehun, apalagi melihat Chanyeol yang berjalan mendekat. Demi apapun juga, berada di antara dua pria bertubuh seksi membuat dirinya lemas seketika. Seingatnya hanya Sehun yang bisa membuat gairah terpendam dalam tubuhnya menjadi tak terkendali, tapi lelaki asing ini juga memberikan efek yang sama.
"Baek? Kau kenapa?"
Sialnya, Sehun tampak baru selesai mandi. Rambutnya masih basah dan membasahi kaos putih tipis yang ia pakai. Baekhyun makin sesak nafas. Apalagi ketika aroma sabun Sehun menyeruak penciumannya yang sensitif.
Tidak bisa dibiarkan.
Baekhyun seperti tersadar dari lamunannya, dia sontak melepaskan pegangan Sehun dan berlari turun. Chanyeol mengedikkan bahu sambil tersenyum sinis ketika pintu di bawah sana dibanting. Baekhyun berlari pulang ke rumahnya dengan selangkangan gembung dan airmata yang bercucuran.
"Apa yang kau lakukan padanya, Yeol?" Selidik Sehun sambil berjalan cepat ke arah jendela. Kamarnya dan kamar Baekhyun berseberangan, mereka sering berdiri di balkon masing-masing dan saling melempar kertas sebagai sarana komunikasi.
Sehun sempat melihat Baekhyun menarik gorden pink-nya agar menutup sempurna. Dia mendesah berat. Pandangannya kembali tertuju pada kakak kembarnya yang selalu bertingkah menyebalkan dimanapun dia berada.
"Aku tidak melakukan apapun." Chanyeol berjalan santai ke dekat meja dan menyemprotkan parfum kesukaannya.
"Jadi kenapa dia menangis?"
Sehun memang sempat melihat airmata Baekhyun sebelum dia berlari pergi. Dia tahu sahabatnya itu cengeng, tapi mustahil dia menangis kalau bukan karena ulah Chanyeol.
"Darimana aku tahu? Memangnya penting buatku?"
Sehun memutar matanya dengan kesal. "Dia itu penting untukku."
Chanyeol balas memutar mata mendengar kalimat adiknya. "Kau suka padanya lebih dari sekedar teman, iya kan?" Lelaki itu memandang Sehun yang wajahnya terlihat kesal. Dia duduk di pinggiran ranjang dengan wajah super menyebalkan yang sudah menjadi ciri khas-nya.
"Kau selalu menceritakan tentangnya setiap kita video call, kau juga membuat akun instagram privat yang berisi foto kalian berdua, dan sialnya kau memaksaku untuk mem-follow akun tersebut. Setiap kau datang berlibur ke Barcelona, kau tak henti-hentinya berceloteh tentang dia."
Sehun mengepalkan tangan. Chanyeol memang kakak kembarnya, tapi demi apapun juga, dia memilih untuk tidak usah kembar saja dengan lelaki itu. Sialnya semua yang Chanyeol katakan benar.
"I warn you, Sergio. No te enamores de él (jangan jatuh cinta padanya)." Chanyeol menatap adiknya tajam-tajam.
"Jangan pernah terjerumus dalam permainan kaum gay—seperti temanmu itu. Berbahaya. Kau paham, Adik Kecil Kesayanganku?"
Sehun geram. "Bukan urusanmu, Carloz sialan. Aku tidak gay—dia juga tidak!"
Chanyeol terkekeh. Melihat wajah pucat adiknya memerah karena amarah adalah salah satu hal yang menyenangkan baginya. "Kau yakin dia tidak gay? Aku bisa menilai seratus persen hanya dari wajahnya. Dia itu gay bertipe bottom."
Sehun semakin emosi. Dia melemparkan handuk basah ke wajah Chanyeol. "Berhenti menjelek-jelekkan Baekhyun!"
'HAHA, aku benar. Kau menyukainya!"
"Aku tidak!"
"Jadi kau tidak menyukainya?"
"Aku…" Sehun tergagap.
"Kalau begitu, baguslah. Aku lega." Chanyeol bangkit dan berdiri di hadapan Sehun. Adiknya itu tampak kecil jika dibandingkan dengan dirinya. Sehun memang empat senti lebih pendek dari Chanyeol.
"Kau satu-satunya yang kumiliki di dunia ini, Sehun. Aku tidak mau kau terjerumus seperti aku dulu, dan…seperti Diego." Dia menahan pundak Sehun sambil sedikit merunduk menyejajarkan mata.
"Turuti perkataanku, jangan jatuh cinta padanya. Aku mengijinkan kalian berteman, hanya sekedar teman, tidak lebih."
"Kau tidak bisa mengaturku, Chanyeol!" Dia menghempaskan tangan kakaknya tapi Chanyeol kembali menahan bahunya kuat-kuat.
"Aku bisa! Aku kakak kandungmu, aku berhak mengaturmu demi kebaikanmu sendiri."
"Kau menyebalkan. Kita hanya berbeda sepuluh menit, tapi kau merasa paling sok tua. Kenapa kau tidak kembali ke negaramu saja, hah?"
Sehun menghempaskan tangan Chanyeol kuat-kuat. Dia menyerah. Berdebat dengan kembarannya itu hanya akan membuat urat lehernya menegang, dia tidak akan pernah menang. Dimana-mana kakak yang mengalah, kecuali Chanyeol. Sehun yang selalu mengalah untuknya.
Chanyeol terkekeh. "Kita sudahi perkelahian tidak penting ini. Cepat berkemas, kau bilang mau mengajakku keliling Seoul."
Sehun merutuki kakaknya dengan suara yang sengaja dibesar-besarkan. Dia kesal, tentu saja. Baru sehari di Korea tapi Chanyeol sudah bertingkah lebih parah daripada ayah dan ibunya. Tapi, sekeras apapun dia memberontak, Chanyeol selalu bisa mematahkan perlawanannya.
Benar-benar menyebalkan.
Sehun sempat menatap kediaman keluarga Byun yang tampak sepi sebelum motornya melaju keluar dari pekarangan. Ucapan Chanyeol tadi mengusik pikirannya.
Bagaimana sebenarnya perasaanku untuk Baekhyun?
Arousing the Twins
"Jadi kau serius mau menginap disini?" Minseok menatap Baekhyun yang daritadi mengacak-acak kamarnya seperti orang gila kemudian menangis tersedu-sedu seperti bayi itu.
"Bahkan kau tak bawa baju satupun. Besok kau pakai apa ke sekolah?"
Baekhyun melirik Minseok sambil cemberut. "Kau tidak mau menampungku di rumahmu bahkan sehari saja? Kupikir kita teman."
Minseok mendecih sambil merebahkan diri disamping Baekhyun. "Minseokieee~ aku boleh menginap disini ya? Please~"
"Ya ya~ terserah kau saja. Jadi besok kau tidak sekolah?"
"Bukan aku, tapi kita. Kita bolos saja."
"CK—kau merepotkan. Aku akan telpon Sehun supaya menjemputmu." Minseok mengeluarkan ponselnya tapi Baekhyun langsung merebut benda itu.
"Jangan! Ish, kau pelit sekali. Baiklah, izinkan aku menginap, besok pagi-pagi sekali aku akan pulang."
"Ok, deal. Tapi ada syaratnya. Pesan dua kotak pizza sekarang juga."
Meski cemberut, Baekhyun akhirnya menyetujui persyaratan dari Minseok, memesan pizza ukuran besar dua kotak—hanya untuk mereka berdua. Kedua lelaki mungil itu sudah selesai mandi ketika pesanan mereka tiba.
"Jadi beritahu aku, kenapa kau kabur dari rumah." Ujar Minseok sambil menggigit pizza-nya.
"Aku tidak kabur. Aku bosan sendirian di rumah."
"Kan ada Sehun."
"Sehun sibuk."
Entah kenapa, hati Baekhyun mencelos karena kejadian tadi siang. Dia masih belum mendapat penjelasan tentang lelaki bernama Carloz yang ia temui di kantor polisi. Entah apa hubungan lelaki itu dengan Sehun, dan kenapa dia ada di kamar Sehun tadi?
Sial. Baekhyun meringis ketika ingat kata-kata pedas yang lelaki itu lontarkan padanya. Belum pernah ada yang berkata sekasar itu padanya.
Sebenarnya dia berharap Sehun mengejarnya dan membujuk agar dia berhenti menangis, tapi ternyata tidak. Dia agak kecewa karena Sehun sama sekali tidak mengejarnya. Lagi-lagi dia berakhir di kamar mandi, onani sambil menangis. Rasanya benar-benar menyiksa.
Karena itulah dia memutuskan hijrah ke rumah Minseok, untuk menenangkan diri.
Ketika sekotak pizza hampir habis, Baekhyun menyarankan agar Minseok menghubungi dua teman mereka yang lain, Yixing dan Jongdae agar datang bergabung.
"Aku rasa aku perlu menghabiskan waktu lebih bersama kalian." Itu jawaban Baekhyun ketika Minseok mengernyit heran, biasanya Sehun akan memonopoli Baekhyun dari mereka. Tak butuh satu jam, kamar Minseok sudah dijejali empat pria yang sama pendeknya.
Arousing the Twins
"Mau kemana?"
Chanyeol merengut tak suka ketika Sehun kembali memakai jaketnya yang baru sepuluh menit lalu ia buka. Mereka baru pulang dari acara keliling Seoul, dan seseorang menghubungi Sehun, membuat adiknya itu tampak gusar.
"Mau menjemput Baekhyun. Dia kabur ke rumah temannya."
"CK—memangnya itu tugasmu apa—memangnya kau supir pribadinya?"
"Berhenti cerewet seperti nenek-nenek, Yeol. Kau sudah mencuri waktuku seharian ini, sekarang aku milik Baekhyun."
Chanyeol memutar matanya dengan kesal. "Ingat yang kukatakan tadi."
Sehun tak menggubris. Dia keluar dari kamar dan langsung mengeluarkan kembali motornya dari garasi. Baekhyun jarang mau menginap di rumah temannya yang lain, dan kalau dia sampai menginap, itu artinya suasana hati lelaki itu sedang buruk.
Sehun meng-gas motornya kuat-kuat.
Butuh setengah jam lebih untuk menuju rumah Minseok. Kediaman bercat biru muda itu terlihat sepi dari luar, maklum saja, sekarang sudah jam 10 malam. Begitu tiba, Sehun memarkirkan motornya dan langsung menekan bel.
"Akhirnya kau datang juga. Dia sudah tidur sejak sejam lalu."
Minseok menggiring Sehun menuju kamarnya yang bak kapal pecah. Tampaknya empat sekawan itu baru saja main kartu, wajah mereka dicoret-coret pakai spidol non permanen.
"Yo, Sehun! Menjemput tuan putrimu?" Ledek Jongdae yang wajahnya hampir tidak bisa dikenali. Sehun hanya terkekeh, dia berjalan menghampiri Baekhyun yang meringkuk di ranjang Minseok.
Lelaki tampan itu merasa lega entah karena apa. Baekhyun tertidur seperti bayi, mulutnya terbuka sedikit dan dengkuran halus keluar dari sana. Tanpa sadar dia mengusap pipi Baekhyun dan terkejut karena permukaan itu sedikit lembap.
"Dia menangis seharian ini, entah karena apa." Kata Yixing yang sejak tadi memperhatikan dua sahabat itu. Sebenarnya Yixing sudah curiga kalau Baekhyun dan Sehun ada apa-apanya, tapi dia memilih diam.
"Menangis?" Gumam Sehun. Dia langsung ingat kejadian siang tadi.
"Apa dia sudah makan?" Tanya Sehun pada Jongdae yang sibuk menghamburkan kulit kacang. "Dia tidak ada makan nasi seharian ini. Tapi kalau yang kau sebut makan adalah memasukkan pizza, es krim, snack, dan cola ke dalam perut—yah~ dia memakan semuanya." Minseok yang membalas.
Sehun terkekeh. Ciri khas Baekhyun kalau sedang sedih, dia akan mengemil apapun yang tampak di depan mata.
"Hey, Baek~ bangunlah. Ayo pulang." Sehun mengguncang tubuh Baekhyun, tapi si mungil itu hanya melenguh sedikit kemudian kembali tidur.
"Aish, dia susah sekali dibangunkan. Baekhyun ahhh~ bangunlaaahhh~" Sehun berbisik di telinga Baekhyun, mendesah lebih tepatnya. Tak ada reaksi. Yang namanya Baekhyun memang selalu sulit dibangunkan.
"Tak ada cara lain. Minseok ah, bisakah kau setopkan taksi?"
Minseok mengangguk. Dia kemudian keluar diikuti Jongdae yang mengekor di belakangnya. Sehun melepas jaketnya dan memakaikan ke tubuh Baekhyun. Dia tidak sadar kalau Yixing tersenyum memperhatikan tingkah Sehun itu.
Sehun lalu menggendong Baekhyun ala pengantin, saat itulah Yixing menahan tangannya. Dia dan Yixing jarang terlibat obrolan karena anak itu memang agak pendiam. Mereka hanya berinteraksi di ruang dance, di luar itu mereka hanya bertukar senyum.
"Kau menyukai Baekhyun?"
Sehun mengernyitkan dahi. Seharian ini kenapa orang-orang selalu menanyakan itu padanya.
"Apa?"
"Aku tanya, apa kau menyukai Baekhyun? Hehe, maaf bertanya seperti ini, tidak sopan. Tapi aku penasaran melihat interaksi kalian berdua. Apa kalian benar-benar hanya sahabat?"
Selain agak pendiam Yixing juga selalu to the point kalau bicara. Pertanyaan tak terduga itu membuat Sehun tersenyum canggung. Yixing ikut tersenyum canggung karena menyadari pertanyaannya membuat Sehun tidak nyaman.
"Ah maaf. Tidak perlu dijawab. Ayo, kuantar kalian ke luar."
Mereka tidak tahu kalau Baekhyun sebenarnya sudah bangun saat Sehun membisikinya. Dia pura-pura tidur dengan mata yang terpejam erat. Lelaki itu mencelos untuk yang kesekian kalinya hari ini.
Sehun tidak menjawab.
Dia masih pura-pura tidur saat Sehun menaikkannya ke taksi, lalu mengekori taksinya pakai motor. Entah apa alasannya, Baekhyun kembali menangis dalam diam, berusaha keras mengabaikan deru motor Sehun di belakang sana.
Arousing the Twins
Hari Senin termasuk di dalam daftar 100 hal-hal yang Baekhyun benci. Selain karena harus pergi ke sekolah, pada hari ini dia juga menerima banyak kejutan. Yang pertama, dia terbangun di ranjang Oh Sehun, sahabat sekaligus tetangga sebelah, padahal seingatnya dia menangis di dalam taksi dan—ketiduran. Baekhyun memang punya kebiasaan jatuh tertidur setelah capek menangis.
Yang kedua, bukan hanya Sehun yang ia dapati di ranjang, tetapi juga pria menyebalkan yang sudah berani-beraninya berkata kasar sekaligus menuduh dirinya gay kemarin.
Yang ketiga, dia terbangun karena merasakan ada benda berat yang menimpa tubuhnya. Ternyata kaki Sehun yang mengapit pahanya dan sial—tangan si lelaki kurang ajar melingkar sok akrab di perutnya. Jangan lupakan lelaki sombong itu bernafas dekat sekali dengan lehernya, membuat dia merinding kegelian.
Yang keempat, dia mengalami morning wood terparah seumur hidupnya. Mungkin saat tertidur tubuhnya sudah terangsang berat karena feromon dua pria tampan di sisinya, belum lagi kulit mereka yang bersentuhan. Susah payah dia melepaskan diri dari dua lelaki itu dan berlari pulang ke rumah. Kalian tahu apa yang ia lakukan di kamar mandi. Untung saja dia tidak berejakulasi di seprei ranjang Sehun.
Demi apapun juga, Baekhyun benar-benar kesal.
Dan yang terakhir, Baekhyun baru saja menyemburkan susu cokelat yang Sehun buatkan setelah mendengar pengakuan mengejutkan—lelaki kurang ajar itu adalah kembaran sahabatnya.
"Iya, Baek, aku tidak bohong. Memangnya kau merasa kami tidak mirip?"
Baekhyun bergantian memperhatikan wajah Sehun dan lelaki yang ternyata punya nama Korea Park Chanyeol tersebut. Kalau dipikir-pikir, mereka mirip juga. Sama-sama tinggi, sama-sama tam—pan. Penisnya sama-sama besar. Baekhyun menggeleng-gelengkan kepala dengan brutal saat bayangan sensual itu hinggap di otaknya yang sudah tercemar.
Chanyeol cuek saja sambil menggigit roti bakarnya.
Sehun menceritakan dengan singkat rahasia yang ia tutupi selama ini. Dia memang tidak pernah bilang kalau ibunya bule dan dia sempat jadi warga negara Spanyol. Baekhyun terkejut ketika tahu kalau Tuan dan Nyonya Oh bukanlah orangtua kandung Sehun.
Pantas saja kulit Sehun putih sekali begitu, dan oh—mata keduanya benar-benar mirip. Cokelat terang dengan sedikit gurat abu-abu bercampur hijau, mata yang jarang dimiliki orang Asia.
Siapapun akan percaya kalau kedua pria itu kembar. Bedanya, Sehun baik dan Chanyeol seperti iblis—itu yang Baekhyun dapat simpulkan.
Sehun juga menjelaskan tentang kekacauan di kantor polisi itu. Baekhyun bergidik ngeri saat mengetahui kalau Chanyeol memang benar-benar membawa barang terlarang.
"Hey, mau sampai kapan kau berdongeng? Cepat mandi, lalu pergi sekolah." Bahkan gaya marah Chanyeol mirip bapak-bapak. Sehun mendengus kemudian pergi dari dapur setelah mengusak rambut Baekhyun yang sudah disisir rapi.
Tinggallah mereka berdua di meja makan.
Baekhyun tak pernah merasa canggung di rumah keluarga Oh. Dia sudah menganggap anggota keluarga Oh seperti keluarganya, tapi tidak dengan yang satu ini.
Bagaimana mungkin Baekhyun bisa memakan sarapannya kalau Chanyeol terus-terusan memandanginya dengan sinis seperti itu?
"Kenapa memandangiku seperti itu? Memangnya aku punya hutang padamu?"
Baekhyun membentak Chanyeol dengan sok berani, padahal dia sebenarnya takut sekali. Dia menggigit rotinya dengan kasar, membuat serpihannya mengotori sekeliling bibir.
"CK—ya terserahku, kan aku memandangimu pakai mataku sendiri. Ada masalah?"
Sial. Baekhyun ingin sekali mencongkel kedua mata pria menyebalkan yang sifatnya berbanding terbalik dengan Sehunnya itu. Sehunnya?
Chanyeol tersenyum samar ketika Baekhyun menelan rotinya tanpa dikunyah, kemudian meneguk susunya cepat-cepat. Baekhyun tidak sadar kalau sekeliling bibirnya belepotan.
"Dasar penjahat internasional! Aku benci padamu!"
"Memangnya aku pernah bilang kalau aku menyukaimu?"
Baekhyun mendengus kuat-kuat sambil menghentakkan kaki. Chanyeol yang satu ini benar-benar membuat dia emosi. Padahal tadi pagi dia horny berat karena—sudahlah.
"Ah~ aku lupa bilang kalau aku sangat-sangat membenci manusia homo, gay, pemakan penis—seperti kau, chiquito."
Bagaimana mungkin Chanyeol bisa berkata seperti itu pada Baekhyun yang baru saja dikenalnya? Pria cengeng seperti Baekhyun langsung sedih tentu saja.
"Memangnya kau pernah melihatku memakan pe…pe…" Untung mengatakan 'penis' saja Baekhyun tak sanggup. Jangankan memakan penis, melihat penis saja dia sudah nyaris pingsan.
"Memakan PENIS maksudmu?" Chanyeol menyeringai sambil menatap Baekhyun remeh. "Tertulis di dahimu, chiquito. Kau. Adalah. Gay. Menjijikkan."
Oke, Chanyeol keterlaluan kali ini.
"Kau…kau!" Baekhyun menggeram di kursinya. Dia ingin berkata kasar tapi kalimat-kalimat yang sudah ia susun di otaknya tak bisa diucapkan. Dadanya naik turun menahan amarah.
"Aku apa?" Balas Chanyeol dengan wajah menantang minta dipukul.
Mereka saling berpandangan tajam untuk semenit. Baekhyun memukuli, menyiksa, menghajar Chanyeol sampai lelaki itu babak belur—di pikirannya.
"JANGAN MENYEBUTKU CHIKITO CHIKITO! AKU BENCI PADAMU! Kau pikir aku chiki-chiki, hah?"
Hanya itu yang bisa Baekhyun ucapkan, berlawanan dengan kata hatinya. Dia bergerak mendorong kursinya dengan kasar dan berjalan menghentak keluar dari dapur.
"Baek? Kenapa?"
"Minggir Sehun!"
"Baekhyun. ISH—pagi-pagi kau sudah cengeng."
Sehun baru saja turun dari tangga dan mendengar keributan di dapur. Ternyata kembaran menyebalkannya yang buat ulah lagi. Dia langsung menahan tangan Baekhyun, memaksa pria itu berbalik menghadapnya.
"Berapa umurmu, hah? Kenapa mulutmu belepotan seperti ini?" Sehun mengusap sekeliling bibir Baekhyun dengan lembut, membersihkan remah dan susu yang menempel disana. Baekhyun hanya memandangi sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang orang gila itu katakan padamu?"
"Dia…dia…" Baekhyun memang lelaki cengeng gampang menangis. Dia hampir saja menghamburkan diri ke pelukan Sehun, tapi urung dilakukan. Dia tidak mau horny lagi pagi ini.
"Dasar cengeng! Manja! Pengadu!" Chanyeol menyempatkan diri mengejek Baekhyun sebelum dia menaiki tangga.
"Yak! Park Chanyeol!"
Si Chanyeol itu memutar mata bosan saat beradu pandang dengan Sehun. Lelaki yang terkadang mulutnya mengalahkan perempuan itu membanting pintu kamar Sehun kuat-kuat.
"Hey, jangan menangis. Sudahlah, dia memang seperti itu."
Sehun tidak tega karena belum apa-apa Baekhyun sudah jadi korban mulut tajam kakaknya. Dia tahu kalau Chanyeol tidak menyukai Baekhyun, karena—dia menduga kalau Baekhyun gay. Entah darimana Chanyeol menyimpulkan demikian. Oke, sahabatnya memang agak girly, tapi apakah itu berarti dia gay?
Bukankah hubungan sesama jenis sudah biasa di jaman sekarang ini?
Chanyeol benci kaum gay. Sangat.
Penyuka sesama jenis yang sudah menularkan penyakit HIV pada Diego, sahabatnya.
Pecinta penis yang tega membuat Diego overdosis malam itu sampai menemui ajalnya.
Chanyeol benci setiap pria bertubuh mungil, berwajah cantik apalagi yang hobi menangis.
Dan semua itu ada di diri Byun Baekhyun. Yah, mau tak mau Chanyeol harus mengakui kalau sahabat adiknya itu cantik.
"Hey, sudahlah~ kita berangkat saja. Nanti kubelikan kue stroberi yang di toko dekat sekolah itu."
Baekhyun mengangguk sambil mengusap matanya. Sehun melingkarkan tangan di pundak Baekhyun, membawanya keluar rumah dan berangkat ke sekolah bersama.
Chanyeol mengintip dari jendela saat deru motor sport Sehun terdengar dari bawah sana. Dia mengepalkan jari kuat-kuat saat adiknya memasangkan helm untuk Baekhyun. Dia juga menggertakkan gigi saat Sehun menarik kedua tangan Baekhyun agar berpegangan pada perutnya. Dia mendengus kuat-kuat saat Baekhyun bukannya berpegangan, tapi malah memeluk tubuh Sehun dan menyandarkan kepala di punggungnya.
"Tak akan kubiarkan kau menyentuh adikku, chiquito."
~TBC~
Hi...we meet again. Thanks for the reviewers, readers, followers, semuanyalah. Berkat kalian aku semangat ngerjain ff ini. Oh ya, aku mau cerita dikit. Ini sebenarnya kisah nyata aku dan sahabatku. Aku pernah pacaran sama cowok kembar wkwkw dan sahabatku, well~dia...agak 'melenceng'. Aku dulu selalu nemenin dia ke toilet buat anu-anu wkwkwkw gara-gara hormonnya yang gak bisa dikontrol kalo deket-deket cowok cakep. Haha, kalo diinget-inget lucu juga. Makasih J***, kau inspirasiku sobat. Btw aku juga sebel liat Chan disini. Cuma karna inget dia sama mami pas di MMA, sumpah~ gabisa tidur. Udah ah~
Review lagi ya~ See ya next chap~
