Discalimer: Masashi Kishimoto

Pair: SasoTen

Slight: NejiSaku

RnR!

Don`t read if you hate this pairing. :)

Hallo minna-san. Im back untuk mengupload fanfic Tell me dengan new chapter.

Bales review dulu ne.

Akiraken: Makasih banyak udah nyempatin waktu untuk baca fanfic abal-abal aku. Wah, akhirnya ada yang sepemikiran sama aku yang suka sama Tenten dengan crack pairing. Untuk ShikaTen, emang jarang banget pair mereka untuk fanfic berbahasa indonesia. Atau bisa dibilang malah gak ada. Tapi kalo gak ada halangan, aku udah punya planning buat bikin fic mereka. :).Oh ya, aku juga udah upload fanfic judul terbaru dengan main chara Tenten dan crack pair tentunya. #promosi mode on :D. Sekali lagi , makasih dengan review yang udh diberikan. :))

Oke langsung aja. Tell Me chap 2. :)

"Temari". Panggil Tenten. "Apa lagi ?". Tanya Temari. "Tadi Lee kemari, dan dia bilang kau dipanggil oleh Jiraiya-sama". Kata Tenten. "Benarkah ?. Tapi kenapa aku tidak dengar ?". Tanya Temari. "Mungkin karena ini ruang kesehatan. Makanya Lee berusaha untuk tidak mengeluarkan suara". Kata Tenten. "Awas kalau kau berbohong". Kata Temari keluar dari ruang kesehatan. "Kenapa tidak dari tadi saja aku membodohinya seperti ini. Dasar bodoh". Gumam Tenten gembira lalu menghampiri Neji.

"Hai Neji". Sapa Tenten. "Kau Tenten. Hai juga". Sapanya lemah. "Apa kau sudah merasa baikkan ?". Tanya Tenten perhatian. "Yah, kurasa begitu". Jawab Neji yang dibalas tatapan aneh dari Tenten. "Kenapa kau menatapku seperti itu ?". Tanya Neji. "Tidak. Hanya saja aku sulit percaya kalau seorang Hyuuga Neji bisa sakit". Kata Tenten polos. "Aku juga manusia Tenten". Jawab Neji yang diiringi tawa ringan. "Apa kau membutuhkan sesuatu ?". Tanya Tenten. "Ya. Kurasa aku membutuhkan air. Tenggorokanku kering sekali". Kata Neji. "Ini". Kata Tenten sambil menahan punggung Neji agar air minumnya meluncur dengan mudah ke tenggorokannya. "Arrigatou". Kata Neji. "Dou ita". Balas Tenten dengan menampakkan senyum termanis yang ia miliki. "Apa kau butuh sesuatu lagi ?". Tanya Tenten. "Mungkin aku hanya membutuhkan istirahat". Kata Neji. "Baiklah. Aku akan meninggalkanmu. Aku ada di sebelah jika kau butuh sesuatu". Kata Tenten. "Arrigatou". Balas Neji. "Tidak sampai 5 detik, Tenten sudah berpindah dari tempat tidur Neji, kini ia telah kembali ke tempat tidurnya. Karena tempat tidur Tenten dan Neji hanya dipisahkan oleh selembar gorden. "Aku mencintaimu Neji-kun". Teriak Tenten tanpa suara dan mendekatkan bibirnya di gorden yang kini memisahkan dirinya dan Neji.

"Dasar !". Kata Temari di depan pintu ruang kesehatan menahan emosi."Ah, hahaha. Hai sobat". Kata Tenten takut. "Beraninya kau". Kata Temari lagi. "Apa kau sudah menemui Jiraiya-sama ?". Tanya Tenten. "Ya. Dan kali ini aku ingin menemuimu". Kata Temari. "Aku tidak ingat kita punya janji". Kata Tenten bergidik merasakan hawa di sekitarnya yang tiba-tiba memanas. "Ya, kau memang tidak berjanji padaku. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan meremukkan semua tulangmu". Geram Temari. "Aw, pasti sakit". Kata Tenten dengan wajah sedikit pucat akibat ia harus memikirkan cara agar ia bisa keluar dari cengkraman temannya itu. "Tidak akan sakit kalau aku ,meremukkan semuanya sekaligus". Jawab Temari menghampiri Tenten. "Ah, hehe. Temari bisakah kalau kita selesaikan masalah kita diluar ?. Neji baru saja istirahat". Kata Tenten. "Cepat". Sergah Temari menarik tangan kanan Tenten.

"Beraninya kau…." Kriiiing…Kriiiing. Tanda bel istirahat telah dibunyikan. "Gomen, tapi jam istirahat sudah tiba. Jadi sebagai orang sakit, aku harus membeli makan agar aku sehat. Daaah..". Kata Tenten berlari meninggalkan Temari. "Kau….". Teriak Temari. "Awas kau". Gerutu Temari.

"Pinky". Teriak Tenten menghampiri saudaranya di luar kelas. "Panda ?. Apa kau sudah baikkan ?. Kenapa kau malah ada disini ?". Tanya Sakura yang dipanggil Tenten dengan sebutan Pinky. Ya, Pinky adalah panggilan sayang Tenten pada Sakura. Sedangkan panggilan sayang Sakura pada Tenten adalah Panda. "Sebenarnya aku tidak sakit Pinky. Aku hanya berpura-pura agar aku bebas dari ulangan". Kata Tenten mengakui. Pletaakk…!. "Dasar bodoh. Kenapa kau melakukan itu ?. Kau mau nilai ulanganmu kosong di buku laporan nanti ?". Kata Sakura menjitak kepala Tenten tepat ditempat saat Temari menghantamnya dengan buku tebalnya. "I..i..ita". Rintih Tenten. "Aku hanya belum siap Pinky". Kata Tenten. "Kau selalu begitu. Kau kan bisa minta jawaban padaku". Kata Sakura. "Tidak Pinky. Kau sudah berkali-kali dihukum karenaku. Aku tidak mau melihat kau dihukum lagi untuk kesekian kalinya". Kata Tenten. "Kau sangat perhatian". Kata Sakura memeluk Tenten. "Karena aku menyayangimu". Balas Tenten memeluk Sakura. "Kau tau Pinky ?". Tanya Tenten. "Apa ?". Tanya Sakura. "Saat aku di ruang kesehatan tadi, aku bertemu dengan seseorang". Kata Tenten. "Seseorang ?. Siapa ?". Tanya Sakura. "Nejii…". Teriak Tenten sambil melompat-lompat kegirangan. "Benarkah ?". Tanya Sakura. "Yah. Dan aku sedikit sedih. Karena dia sedang sakit. Wajahnya pucat sekali. Ingin sekali aku menemaninya disana". Kata Tenten melemah. "Lalu kenapa kau malah kemari ?". Tanya Sakura. "Karena ada sedikit masalah". Kata Tenten. "Masalah ?". Tanya Sakura tidak mengerti. "Ya. Aku akan menceritakannya nanti. Ayo ke kantin. Aku lapar". Kata Tenten memegang perutnya. "Baiklah". Balas Sakura. "Tunggu". Kata Tenten yang membuat Sakura berhenti berjalan. "Ada apa ?". Tanya Sakura. "Begini. Kemarin uang sakuku habis untuk beli sepatu". Kata Tenten. "Jadi ?". Tanya Sakura malas karena ia mengerti kearah mana pembicaraan Tenten ini. "Apa kau ada rencana mentraktirku ?". Tanya Tenten harap-harap cemas. "Kau ini selalu saja". Kata Sakura. "Hehehe, gomen". Balas Tenten cengengesan.

XxXxXxXxXxX

"Sasori, kau kan kemarin sudah berjanji padaku". Rengek seorang gadis pada pemuda bernama Sasori. "Aku sungguh tidak bisa Ino". Kata Sasori. "Sasori-san. Ayolah". Rengeknya lagi. "Aku tidak bisa Ino. Aku sudah janji dengan orangtuaku". Kata Sasori lagi. "Kau ini menyebalkan". Kata Ino melepaskan tautan tangannya yang dari tadi menggelayut di lengan kanan Sasori dan pergi. "Bertengkar lagi ?". Tanya teman Sasori menepuk pundaknya. "Ya. Jujur, aku lelah menjalin hubungan dengannya. 2 tahun aku mencintainya dan berharap dia bisa berubah. Tapi ternyata tidak ada perubahan sedikit pun pada dirinya". Kata Sasori. "Memang kau berjanji apa padanya ?". Tanyanya lagi. "Mengajaknya ke pusat perbelanjaan. Dia ingin membeli gaun untuk ia kenakan di hari ulang tahunnya minggu depan". Jawab Sasori. "Hidan, apa kau mau menemaninya membeli gaun ?". Tanya Sasori pada temannya. "Aku ?. Hahaha, tidak. Terimakasih. Bisa putus kakiku menemaninya belanja". Tolak Hidan. "Apa putus adalah jalan agar dia bisa berubah ?". Tanya Sasori. "Kalau itu hanya kau yang tau. Sudahlah, meeting akan dimulai. Kau adalah calon direktur. Tidak lucu kalau seorang calon direktur telat menghadiri meeting". Kata Hidan merangkul temannya itu.

XxXxXxXxXxX

"Kaasan, sebenarnya kita mau kemana ?". Tanya Tenten pada Ibunya. "Kita akan bertemu seseorang. Kau diamlah". Jawab Akane. "Sebenarnya aku juga penasaran Kaasan". Kata Sakura duduk di jok belakang mobil. "Sakura, kau jangan ikut-ikut Tenten". Jawab Akane lagi. "Tousan ?". Tanya Tenten pada Iruka berharap mendapat jawaban dari ayahnya. "Nanti kau juga tau". Jawab Iruka berkonsentrasi pada jalan didepannya. "Menyebalkan". Gerutu Tenten menyilangkan kedua tangannya di dada dan bersandar. "Tenten, kau ini cerewet sekali". Ejek Akane. "Bukannya aku cerewet Kaasan. Aku hanya tidak nyaman memakai baju ini. Sepenting apakah acara ini sampai Kaasan menyuruhku memakai gaun ini ?". Tanya Tenten. "Sangat penting". Hanya itu yang kata-kata yang keluar dari mulut Akane. "Kau terlihat cantik Panda". Kata Sakura memuji saudaranya yang memakai gaun berwarna biru dongker selutut dengan aksen rumit di bagian dada, rambut yang dikuncir tinggi dan high heels tinggi berwarna biru dongker yang senada. "Kau juga Pinky". Puji Tenten pada Sakura yang mengenakan gaun putih tulang tanpa lengan, rambut digerai tak lupa pita berbentuk kupu-kupu berwarna perak dan sepatu berwarna putih.

"Okaerinasai. Atas nama siapa ?". Tanya pelayan pada keluarga Umino saat memasuki sebuah restoran mewah. "Atas nama Iruka Umino". Jawab Iruka. "Baiklah. Meja anda ada disebalah sana. Mari ikut saya". Kata pelayan itu ramah. "Ayo". Kata Iruka pada kedua anak dan istrinya.

"Tenten, cepatlah". Kata Akane lirih yang melihat Tenten berjalan sangat pelan. "Kaasan, jangan salahkan aku. Salahkan sepatu ini yang mempunyai heels yang sangat tinggi". Balas Tenten yang sekarang sedang di papah oleh Sakura. "Panda, Apa kau mau tukar dengan sepatuku ?. Ini tidak terlalu tinggi". Tawar Sakura. "Tidak Pinky. Sepatu ini tidak nyaman. Nanti kakimu lecet". Tolak Tenten. "Tapi….". "Aku baik-baik saja Pinky. Aku hanya belum terbiasa mengenakan sepatu model seperti ini". Kata Tenten memotong perkataan Sakura.

"Tousan, Kaasan. Kita sedang menunggu siapa ?". Tanya Tenten. "Menuggu seseorang yang sangat penting". Jawab Akane. "Apakah masih lama ?. Aku mau ke toilet". Kata Tenten. "Pergilah. Tapi jangan lama-lama". Kata Akane. "Apa perlu aku temani ?". Tawar Sakura. "Tidak perlu Pinky. Kau disini saja. Lagipula tidak enak jika teman Tousan dan Kaasan datang kedua anak mereka tidak ditempat. Paling tidak ada kau kan". Tolak Tenten beranjak dari kursi.

"Ne..Neji ?". Lirih Tenten terbelalak saat melihat Neji keluar dari toilet pria. Tenten terkejut kembali untuk yang kedua kalinya. Tenten melihat Neji berjalan menuju Tempat duduk yang di pesan ayahnya. Lagi, telah banyak orang yang duduk disana. Salah satunya adalah lelaki yang Tenten rasa ber-usia 21 tahun dengan rambut merah menyala.

"Neji ?". Panggil Tenten saat sudah duduk dikursi yang telah ia tempati sebelumnya. "Hai Tenten". Sapa Neji. "Ha..hai juga". Balas Tenten bingung karena ada Neji disini. "Pinky, ada apa ini ?". Bisik Tenten pada saudaranya. "Aku juga tidak tau". Jawab Sakura. "Kaasan, bisa kau jelaskan padaku apa yang terjadi disini ?". Tanya Tenten. "Kau akan segera mengetahuinya". Balas Akane dengan senyum mengembang. "Bagaimana keadaan perusahaan sekarang Iruka ?". Tanya seorang lelaki paruh baya berambut panjang. "Baik-baik saja Hiashi-sama". Jawab Iruka. "Iruka,kau tidak berubah dari dulu". Kata Lelaki paruh baya yang satunya. "Kau juga sama Akasuna. Apa kau masih suka bersembunyi dibalik pohon jika ibumu datang mencarimu saat kau sedang asik bermain ?". Canda Iruka yang dibalas tertawa lepas dari ketiga lelaki paruh baya itu.

"Jadi tujuan Tousan mengajak kalian berdua kemari adalah untuk memperkenalkanmu pada Hyuuga Neji dan Akasuna no Sasori. Sakura, Tenten". Kata Iruka pada kedua anaknya yang masih melahap makanan penutup mereka masing-masing. "Kami sudah kenal Neji. Kami satu sekolah". Kata Tenten polos. "Sepertinya kau belum paham betul dengan apa yang Tousan katakana. Apa Tousan benar, Tenten ?". Tanya Iruka yang dibalas anggukan dari Tenten. "Begini. Kami berencana akan menjodohkan kalian dengan laki-laki dihadapan kalian saat ini". Jelas Iruka. Uhuk...Uhuk..Uhuk..Uhuk.. !. Kata-kata Iruka berhasil membuat kedua anak gadisnya tersedak."Hati-hati sayang". Kata Akane menepuk-nepuk punggung kedua gadis itu. "Jo..jodoh ?". Tanya Tenten. "Iya. Jodoh. Apa kau tidak mau ?". Tanya Iruka. "Ta..tapi kenapa ?". Giliran Sakura yang bertanya. "Begini. Tousan rasa kalian adalah gadis yang baik dan cantik. Jadi apa salahnya jika Tousan menginginkan jodoh yang terbaik untuk kalian ?. Tousan memilih Hyuuga Neji dan Akasuna no Sasori karena Tousan dan Kaasan jatuh hati pada kepribadian mereka masing-masing. Begitu juga sebaliknya, Akasuna-sama dan istrinya suka dengan kepribadian Sakura. Dan Hiashi-sama sangat menginginkan Tenten untuk menjadi menantunya". Jelas Iruka. Sakura melihat lelaki paruh baya bernama Akasuna yang terseyum manis padanya "Kau sangat cantik malam ini Sakura. Tidak kami memilihmu". Kata Ibu Sasori dan dibalas senyum manis yang bisa diartikan dnegan kata 'Arrigatou'. Tapi tidak dengan anaknya yang terlihat tak memperdulikannya. Sedangkan Tenten sudah terhipnotis oleh Neji yang kini mulai tidak nyaman dengan tatapan Tenten yang seolah-olah ingin menerkamnya. "Tenten, kau baik-baik saja ?". Tanya Akane yang melihat ada yang janggal pada anak gadisnya itu. "Aku baik-baik saja Kaasan. Kaasan tidak melihat ada bunga yang mekar didadaku ?". Kata Tenten tak melepas pandangannya dari Neji. Akane segera melihat dada Tenten setelah gadis bermata hazel itu menjawab juga, terdapat aksen bunga rumit di bagian dada gaunnya. Neji yang mendapat perhatian dari Tenten hanya mengalihkan padangannya ke objek lain dan meneguk minumannya. "Jadi apa kalian mau ?". Tanya Iruka. "Akan aku coba". Jawab Sakura dewasa. "Kau Tenten ?". Tanya Iruka. "Kau sudah tau jawabannya sayang". Bisik Akane pada Iruka. Iruka segera melirik anak gadisnya yang kini menatap Neji tanpa melirik objek lain disekitarnya. "Jadi, kita sudah sepakat". Kata Hiashi. "Hiashi-sama benar. Dengan begini kuharap tidak hanya kerjasama saja yang makin mudah. Tapi hubungan kekeluargaan kita juga makin erat". Kata Akasuna-sama.

XxXxXxXxX

"Ohayou minna-san". Sapa Tenten masuk kelas dengan hati berbunga-bunga. "A..apa kau baik-baik saja Tenten ?". Tanya Lee. "Aku tidak pernah sebaik ini dalam hidupku". Kata Tenten. "Apa kau yakin kau baik-baik saja Panda ?". Kali ini Sakura yang bertanya pada gadis bercepol itu. "Aku begini karena aku sangat senang. Dan ini membuatku gila". Kata Tenten lompat-lompat. "Apa karena semalam ?". Tanya Sakura. "Tentu saja". Balas Tenten masih histeris. "Kau tau Pinky. Aku sampai tidak bisa tidur saking senangnya". Imbuh Tenten. "Aku tau Panda. Tapi reaksimu ini terlalu berlebihan". Kata Sakura. "Aku tidak peduli". Balas Tenten berjalan menuju bangkunya tanpa melepas senyumnya.

"Ko..konnichiwa Ne..Neji". Sapa Tenten. "Konnichiwa". Balas Neji ramah. "Ka..kau mau kemana ?". Tanya Tenten. "Kekantin. Apa kau mau ikut ?". Tanya Neji pada gadis bermata hazel itu. "Boleh ?". Tanya Tenten tidak percaya. "Tentu saja". Kata Neji. "Baiklah. Ayo". Balas Tenten semangat. "Apa kau mau ikut Sakura ?". Tanya Neji. "Ti..tidak. Aku tidak mau menggangu kalian". Tolak Sakura. "Menggangu ?. Apa maksudmu ?". Tanya Neji. "Ti..tidak. bukan apa-apa. Lupakan saja. Pergilah". Balas Sakura. Mendengar jawaban Sakura Tenten hanya bisa mengucapkan Terimakasih dengan senyuman karena telah memberinya kesempatan berdua dengan Neji. Sakura yang melihat reaksi Tenten segera membalasnya dengan senyuman dan berlalu pergi.

"Bagimana acara kencanmu ?". Tanya sakura pada Tenten yang telah kembali ke kelas dengan wajah ceria. "Itu bukan kencan Pinky. Aku hanya berbincang-bincang dengannya. Sekaligus mendekatkan diri padanya". Jawab Tenten senang. "Kau tau Panda, aku tidak menyangka kalau lelaki yang kau sukai adalah orang pilihan Tousan dan Kaasan. Aku senag jika kau senang". Kata Sakura. "Itulah yang dinamakan jodoh". Balas Tenten. "Kau tau Pinky ?, nanti dia mengajakku pulang bersamanya. Jadi tolong kau bilang pada Tayuya Jiisan untuk tidak menungguku". Kata Tenten. "Benarkah ?. Kau pasti senag sekali". Kata Sakura. "Sangat". Kata Tenten memeluk Sakura.

"Apa kau sibuk ?". Tanya Neji melesatkan mobil sport hitamnya keluar sekolah. "Tidak. Kenapa memang ?". Tanya Tenten yang berada disebelah Neji. "Apa kau boleh minta tolong ?".Tanya Neji."Apa ?". Tanya Tenten balik. "Temani aku kepusat perbelanjaan ne. Aku ingin memberi kado untuk Hinata. Tapi aku tidak tau apa yang harus aku berikan". Kata Neji. "Dengan senang hati". Balas Tenten tersenyum.

"Ini sangat cantik. Kau bisa memberikan ini padanya". Kata Tenten memegang gaun panjang berwarna putih tanpa lengan. Meski Tenten tomboy, tapi Tenten tau apa yang disukai dan tidak disukai oleh wanita berkat les kilat dari Sakura. Semenjak dia dijodohkan dengan Neji, Tenten memutuskan untuk sedikit merubah kepribadiannya. Yang tadinya tomboy, kini hari demi hari Tenten kini bertransformasi menjadi wanita yang feminim. Ia melakukan itu semua hanya untuk Neji. Bahkan ia rela diet ketat untuk mendapatkan berat badan ideal agar ia terlihat perfect di depan tambatan hatinya itu. "Kau benar. Ini cantik". Kata Neji. "Aku ambil yang ini". Kata Neji pada penjaga toko. "Ini juga cantik". Kata Neji menyentuh gaun berwarna ungu gelap yang menggantung di etalase butik tersebut. "Aku juga ambil yang ini". Kata Neji lagi pada pelayan tokonya. "Kau kakak yang sangat baik". Kata Tenten memuji Neji. "Benarkah ?". Tanya Neji. "Yah, buktinya kau membelikan dua gaun yang sangat cantik untuk adikmu". Jawab Tenten makin mengagumi Neji. "Gaun yang putih memang untuk Hinata. Tapi yang ungu untukmu". Kata Neji yang mebuat Tenten terkejut. "U..untukku ?". Tanya Tenten tidak percaya. "Ya. Pakailah gaun itu untuk menghadiri pesta ulangtahun Hinata lusa". Kata Neji. "Ne..Neji ?. Ka..kau….". Aku mengundangmu dan Sakura secara pribadi". Kata Neji lagi. "Apa kau bersungguh-sungguh ?". Tanya Tenten dengan tatapan tak percaya. "Apa aku terlihat bercanda ?". Tanya Neji.

XxXxXxXxX

"Pinky….". Teriak Tenten melompat ke tempat tidur Sakura. "Ada apa Panda ?". Kau terlihat bahagia ?". Tanya Sakura. "Bagaiman aku tidak bahagia. Kau tau, Neji mengundangku secara pribadi untuk menghadiri pesta ulang tahun Hinata lusa. Kau pasti tau bagaimana perasaanku sekarang". Kata Tenten bersemangat. "Aku tau, aku tau". Jawab Sakura lalu melanjutkan menulis diary miliknya yang sempat terhenti karena kedatangan Tenten. "Apa yang kau tulis itu ?". Tanya Tenten melirik buku diary Sakura. "Jangan lihat. Kau tau kan kalau buku diary adalah privasi. Jadi tidak ada yang boleh membacanya". Kata Sakura memarahi Tenten. "Santai saja Pinky. Aku tidak tertarik dengan benda pink itu". Kata Tenten menunjuk diary Sakura. "Kenapa ?". Tanya Sakura heran mendengar bahwa ada wanita yang tak tertarik memiliki buku diary. "Yah kau tau kan kalau aku ini tomboy. Aku belum lama menjadi wanita feminim. Jadi jangan heran jika aku tidak begitu mengenal tentang diary". Kata Tenten polos. "Kau tau. Sifat tomboymu itu sudah sangat akut". Ejek Sakura. "Meski pun aku tomboy, aku adalah wanita yang baik. Bukan begitu ?". Kata Tenten percaya diri. "Siapa bilang ?". Tanya Sakura. "Bukankah kau dulu yang bilang kalau aku adalah saudara terbaik yang pernah kau miliki ?". Goda Tenten pada Sakura. "Aku bilang begitu waktu itu hanya untuk menghiburmu". Balas Sakura.

Chapter 2 end. Wait for next chapter ne. :) :)

Gak akan pernah bosan untuk meminta review dari kalian setelah baca fanfic ini. Arrigatou gozaimasu. :)