Chapter terbaru dari fanfic Tell Me milik Author telah terbit, hahaha (ketawa ala orochimaru).
Maaf updatenya lama. Kalian bakalan tau alasan Author kenapa updatenya lama kalo baca Fic Give Me Your Heart milik Author #Promosi mode on :D. Tapi yang penting sekarang fanficnya udah di upadate kaaan... :D
Review..
Issabella : Makasih, udh nyempatin waktu buat baca fic aneh ini :D. SasoTen moment ?. Tunggu tanggal mainnya, hahaha :D. Klo aku jelasin skarng, ntar bocor donk critanya #loe kira ember :D. Keep read ya... :)
Akiraken : Makasih, udh setia review fic aku :). Fic ShikaTen bakal aku upload dalam waktu dekat ini. Tunggu ne ... :)
"Tapi Kaasan...". Rengek Tenten. "Tidak Tenten. Kau demam, Kaasan tidak akan mengizinkanmu pergi ke pesta itu". Kata Akane. "Tapi Kaasan, Neji mengundangku secara pribadi ke pesta itu. Kalau aku tidak datang, pasti dia kecewa". Kata Tenten. "Tapi, kalau kau sampai pingsan disana, kau malah akan membuat Neji repot sayang". Kata Akane lagi. "Kaasan...". Rengek Tenten lagi. "Sakura, kau saja yang pergi. Bilang pada Neji kalau dia sedang sakit ne". Kata Akane pada Sakura yang duduk ditepi tempat tidur Tenten yang tengah terbaring. "Aku janji, aku tidak akan membuat repot Neji Kaasan. Aku akan baik-baik saja". Rengek Tenten pada Akane dan membuat Akane iba melihat Tenten yang terlihat sangat ingin menghadiri pesta itu. "Kau janji ?". Tanya Akane. "Janji". Balas Tenten mantap. "Baiklah. Sakura tolong kau perhatikan Tenten ne ?". Kata Akane. "Tentu saja Kaasan". Jawab Sakura.
Tenten mengenakan gaun ungu gelap pemberian Neji beberapa hari yang lalu dan dipadu sepatu yang tidak memiliki heels tidak terlalu tinggi berwarna hitam. Sedangkan Sakura mengenakan gaun berwarna merah dengan aksen bunga mawar kecil yang mengelilingi bagian pinggang dan sepatu merah gelap dengan high heels yang cukup tinggi. Kedua bersaudara itu sengaja membiarkan rambut mereka tergerai indah kebelakang. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan memasuki pagar kokoh milik klan Hyuuga. Semua teman mereka terlihat hadir disana. Naruto dan Sasuke dengan Tuxedo hitamnya. Shikamaru, Kiba, Chouji, Sai, dan Shino yang terlihat beribawa dengan Kemeja hitamnya. Dan sudah pasti Hinata pemilik acara yang terlihat anggun mengenakan pakaian pilihan Tenten beberapa hari yang lalu. "Okaerinasai Tenten-sama, kau adalah tamu penting di acara ini". Kata Seorang pelayan pada Tenten. "Kau tau namaku ?". Tanya Tenten. "Iya. Kata Neji-sama jika ada seorang gadis manis berambut cokelat dan bermata hazel datang bersama gadis cantik berambut pink, dia adalah Tenten. Tamu istimewa keluarga Hyuuga malam ini". Balasnya. "Mari". Imbuh pelayan itu "Arrigatou". Kata Tenten mengikuti pelayan tersebut dengan tangan kiri masih mengenggem erat tangan kanan Sakura.
"Konnbanwa Tenten, Sakura". Sapa Neji. "Ko..konnbanwa Neji". Sapa Tenten. "Konnbanwa". Sapa Sakura. "Kau terlihat pucat. Apa kau baik-baik saja ?". Tanya Neji memandang Tenten khawatir. "A..aku baik-baik saja". Balas Tenten. "Kau yakin ?". Tanya Neji memastikan. "Sangat". Kata Tenten berusaha tersenyum. "Neji-nii". Teriak Hinata. "Aku akan kesana". Balas Neji. "Aku kesana dulu ne. Kau nikmati saja hidangan yang ada disini. Sumimasen". Kata Neji meninggalkan kedua gadis tersebut. Greebbb...! "Panda". Seru Sakura khawatir setelah menahan Tenten agar tidak tersungkur kebawah. "Aku baik-baik saja". Kata Tenten berusaha berdiri. "Tidak Panda. Kau pucat sekali. Apa lebih baik kita pulang saja ?". Tanya Sakura. "Tidak. Jangan Pinky. Aku tidak mau membuat Neji kecewa". Tolak Tenten. "Lalu apa yang akan kau lakukan dengan keadaanmu yang seperti ini ?". Tanya Sakura. "Sudah kukatakan. Aku baik-baik saja Pinky. Bisakah kau membantuku berjalan kesana ?". Tanya Tenten menunjuk kursi panjang yang berada ditaman. "Ba..baiklah". Kata Sakura memapah Tenten perlahan.
"Arrigatou Pinky". Kata Tenten. "Iya. Kau yakin kau baik-baik saja ?". Tanya Sakura duduk disamping Tenten. "Iya. Beberapa menit lagi Neji sebagai calon pewaris keluarga Hyuuga akan memberi kata sambutan untuk ulangtahun Hinata. Bisakah kau mendampinginnya ?". Tanya Tenten. "A..aku ?". Tanya Sakura tidak mengerti. "Iya". Jawab Tenten. "Ta..tapi, bu..bukankah kau yang dijodohkan dengan Neji ?". Tanya Sakura. "Aku tau. Tapi aku tidak yakin bisa berdiri lama dengan keadaan seperti ini. Kau bicara saja apa adanya pada Neji dan Hiashi-sama. Mereka pasti mengerti". Kata Tenten. "Kau yakin ?". Tanya Sakura. "Iya. Harusnya, aku mematuhi kata-kata Kaasan tadi untuk tidak mengahdiri pesta ini". Kata Tenten lesu. "Ini bukan salahmu Panda. Wajar jika kau ingin menghadiri acara ini". Bela Sakura. "Kau mau kan ?". Tanya Tenten. "Baiklah". Jawab Sakura.
"Sendiri ?". Tanya seorang lelaki duduk disamping Tenten. "Iya". Jawab Tenten tanpa menoleh pada lawan bicaranya. "Apa tidak apa-apa kalau Sakura yang melakukan itu ?". Tanyanya lagi. "Apa maksud...". Tenten tidak melanjutkan kalimatnya setelah mendongakkan kepala dan mendapati lelaki yang dia kenal duduk disampingnnya. "Kau ?". Tanya Tenten. "Hai". Sapa Sasori. "Apa yang kau lakukan disini ?". Tanya Tenten. "Aku juga dapat undangan". Jawab Sasori enteng. "Oh". Jawab Tenten. "Apa yang ada dipikiranmu sampai kau mengizinkan Sakura mendampinginya ?". Tanya Sasori. "Apa maksudmu ?". Tanya Tenten. "Apa kau tidak takut kalau semua orang mengira kalau Neji ada hubungan spesial dengan Sakura ?". Tanya Sasori. "Tidak. Aku percaya pada Sakura. Dan aku yakin kalau Neji mempunyai perasaan yang sama seperti yang aku rasakan". "Kau yakin ?". tanya Sasori. "Yah, buktinya gaun ini pemberian dari Neji". Jawab Tenten. "Itu bukanlah jaminan". Kata Sasori. Tenten melirik kedalam dan melihat Sakura yang berdiri tepat disamping kiri Neji. Mereka berdua terlihat sangat akrab dan bahagia. Sedikit ada rasa cemburu muncul di hati Tenten pada Sakura. Namun dengan segera Tenten menyingkirkan pikiran itu. 'Tidak. Tidak ada yang harus aku cemburui'. Batin Tenten.
"Kau sangat cantik malam ini Sakura". Puji Neji yang membuat kedua pipi Sakura memerah. "A..arrigatou". Lirih Sakura. "Apa kau mau berdansa denganku ?". Tanya Neji mengulurkan tangan kanannya pada gadis bermata emerald tersebut. "I..iya". Kata Sakura meletakkan tangan kirinya pada tangan kanan Neji. "Neji. Harusnya aku tidak melakukan ini". Kata Sakura ditengah saat mereka masih menggerakkan kedua kakinya di lantai dansa. "Kenapa kau berpikir begitu ?". Tanya Neji. "Karena, aku bukanlah orang yang seharusnya berada dihadapanmu dan berdansa denganmu sekarang". Jawab Sakura. "Lalu siapa yang harusnya berada dihadapanku dan berdansa denganku ?". Tanya Neji. "Tenten". Jawab Sakura. "Bukankah kau bilang dia sedang tidak enak badan ?". Tanya Neji. "Ta..tapi...". "Tapi apa kau tega melihatku tanpa pasangan malam ini ?". Tanya Neji. "Neji". Lirih Sakura. "Kau nikmati saja malam ini". Bisik Neji tepat ditelinga Sakura dan berhasil membuat pemilik telinga berdesir.
"Apa kau masih sakit ?. Kau terlihat pucat". Tanya Neji duduk disamping Tenten. "Aku baik-baik saja. Jika hanya mengobrol, kuarasa aku masih sanggup". Balas Tenten dengan senyum manisnya. "Apa kau yakin ?". Tanya Sakura khawatir. "Iya Pinky". Jawab Tenten. "Apa kalian tidak keberatan jika kalian meninggalkan kami berdua ?". Tanya Tenten pada Sakura dan Sasori yang berdiri satu meter didepan tempat Tenten duduk. "Te..tentu saja tidak. Kami pergi dulu ne". Kata Sakura menarik lengan Sasori menjauhi dua manusia berbeda gender tersebut.
"Kau sangat cantik malam ini". Puji Sasori. "A..arrigatou". Jawab Sakura malu. Dua lelaki tampan telah memujinya malam ini. "Apa aku boleh bertanya sesuatu ?". Tanya Sasori. "Silahkan". Balas Sakura. "Kenapa kau mau menerima perjodohan ini ?". Tanya Sasori. "Aku tidak pernah mengatakan kalau aku menerimannya. Aku mengatakan kalau aku akan mencobanya". Jawab Sakura. "Begitukah". Balas Sasori melayangkan pandangannya pada langit malam yang bertabur ribuan bintang. "Kalau kau, kenapa kau mau menerima perjodohan ini ?". Tanya Sakura balik. "Karena aku berharap wanita yang dipertemukan orangtuaku untukku adalah takdirku". Balas Sasori tersenyum. "Berapa wanita yang pernah kau kencani ?". Tanya Sakura. "Kenapa kau bertanya seperti itu ?". Tanya Sasori balik. "Karena setelah mendengar jawaban yang keluar dari bibirmu, sepertinya kau sedang putus asa untuk mencari pendamping hidup". Jawab Sakura. "Kau benar. Aku sedang putus asa mencari wanita yang tepat untuk diriku sendiri". Jawab Sasori dengan tawa ringan. "Apa kau pernah jatuh cinta ?". Tanya Sasori tiba-tiba. "Jatuh cinta ?. Tentu saja aku pernah mengalaminnya". Jawab Sakura. "Hati serasa akan meledak jika aku melihatnya tersenyum bahagia. Setiap meletakkan kepala di bantal, dialah yang aku harapkan pertama kali muncul dalam mimpiku. Jika mood ku sedang buruk, rasa itu akan hilang seketika jika aku mengingat kembali senyumannya. Apa wanita juga merasakan hal seperti itu jika sedang jatuh cinta ?". Tanya Sasori. "Tepat sekali. Bahkan kau akan merasa sangat sensitif jika ada orang lain menyebut namanya". Imbuh Sakura. "Apa kau mencintaiku ?". Tanya Sasori.
"Kemana Sasori Niisan membawa Sakura ?". Tanya Tenten. " Mungkin mereka sedang berada di taman kota yang tidak jauh dari sini". Kata Neji. "Tapi ini sudah hampir 2 jam. Mereka belum juga kembali". Kata Tenten khawatir. "Kau tenang saja. Mereka pasti segera kembali". Kata Neji menenangkan gadis bermata hazel dihadapannya. Drrrtt...Drrtt.. Handphone digenggaman Tenten bergetar untuk memberitahu sang pemilik ada SMS masuk. "Aku diantar pulang oleh Sasori Niisan. Jadi, jangan menungguku. Aku sudah menyuruh Tayuya Jiisan untuk pulang terlebih dahulu agar Neji mengantarmu pulang. Bersenang-senanglah. ^o^". Itulah deretan pesan singkat yang Sakura tujukan pada Tenten. "A..apa ?. Ke..kenapa kau menyuruh Tayuya Jiisan pulang ?". Gumam Tenten. "Apa itu dari Sakura ?". Tanya Neji. "Ah, i..iya. Dan kurasa aku harus pulang". Jawab Tenten gugup beranjak dari kursi menuju pintu gerbang. "Hei, bukankah tempat parkir berada disana ?". Tanya Neji menahan lengan kiri Tenten dan menunjuk lahan luas yang menampung barisan mobil-mobil mewah milik teman-temannya dan para kolega bisnis ayah Hinata. "A..aku tau. Ta..tapi kurasa aku akan naik angkutan umum. Karena tiba-tiba supirku terkena diare". Jawab Tenten asal. "Apa kau bercanda ?. Kau akan naik angkutan umum dengan keadaan seperti ini ?. Dan kau tau, ini sudah hampir malam". Kata Neji tanpa melepas genggaman tangan kanannya dari lengan Tenten. "I..ini baru pukul 10. Belum terlalu malam". Kata Tenten. "Apa jawabanmu barusan adalah penolakan untukku agar aku tidak mengantarmu pulang ?". Tanya Neji. "Aku hanya tidak mau merepotkanmu". Jawab Tenten pada akhirnya. 'Lagipula aku sudah berjanji pada Kaasan tentang hal ini'. Batin Tenten. "Kenapa kau berpikir seperti itu ?. Mari kuantar kau pulang, ini sudah hampir tengah malam". Kata Neji memapah pelan Tenten saat ia mengigat gadis dihadapannya sedang tidak dalam keadaan fit.
XxXxXxXxX
"Apa kau tidak ada rencana untuk mengisi perutmu ?". Tanya Hidan pada Sasori yang masih berkonsentrasi pada layar LCD didepannya dengan tangan berada diatas keyboard. "Sebentar lagi aku akan turun. Kau duluan saja". Balas Sasori. "Ayolah sobat, ini sudah jam makan siang. Perutmu juga butuh makan". Kata Hidan lagi. "Sasori". Seru Ino yang tiba-tiba masuk keruangan pemuda berambut merah menyala tersebut. "Hn ?". Balas Sasori malas. "Ini sudah waktunya makan siang. Ayo makan siang bersama". Ajak Ino. "Gommen, tapi aku sudah berjanji makan bersama Hidan siang ini". Kata Sasori mematikan layar komputer dihadapannya dan beranjak dari kursinya yang sangat nyaman. "Ta..tapiā¦.". Kata Ino terbata-bata. "Ayo Hidan. Aku sudah sangat kelaparan". Kata Sasori menarik tangan Hidan keluar dari ruangannya. "Kau tidak selapar ini beberapa menit yang lalu". Bisik Hidan yang heran melihat perubahan sikap temannya itu. "Aku memang tidak lapar. Aku hanya malas bertemu dengan Ino hari ini". Bisik Sasori. "Sepertinya mood mu sedang tidak baik hari ini. Ada apa ?". Tanya Hidan. "Akan aku ceritakan nanti". Balas Sasori tanpa mempedulikan Ino yang masih berteriak memanggil namanya.
"Biar kutebak. Kau bertemu dengannya tadi malam". Tebak Hidan sambil melahap waffle dihadapannya. "Kau benar". Balas Sasori. "Lalu, apa yang membuat mood mu buruk ?". Tanya Hidan. "Tidak ada. Aku hanya berpikir untuk mengakhiri hubunganku dengan Ino". Jawab Sasori. "Apa kau benar-benar jatuh cinta padanya ?". Tanya Hidan. "Kurasa iya. Sejak pertama aku melihatnya malam itu, perasaan yang aku rasakan pada Ino, tiba-tiba lenyap begitu saja entah kemana". Kata Sasori. "Aku harap dia adalah wanita yang Tuhan takdirkan untukmu". Kata Hidan "Kuharap juga begitu". Balas Sasori menyesap secangkir moccacino yang ia pesan beberapa menit yang lalu. "Aku ingin tau, apa yang akan kau rasakan jika benar dia adalah gadis yang Tuhan ciptakan untukmu ?". Tanya Hidan penasaran. "Aku akan merasa menjadi lelaki yang sangat beruntung karena telah memiliki dia seutuhnya". Jawab Sasori tersenyum penuh arti.
XxXxXxXxX
"Apa kau merasa sepi tanpa Tenten hari ini ?". Tanya Neji duduk disebelah Sakura. "Kau. Yah, sehari tanpanya aku merasa sebulan tidak melihatnya. Aku rindu padanya". Jawab Sakura. "Sebegitu berarti kah dia untukmu ?". Tanya Neji lagi. "Hm. Dia sangat berarti untukku. Dia adalah orang pertama yang membelaku saat aku merasa tidak ada yang mau menerimaku di dunia ini. Dia adalah orang pertama yang muncul dan menghiburku saat aku merasa akan jatuh kedalam jurang keterpurukan. Dia adalah orang yang rela membagi kasih sayang kedua orangtuanya pada gadis yang bahkan sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya. Dia adalah orang yang aku impikan masuk kedalam hidupku. Dia saudara yang sangat sempurna bagiku. Atau mungkin bagi semua orang". Jawab Sakura tersenyum. "Ternyata dia gadis yang baik. Betapa beruntungnya lelaki yang akan mendapatkannya kelak". Kata Neji. "Betapa beruntungnya lelaki yang akan mendapatkan Tenten kelak ?". Tanya Sakura mengulang perkataan Neji. "Hn". Balas Neji menoleh pada Sakura. "Kenapa kau berkata seperti itu. Bukankah kau yang akan menjadi lelaki itu ?". Tanya Sakura dengan dahi mengkerut. "Gadis yang orangtua jodohkan padaku, bukan berarti dia adalah gadis yang Tuhan gariskan untukku. Bagaimana kalau aku menyukai orang lain ?. Kita lihat saja, apa Tenten adalah jodoh yang Tuhan gariskan untukku atau tidak seiring berjalannya waktu". Jawab Neji. "Kau akan berurusan denganku jika kau berani menyakiti hatinya. Meski pun aku bukanlah atlet Karate seperti Tenten, tapi mematahkan lehermu adalah hal mudah bagiku". Kata Sakura beranjak dari duduknya dan melangkah kasar menuju kelas. "Hei, kenapa kau marah ?". Teriak Neji melihat punggung Sakura yang makin menghilang.
"Apa Sakura belum pulang ?". Tanya Tenten yang tengah terbaring lemah di tempat tidurnya yang sangat nyaman dan hangat. "Belum Tenten-sama. Mungkin sebentar lagi dia pulang". Jawab Hiruko. "Baasan, aku masih ingat saat aku mengatakan kalau aku melarang Baasan memanggilku dengan embel-embel 'sama'. Aku merasa itu tidak sopan". Kata Tenten pada wanita berusia lebih dari setengah abad tersebut. "Aku tau. Tapi sebagai pembantu, bukankah sudah kewajiban jika memanggil majikannya dengan embel-embel 'sama' ?". Kata Hiruko. "Tapi aku merasa tidak nyaman jika ada wanita tua yang sangat aku hormati memanggiliku dengan sebutan seperti itu. Karena sejak Nenekku meninggal, kau adalah orang yang telah aku anggap sebagai Nenekku sendiri". Kata Tenten dengan termometer berada dalam mulutnya. "Kalau begitu, gomennasai Tenten". Kata Hiruko. "Aku suka itu". Kata Tenten riang. "Baasan, apa Baasan tau Hyuuga Neji ?". Tanya Tenten. " Lelaki tampan, cerdas, dengan mata indah berwarna Lavender. Aku tau, setiap hari kau menceritakan tentang dia padaku". Jawab Hiruko menyuapi Tenten dengan bubur favorit gadis berwajah manis tersebut. "Benarkah ?. Aku tidak pernah menyangka kalau aku telah bercerita banyak tentangnya pada Baasan". Kata Tenten dengan mulut penuh dengan bubur. "Kau selalu membahasnya setiap kita mengobrol. Kau selalu memujinya di sela-sela kau bercerita". Kata Hiruko. "Tapi itu adalah kenyataan Baasan. Aku sungguh mencintainya". Kata Tenten dengan wajah berseri. "Lihatlah, wajah pucatmu tiba-tiba musnah ketika kau menyebut namanya". Kata Hiruko memandang wajah Tenten. "Benarkah ?". Tanya Tenten menangkup kedua pipinya dengan kedua tangannya. "Ya, wajah pucatmu kini telah tergantikan dengan semu merah yang muncul di kedua pipimu". Goda Hiruko. "Aku jadi malu". Kata Tenten menutupi seluruh wajahnya dengan boneka panda kado dari Sakura saat ulang tahunnya setahun yang lalu. "Apa ini normal Baasan ?". Tanya Tenten. "Apanya ?". Tanya Hiruko tidak mengerti. "Yah, mencintai seorang laki-laki. Ah, tidak. Lebih tepatnya menggilainya". Kata Tenten. "Saat Baasan seusiamu, Baasan juga merasakan hal yang sama persis seperti yang kau rasakan saat ini. Itu wajar, jika kau jatuh cinta". Kata Hiruko mengusap kepala Tenten penuh kasih sayang. "Arrigatou Baasan".
Maaf jika banyak typo bertebaran. Author juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan #sok alim :D. But, chap 3 selesai sampai di sini. Tunggu next chap ne :) #semoga gak lumutan nunggunya :D
Gk perlu author katakan pun kalian tau kalau setiap selesai baca fic, author harap kalian ninggalin jejak. Yah, seperti review... :D
Arrigatou Gozaimasu, udah baca fic aku yang freak ini... :D
