Tell Me
Diclaimer: Masashi Kishimoto
Pair: SasoTen
Slight: NejiTen, NejiSaku, SasoSaku
Rated: T
Warning: Gaje, Typo, dll
Hai minna. Maaf ya, karena Author telat bnget updatenya. Author sibuk bnget. Maklum Author kan Ujian bentar lagi #curhat –". Tapi di waktu senggang ini, Author pkek bwt update chap terbaru. Maaf ne kalo chap ini pendek. Author bkal usahain chap depan lebih panjang dari ini.
Review…
Akira ken: Nih udh di update. Iya nih, pnulisan nya jga udh di perbaiki kok. Moga gk bingung ya bca chap yang ini, hehe :D. Makasih jga lho udh review semua fic aku #peluk akira :D *plakk… Btw, fic ShikaTen nya udh di update tuh. Semoga gk kcewa ya ama critanya. Dan maaf klo gk sesuai harapan :D.
.39: Moment SasoTen so pasti hrus ada romance nya dong. Kan pmeran utama :D #tapi entar ya, hehe. Di chap ini ada moment SasoTen nya kok. Mski cman dkit dan gk romantis. Tpi aku hrap bisa dkit ngurangi rsa pnsran kmu yah. SaiTen yah ?. Author bkal bkin klo udh ada idenya. Soalnya, Author jga hrus slesaikan ff Author dulu yg blum slesai #itu sih slah lo ndiri. Klo smua udh kelar, dan dpet ide, pastih deh Author update. Sabar ne… :D.
"Tousan, Kaasan. Minggu depan aku harus mengikuti olimpiade matematika untuk mewakili sekolah bersama Neji dan yang lain". Kata Sakura ketika keluarga Iruka makan malam.
"Benarkah. Wah, kau hebat sekali Sakura". Puji Akane.
"Arrigatou Baasan". Balas Sakura.
"Sepertinya ada yang harus mencontoh dirimu Sakura". Kata Akane melirik Tenten yang melahap makanan dihadapannya.
"Kenapa Kaasan melihatku seperti itu ?". Tanya Tenten risih ketika melihat tatapan Akane yang di tujukkan pada dirinya.
"Kaulah yang Kaasan maksud Tenten". Kata Akane memutar bola matanya.
"Kenapa aku ?". Tanya Tenten singkat.
"Harusnya kau mencontoh Sakura. Di adalah gadis yang rajin, pandai dan sopan. Kau harus belajar banyak darinya". Kata Akane. "Kenapa aku harus melakukan itu ?". Tanya Tenten lagi menaikkan sebelah alisnya.
"Karena kau wanita !. Dasar bayi". Balas Akane kesal karena anaknya belum juga mengerti maksud perkataanya. "Apa kau tidak malu, jika kau menikah dengan Neji nanti, otakmu pas-pas an. Keturunan Hyuuga adalah manusia yang cerdas, jadi kau juga harus seperti mereka". Imbuh Akane.
"Kaasan, aku adalah aku. Dan Sakura adalah Sakura. Kami berbeda. Tapi perbedaan itulah yang membuat kami saling melengkapi. Dan lagi, otak ku ini sudah penuh oleh hal-hal yang sudah seharusnya aku ingat. Jadi, jangan memaksaku mengigat lebih banyak hal lagi jika Kaasan tidak mau melihat otakku meledak". Jawab Tenten asal.
"Memang apa yang ada di pikiranmu ?". Tanya Akane menaikkan alisnya. "Neji". Jawab Tenten singkat lalu beranjak dari kursinya dan berjalan santai menuju kamarnya.
"A..a..apa ?". Kata Akane terbata mendengar perkataan Tenten. "Lihatlah Iruka. Dia semakin pintar bicara". Kata Akane melemparkan pandangannya pada Tenten. Iruka dan Sakura hanya tertawa kecil mendengar ocehan kecil Akane.
.
.
.
.
.
Tenten berlari kencang menuju pagar sekolah. Ia harus cepat sampai di bus halte jika ia tidak ingin ketinggalan bus yang menuju ketempat latihan Karatenya. Tayuya yang harusnya mempunyai kewajiban mengantar Tenten kemana pun dia pergi. Tapi sepertinya perkataan Tenten malam itu adalah kata-kata yang bertuah. Tayuya sedang diare berat hampir dua hari ini. Jadi terpaksa ia harus naik angkutan umum kalau ia pulang. Ditambah lagi, ia harus rela ditinggal Sakura selama 3 hari di luar kota untuk mengikuti olimpide. Ia makin merasa bosan dengan hidupnya saat ini.
Brukk….
Tenten pasti berhasil keluar jika ia tidak menabrak seseorang di depannya. Tenten jatuh terduduk dengan pantat yang mendarat terlebih dahulu. Tenten meringis kecil sebelum ia mendongakkan kepala untuk melihat siapa orang yang berani membuat dirinya jatuh seperti ini.
"Kau ?". Teriak Tenten menunujuk orang bernyali besar itu.
"Apa kau tidak punya mata ?. Kenapa kau menabrak orang sembarangan ?". Katanya dingin.
"Apa ?. Hei, kau yang salah. Harusnya aku yang marah. Tapi kenapa ini terjadi sebaliknya ?". Kata Tenten berdiri dan menatap tajam lelaki itu. "Beruntung tidak kupatahkan kakimu". Gerutu Tenten pelan mengelus pantatnya yang masih terasa sakit.
"Sudahlah, aku tidak mau berdebat dengan gadis sepertimu. Mana Sakura ?". Tanyanya melihat sekeliling sekolah Tenten.
" Huh, kau calon suaminya. Tapi kau tidak tau dimana dia ?. Apa yang ada dipikiranmu ?". Ejek Tenten.
"Kemana dia ?". Tanya Sasori sekali lagi. "Dia mengikuti olimpiade di luar kota selama 3 hari. Di akan pulang lusa nanti". Jawab Tenten apa adanya. "Kenapa kau mencarinya ?". Tanya Tenten memegangi lututnya yang sedikit luka.
"Kaasan ingin aku membawa Sakura kerumah". Jawab Sasori singkat.
"Oh". Jawab Tenten singkat.
"Tenten, siapa dia ?". Bisik teman wanita Tenten yang tau-tau sudah ada di sampingnya.
"Dia sangat tampan". Bisik yang satunya.
"Apa kau akan mengenalkan dia padaku ?". Tanya wanita yang lain.
Tenten melihat teman-temannya yang mengerubungi dirinya dan Sasori. Mereka semua menatap Sasori intens. Seolah ada barang branded yang di jual dengan harga diskon di depan mereka. Tenten hanya menatap heran pada gadis itu semua. "Apa yang kalian lihat ?. Pergi sana". Usir Tenten.
"Tenten, kenalkan dia padaku". Kata wanita berambut merah berkaca mata menggelayutkan tangannya pada lengan Tenten sambil menatap Sasori.
"Karin, dia sudah ada yang punya. Kau tidak ada kesempatan". Sergah Tenten menatap tajam Karin.
"Aaah, aku yakin. Wanita itu sangat jelek. Dia itu membutuhkan gadis cantik sepertiku". Bisik Karin mengibaskan tangannya.
Pletakk…
Tenten menjitak kepala Karin. Ia menatap tajam gadis yang telah mengolok saudaranya. Karin meringis ketika tangan Tenten mendarat sempurna di kepalanya. "Kau yang jelek. Pergi sana !". Teriak Tenten.
Para gadis itu pergi dengan raut wajah kecewa setelah mendegar kalau Sasori sudah mempunyai tambatan hati. Raut wajah mereka seolah mereka gagal mendapat lotre berhadiah mobil mewah.
"Kenapa kau diam saja ?". Teriak Tenten pada Sasori.
"Aku harus bilang apa ?". Tanya Sasori balik dengan wajah santai seolah tidak ada yang terjadi.
"Harusnya kau bilang kau milik Sakura". Balas Tenten mengepalkan tangannya geram.
"Aku di takdirkan untuk di kagumi para wanita". Kata Sasori melipat kedua tangannya.
Doeng… 'Pedenya'. Pikir Tenten menatap Sasori.
Tenten melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Ia membelalakan mata ketika ia melihat sekilas jamnya. Ia ketinggalan Bus. Bus yang menuju ke tempat latihan Tenten sangat jarang lewat karena tidak banyak orang yang menuju ke daerah sana. Paling lambat satu jam sekali Bus itu berhenti di halte dekat sekolah Tenten. Tenten menatap tajam Sasori yang bersikap tenang dan hendak pergi meninggalkannya.
"Mana mobilmu ?". Tanya Tenten menarik tangan kiri Sasori. "Kenapa ?". Tanya Sasori tenang. "Mana mobilmu ?". Tanya Tenten sekali lagi. Sasori melirik mobil sport putih yang terparkir di depan gerbang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Setelah mendapat jawaban dari Sasori, Tenten merebut kunci mobil yang ada di genggaman Sasori. Sebelum Sasori mengatakan sesuatu, Tenten segera berlari menuju mobil itu. Tenten mematikkan alarm mobill lalu membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya. Tenten melajukan mobil itu kencang hingga ban belakangnya berdecit akibat gesekan dengan aspal. Setelahnya, Tenten menghentikan mobil itu tepat di depan pemilik mobil yang masih heran melihat tingkahnya. Tenten menurunkan kaca jendela mobil memberi kesempatan Sasori melemparkan pertanyaan pada dirinya.
"Apa yang kau lakukan ?. Keluar". Kata Sasori sedikit berteriak. "Masuklah". Balas Tenten singkat. "Tidak. Kau, keluar dari mobilku". Kata Sasori berjalan kedepan hendak menghampiri Tenten yang berada dibangku kemudi dan melemparnya keluar. Tapi, Tenten tidak kehabisan akal. Ia menekan keras klakson mobil Sasori tepat saat Sasori berada di depan mobil hingga Sasori jatuh terduduk tepat di depan mobil dengan kedua tangan yang ia gunakan untuk menutup telinganya.
"Kalau kau, tidak masuk. Aku akan membawa pergi mobilmu". Teriak Tenten mengeluarkan setengah badannya dari jendela. Mendengar kata-kata itu, Sasori berjalan menuju bangku penumpang dengan hati dongkol. Sasori menutup kasar pintu mobilnya setelah ia berada di dalam. Setelah Sasori menyadarkan punggungnya di jok mobil, ia melirik Tenten singkat seolah mengatakan 'Apa maumu ?'.
"Kau yang menyebabkanku terlambat latihan Karate. Jadi kau harus mengantarku kesana". Balas Tenten melajukan mobilnya menuju tempat latihannya.
oOo
Tenten menghentikan mobilnya tepat di depan gedung latihannya. Ia segera membuka pintu mobil dan melirik Sasori sekilas. Tidak ada yang berbicara selama perjalanan yang mereka tempuh selama hampir 30 menit tadi.
"Arrigatou". Kata Tenten tersenyum manis.
Sasori menahan tangan Tenten sebelum gadis itu benar-benar keluar dari mobilnya. Tenten memutar sedikit kepalanya untuk menatap Sasori.
"Siapa dia ?". Tanya Sasori melemparkan pandangannya pada lelaki berambut kuning yang hendak masuk ke gedung.
"Oh, dia Deidara Senpai. Dia seniorku di club ini". Jawab Tenten setelah ia melihat orang yang Sasori maksud. "Kenapa kau bertanya ?". Tanya Tenten lagi.
Sasori melepas pandangannya dari Sasori dan kembali menatap Tenten. "Tidak. Sepertinya aku mengenalnya". Jawab Sasori.
"Oh". Jawab Tenten singkat lalu melepas tangan Sasori yang masih memegang tangannya.
"Deidara senpai". Teriak Tenten pada lelaki itu. Pria yang mendengar namanya dipanggil segera melarikan fokusnya pada seseorang yang meneriakkan namanya.
Deidara menghampiri Tenten yang berada di depan mobil milik seseorang. Deidara tersenyum senang ketika ia tau kalau Tenten lah yang memanggil dirinya.
"Konnichiwa senpai". Sapa Tenten tersenyum. "Konnichiwa". Balas Deidara tersenyum. Tenten melirik sekilas Sasori yang keluar dari mobilnya. Lalu kembali ia melihat Deidara yang menatap dirinya intens.
"Senpai, apa kau mengenalnya ?". Tanya Tenten melirik Sasori.
"Bukankah kau Sasori ?". Kata Deidara melihat pria yang Tenten tunjuk.
"Hai". Sapa Sasori singkat. Deidara menghampiri Sasori dan memeluk lelaki itu setelah mereka berjabat tangan. Begitu pun Sasori yang membalas pelukan Sasori.
"Dia adalah temanku saat kami duduk di sekolah dasar". Kata Deidara melepas pelukannya dan mengalihkan pandangannya ada Tenten.
"Benarkah ?. Wah, kalau begitu silahkan kalian reuni, aku akan masuk". Kata Tenten. "Aku khawatir kalau siluman rubah itu menghukumku lagi". Bisik Tenten melirik guru Karatenya yang terkenal garang melalui jendela kaca gedung itu. Deidara tertawa kecil mendengar bisikan Tenten.
"Kalau begitu, katakan pada siluman rubah itu. Aku akan menghajarnya jika berani menghukum dirimu". Canda Deidara.
Tenten tertawa mendengar kata-kata seniornya itu."Aku akan ada dibarisan pertama untuk melihat kau melakukan itu. Bahkan jika aku harus membayar". Kata Tenten tertawa.
oOo
"Arrigatou Sasori Niisan". Kata Tenten setelah Sasori mengantarnya sampai di rumah dengan selamat.
"Sama-sama. Karena kau juga, aku bisa bertemu dengan teman lamaku. Arrigatou". Kata Sasori.
"Itu hanyalah kebetulan. Aku tidak melakukan apa-apa". Kata Tenten mengibaskan tangan kanannya.
Tenten keluar dari mobil Sasori tepat ketika Ayahnya sampai di rumah dan mengentkkan mobilnya di depan mobil Sasori. Iruka keluar dari mobilnya dan menghampiri Tenten. Melihat Iruka menghampiri mobilnya, Sasori mengikuti Tenten keluar dari mobil.
"Sasori, apa kabar ?". Sapa Iruka pada Sasori.
"Baik Jiisan". Balas Sasori tersenyum. "Kenapa kau bisa ada disini ?". Tanya Iruka.
"Ceritanya panjang Tousan. Aku akan menceritakan semuanya di dalam. Biarkan Sasori Niisan pulang. Dia pasti lelah". Kata Tenten.
"Pulang ?. Kau tidak menyuruhnya masuk terlebih dahulu ?". Tanya Iruka.
"Tidak perlu Jiisan. Aku pulang saja". Kata Sasori. "Baiklah. Kalau begitu, hati-hati ne". Kata Iruka.
oOo
Tenten lekas pergi kekamarnya setelah makan malam. Setelah sampai, ia segera meraih ponsel miliknya yang tergelatak di atas tempat tidur untuk menelpon Sakura.
"Pinky". Kata Tenten setelah Sakura menerima panggilan darinya.
"Panda, ada apa ?". Tanya Sakura di sebrang sana.
"Kau pulang lusa. Terlalu lama. Aku kesepian". Kata Tenten membanting pantatnya ke sofa empuk di kamarnya.
"Tidak. aku akan pulang besok. Salah satu sekolah batal mengikuti olimpiade karena siswanya yang tiba-tiba sakit". Kata Sakura.
"Begitukah. Dimana kau sekarang ?. Dan sedang apa kau sekarang ?". Tanya Tenten.
"Di kamar. Sedang bersiap-siap untuk makan malam dengan Shizune sensei". Jawab Sakura.
"Kau belum makan malam ?. Kenapa ?". Tanya Tenten khawatir.
"Iya, aku sibuk untuk mempersiapkan olimpiade besok". Kata Sakura.
Brukkk...
Sakura sedikit terjingkat saat ia mendegar benda terjatuh hingga menimbulkan suara yang cukup keras. "Ah, gomen. Aku membuatmu terkejut". Kata orang itu. "Tidak apa-apa". Balas Sakura.
"Siapa itu ?". Tanya Tenten yang mendengar suara seseorang selain Sakura.
"Shizune sensei. Sudah ya Panda, aku berangkat dulu. Daah..". Kata Sakura memutus telfonnya.
Tenten terdiam sejenak setelah Sakura memutus telefonnya. Dia merasa tidak asing dengan suara yang baru saja ia dengar. Ia sangat yakin dengan apa yang ia dengar.
"Aku sangat yakin itu adalah suara Neji". Lirih Tenten saat mengingat suara berat lelaki yang Sakura bilang adalah suara Shizune sensei yang notabennya adalah seorang wanita. Yang mengganjal pikiran Tenten adalah. Apa yang Neji lakukan di kamar Sakura ?. Tenten pikir, Sakura dan Neji tidak seakrab itu.
.
.
.
.
.
"Tenten-sama, ada seseorang yang menunggu Tenten-sama di depan". Kata seorang pembantu rumah tangga di rumah Tenten.
"Siapa ?". Tanya Tenten yang tengah memasukkan buku-bukunya untuk dia bawa kesekolah.
"Seseorang dengan rambut merah". Jawabnya.
'Sasori ?'. Pikir Tenten mengingat hanya Sasori yang ia tahu mempunyai rambut merah. "Baiklah, aku akan segera turun. Arrigatou Basan". Kata Tenten.
Tenten menuruni satu demi satu anak tangga menghampiri orang yang tengah menunggunya. Tenten melangkahkan kakinya cepat menghiraukan Akane yang memanggilnya untuk sarapan. Setelah sampai di depan, benar saja. Tenten melihat Sasori yang berdiri bersandar pada mobilnya dengan setelan kemeja kerjanya. Tenten menghampiri lelaki itu yang membelakanginya.
"Kenapa kau pagi-pagi kemari ?". Tanya Tenten berdiri di hadapan Sasori. "Bukankah sudah kubilang Sakura tidak ada di rumah". Imbuhnya.
"Aku kemari mencarimu". Kata Sasori melepas kacamata hitamnya. "Kaasan menyuruhku untuk membawamu kerumah. Dia bilang, ia ingin tau lebih banyak tentang Sakura" . Kata Sasori lagi.
"Oh. Kapan ?". Tanya Tenten singkat. "Kapan pun kau bisa". Balas Sasori.
"Hm, baiklah. Bagaimana kalau siang ini. Aku tidak ada latihan". Kata Tenten melipat kedua tangannya di depan dada.
"Terserah kau saja". Kata Sasori memakai kembali kacamata hitamnya. "Kuantar". Kata Sasori singkat lalu menarik Tenten untuk masuk kedalam mobilnya.
"Hei, aku akan diantar Tayuya Jiisan". Kata Tenten berontak. Namun Sasori menghiraukan kata-kata gadis berambut cokelat tersebut.
oOo
"Sampai nanti". Kata Sasori singkat lalu melesatkan mobilnya ke jalan raya.
"Siapa dia ?". Tanya Temari yang tiba-tiba berada di belakang Tenten dan membuat gadis itu sedikit terlonjak.
"Dasar bodoh. Kau membuatku terkejut". Kata Tenten mengelus dadanya. "Kau tidak perlu tau". Kata Tenten menjawab pertanyaan Temari dan lekas pergi meninggalkan gadis berambut pirang itu.
Tenten berjalan santai menuju kelasnya. Sekali-kali ia menyapa pengurus sekolah yang tengah menyapu halaman yang lebarnya melebihi lapangan sepak bola. Tenten mengawali hari ini dengan senyuman karena memang itulah yang Tenten lakukan setiap hari.
"Sasukeee….". Teriak beberapa wanita yang menghampiri lelaki idamannya. Mereka semua melewati Tenten dan berlari menuju Sasuke yang berjalan beberpa meter di depannya. Tenten terhempas ke kanan dan ke kiri akibat ulah fansgirl Sasuke yang berusaha mencapai pangeran mereka itu. Jatuh harus Tenten rasakan saat itu juga.
"Sialan". Umpat Tenten kecil setelah semua wanita itu melewatinya. Tenten membersihkan roknya yang penuh dengan kotoran-kotoran kecil. Tenten kembali jongkok untuk memungut tasnya yang jatuh di tanah hingga membuat isinya tercecer kemana-mana.
"Apa kau baik-baik saja ?". Tanya seseorang yang membantu Tenten.
"Baik-baik saja kau bilang ?. Kau tidak lihat, semua barangku terjatuh ?". Balas Tenten berdiri dengan hati dongkol.
"Kenapa kau marah ?. Ini kan bukan salahku". Kata Naruto berdiri dan memberikan tas Tenten pada sang pemilik.
"Ini salahmu, karena ini semua karena temanmu". Sergah Tenten berjalan melewati Naruto.
Beberapa meter setelah ia melewati kumpulan para wanita yang berdemo untuk membuat Sasuke menjadi kekasih mereka, tangan seseorang kembali menyentuh bahu kanan Tenten.
"Apa lagi ?!". Bentak Tenten membalikkan badannya.
"Oh, Tenten. Go..gomen jika aku mengganggumu". Kata Hinata sedikit berjingkat karena terkejut.
"Hinata ?. Gomen. Kupikir kau Naruto". Kata Tenten menyesal.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memberitahumu, kalau siswa olimpiade akan tiba disini siang nanti". Kata Hinata.
"Begitukah. Terimakasih kau sudah memberitahuku". Kata Tenten.
oOo
"Ayo kita pergi". Kata Sasori yang telah berada di depan sekolah Tenten.
"Sakura sebentar lagi akan pulang. Kita tunggu saja dia disini. Bukankah Ibumu meminta Sakura untuk menemuinya ?". Kata Tenten menyapukan pandangannya ke jalan raya berharap bus sekolah telah tampak.
"Tapi Kaasan memintaku untuk membawamu". Kata Sasori.
"Kalau aku jadi Ibumu, aku akan lebih memilih bertemu orangnya langsung daripada harus bertemu dengan orang lain yang bahkan mengenal dekat orang yang ingin dia temui". Kata Tenten menatap Sasori.
"Itu dia". Kata Tenten menunjuk Bus berwarna biru yang menuju sekolahnya.
Sasori mengalihkan pandangannya pada objek yang Tenten tunjuk. Benar, ia melihat gadis berambut pink berada di dalamnya.
"Kau sudah melihatnya bukan ?. Kalau begitu, aku pulang. Daaah…". Kata Tenten pergi.
Sasori mengejar Tenten yang telah menjauhinya sekitar 5 meter dari tempatnya berada. Sasori meletakkan dirinya tepat di hadapan Tenten yang otomatis membuat Tenten berhenti mendadak. Tenten menatap heran pada lelaki berambut merah di hadapannya.
"Apa lagi ?". Tanya Tenten malas.
"Bu..bukankah kau yang lebih baik i..ikut denganku ?. Sakura pasti lelah setelah perjalanan jauh". Kata Sasori mencari alasan.
"Lelah ?. Sakura hanya perlu waktu 90 menit untuk sampai di tempat dia lomba. Mana mungkin dia lelah". Kata Tenten. "Sudahlah, Ibumu akan lebih senang jika Sakura yang mengunjunginya". Kata Tenten lagi menepuk bahu depan Sasori dan berjalan melewatinya.
"Panda". Teriak Sakura menghampiri Tenten dan Sasori.
Tenten membalikkan tubuhnya dan meilhat Sakura berlari menghampirinya. Tenten segera melangkahkan kakinya menuju Bus yang akan segera pergi ketika ia melihat orang yang berjalan di belakang Sakura. Tenten melompat masuk melewati pintu Bus yang sudah tertutup setengahnya untuk menjauhi mereka. Setelah berhasil, ia memasukkan beberapa uang koin pada kotak yang memang telah disediakan. Ia duduk di sisi kanan Bus yang berisi satu bangku. Ia menatap lemah pada lelaki yang memanggilnya tadi. Laki-laki masih berdiri di pinggir trotoar bersama Sasori dan Sakura yang menatap heran pada dirinya lewat jendela kaca Bus yang Tenten naiki. Tenten meninggalkan mereka dengan tanda tanya besar di kepala mereka.
Tenten menghembuskan nafasnya lega ketika ia berhasil menghindari Sakura dan Neji. Tenten melakukan itu hanya karena ia sedikit kesal pada lelaki itu. Ia yakin, kalau suara malam itu adalah suara Neji. Neji lah yang memanggil Sakura, saat ia menelfon saudaranya itu. Tapi Tenten lebih kecewa pada Sakura yang tidak mau berkata jujur padanya. Kenapa dia bilang kalau itu suara Shizune sensei, sementara Tenten mengenal betul suara siapa itu. Awalnya Tenten tidak mau berpikiran semacam ini pada Sakura. Tapi Sakura sendiriliah yang membuatnya mempunyai pikiran semacam ini padanya. Entah bersikap seperti apa saat ia dan Sakura beretemu di rumah nanti.
Drrt..drrt..drrt..
Ponsel Tenten bergetar berkali-kali. Sudah puluhan kali ia menerima panggilan masuk dari Neji dan Sakura. Namun ia menghiraukan itu semua. Terakhir, Tenten menerima sms dari Sakura yang telah menyerah menghubungi Tenten namun sama sekali tidak ia pedulikan.
"Kau baik-baik saja ?"
From: Pinky
Tenten tidak membalas pesan singkat itu dan kembali memasukkan ponselnya kedalam tas setelah ia membuka pesan singkat dari Sakura. Ia menghela nafas panjang setelahnya. Tenten memalingkan matanya ke luar jendela menunggu Bus berhenti di depan halte yang berjarak tak jauh dari rumahnya.
oOo
Tenten membuka pintu rumahnya lemah dan masuk kedalamnya. Akane melihat Tenten yang berjalan tanpa semangat menuju kamarnya yang berada dilantai 2.
"Tenten, mana Sakura ?. Kau bilang dia pulang siang ini ?". Tanya Akane pada Tenten.
"Dia ada di rumah Sasori". Jawab Tenten malas tanpa menatap lawan bicaranya dan melanjutkan langkahnya.
Seseorang mengetuk pintu rumah Tenten. Tenten tidakmempedulikannya dan terus saja berjalan menaiki anak tangga demi anak tangga agar ia lekas sampai ke kamarnya. Akane lah yang pada akhirnya harus membuka pintu tersebut.
Brukkk….
Tenten melemparkan tasnya ke sofa dan membanting tubuhnya di kasur empuk miliknya. Ia melepas sepatunya dengan kedua kakinya dan melemparkannya sembarangan. Ia menatap lemah langit-langit kamarnya sambil melepas bagian atas kancing seragamnya. Tenten lalu memejamkan kedua matanya merasakan angin segar yang masuk dari jendela kamarnya. Inilah yang sangat Tenten sukai, angin alami yang Tuhan ciptakan bisa sedikit menenangkan dirinya. Seseorang mengetuk pintu kamar Tenten membuat Tenten sedikit berjingkat karena terkejut.
"Siapa ?". Teriak Tenten.
"Tenten, Neji mencarimu". Balas Akane dari luar.
"Katakan padanya aku lelah. Aku ingin istirahat Kaasan". Teriak Tenten.
" Tenten, jangan begitu. Kau membohongi tamu. Itu tidak sopan". Kata Akane lagi.
"Sungguh Kaasan, aku lelah". Kata Tenten membenamkan wajahnya ke kasur membuat suaranya sedikit teredam.
"Baiklah, kalau itu maumu". Kata Akane meninggalkan anaknya yang bersikap berbeda tidak seperti biasanya.
oOo
"Tenten, ini sudah waktunya makan malam. Turunlah". Kata Akane mengetuk pintu kamar Tenten.
"Iya". Balas Tenten malas. Dari tadi siang Tenten belum juga turun dari kamarnya. Bahkan ia melewatkan makan siangnya.
Tenten membuka pintu kamarnya dan berjalan malas menuju meja makan. Setelah ia sampai, tanpa banyak bicara Tenten segera duduk dan melahap makanannya. Akane, Iruka, dan Sakura yang melihat sikap Tenten hanya bisa membeo.
"Tenten, apa kau sakit lagi ?". Tanya Iruka.
"Tidak Tousan. Aku baik-baik saja". Jawab Tenten.
"Kau berbeda hari ini". Kata Akane.
"Berbeda apanya ?. Tidak ada yang berubah pada diriku". Kata Tenten. "Aku sudah selesai". Kata Tenten beranjak pergi dan meninggalkan makanannya yang masih tersisa banyak.
Sakura juga menghentikan makannya saat melihat Tenten menaiki tangga menuju kamarnya. Sakura segera mengekori Tenten yang berjalan terlebih dahulu. Tenten menghentikan langkahnya di ambang pintu setelah ia tau kalau Sakura tengah mengekorinya di belakang.
"Ada apa ?". Tanya Tenten memasuki kamarnya yang sebelumnya memang sudah terbuka.
"Kau kenapa ?". Tanya Sakura mengikuti Tenten masuk.
"Kenapa ?. Aku baik-baik saja". Jawab Tenten membaringkan dirinya di atas kasur.
"Aku tau kau Panda. Aku tanya sekali lagi. Kau kenapa ?". Tanya Sakura duduk di piggir kasur Tenten.
"Jawab dengan jujur pertanyaanku". Kata Tenten beringsut dan menatap Sakura serius.
"Apa ?". Tanya Sakura singakat. Kalau boleh jujur, Sakura sedikit terkejut ketika melihat raut wajah Tenten.
"Kemarin malam, saat aku menelfonmu. Aku mendengar suara yang memanggilmu. Suara siapa itu ?". Tanya Tenten.
"Bukankah sudah kubilang, itu Shizune sensei". Jawab Sakura.
"Apa kau akan berhenti berbohong kalau aku mengatakan kalau aku mendengar suara Neji saat itu ?". Tanya Tenten.
Sakura tertunduk mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Tenten. Benar. Itu adalah suara Neji. "Gomen". Kata Sakura lemah.
"Kenapa Pinky ?". Tanya Tenten. Tenten menghembuskan nafasnya dan melanjutkan kata-katanya. "Kau adalah orang yang paling dekat denganku. Kau yang paling mengerti aku. Kau pasti tau, aku akan sangat sensitive jika itu menyangkut Neji. Tapi kenapa kau malah berbohong padaku ?".
"Gomen Panda. Aku hanya tidak ingin membuatmu salah paham padaku. Malam itu aku hanya belajar bersama dengan Neji. Sungguh, aku tidak melakukan apa pun". Kata Sakura menyesal.
"Hanya untuk itu kau berbohong padaku ?. Sakura, jika kau mengatakan padaku dari awal, tidak mungkin aku mencurigaimu". Kata Tenten. "Aku hanya kecewa padamu yang tega membohongiku untuk menutupi hal sekecil itu". Kata Tenten lagi.
"Gomen. Mulai sekarang aku akan bersikap lebih terbuka padamu". Kata Sakura menyesal.
"Mulai sekarang ?. Jadi, berapa banyak kebohongan yang kau tutupi dariku ?". Tanya Tenten menggembungkan pipi chubynya.
Sakura menatap Tenten yang sudah merubah raut wajahnya. Dari serius, menjadi raut wajah bayi yang sangat menggemaskan. Sakura berpikir itu artinya Tenten sudah memaafkan dirinya.
"Sangat banyak melebihi apa yang kau bayangkan". Jawab Sakura membusungkan dadanya.
"Serius ?". Tanya Tenten menggelitik perut Sakura. Tidak mau kalah, Sakura juga balas menggelitik Tenten. Pada akhirnya, hari kepulangan Sakura di tutup dengan perang bantal yang mereka lakukan hingga larut malam.
.
.
.
.
.
.
"Ayolah Pinky, aku ingin pulang". Kata Tenten.
"Tunggu dulu. Kau belum mencoba yang ini". Kata sakura menempelkan sebuah rok ke badan Tenten.
"Aku sudah mencoba lebih dari 20 baju. Dan kau selalu bilang tidak cocok". Kata Tenten melirik tunpukan baju yang Sakura pilihkan.
"Memang kau tidak cocok dengan pakaian-pakaian itu. Coba yang ini, aku yakin kau pasti terlihat cantik". Kata Sakura memberikkan Tenten sebuah gaun berwarna putih untuk Tenten coba.
"Lagi ?". Tanya Tenten malas. Sakura menganggukan kepalanya mantap menjawab pertanyaan malas Tenten.
Tenten keluar dari kamar pass memperlihatkan badannya yang telah di balut dengan gaun putih dilengkapi aksen pita di kedua bahunya pada Sakura yang menunggunya di luar.
"Bagaimana ?. Apa kita sudah bisa pulang ?". Tanya Tenten.
"Hn, kau terlihat cantik". Kata sakura menjentikkan jarinya. "Aku ambil yang ini". Kata Sakura pada pelayan toko. "Baik". Balasnya ramah. "Lepaskan, apa kau mau memaikanya sampai rumah ?". Tanya Sakura pada Tenten yang masih berdiri di depannya.
"Tanpa kau suruh pun aku juga ingin melepasnya". Kata Tenten masuk ke kamar pass.
Setelah keluar, Tenten memberikan gaun yang baru saja ia kenakan pada pelayan butik untuk di bayar. Namun belum sampai gaun itu berada di tangan pelayan, tanpa mereka sadari ada tangan putih mulus yang menyambar baju itu. Ketiga wanita itu membelalak terkejut dan segera melemparkan pandangannya pada pemilik tangan itu.
"Bukankah ini gaun yang aku pesan seminggu yang lalu ?". Tanya gadis itu menatap tajam pelayan butik.
"Gomen nona, gaun yang anda pesan sudah kami siapkan. Ini adalah baju milik nona ini". Kata pelayan itu mengarahkan jempolnya pada Tenten.
"Nona, bisakah kau bicara sedikit lebih sopan ?. Wanita ini lebih tua darimu". Kata Tenten pada gadis itu.
"Sopan ?. Siapa yang berkuasa, dialah yang harus di segani. Dia hanya seorang pelayan butik. Dan aku sudah biasa membeli barang apa pun di sini. Jadi, harusnya mereka yang menghormatiku. Karena aku adalah customer VVIP". Balasnya angkuh.
"Panda, cobalah kau tekan sedikit emosimu". Bisik Sakura menenangkan.
Tenten menghembuskan nafasnya berat mencoba menekan emosinya seperti yang Sakura katakan. Ia menatap gadis itu dengan wajah sedikit ramah. "Nona, beruntung aku tidak mengeluarkan semua isi perutmu. Sekarang, bisakah kau meniggalkan kami dan ambil sendiri bajumu di sana".
"Harusnya dia yang melakukan itu". Katanya menunjuk pelayan wanita itu.
Tenten mengangkat tangan kirinya hendak menghajar gadis itu. Beruntung karena Sakura terlebih dahulu menahan tangan Tenten.
"Ternyata kau gadis yang kasar". Ejek gadis itu pada Tenten kemudian meninggalkan Sakura yang masih berusaha meredam amarah saudaranya.
"Dasar kau, gadis menyebalkan". Kata Tenten mulai mereda. "Ayo kita pergi Pinky".
"Tapi gaunmu ?". Tanya Sakura.
"Biarkan saja. Aku tidak sudi mempunyai barang yang serupa dengan gadis semacam itu". Kata Tenten kesal. "Ta..tapi…". Sakura terbata-bata saat Tenten menarik dirinya keluar dari butik itu.
"Panda, ayo kita kesitu". Kata Sakura menunjuk salah satu toko sepatu.
"Pinky, aku lapar. Sangat lapar. Apa kau tidak kasihan padaku". Kata Tenten memelas.
"Ouw, ternyata Panda manis ini sedang kelaparan ?". Kata Sakura mencubit gemas pipi Tenten. "Salah sendiri, kenapa kau tidak bilang dari tadi ?". Kata Sakura lagi lalu menarik Tenten masuk kesebuah restoran di mall.
oOo
"Kalian belanja banyak sekali ?". Kata Akane melihat dua anaknya pulang dengan berbagai warna tas berada di tangannya.
"Bukan aku. Pinky yang membelinya". Kata Tenten melirik Sakura.
"Kaasan aku hanya sedikit merayakan pesta setelah aku menang olimpiade kemarin". Kata Sakura polos.
"Tapi kau tidak perlu membeli barang sebanyak ini Sakura". Kata Akane.
"Biarkan saja. Mereka kan masih muda. Biarkan mereka menikmati masa mudanya". Kata Iruka menanggapi perkataan istrinya.
"Aku juga membelikan sesuatu untuk Tousan dan Kaasan". Kata Sakura.
"Waah, benarkah. Terimakasih". Kata Akane senang dan membantu Sakura membawa barang bawaanya keruang keluarga.
Tenten dan Iruka hanya bisa menatap dua orang itu dengan tampang bodoh mereka masing-masing. Baru beberapa menit yang lalu Akane memarahi mereka karena belanjaan yang terlalu banyak. Namun, beberapa menit kemudian, ia langsung merubah raut wajahnya ketika Sakura mengatakan punya sesuatu untuknya.
"Tousan, dimana kau dapat istri seperti itu ?". Tanya Tenten masih menatap dua wanita yang kini tengah mengeluarkan barang-barang Sakura.
"Entahlah. Tapi mereka berdua sangat cocok". Balas Iruka masih dengan posisinya.
oOo
Tenten masuk ke kamar Sakura tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sakura yang melihat Tenten tiba-tiba masuk ke kamarnya segera menutup buku diarynya dan menyelipkanya ke bawah bantal.
"Panda, bisakah kau mengetuk pintu dahulu sebelum masuk ?". Tegur Sakura.
"Hehe, gomen". Balas Tenten memeletkan lidahnya. "Pinky, aku ingin bertanya sesuatu padamu ?". Tanya Tenten.
"Apa ?". Balas Sakura singkat. "Kenapa kau menyuruhku mencoba berbagai macam baju dan sepatu saat di mall tadi ?". Tanya Tenten polos.
"Apa kau tidak ingat, ulangtahun kita tinggal 3 bulan lagi ?". Tanya Sakura.
'Benar juga. Ini sudah hampir akhir tahun'. Pikir Tenten. "Lalu ?". Tanya Tenten lagi.
"Ulangtahun kita ada di bulan yang sama. Hanya tanggal saja yang berbeda. Aku sudah mengatakan hal ini pada Kaasan dan Tousan jauh-jauh hari. Aku ingin ulangtahun kita disatukan". Jawab Sakura.
"Wuaah, kau cerdas sekali Pinky. Aku sangat setuju". Kata Tenten memuji.
"Nah, tujuanku mengajakmu ke butik, adalah agar kau bisa mencoba gaun yang aku pesan tadi. Aku memilih gaun itu karena kupikir sangat cantik, sederhana, namun terlihat elegant. Dan aku juga memesan dua buah agar kita bisa mengenakan gaun yang sama. Tapi ternyata kau tidak menyukainya hanya karena gadis menyebalkan tadi". Kata Sakura mempoutkan bibirnya.
"Aaah, gomen. Tapi, bisakah kau memilih gaun yang lain. Aku hanya khawatir aku tidak akan merasa nyaman jika mengenakan gaun itu. Mengingat gadis menyebalkan tadi". Kata Tenten.
"Hmmmh, aku bisa saja melakukannya. Tapi…". Sakura memutus pembicaraanya. "Apa ?". Tanya Tenten penasaran. "Kau harus menemaniku". Balas Sakura menyeringai.
"Lagi ?". Teriak Tenten.
Haduuh, makin ancur iya. Pendek juga iya. Kurang apalagi coba ?. Tpi mski ancur, Author btuh review dri klian spy kedepannya fic nya gk makin ancur. Jadi, harap tinggalkan review ne ?!. #klo gk, aku bkal ngadu ke Neji biar di Jyuken kalian semua *plakk… :D (harap maklum menghadapi Author yg sakit ini).
See you guys… :*
