Tell Me
Disclaimer: Masashi senpai
Pair: SasoTen
Slight: NejiSaku
Rated: T
Warning: Gaje, Acak-acakan, Typo, dll
Don't like don't read !
Yuhuuuu… Hallo minna, gmna kabarnya nih ? Baik-baik aja kan ? Hm, klo gt sma kyk Author donk ya yg mkin hri mkin sehat. Tpi klo Author mkin sehat, mkin jdi gilanya Author :D. Hehehe, Author jga gk lupa bwa chapie terbaru lhooo :D
Review:…
Akira ken: Hehe, iya. Udh di bnyakin kok moment SasoTen'y di chapie ini. Tpi maaf ne, klo msih krang bnyak. Author bkal chapie depan lebih bnyak :D.
Issabella: Haduuh, maaf ne klo Author update'y klmaan ? Author sibuk gila minggu ini soalnya ): Tpi smoga stelah bca chapie ini gk mkin kcewa ama jlan critanya (:, hehe… :D
Ojou: Salam kenal jga (: Hehe, mkasih ya tips nya. di chpie ini Author udh ikutin saran dri kmu kok (:
Yakk.. udh Author bles smua review nya, so silahkan bca. Jngan lpa review nya ne :D
"Pinky…" Tenten masuk kamar Sakura sembarangan. "Hei, kau dimana ?" Tenten kembali berteriak.
"Diamlah, aku disini." Teriak Sakura dari dalam kamar mandi.
"Baiklah. Aku harap kau bisa cepat sedikit. Kita hampir terlambat." Tenten menyapukan pandangannya ke sekeliling kamar Sakura dan membuka setiap buku di meja belajar Sakura.
Tenten duduk di tepi ranjang Sakura dan membuka laci di sampingnya. Manik matanya tertuju pada benda berwarna violet di dalamnya. Gadis bermata hazel itu meraih buku yang ia lihat dari beberapa detik yang lalu. Ia memperhatikan buku berukuran sedang itu dengan seksama. Beberapa detik kemudian, tangan kanan Tenten telah berada di atas gambar kupu-kupu yang terdapat di buku tersebut. Kemudian tangannya beralih ke tepi buku yang di hiasi gliter berwarna perak. Ia menelusuri tepian buku itu dengan jari telunjuknya.
Sratt…
"Apa pun yang kau lakukan di kamarku, jangan pernah menyentuh benda ini." Kata Sakura yang tiba-tiba mengambil secara paksa buku di tangan Tenten.
"O..ok, ba..baiklah a..aku minta maaf." Tenten mengerjap terkejut.
Sakura meletakkan bukunya kembali kedalam laci meja dan menatap Tenten sayu. "Maafkan aku. Aku terlalu berlebihan." Sakura melirihkan suaranya.
"Ti..tidak. Aku yang salah. Tidak seharusnya mengambil buku itu. Maaf" Tenten menundukkan kepalanya menyesal.
"Bisa kita lupakan masalah ini ? Kau bilang kita terlambat." Sakura tersenyum lembut pada Tenten.
oOo
Tenten menatap lemas pada secarik kertas di hadapannya dan meremas gemas kedua cepolnya. Matanya berkunang-kunang ketika melihat barisan angka yang seolah memaksa Tenten mau tidak mau harus menemukan jawabannya. Benar sekali, ini adalah hari pertama ulangan semester. Dan mau tidak mau, Tenten harus mengikutinya jika ia tidak ingin melihat lembar kosong di buku laporannya nanti.
Tenten melirik kesamping kanan dan kirinya. Temannya mengerjakan soal di hadapan mereka masing-masing dengan tenang. Kecuali, ia dan Naruto. Mereka berdua gusar tidak karuan memikirkan jawaban apa yang harus mereka bubuhkan di sana. Bukannya Tenten dan Naruto bodoh. Tapi matematika adalah kelemahan mereka berdua. Dari tiga puluh soal, hanya lima yang bisa ia jawab. Sisanya, mungkin ia akan menyerahkan semuanya pada yang maha kuasa. Jika ia bisa mendapatkan pilihan, ia lebih memilih berlari sejauh satu kilometer di bandingkan memecahkan soal matematika yang bahkan hanya berjumlah sepuluh biji.
Tukk…
Sesuatu yang ringan jatuh dari kepalanya ketika Tenten sedang memikirkan cara agar ia bisa bebas dari keadaan ini. Sebuah bola kertas jatuh di sisi kanan tangan Tenten. Tenten mengerutkan keningnya bingung. Beberapa detik kemudian Tenten memutuskan untuk melayangkan pandangan ke sekelilingnya. Dari mulai Sasuke, Neji, Hinata, Shikamaru, Sai, Kiba, Sakura dan yang lain masih terlihat tenang, tidak ada tanda-tanda dari mereka usai melakukan sesuatu. Begitu juga Naruto yang masih terlihat gusar berusaha mencari contekan dari kanan dan kirinya. Tenten kembali mengarahkan bola matanya ke arah kertas yang ia pikir jatuh dari langit. Sekilas ia melihat Anko yang masih saja mengamati setiap anak. Merasa pandangan Anko telah beralih dari dirinya, Tenten segera membuka kertas kecil yang daritadi membuatnya penasaran. Tenten membulatkan matanya terkejut ketika melihat barisan angka di tulis dengan ukuran kecil tersusun rapi di sana. Tenten masih tidak mengetahui siapa malaikat yang dengan senang hati memberi jawaban ini padanya sampai ia membuka ujung kertas yang terlipat.
"Ganbatte Panda o"
Beberapa deretan huruf itulah yang tampak setelah Tenten membuka lipatan ujung kertas di genggamannya. Tenten segera melayangkan pandangannya pada Sakura yang terlihat tenang-tenang saja seolah tidak ada yang terjadi. Tenten kembali melihat kertas di tangannya dan segera menyalin semua angka-angka yang hampir membuatnya gila pada selembar kertas yang telah berada di hadapannya sejak satu jam yang lalu.
"Baiklah, letakkan kertas ulangan milik kalian di meja." Anko berdiri dan meletakkan tangannya di atas meja guru di sampingnya.
Tepat waktu ketika Anko membuka suaranya, Tenten telah menyelesaikan salinan manualnya. Kini ia hanya tinggal menuliskan menuliskan namanya pojok kiri kertas ulangannya. Ia lalu berjalan menuju meja guru dengan membawa serta selembar kertas ulangannya kedepan.
Tenten menghampiri meja Sakura yang berjarak sekitar dua meter dari tempat duduknya setelah Anko keluar dari kelasnya. Tenten seger duduk di atas meja Sakura saat gadis pink itu tengah mengemas alat-alat tulisnya. Tenten menatap Sakura dengan senyuman yang mengembang. Sedangkan Sakura hanya memutar bola matanya melihat senyuman Tenten.
"Apa yang harus aku lakukan untukmu setelah semua ?" Tenten melebarkan senyumnya.
"Hmh, mungkin aku akan memintamu menemaniku." Sakura melekatkan telunjukknya pada bibirnya.
"Kemana ?" Tenten mengernyitkan dahinya. Ia sudah bisa menebak apa keinginan Sakura.
"Menemaniku mencari baju dan sepatu untuk ulangtahun kita nanti." Seru Sakura.
"Tepat seperti dugaanku." Gumam Tenten lirih.
"Kenapa ? Kau tidak mau ?" Sakura mempoutkan bibirnya.
"Ka..kata si..siapa ? A..aku mau. Ayo kita pergi." Tenten menarik tangan kanan Sakura.
"Sekarang ?" Sakura mengernyitkan dahinya setelah menghentikan langkah Tenten.
"Bukankah jam sekolah telah usai ? Apa salahnya ?" Tenten melepas tangan Sakura dan menaikkan kedua bahunya.
"Ta..tapi, bukankah kita masih ada ujian besok ?" Sakura menaikkan sebelah alisnya.
"Aku tau. Tapi bukankah kau cerdas ? Kau tidak butuh belajar lagi." Kata Tenten santai.
"Ta..tapi…"
"Percayalah padaku. Kau pasti mendapat nilai sempurna." Tenten kembali menarik tangan Sakura.
oOo
" Baasan, apa kami bisa memesan gaun disini ?"Sakura bertanya ramah pada pemilik butik.
"Tentu saja nona. Gaun seperti apa yang nono inginkan ? Kami bisa mendesainnya sesuai keinginan kalian." Balasnya tak kalah ramah.
"Kalau begitu, apa kami bisa ikut mendesain gaun kami ?" Tanya Sakura.
"Tentu saja. Silahkan." Wanita pemilik toko tersebut mempersilahkan Tenten dan Sakura masuk.
Tenten menyangga kepalanya menggunakan kedua tangannya dengan meja kayu sebagai tumpuanya. Ia melirik Sakura yang masih saja mendiskusikan masalah desain gaun dengan pemilik butik. Sakura menyikut pelan perut Tenten agar gadis hezel itu memperhatikannya.
"Apa ?" Tenten mengeluarkan suarnya sedikit serak.
"Bisakah kau membantuku ?" Bisik Sakura gemas.
"Bantu apa ? Bukankah kau sendiri yang ingin mendesainnya ?" Balas Tenten malas.
"Aku tau. Tapi bisakah kau sedikit memberiku inspirasi ?" Kata Sakura.
"Hmh, baiklah. Akan aku pikirkan." Tenten menatap sekelilingnya malas. Butik ini penuh dengan gaun. Dari yang pendek sampai yang panjang. Dari yang berwarna cerah sampai yang gelap. Dari yang memiliki aksen sederhana hingga yang rumit. Semuanya terpajang rapi di etalase butik ini.
Beberapa menit kemudian, Tenten mengambil selembar kertas di hadapan Sakura dan pemilik butik. Mereka berdua hanya bisa mengerjapkan matanya terkejut melihat sikap Tenten.
"Panda, itu sangat tidak sopan." Bisik Sakura.
"Bukankah kau menyuruhku memberikan sedikit kretifitasku ? Aku sedang melakukannya." Jawab Tenten santai setelah ia berhasil menggapai pensil yang berada tak jauh darinya.
"Aku tau. Tapi sikapmu tadi sangat tidak di benarkan." Sergah Sakura.
"Diamlah, aku hampir selesai." Tenten mengeluarkan sebagian lidahnya berusaha menggambar sebagus yang ia bisa.
"Daaan… selesai." Seru Tenten setelah ia menghabiskan tiga menitnya untuk mengeluarkan kreatifitasnya lewat goresan tipis pensil pada desain Sakura sebelumnya.
"Aku tidak percaya kau bisa melakukannya. Tapi… Ini sangat cantik." Puji Sakura mengambil kertas di hadapan Tenten.
"Benar. Gaun ini terlihat sangat elegant meski desainnya sederhana." Pemilik butik juga ikut memuji.
"Baasan, kami ingin dua gaun seperti ini ne. Dan kami akan mengambilnya bulan depan." Sakura menyerahkan kertas yang tadinya berada di tangannya.
oOo
Dua bersaudara itu memasuki salah satu café yang berjarak tak jauh dari tempat mereka memesan gaun. Tenten dan Sakura menduduki bangku kosong tepat di samping kaca yang membatasi antara ruangan dan jalan trotoar. Tidak sampai dua menit pelayan café menghampiri mereka untuk menulis menu apa yang mereka inginkan. Sakura hanya memesan Espresso, sedangkan Tenten lebih memilih milkshake plus white cream lengkap dengan ice cream vanillanya. Setelah menulis pesanan Sakura dan Tenten, pelayan itu segera pergi meninggalkan dua bersaudara itu.
"Darimana kau mendapat inspirasi semacam itu ?" Sakura mencondongkan sedikit tubuhnya pada Tenten yang berada di sebrangnya.
"Hmh, kau tau kan di butik tadi banyak sekali model gaun. Aku hanya mengambil sedikit bagian dari setiap gaun itu." Tenten menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Benarkah, tapi aku akui. Gaun rancanganmu tadi sangat cantik." Sakura menarik dirinya kebelakang.
"Aku hanya menambahkan sedikit dari rancanganmu ? Itu bukan apa-apa." Tenten menaikkan dagunya.
"Kita hanya tinggal mencari sepatu yang cocok untuk gaun kita." Sakura melipat kedua tangannya di depan dada seolah sedang berpikir.
"Jangan terlalu di pikirkan. Itu hanya akan membuatmu gila." Tenten melepaskan tasnya yang masih tergantung di punggungnya di atas pahanya.
Tenten menggunakan tangan kanannya untuk menopang berat kepalanya. Gadis itu melemparkan pandangannya pada laki-laki berambut cokelat lengkap dengan jaket tebal membalut tubuhnya tengah menunggu kedatangan sebuah bus untuk mengangkut dirinya dan orang-orang di sekitarnya yang berdiri di sebuah halte bus. Entah apa yang terjadi pada dirinya, yang ia pikirkan adalah Neji. Hanya nama itu yang tertanam di benak Tenten ketika ia duduk di salah satu kursi di café itu. Dan di tambah lagi ketika ia melihat lelaki berambut cokelat seperti Neji. Yang membedakan hanyalah panjang rambutnya dan warna matanya. Hal yang sangat sulit bagi Tenten ketika ia melihat Sakura di hadapannya dan Neji di pikirannya. Sulit baginya untuk menyingkirkan rasa kecewanya yang masih menggelayut di hatinya meski telah ia katakan ia melupakannya lewat bibirnya. Kalau boleh jujur, rasa cemburu Tenten pada Sakura mulai muncul dari hati kecilnya.
"Silahkan…" Pelayan café meletakkan satu cangkir dan satu gelas di atas meja Sakura dan Tenten setelah hampir sepuluh menit menunggu.
"Arrigatou gozaimasu.." Kata Sakura.
Sakura meletakkan milkshake pesanan Tenten tepat di samping tangan kirinya yang berada di atas meja. Seketika itu juga si pemilik tangan sedikit berjingkat karena suhu dingin dari es yang menembus gelas kaca itu mengenai indra perabanya. Dan otomatis membuat lamunan Tenten buyar begitu saja.
"Bagaimana hubunganmu dengan Neji ?" Sakura bertanya sambil meneguk secangkir Espresso yang baru saja ia pesan.
"Entahlah, aku sedikit kesal padanya." Tenten tertawa renyah. Tepat saat ia memikirkan hal itu, Sakura juga menanyakannya.
"Apa karena malam itu ?" Sakura melirihkan suaranya. Tenten hanya membalas dengan menaikkan kedua bahunya. "Tenten, itu bukan salahnya. Itu salahku. Salahku telah membuatmu kecewa." Sakura menatap Tenten dengan tatapan sayu.
"Aku tau. Aku akan mencoba untuk melupakan masalah ini." Tenten tersenyum lemah.
Tenten terkesiap ketika mendapati seorang lelaki duduk di sampingnya. Begitu juga Sakura ketika ia melihat satu lelaki juga duduk di sampingnya. Sedangkan dua lelaki itu hanya menatap dua gadis di sampingnya dengan senyuman tanpa dosa.
"A..a..apa yang kau lakukan disini ?" Tenten mengerjap kaget.
"Kami lapar, dan semua meja penuh. Tidak bisakah kau melihatnya ?" Lelaki itu melipat kedua tangannya di depan dada.
Tenten menyapukan pandangannya ke setiap sudut café tempat dimana ia dan Sakura berada. Benar apa yang lelaki ini katakan. Tenten melihat sekilas jam di tangannya yang menunujukkan pukul 13.30 'Jam istirahat kantor. Pantas saja.' Batin Tenten.
"Lalu, apa yang kau lakukan disini ?" Tenten menaikkan sebelah alisnya.
"Apalagi ? Tentu saja makan." Jawabnya santai.
"Bukan itu. Maksudku, kenapa kau yang duduk disini ?" Tenten memutar bola matanya.
"Dimana lagi aku harus duduk ? Jangan cerewet, aku lapar. Ocehanmu makin membuat perutku meronta." Sergahnya.
Dua lelaki itu selesai mengatakan pesanan mereka pada pelayan café. Kedua gadis di sampingnya menatap kedua lelaki itu bingung. Tenten menepuk bahu lelaki di sampingnya agar lelaki itu menatapnya.
"Siapa dia ?" Tenten melirik lelaki di samping Sakura.
"Oh, dia Hidan. Dan Hidan, ini Tenten dan yang disampingmu itu Sakura." Sasori memperkenalkan temannya pada Tenten dan Sakura.
"Hai, salam kenal." Hidan mengulurkan tangannya pada Sakura.
"Ne Hidan." Sakura membalas jabatan tangan Hidan tersenyum.
"Bisa kau pindah di samping Sakura ?" Tenten menatap Sasori.
"Apa kau tidak lihat ada yang menempati ?" Sasori bertanya balik dan menaikkan sebelah alisnya.
"Apa kau tidak bisa menyuruh temanmu duduk di kursi yang kau tempati ?" Tenten melipat kedua tangannya.
"Duduk di sana atau disini sama saja. Lagipula, temanku ingin mengenal Sakura. Apa itu salah ?" Sasori tidak serta merta menuruti perkataan Tenten. Malah lelaki itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Huh, laki-laki macam apa kau ini ? Mengizinkan temanmu mendekati calon istrimu ?" Tenten tertawa renyah. Tenten menatap tajam Hidan. Membuat lelaki berambut abu-abu itu bergidik. "Hei kau, apa calon istri temanmu juga akan kau makan juga ?" Tenten menaikkan alisnya.
"Tenten, kau terlalu berlebihan." Sakura mencoba mendinginkan suasana.
"Tapi Pinky…"
"Tenten sudah. Jangan memperkeruh suasana." Sakura menatap Tenten tajam. "Aku akan ke toilet." Sakura berdiri dari kursinya.
"Silahkan.." Kata Hidan ramah.
"Maaf tuan, bagaimana aku bisa lewat jika kakimu menghalangi jalanku ?" Sakura menatap Hidan.
"Ma..maaf." Hidan dengan segera menyingkirkan sedikit kakinya memberi jalan pada Sakura.
"Dasar bodoh."Gumam Tenten tertawa kecil.
"Apa kau selalu kemari jika istirahat kantor ?" Tenten menatap Sasori dan Hidan.
"Hmh, karena hanya café ini yang paling dekat degan kantor kami. Lebih tepatnya, menunya sangat cocok dengan lidah kami." Kata Hidan.
"Lalu kau ? Kenapa kau bisa sampai ada disini ?" Sasori bertanya pada Tenten.
"Kami dari mall di tengah kota. Kami mampir kemari karena pengunjung di sini sangat ramai. Jadi, kami pikir café ini patut untuk di kunujungi." Jawab Tenten apa adanya.
"Silahkan…" Pelayan meletakkan secangkir latte dan segelas milkshake di meja, di susul dengan sepiring waffle dan makanan aneh yang Tenten tidak ketahui.
"Arrigatou…" Kata Hidan.
Tenten mengerutkan dahinya menatap makanan di hadapan Sasori bingung. Sebelum Sasori melahap makanan yang ia pesan, ia menatap Tenten dan menaikkan sebelah alisnya. "Apa yang kau lihat ?" Sasori bertanya bingung.
"Apa yang kau pesan itu ?" Tenten menunjuk makanan Sasori.
"Currywusrt." Jawab Sasori singkat.
"Curry… apa ?" Tenten bertanya sekali lagi sambil menggaruk pelipisnya.
"Currywusrt. Cemilan khas Jerman yang terbuat dari sosis, di siram dengan pasta tomat dan bumbu kari." Jelas Sasori. Tenten mengaggukkan kepalanya paham. "Kau mau mencobanya ?" Sasori memotong sosis secukupnya dan segera memasukkan ke dalam mulut Tenten sebelum gadis itu mengeluarkan suaranya.
"Kenapa kau masukkan sembarangan ?" Tenten menaikkan suaranya satu oktaf. Setelahnya gadis itu menyambar selembar tisu di atas meja. "Bukan di situ." Sasori mengelap saus yang mengenai bibir Tenten menggunakan ibu jari kanannya.
Tenten terpaku melihat manik mata Sasori yang tepat menatap matanya. Sesuatu menuntun Tenten untuk menyentuh tangan Sasori yang masih berada di wajahnya. Keduanya sama-sama tidak mau melepas tatapannya dari mata mereka masing-masing. Mata Sasori yang menurut Tenten semakin indah jika di lihat dari jarak dekat. Dan pipi chubby Tenten yang menampakkan semu merah membuat hati Sasori berdesir pelan tak mau melepas objek yang di pandang begitu saja.
Ting….
Hidan sengaja mengetukkan sendok kecilnya setelah ia selesai mengaduk latte untuk membuyarkan lamunan dua mahkluk di hadapannya. Tenten segera melepas tangannya dari tangan Sasori dan menyapukan padangannya ke sekitarnya. Tenten menatap tajam Sasori yang masih terlihat santai atas insiden kecil barusan.
"A..apa yang kau lakukan ?" Tenten memukul pelan bahu lelaki itu.
"Aku tidak melakukan apa pun." Sasori membalas santai sembari mengecup ibu jarinya yang masih terdapat saus dari mulut Tenten disana.
Sungguh, jika berada di medan perang, mungkin bom hati Tenten lah yang akan meledak paling keras dan mengelegar. Gadis itu mengerjapkan matanya terkejut melihat Sasori. Semu merah kembali menjalari kedua pipinya. Tak ketinggalan keringat dingin yang mengucur dari pelipisnya. Tenten mengerjapkan matanya berulang kali dan segera melemparkan pandangannya ke objek lain di sekitarnya termasuk Hidan yang berada di sebrang meja.
"Kenapa kau gugup ?" Sasori tertawa kecil.
"Gugup ? Kau gila ? Aku tidak gugup." Tenten membalas pertanyaan Sasori jutek.
"Kau gugup. Lihatlah, semu merah di pipimu. Apa aku perlu mengambil gambarnya agar kau bisa melihatnya ?" Goda Sasori.
"Jangan bercanda." Tenten menatap tajam Sasori dan kembali melemparkan pandangannya ke arah trotoar. Ia menyeruput milkshake di hadapannya sekilas dan menggembungkan kedua pipinya kesal.
Sungguh, siapa pun, baik laki-laki mau pun perempuan akan merasa gemas dan ingin mencubit pipi Tenten jika mereka melihatnya. Sasori menyentuh bahu gadis itu agar padangannya beralih pada dirinya. Setelah Tenten menatap Sasori, tanpa basa-basi, Sasori segera mengambil gambar Tenten melalui kamera ponselnya. Sekali lagi Sasori berhasil membuat Tenten mengeluarkan semu merah. Dan semu yang kali ini jelas sekali terlihat.
"Sekarang apa kau percaya kalau kau gugup ?" Sasori menunjukkan foto yang baru saja ia ambil pada Tenten sambil menunjuk bagian pipinya.
Melihat foto dirinya yang berada di ponsel Sasori membuat Tenten semakin menggembungkan pipnya menahan kesal. "Cepat hapus." Tenten menatap tajam Sasori.
"Hapus ? Tidak mau. Ini bisa menjadi sebuah lelucon jika aku sedang stress di kantor." Sasori memeletkan lidahnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
Tenten memalingkan kepalanya kasar dan melipat kedua tangannya di depan dada. Beberapa detik kemudian ia melihat kursi kosong di depannya dan baru sadar kalau Sakura belum juga kembali. Tenten melirik sekilas pintu toilet wanita yang terlihat dari mejanya. Ia mengempeskan kembali pipinya ke bentuk semula dan menaikkan dagunya heran.
"Bisa kau singkirkan kakimu ?" Tenten berdiri dari kursinya dan menatap tajam kaki Sasori. "Tentu saja." Sasori menyingkirkan kakinya memberi jalan pada gadis bermata hazel tersebut.
Tenten membulatkan kedua matanya sempurna ketika ia melihat seseorang hendak menampar pipi Sakura begitu ia membuka pintu toilet. Beberapa detik kemudian, tangan kanan Tenten telah berhasil menghalau tangan gadis itu yang akan mengenai wajah cantik Sakura. Dua gadis yang sudah berada di toilet sebelumnya terkejut melihat ke hadiran Tenten. Terlebih Sakura yang tiba-tiba merasa ada tangan yang menggeser tubuhnya ke belakang. Tenten menatap tajam gadis berambut pirang di hadapannya. Begitu juga gadis yang hendak menampar Sakura, ia juga menatap Tenten dengan tatapan membunuh.
"Maaf nona, tapi apa masalahmu sampai kau ingin menampar saudaraku ?" Tenten melepas tangan gadis itu kasar.
"Ooh, jadi kau saudaranya ? Tolong katakan pada saudaramu, jangan pernah mendekati kekasihku." Ujarnya dingin sembari menunjuk wajah Tenten.
"Kekasihmu ?" Tenten tertawa renyah. "Dengar nona, bukannya ingin mengecilkan hatimu, tapi setauku saudaraku tidak mengenalmu. Apalagi kekasihmu." Ujar Tenten tidak mau kalah.
"Begitukah. Lalu, kalian pikir, siapa lelaki yang duduk semeja dengan kalian berdua ?" Gadis itu melipat kedua tangannya.
"Sasori ?" Gumam Tenten menerutkan dahinya. "Tepat sekali. Dialah kekasihku. Aku sudah tau kalau dia di jodohkan dengan seorang gadis. Dan ternyata gadis itu adalah saudaramu…."
"Tunggu, aku baru ingat. Bukankah kau gadis menyebalkan yang ada di butik beberapa hari yang lalu ?" Tenten menyela perkataan gadis itu.
"Ya, itu aku. Dan tolong katakan pada gadis sialan ini untuk menjauhi Sasori." Ujarnya menunjuk Sakura.
Tenten menepis kasar tangan gadis itu yang berada di depan wajah Sakura. Sedetik kemudian gadis berambut cokelat itu mendorong tubuh gadis di hadapannya kebelakang. "Dengar gadis pirang. Aku tidak peduli kau kekasih Sasori atau bukan. Aku juga tidak peduli kau tau tentang perjodohan ini atau tidak. Tapi, jika kau berani menyentuh ujung rambut saudaraku, di saat itulah kau akan berhadapan denganku. Aku bisa mematahkan tulang igamu dengan mudah jika kau berkenan. Dan aku juga bisa memutuskan semua otomu sekarang juga jika aku mau. Tapi, satu yang harus kau tau. Orangtua kami membesarkan kami dengan baik. Kami tidak akan pernah menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah kecil seperti ini."
"Masalah kecil ? Dengar, kalian hanya lah dua pelajar ingusan yang tidak tau sama sekali apa yang di namakan masalah. Daripada memikirkan tentang masalah dan laki-laki, lebih baik kalian pikirkan saja bagimana masa depan kalian yang terlihat suram itu." Gadis pirang itu mendorong pelan bahu Tenten sebelum ia berkacak pinggang.
"Hn, kau benar. Kami hanyalah dua pelajar yang ingusan. Tapi kami tau, bagaimana menyikapi suatu masalah tanpa ada kekerasan seperti yang akan kau lakukan tadi. Jadi kurasa, kau lah yang harusnya belajar dan mencontoh sikap anak ingusan seperti kami. Lagipula, apa yang Sasori lihat dari wanita sepertimu ? Saudaraku jauh lebih baik dibandingkan dengan wanita egois dan menyebalkan sepertimu." Tenten menyambar tas Sakura yang berada di atas wastafel dan segera menarik tangan saudaranya pergi.
Tenten menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu toilet dan sedikit menolehkan kepalanya kebelakang. "Dan satu lagi, namanya adalah Sakura Umino, bukan gadis sialan." Kata Tenten tajam.
Tenten menghampiri meja kasir untuk meminta billnya. Setelah Tenten membayar tagihannya, ia segera menghampiri mejanya dan sedetik kemudian menyambar tasnya yang ia letakkan di kursinya tanpa melepas tangan Sakura. Sasori dan Hidan terkejut bukan main ketika melihat perubahan pada wajah Tenten. Aura membunuh sangat mereka rasakan ketika Tenten berada di hadapan mereka.
Setelah Tenten mendapatkan apa yang ia gapai, ia kembali melangkah kasar hendak keluar dari café itu. Kedua lelaki itu sempat memandang satu sama lain sebelum Sasori menghentikan langkah Tenten dengan berdiri tepat di hadapan gadis bermata hazel itu. Tenten mendongakkan sedikit kepalanya untuk melihat siapa orang yang berani menghentikan langkahnya. Tenten semakin mengeratkan cengkramannya pada pergelangan tangan Sakura untuk menahan amarahnya tanpa memperdulikan Sakura yang tengah kesakitan. Tenten melewati Sasori begitu saja dan segera berjalan ketempat dimana mobilnya terparkir.
Tenten tau apa yang akan terjadi segera melepas tangannya dari Sakura sebelum gadis pink itu terhempas karena hentakkan yang Sasori timbulkan. "Kau kenapa ?" Sasori membalikkan tubuh Tenten hingga pemilik tubuh menghadap dirinya sebelum gadis itu masuk ke mobilnya. "Ada apa denganmu ?" Sasori bertanya sekali lagi.
"Kalau kau ingin tau, kau tanyakan saja semuanya pada kekasihmu. Aku yakin dia akan menjelaskan semuanya. Dan katakan padanya, aku tidak suka jika ada yang menyakiti Sakura." Tenten menepis kasar kedua tangan Sasori yang berada di bangkunya dan segera menarik Sakura untuk masuk kedalam mobil.
oOo
Hanya jalan raya yang berhasil menyita perhatian Tenten selama perjalanan menuju rumahnya. Sakura menatap lemah Tenten yang duduk beberapa centi di sampingnya. Ia tau, Tenten sudah berusaha keras menekan emosinya sejak tadi. Sakura menggeser duduknya mendekati Tenten dan menyentuh bahu kanan gadis itu ragu. Tenten segera memamlingkan pandangannya setelah ia merasa ada seseorang menyentuh bahunya. Yang terlihat oleh Tenten hanya tatapan sayu yang Sakura tujukan padanya.
"Aku baik-baik saja Pinky. Aku hanya tidak suka jika ada yang menyakitimu." Tenten tersenyum.
Sakura tidak membalas perkataan Tenten. Melainkan segera memeluk erat gadis itu. "Kau adalah malaikatku." Sakura menitikkan air mata. "Mungkin itulah tujuan Tuhan mempertemukan aku denganmu." Tenten melepas pelukannya. "Huh, percaya diri sekali kau ?" Keduanya tertawa.
Tenten menatap lemah tangan kanan Sakura yang terdapat bercak merah di tangan Sakura. Tenten menggapai tangan saudaranya itu dan mengelusnya. "Maafkan aku." Lirih Tenten.
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir." Sakura menarik tangannya dari Tenten dan memeluk gadis manis itu.
oOo
"Aku yakin, lima menit lagi, kau akan membuat lubang pada dinding itu." Hidan berkata santai setelah meneguk air mineralnya.
Sasori tidak mempedulikan perkataan Hidan. Lelaki berambut merah itu terus saja mengayunkan raketnya sekeras yang ia bisa untuk meluapkan amarahnya. Hampir satu jam Sasori berada di lapangan Squash tanpa keluar dan istirahat sedetik pun bahkan hanya untuk melepas dahaganya. Setiap kali ia mengayunkan tangannya untuk melemparkan bola berwarna kuning itu kedinding, hanya nama Ino lah yang tertanam dalam benaknya. Semakin ia mengingat nama Ino, semakin kuat pula ayunan yang Sasori keluarkan.
Hidan merebut paksa raket di tangan Sasori setelah hampir sepuluh menit menunggu berharap temannya itu bisa berhenti. Sasori berusaha merebut kembali raket miliknya di tangan Hidan, namun bukan Hidan namanya bila tidak bisa mengelak. Beberapa detik kemudian, Hidan segera menarik tangan kanan Sasori untuk keluar dari lapangan. Setelah mereka berdua sampai di pinggir lapangan, tepatnya di salah satu kursi tempat ia dan Sasori meletakkan barang-barangnya, lelaki berambut silver itu melemparkan botol air mineral ke arah Sasori. Sasori hanya menatap tajam lelaki itu dan segera meneguk habis air minum di tangannya.
Sasori menyandarkan punggungnya dan menyapukan pandangannya ke sekelilingnya. Delapan lapangan Squash yang di sediakan, enam di antaranya telah di tempati. Termasuk lapangan milik yang Sasori dan Hidan. Empat di antara pengunjungnya, terlihat seperti atlet Squash sungguhan yang tengah berlatih. Dan dua lainnya di tempati oleh seorang lelaki paruh baya yang tengah melatih anaknya. Dan satu lapangan lagi di tempati olehnya yang berusaha meluapkan emosinya lewat ayunan raket di lapangan.
"Aku tau perasaanmu. Tapi tidak baik jika kau menyiksa dirimu sendiri." Hidan meletakkan tangan kanannya di atas pahanya dan menatap temannya.
"Apa yang akan kau lakukan jika kau jadi aku ?" Sasori bertanya balik.
"Mungkin aku akan pulang ke rumah. Menata kembali rencana masa depan yang hancur jika aku memiliki kekasih gadis menyebalkan seperti kekasihmu. Dan berusaha bangkit dari keterpurukan." Hidan menjawab santai.
"Yah, lebih mudah jika mengatakannya." Sasori meletakkan kaki kanannya di atas paha kirinya.
"Kau benar, itu memang tidak mudah. Tapi akan menjadi suatu hal yang mudah jika aku jadi kau." Hidan menyadarkan punggungnya.
"Makusdmu ?" Sasori mengerutkan dahinya dan menatap Sasori.
"Aku akan menjadikannya kunci untuk membuka pintu masa depanku jika aku jadi kau." Hidan tersenyum dan memalingkan wajahnya pada Sasori. Sasori mengernyitkan dahinya tidak mengerti. "Oh ayolah, apa kau belum paham maksud perkataanku." Hidan melipat kedua tangannya di depan dada. Tidak adanya jawaban yang Sasori lontarkan, menandakan lelaki bermarga Akasuna itu belum paham maksud perkataan Hidan. "Gadis yang kau cintai pada pandangan pertama. Gadis yang kau harapkan menjadi masa depanmu. Gadis yang kau temui di restoran pertama kalian malam itu bertemu dan di hari ulangtahun gadis bernama Hinata Hyuuga. Aku harap kau paham setelah ini." Hidan memutar bola matanya malas.
Seulas senyuman terkembang dari bibir Sasori setelah temannya merefresh kembali otakanya dengan mengigatkannya pada nama dan wajah gadis itu. Lelaki itu benar, Sasori bisa menggunakannya untuk melupakan Ino. Kenapa hal itu tidak terpikirkan olehnya. Bukankah hal yang sangat bodoh, melupakannya di saat seperti ini.
"Kau benar. Semua yang kau ceritakan padaku tentangnya. Aku bisa melihatnya tadi. Andai aku bisa menemukan gadis sepertinya di belahan dunia yang lain, mungkin aku akan langsung melamarnya saat itu juga." Hidan menyisir rambutnya dengan kelima jarinya.
"Aku yakin kau akan menemukannya, tapi aku pikir akan sangat sulit bagimu untuk mendekati gadis sepertinya." Sasori mengejek.
"Lihatlah, baru beberapa menit yang lalu aku mengingatkanmu tentangnya, mood mu sudah berubah drastis. Begitu berharga kah dia bagimu." Hidan menatap heran Sasori.
"Apa kau tidak bisa melihatnya ?" Sasori tertawa renyah sembari memasukkan sepatunya ke dalam tasnya.
"Mau kemana kau ?" Hidan mengerjap bingung.
"Tentu saja ke kantor. Aku kemari hanya untuk menghilangkan stress ku. Sudah cukup lama aku meninggalkan kantor begitu saja." Sasori beranjak.
"Heeeeh, tidak bisakah kita bermain satu babak lagi ? Aku bosan masuk ke gedung itu." Hidan memohon.
"Kalau begitu, kau keluar saja dari pekerjaanmu. Aku tidak akan menghalangimu." Sasori menjinjing tasnya dan berjalan meninggalkan Hidan.
"Hei, hei, hei. Jangan berkata seperti itu. Aku kan hanya bercanda. Hei…" Sasori tetap melangkahkan kakinya keluar dari arena tanpa mempedulikan Hidan yang berusaha secepat mungkin mengemasi barang-barang miliknya.
Hehehe, gmna minna ? Makin mngecewakan ya ? Maaf deh yak lo mngecewakan dan terlalu pendek. Tpi Author hrap klian ninggalin review setelah bca. Jadi Author bisa tau letak kesalahan fic ini dmana (: Udh dlu ne, chapie ini end ampe sini. See you.. :* :D
