Minna…. #teriak dari puncak bromo :D Author'y hadir dngan chpie terbaru dri fic ini nih :p Msih pda nungguin gk? *Krikk..krikk..krikk. Halah, udahlah, Author gk mau kbanyakan omong :D
Review:…
Ojou: Udah di lnjut pke smngat 45 lhoooo…. :D
Yuris: Neji'y gk ilang. Dia lgi di rmah Author nih :D Hehe, coba deh bca ulang chpie 3. Yakin yg di temui Sasori bkan Sakura? :D
Akira ken: Chapie ini bkal bnyak SasoTen'y (: So, silahkan dibca. Dan maaf klo update'y telat :p
Guest: Hehe, sabar ya, sabar. Ini kan msih tahap pngenalan satu sma lain (:
Udah di bles smua'y kan (: Silahkan di bca and don't forget review (: Dan maaf jika ada salah dlam penulisan kata (: Smoga puas minna! :D
Tenten mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari keberadaan saudaranya yang sejak tadi belum kelihatan batang hidungnya. Jam istirahat hampir selesai, namun Sakura belum juga kembali setelah gadis pink itu berpamitan pada Tenten untuk pergi ke toilet di tengah mereka menikmati makan siangnya di kantin sekolah. Dari mulai Hinata, Sai, Lee, Naruto, bahkan para sensei sudah ia tanyai, tapi mereka berkata tidak melihat gadis itu sama sekali.
Entah apa yang membawa Tenten berjalan menuju ruang kosong bekas laboratorium kimia di sekolahnya. Ia menggaruk kepalanya pelan, heran sendiri memikirkan kakinya yang tiba-tiba membawanya kemari. Untuk apa ia mencari Sakura disini. Jelas-jelas pintu ruangan ini terkunci rapat. Tidak mungkin Sakura ada di dalamnya. Beberapa saat kemudian, gadis itu membalikkan tubuhnya akan kembali ke kelasnya. Namun dengan tepaksa ia harus menghentikan langkah kakinya ketika telinganya mendengar suara dari dalam ruangan.
Tenten mengintip ruang kosong tersebut dari jendela kaca. Yang ada di sana hanya barisan bangku dan meja kosong yang sengaja di tumpuk agar penjaga sekolah lebih leluasa jika akan menyapu ruangan itu. Sungguh, ia mendengar sesuatu tadi. Telinganya masih berfungsi dengan sangat baik. "Hallo, apa ada orang di dalam ?" Tenten sedikit berteriak. Siapa tau ada siswa lain yang tanpa sengaja terkunci di dalam. Hening, tidak ada suara sedikit pun dari dalam. Yang Tenten dengar hanya suara berisik dari para siswa di sekolah ini yang berbaur menjadi satu dan menghasilkan suara gemuruh kecil tanpa henti. Tenten menaikkan kedua bahunya santai dan pergi meninggalkan ruangan itu. Tapi ia masih penasaran, suara apa yang ia dengar barusan. Apakah tikus ? Tidak mungkin, penjaga sekolah rutin membersihkan setiap sudut ruangan di sekolah ini hingga bersih. Tak terkecuali ruangan ini.
Karena rasa penasaran yang begitu besar, di sisa dua puluh menit waktu istirahat berakhir, ia menggunakannya untuk bersembunyi guna mengetahui siapa yang ada di dalam ruangan itu. Tenten berlari kecil menuju dinding yang menghalangi ruangan itu dengan koridor sekolah. Lalu, ia menyembunyikan sebagian tubuhnya dan menyisakan sedikit kepalanya agar siapa pun yang keluar dari ruangan itu tidak melihatnya. Jika memang ada seseorang di sana.
Tenten hampir lima menit berdiri di belakang dinding yang menutupi dirinya. Namun, belum juga ada tanda-tanda ada seseorang di ruangan itu. Ia menghembuskan nafasnya berat. Mungkin benar, telinganya sedikit bermasalah. Tidak ada siapa pun keluar dari ruangan itu kecuali serangga-serangga kecil yang keluar dari sela-sela pintu.
Ia lalu melangkah gontai meninggalkan tempat persembunyiannya. Tidak mungkin ada siswa ada dalam ruangan ini. Untuk apa mereka kemari ? Ruangan ini hanya ruangan kosong yang hampir menyerupai gudang. Tidak ada layar LCD untuk menonton film, tidak ada video game untuk di mainkan, juga tidak ada tempat tidur, siapa tau para siswa yang kelelahan dan ingin membaringkan dirinya di kasur empuk nan hangat. Yang ada hanya tumpukan kayu berbentuk bangku dan meja yang sudah sedikit usang karena termakan usia dan kelembapan udara di dalam ruangan.
Cklek...
Baru tiga langkah Tenten meninggalkan tempatnya, ia kembali menghentikan langkahnya kembali ketika mendengar suara yang di tangkap oleh gendang telinganya. Kini ia semakin yakin, kalau ada seseorang berada di dalam ruangan itu. Tidak ada alasan untuk gadis itu untuk tidak membalikkan tubuhnya dan melihat sesuatu yang daritadi ia tunggu.
Brukk…
Seulas senyum penuh kemenangan dari Tenten karena kata hatinya benar kalau benar-benar ada seseorang di dalam, langsung sirna. Seketika kedua kakinya tidak bisa lagi menahan berat tubuhnya yang sudah mencapai angka ideal para wanita. Tenten terhempas cukup keras di atas lantai marmer yang dingin dan keras dengan pantat yang mendarat terlebih dahulu. Entah matanya mulai berkaca-kaca atau pengelihatannya yang mulai memudar, yang jelas pengelihatan Tenten pada sesuatu di hadapannya kini menampakkan bayangan semu yang tampak lebih banyak dari objek sebenarnya. Terlihat seorang gadis berambut pink yang tersenyum bahagia keluar bersama seorang laki-laki yang sangat ia kenali. Seorang laki-laki dengan rambut panjang menjuntai miliknya dan dua mata lavendernya tengah merangkul mesra gadis di sampingnya.
Tiga menit berlalu, tapi kedua manusia berbeda gender tersebut masih saja saling menggoda bagai dua sejoli yang tengah di mabuk cinta. Sang lelaki terus saja mengoda si perempuan. Sedangkan si perempuan, juga selalu berusaha menyembunyikan semu merah di kedua pipinya. Batin Tenten menjerit, tak henti-hentinya ia berteriak agar Tuhan membangunkannya dari situasi yang ia harap hanyalah sebuah mimpi. Namun Tuhan sepertinya menyadarkan Tenten dengan mengutus mahkluk ciptaanya yang tidak lain dan tidak bukan, adalah seekor semut merah tengah menggit kakinya yang tidak tertutupi oleh kaus kaki. Seketika itu juga harapan Tenten agar kejadian di hadapannya hanyalah mimpi belaka, sirna tanpa bekas sedikit pun. Ia tak dapat membendung lagi linangan air mata yang sejak tadi tertahan di pelupuk matanya. Cairan bening yang keluar dari mata Tenten semakin deras ketika lelaki itu mencium mesra gadisnya setelah mereka rasa tidak ada siapa pun berada di sekitarnya. Sang gadis juga terlihat membalas kecupan lelakinya tanpa ada perlawanan sedikit pun.
Perlahan Tenten beranjak dari duduknya ke posisi berdiri. Meski kakinya begitu lemas hingga saat ini, ia harus tetap memaksa kakinya untuk menopang berat tubuhnya agar ia bisa segera pergi dari tempat ini. Setelah dirasa cukup kuat untuk berdiri, dengan langkah gontai, Tenten meninggalkan dua manusia itu yang belum melepas bibir mereka satu sama lain. Tidak ada lagi alasan untukknya berada di tempat itu lebih lama. Ia berharap ada seseorang di sampingnya untuk meminjamkan bahunya. Namun, yang harus Tenten ingat adalah, satu-satunya orang yang akan selalu melakukan hal itu ketika ia sedang terpuruk adalah saudaranya. Tapi apa mau di kata ? Tempatnya bersandar telah benar-benar mengkhianatinya di depan matanya. Siapa lagi yang akan menggantikkan posisinya di saat seperti ini ?
oOo
Supir pribadi keluarga Umino yang setiap harinya mengantar Sakura dan Tenten kemana pun dua gadis itu mau, telah menyalakan mesin mobilnya ketika ia mendengar bel pulang sekolah berbunyi. Setelah menunggu beberapa menit, salah satu majikan mudanya telah menampakkan batang hidungnya dan tengah berlari kecil menghampiri mobil. Setelah sampai di depan pintu mobil, gadis itu lalu membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalamnya.
"Sakura-sama di mana Tenten-sama ?" Tanya sang supir.
"Aku juga tidak tau Jiisan. Tapi bisakan kita berangkat sekarang ? Aku sudah hampir terlambat latihan Karate." Tenten terlihat gusar.
"Ta..tapi, biasanya kita menunggu Sakura-sama ?" Dahi sang supir berkerut.
"Aku tau, tapi…."
"Hai semua. Maaf aku terlambat." Sakura tiba-tiba masuk sembari menampakkan senyumnya.
Tenten memandang jijik pada gadis di sampingnya. Apa dia tidak punya malu ? Bagaimana bisa gadis itu tersenyum di hadapannya seperti itu tanpa ada rasa bersalah sedikit pun tampak dari raut wajahnya. Pikiran seperti itu lah yang muncul di benak Tenten ketika Sakura duduk manis di sampingnya.
Cklek…
Tenten membuka pintu mobil kasar dan melangkah keluar dari mobilnya meninggalkan Sakura dan Tayuya yang kebingung melihat tingkah aneh Tenten.
Sakura keluar dari mobil dan berlari menghampiri saudaranya yang sudah berjalan jauh meninggalkan dirinya. Gadis pink itu segera membalikkan badan Tenten ketika ia berhasil menggapai tangan kanan gadis bermata hazel itu.
"Kau kenapa Panda ?" Sakura mengerutkan dahinya bingung.
"Cih, Masih pantas kah kau memanggilku Panda, Sakura ?!" Tenten mengeluarkan suaranya dingin dan menghentakkan cengkeraman tangan Sakura.
Sakura terbelalak mendengar balasan dari Tenten. Dan yang lebih membuatnya terkejut, ketika gadis itu memanggilnya 'Sakura'. Andai dahi Sakura adalah secarik kertas, mungkin sekarang kertas itu sudah lecek tidak berbentuk. "Apa kau seperti ini karenaku ?" Sakura menatap Tenten.
"Bukankah kau siswi cerdas di sekolah ini ? Kau bisa memikirkannya sendiri bukan ?!" Tenten melangkah kasar menjauhi Sakura
oOo
Sudah tidak terhitung lagi berapa kali pukulan yang Tenten hujamkan ke sebuah samsak tinju di salah satu ruangan yang masih satu gedung tempat dia berlatih Karate. Tidak peduli perih yang sesungguhnya ia rasakan ketika kedua tangannya berkali-kali memukul benda karet berisi dua puluh lima kilogram pasir itu. Jika atlet tinju biasa menggunakan sarung tinju agar mereka tidak terluka, namun Tenten tidak. ia hanya menggunakan balutan kain yang di lilitkan di telapak tangannya yang bahkan ketebalannya tidak sampai satu centi. Titik-titik darah mulai keluar melalui pori-pori tangan Tenten, namun hatinya jauh lebih sakit di banding kedua tangannya yang mulai memerah. Helaian rambut Tenten yang ia ikat setinggi mungkin juga mulai turun karena hentakkan dan keringat yang muncul di dahi, kepala, dan tengkuknya. Tidak peduli berapa liter tubuhnya menghasilkan keringat, gadis itu terus saja menghujamkan pukulannya pada benda padat yang tergantung di tiang baja setinggi sekitar tiga meter dan tebal dua puluh centi meter itu hingga rasa kecewanya yang teramat sangat sedikit berkurang, setidaknya. Sampai kapan pun, ia tidak akan pernah menyerahkan Neji begitu saja. Ia harus memiliki Neji bagaimana pun caranya meski harus mengorbankan seorang Sakura. Dan tekad itu sudah tertanam di hati Tenten. Apakah ini balasan yang harus ia terima atas semua kebaikan yang telah ia lakukan pada gadis pink itu ? Apakah ikatan saudara antara dirinya dan Sakura selama ini hanyalah kedok untuk menutupi sebuah kebusukan ?
"Terbuat dari apa otak gadis itu ?!" Tenten mengayunkan tangannya sekencang mungkin. Ia terkejut ketika samsak di hadapannya tiba-tiba naik bersamaan di saat tangannya tinggal beberapa centi hendak memukul. Karena tenaga yang ia keluarkan cukup besar, ketika samsak itu naik, ia hampir saja tersungkur ke lantai jika tidak ada tangan kekar menahan berat tubuhnya. Nuansa kuning yang di tangkap oleh indra pengelihatan gadis itu sudah cukup meyakinkan dirinya siapa orang yang dengan sengaja menaikkan samsak dan menahannya.
"Sudah cukup kau menyakiti dirimu sendiri." Katanya menegakkan tubuh Tenten di dekapannya.
Tenten memutar bola matanya malas dan berusaha menekan kembali tombol merah yang ada di tiang baja di hadapannya. Dengan sigap Deidara menutup tombol itu dengan tangan kirinya. Lelaki itu menatap Tenten agar gadis itu berhenti melakukan hal bodoh semacam itu. Tenten memutar bola matanya malas dan berjalan gontai ke tempat dimana ia melemparkan tasnya begitu saja ketika ia masuk ke ruangan itu.
Ia duduk di samping tasnya kemudian mengambil sebotol air dan meneguk isinya hingga meninggalkan setengahnya. Lelaki berambut kuning itu duduk di samping Tenten dan menatap lemah pada gadis itu. Perlahan Deidara menggapai tangan kanan Tenten dan melepas lembut kain yang masih melekat di telapak tangan gadis itu. Tenten merintih kecil ketika kain yang membalut tangannya di lepas oleh Deidara. Setelah berhasil lepas, Deidara membalut tangan Tenten dengan kain yang sudah ia rendam dengan air es sebelumnya. Rasa lega Tenten rasakan ketika kain dingin itu membalut tangannya. Tak butuh waktu lama setelah tangan kanannya terbalut kain, entah sadar atau tidak, Tenten meletakkan kepalanya di atas bahu Deidara. Kini giliran kain di tangan kirinya yang Deidara lepas, kembali rintihan kecil keluar dari mulut Tenten. Mungkin karena perih yang bagaikan sengatan,hingga Tenten harus memejamkan matanya erat untuk menahan rasa sakit.
Deidara menggeser baskom berisi air es ke sampingnya dan melihat gadis di sampingnya memejamkan matanya. "Kenapa kau tidak bilang kalau kau membutuhkan tempat untuk bersandar ?" Deidara tersenyum kecil melihat gadis itu sudah berada dalam alam mimpinya ketika hampir sepuluh menit ia merawat luka di kedua tangan Tenten.
oOo
Tenten masih terlelap dalam dekapan Sasori yang kini membopong tubuhnya menuju mobil. Deidara membantu pemuda berambut merah itu membuka pintu mobil di sebelah kemudi.
"Apa aku bisa mempercayaimu ?" Deidara menutup pintu mobil Sasori setelah lelaki berambut merah itu membaringkan Tenten.
"Aku akan membawanya pulang dengan selamat. Kau tenang saja." Sasori menepuk bahu Deidara pelan.
"Huh, andai aku tau rumahnya, tidak akan aku melewatkan kesempatan ini." Deidara berkacak pinggang.
"Kesempatan apa ? Kau ingat, aku pernah mengatakanmu padamu kalau di sudah di jodohkan dengan laki-laki lain?" Sasori melipat tangannya di depan dada.
"Hn, tapi bukankah masih ada kesempatan untukku. Toh, dia belum menikah." Kata Deidara santai sembari menaikkan kedua bahunya.
"Kesempatan mungkin, tapi yang harus kau ingat, adalah para pesaingmu yang juga berlomba mendapatkan hati gadis ini. Meski tomboy, tapi lelaki yang menyukainya di sekolah tidak dapat di hitung dengan sebelah tangan." Sasori memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Apa kau termasuk lelaki yang harus aku singkirkan ?" Deidara menggoda Sasori.
"Maaf Senpai, tapi kurasa itu adalah urusan pribadi. Sampai besok," Sasori berlari kecil menuju pintu kemudi dan masuk kedalamnya.
Deidara tidak melepas pandangannya dari mobil Sasori yang melesat keluar dari area gedung olahraga. "Jika benar kau adalah salah satu di antara mereka, mungkin persaingan ini akan berjalan lebih seru dan menantang." Deidara tertawa renyah.
oOo
Sudah berkali-kali fokus Sasori beralih ke arah dua tangan kecil yang terbalut kain putih dengan bercak darah yang tidak begitu pekat warnanya. Sebelum mobilnya masuk ke komplek perumahan Tenten, Sasori memutuskan untuk terlebih dahulu menghentikan mobilnya di tempat parkir pada salah satu rumah sakit agar tangan gadis itu mendapat perawatan yang lebih layak. Dua tangan kekar Sasori kembali membopong Tenten ke ruang UGD untuk mendapatkan perawatan suster. Beruntung gadis itu masih terlelap di dalam alam mimpinya. Jika tidak, mungkin kini ia akan mendapat bogem mentah dari gadis ini karena sudah berani menyentuhnya.
Miris. Itulah yang Sasori rasakan ketika suster membuka lilitan kain itu dan mendapati kulit yang terkelupas di setiap ujung tulang jarinya yang ia pakai untuk memukul. Dua orang suster secara bersamaan mengguyur luka Tenten dengan alkohol agar steril dan membunuh bakteri yang siapa tau bersarang di sana. Seketika Tenten membuka matanya ketika ia rasa ada sengatan yang menyerang kedua tangannya. Gadis itu berontak hendak keluar dari ruangan ini saat ia sadar ia berada di rumah sakit. Dengan sigap Sasori menahan kedua bahu Tenten dan sedikit memberikan penekanan di bagian yang ia sentuh agar Tenten tidak semakin berontak.
oOo
Dua manusia tengah duduk di sebuah bangku yang terletak di salah satu taman di tengah kota. Seorang gadis bermata hazel hanya menatap kosong ke arah hamparan rumput hijau yang mulai meninggi. Sedangakan lelaki berambut merah di sebelahnya hanya menatap heran pada gadis di sampingnya. Keduanya sama sekali tidak terlibat perbincangan. Hanya keheningan yang menyelimuti mereka berdua.
Sasori sebenarnya penasaran dengan gadis di sampingnya. Apa yang membuat gadis yang setiap harinya begitu ceria, tiba-tiba murung. Jika ada sesuatu yang bisa ia lakukan agar gadis itu kembali, dengan senang hati dia akan melakukan apa yang gadis itu inginkan.
"Kenapa…." Tenten mulai membuka mulutnya. Sasori memalingkan wajahnya pada gadis itu. "Kenapa kau peduli padaku?" Tenten melanjutkan kata-katanya.
"Apa yang kau bicarakan?" Sasori mengerutkan dahinya.
"Apa kau mau membantuku jika seandainya aku membutuhkan bantuanmu?"
"Te..tentu saja. Apa yang kau mau?" Pemuda itu sedikit menggeser duduknya mendekati Tenten.
Setitik air mata jatuh bebas dari pelupuk mata gadis itu. Tenten memalingkan wajahnya dan menatap Sasori, "Bawa aku pergi, jauh dari sini."
Hehehe, yg klo mkin ancur, silahkan ksih pndapat klian lwat review ne :p Tpi ksian bnget ya si Tenten? Klo Author jdi Tenten, udah Author botakin itu yg nma'y Sakura :D Yaudah minna, Author pamit dlu ne. Sampai jumpa di chapie depan :*
