Author is back :D Kalian bkal tau alasan Author ngaret kalo baca fic Give Me Your Heart milik Author :D Maaf bnget kalo nunggunya kelamaan. Dan maaf bgt kalo chpie ini terlalu pendek T_T

Review: Akira Ken: Huhu.. iya maafkan Author ini ya Akira. Sebisa mungkin Author curi wktu buat update nih T_T Pas bget.. chapie ini di dominasi oleh SasoTen looooh (: Selamat membaca.

Guest: Okeh… bkal bkin fic pair itu lagi kok. Kalo idenya udah nongol di otak bebal Author ini :D

Dwi2: Haah… kawin lari? Ya enggaklah… Kan Tenten masih sekolah? Tega bner Sasori bawa Tenten kawin lari :D

Yuris: Maaf kalo Yuris ampe lumutan :D Sini, biar author panggilin Gary.. Biar lumutnya di mkan :D Emang… Sakura tuh gk tau terimakasih. Tapi hanya di fic ini. Kalo aslinya mah dia tangguh dang k mudah nyerah. Meskipun sikapnya ke Naruto yg bkin Author kdang bête sama dia :D Jangan di buang ke laut dong.. ke rumah author ajah :D

Guest: Udah di lanjut. Selamat membaca (:

Goodboy: Udah di lanjut. Makasih juga udh kasih review. Udah nih… pake semangat perang :D

Browneyes: Hehe.. syangnya fic ini gak bia di ajak nikah yah :D #plakk… :D Mkasih udh berkunjung (:

Udah selesai. Silahkan dibca. Jangan sampe gumoh yah minna :D

Beberapa orang yang kini berada di ruang tamu rumah keluarga Umino tengah di landa kecemasan. Dan semua itu di karenakan, salah satu anak gadis pasangan Iruka dan Akane yang masih belum pulang hingga selarut ini. Terlebih seorang gadis berambut pink dan bermata emerald, yang kini hanya bisa menggigit ibu jarinya menanti kepulangan saudaranya. Berkali-kali Akane dan Sakura mencoba menghubungi gadis itu. Tapi apa yang mereka lakukan tidak menghasilkan apapun. Gadis itu tidak mau menerima telepon dari Sakura ataupun Ibunya. Bahkan sempat ketika Sakura mencoba menghubungi lagi untuk yang kesekian kalinya, ponsel saudaranya itu tidak aktif. Dengan kata lain, gadis itu sengaja mematikan ponselnya. Yang jadi pemikiran Sakura saat ini adalah… Apa yang sebenarnya terjadi pada Tenten? Kenapa sampai selarut ini dia belum pulang juga? Dan yang semakin membuatnya bingung adalah, sikap gadis yang biasa ia panggil Panda itu. Kenapa sikapnya yang selalu ramah, berubah seketika menjadi dingin? Selama ia mengenal Tenten, baru kali ini ia melihat Tenten semarah itu. Sedikit pemikiran yang menganggangunya. Atau jangan-jangan, dia mengetahui sesuatu?

"Sakura… Apakah dia sudah menjawab panggilanmu? Hingga selarut ini dia belum juga pulang. Kaasan sangat khawatir padanya." Kata Akane terlihat gusar.

"Tenang Kaasan… Aku yakin dia baik-baik saja. Tidak ada seorangpun yang mau berurusan dengan Tenten jika mereka masih ingin hidup." Sakura tertawa samar sembari mengelus bahu Ibunya lembut.

"Semoga saja." Kata akane lemah.

"Sakura.. kapan kau terakhir bertemu dengan Tenten?" Tanya Iruka duduk di samping Sakura.

"Tadi siang. Dan saat itu…." Sakura memutus kata-katanya. Ia bingung, harus mengatakan tentang hal yang baru saja di alaminya atau tidak.

"Kenapa kau berhenti?" Tanya Iruka.

"Ah… Tidak. Maksudku… Saat itu dia terlihat baik-baik saja." Balas Sakura cepat.

"Lalu kenapa dia tiba-tiba menghilang?" Iruka memalingkan wajahnya ke arah lain.

"A..aku akan mencoba menghubungi teman-temanku. Siapa tau di ada di sana." Sakura bernajk dari duduknya. Gadis bermata emerald yang baru saja menjauh dari Ayah dan Ibunya terlihat melakukan sesuatu pada ponsel di tangannya.

Berkali-kali ia menekan tombol yang ada di sana. Dan sesaat setelahnya, ia menempelkan ponsel tersebut pada telinganya. Ia menggigit ibu jarinya cemas sembari menunggu jawaban dari seseorang yang ia hubungi. Tak butuh waktu lama, seseorang di seberang sudah menjawab panggilan Sakura.

"Neji… Apa Tenten sedang bersamamu sekarang?" Kata Sakura berbisik.

"Kau ini bicara apa Sakura? Tentu saja tidak. Untuk apa aku dan Tenten bersama selarut ini?"

"Lalu kemana dia? Sampai sekarang ini dia belum pulang. Apa yang harus aku lakukan?"

"Kau tenang saja. Aku akan mencoba mencarinya. Aku akan menghubungimu jika aku menemukannya… Jangan khawatir.. dia pasti baik-baik saja."

"Terimakasih Neji." Lirih Sakura.

"Tidak masalah Sakura…. Ehm, aku mencintaimu."

"Aku juga." Guratan merah muncul di kedua pipi Sakura.

oOo

Sasori menghentikan mobilnya di sebuah parkiran supermarket 24 jam yang jaraknya cukup jauh dari rumah Tenten. Pria itu masih asik dengan sebotol minuman ringan yang ada di tangannya sembari menatap Tenten yang sejak tadi menutup mulutnya tanpa berkata apapun. Jujur, ia sendiri bingung dengan gadis ini. Berkali kali ia berusaha menghibur Tenten, tetap saja, gadis ini tidak mau membuka mulutnya. Bahkan terkesan tidak peduli. Pria berambut merah itu menghela nafas panjang sembari memainkan botol minuman di tangannya. Kedua matanya ia arahkan ke luar jendela. Melihat jalan raya yang biasanya ramai oleh para pejalan kaki dan pengendara mobil maupun motor, kini sudah terlihat sepi. Hanya beberapa mobil yang melintas di jalan raya itu.

Tenten meletakkan siku kanannya pada jendela mobil dan menggunakan telapaknya untuk menyangga kepalanya. Ia menghisasi wajah cantiknya dengan lelehan air mata yang sejak tadi tak kunjung berheti. Ia sendiri juga tidak tau kenapa air matanya tidak dapat berhenti. Yang ia tau dan ia pahami sampai saat ini adalah, saudaranya yang sudah mengerti dirinya luar dan dalam, tega menghianatinya. Jika ia bisa memilih, mungkin ia akan lebih memilih kakinya patah. Daripada harus merasakan sakit hati yang di akibatkan oleh saudaranya sendiri. Sangat sakit. Hingga ia tidak bisa mendeskripsikan rasa sakit yang ia alami.

Sebuah tangan menyodorkan sebungkus roti pada Tenten. Mata gadis itu otomatis segera lari ke arah roti tersebut. Sedetik kemudian, ia kembali memalingkan wajah pada Sasori.

"Kau belum mengisi perutmu sama sekali sejak tadi siang. Aku hanya khawatir kau sakit." Sasori menatap Tenten dengan tatapan teduh miliknya.

"Aku tidak butuh." Tangan kanan gadis itu menjauhkan roti di hadapannya dan kembali ke posisi awal.

"Jika kau membutuhkan seseorang untuk berbagi lukamu, dengan senang hati aku akan menjadi orang tersebut."

"Apa aku bisa mempercayaimu?" Tenten kembali memalingkan wajah pada Sasori.

"Tentu saja." Sasori menaikkan kedua alisnya.

Tenten mengehela nafasnya berat. Kedua tangannya menyeka air mata yang mengalir di kedua pipinya. Setelahnya, ia menggunakan tangan kirinya untuk melepas sabuk pengaman yang sejak tadi melekat padanya. Ia juga sedikit memutar tubunya ke kiri agar ia bisa lebih leluasa menceritakan semuanya pada pria di sampingnya.

"Apa yang akan kau lakukan jika seandainya… saudaramu menghianatimu?" Gadis itu bertanya dengan suara yang terdengar parau.

"Aku tidak tau. Karena aku anak tunggal di keluargaku." Jawab Sasori apa adanya.

"Sepertinya aku bercerita pada orang yang salah." Tenten menatap Sasori malas dan kembali ke posisinya.

"Baiklah, aku akan menjawab… Tergantung. Dalam hal apa itu. Jika itu menyangkut bisnis, mungkin aku akan memaafkannya. Jika menyangkut soal…."

"Cinta?" Sela Tenten menatap manik mata Sasori.

"Ci..cinta?" Lirih Sasori gagap.

"Ya. Apa yang akan kau lakukan jika hal itu terjadi padamu?" Tanya Tenten sekali lagi.

"Mungkin rasa sakit yang aku rasakan tidak dapat lagi aku ungkapkan dengan kata-kata. Dan mungkin, aku lebih memilih mati daripada merasakan rasa sakit itu." Sasori menundukkan wajahnya.

"Awalnya aku juga berpikir untuk mengakhiri hidupku. Bagiku, kenyataan akan kematian lebih bisa kuterima, daripada harus menerima kenyataan bahwa saudaraku sendiri telah menghianatiku." Lagi-lagi air mata Tenten yang berusaha ia tahan di pelupuk matanya, jatuh bebas membasahi jok mobil Sasori.

"Jangan bilang….."

"Yah. Gadis itu menusukku dari belakang. Dia menghianatiku dan kau. Dia memiliki hubungan spesial dengan Neji. Dengan mudahnya dia bersikap baik padaku untuk menutupi semua kebusukannya! Mereka berdua bahkan bermesraan tepat di depan mataku! Padahal selama ini aku selalu baik padanya! Apapun yang kumiliki, aku juga mau dia memiliknya! Semampuku aku juga berusaha melindunginya! Aku menyayanginya, aku mencintai dia bahkan melebihi aku mencintai diriku sendiri! Aku juga tidak mau melihat siapapun menyakitinya termasuk kau! Kenapa dia melakukan ini padaku?! Apa yang salah dengan semua perlakuanku padanya hingga dia…."

Greb..

Sasori tidak ingin mendengar apapun lagi dari mulut gadis itu. Ia tidak ingin melihat Tenten berteriak lebih dari ini. Sudah cukup jelas baginya untuk memahami perasaan gadis ini dengan mendengar sekelumit cerita dari bibir Tenten. Rasa sakit yang awalnya hanya di rasakan oleh Tenten, kini mulai menjalari dirinya. Kedua lengannya yang memeluk tubuh Tenten semakin ia eratkan. Tangan kanannya perlahan mengelus bahu gadis itu di balik tangisnya. Sebisa mungkin Sasori ingin membuat Tenten tenang di pelukannya. Berharap gadis ini bisa sedikit menekan emosinya yang tadi sempat memuncak.

"Kenapa dia melakukan ini padaku?" Kata Tenten terisak.

"Mungkin karena Sakura belum mengetahui apa arti saudara sesungguhnya. Jika saja ia menyayangimu seperti kau menyayanginya, ia tidak akan melakukan hal seperti itu. Meskipun aku bukanlah seorang wanita, tapi aku sangat memahami perasaanmu."

"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Tenten.

"Hanya kau yang tau apa yang harus kau lakukan. Kendalikan dirimu, tenangkan sedikit pikiranmu, dan cobalah untuk berpikir lebih jernih. Jangan pernah kau berpikiran untuk mengakhiri hidupmu. Hidupmu jauh lebih berharga daripada laki-laki itu."

"Mudah untuk mengatakannya. Pada kenyataanya, hingga saat ini, untuk melupakan kemesraan mereka berdua saja aku tidak sanggup. Apalagi untuk melupakan masalah ini."

"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk melupakan masalah ini. Aku hanya memintamu untuk sedikit menenangkan dirimu." Sasori melepas pelukannya dan mentapa gadis di hadapannya.

"Caranya?" Tanya Tenten dengan polosnya.

oOo

Iruka yang sejak tadi menunggu Tenten pulang, sudah terlelap di atas sofa ruang keluarga. Begitu juga dengan Akane yang sudah tertidur di pangkuan suaminya. Berbeda dengan Sakura. Berkali-kali ia mondar-mandir kesana kemari sembari sesekali menengok jam dinding yang letakknya tidak begitu jauh dari tempatnya berada. Sudah pukul 2 pagi. Tapi gadis panda itu belum juga menampakkan batang hidungnya di hadapan Sakura. Rasa khawatir akan keadaan gadis itu semakin ia rasakan. Di tambah ia belum juga menerima telefon dari Neji yang juga membantu mencari gadis itu.

Namun di balik itu semua, hingga sekarang ia belum menemukan jawaban dari pertanyaan yang muncul begitu saja di otaknya sejak tadi. Kenapa Tenten bersikap sekasar itu padanya tadi siang? Seingatnya, pagi ini dia tidak melakukan hal apapun yang menyakiti hati Tenten. Ia bahkan sempat bersenda gurau dengan gadis itu selama perjalanan menuju sekolah. Saat di kantin, ia juga masih ingat, gadis itu meminta trakiran makanan padanya seperti yang biasa Tenten lakukan. Lalu kenapa Tenten yang ceria, tiba-tiba menjadi Tenten yang dingin. Bukan Tenten seperti yang di kenal Sakura selama ini.

Tiin…

Klakson mobil seseorang membuyarkan semua pikiran Sakura begitu saja. Mata emerald gadis itu segera berpaling ke salah satu jendela di ruang keluarga yang mengarah langsung ke halaman depan. Tak berapa lama, cahaya menyilaukan mulai memasuki pekarangan keluarga Iruka sesaat setelah penjaga rumah membuka pagar besi berwarna hitam yang melindungi rumah ini. Tanpa banyak bicara, Sakura segera berlari ke pintu dan menghampiri pengendara mobil tersebut yang kini menghentikan mobilnya tepat di teras rumahnya.

Mata Sakura seolah sedang membohongi dirinya sendiri ketika ia melihat seorang lelaki bertubuh tegap, berambut merah keluar dari mobil tersebut. Laki-laki itu berlari kecil ke arah pintu di sisi yang lainnya. Kedua tangannya kembali ia masukkan ke dalam mobil seolah sedang melakukan sesuatu yang tidak Sakura ketahui. Beberapa detik setelahnya, seorang gadis berambut cokelat keluar dari mobil dan perlahan berjalan menjauhi mobil tersebut. Sakura merasa seseorang menepuk bahu kanannya. Membuatnya terpaksa harus memalingkan wajah. Ia mendapati kedua orang tuanya sudah berdiri di belakangnya sembari menatap dua manusia di dengan ekspresi campur aduk. Namun yang paling mendominasi adalah rasa senang ketika melihat anak gadisnya pulang dengan selamat. Tapi tidak sedikit pula perasaan bingung ketika melihat Tenten bersama dengan Sasori.

"Tenten, syukurlah kau baik-baik saja. Kami semua sangat mengkhawatirkanmu." Akane berlari kecil dan memeluk Tenten.

"Aku baik-baik saja Kaasan. Kalian tidak perlu khawatir." Kata Tenten lirih.

"Aku membutuhkan jawaban yang masuk akal dari kalian berdua." Iruka menatap Tenten dan Sasori bergantian dengan dahi berkerut.

"Jangan malam ini Tousan. Aku sangat lelah. Sasori juga. Kita bicarakan besok pagi saja. Intinya.. berkat dia aku bisa kembali kerumah. Iya kan, Sasori?" Tangan kanan Tenten menepuk pelan lengan kiri Sasori.

"Aku?" Lirih pria itu bingung.

Tap..

Tenten menginjak kaki kiri pria itu sembari mendekatkan sedikit tubunya pada Sasori. "Katakan saja iya jika kau tidak mau masalah ini menjadi panjang!" Bisik Tenten meringis kecil dan pada akhirnya ia menanggukan kepalanya meng-iya-kan perkataan Tenten.

Ekspresi dingin yang nampak di wajah Iruka, perlahan mulai kembali seperti semula. Matanya yang tadi menatap Sasori, kini beralih pada Tenten yang terlihat sangat lelah dan kacau. Pria itu sedikit memicingkan mata ketika ia melihat kantung mata di bawah kelopak mata anak gadisnya. Yang ia lakukan hanyalah mengehela nafasna panjang ketika melihat anaknya yang menatap dirinya seolah tidak ada dosa apapun yang di lakukannya.

"Mandilah dan cepat istirahat. Kau sangat membutuhkannya." Kata Iruka berkacak pinggang.

Tenten mengangguk kecil dan berjalan gontai menjauhi Sasori. Kedua matanya menangkap sosok gadis berambut pink berdiri di hadapannya dengan senyuman manis yang membuat Tenten semakin muak. Gadis pink itu berjalan selangkah hendak memeluk saudaranya. Namun belum hal itu terjadi, kedua tangan Tenten sudah terlebih dahulu menepis tangan Sakura yang akan menggelayuti tubuhnya. Tatapan tajam yang Tenten lemparkan pada gadis itu seolah berkata 'Aku akan mematahkan kedua tangannmu jika kau berani menyentuhku!' Tentu saja semua orang yang ada di sana, kecuali Sasori, di buat bingung melihat sikap Tenten pada Sakura yang berubah dingin. Kembali gadis itu berjalan menghindari Sakura yang berdiri di depannya dengan tanda tanya di kepalanya.

Baru beberapa langkah ia berjalan, Tenten kembali menghentikan langkahnya dan sedikit memalingkan wajah pada Sasori yang masih berada di belakangnya. Seulas senyum Nampak di bibir Tenten.

"Terimakasih untuk hari ini. Dan satu hal dariku yang harus kau lakukan… Jangan minum soda saat malam hari. Itu tidak bagus untuk kesehatanmu."

.

.

.

.

.

.

Jam weker yang berada di atas laci sebelah tempat tidur Tenten, sejak tadi berbunyi. Bunyi nyaring dari jam weker yang sangat memekakan telinga, tidak lantas membuat gadis itu bangun dari tidurnya. Yang gadis itu lakukan hanyalah menutupi kedua telinganya menggunakan bantalnya dan kembali terlelap. Jangankan untuk bangun dan pergi ke sekolah, untuk mematikan jam wekernya saja ia tidak sanggup. Matanya terasa angat berat, seolah ada sesuatu yang mengganjal hingga ia tidak bisa membuka matanya.

Brak…

"Sampai kau akan tidur Tenten Umino?" Akane yang membanting pintu kamar Tenten langsung masuk dan menyibakkan selimut anak gadisnya.

"Kaasan, kau sangat bersik!" Gadis itu merebut kembali selimutnya dan kembali tidur.

"Ini sudah siang. Apa kau tidak sekolah?!" Kata Akane kembali menyibakkan selimut Tenten.

"Tidak untuk hari ini Kaasan. Aku sangat lelah. Aku merasa sedang tidak enak badan." Tubuh gadis itu sedikit mengigil.

"Itu salahmu sendiri. Kenapa kau pulang semalam itu." Suara Akane sedikit melemah. Punggung tangannya menyentuh dahi Tenten. Sesaat kemudian, dahinya berkerut. "Kau terlihat baik-baik saja. Suhu tubuhmu normal."

"Memang suhu tubuhku tidak naik, tapi seluruh badanku terasa sangat pegal. Yang kubutuhkan hanya istirahat Kaasan. Kumohon, untuk hari ini saja." Tenten menampakkan wajah melasnya. Beraharap ibunya luluh dan mengizinkannya untuk membolos.

"Hm, baiklah. Tapi… hanya untuk hari ini. Ingat!" Akane menatap tajam Tenten.

"Baiklah Kaasan, kau sangat mengerti diriku." Kata Tenten sesaat dan kembali membanting dirinya kemudian kembali terlelap.

Akane kembali turun dan mendapati anak gadisnya yang lain berdiri di depan pintu rumah. Kedua tangan gadis itu di lipat ke depan dan menyandarkan sedikit tubuhnya pada kusen pintu. Matanya memandang jauh ke halaman rumah sembari sesekali menghela nafas berat. Akane merasa ada yang tidak beres dengan kedua anaknya. Sangat jelas terlihat dari raut wajah Sakura yang sedikit lesu. Terlebih ketika ia melihat adegan singkat ketika Tenten menolak di peluk oleh Sakura malam tadi. Tangan kanan Akane di letakkan di atas bahu Sakura membuat gadis itu membalikkan badannya.

"Dia sedang membutuhkan istirahat. Ia membutuhkan waktu untuk mengistirahatkan fisik, pikiran, dan juga hatinya." Kata Akane halus.

"Apa dia sakit?" Sakura menatap lemah ibunya.

"Kenapa kau tidak mencoba untuk mencari tau?"

"Aku dan Tenten sedang…"

"Kaasan tau. Jangan terlalu di pikirkan. Kaasan yakin, ini tidak akan berlangsung lama. Seperti biasanya, hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 hari, kalian pasti akan kembali seperti sebelumnya."

'Aku harap juga begitu. Tapi kenapa untuk yang kali ini, aku merasa akan jauh lebih berat?' Sakura menatap nanar ibunya.

oOo

Dua bola mata seorang lelaki menatap nanar berkas-berkas di atas mejanya. Pria itu memijat kecil pelipisnya, mencoba untuk menghilangkan stress yang menyerangnya. Kedua kakinya ia naikkan dan meletakkan keduanya di ujung meja. Punggungnya ia sandarkan pada sandaran kursi sembari memikirkan suatu hal yang paling tidak bisa membuatnya sedikit rileks. Salah satu tangannya menggapai ponsel miliknya yang juga berada di atas meja. Beberapa kali setelah jarinya menekan layar ponselnya, matanya kembali berbinar. Ia tidak dapat melepas matanya dari sebuah foto wajah seorang gadis lengkap dengan semu merah di kedua pipinya. Ia tertawa kecil kemudian kembali meletakkan ponselnya.

Tok..tok..

Seseorang mengetuk pintu ruangan Sasori. Tak lama seorang wanita dengan setelan rapi menampakkan dirinya di hadapan Sasori dan berkata,

"Maaf jika saya menganggu Pak, tapi ada seorang gadis yang ingin bertemu dengan anda."

"Siapa?" Tanya Sasori singkat.

"Entahlah, saya juga tidak tau. Tapi dia sedang menunggu di lobby. Dia bilang, akan menemui anda saat istirahat makan siang." Kata wanita itu apa adanya.

Mata Sasori melirik sekilas jam tangannya. 'Kurang 15 menit lagi.' Batinnya. Ia menaikkan kedua alisnya dan kembali melihat sekertarisnya yang masih berdiri di ambang pintu. "Katakan padanya untuk menemuiku sekarang. Aku menunggu."

"Baiklah." Balas wanita itu singkat.

.

Kembali, pintu ruangan Sasori terbuka. Suara decitan kecil dari pintu tersebut, membuat Sasori mau tidak mau harus memalingkan mata guna mengetauhi seseorang yang akan memasuki ruangannya. Pintu tersebut hanya terbuka sedikit, dan berhasil membuat Sasori sedikit bingung. Tak lama setelahnya, sebuah tangan yang membawa sesuatu, melesat masuk begitu saja. Kedua alis pemuda itu naik melihat benda itu.

Merasa pemilik tangan tak kunjung menampakkan diri, Sasori beranjak dari duduknya dan bermaksud untuk menghampiri orang tersebut. Sebelum ia berdiri dengan sempurna, tanpa ia duga...

"Hai.." Sapanya riang dan masuk ke dalam.

"Kau? A..apa yang kau lakukan di sini?" Jujur saja, Sasori sedikit terkejut melihat kehadiran Tenten di kantornya.

"Tidak ada. Aku hanya ingin memberimu ini." Kata Tenten meletakkan tas bekal di atas meja Sasori.

"Kau membolos sekolah hanya untuk mengantar ini padaku?" Tanya Sasori tidak percaya.

"Jangan sok tau. Aku memang sedang tidak enak badan pagi ini. Maka dari itu aku tidak masuk sekolah." Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada sembari menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruangan.

"Jika kau sakit, bagaimana caranya kau bisa kemari?" Pria itu melipat kedua tangannya sembari membusungkan dada.

"Yah, sebenarnya aku tidak sakit. Aku hanya membutuhkan sedikit istirahat." Tenten menaikan kedua bahunya santai.

"Terserah kau saja." Sasori memutar bola matanya pasrah.

"Kau cukup rapi untuk ukuran seorang pria yang belum dewasa." Gadis itu memanggut-manggutkan kepalanya melihat seluruh isi ruangan Sasori.

"Apa kau mengejekku?"

"Tidak. Aku hanya mencoba untuk jujur." Kata Tenten jujur.

"Apa aku bisa membukanya sekarang?" Jari telunjuk Sasori mengarah pada tas bekal yang di bawa Tenten.

"Silahkan. Aku membuatnya untukmu. Tentu saja kau boleh memakannya." Kata Tenten duduk di atas sofa berwarna aba-abu yang letakknya tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Kau yang membuatnya?" Tanya Sasori tidak percaya.

"Kenapa? Apa kau meragukanku? Meski aku tomboy, tapi darah wanitaku masih mengalir dengan baik." Cibir Tenten.

"Apa yang terjadi hingga kau berpikir untuk membuatkanku ini?"

"Aku hanya berusaha untuk bersikap baik padamu yang sudah membuatmu merasa lebih baik." Jawab Tenten apa adanya.

"Apa kau yakin tidak ada maksud yang lain?" Goda pria itu.

"Jangan bicara yang tidak-tidak. Makanlah selagi hangat. Sayang jika makanan seenak itu harus di buang."

"Hmh, kita buktikan saja. Apakah kemampuan memasakmu setara dengan kemampuan Karatemu?" Sasori duduk di samping Tenten dan meletakkan makanannya di atas meja kaca di hadapannya.

"Aku berani bertaruh, kau akan ketagihan setelah memakan masakanku." Kata Tenten sombong. "Semoga aku tidak keracunan setelah makan ini." Sasori memejamkan matanya sembari memasukkan sesuap makanan ke dalam mulutnya.

"Bagaimana?" Tanya Tenten menatap Sasori.

"Aaaa…." Pria itu berteriak keras sembari memnggulingkan tubuhnya ke belakang. Kedua tangannya meremas keras lehernya seolah menahan sesuatu agar tidak masuk ke tubuhnya.

"Hei.. Kau kenapa? A..apa kau baik-baik saja." Tenten terlihat panik.

Tangan mungil gadis itu mengguncang tubuh Sasori. Namun lelaki itu terus saja menggulingkan tubuhnya dan berusaha melepas tangan Tenten dari tubuhnya. "Kau dengar aku? Hei.. ada apa denganmu?" Gadis itu menangkup kedua pipi Sasori agar pemuda itu melihatnya.

Sasori diam. Manik mata pria itu menatap setiap lekuk wajah Tenten. Ia mengerjapkan matanya kemudia berkata, "Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir."

Bukk..

Sebuah bantal terlempar begitu saja tepat di wajah Sasori. Tenten beringsut dari atas tubuh Sasori setelah ia melempari wajah pria itu dengan bantal yang baru saja ia gapai. Wajahnya terlihat dongkol. Semakin jelas ketika kedua telinganya mendengar tawa keras dari pria di sampingnya.

"Sangat lucu, hingga membuatku muak." Kata Tenten melempar wajah ke arah lain.

"Aku tidak pernah menyangka, ternyata kau bisa mengkhawatirkanku." Tawa pria itu mulai merada.

"Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku hanya takut kau mati. Dan jika kau mati, siapa lagi yang akan bertanggung jawab akan kematianmu jika bukan aku? Aku satu-satunya orang yang berada di sini."

Brakk…

"Sasori, apa yang terjadi? Aku mendengarmu berteriak." Gadis berambut pirang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.

"Baiklah, aku makin muak sekarang!" Tenten beranjak berdiri dan berjalan kasar meninggalkan Sasori.

"Hei, hei.. kau mau kemana?" Tangan Sasori menahan Tenten.

"Kemana saja asal tidak melihatnya." Kata Tenten dingin menatap tajam Ino.

"Aku juga tidak berharap kau ada di sini bocah!" Sergah Ino.

"Aku akan pergi bersamamu." Sasori menarik Tenten keluar.

"Kau mau kemana? Ini masih jam kantor." Ino sedikit berteriak.

"Ini sudah waktunya jam makan siang. Kau tidak berhak melarangku. Lagipula, kau bukan siapa-siapaku lagi. Jadi mulai sekarang, berhentilah mengatur hidupku."

"Aku berjanji akan berubah. Aku masih mencintaimu."

"Harusnya kau mengatakan itu dari dulu. Tapi kini, kata-katamu tidak lagi berarti untukku."

Maaf kalo terlalu pendek. Author bkal usaha'in chap depan lebih baik dan psti lebih pnjang dri chpie ini (: