Tell Me

Pair: SasoTen, NejiSaku

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

OOC, Gaje, Typo, Amburadul, dll

Don't like? You can press 'Back'

Hallo minna-san. Seperti biasa, kalo author udah nongolin hidung, itu artinya author seret chapie :D Oke, pertama2 Author minta maaf buat pada reader fic Tell Me ini soal nya ngaretnya hampir 3 bulanan. Maaf ya.. maaf banget. Oke, bales review masuk dulu ya (:

Akira ken: Haha,, ini lanjutannya lama :D Maap yah. Monggo di baca (:

Minna Jasmine: Huhuhu,, iya iya iya. Udah di lanjut. Maaf ya kalo nunggunya lama -,- Tapi pasti di lanjut kok (: Silahkan di baca.

Sekali lagi maaf atas kengaretan yang amat sangat ngaret ini. Dan maaf juga kalo ada typo2 bertebaran (: Happy read guys :*

Suara musik hip hop terdengar sangat kencang keluar dari sound mobil milik putra Akasuna tersebut. Sasori masih asyik berkonstrasi dengan jalanan di hadapannya sembari mengetuk-ngetukkan kedua jari telunjuknya pada kemudi mengikuti irama lagu dengan beat yang lumayan cepat. Sedangkan gadis di sampingnya masih berpangku tangan membuang muka ke arah jalan dan tak peduli pada apa yang ada di sekitarnya.

Kejahilan Sasori tadi yang berpura-pura keracunan membuatnya sebal. Di tambah lagi dengan pertemuannya dengan gadis berambut pirang yang tidak tau sopan santun itu, membuat moodnya semakin memburuk. Biasanya di saat seperti ini, Sakura ada moodboster baginya. Namun dengan keadaan yang ada, mustahil ia menghampiri gadis itu dan memintanya untuk menghibur dirinya. Kini, hanya dengan memikirkan Sakura sekilas saja sudah membuatnya ingin menendang semua yang ada di sekitarnya.

Tik..

Telunjuk putih gadis itu menekan sekilas tombol off pada stereo milik Sasori. Setelah bunyi musik berhenti, ia memalingkan wajah pada Sasori dengan bibir yang sedikit maju. Kedua matanya berkerut.

"Kau masih kesal dengan kejadian tadi?" Tanya Sasori menatap Tenten sekilas.

Tenten tidak menjawab. Ia membuang muka dan kembali pada posisi awalnya. Kedua tangannya ia lipat di depan dada sembari menampakkan wajah masam miliknya. Melihat perilaku Tenten dengan mood buruknya, Sasori lantas melesatkan mobilnya dan ia hentikan di tempat parkiran umum. Pria itu kemudian turun dari mobil dan menarik paksa gadis itu menuju toko roti di pinggir jalan.

"Paman, aku mau 6 kotak roti." Kata Sasori.

"Kau yakin bisa menghabiskan semuanya?" Tenten menatap pria itu ragu.

"Roti itu bukan untukku." Jawab Sasori singkat.

"Aku tidak lapar. Kau saja yang makan." Kata Tenten membuang muka.

"Itu juga bukan untukmu." Sasori mengedikkan kedua bahunya sembari tertawa renyah.

"Lalu?"

oOo

Selembar daun berwarna hijau segar jatuh tepat di atas pangkuan seorang gadis yang tengah duduk berdua dengan kekasihnya di sebuah bangku taman. Tangan gadis itu menyentuh permukaan daun sebelum angin kembali membawanya terbang jauh mengikuti arah angin.

"Bagaimana bisa dia bersama Sasori?" Suara bariton berat keluar dari bibir seorang pria di sampingnya.

Gadis tersebut menghela nafas panjang sembari menatap jauh ke depan. "Entahlah, dia tidak mau berbicara sedikitpun denganku. Mungkin, dia tau hubungan kita. Maka dari itu, dia mencoba menjauh dariku."

"Mungkin dia hanya lelah saat itu."

"Jika seandainya Tenten mengetahui ini semua, haruskah kita berhenti saat itu juga?" Tatapan lemah Sakura tampakkan pada Neji.

"Tentu tidak. Sebisa mungkin, aku akan berusaha mempertahankannya."

"Tapi aku tidak bisa. Tenten terlalu baik untuk kuhianati. Aku merasa, aku adalah manusia paling munafik di muka bumi ini. Dia sangat baik padaku, aku tidak tau apa yang akan di rasakannya ketika ia tau kenyataan tentang aku dan kau."

"Aku yang akan menjelaskan semuanya. Dia pasti mengerti." Tangan Neji menyibakkan helaian rambut Sakura yang menutupi sebagian wajahnya.

"Kenapa kau seyakin itu?" Tanya Sakura bingung.

"Karena aku tau Tenten lebih dari yang kau bayangkan Sakura."

oOo

Langkah kaki Tenten masih belum berhenti ketika Sasori masih saja mengenggam erat jemarinya dan membawanya ke suatu tempat. Sebisa mungkin gadis itu mengimbangi langkah Sasori yang cepat dan terhitung sangat lebar bagi seorang gadis seperti dirinya. Sedari tadi ia menyibakkan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya dan terkadang beberapa helai masuk kedalam mata akibat kuncir rambutnya yang tadi jatuh entah kemana dan ia tidak sempat mengambilnya karena pria ini tidak mau berhenti walau hanya sesaat.

"Sebenarnya kau mau membawaku kemana?" Teriak Tenten.

"Kita sudah sampai." Kata Sasori melepas genggamannya.

Mereka berdua berhenti di sebuah danau di tengah taman kota. Banyak orang yang menikmati suasana menjelang sore hari ini. Banyak di antara orang tesebut adalah anak-anak kecil bermain di sebuah arena bermain yang telah di sediakan. Sedangkan para remaja sebayanya, asik dengan skateboard mereka. Beberapa ada yang berjalan santai menikmati taman hijau yang sejuk di sini.

Tangan Sasori kembali menarik Tenten menuju sebuah bangku di bawah pohon tepat di pinggiran danau. Sasori di sibukkan oleh bungkus roti yang ada di genggamannya. Setelah terbuka, pria itu mencuil sedikit ujungnya dan melemparkan potongan roti tersebut ke danau.

Beberapa angsa yang berada di sana segera bergerumbul kemudian berebut satu sama lain untuk mendapatkan sepotong roti yang baru saja di lempar oleh seorang pemuda di bibir danau.

"Boleh aku mencobanya?" Tanya Tenten menatap Sasori lekat.

Pria itu mengangguk pelan lalu memberikan roti di tangannya pada gadis di sampingnya. Setelah bungkusan transparan itu berpindah tangan, Sasori tidak lantas mengambil bungkus yang lain untuk dirinya. Melainkan menyandarkan tubuhnya dan merentangkan tangannya melewati Tenten yang mulai asik memberi makan para angsa kelaparan di pinggir danau.

"Apa kau masih memiliki perasaan padanya?" Sasori menatap langit cerah di atasnya.

Sejenak gadis itu berhenti lalu kembali melemparkan sepotong demi sepotong roti di tangannya. Senyum samar terluas dari bibirnya sembari menatap lemah air danau yang beriak karena gerakan cepat dari para angsa.

"Munafik jika aku mengatakan tidak. Tapi kupikir, akan lebih baik jika aku melupakannya." Ia mengengdikkan kedua bahunya.

"Jika tidak bisa?"

"Mungkin aku akan pergi jauh dari sini, memulai hidup baru di Negeri orang." Jawabnya cepat.

Tenten meletakkan bungkusan kosong di tangannya lalu mengambil bungkusan baru untuk di lemparkannya kembali pada binatang cantik berbulu putih di hadapannya. Ia menatap takjub pada angsa-angsa di depannya lalu tersenyum hambar.

Pasti akan sangat menyenangkan bagi Tenten jika ia adalah salah satu di antara angsa-angsa tersebut. Mereka yang terlahir cantik dan tidak memiliki perasaan, tidak akan mungkin merasakan rasa sakit yang di deritanya. Yang mereka butuhkan hanyalah makanan, air, dan matahari. Mereka tidak membutuhkan cinta untuk hidup. Mereka juga tak memiliki perasaan untuk di sakiti, tak memiliki air mata untuk menangisi sesuatu, tak memiliki rasa dendam jika mereka di sakiti. Yang mereka lakukan hanyalah mematuk mereka yang mengusik kehidupannya dengan paruhnya yang kuat. Dan jika saja Tenten memiliki paruh sekuat angsa, mungkin kini ia telah mematuk kedua manusia itu hingga tewas.

"Aku juga ingin memberi makan para angsa. Bolehkah aku mencobanya?" Suara kecil yang mask ke telingan Tenten seketika membuyarkan lamunannya. Ia menoleh ke kanannya dan sudah mendapati seorang anak kecil berdiri anggun tepat di sampingnya. Anak itu meletakkan tangannya kebelakang. Keduanya tangannya saling meremas sembari menatap Tenten dengan senyuman polos khas ank kecil berusia 5 tahun.

"Dia bicara denganmu." Kata Sasori mengguncang sedikit bahu Tenten.

Gadis itu segera sadar lalu mengerjapkan matanya cepat dan melemparkan senyumnya pada anak gadis di sampingnya.

"O-oh, tentu saja boleh." Katanya menarik bocah tersebut kedalam pangkuannya.

Roti pertama yang di lempar oleh bocah tersebut membuatnya semakin semangat dan kembali melempar beberapa setelahnya. Begitu juga Tenten yang ada di belakangnya, satu tangannya ia gunakan untuk melingkari pinggang bocah itu agar tidak bergeser, sedangkan tangan satunya sibuk melempar beberapa potong roti ke arah danau.

"Siapa namamu? Dan.. mana orangtuamu?" Pria berambut merah menyala itu bertanya sembari menggeser sedikit duduknya lebih dekat dengan keduanya.

"Namaku Chiro. Dan aku tidak tau siapa orangtuaku." Jawabnya polos tanpa melihat Sasori.

"Maksudmu, kau seorang yatim piatu?" Dahi Tenten berkerut.

"Aku tidak tau apa itu yatim piatu. Tapi selama ini bibi Seto yang merawatku bersama anak-anak yang lain."

"Lalu, dimana mereka sekarang?" Tanya Tenten lagi.

Chiro menunjuk area bermain. Jarinya mengarah ke beberapa anak yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing di sana. Setelah di rasa cukup, Chiro menurunkan tangannya dan kembali melempar potongan-potongan roti di tangannya.

"Kenapa kau tidak berkumpul dengan mereka?" Pria Akasuna itu kembali bertanya.

"Aku tidak mau bersama mereka. Aku benci mereka. Aku selalu di acuhkan bila bersama mereka. Kata bibi Seto, aku lebih pandai dari mereka. Makanya mereka iri padaku dan selalu mengacuhkanku." Jelasnya.

Deg

Sepenggal cerita Chiro mengingatkannya pada seorang Haruno Sakura yang juga sempat di asingkan oleh teman-temannya. Waktu itu, sebisa mungkin ia berusaha berada di samping Sakura agar tidak ada siapapun teman-temannya menghina Sakura jika mereka tidak ingin kakinya mendarat mulus di wajahnya. Semua di mulai ketika ia dan Sakura duduk di bangku sekolah dasar hingga ke jenjang menengah pertama. Mati-matian ia membela Sakura saat itu. Cemoohan yang para temannya lontarkan pada Sakura, tak hanya membuat telinganya gatal, tapi juga membuat dirinya naik darah. Bahkan beberapa di antara mereka yang menghina Sakura berakhir di ranjang UKS karena tidak sadarkan diri ketika dengan cantiknya kepalan tangannya menyambangi pipi, perut, dan dagu hingga mereka jatuh tak berdaya di lantai marmer sekolah.

"Rotinya sudah habis." Kata Chiro menoleh pada Tenten yang masih larut dengan lamunannya.

Sasori hendak memberikan sebungkus roti pada Chiro sebelum Tenten dengan cepat menurunkan gadis kecil itu kemudian membalikkan tubuh mungilnya ke arahnya. Setetes air mata di pelupuk matanya jatuh bebas ketika kedua matanya berkedip cepat. Ia lantas menurunkan Chiro dari pangkuannya dan berlalu pergi.

"Apa aku salah bicara?" Tanya Chiro polos.

"Maaf Chiro, tapi aku harus pergi." Sasori beranjak berdiri seraya menyerahkan beberapa sisa roti di tangannya pada bocah kecil itu.

oOo

Langkah Tenten berhenti di sebuah bangku café yang letaknya cukup jauh dari taman setelah hampir 10 menit ia berlari tanpa memperhatikan jalan dan orang-orang yang di tabraknya seusai turun dari taksi yang tadi ia tumpangi. Juga tidak mempedulikan Sasori yang mungkin kini sedang kebingungan mencari keberadaanya. Tangan kanannya mengepal erat pada sandaran kursi yang ia duduki. Ia menatap tajam aspal jalan yang keras dan panas. Kedua sisi matanya mulai mengeluarkan cairan beningnya. Sungguh, sangat sakit jika teringat akan Sakura.

Hingga detik dimana ia meneteskan air matanya saat ini, ia masih tidak percaya. Saudara yang selama ini ia cintai melebihi dirinya sendiri sampai hati melakukan hal itu. Tenten masih berharap, hal ini adalah sebuah mimpi belaka. Ia berharap, ketika ia bangun nanti, ia melihat gadis itu tersenyum di sampingnya dan mengatakan 'Jangan-jangan kau mimpi buruk.' Tapi.. sungguh, ia tidak bisa berkata apa pun tentang hal ini.

"Maaf, ada yang bisa kami bantu?" Tanya pelayan café sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Ah. Bolehkah aku memesan secangkir Latte? Tanpa gula ataupun krim."

"Anda yakin tidak mau menambahkan sepucuk sendok gula di dalamnya?" Pelayan tersebut sedikit menaikkan sebelah alisnya heran.

"Sangat yakin."

"Baiklah nona."

Beberapa saat setelah ia memesan, secangkir coffe latte sudah tersaji di hadapannya. Ia biasanya sangat senang menyesap Latte manis dengan ekstra krim kocok di atasnya. Tapi hal itu berlaku jika moodnya dalam keadaan baik. Namun kini.. Ia merasa, ini adalah mood terburuk yang pernah ia alami sepanjang hidupnya.

Semua orang pasti tau apa itu robot. Robot adalah benda hidup yang terbuat dari besi baja yang tidak memiliki hati dan pikiran. Mereka hanya bisa di jalankan oleh seseorang ilmuwan yang memiliki akal dan juga kecerdasan. Voila… Seperti itulah Tenten menganggap dirinya saat ini. Jika robot tidak memiliki otak, berbeda dengan Tenten. Ia memiliki otak sempurna yang bisa ia gunakan kapan saja. Tapi berkat ilmuwan jenius dan licik bernama Sakura, kini ia menganggap dirinya adalah sebuah rongsokan baja yang sudah tidak lagi di gunakan pemiliknya karena tidak lulus uji emisi untuk di jadikan sebuah robot cerdas. Sangat tidak berharga bukan?

Ia meraih cangkir di atas mejanya lalu menyesap sedikit isinya. Entah, meskipun rasa Latte tanpa gula terlampau pahit bagi sebagian besar orang termasuk dirinya, tapi untuk saat ini ia merasa Latte tersebut terasa biasa saja. Tak ada bedanya dari kopi-kopi kebanyakan yang menggunakan gula, krim, atau bahkan tambahan es krim dan mint di atasnya.

Drrt.. Drrt.. Drrt..

Ponsel yang ia letakkan di saku celananya bergetar menggelitik pangkal pahanya. Dengan enggan ia bergerak dan mengambil ponsel tersebut. 'Sasori' Seperti itulah kira-kira tulisan yang ada di sana. Cukup lama ponsel tersebut bergetar tanpa ada tanda-tanda sang pemilik hendak menerima panggilan masuk tersebut hingga akhirnya berhenti bergetar. Tenten kembali meletakkan ponselnya di samping cangkir kopinya lalu menyandarkan punggungnya. Ia hela nafasnya berat sembari memejamkan matanya rapat berharap semua beban yang ada di sana hilang seketika itu juga.

Drrt.. drrt..

Kembali ponselnya bergetar namun getarannya tak selama yang sebelumnya. Matanya melirik sedikit ponselnya dan mendapati sebuah pesan masuk di sana. Tenten memutar kedua bola matanya malas sesaat kemudian, gadis itu menyambar cepat ponselnya.

"Paling tidak katakan padaku, dimana kau sekarang?"

Pesan singkat dari Sasori yang terlihat mengkhawatirkan dirinya ia hiraukan begitu saja dengan meletakkan kembali ponselnya tanpa membalas pesan pria Akasuna tersebut yang masih bingung mencari keberadaanya. Hanya satu alasan kenapa ia menghiraukan panggilan dari Sasori. Ia hanya ingin sendiri. Paling tidak hingga moodnya mulai membaik.

Drrt.. Drrt..

"Ada apa denganmu? Apa kau tidak tau, aku hampir gila mencarimu."

Drrt.. Drrt..

"Sungguh, jika aku menemukanmu, akan kupatahkan kedua kakimu. Agar kau tidak melarikan diri lagi seperti ini."

Drrt.. Drrt..

"Aku tidak akan kembali sampai aku menemukanmu."

Berkali-kali pria Akasuna tersebut mengirim pesan singkat pada Tenten. Namun hingga saat ini, ia masih enggan membalas ataupun menerima panggilan dari siapapun. Ia ingin menenangkan dirinya. Ia juga masih ingin mengadu lidahnya dengan secangkir kopi pahit miliknya. Ia ingin sendiri.

oOo

Sasori sudah berkali-kali mengelilingi taman ini. Ia juga sudah memasuki satu-persatu café dan restoran di sekitar sini. Namun ia belum juga berhasil menemukan gadis itu yang kini hilang entah kemana. Apa yang harus ia katakan pada Iruka dan Akane jika ia kehilangan Tenten ketika mereka sedang berdua. Sudah pasti ia akan di bunuh saat itu juga.

Frustasi. Tentu saja Sasori frustasi. Ia sudah mencari dari siang hingga saat ini matahari sudah terbenam, ia masih belum menemukan Tenten. Penampilannya yang tadinya sangat rapi, jangan di tanya lagi. Jas kantor ia gantung begitu saja di bahu kanannya, kemeja putih miliknya sudah tak lagi beraturan, ujung kemejanya yang kusut akibat dari himpitan celana dan sabuknya kini dapat terlihat jelas, dua kancing dari atas yang sudah terlepas sejak tadi, juga tautan dasi yang sudah tidak beraturan masih setia menggantung di lehernya. Tidak hanya itu, bahkan ia sampai menyuruh Hidan untung menghadiri meeting yang seharusnya ia hadiri pukul 4 sore tadi.

"Apa kau masih belum menemukannya?" Pria berambut kuning panjang tersebut menepuk bahu Sasori.

Baiklah, bukan hanya Hidan yang harus repot karena dirinya. Deidara yang seharusnya kini berada di tempat latihan untuk mengajar teman-teman Tenten, juga harus izin untuk membantu Sasori mencari gadis yang hingga saat ini belum kembali.

"Belum. Tadi aku sempat melihatnya menghentikan sebuah taksi. Sebenarnya aku ingin mengejarnya, namun parkiran mobilku terlalu jauh dari sini, jadi percuma saja. Aku juga sempat naik taksi untuk mengikutinya, tapi saat di persimpangan, aku terjebak lampu merah."

"Bagaimana dengan ponselnya?"

"Ratusan kali aku menghubunginya, tapi tetap saja ia tidak meresponku. Entahlah, tapi kurasa mungkin ia ingin sendiri untuk sementara waktu." Sasori mengedikkan kedua bahunya.

"Apa dia sedang ada masalah?"

"Bisa di katakan begitu."

"Apa ada hubungannya dengan kejadian di tempat boxing waktu itu?" Dahi pria itu berkerut penasaran.

"Mungkin."

"Aku tidak tau apa masalahnya. Tapi kurasa, masalahnya kali ini sangat serius." Deidara mengangkat dagunya cepat.

"Tenten sering berbicara tentang masalahnya padamu?" Tanya Sasori penasaran.

"Cukup sering. Banyak yang ia bicarakan padaku. Entah itu masalahnya, kejadian-kejadian yang ia alami setiap hari, hingga tentang Sakura."

"Apa yang dia katakan tentang Sakura?"

"Aku tidak yakin. Tapi kudengar, Sakura bukanlah anak kandung dari Iruka Jiisan dan Akane Baasan. Dengan kata lain, dia di ambil dari panti asuhan oleh orang tua Tenten."

Sasori sedikit tercekat mendengar lontaran kata demi kata yang Deidara ucapkan. Kedua matanya sedikit melebar ketika mendegar kata 'Bukanlah anak kandung.' Kini ia paham, apa yang membuat gadis itu menghilang ketika mendengar sepenggal cerita dari Chiro tadi siang.

"Kenapa kau diam? Apa kau tau sesuatu?" Deidara mengerutkan hidungnya.

"Ti-tidak. Aku hanya mulai mengerti kenapa dia menghilang seperti ini." Jawabnya canggung.

"Kenapa? Ada apa sebenarnya?"

"Tidak. Bukan apa-apa. Lupakan saja." Sasori tertawa renyah.

"Waktu itu saat aku mengobati lukanya, ia tertidur pulas di bahuku. Aku sempat mendengar isak tangisnya sesaat. Meskipun hanya sebentar, tapi aku yakin dia baru saja menangis. Entah pria bodoh mana yang membuat Tenten seperti itu."

"Ka-kau, menyukai Tenten?" Tanya Sasori terbata.

"Bukankah sudah kubilang padamu sebelumnya? Apa kau pikir perkataanku hanya gurauan?"

"Tapi bukankah sudah kukatakan dia sudah di jodohkan oleh orang lain?"

"Aku tau. Ia sempat sedikit bercerita padaku tentang lelaki yang dia sukai. Aku sempat berpikir, mungkin saat itu adalah waktu di mana aku harus mundur dan menghapus ingatanku akan Tenten. Namun saat kulihat ia memukul samsak pada waktu itu, ia sempat menyebut nama Neji. Kupikir pria itulah yang Tenten sukai, juga mungkin yang membuatnya menjadi seperti ini." Jelas Deidara menatap langit malam gelap yang bertabur ribuan bintang.

"Entah apa kau memiliki keturunan seorang peramal atau tidak, tapi tebakanmu semua benar." Sasori menghela nafas sesaat. "Hyuuga Neji. Dia adalah pria yang Tenten sukai sejak lama. Ia berusaha membuat pria itu berpaling padanya bagaimanapun caranya… Penantiannya terbayar. Ketika ternyata, kedua orang tuanya menjodohkannya dengan pria tersebut. Namun, semua itu tidak berlangsung lama saat ia tau, Neji dan Sakura memiliki hubungan special. Sudah pasti Neji ada di balik semua ini. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, rasa sakit yang ia derita dan mungkin tak akan pernah hilang, di tancapkan sendiri oleh saudaranya yang selama ini ia sayangi melebihi dirinya sendiri. Bisa kau bayangkan, betapa hancurnya dia sekarang?"

Pria berambut kuning tersebut diam. Ia tak bisa mengatakan apapun mendengar singkat cerita tentang penderitaan yang Tenten alami saat ini. Meskipun ia anak tunggal, ia dapat merasakan apa yang Tenten rasakan jika ia berada di posisi tersebut. Ia sesak ketika tau gadis yang ia cintai terluka karena seorang pria. Terlebih saat ia tau, Sakura yang selama ini ia pikir gadis yang baik ikut andil menggoreskan luka.

"Baiklah, sesi curhat sudah berakhir. Sekarang aku ingin melanjutkan mencari Tenten." Sasori meninggalkan Deidara yang masih diam di tempatnya.

Grep..

Sasori berhenti ketika tangan Deidara menahan bahunya dari belakang. Rambut merah menyala pria itu berkibas sedikit akibat kepalanya yang seketika berpaling di tambah dengan hembusan angin di sekitarnya. Kedua alisnya bertemu menatap Deidara yang masih belum melepaskan bahunya.

"Kau.. juga menyukainya. Bukan begitu?" Deidara menatap lekat manik mata Sasori.

Sasori menghela nafasnya berat kemudian kembali berpaling menatap Deidara yang masih tidak merubah posisinya. "Ya."

oOo

Cuaca pagi yang cerah tadi membuat Tenten berinisiatif untuk memberi sedikit kejutan pada Sasori yang sudah mau mendengarkan keluh kesahnya di malam sebelumnya. Ia pergi ke kantor pria itu dengan mengendarai angkutan umum dengan hanya membawa sekotak bekal, ponsel, dan sedikit uang di kantong celananya. Tenten berpikir, hanya sebentar. Maka dari itu ia sengaja tidak membawa uang lebih untuk berjaga-jaga bila sesuatu terjadi.

Kini ia mulai merasa menyesal tidak membawa serta tasnya pergi. Beberapa lembar uang di kantongnya sudah habis untuk membayar ongkos bus yang ia naiki untuk ke kantor Sasori, membayar taksi ketika ia menginginkan privasi, juga tak lupa secangkir coffe latte yang ia pesan tadi. Dan kini, yang tersisa hanyalah sebuah ponsel di saku kanannya tanpa ada selembar pun uang di kantong yang lainnya.

Akibat dari itu semua, kini gadis itu berada di tempat yang sedikit asing baginya. Bukan asing dalam arti tersesat. Ia pernah melewati jalanan ini. Namun yang sedari tadi ia pikirkan hingga membuatnya resah adalah, bagaiamana caranya ia pulang? Ia sama sekali tidak memiliki uang untuk pulang. Sedangkan perjalanan untuk kerumah membutuhkan waktu tempuh selama 30 menit jika menggunakan bus. Apakah ia harus berjalan kaki? Menyusuri trotoar demi trotoar. Gang demi gang jika ia melewati jalan tembusan. Taksi. Yah, ia bisa menggunakan alat tranportasi itu.

Ia seketika berbalik dan menyapukan pandangan di sekitarnya. Namun saat ini belum ada taksi yang terlihat melintas di jalanan ini. Apakah ini sudah memasuki jam malam? Sepertinya belum. Itu terjadi sekitar 2 jam lagi. Apa ia harus berjalan? Sepertinya begitu. Tidak ada pilihan lain. Siapa tau di tengah jalan, ia bisa menemukan taksi.

Drrt.. drrt.. drrt

Ponsel Tenten kembali berdering. Namun meski begitu, gadis itu enggan untuk mengeluarkan ponselnya dari sakunya. Karena ia tau pasti, panggilan tersebut pasti dari orang yang sama yang sejak tadi siang mencoba menghubungi dirinya.

Tenten terus berjalan tanpa mempedulikan ponselnya yang masih bergetar di dalam sakunya. Sebenarnya jika ia menerima panggilan tersebut, ia tidak harus menempuh perjalanan selama berjam-jam untuk sampai kerumah. Namun egonya yang sudah mencengkeram di hatinya mengalahkan akal sehatnya. Ia masih ingin sendiri. Entah sampai kapan. Untuk saat ini, ia tidak membutuhkan bahu untuk bersandar. Ia masih ingin berpikir untuk dirinya sendiri kedepannya. Akan seperti apa hidupnya setelah semua ini.

Tiin..

Suara klakson mobil seseorang membuat gadis itu sedikit terjingkat mundur dan otomatis membalikkan tubuhnya. Satu mobil berwarna hitam mengkilap berhenti di tepi jalan tepat di samping Tenten berdiri. Tak lama kemudian, dari dalam mobil muncul seseorang yang sangat familiar baginya. Namun sungguh di sayangkan, di saat seperti ini justru orang itu yang terlihat di matanya. Sekarang Tenten mulai berpikir, apa dosa yang telah ia perbuat hingga ia harus menerima semua ini?

Kedua bola mata Tenten memutar malas begitu pria itu menginjakkan kakinya di atas trotoar dan berhenti tepat di hadapan Tenten. Sungguh, ia sedang mencoba tersenyum sekarang untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Tapi di depan pria ini, sangat sulit rasanya untuk melakukan hal itu. Mengingat apa yang telah lelaki itu perbuat padanya.

"Hai, mau pulang bersama?" Tawarnya tanpa melepas senyum khas seorang Hyuuga yang cool dari wajahnya.

"Tidak." Jawab Tenten singkat dan berjalan melewati Neji.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Neji menguntit Tenten di belakang.

"Jika aku bilang tidak apa kau akan pergi?" Gadis itu berhenti sesaat untuk menatap wajah pria itu kemudian melanjutkan langkahnya.

"Apa yang membuatmu seperti ini?" Tanyanya lagi.

Gadis itu menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap lekat pria di depannya dengan sedikit senyuman palsu menghiasi wajahnya. "Apa yang akan kau lakukan ketika kau di hianati oleh dua bajingan sekaligus. Padahal selama ini kau sudah bersikap bak malaikat pada mereka?"

Neji bungkam. Ia menatap Tenten canggung sembari menggaruk kecil leher belakangnya. "A-Ah, mungkin aku akan menjadi seperti kau sekarang ini."

"Kau sama seperti biasanya Tuan Hyuuga." Tenten menampakkan raut wajah kecewa namun terkesan cuek pada lelaki itu. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam kantong dan mengedikkan bahunya santai kemudian berlalu pergi. 'Sampai kapan kalian akan menutupi semua ini dariku?'

"Tenten." Panggil Neji cepat dan otomatis menghentikan langkah gadis itu.

"Ya?" Tenten berbalik menampakkan wajah seramah mungkin pada Neji. Tak lupa juga, senyum manis ia perlihatkan pada pria yang masih tak merubah posisinya.

"Jangan memikirkan dua bajingan yang telah menyakitimu. Waktumu terlalu berharga untuk memikirkan mereka."

"Untuk apa aku memikirkan mereka? Mereka tidak memikirkanku ketika mereka melakukan hal menghianatiku. Lagipula, banyak hal yang bisa kulakukan." Tenten menanggapi santai.

"Baguslah kalau begitu."

"Tentu saja Neji. Apa lagi yang bisa kulakukan selain membuat diriku terlihat bodoh di mata orang lain?"

Drrt.. drrt..

Ponsel milik Tenten kembali bergetar untuk kesekian kalinya. Sama seperti sebelumnya. Hanya saja keadaan saat ini membuat Tenten semakin enggan menerima panggilan tersebut. Ia melirik layar ponselnya sekilas dan kembali memasukkan ponsel tersebut kedalam sakunya tanpa melepas pandangan dari Neji.

Mata Neji mengikuti irama tangan Tenten yang tengah memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Setelah ponsel itu menghilang, ia kembali menatap gadis itu yang masih mengulas senyum manisnya.

"Bukan siapa-siapa. Kau tenang saja. Aku bukan seorang penghianat." Kata Tenten santai.

"Aku tidak berpikir seperti itu. Aku selalu percaya padamu." Neji tersenyum canggung.

"Hm, dan kuharap aku juga bisa mempercayaimu. Bukan hanya tentang kita, tapi tentang semuanya." Gadis itu lagi-lagi mengulas senyum palsunya di depan pria itu.

"Ha-haha. Ten-tu saja. Ka-u bisa mempercaya-kan semuanya padaku." Kata Neji gugup.

Srat..

Tenten melambaikan tangannya setinggi mungkin untuk menghentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas di hadapannya. Tanpa banyak bicara, ia segera berlari kecil ke arah taksi tersebut dan membuka cepat pintunya. Namun sebelum benar-benar menghilang, gadis itu berhenti sejenak memalingkan sedikit wajahnya pada Neji.

"Semua... Semuanya, kecuali penghianatan… Di kamusku, tidak ada toleransi bagi orang seperti itu. Pahamilah, Hyuuga Neji." Senyum ringan muncul di bibir Tenten sebelum gadis itu masuk dan pergi menghilang dari hadapan Neji.

oOo

"Pulanglah. Aku baik-baik saja. Aku berada di dalam taksi dan dalam perjalanan menuju rumah. Maaf jika membuatmu khawatir."

Send.

Gadis itu menghela nafasnya berat kemudian memejamkan matanya dan bersandar. Ia melempar pandangan ke luar jendela dengan tatapan mata sayu. Betapa beratnya masalah ini untuknya. Hanya sesak yang ia rasakan ketika pikirannya kembali mereplay adegan mesra calon tunangannya bersama saudaranya. Apa arti dari kebersamaanya dengan Sakura selama ini? Jika hanya untuk menutupi kebusukan seperti itu, Sakura terlalu berlebihan melakukannya hingga bertahun-tahun lamanya.

Drrt..drrt..

"Syukurlah jika kau baik-baik saja. Sepulang kau dari sekolah besok, aku menunggumu di depan. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Dan aku tidak menerima penolakan."

Tenten tertawa kecil membaca balasan dari pria itu.

"Baiklah Tuan Sasori. Tapi jika dalam 10 menit kau tidak datang, aku pergi."

Send.

Drrt.. drrt..

"Aku akan mencarimu dan membawamu pergi saat itu juga."

"Aku akan sangat berterimakasih jika kau melakukannya. Bisakah kau membawaku ke planet lain?"

Drrt.. drrt

"Kemana saja. Asal kau bisa kembali seperti Tenten yang kukenal."

Gadis itu mengigit jarinya ketika membaca balasan singkat namun terasa menggelikan dari pria itu. Kembali tawa kecil keluar dari bibir Tenten. Kali ini tawa tersebut berasal dari hatinya dan tanpa paksaan seperti tawanya yang sebelumnya.

Baiklah, ini mulai terasa aneh. Kenapa ia harus memberi kabar pada Sasori? Ada hubungan apa dia dengan Sasori? Dan juga, apa ini? Setiap membaca balasan yang menggelikan ini, rasanya semua darah yang selama ini tertahan di ubun-ubunnya, seketika mencair dan memenuhi setiap inci tubuhnya. Mungkinkah ini artinya dia mulai bisa melupakan seorang Hyuuga Neji yang selama bertahun-tahun bersemayam di dalam hatinya? Atau mungkin…

Chapi ini end sampe sini (: Sekali lagi maaf ya atas keterlambatannya. RnR please!