Disclaimer: Hetalia © Hidekaz Himaruya
Warning: OOC, AU, Typo(s), Alur cepat, Yaoi.
Genre: Friendship/drama.
Rated: T
Happy Reading:
CHAPTER#1
[El Otro Lado]
.
.
.
.
.
Manik zamrud itu masih terus menumpu atensinya pada koridor-koridor Rumah Sakit yang ia lewati. Sial, kenapa sedari tadi ia belum menemukan sosok yang dicari? Padahal sudah 30 menit waktu termakan untuk mencari pemuda brunette yang baru saja bangun dari pingsan, dan sialnya langsung menamparnya. Entah kenapa agak terasa aneh, biasanya Antonio tidak pernah menamparnya, tetapi memberikan bogem bombastis nan fantastis andalannya.
Untuk apa memikirkan hal itu? Yang harus ia pikirkan adalah 'dimana Antonio?' dan sejak kapan orang baru sadar sudah bisa berlari dan menghilang secepat kilat. Ia tak yakin Antonio sudah sampai di rumah, dan yang ia yakini bahwa pemuda itu tak akan jauh dari sini. Dan jangan salahkan kalau ia bukan seorang pelari maraton.
Ah, sialan. Seharusnya sekarang ia sudah ada di ruang rapat, bukan malah berlari-lari bagai orang tolol tak tentu arah. Untung saja America sedang baik hati dan akhirnya mengizinkan England dan Spain bolos dalam rapat, hanya saja ia harus kebal dengan semprotan Germany.
"Sialan, lama-lama aku bisa dianggap gila kalau bulak-balik terus..." ujar Arthur dengan bumbuhan decihan kasar. Manik zamrudnya masih menyelusuri setiap inci dari tempat ini. Oke, ini memang taman, dan tak mungkin Antonio berada di sini-
-lalu siapa pemuda brunet dengan baju putih panjang yang sedang duduk di kursi taman rumah sakit itu?
"Tunggu, setahuku tidak ada pemuda berambut brunet dan baju putih mirip dres untuk pasien selain Anthony?" terka Arthur berusaha mengingat-ngingat apa yang terjadi. Akh, pusing-pusing mikir, mending tanya langsung.
Arthur berjalan mendekat kursi taman itu bahwa sulit untuk menghindari kakinya yang setiap kali hampir menginjak bunga, bisa-bisa ia dimarahi pihak rumah sakit kalau ketahuan merusak fasilitas milik mereka, toh bunga juga fasilitas 'kan? Untuk mempercantik kedok tempat ini yang menampung orang yang memiliki kelainan, penyakit... namanya juga rumah sakit.
Berusaha menyingkirkan pikirannya yang mulai ngelantur Arthur ber-'ekhem' sebentar saat dirinya sudah berada di belakang pemuda yang sedari tadi terus menunduuk di bangku taman itu. Sialnya tidak direspon, mungkin belum terdengar.
"EKHEM!"
Aneh memang terdengarnya agak maksa, siapa peduli? Rumah Sakit lagi sepi ini. Pemuda itu merespon dan menoleh ke arah Arthur, sang pemuda yang diakui sang british bahwa itu adalah Antonio, astaga... ternyata itu memang Antonio, akhirnya Arthur dapat menghembus nafas lega dan-
"BLOODY WANKER! DARIMANA SAJA KAU?! GIT"
-menyemburkan teriakan keras tepat di depan wajah sang pemuda latin yang berjengkit karna gelombang dengan freakuensi yang cukup keras membuat jantungnya hampir lompat saking kagetnya. Arthur menautkan kedua alisnya, menarik baju Antonio kasar lalu mendelik setajam silet di hadapan pemuda maditerania itu.
"Kau... kau... membuat..." Arthur merasa pipinya memanas, astaga... ia tak sudi mengakui bahwa ia 'khawatir setengah mati' mencari pemuda tolol di hadapannya, di depan wajahnya, dan jangan lupakan jarak mereka hanya tinggal sejengkal.
"..."
Arthur bersumpah, baru kali ini ia melihat tampang Antonio yang berbeda, kalem. Biasanya Antonio akan memberontak seraya melemparkan umpatan dalam bahasanya atau setidaknya membogem mentah tepat di wajahnya, tapi yang ia lihat hanyalah pemuda yang memiliki fisik mirip Antonio dan... apa itu? Rona merah yang menjalar di pipi sang negara matador?
-Antonio memalingkan wajahnya saat sadar Arthur menatap intens dirinya.
Arthur melongkarkan cengkramannya pada baju Antonio, dan masih seperti tadi... Antonio kembali menatap malas Arthur yang berada di depannya. Demi apa? Demi scone rasa tomat! Siapa yang ada di dalam diri Antonio.
Arthur bingung, tunggu... kenapa Antonio tidak menamparnya ketika ia mengcengkram baju miliknya? Lalu kenapa ia ditampar hanya karna menepuk pundaknya? Ini semakin aneh, ia tak mengerti sumpah, bila ada yang tahu apa yang terjadi tolong beritahu dia sebelum ia putus asa dan bunuh diri, tidak, dia bukanlah orang yang mahir dalam Hiperbola
"Anthony?" tanya Arthur masih dalam posisi tangan terkepal di udara.
"Antonio..."
Demi dewi Fortuna, akhirnya dia membuka suara juga, tapi kenapa hanya untuk membetulkan tata cara penyucapan namanya saja?
"... Arthur."
Dan demi teh rasa tomat, baru pertama kali ia mendengar ejaan namanya yang benar , dan terucap dari bibir sang kawan yang memakai aksen british yang kental. Oh astaga, tak mungkin yang ada di hadapannya adalah jin 'iprit' yang bermodal wajah datar nan malas yang bukanlah wataknya.
"Mau minum teh bersama?" dan apa ini? Ia tak sengaja mengeluarkan ajakan yang sama sekali tak pernah terlintas di pikirannya, dan sayangnya itu bukalah topik pembicaraan 'mereka'.
Arthur memijat keningnya. Pusing, ia tak habis pikir kenapa ini? Arthur mendongkak dan menatap seorang pemuda dengan baju putih dan pita merah di lehernya, sedang bertopang dagu lalu mengaduk-ngaduk tehnya yang mulai mendingin, dengan bibir yang dikerucutkan, dan tekesan lebih manis dari pada tertawa-tawa tak tentu arah. Biasanya Antonio lah yang membuka suara, mengajak bicara, dan dialah yang hanya menjawabnya dengan ber-hmn ria.
Suasana yang tentram, tentu ini adalah cafe yang ada di dalam mall dan lagi sepi pengunjung. Omong-omong, untung saja mereka masih bisa menikmati teh karna paksaan sang alis tebal pada pelayan untuk membuatkan teh dan mau tak mau harus diikuti. Dan beruntung saja sang Dokter memperbolehkan Antonio pulang karna menganggap tidak ada masalah lain, oh... dan sekarang Antonio tak perlu memakai lilitan perban di kepala saat pergi kemana-mana.
"Hhh..." Antonio mendengus kecil dan tak berniat sedikit pun menyentuh teh itu. Arthur menarik teh dari bibir pucatnya dan memejamkan mata sebelum membukanya satu dan menangkap gerak-gerik Antonio yang menurutnya seperti orang yang sedang bosan.
"Ada apa?" pertanyaann klise dilontarkan sang british dan hanya diawab lirikan dari ekor mata oleh yang bersangkutan.
"Cih..." Arthur hanya bisa mendecih keras atas perlakuan Antonio yang kelewat berubah.
"Aku tidak suka teh, memangnya kenapa?"
Arthur tertegun saat menyadari kalimat sinisme yang dilontarka Antonio untuknya yang terdengar bersifat menyindir, alis yang mengkerut dan tangan yang terkepal di atas meja, sedangkan wajah yang terlihat masih stoic. Dan, ia tak pernah mendengar kalau Antonio tidak suka teh, bahkan kadang mereka suka minuk teh bersama tanpa ada komentar di dalamnya.
"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Arthur bermaksud menyindir karna sifat Antonio yang baru-baru ini membuatnya frustasi.
"Kopi." singkat, padat, dan jelas. Baru kali ini Arthur mendengar bahwa sang negeri matador menyukai hal-hal pahit, dia kira sang mantan pejarah lautan itu menyukai apapun yang manis, tapi kenapa... ah sudahlah.
"Pelayan!"
Seorang perempuan dengan baju maid berjalan tergesa-gesa ke arah Arthur dan Antonio. Setelah sampai di sana sang pelayan membungkuk dan kembali tegak. Terlihat rambut bergelombang yang disanggul ke belakang, lalu sang pelayan senyum ramah membuat Arthur tak bisa melepaskan tatapannya pada gadis manis ber-predikat pelayan di sampingnya itu.
"Ekhem. Aku pesan kopi hitam satu." ujar Antonio. Arthur tertegun dan kembali memfokuskan atensinya pada pemuda berambut coklat yang sekarang sedang mengerucutkan bibirnya, wajah bersemu merah, dan dengusan kasar yang dilempar seakan untuknya.
"Baik!" jawab sang pelayan lalu berlari kecil meninggalkan kedua anak adam itu disana.
"Ada apa?" tanya Arthur saat melihat raut waah Antonio berubah menjadi kesal.
"Tak apa. Omong-omong gadis tadi manis yah?" seakan bisa membaca pikiran Arthur, atau sengaja melempar jenis kalimat majas ironi, Antonio seakan terlihat sedang jealous saat Arthur memerhatikan gadis pelayan tadi.
"Memangnya kenapa?" tanya balik sang british.
"Tidak apa. Hanya saja aku ingin pulang,"
Antonio bangkit dari posisi nyamannya dan berusaha berjalan pergi, tapi sebelum itu, cengkraman kuat di pergelangan tangan membuat langkah sang matador terhenti. Arthur menyeringai sinis, dan di balas delikan tajam dari yang bersangkutan.
"Hei, tunggu kau belum meminum kopimu, owh... astaga apa yang terjadi? Kenapa kau pergi? Padahal tadinya aku ingin mengajakmu berkenalan dengan pelayan itu. Katanya dia masih baru, dan wow... jangan bilang kau jealous." astaga, baru pertama kali ini Arthur serasa memegang ahli kemudi disini, sayangnya hanya terlihat punggung Antonio karna pemuda itu membelakanginya, dan pundaknya yang bergetar saat mendengar penuturan Arthur.
"Kau tahu, katanya saat kutanya pada pelayan lain, namanya Isabel..." Arthur tersenyum licik. Antonio hanya bisa menutup matanya dan berpura-pura tuli, dan jangan lupalan wajahnya yang sudah memerah semerah tomat di kebunnya.
"... dan-"
Plak*
Antonio menyentak tangannya yang yang digenggam oleh Arthur, dalam hati berusaha menstabilkan emosinya, dan lihatlah sekarang, wajah memerah tadi sekarang sudah berubah menjadi stoic, sedangkan Arthur melongo karna hanya melihat bagian wajah stoic Antonio, bukan yang lagi kesal. Dalam hati sang pemuda maditerania berterima kasih karna sudah diberikan kemampuan menstabilkan emosi dan tidak seperti 'Antonio'.
"Yah, yah... apa pun yang kau katakan aku tak peduli. Aku ingin pulang sekarang. Saat ini juga. Arthur." ujar Antonio dingin dan berjalan pergi meninggalkan cafe.
'Sialan, aku kalah.'
Arthur menyesal. Sumpah ia menyesal. Ia tak bermaksud untuk menyakiti hati Antonio, ia hanya ingin melihat perubahan ekspesinya saja, dan siapa tahu kalau Antonio akan berubah menjadi seperti itu, dan yang ia perkirakan hanyalah Antonio kesal dan merenggut, nyatanya tak ada perubahan ekspesi sekalipun.
"Nah, ini rumahnya." tebak sang british gentleman saat terlihat sebuah rumah sederhana yang terlihat cukup terjaga. Arthur mendengus kecil, setelah berjuang mencari tempat parkir yang pas karna hampir rumah itu di kelilingi oleh kebun tomat. Dasar penggemar tomat tolol.
"Bloody hell, apa aku harus meminta maaf padanya?" Arthur mendadak frustasi karna bingung harus meminta maaf pada Antnio, tapi harga dirinya akan jatuh. Tapi kalau tidak? Ia tak mau memprediksi lagi karna kesalahan kecil dapat mengakibatkan hal fatal. Untung saja ia bawa coklat, okay... ia tahu sekarang bukanlah Valentine, tapi apa salahnya membawa coklat untuk tanda 'pertemanan'.
Arthur berjalan ke beranda dan sesampainya disana mengetok pintu, walau awalnya ragu, akhirnhya ia membulatkan tekatnya.
Tok
Tok
Tok
Tak ada jawaban.
Tok
Tok
Tok
Tidak ada? Mungkin sekarang sang pecinta tomat sedang berada di kebun untuk memanen tomat. Siapa tahu kalau belum mencoba? Berusaha mengikuti nalurinya, Arthur akhirnya berjalan memutar ke arah belakang rumah Antonio.
Dan bingo!sang pecinta tomat ada di sana- tunggu, ia sedang apa? Terduduk bersandar pada tembok rumah seraya mencengkram baju coklat berpita hitam dan seperti sedang berbicara. Arthur yang ingin tahu akhirnya bersembunyi di balik tembok rumah sang pemilik seraya mencuri dengar omongan sang pemuda maditerania.
"No puedo devolverlo-"
"-lo siento... ahahahah... No se puede hacer nada! ahahahah..."
Arthur merinding setengah mati saat suara tawa menggelegar bagai tawa orang sakit jiwa. Rasanya janggal, tak mungkin Antonio tertawa seperti itu, tawanya berbeda... bukan tawa konyol diiringi dengan wajah tolol, melainkan tawa penuh dendam. Arthur berharap ia bisa berbahasa latin, sayangya ia tak bisa, dan dengan siapa Antonio berbicara.
"¿Puedo dar una incisión en el cuerpo?"
"Owwh... Si? Gracias~"
SREEET!
Arthur bergidik ngeri mendengar suara sayatan yang sangat mencekam telinga. Rasanya tak baik ia menemui Antonio sekarang, mungkin lain kali, karna sekarang Antonio mungkin pula ingin menyendiri. Arthur mulai mengambil langkah seribu sebelum entah kenapa kepalanya terasa dihantam benda keras dan membuat dirinya terhuyung-huyung, lalu memegang kepalanya dengan satu tangan dan tangan lain bertumpu pada tembok.
Kesadaran sang bungsu Kirklang mulai menghilang, ingin rasanya ia memekik keras meluapkan kesakitannya. Andai saja hal itu bisa terjadi maka ia akan tertangkap basah sedang menguping pembicaraan seseorang. Keseimbangan sang british menghilang disusul memuarnya kesadaran, dan yang ia lihat terakhir kali hanyalah coklat berbentuk hati yang berada di samping tempatnya jatuh tersungkur.
"Co-coklat?"
"Apa yang kau inginkan?"
"Lepaskan aku! Hijo de-"
"Kenapa aku harus melepaskanmu?"
"Bodoh! tutup mulutmu, jangan beranggapan bahwa kau telah menang, sialan kau! membuat akal-akalan seakan kau keluar karna ulah orang lain! aku tahu ini rencanamu, mierda!"
"Kau benar,"
"Bajingan, keparat, bedebah dasar bodoh!"
"Siapa yang bajingan?"
"Tentu saja kau! sialan!"
"Aku? Yang benar saja. Yang bajingan itu adalah KAU!"
"A-apa ma-maksudmu...?"
"Dasar iblis berkedok malaikat! kau mengurungku, dan memberiku kesempatan keluar hanya ketika kau sendiri, aku yang menanggung semua rasa perih, dengki, murka, yang selama ini tak pernah kau rasakan! kau yang bilang agar aku tetap diam dan menurut, dasar keparat... ternyata kau mengurungku selamanya! sialan!"
"Aku tidak mengurungmu! aku hanya berusaha mengontrolmu agar kau tidak bertindak gegabah!"
"Kau kira aku anak kecil? Aku bahkan hidup lebih lama darimu, bila ingin diungkit... akulah yang memberimu kemenang dan kejayaan berabad-abad lalu. Aku yang menjadi perbawa trompi untukmu! dan KAU, sedikit pun tak pernah berterima kasih padaku!"
"Kemenangan heh? Menumpahkan berliter-letir darah, memenggal kepala penduduk tak berdosa, merampas harta benda, dan itu yang kau sebut KEMENANGAN!"
"Berdebat denganmu tak akan menghasilkan apapun, dan oh ya! terima kasih untuk tubuh ini, aku benar-benar menghargainya."
"Ka-KAU!"
Arthur perlahan membuka matanya yang terasa berat dengan sekuat tenaga. Buram, tidak jelas, itu deskripsi dari apa yang pertama kali ia lihat, dan semuanya terlalu tak jelas. Arthur mengerjapkan matanya dengan tempo lambat lalu akhirmya netranya dapat menangkap berbagai hal. Seperti; lemari, meja belajar, kasur, lampu, dan benda-benda lainnya, yah... tunggu, kasur? Arthur berusaha bangun dengan gerakan patah-patah walupun tubuhnya agak nyeri sana-sini.
Ia ada dimana? Kenapa semuanya terlihat berbeda? Apakah ini sebuah kamar? Tapi kemana penghuninya, yang ia yakini bukanlahn dia pemiliknya. Lalu apa ini? Sebuah kompres didahinya, selimut tebal, lalu matahari senja yang masuk lewat celah jendela ruangan. Dan ini sudah SORE?!
"Bloody hell, apa yang terjadi sebenarnya?git" pekik Arthur frustasi karna tak bisa mengingat apapun.
"Sudah bangun? Tepat sekali, kau belum makan siang 'kan? Aku sudah siapkan bubur"
Seorang pemuda dengan rambut brunet sedang berjalan masuk ke dalam kamar ini, dengan tangan yang menenteng nampan berisi sebuah mangkuk berwarna tembaga dan gelas antik, berjalan hati-hati ke arahnya, dan menaruh nampan itu di atas nakas. Arthur menyatukan alisnya saat melihat wajah Antonio yang terlihat agak seperti orang malas, berjalan ke samping kasurnya dan duduk di sisi kasur .
"Tertidur. Jelas aku sudah bangun, mana ada orang tidur bisa membuka mata, bangun, dan berbicara bagai orang normal." ujar Arthur sakastis seraya memutar bola mata, Antonio menoleh ogah-ogahan ke arahnya dan kembali memfokuskan atensinya menatap sprei putih gading itu.
"Sebenarnya kau ini kenapa? git!" paksa Arthur saat dirinya sudah mulai muak dengan semua drama picisan ini, hanya karna tersandung-
-tersandung? Astaga ia lupa! mungkin Antonio seperti ini adalah efek samping dari benturan langsung pada lantai, yang mengakibatkan putusnya saraf tertentu yang membuat kepribadian-
-dan entah kenapa agak tidak nyambung bila hanya karna benturan di kepala malah merambat pada kepribadian seseorang, jangan salahkan Arthur yang bukanlah seorang spesialis otak atau pun psikologi dan psikiater.
"Tidak kenapa-napa, hanya saja aku sedang ingin tidak bersosialis untuk sementara."
Dan itu sukses membuat alis abnormal Arthur meyatu untuk yang kedua kalinya.
"Aku ingin pergi dulu. Oh, ya... tadi aku menemukanmu berada di samping kebun tomatku, apa yang kau lakukan di sana? Aku menemukanmu tak sadarkan diri, memang apa yang terjadi? dan uh, oh... ambil coklat ini!" Antonio melempar pertanyaan bertubi-tubi dengan maksud lain, lalu melempar sebuah bingkisan berbentuk hati dengan wajah yang memerah padam, memalingkan wajah karna tak mau bertatapan dengan Arthur.
Arthur menaikan satu alis dan langsung menangkap bingkisan itu yang ia ketahui adalah coklat yang ia bawa, tunggu... coklat. yang. ia. bawa. Astaga! Antonio menemukannya!
"Di-dimana kau menemukannya, git!" pekik Arthur kaget dengan wajah yang tak kalah merah dari wajah Antonio.
"Di sampingmu, sudah yah... aku pergi kebelakang dulu-"
Arthur menarik tangan Antonio lalu dengan kasar menjejalkan bingkisan itu pada tangan eksotis sang latin, seraya mengumpat kecil.
"Ini memang untukmu, bloody wanker!" ucap Arthur di sela-sela umpatannya, masih dengan wajah memerah walau tidak terlalu memerah seperti tadi. Sedangkan Antonio masih agak terpanah, sebelum wajahnya kembali menjadi dingin.
"Terima kasih..."
Sumur, mana sumur... Arthur siap terjun ke dalam sana bila salah dengar, tadi apa? Antonio berterima kasih padanya? Demi galaksi Bima Sakti ia bersumpah setelah ini akan segera menyiapkan berlusin-lusin coklat hanya untuk mendengar kata yang sama seperti tadi.
"Y-yah, You're welcome..."
Antonio akhirnya berjalan keluar ruangan meninggalkan Arthur yang masih memandang kosong kasur putih. Mungkin ini adalah hari yang buruk sekaligus hari terindah di hidupnya. Terima kasih tuhan... entah kenapa wajah Antonio yang memerah di tambah wajah dinginnnya terkesan imut di matanya, wajah malu-malunya yang sungguh menggoda iman. Tapi, apa itu yang disebut Tsundere? Tapi seingatnya Antonio itu orang yang jamlang mengutarakan isi hatinya, tapi yang satu ini...
Ah, hari ini ia terlalu banyak berfikir, hingga sekarang sudah sore... sore? Ia lupa! Astaga! bagaimana ini?!
Di lain sisi, terlihat Antonio yang sedang memegang bingkisan berwarna coklat itu dengan tangan kirinya, dan tangan satunya lagi digunakan untuk memegang pisau lipat. Antonio mendengus pasrah dan bersandar pada daun pintu, berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Kenapa aku tidak bisa melakukannya?"
TBC OR DELETED?
Translate:
No puedo devolverlo (Spanish): I can't return it
lo siento... ahahahah... No se puede hacer nada! ahahahah(Spanish): I'm sorry... ahahahah... You can't do anything! ahahahah...
¿Puedo dar una incisión en el cuerpo?(Spanish): Can I give an incision in the body?
Owwh... Si? Gracias~(Spanish): Owwh... Yeah? Thank you~
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
A/N: Hallo minna-san*bungkuk* Yaku akhirnya ada waktu untuk nge-update chapter 2*tebar bunga* Yaku sekarang lagi butuh asupan UKSp, sayangnya semuanya udah Yaku baca :') Yaku berharap Hetalia tetap menjadi anime terbaik di hati para pecintanya, Yaku liat sekarang hampir hanya tersisa kurang dari 10 Author/Authoress yang meng-update di fandom Hetalia indo.
Yaku buat cerita ini didedikasikan untuk Hetalia, gak apa-apa kok kalian gak me-review dan baca cerita Yaku :")) so... Yaku gak maksa karna Yaku yakin cerita ini hanya ngabisin waktu kalian buat baca hal yang gak berguna, gak ada sejarah, sangkut pautnya... dan cuma minjem chara ajah :)) kalau udah kayak gini, tolong bila ingin memberi kritik saran atau pun Flame di wajibkan LOG IN kenapa? Karna bukan kenapa-napa, Yaku bakal belajar banyak dari si Flamers dari cerita-ceritanya dan menambah wawasan *digampar masal* jadi biar gak tanggung-tanggung =,="
Yaku mungkin tidak mempunyai waktu dekat untuk meng-update chapter 3, karna Yaku mempunyai banyak tanggung jawab pada dunia nyata. Yaku sangat berterima kasih bila ada yang mau baca barang setengah cerita pun :"))))))
Terima kasih :")))
