Tell Me
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pair: SasoTen, NejiSaku
Don't like don't read
RnR!
Hallo Minna-san :D Kabar apa nih kalian semua? :D Oke pertama author mau minta maaf karena baru ngelanjut sekarang :B Juga maaf ya kalo cerita chap ini agak ancur. Soalnya udh cukup lama gk nulis fic dan ilmu nya rada luntur :D Dan ternyta cukup banyak juga yang penasaran sama lanjutan fic ini hahaha :P Dan maaf untuk kalo author gak bisa bales review kalian satu2 hihihi. Hehe, gk mau bnyak omong deh authornya. Langsung baca aja yah ;)
(Maaf jika ada kesalahan tulisan typo atau apapun.)
Jam dinding berwarna merah yang terpasang di kamar Tenten menunjukkan pukul 22.35, itu artinya sudah waktunya untuk dia beranjak tidur. Setelah perjalan yang melelahkan tadi, kini ia bisa sedikit rileks berkat air hangat yang baru saja ia gunakan untuk mandi. Sangat nyaman berada di dalam bath up berisi penuh air hangat. Saking nyamannya, hampir saja Tenten tertidur di sana.
Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi guna meregangkan otot bahunya yang masih sedikit kaku dan segera beranjak naik ke atas ranjang. Ia membetulkan letak bantalnya, menelusupkan kedua kakinya dibalik selimut kemudian menarik kain tebal berwarna merah maroon itu hingga menutupi sebagian tubuhnya. Baru saja ia memejamkan mata dan mencoba untuk tidur, suara decit kecil mengangganggu telinganya hingga membuatnya mau tidak mau kembali membuka matanya. Dahinya berkerut bingung ketika telinganya tidak lagi menangkap suara tersebut. Ia lalu kembali memejamkan matanya dan berpikir mungkin suara itu hanya halusinasinya saja akibat terlalu lelah.
Srekk.. srekk..
Tenten kembali membuka matanya. Suara yang baru saja ia dengar cukup keras dan tidak mungkin itu cuma halusinasinya. Ia menengok kearah jendela kamarnya dan melihat siluet bayangan seseorang yang terpantul akibat lampu di tamannya. Rasa khawatir mulai menjalari dirinya. Apakah itu pencuri? Jelas, hal itulah yang pertama terbesit di pikirannya. Karena jika bukan pencuri, orang gila mana yang ada di luar jendela kamarnya selarut ini?
Baiklah, pertama yang ia pikirkan adalah para komplotan pencuri itu. Yang menjadi pikiran Tenten adalah berapa besar tubuh pencuri itu, berapa banyak mereka, dan senjata apa yang ada di genggaman mereka. Jika hanya satu atau dua orang pencuri dengan tubuh sedang, sudah pasti ia bisa mengatasinya. Tapi jika seandainya ada tujuh pencuri berbadan kekar dengan pisau di setiap tangan mereka, tidak mungkin ia bisa mengatasinya. Jika kemampuannya setara dengan Deidara senpai atau bahkan si Siluman Rubah itu, mungkin ia bisa mengatasinya.
Tangan gadis itu meraih sebotol pengharum ruangan yang ia letakkan di atas laci di samping tempat tidurnya. Paling tidak ia bisa menggunakam benda itu sebagain pertolongam pertama jika si pencuri sudah menampakkan muka. Ia bisa menyemprotkan cairan di dalamnya ke arah mata mereka, atau jika ia sempat, ia bisa menggunakan botol tersebut untuk memukuli kepala pencuri yang hendak masuk kedalam kamarnya lalu menendang mereka agar jatuh kebawah.
Tenten menurunkan kedua kakinya perlahan dan berjalan mengendap-endap tanpa melepas matanya dari bayangan orang tersebut dari gorden kamarnya. Tangan kanannya meraih ujung gorden kemudian tangan satunya perlahan membuka kunci jendela. Hanya dalam sekejap mata, ia berhasil membuka jendelanya hingga mengenai kepala bagian belakang pencuri tersebut. Tak cukup sampai di situ saja, ia juga segera menyemprokan cairan pengharum ruangan kearah mata pencuri tersebut lalu mendorongnya agar jatuh kebawah. Namun sebelum pencuri tersebut benar-benar sudah jatuh kebawah, Tenten membuka matanya dan baru menyadari, orang yang baru saja coba ia lukai ternyata...
"Sa-Sa-Sasori?!"
Grepp..
Secepat kilat tangan kanan gadis itu merengkuh pinggang Sasori agar pria itu tidak terjun kebawah. Sedangkan tangga yang pria itu gunakan untuk naik, sudah roboh akibat gerakan cepat mereka berdua. Yang tersisa kini hanyalah kedua kaki Sasori yang menapak di beranda jendela Tenten dan tangan kiri Tenten yang bergelayut pada kusen jendela, menahan tubuhnya dan Sasori agar tidak terjatuh.
.
Tenten segera membawa pria itu ke kamar mandi begitu ia berhasil mengangkat naik Sasori keatas. Ia menekan pelan leher belakang Sasori dan menundukkan kepalanya pada wastafel. Ia menekan terus keran airnya dan membiarkan pria itu membasuh wajah terutama matanya yang pedih akibat cairan pengharum ruangan tadi. Begitu selesai, ia meraih handuk kecil di dalam rak dan memberikannya pada Sasori.
"Duduklah, aku akan mengambil obat merah dan plester untuk lukamu." Gadis itu menarik Sasori ke sofa dan segera beranjak meninggalkan pria itu yang masih terpejam akibat pedih di matanya yang belum sepenuhnya hilang.
Beberapa menit kemudian, Tenten kembali dengan membawa serta beberapa botol obat dan wadah berisi air hangat di kedua tangannya. Gadis itu duduk tepat di samping Sasori dan segera mengompres luka memar di dahi Sasori. Pria itu sedikit meringis dan hendak menyingikirkan kain hangat itu dari dahinya. Namun dengan cepat Tenten menahannya dan mendorong pria itu untuk bersandar dan meletakkan kepalanya dia atas sandaran sofa. Tak berhenti sampai di situ, Tenten lantas sedikit memposisikan dirinya lebih tinggi dari Sasori agar ia lebih leluasa meneteskan obat mata pada kedua mata Sasori yang masih terpejam.
"Mungkin akan terasa pedih, tapi tahanlah sedikit." Kata Tenten lalu meneteskan beberapa tetes cairan dari dalam botol kecil itu ke mata Sasori.
"Ahh~"
Tenten segera memposisikan dirinya seperti semula setelah ia selesai mengobati kedua mata Sasori. Ia menghela nafasnya panjang sembari menatap Sasori bingung.
"Maafkan aku Sasori. Aku pikir kau pencuri."
"Tidak apa-apa. Kurasa akulah yang bersalah di sini. Harusnya aku memberitahu kau dulu sebelum kemari. Atau bahkan, tidak seharusnya aku datang kemari selarut ini." Sasori tertawa renyah.
"Hmh, jika kau memberitahuku terlebih dahulu, mungkin tidak akan seperti ini jadinya."
"Tapi bukan kejutan namanya jika aku memberitahumu."
"Kejutan?"
Sasori membuka kedua matanya yang sudah sedikit mereda dan mengambil handuk kecil di dahinya dan menatapata gadis itu lekat.
"Yah, aku ada disini sekarang. Kejutan." Kata Sasori dengan mimik wajah datarnya.
"Sa-sori?"
"Sebenarnya bukan itu tujuanku datang kemari." Pria itu tertawa renyah. "Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja setelah kau bertemu dengan Neji tadi."
"A-a dari-mana kau tau?" Gadis itu sedikit tercengang.
"Deidara yang mengatakan padaku saat dia dalam perjalan pulang tadi."
"Jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Dan.. apa hanya karena ini kau kesini hingga membuat kedua kaki dan tanganmu nyaris remuk jika saja tadi kau jatuh?" Gadis itu sedikit heran.
"Hm yah begitulah... Tapi sebenarnya tidak juga" Sasori merasa canggung. Ia mulai menggaruk baguan belakang lehernya yang sama sekali tidak gatal. Sangat terlihat sekali pria itu di landa rasa canggung.
"Sasori.. a-apa kau baik-baik saja?" Tenten menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Em, itu. Sebenarnya aku.."
"Aku apa?" Tanya Tenten tidak sabaran.
"A-aku s-suka... rambutmu. Yah, aku suka rambut teruraimu." Kata pria itu kikuk.
"Oh, oke. Baiklah. Terimakasih." Tawa kecil keluar dari bibir gadis itu.
"Hm, ya. Itu yang mau aku katakan tadi." Sasori meremas gemas handuk di tangannya sembari menghindari kontak mata secara langsung dengan gadis di sampingnya itu.
"A-apa kau yakin hanya itu yang mau kau katakan?" Tanya Tenten sekali lagi.
"Iya. Ah, maksudku tidak." Kedua mata berwarna merah gelap itu seketika menatap Tenten.
"Sungguh Sasori, sebenarnya kau ini kenapa? Tidak biasanya kau bersikap seperti ini." Tenten menatap pria itu bingung.
Deru AC di kamar Tenten serasa membekukan leher belakang Sasori seketika itu juga ketika mata Tenten menatap langsung pada dirinya. Rasa gugup yang ia rasakan kini jauh lebih dahsyat daripada rasa gugup yang ia alami ketika menunggu kepastian proyek besar yang berhasil ia kenangkan beberapa minggu yang lalu.
Puluhan bahkan mungkin sudah ratusan kali ia berbicara di depan orang banyak ketika ia mempresentasikan hasil kerjanya pada karyawan dan juga bos bos beaar perusahaan lain. Tapi entah kenapa saat dia melalukan itu rasa gugup yang ia alami tidak seperti sekarang. Ia hanya perlu mengucapkan beberapa kalimat pada Tenten. Hanya itu. Tapi kenapa seolah antara bibir, hati, dan otaknya sama sekali tidak berpihak padanya?
"Sasori, kau baik-baik saja?" Tangan Tenten menggoyangkan sedikit bahu Sasori.
"Ah, a-apa? I-iya. Aku baik." Jawab pria itu yang langsung sadar dari lamunan singkatnya.
"Apa matamu masih pedih?"
"Iya, tapi kau jangan khawatir. Aku baik-baik saja." Seulas senyum terulas dari bibir tipia Sasori.
"Hm baiklah. La-lalu bagaimana caramu pulang jika matamu seperti itu?" Tanya Tenten yangbsontak membuat pria itu terkejut.
Tenten benar. Ia tidak bisa mengemudi dengan keadaan seperti ini. Jika ia memaksa mengemudi, bukan tidak mungkin hal yang lebih akan terjadi.
"Aku akan mengantarmu." Sela Tenten di tengah lamunannya.
"Apa? Tidak perlu Tenten. Aku bisa pulang sendiri." Tolak pria itu terkejut.
"Dengan keadaanmu yang seperti itu? Kau yakin? Bagaimana kalau sesuatu terjadi? Apa kau bisa melihat jalan raya? Mobil di sisi kanan dan kiri? Lampu sen di depanmu? Jangankan melihat itu semua. Menatapku saja kau tidak mampu. Tunggulah di sini, aku akan mengambil jaketku." Kata Tenten lalu pergi begitu saja.
oOo
Sasori memejamkan matanya sembari mengompres indera pengelihatannya itu dengan batu es yang ia dapatkan dari kulkas keluarga Umino sebelum berangkat tadi. Sementara gadis yang sudah membuatnya tidak bisa melihat untuk sementara ini, duduk di balik kemudi dan memfokuskan matanya pada jalan raya yang sudah mulai sepi. Sebenarnya Sasori sudah sangat lelah dan mengantuk. Tapi bagaimanapun harus ia tahan karena ia tidak akan mungkin membiarkan Tenten mengemudi sementara ia tidur dengan pulas di sampingnya.
Sekitar 30 menit kemudian, mobil putih milik Sasori sudah sampai di depan gerbang pintu rumahnya. Begitu gerbang terbuka, Tenten segera melesatkan mobil Sasori kedalam dan segera beranjak turun. Gadis itu langsung melempar kunci mobil pada pemiliknya dan berjalan menjauh.
"Hei, kau mau kemana?" Teriak pria itu berharap Tenten segera berhenti.
"Tentu saja pulang bodoh. Kau pikir kemana lagi?" Tenten tertawa renyah.
"Selarut ini? Kau gila? Mana mungkin aku akan membiarkanmu pulang sendirian?" Pria itu sedikit berteriak.
"Kau tidak perlu berteriak Tuan Sasori. Lalu apa maumu? Kau mau aku menginap di sini malam ini? Jangan gila. Apa kata orang jika mereka tau aku menginap di rumah calon suami saudaraku sendiri?" Gadis itu tetap berjalan menjauh.
Tangan kanan Sasori dengan sigap menahan lengan kanan Tenten hingga gadis itu berhenti dan berbalik menatapnya.
"Dan kau pikir pria gila mana yang akan membiarkan seorang wanita pulang seorang diri di jam selarut ini?" Sasori menatap tajam Tenten.
"Huh, pulang sendiri? Mana mungkin aku pulang sendirian? Apa kau tidak sadar, selama perjalan tadi supirku mengikuti mobilmu dari belakang, hah?" Tenten melepas kasar genggaman Sasori.
"Sejak kapan? Aku tidak tau."
"Bagaimana kau bisa tau, kedua matamu terpejam daritadi. Sudahlah aku pulang. Aku tidak mau uang jajanku di potong gara-gara aku pulang pagi karena terlalu banyak bicara denganmu."
Tenten melangkah cepat meninggalkan Sasori dalam diam.
"Ah Ten-ten." Panggil Sasori lirih.
"Ya?"
"Se-sebenarnya yang tadi ingin kukatakan adalah.. be-besok sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku. Karena tadi mendadak aku harus ke luar kota untuk melihat kantor cabang baru di sana. Dan mungkin aku akan tinggal beberapa hari." Jelas pria itu menatap Tenten.
"Oh, aku tau. Kau pria sibuk, aku bisa mengerti. Jangan khawatir, aku tidak apa-apa." Kedua mata gadis itu menyipit ketika bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Tapi... apakah bisa jika kuganti lain waktu?" Tanya Sasori lirih.
"Terserah kau saja." Tenten tersenyum simpul dan melangkah pergi.
"Berjanjilah padaku kau tidak akan bersedih lagi karena pria itu." Lirih Sasori mengamati mobil Tenten yangbsemakin lama semakin hilang.
oOo
Aroma harum sup buatan Akane membuat putrinya yang kini sudah siap dengan seragam sekolahnya lengkap dengan cepol dua yang biasa ia gunakan membuat semangat gadis itu semakin tinggi. Setelah kejadian tadi malam, Tenten hanya bisa tidur 4 jam. Saat bangun pun ia tidak mendapati dirinya tidur di atas ranjang. Melainkan di sofa ruang tamu. Beruntung salah satu pembantunya membangunkan dirinya. Dengan begitu kedua orang tuanya tidak akan bertanya macam-macam kenapa ia bisa tidur di sana.
"Pagi Tenten. Duduklah dan makan sarapanmu selagi hangat." Kata Akane.
"Tentu saja Kaasan."
"Hei, bagaimana kabar Neji Tenten? Sudah lama dia tidak kemari?" Tanya Akane yang sektika membuat kedua putrinya tersedak.
"Ka-kalian baik-baik saja?" Tanya Akane sembari menyodorkan segelas air putih pada kedua putrinya.
"A-aku baik-baik saja Kaasan."Sakura meneguk separuh isi gelas lalu meletakkannya kembali.
"Aku juga tidak apa-apa Kaasan. Tidak perlu khawatir." Kata gadis berambut cokelat itu sembari menyeka sisa air di sekitar bibirnya. "Neji keadaanya baik-baik saja. Mungkin dia sedang sibuk karena sebentar lagi dia akan mengikuti olimpiade lagi." Imbuh Tenten.
"Begitu. Lalu bagaimana dengan Sasori?"
"Sasori-san sedang berada di luar kota Kaasan. Dia sedang mengurusi kantor barunya." Jawab Sakura apa adanya.
"Kapan kalian berdua mengajak mereka berdua..."
"Maaf Kaasan, tapi aku harus segera berangkat. Ada pekerjaan rumah yang tidak aku mengerti dan aku harus bertanya pada Hinata." Tenten menyela perkataan Ibunya dan berlalu pergi.
"A-apa? Hei, kau tidak sopan sekali menyela pembicaraan orang tua. Kalau ada pekerjaan rumah tang tidak kau mengerti kenapa tidak tanya saja pada Sakura bocah!" Teriak Akane pada Tenten yang semakin menghilang.
'Maafkan aku Kaasan, aku tidak bermaksud tidak sopan. Tapi aku tau akan mengarah kemana pembicaraan Kaasan tadi.' Batin Tenten meremas tali tasnya.
"Aku juga harus berangkat Kaasan. Aku takut kesiangan." Sakura beranjak dari duduknya.
.
Supir pribadi keluarga Umino sudah bersiap untuk membukakan pintu untuk majikan mudanya. Namun setelah pintu terbuka, Tenten melewatinya begitu saja membuat Tayuya mengerutkan dahinya.
"Tenten-sama, bukankah kau akan pergi ke sekolah?" Tanya paman berusia sekitar 46 tahun itu.
"Iya paman. Tapi untuk hari ini aku tidak akan naik mobil."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa paman. Paman antarkan saja Sakura. Aku bisa naik bus ke sekolah." Gadis itu menghela nafasnya panjang, melemparkan senyum manisnya pada Tayuya dan berlalu pergi.
"A.. ta-tapi Tenten-sama..."
"Ada apa paman?"
Dengan terpaksa Tayuya mengurungkan niat untuk mengejar Tenten ketika majikan muda yang satunya bertanya. "Bukan apa-apa Sakura-sama. Masuklah, kau hampir terlambat."
"Di mana Tenten?"
"E.. A-anu. Tenten-sama sudah berangkat terlebih dahulu tadi. Dia naik angkutan umum." Jawab Tayuya canggung.
"Angkutan umum?" Lirih Sakura. "Paman, hari ini aku juga akan naik angkutan umum." Kata Sakura segera melesat menyusul Tenten yang sudah tidak kelihatan batang hidungnya.
Mata Sakura melihat satu bus yang berhenti di sebuah halte yang tak jauh dari rumahnya. Dari luar dapat ia lihat jelas kalau Tenten sedang duduk di kursi paling belakang sembari menyumbag kedua telinganya dengan earphone. Kedua mata gadis bercepol itu terpejam. Entah mengantuk atau menikmati alunan musik yang ia dengar.
Tanpa banyak bicara, Sakura segera naik ke bus dan duduk tepat 2 bangku di depan Tenten. Agar Tenten tidak mengetahui keberadaanya, Sakura menutupi rambut pink mencoloknya dengan topi jaket yang ia gunakan.
Dering ponsel milik Tenten cukup terdengar oleh Sakura yang duduknya tidak lebih dari 3 meter dadi Tenten. Sekilas Sakura menoleh ke belakang dan mendapati gadis itu berbicara pada seseorang di sebrang sana.
"Hm, apa maumu Neji?"
Nama pria yang terlontar keluar dari bibir Tenten membuat seluruh darah di dalam tubuh Sakura berdesir. Untuk apa Neji menghubungi Tenten sepagi ini?
oOo
Jam pelajaran telah usai. Kini saatnya semua siswa kecuali Tenten untuk pulang. Tenten sudah berjanji pada seseorang. Setelah ia keluar dari kelas, kedua kaki Tenten langsung ia arahkan ke cafe dekat sekolah untuk menemui seseorang.
Beberapa saat setelah ia setengah berlari, ia telah sampai di pintu cafe dan melihat seorang pria berambut panjang lurus menyesap kopinya di meja sudut ruangan. Dengan pandangan malas dan langkah gontai Tenten mendekati Neji. Namun sebelum pria itu benar-benar melihatnya, ia merubah ekspresinya 360°. Ia menyunggingkan senyum terbaik yang ia miliki lalu duduk di sisi sebrang meja tersebut.
"Hai Neji, apa kabar?" Tenten meletakkan tasnya di pangkuannya
"Baik. Bagaimana denganmu?" Pria Hyuuga itu meletakkan kembali cangkir kopinya.
"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja."
"Apa kau mau pesan sesuatu?"
"Tidak. Aku tidak punya banyak waktu di sini. Aku harus latihan karate. Jadi langsung ke intinya saja." Kata Tenten serius.
"Ah, baiklah. Begini... Apa arti perjodohan ini bagimu?"
"Emm, bagiku.. Yah, seperti itulah." Kedua bahu Tenten naik bersamaan.
"Apa kau keberatan dengan semua ini?"
"Yah kau tau, awalnya aku tidak keberatan. Sama sekali tidak. Tapi semakin kesini, aku merasa menjadi orang paling bodoh di karenakan perjodohan ini. Dan pada akhirnya, bagiku semua ini hanya sebuah lelucon konyol."
"Lelucon? Konyol?"
"Ya, begitulah. Yang aku inginkan dari perjodohan ini adalah kebahagiaan kedua belah pihak. Namun jika perjodohan ini hanya membuahkan sakit hati untuk apa aku menganggapnya serius?"
"A-aku..."
"Cukup, jangan bicara Neji. Aku tidak mau mendengar apapun darimu. Aku tidak mau kau bicara lebih banyak dan lebih baik kau diamlah jika kau tidak ingin menyakitiku lebih jauh." Jawab gadis itu beranjak berdiri dari duduknya.
"Tenten, aku akan menjelaskan semuanya.." Tangan kanan Neji menahan pergelangan tangan Tenten.
"Tidak. Tidak perlu Neji. Aku sudah tau semuanya. Aku sudah tidak ingin memikirkannya lagi. Aku juga sudah tidak peduli denganmu ataupun Sakura. Lakukan yang kalian inginkan, jangan pedulikan aku." Satu hentakkan keras berhasil membuat cengkraman Neji lepas begitu saja dari tangan Tenten. "Satu hal lagi. Jangan pernah katakan hal ini pada orangtuaku. Aku yakin, meskipun gadismu itu sangat licik tapi dia pasti tidak akan suka melihat ibunya terbaring sakit jika mendengar hal ini. Aku akan menjelaskannya perlahan-lahan pada orangtuaku."
Oke untuk chap kali ini sekian sampe di sini. Maaf jika ada salah2 kata atau tulisan. Maaf juga karena updatenya lama :D Dan kayaknya chap ini terlalu pendek ya? Hehehe
Update? RnR please :) See you guys ^_^
