Tell Me
Disclamer: Masashi Kishimoto
Warning: TYPO, ancur, dll
Tetot :D Author Ran come back xD Adakah yang nunggu kedatangan Author wkwk #plak :D Udahlah, langsung baca aja wkwk. Happy read minna-san ^_^
Nazlia: Arigato juga karena udah baca. Udah di next, happy read ya ^_^
Mina: Perang dunia Deidara sama Sasori akan segera terjadi wkwk. chapter yg ini yang oerang orang lain dulu ya XD
Lanjutannya: Hehe iya, Neji emng cuma buat Tenten. Tapi di serialnya Tenten kehilangan Neji #nangisgulunggulung Hehe, makasih ya udh baca. Maaf ya terlambat hehehe
Jelliesdewi: Hehe, aku juga lupa kamu pernah review apa belum.
Akira Ken: Siap kapten :D
Monaa: Hehehe, lihat aja ya ntar neji endingya sama siapa :D Iya, Neji emng cma buat Tenten. Tapi di serialnya mereka kurang beruntung :'(
Dentingan pelan suara sendok kecil yang berbenturan dengan cangkir berisi penuh hazelnut terdengar sangat nyaring bagi seorang gadis yang tak lain adalah putri Iruka. Bagaimana tidak, hampir satu jam mereka berdua berada di cafe langgannya ini, dan hampir 30 menit lamanya kekasihnya hanya memainkan sendok dan cangkirnya tanpa menyesap isinya sedikit pun. Membuat sang gadis di rundung rasa cemas dan khawatir.
"Neji-kun, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat sedikit aneh hari ini." Kata seorang gadis berambut pink sembari menyibakkan rambutnya ke belakang telinga akibat hembusan AC cafe yang berada tepat di atasnya.
Tak ada jawaban.
"Neji-kun aku bertanya apa kau baik-baik saja?"
Tetap tidak ada jawaban.
Tangan halus nan lembut milik gadis berambut soft pink itu perlahan menggapai tangan Neji yang berada tak jauh dari letak cangkir mereka berdua. Hanya sedikit sentuhan membuat pria itu seketika tersentak dan segera beralih menatap wanita di hadapannya.
"Ah~ ya Sakura. Ada apa?" Tanyanya dengan gelagat yang tak seperti biasanya.
Sakura mengerutkan dahinya. Sikap Neji barusan membuatnya semakin yakin ada yang tidak beres dengan lelaki itu. Biasanya jika mereka berdua keluar, Neji jarang bahkan mungkin tak pernah mengacuhkannya seperti saat ini. Ia biasanya bersikap hangat dan sangat nyaman jika berada di dekatnya. Namun untuk hari ini Sakura sedikit merasa berbeda.
"Neji-kun, kau agak aneh hari ini. Apa kau sakit?" Tanya gadis itu cemas.
Neji mengedikkan kedua bahunya cepat "Tidak, aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."
"Kau terlihat sedikit pucat. Apa kau sakit?" Tanya Sakura sekali lagi.
"Seperti yang aku bilang tadi, aku baik-baik saja." Neji tersenyum ringan. "Apa sudah selesai? Jika sudah mari kuantar kau pulang."
Lagi-lagi Sakura di buat terkejut oleh sikap Neji. Biasanya ialah yang merengek minta pulang jika sedang keluar berdua. Tapi kali ini...
Sakura hanya mengangguk meng-iya kan Neji dan segera beranjak dari tempatnya. Tak lupa ia menyambar tasnya yang ia letakkan di kursi sebelahnya dan berjalan membuntutu Neji di belakangnya.
"Masuklah Sakura, aku akan mengantarmu pulang. Aku ada sedikit urusan." Kata Neji membukakan pintu mobilnya untuk gadis itu.
.
Sesampainya di depan komplek rumah Sakura, Neji menghentikan mobilnya dan membiarkan Sakura turun. Namun Sakura tak kunjung turun. Gadis itu memainkan jarinya dan menunduk lemah.
"Sampai kapan kita harus seperti ini?" Tanya Sakura tiba-tiba yang tentu saja membuat Neji sedikit terkejut. "Yang selalu aku inginkan adalah kau mengantarku tepat di depan rumahku tanpa harus takut ketahuan orang lain. Yang aku inginkan adalah selalu bersamamu setiap saat tanpa harus bersembunyi jika seseorang melihat kita. Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku sungguh ingin mengakhirinya."
Neji yang mendengar kata-kata Sakura seketika terkejut. Tentu saja, selama ini ia mengenal Sakura sebagai gadis pendiam, tak banyak bicara, dan jarang mengeluh. Meski begitu, Neji tidak menyalahkan Sakura. Neji tau, kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh kekasihnya berasal dari hati yang sudah lelah karena terlalu lama menunggu. Hampir 2 tahun mereka berdua menjalin hubungan, dan baru sekarang Sakura berani berkata seperti itu.
"Sedikit lagi. Keinginanmu akan menjadi nyata. Bahkan mungkin akan lebih indah dari yang kau bayangkan."
"Neji-kun, jika kau ingin melepaskan semuanya dan memilih untuk mundur, aku akan menerimanya. Aku akan meminta maaf pada Tenten, aku juga akan menjelaskan semuanya pada pada orangtuaku. Bahkan jika mereka tidak bisa menerimanya dan memutuskan untuk mengembalikkan ke panti aku rela. Karena dari awal memang aku lah yang bersalah."
Kedua mata berwana hijau emerald itu menatap Neji penuh harap. Meski cara dia berbicara sangat meyakinkan tapi hanya dengan menatap sekilas matanya Neji bisa tau di dalam hatinya merasakan hal yang sebaliknya.
"Sakura, aku sudah berdiri di tengah-tengah neraka. Aku sudah tidak takut lagu dengan api sebesar apapun. Jangan pikirkan hal itu lagi. Lakukan yang ingin kau lakukan dan serahkan semuanya padaku."
oOo
Bruk!
Satu bantingan keras membuat gema di seluruh ruangan. Pria bersurai panjang berwarna kuning tersebut segera membantu juniornya untuk bangkit setelah ia berhasil membuat juniornya tersebut terkapar di atas matras. Ia segera menyiapkan kuda kudanya dan bersiap kembali menyerang sang junior yang terlihat ngos-ngos an akibat bergumul di atas matras dengan lawan yang tidak sebanding dengannya.
Krik..
Bunyi decit pintu terbuka tak membuat Deidara serta merta menghentikan permainanya dengan juniornya. Pria itu tetap tak mempedulikan sekitaranya dan masih menghindari serangan demi serangan yang di lancarkan oleh orang yang sama.
"Akh!" Pekik junior Deidara yang tau-tau sudah dengan posisi terkunci di kedua kaki Deidara.
"Kau terlalu lamban Bon. Seharusnya kau bisa melakukan lebih dari ini mengingat kau sudah cukup lama berada di sini." Kata Deidara melepas kunciannya.
"Maaf Deidara senpai, aku hanya kurang konsentrasi." Kata laki-laki bernama Bon tersebut.
"Mungkin kau harus sedikit menurunkan level seranganmu Senpai." Suara yang terdengar sangat familiar bagi semua manusia yang berada di ruangan ini.
"Tenten" Deidara segera beralih menatap gadis bercepol yang menenteng tasnya.
"Meskipun Bon sudah cukup lama berada di sini, tapi bagaimanapun kau adalah senior." Tenten tertawa memandang Bon yang sudah terlihat kacau.
"Istirahat. Kita akan lanjutkan nanti." Kata Deidara pada muridnya. "Dan kau Tenten Umino, banyak hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Hm, sudah kuduga." Tenten mem-pout kan bibirnya. "Tapi ngomong-ngomong, bagaimana dengan siluman rubah itu, apa dia baik-baik saja?" Kata gadis itu menyerahkan sebotol air mineral pada Deidara.
"Untuk sekarang, ya. Tapi entah jika sampai dia bertemu denganmu?"
"Maksudmu?"
"Kau tau kan beberapa hari yang lalu kita ada pertandingan persahabatan dengan perguruan Gongjo. Bukankah kau adalah salah satu peserta yang di jagokan siluman rubah itu? Kau lupa?"
"Ah~ yang itu. Tapi bukankah sudah kubilang aku sedang sakit?" Kata Tenten sedikit memberontak.
"Berapa tahun kau berada di perguruan ini? Kapan kau pernah melihat seorang Kenshin Hashimura menerima alasan kampungan dari muridnya?" Kata Deidara menghentikan langkahnya menatap Tenten.
"Apakah sakit masuk dalam kategori alasan? Kau pikir aku ingin sakit."
"Hah~ baiklah baiklah baiklah, lupakan. Lalu kemana saja kau selama seminggu ini? Kau tidak sehari pun datang kemari. Apa kau tidak rindu padaku?" Goda Deidara.
"Aku ada sedikit masalah. Aku rindu padamu? Bukankah kau yang merindukanku?" Tenten tertawa lebar.
"Aku sudah berkali-kali berkata kalau aku merindukanmu, bisakah sekarang gantian kau yang merindukanku?" Kata Deidara mengacak rambut Tenten.
"Baiklah baiklah, aku rindu kau. Aku rindu berlatih denganmu, aku rindu saat kita berdua berebut jatah kue mingguan, dan yang terpenting aku rindu membanting Senpai di atas matras." Tawa Tenten lagi-lagi meledak.
"Kau..." Deidara bemaksud merangkul gemas gadis di hadapannya. Namun urung ketika suara mengerikan di belakang memanggil nama gadis itu.
"Siluman rubah." Kata Tenten gelagapan.
"Kenshin Hashimura." Kata Deidara mengejek Tenten. "Berhati-hatilah Tenten, jangan sampai siluman rubah itu mengeluarkan ekornya." Goda Deidara membuat Tenten otomatis tercekat.
"Tenten Umino kemarilah, aku tidak semakin muda dengan menunggu di sini." Kata Kenshin yang tidak lain adalah si siluman rubah.
"Baiklah siluman... Ah~ maksudku Kenshin Sensei." Kata Tenten melambaikan pelan tangannya.
"Jika dia mengeluarkan ekornya, pastikan taringnya juga keluar." Goda Deidara.
"Aku akan mengeluarkan semua ekor, taring, dan cakar ku di hadapanmu setelah aku selesai dengannya Senpai." Kata Tenten menatap tajam Deidara.
.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya mata Deidara menatap sosok gadis yang keluar dari ruangan yang sangat dingin itu. Yah, sebagian besar orang di sini akan merasa ruangan itu layaknya kulkas raksasa dengan seekor beruang kutub di dalam yang menerkam apa saja di hadapannya.
Gadis itu berjalan seperti biasa tanpa ada rasa tertekan sedikit pun menghampiri Deidara. Ia lantas duduk di samping pria berambut kuning tersebut dan melebarkan senyumnya. Seolah mendapat sebuah cincin berlian di dasar gelas anggur.
"Jadi..." Deidara menatap Tenten bingung.
"Aku hanya harus mengajar para pemula selama satu minggu penuh. Bukan hal yang sulit untuk kulakukan. Dan lagi anak-anak itu sangat manis." Kata Tenten riang.
"Kau sangat beruntung. Ada satu kejadian yang hampir sama sekitar satu tahun yang lalu. Saat turnamen berlangsung, tiba-tiba salah satu pesertanya menerima kabar bahwa ia harus mengikuti tes untuk masuk ke perguruan favorit. Dan tentu saja dia lebih memilih mengikuti tes. Dan kau tau, siluman rubah itu menyuruh muridnya yang bernama Ma itu untuk membersihkan ruangan setelah semua orang selesai selama sebulan penuh." Kata Deidara.
"Benarkah?" Tenten tertawa kecil.
"Hm, keberuntungan selalu menyertaimu tanpa kau sadari Tenten."
"Hidupku tidak seindah bayangmu Senpai." Gadis itu tersenyum kecut.
"Akankah kau menceritakannya padaku?" Pria itu mendekatkan kepalanya sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak Senpai. Akan sangat memalukan jika semua orang tau tentang kebodohanku."
"Kau tau Tenten, dulu ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah akhir, ada satu wanita yang sangat aku sukai. Tapi ketika itu aku sadar diri, wanita itu tidak akan pernah melihatku. Sampai suatu ketika, aku harus menerima kenyataan pahit saat aku tau wanita itu sudah berbadan dua tepat 1 bulan sebelum kami wisuda. Pria brengsek yang melakukan hal sehina itu tak lain adalah teman dekatku sendiri. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang mau berteman dengannya. Saat itu aku berusaha mendekatinya siapa tau dia mau membagi beban dunianya padaku karena dia terlihat sangat tertekan. Dan jika aku beruntung, siapa tau aku bisa menjadi ayah dari bayi itu meskipun bukan aku yang menghamilinya..." Deidara membetulkan posisi duduknya yang agak miring ke posisi yang nyaman.
"...aku sudah berusaha sebisaku untuk menghiburnya. Tapi tetap saja dia tertutup padaku, bahkan mungkin pada orang tuanya. Tepat satu minggu sebelum kami wisuda, aku menerima surat yang ternyata adalah dari gadis itu. Di sana tertulis kalau dia sebenarnya sangat senang aku berada di sampingnya meskipun dunia sudah menolaknya. Dia sangat nyaman bersamaku. Dia juga bilang aku pria yang baik dan menarik. Namun dia pikir pria baik sepertiku tak pantas mendapatkan gadis yang sudah ternodai seperti dirinya. Meskipun ia tau aku tidak peduli tentang hal itu, tapi yang ia pikirkan ketika melihatku hanyalah hidupku yang akan hancur jika tetap bersamanya. Awalnya aku tidak tau apa maksudnya mengirimkan surat ini padaku. Namun saat pagi aku memasuki gerbang sekolah, aku sudah mendapati fotonya tertempel di mading dengan tulisan "RIP" di atasnya. Gadis itu di temukan tewas di kamarnya di karenakan terlalu banyak menggunakan obat penenang akibat depresi berat yang di alaminya."
Tenten fokus mendengar cerita Deidara. Ia sedikit terhenyak karena ia tak menyangka Senpai nya pernah mengalami masa-masa seperti itu. Siapa sangka, pria yang selalu terlihat tegar dan ceria di depannya memiliki masa kelam yang tak pernah ia duga.
"Bagaimana dengan pria brengsek itu?" Tanya Tenten.
"Entahlah. Tapi kudengar setelah ia mengetahui tentang kehamilan itu, dia melarikan diri ke Amerika mengikuti orang tuanya yang sudah terlebih dahulu berada di sana." Deidara mengedikkan bahunya tersenyum pahit.
"Tapi Senpai, kenapa kau menceritakan pengalaman pahitmu padaku?" Tenten bertanya lirih.
"Aku selalu teringat padanya jika melihatmu. Kau dan dia hampir sama. Kalian berdua sama-sama cantik, manis, dan hidup serasa tak ada beban dunia berada di pundakmu. Aku hanya tidak ingin mengulangi kejadian yang sama. Aku tidak mau kehilangan orang yang kucintai untuk yang kedua kalinya." Deidara berhenti bicara. Matanya menatap Tenten yang masih terkejut akibat perkataanya.
"Sen-pai..."
"Ma-maaf Tenten, aku terbawa suasana." Kata Deidara gelagapan ketika ia menyadari apa yang baru saja dia katakan.
"Senpai, kau baik-baik saja?" Tenten menyentuh punggung Deidara berusaha menenangkan pria itu yang masih salah tingkah.
"A-aku baik-baik saja. Lebih baik k-kau mulailah latihan, aku juga harus kembali mengajar." Deidara beranjak dari duduknya dengan keringat dingin yang bercucuran.
"Senpai.." Lirih Tenten menatap lemah punggung pria itu yang makin menjauh.
oOo
Tenten merebahkan punggungnya di atas kasur king size di kamarnya setelah melempar tas dan juga jaketnya ke sembarang tempat. Lelah yang ia rasakan membuat kegiatan sederhananya itu merasa sedang berada di surga. Sangat nyaman meluruskan otot-otot punggungnya yang kaku sejak kemarin. Kedua matanya terpejam sesaat merasakan hembusan AC yang baru saja mendinginkan sekujur tubuhnya yang penuh keringat.
Tok.. tok.. tok..
Ketukan pintu dari luar kamar Tenten memaksanya sadar dari tidur semunya dan segera membuka pintu berwarna putih tersebut. Di baliknya ia melihat seorang perempuan paruh baya memegang segelas es teh hangat sedang berdiri di sana.
"Es yang anda minta Tenten-san." Kata wanita itu sedikit menunduk.
"Ah, ternyata lebih cepat dari perkiraanku. Terimakasih Baasan." Gadis itu meraih minuman pesanannya dan kembali menutup pintu kamarnya.
Ia menyesap separuh isinya guna menghilangkan dahaganya. Ia bernafas lega setelah isi dari gelas tersebut mengalir membasahi kerongkongannya yang sudah kering layaknya pohon kaktus di muaim kemarau.
Tenten meletakkan gelasnya di atas meja dan berjalan menuju lemarinya berniat untuk mengambil beberapa baju untuk ia kenakan setelah mandi. Beberapa detik ketika ia membuka lemari, sebuah kotak kecil berwarna pink yang ia letakkan di bagian sisi dalam lemari tersenggol pelan oleh punggung tangannya. Ia meratapi sejenak kotak itu sekaligus menelan rasa sakit di hatinya yang kembali muncul.
Tangannya meraih kotak tersebut dan membawanya keranjang tampa menutup pintu lemarinya. Tenten membuka kotak tersebut yang di dalamnya terdapat sebuah buku diary kecil berukuran sedang dengan motif unik yang tidak akan bisa di dapatkan di toko manapun. Atau bisa di bilang, diary ini adalah satu-satunya di dunia. Bagaimana tidak, Tenten mendesain sampul buku tersebut sedemikian rupa untuk di berikan pada Sakura ketika ia berulang tahun nanti. Ia menyisihkan uang jajannya selama hampir setahun hanya untuk benda kecil ini.
Kalung sederhana dengan liontin berbentuk strawbery dan coklat tergantung indah di sampul buku tersebut. Tak lupa juga, inisial huruf S bertengger indah dengan di lapisi glitter berwana emas di sana. Sungguh ia sangat ingin melihat raut wajah saudaranya itu ketika ia memberikan benda ini pada gadis itu. Namun yang menjadi masalah sekarang, bagaimana caranya untuk memberikan ini pada Sakura setelah apa yang telah terjadi.
"Kami-sama, ini membuatku gila." Kata Tenten frustasi dan meletakkan kotak tersebut di atas ranjangnya begitu saja.
Tok.. tok.. tok
Ketukan pintu dari luar membuat Tenten seketika terkejut dan segera berlari menghampiri pintu dan membukanya.
"Kaasan.." Lirih Tenten sedikit bingung.
"Tenten, bisa Kaasan bicara denganmu." Kata Akane masuk ke kamar putrinya itu.
"Tentu saja Kaasan. Apakah serius? Biasanya Kaasan akan langsung mengomel jika aku melakukan kesalahan. Kenapa sekarang Kaasan seperti ini." Dahi Tenten berkerut bingung. Namun meski begitu ia tetap menatap Akane dan duduk di sebelahnya.
"Tenten, sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Sakura? Hampir 2 minggu Kaasan melihat kalian tidak bertegur sapa. Apa kalian ada masalah?"
Tenten sebenarnya tidak mau Ibunya menanyakan hal itu dan ikut turun tangan, namun kesalahannya yang menghiraukan Sakura hingga begitu ketara membuat ibunya curiga.
"Tidak ada masalah apapun di antara kami Kaasan. Kami bukannya tidak bertegur sapa, kami hanya merasa sudah terlalu banyak hal yang kami bicarakan di sekolah. Jadi saat di rumah kami sibuk dengan urusan kami." Tenten menautkan kedua tangannya di atas pangkuannya sembari melihat Ibunya yang tersenyum lemah menatapnya.
"Jika sesuatu terjadi di antara kalian berdua, Kaasan ingin kalian menceritakan masalah kalian pada Kaasan. Jangan menutupinya dari Kaasan. Kau mengerti." Akane membelai lembut puncak kepala Tenten.
"Jika benar sesuatu terjadi di antara kami, apa Kaasan akan memaafkan kami?"
"Tentu saja Tenten. Kalian berdua adalah harta kami yang paling berharga. Semua akan Kaasan dan Tousan lakukan untuk kalian berdua. Kau mengerti."
"Iya Kaasan."
Tenten tidak tau harus melakukan apa. Jika ia mengatakan semuanya sekarang, ia belum siap akan konsekuensi yang akan terjadi. Namun jika ia menundanya, ia takut masalahnya akan semakin lebar dan menjadi rumit.
"Mungkin nanti." Lirih gadis itu menatap pintu kamarnya yang menutup beserta ibunya yang semakin menghilang dari pandangannya.
oOo
"Bisa kau berhenti sebentar." Kata Sasori pada Hidan yang tengah mengemudi.
"Untuk apa?" Tanya Hidan bingung.
"Lakukan saja. Berhentilah di situ." Kata Sasori menunjuk tempat parkir restoran cepat saji yang tak jauh dari posisinya.
"Wah, kau sangat pengertian kawan. Apa suara perutku yang meronta begitu keras hingga terdengar olehmu dan menyayat hatimu?" Celoteh pria itu memarkirkan mobilnya.
Sasori turun dari mobil dan memperhatikan sesuatu di seberang jalan. Ia tersenyum sesaat dan menoleh pada sahabatnya itu. "Jika kau lapar masuklah, ada sesuatu yang harus aku lakukan." Kata Sasori meninggalkan Hidan begitu saja.
"A-apa? Hei, kupikir kau mau mentraktirku." Kata-kata Hidan sama sekali tak di gubris oleh Sasori yang semakin menjauh dari hadapannya.
.
Kling..
Nuansa putih dan abu-abu tersaji memanjakan mata Sasori yang sedari tadi di dominasi oleh aspal jalan. Di setiap sudut ruangan, terdapat sebuah guci bening yang di isi bunga lavender. Tidak terlalu besar. Tapi cukup nyaman dan rapi. Juga bersih.
"Selamat datang. Ada yang bisa kubantu?" Tanya pegawai toko ketika pria berambut merah menyala itu masuk.
"Yah, aku sedang mencari kado untuk seorang gadis. Apa kira-kira yang cocok?" Tanya Sasori melayangkan matanya pada jejeran etalase yang memamerkan produk tokonya.
"Berapa usianya, dan apa kesukaanya?" Tanya sang pegawai.
"Dia berusia 18 tahun. Dan ia suka Karate." Jawab Sasori apa adanya.
"Mungkin yang ini cocok untuknya. Meskipun biasa, tapi ini bisa menunjukkan sisi kewanitaanya meskipun dia tomboy." Kata pegawai toko mengeluarkan kalung emas putih dengan liontin berbentuk clover kecil berukuran 1cm.
"Begitukah? Ini indah." Kata Sasori menyentuh kalung tersebut. "Baiklah, aku ambil yang ini."
oOo
"Apa yang kau lakukan tadi?" Tanya Hidan menatap Sasori yang sedari tadi tersenyum menatap sebuah kotak yang entah dari mana pria itu dapatkan.
"Tidak ada. Aku hanya membeli hadiah kecil untuk seseorang." Kata Sasori.
"Tenten?"
"Hm"
Sasori mengelurkan ponselnya dari sakunya. Ia lantas menelan panggilan cepat nomor satu dan segera menghubungi pemilik nomor tersebut. Setelah menunggu beberapa detik, seseorang menjawab teleponnya.
'Hai Sasori, ada apa?' Tanyanya di seberang telefon.
"Apa nanti malam kau sibuk?" Tanya Sasori.
'Tidak juga. Ada apa?' Tanyanya.
"Aku ingin mengjakmu makan malam Tenten. Kudengar ada restoran baru di dekat rumahku, aku ingin mengajakmu kesana jika kau tidak keberatan."
'Oh, tentu saja tidak. Jam berapa?' Tanyanya lagi.
"Kita bertemu di taman dekat rumahmu jam 7 nanti. Aku akan menjemputmu."
'Baiklah, sampai bertemu nanti Sasori.'
oOo
Nuansa Eropa kental tersaji di depan mata Sasori dan Tenten. Warna gold mendominasi restoran ini. Tak lupa juga foto-foto dan cinderamata ala Eropa yan terpasang menambah detail indah pada restoran ini.
Dengan setelan kemeja berwana putih dan jas hitam, Sasori menuntun Tenten yang terlihat cantik dengan gaun sederhana berwarna merah maroon membalut tubuhnya ke arah meha yang sudah ia pesan sebelumnya.
"Kau sangat cantik malam ini Tenten." Kata Sasori menarik kursi gadis.
"Terimakasih Sasori."
oOo
Neji berjalan santai ke arah pintu dan mengetuk pintu keluarga Iruka. Tak lama kemudian, seorang wanita membuka pintunya dan melemparkan senyuman pada Neji.
"Hai Neji, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Akane.
"Aku mencari Tenten Basan. Apa dia ada di dalam?" Tanya Neji.
"Dia tadi pergi. Mengenakan gaun dan memakain make-up. Dia tampil sangat cantik lalu pergi. Aku kira ia akan pergi bersamamu." Kata Akane sedikit curiga.
"Begitu kah. Kalau begitu, kemana dia pergi?" Tanya Neji lagi.
"Kalau tidak salah, tadi siang dia bilang akan pergi ke restoran eropa yang baru saja di buka. Letaknya di pusat kota."
"Baiklah kalau begitu Basan, aku pergi dulu." Kata Neji pamit.
'Bukan denganku. Lalu dengan siapa?' Batin Neji sembari membetulkan setelan jas nya.
oOo
"Terimakasih Sasori kau sudah mengajakku kemari. Makanan di sini enak. Dan lagi, aku sedang suntuk di rumah." Tenten mengelap sudut bibirnya dan tersenyum manis pada pria itu.
Blusshh..
Semburat merah di kedua pipi Sasori muncul begitu saja tanpa ia sadari. Belum peenah ia mendapatkan senyuman semanis itu dari Tenten. Ia merasa sedang berada di surga lapis ke tiga sekarang. Duduk bersama bidadari cantik dan merasakan indahnya saat-saat bersama sang bidadari.
"Ehm, A-no, tidak masalah. Aku senang jika kau suka tempat ini." Kata Sasori sembari meremas tangannya melepas kegugupannya. "Sebenarnya, aku mengjakmu ke sini untuk memberikan ini." Sasori mengeluarkan sebuah kotak coklat yang ukurannya sebesar telapak tangan orang dewasa. Ia meletakkan benda itu di atas meja dan mendorongnya ke sisi tangan Tenten.
"Sa-Sasori, a-apa ini?" Tanya Tenten gugup.
"Buka saja."
Tangan gadis itu meraih kotak di atas meja dan membuka kotak tersebut.
'Sebuah kalung. Indah sekali.' Batin Tenten tersenyum melihat benda kecil itu berada di dalamnya. 'Andai saja kalung uni untukku. Pasti aku akan sangat senang. Sakura beruntung sekali.'
Tenten kembali menutup kotaknya dan meletakkan kembali di atas meja lalu meraih kembali garpu dan pisau di atas piringnya.
"Baiklah, nanti akan aku berikan pada Sa..."
"Untukmu." Kata Sasori singkat.
Tenten bungkam. Ia menatap Sasori lekat. Begitu juga Sasori yang menatap gadis itu tepat di mata hazelnya. Baru kali ini ia menatap langsung ke mata Tenten. Dan satu lagi keindahan yang ia temukan dari gadis ini.
"Sa-Sasori, aku..."
"Akan kubantu kau mengenakannya." Sasori beranjak dan berdiri di belakang Tenten.
Pria itu membuka kotak tersebut dan menarik halus liontinnya agar keluar lalu melingkarkan talinya ke leher Tenten. Leher jenjang Tenten sangat pas mengenakan kalung itu. Sangat cantik menurut Sasori. Tenten terlihat sempurna di matanya.
Sasori memegang kedua bahu Tenten dari belakang dan sedikit menundukkan badannya sejajar dengan posisi Tenten yang masih duduk. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu kemudian berbisik, "Kau sangat cantik."
"Sasori, kenapa kau memberiku ini?" Tanya Tenten bingung.
Sasori segera berjalan ke samping Tenten dan bersimpuh di depan gadis itu. Ia tersenyum lembut dan berkata, " Aku hanya ingin memberimu hadiah ulangtahun."
"Ulangtahun? Tapi ulangtahunku masih 2 hari lagi."
"Apa salahnya memberikan hadiah dariku sekarang?"
"Memang tidak salah Sasori. Tapi kau memberiku ini. Ini terlalu berlebihan untukku." Kata Tenten melirihkan suarnya.
"Apa kau tidak suka?" Tanya Sasori membuat raut wajah Tenten berubah seketika
"Ah, bukannya aku tidak suka. Aku suka, sangat suka. Kalung ini begitu indah dan cantik. Tapi bukankah kau seharusnya memberikan ini pada Sakura."
"Tidak Tenten. Untuk apa aku memberikan barang itu untuk gadis yang bahkan tidak pernah mencintaiku."
"Aku juga.."
"Kau berbeda Tenten. Kau istimewa di mataku."
Blushh..
Kini gantian Tenten yang tersipu akibat perlakuan Sasori padanya. Ia mengigit bibir bawahnya menahan malu.
"Lihatlah, kedua pipimu merah. Pipimu seperti pantat kera." Canda pria itu menunjuk kedua pipi Tenten bergantian.
"Berhenti menggodaku Sasori." Tenten memukul pelan dada bidang pria itu.
"Pukulan sangat halus. Kau bilang kau atlet karate." Kata Sasori tertawa.
"Oh, jadi kau ingin melihat jati diriku yang sebenarnya? Baiklah, bagian mana yang kau ingin aku mematahkannya? Bagian leher, tengkuk, kaki, tangan, atau tulang iga."
"Jika meremukkan semua tulangku membuatmu senang, lakukanlah." Kata Sasori tersenyum kecil.
"Tenten."
Suara bariton keras masuk begitu saja menganggu suasana yang bisa di bilang cukup romantis antara dirinya dan Sasori. Keduanya segera melarikan pandangannya ke sumber suara. Tenten sedikit tertegun melihat Neji yang sudah berdiri tak jauh dari tempat duduknya. Sementara Sasori hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarah ketika wajah itu yang muncul di hadapannya.
"Ne-Neji.."
"Tenten, ikutlah denganku." Kata Neji berusaha menarik tangan gadis itu. Namun sebelum Neji meraihnya, Sasori dengan cepat mengenggam tangan Tenten dan menjauhkannya dari jangkauan Neji.
"Dia kemari bersamaku. Kau tidak berhak membawanya bersamamu." Kata Sasori dingin.
"Dia milikku, kau tidak berhak mengaturku." Kata Neji meraih tangan Tenten yang satunya yang masih bebas.
"Milikmu? Setelah semua yang kau lakukan?" Sasori mengejek.
"Jangan ikut campur!" Neji menatap tajam Sasori. Tak mau kalah, Sasori juga melempar deathglear nya pada Neji.
Tenten yang berada di tengah-tengah merasa ciut. Ia memang atlet karate, namun baru kali ini ia berada di posisi seperti ini. Melihat dua laki-laki melemparkan tatapan pembunuhnya satu sama lain membuatnya tidak tau harus berbuat apa. Terlebih kedua tangannya ada di genggaman dua lelaki itu.
"Lepaskan!" Kata Sasori.
"Tidak. Kau yang seharusnya melepaskannya." Jawab Neji tak kalah dingin.
Puluhan pasang mata pengunjung restoran tertuju pada mereka bertiga. Membuat Tenten hanya bisa tersenyum kikuk.
'Sungguh apa yang harus aku perbuat Kami-sama.' Batin Tenten menjerit.
TBC
Hehehe, makin ruwet ya jalan ceritanya wkwkwk. Kalo nggak suka mending stop baca daripada ntar matanya iritasi :D See you gaes ^_^
