Tell Me

Disclaimer: Still Masashi Kishimoto

(karena kalo punya aku, udh pasti akan aku bikin ending Tenten bahagia kaya ending film2 barbie, akan aku bikin Itachi dan Neji hidup lagi, dan aku bikin Madara mati karena kepleset #menghayal wkwkwkwk *plak xD)

Typo dan Kesalahan Bahasa

(pasti ada. karena author juga manusia dan bukan sastrawan #eaa~ :D)

RnR!

(wajib hukumnya. kalo nggk ngasih, ntar Author tanya di akhirat wkwkwk)

Okelah, untuk kali ini Author nggak akan ngebacot lagi. Cumn Author mau ucapkan terimakasih yang seeeeebesar besarnya pada para reader yang mau kasih review maupun reader yg berwujud hologram wkwkwk. Author sayang kalian kok hahahaha.

Akira Ken: Yang ini udh pnjang blm menurut km? :D Yg menang Guru Gai, karena dia gurunya wkwkwk. Iya, rencana mau bikin NaruSasuTen setelah ff ini berakhir. Wait ya ^^

Nazlia Haibara: Hahaha, itu typo yg sangat fatal wkwk. Setelah baca lagi aku ngakak berat xD Hehe, maaf seperti biasa updatenya lama haha

Anonny: Terimakasih udh kasih review :) Sabar, sebentar lagi misteri akan terungkap #ala shinici kudo xD Sebelnya di ff ini aja ya, aslinya mereka baik kok :D

Lanjutannya Mana: Sudahlah, Neji-kun ku sudah tenang di sisi Tuhan :'( :D Hehe maaf ya kalo lama updatenya :)

Minna Jasmine: Jangan banting Neji, buat Author aja Nejinya wkwkwkwk. Berdoa aja semoga panda ini nggak di sakitin lagi hahaha. Jujur aja Author kadang kesian liat Tenten. Di manga di bad ending, di sini di sakitin mulu :D #plak

Apikachudodol: Hehe, terimakasih ya ^^ Haha iya manis. Andaikan... Ah, sudahlah :D

Jelliesdewi: Yang di tunggu udh dateng :D

Monna: Kenapa, membosankan ya ceritanya? Wkwkwk. Sabar aja, bentar lagi end kok :B

Upil Akamaru: Terharu, bahkan upil pun bisa baca fanfic aku :') Terimakasih upil. Di sini kutu Tonton jd semngt lanjutin ceritanya :') Iya telat dikit doang. Yg penting sempet baca :D

*#*#*

Kling.. kling.. kling

Suara sendok kecil yang berbenturan dengan cangkir berisi latte memecah keheningan di salah satu meja restoran. Satu wanita dan dua pria saling diam hampir satu jam lamanya. Kedua pria itu saling tatap menyiratkan kebencian. Sedangkan satu wanita yang berada di samping masing-masing pria itu mengeratkan kedua telapak tangannya pada sisi cangkir yang terasa hangat tersebut sembari berdoa semoga tak ada kekacauan di sini. Gadis bersurai cokelat panjang itu merasa sedang berada di dalam kandang singa dan duduk di antara kedua singa buas tersebut. Salah-salah kedua singa tersebut dapat beradu taring dan cakar memperebutkan daging segar di tengahnya jika objek di tengahnya salah melangkah.

Satu tangan Tenten menggosok bagian lengan atasnya yang agak sedikit membeku akibat suhu ruangan yang dingin. Ia menatap bergantian kedua pria yang duduk di sampingnya yang masih diam tak bergerak, dan tak menampakkan ekpresi apapun kecuali raut wajah dingin sedingin bunga es di frezer lemari es nya, menurut Tenten.

"Baiklah... bisa kita mulai bicara?" Kata Tenten lirih. Ia langsung terksiap ketika dua pasang mata itu langsung menatapnya ketika ia mengakhiri kata-katanya.

Tak ada jawaban berarti dari kedua pria itu. Mereka hanya menatap gadis bergaun merah maroon yang menatap mereka berdua bergantian dengan ekpresi canggung. Dengan keadaan yang seperti ini, rasanya Tenten ingin segera lari menghindari tatapan dua pria berberbeda marga itu. Menghindari tatapan yang tak dapat ia artikan. Kedua tangannya yang berada di bawah meja mengatup mencengkeram satu sama lain. Jantungnya berdebar takut. Sedetik kemudian ia menundukkan kepalanya dan bernafas panjang.

"Jika tidak ada yang di bicarakan, aku akan pulang." Gadis itu memberanikan diri berharap mereka mau berbicara setelah ia sedikit menggertak.

Lagi-lagi hening. Baik Sasori maupun Neji tak bergeming dari sikap dingin mereka masing-masing. Malahan sang Hyuuga mengalihkan pandangan dari Tenten ke objek lain yang dapat ia lihat. Di susul Sasori yang juga melakukan hal yang sama. Sikap kedua pria itu membuat Tenten muak. Ia sudah tidak tahan lagi. Di geserlah kursi yang ia duduki kebelakang. Kemudian ia beranjak berdiri menatap keduanya bergantian. Tentu saja decit keras yang di hasilkan kursi Tenten seketika membuat Sasori dan Neji mengangkat kepala menatap Tenten dengan rahang mengeras menahan emosi.

"Terserah! Jika kalian berniat seperti ini sampai besok pagi, aku tak peduli. Aku pulang." Kata gadis itu menaikkan suaranya.

Sasori segera berdiri dan sedikit memperkecil jaraknya dengan Tenten. "Baiklah, mari kita pulang."

Gadis itu sedikit mundur dan masih mempertahankan raut wajah kesalnya. "Tidak perlu. Kau tidak usah mengantarku pulang." Kata Tenten membuat dahi Sasori berkerut.

Sedetik kemudian, Neji juga beranjak berdiri. Memasukkan kedua tangannya di dalam saku, dan menatap Tenten. "Ayo."

Gadis bermata hazel itu segera beralih menatap Neji yang balik menatapnya. Ia tak bergeming dari posisi dan ekpresi kesalnya. "Kau juga tidak perlu mengantarku. Aku ingin pulang sendiri." Balas Tenten tak kalah dingin dari tatapan kedua pria itu sebelumnya. Tenten melangkah menjauhi dua pria itu.

"Tenten.." Panggil Sasori.

Tenten berhenti sejenak dan sedikit memutar kepalanya kebelakang. "Kita bicara ketika moodku baik."

oOo

Dua kaki jenjang mungil melintasi trotoar pusat kota. Meskipun jam sudah menujukkan pukul setengah 10 malam, tapi masih ramai orang yang lalu lalang. Baik jalan kaki, menggunakan kendaraan umum, maupun mobil pribadi. Tenten berjalan cepat melintasi trotoar tersebut sembari mengomel pada dirinya sendiri tanpa peduli pandangan orang yang menatapnya heran.

"Apa-apaan tadi? Mereka pikir aku apa, seenaknya saja mengacuhkanku selama itu. Hyuuga bodoh yang tidak bisa memahami perasaan orang lain. Juga pria berambut jabrik merah itu. Kukira dia memahamiku, tapi ternyata dia sama saja dengan Hyuuga jelek itu. Apa mereka pikir aku nyaman dengan situasi seperti tadi? Dasar, dua laki-laki dungu." Racaunya tanpa henti.

"Tapi tunggu..." Tenten menghentikan langkahnya ketika ia melupakan sesuatu. Tenten memukul keras sisi kepalanya hingga merusak tatanan rambutnya. "Bodoh, kau sangat bodoh. Dasar gadis bodoh. Dompet dan ponselmu ada di dalam mobil pria dungu berambut jabrik itu. Bagaimana aku melupakannya." Rutuknya pada diri sendiri. Bagaimana cara ia mengambilnya sementara mengingat nama Sasori saja ia masih merasa sebal.

Ia menyapukan matanya ke setiap sudut kota berharap ada taksi melintas. Yah, paling tidak dengan taksi ia bisa membayar ongkosnya ketika sampai rumah. Sudah tiga kali ia melarikan pandangannya ke setiap tempat yang biasanya terdapat taksi melintas, namun matanya lagi-lagi meyakinkan dirinya bahwa tidak ada satu pun taksi di sana. Lalu bagaimana caranya ia pulang? Tidak ada jalan lain, ia harus kembali ke restoran untuk mengambil dompet dan ponselnya. Ia segera berbalik dan berjalan cepat berharap pria itu masih berada di sana.

oOo

"Siapa yang mengatakan padamu kalau kau memiliki hak untuk mengajaknya keluar?" Tanya pria bermata lavender itu menatap tajam pria di hadapannya.

"Akan kuingatkan satu hal padamu, dia bukan milikmu. Laki-laki manapun bisa mengajaknya berkencan jika mereka mau. Dan apa hakmu melarang Tenten pergi dengan pria lain." Balas Sasori tak kalah ketus.

"Tak ada yang peduli dengan ucapanmu. Kuperingatkan sekali lagi, jangan mengusiknya." Kata pria bersurai panjang itu dengan memberi penekanan di setiap nada bicaranya.

"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Mungkin mulai sekarang aku akan mendekati Sakura. Bukankah seharusnya dia milikku?" Satu alis yang terangkat menandakan pria bermarga Akasuna itu menantang pria di hadapannya.

Kedua tangan Neji mengepal erat, rahangnya mengeras. Sebisa mungkin ia menekan emosinya yang sudah mencapai puncak. "Berani kau menyentuh Sakura, kubuat kau menjalani sisa hidupmu di atas kursi roda."

Sasori tertawa renyah bahkan menjurus menghina. Ia nenatap Neji remeh. Kedua tangannya ia lipat di depan dan membuang wajah kearah lain. "Dua gadis yang kau permainkan adalah gadis baik-baik. Dan salah satu gadis yang kau permainkan, adalah orang yang penting bagiku. Lalu apa kau pikir aku akan membiarkannya? Sebelum terlambat, kuperingatkan padamu. Jika kau mempermainkan dia, akan kubuat kau menyesal hidup di dunia ini!"

Amarah pria Hyuuga itu semakin tak terkendali. Wajahnya merah menahan diri berusaha tidak membuat kekcauan di tempat umum seperti ini. Akan sangat memalukan jika pewaris clan Hyuuga membuat keributan hanya karena wanita. Neji menggeser duduknya dan segera beridiri tanpa melepas death glear nya kearah Sasori. Ia berbalik dan pergi meninggalkan laki-laki yang masih memandangnya remeh.

Beberapa menit setelah pria Hyuuga itu pergi, Sasori mengeluarkan beberapa lembar uang untuk di berikan pada pelayan yang sudah ia panggil sebelumnya. Kemudian ia segera pergi ketempat parkir dan masuk kedalam mobilnya. Ia menghentikan tangannya yang hendak memasang sabuk pengaman ketika 2 benda di jok mobil sebelahnya terlihat oleh matanya. Tangannya meraih 2 benda itu dan memperhatikannya dengan seksama.

"Kuharap dia masih belum jauh." Katanya mulai menyalakan mesin mobilnya.

.

Tring..

Lonceng yang sengaja di pasang di atas pintu restoran bergerak mengeluarkan suara nyaringnya. Seorang gadis bergaun merah maroon yang tak lain adalah Tenten segera masuk dan mencari orang yang ia maksud. Hanya tinggal satu pasangan yang belum pergi. Juga beberapa pelayan yang membersihkan meja-meja di sana. Ia melirik jam besar yang bertengger di dinding restoran. Jam yang berangka romawi itu menujukkan pukul 10 malam. Itu artinya ia berjalan setengah jam tanpa henti untuk mencapai tempat ini. Tak mempedulikan waktu, ia segera masuk dan mencari pria itu. Pria itu tak ada di meja yang tadi ia tempati. Meja itu sudah bersih. Bahkan taplak meja berwarna putih yang tadi berada di sana sudah tidak ada jejaknya.

Ia beralih menatap satu pasangan yang sudah selesai dengan makannanya dan bersiap untuk pergi. Ia sedikit cemas saat ia tidak mendapati orang yang ia cari tidak ada di sana. Satu pelayan yang melintas di depannya dengan membawa nampan di tangannya ia hentikan segera.

"Ah, maaf. Apakah kau melihat seorang pria berambut merah, lebih tinggi dariku, mengenakan setelan tuxedo hitam. Dia berada satu meja dengan pria berambut panjang cokelat dan bertubuh tinggi." Tanya Tenten rinci.

"Jika tidak salah, ia sudah pergi sekitar 15 menit yang lalu setelah pria berambut cokelat itu pergi." Jawab pelayan tersebut apa adanya.

Tenten menghela nafasnya kecewa. Seandainya ia tidak meninggalkan dompet dan ponselnya di dalam mobil Sasori, mungkin ia kini sudah berbaring di atas ranjangnya. Ia mengangkat kepalnya menatap pelayan yang masih berdiri di hadapannya. "Baiklah, terimakasih." Kata gadis itu meninggalkan restoran dengan langkah gontai.

Kembali ia menyusuri trotoar yang sebelumnya ia lalui. Ia tidak tau harus apa, sedangkan taksi yang ia cari tak kunjung dapat. Sekalinya melintas, ada penumpang di dalamnya. Tenten melepas sepatu heelsnya dan berlanjut melangkah. Jika di pikir-pikir, sudah dua kali ia seperti ini. Dan keduanya selalu terjadi setiap ia bersama Sasori.

"Kaasan, aku lelah." Gerutunya sembari duduk di emperan toko ramen di pinggir jalan.

Tidak ada hal lain lagi yang ia harapkan selain taksi melintas tanpa ada orang lain di dalamnya. Kedua tangannya mengacak rambutnya frustasi. Hampir jam setengah sebelas, namun tak ada satupun taksi yang melintas. Gadis itu mulai putus asa. Jika sepuluh menit lagi tak ada taksi, ia terpaksa harus jalan kaki.

"Pakailah, aku tau heels itu menyiksamu." Kata seseorang tiba-tiba meletakkan sandal rumahan dan segera duduk di sampingnya tanpa menggunakan alas kaki. Kaki putihnya telanjang di atas trotoar yang dingin. Namun gadis itu tak peduli dan tetap tersenyum memandang ke depan kearah jalan raya yang mulai sepi.

"Kau.." Tenten melongo melihat gadis berambut jambu itu tiba-tiba sudah berada di sampingnya.

"Apa kau ingat saat di restoran, kau menolak tawaranku untuk menukar sepatumu yang menyiksa itu dengan milikku. Kau berdalih sepatumu itu tidak nyaman dan kau akan baik-baik saja mengenakan sepatu itu." Sakura tertawa pelan.

"Bagaimana kau tau aku ada di sini?" Tanyanya membuang muka.

"Pesan singkat yang kau kirim padaku." Kata Sakura apa adanya.

"Pesan singkat apa? Ponselku tertinggal di mobil Sasori." Jawab Tenten jujur.

"Sa-Sasori, jadi yang..." Gadis itu terbata memandang heran Tenten. Beberapa detik kemudian ia terkikik geli.

"Kau kenapa?"

"Tidak apa-apa. Hanya saja, aku rasa dia sengaja menyuruhku untuk datang kemari."

"Dia memang sudah gila." Sergah gadis itu sebal.

Lagi-lagi Sakura tertawa kecil. Jujur saja, ia rindu Tenten yang seperti ini. Meskipun masih acuh, tapi Sakura sangat senang bisa berbicara seperti ini dengan saudaranya. Ia menatap Tenten yang meringkuk kedinginan sambil menggosok kedua lengannya cepat. Gadis bersurai pendek tersebut segera melepas jaket tebalnya dan mengalungkannya pada bahu saudaranya. Tenten sedikit terkejut dan menoleh kearah Sakura. Sakura hanya tersenyum sembari membetulkan letak jaketnya memastikan semua bagian tubuh gadis itu tertutup.

"Sweaterku sudah cukup hangat. Kau lebih membutuhkan ini daripada aku." Gadis itu tersenyum.

Tenten tak berkata apapun. Ia memalingkan wajah kearah lain. Membuat Sakura sedikit terpukul. Ia tau, secuil kebaikan yang ia lakukan tak akan menyembuhkan luka hati Tenten. Sakura menyentuh bahu kiri Tenten, merasa tak ada perlawanan, Sakura sedikit menggeser duduknya lebih dekat. Masih tak ada reaksi. Sakura lantas memeluk gadis itu menumpahkan semua air matanya di bahu Tenten yang sedikit lebih tinggi darinya.

Terkejut? Pasti. Tenten seketika terkejut ketika Sakura merangkulnya. Terlebih ketika ia mulai merasakan sesuatu yang membasahi bahu kirinya. Tenten mendelik dan memalingkan sedikit wajahnya pada Sakura yang terbenam di bahunya. Meski tak bersuara, dapat ia lihat dengan tubuh gadis itu bergetar. Ia sesenggukan sembari kedua jemari tangannya meremas pinggiran jaket yang Tenten pakai.

"Sungguh Tenten, jika bisa, aku akan menukar seluruh organ tubuhku dengan waktu agar semuanya kembali. Keadaan ini menghancurkanku." Rintih Sakura.

Tanpa sadar tangan kanan Tenten yang bebas dari cengkraman Sakura terangkat hendak menyentuh bahu gadis di sampingnya. Namun ia urung. Karena setiap melihat Sakura, bayang-bayang ciuman antara Sakura dan Neji di sekolah seolah menjadi siluet di benaknya dan membuat hatinya hancur bukan main. Tak ada yang dapat ia lakukan hingga saat Sakura menangis lebih keras.

'Sakura..'

"Maafkan aku karena telah menghianatimu. Maaf aku tidak pernah berkata jujur padamu, maaf karena kebodohanku kau menjadi seperti ini. Aku merindukan kita yang dulu. Jujur aku mencintai Neji, tapi kau lebih penting untukku. Aku sangat menyayangimu. Aku sangat menyesal. Aku berjanji akan melupakan Neji dan membalikkan keadaan seperti dulu lagi." Tangisnya.

"Aku sudah tidak tertarik dengan semua itu. Yang kubutuhkan hanyalah seseorang untuk menghapus nama Hyuuga itu dari otak dan hatiku." Lirih Tenten memandang kosong aspal di depannya.

'Kami-sama, sejauh mana aku menyakiti gadis ini?' Batin Sakura menatap Tenten nanar.

"Jujur saja aku masih belum bisa menerima kebodohanku yang menutup mata akan orang-orang di sekitarku. Aku terlalu egois dan menilai orang lain menurut presepsiku sendiri tanpa mendengarkan saran orang lain. Aku juga belum bisa melupakan kejadian ini. Aku yakin semua ini akan berlalu. Tapi berapa lama waktu yang di butuhkan, aku tidak tau. Jadi daripada kau merutuk dirimu sendiri dan berusaha membalikkan keadaan, lebih baik kau perhatikan saja Neji yang sangat mencintaimu. Jangan buang kesempatanmu bersama dia. Dia pria yang baik." Gadis bercepol itu segera beranjak dari duduknya membiarkan Sakura menatapnya dengan air mata yang masih mengalir deras.

"Dan biarkan aku memikirkan beberapa alasan untuk Kaasan dan Tousan jika mereka mengetahui hal ini." Imbuh Tenten pergi dan segera naik ke mobil hitam yang datang bersama dengan Sakura. Di susul Sakura yang menguntit di belakangnya.

Hanya berjarak sekitar 10 meter dari tempat 2 gadis itu, sebuah mobil yang di kendarai seorang pria berbaju tuxedo menghela nafas lega.

"Tidak untuk malam ini. Mungkin lain kali." Lirih Sasori menatap mobil Tenten dan Sakura berjalan menjauh.

o

o

o

Beberapa gaun dengan model dan warna yang berbeda berbaris rapi di atas ranjang Tenten. Hingga saat di mana ia di paksa harus memilih gaun mana yang akan ia kenakan, ia masih tak mengerti untuk apa semua ini. Sudah sejak 15 menit yang lalu ia berdiri tak jauh dari ranjangnya dengan dahi berkerut memandang gaun-gaun itu. Karena tak tahu harus memilih yang mana, ia akhirnya memilih untuk duduk di sofanya dan menyumpal kedua telinganya dengan earphone. Setelah itu dia meraih sebuah komik yang sudah berada di atas sofa sebelumnya. Ia menikmati kegiatannya seolah tak ada yang terjadi.

Setelah insiden ia terjebak di antara para pria dungu 2 hari yang lalu, ia jadi malas melihat gaun-gaun itu karena mengingatkannya akan kejadian itu. 2 hari ia lalui tanpa Sasori, Neji, bahkan Sakura. Ia hanya mengurung diri di kamar tanpa keluar. Hanya sesekali ketika ia lapar ia akan turun kebawah dan tentu saja saat sekolah.

Derit kecil pintu kamar gadis bermata hazel itu tak membuatnya bergeming. Karena seperti yang di katakan sebelumnya, kedua telinga telah tersumbat oleh earphone yang praktis tak dapat mendengar apapun termasuk suara kecil pintu kamarnya.

Dua bola mata berwana gelap mendelik emosi ketika matanya melihat seorang gadis yang tak lain adalah putrinya masih berleha-leha di atas sofa dengan sebuah komik di tangannya. Tanpa banyak bicara, wanita itu segera menghampiri Tenten yang masih tak merubah posisinya. Tangannya denga cepat merebut komik di tangan anak gadia yang otomatis membuat gadis yang tak lama lagi akan berusia 19 tahun itu terkejut bukan main.

"Kaasan." Teriak gadis itu terkejut dan langsung melepas earphone nya.

"Apa kau tidak mendengar apa yang Kaasan katakan tadi?" Tanya Akane.

"Kaasan hanya menyuruhku memilih baju untuk di kenakan. Kaasan tak memberitahuku kapan aku harus memakai gaun itu." Jawabnya polos.

"Kumohon Tenten, Kaasan minta padamu untuk serius. Keluarga Hyuuga dan Akasuna mengajak kita untuk bertemu. Dan tentu saja yang mereka ingin temui adalah calon menantu mereka. Jadi bisakah kau tolong Kaasan untuk tidak menganggap remeh hal-hal seperti ini." Kata Akane dengan nada bicara yang semakin melemah.

Tenten beranjak dari kursinya dan menatap ibunya yang berdiri tepat di depannya. "Kaasan tidak pernah tau bagaimana aku sangat mengaggap ini serius. Tapi sekarang aku muak dengan semua ini. Aku serius, aku muak dengan perjodohan ini." Tenten menatap ibunya dengan rahang mengeras.

"Apa maksudmu?"

"Maksudku. Berhenti beranggapan kalau aku akan bahagia dengan semua ini." Gadis itu melangkah melewati Akane dan menyambar asal salah satu gaun di atas ranjangnya.

'Apa yang membuatmu tidak bahagia Tenten.' Batin Akane menatap Tenten lemah.

Beberapa menit kemudian, Tenten keluar dari kamar mandi dengan gaun berwarna putih tulang. Gaun tanpa lengan yang panjang nya mencapai lutut itu, membalut tubuh Tenten yang tak begitu putih dengan cantik. Gaun yang lebih terlihat sederhana daripada yang di pakai Akane memiliki aksen mutiara berwarna senada di bagian atas dadanya mengelilingi lehernya.

Akane maju selangkah mendekat. Ia mengangkat alisnya dengan menyungginkan senyuman. "Ada yang bisa Kaasan bantu?"

Gadis itu menatap ibunya sesaat. "Tidak Kaasan, aku mulai terbiasa dengan semua ini." Jawabnya lemah dan mulai mengulas bedak di wajahnya.

oOo

Pukul 6 sore. Keluarga Umino lengkap dengan kedua putri cantiknya memasuki sebuah restoran mewah yang kabarnya milik keluarga Sasori. Restoran dengan nuansa romawi kuno itu terlihat sangat menakjubkan. Lukisan-lukisan Octavianus Agustus, Marcus Antonius, Tiberius, serta Nero terpampang di setiap sisi di koridor restoran. Bukan hanya itu, 2 patung Aphrodite berukuran besar juga terpasang di pintu masuk restoran. Sebagai pemanis, beberapa hiasan Yunani Kuno juga ikut memperindah restoran tersebut.

Restoran berkelas bintang lima ini tidak seperti restoran lain yang menyediakan meja dan kursi berjajar untuk para tamunya. Para tamu yang berkunjung di tempatkan di sebuah ruangan menurut kelas dan kebutuhan mereka. Berhubung pertemuan ini adalah pertemuan keluarga besar, Akasuna sengaja memesan ruangan kelas satu yang dapat menampung semua orang yang hadir.

Iruka, Akane dan kedua putrinya telah sampai di restoran yang di maksud. Mereka berempat segera bertanya pada resepsionis untuk menunjukkan meja yang sudah di pesan oleh tuan Akasuna tersebut. Belum sempat Iruka membuka mulut, seseorang menepuk bahu kanannya dari belakang yang otomatis membuatnya berbalik badan.

"Mari masuk bersama." Tawar pria paruh baya itu pada Iruka.

"Baiklah." Balas Iruka tersenyum.

Dua pria paruh baya itu berjalan menjauh di ikuti oleh istri Akasuna yang menguntit dari belakang. Sedangkan Akane dan Sakura, mereka melihat Tenten yang murung sejak dari rumah. Akane mendekatkan dirinya pada Tenten menyentuh bahu putrinya.

Tenten melirik sedikit tangan ibunya yang berada di bahu kanannya. "Aku mau ke toilet dulu." Gadis itu melangkah gontai meninggalkan Akane, Sakura, dan juga Sasori yang juga masih berdiri di sampingnya.

Akane menghela nafas panjang mencoba untuk berpikir positif setelah melihat mood Tenten yang buruk. Ia beralih menatap Sakura dan Sasori, "Mari." Ajaknya.

"Kalian duluan saja, sepertinya aku meninggalkan sesuatu di mobil." Kata Sasori sedikit gugup.

"Baiklah kalau begitu. Ayo Sakura." Wanita itu menggandeng Sakura masuk kedalam.

Setelah di rasa kedua perempuan itu menghilang dari pandangannya, Sasori berjalan cepat menuju toilet wanita. Sesampainya di sana, pria itu segera membuka pintu dan masuk kedalam. Ia melihat Tenten berdiri di depan kaca dengan kepala tertunduk dan air kran yang di biarkan menyala. Sasori tak lantas menghampiri Tenten, ia membuka satu persatu pintu bilik. Setelah yakin tak ada orang selain dirinya dan Tenten di sana, ia kembali berbalik berjalan kearah pintu kemudian menguncinya dengan kunci yang masih menggantung di lubang pintunya.

Pria itu berjalan perlahan menghampiri Tenten yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya karena terlalu asik dengan lamunannya. Ia berdiri tepat di belakang Tenten menatap wajah gadis itu dari pantulan kaca besar di depannya. Kedua tangan Sasori menyentuh lembut kedua bahu Tenten. Tentu saja sentuhan itu mengejutkan gadis di hadapannya yang seketika mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pria berdiri di hadapannya.

"Bagaimana kau.. A-apa yang kau lakukan di sini?" Gadis itu menatap kedepan cengo.

"Aku tidak tau seberapa dalam kau terluka, tapi melihatmu seperti ini membuatku hancur." Kata Sasori dengan suara berat seolah ia mencoba mengeluarkan beban yang mengganjal di hatinya.

"Jangan seperti ini Sasori." Tenten menundukkan wajahnya lagi.

"Sepertinya kau mulai mengerti apa arti kau bagiku." Kata Sasori masih dengan suara lirih. Ia meletakkan dagunya di bahu kanan Tenten.

Gadis itu diam tak menjawab. Ia segera berbalik menatap lekat pria di hadapannya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dompet kecil yang berwarna senada dengan gaunnya. Sebuah benda kecil dan meletakkan benda itu di telapak tangan Sasori. Tentu saja pria itu terkejut melihat apa yang ada di tangannya sekarang.

"Tidak seharusnya kemarin kau memberiku ini Sasori."

"Ten.."

"Diamlah. Jangan berkata apapun. Aku sedang ingin sendiri. Tolong tinggalkan aku." Kata Tenten memotong dan kembali membalikkan badan membelakangi Sasori.

"Tapi apa ini? Kenapa kau mengembalikan ini?"

"Karena tidak seharusnya kau memberiku itu." Balas gadis itu singkat.

"Apa alasannya?"

"Jangan bertanya alasannya, aku tidak mau memikirkan hal itu lagi."

"Kau membuatku kecewa Tenten." Pria itu menatap lemah Tenten sembari memundurkan sedikit badannya berniat untuk pergi dengan kalung kecil di genggamannya. Sedetik kemudian ia berbalik dan berjalan meraih gagang pintu yang terbuat dari logam tersebut.

"Kau tau..."

Suara Tenten mengejutkan Sasori yang seketika berhenti dan kembali menatap gadis berbalut gaun putih tersebut yang masih tetap pada posisinya.

"Ketika tadi malam kau memberiku benda itu, aku terus memikirkanmu. Kau tidak pernah lepas dari kepalaku. Bahkan kau ada di dalam mimpiku. Dan itu membuatku gila." Tenten tetap berusaha setenang mungkin.

Sasori masih tak bicara. Bibirnya keluar mendengar secuil pengakuan dari Tenten. Ia memandang Tenten dengan pikiran berkecamuk.

"Neji di hatiku dan kau di pikiranku. Kalian berdua membuatku tak bisa bernafas. Aku tidak bisa seperti ini terus. Kalian berdua... Aku tidak tau siapa yang sebenarnya aku cintai. Aku hampir gila memikirkannya." Katanya mulai sesenggukan. Tubuhnya bergetar menahan tangisnya namun pada akhirnya luapan air mata itu akhirnya tumpah.

Sasori kembali berjalan mendekati Tenten dan berdiri tepat di belakangnya.

"Melupakan Neji adalah hal yang sulit bagiku. Tapi menyingkirkanmu dari otakku juga bukan hal yang mudah. Aku tidak tau kenapa itu bisa terjadi, tapi sekeras apapun aku berusaha mencari tau, aku tidak mendapatkan jawabannya. Apa yang salah dariku?"

Kedua tangan Sasori merangkul Tenten dari belakang. Ia menyembunyikan wajahnya di balik rambut Tenten yang tergerai panjang kebelakang. Semakin lama pelukan tersebut semakin erat. Membuat Tenten memejamkan matanya menikmati kehangatan tubuh pria itu tanpa ia sadari.

"Sasori.." Tenten sedikit berontak dalam dekapan pria itu.

"Tetaplah diam... Kumohon." Katanya singkat menghentikan gerakan Tenten.

Meski Tenten berniat untuk lepas, tapi entah kenapa tubuhnya masih ingin berada dalam dekapan pria bermata merah bak berlian tersebut. Mungkin yang menyebabkan dia merasa tertekan adalah tidak adanya tempat bersandar untuknya ketika ia terluka.

"Seberapa besar keinginamu untuk melupakan Neji?" Tanya Sasori tiba-tiba melepas pelukannya dan membalikkan tubuh mungil di depannya.

Tenten menghela nafas panjangnya sejenak "Sebesar cintaku padanya saat semua ini belum terjadi."

"Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa melupakan pria itu?"

"Jika aku tau, sudah pasti akan aku lakukan sejak lama."

"Mungkin sudah saatnya, mereka tau semuanya." Kata Sasori spontan yang praktis membuat gadis itu terkejut.

"Sasori..."

"Berapa lama lagi kau akan menyembunyikan semua ini? Cepat atau lambat mereka juga akan segera tau."

"Tapi..." Gadis itu menatap Sasori melongo.

"Percayalah padaku. Tidak akan terjadi apa-apa pada Sakura."

Lagi-lagi Tenten cengo mendengar kata-kata Sasori.

"Itu 'kan yang kau harapkan?" Sebelah alis pria itu terangkat.

Kepala gadis itu mengangguk lemah menuruti perkataan Sasori. Sasori mengalungkan tangannya dan menautkan kedua ujung kalung di tangannya pada leher jenjang Tenten. Lelaki itu mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga kanan Tenten sembari menyunggingkan senyuman. "Selamat ulangtahun, Panda." Bisiknya.

TBC

Hahaha, Author nya koplak. Pendekatan Saso sama Ten kok di taruh toilet wkwk. Tapi gpp, bagi mereka berdua toilet itu seindah menara eiffel kok xD

Dah, makin sengklek wkwk. Jaaa.. ^^v