Tell Me
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chara: Sasori, Tenten
Rated: T
Typo, OOC, Gaje
Don't like don't read!
RnR
Pertama Author mau minta maaf untuk ngaret yang sangat laaammaaa banget ini. Jujur aja Author sempat kehilangan feel buat lanjutin fanfic ini entah kenapa. Pake acara inspirasi macet segala. Jadi deh ngaret kaya begini .-. Sekali lagi maafkan author. Buat permintaan maaf, Author udah publish FF NaruSasuTen. Sebenarnya FF itu rencananya Author publish setelah "Tell Me" di museumkan. Tapi apalah daya, Author sayang sama reader yang setia nungguin FF Tenten dari Author, jadi monggo di baca setelah baca fanfic ini ^.^
Nazlia: Hahaha, sekali lagi typo yang sangat fatal wkwk. Maksunya itu rambut merah jambu. Tapi entah kemana si 'rambut' sampe cuman si 'jambu' doang yg nongol :D Iya untung sepi. Kalo rame pasti pada jejeritan cewe2 yg ada di toilet xD Hmm, maaf ya udah nunggu lama. Nggak akan ada keributan di chapter ini. Mungkin chapter selanjutnya :D
Guest: Sabar ya, pasti akan ada FF Tenten dengan chara2 lain yg akan Author bikin, hehehe
Jelliesdewi: Begitulah cinta. Comberan pun bisa jadi tempat tumbuhnya benih2 cinta :D Iya, udah di publish. Di baca ya :D
Akira Ken: Nggak ada keributan besar kok. Author nggak suka kekerasan wkwkwk
Upil Akamaru: Yang ini udah panjang belum Upil-sama? :D
Yumeiko21 Fumasaki: Udah di lanjut. Dan terimakasih udah buang waktu buat baca fanfic ancur ini xD
Sisi: Next silahkan di baca. Terimakasih udah berkunjung ^-^
.5: Waah~ beruntung banget bisa punya kepribadian kaya Tenten ^.^ Btw, nyesek nggak kalo kamu di posisi Tenten yg di sini di sakitin mulu? wkwkwk Maafkan Author yg udah bikin Tenten sengsara ya xD
Princess Savoki: Makasih udah sempatkan buat berkunjung dan baca ff abal2 ini xD Sasori sama Tenten itu manis. Sama2 petarung jarak jauh ^.^
Lanjutannya Mana: Sabar.. sabar. Di baca dulu yg ini, baru nanti yang NaruSasuTen :D
Beberapa sajian makanan mewah telah tersaji di atas meja besar di sebuah ruangan yang sudah di pesan oleh keluarga Sasori. Tenten duduk di kursi paling ujung. Hanya ada Sakura di sisi kanannya. Tepat di sebrang meja, duduk seorang pria tampan berjas hitam memandangi dirinya yang tengah tertunduk takut. Sasori masih setia menatap Tenten yang sebagian wajahnya tertutup oleh uraian rambut gelap panjangnya. Sesaat kemudian pandangannya beralih pada seorang pria berambut panjang yang duduk dengan tenangnya di sudut meja yang lain. Sasori mengepal tangannya rapat melihat Neji yang juga memandang ke arah Tenten.
"Baiklah, bisa kita mulai pembicaraan kita?" Tuan Akasuna tiba-tiba bersuara.
"Tentu saja. Lebih cepat mereka tau akan lebih baik." Giliran Hiashi yang angkat suara.
"Kupikir juga begitu." Imbuh Iruka.
Semua yang ada di ruangan tersebut fokus menatap Iruka yang hendak berbicara. Termasuk Tenten yang sedari tadi menunduk.
"Kami berencana akan memantapkan hubungan kalian. Sebenarnya kami berharap pertungan kalian di adakan tidak secepat ini. Tapi karena Tuan dan Nyonya Akasuna akan pindah ke LA dan tinggal beberapa lama di sana, pertunangan antara Sakura dan Sasori akan di laksanakan pada hari ulangtahun Sakura yang terhitung kurang dari 3 minggu dari sekarang." Iruka mengakhiri ucapannya dan beralih menatap Sakura yang duduk tak jauh darinya.
"Maafkan aku sebelumnya. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi." Kata Sasori tiba-tiba dan sukses membuat semua orang di sana terkejut bukan main.
"Sasori jangan gila. Apa maksudmu?" Tanya Tuan Akasuna tajam.
"Maafkan aku ayah. Tapi aku sudah menyukai gadis lain."
"Siapa wanita itu?" Giliran sang ibu yang bertanya.
"Gadis itu... Gadis itu... Akan aku perkenalkan pada kalian berdua jika tiba saatnya."
"Aku!" Suara yang baru saja terdengar membuat suasana makin tidak kondusif.
"A-apa? Tenten.. Kau jangan bergurau!" Akane memperingatkan.
"Tidak Bu. Aku serius. Jika kalian menganggap cinta kami segila itu, kami terima. Tapi hati kami saling memiliki dan tidak akan kubiarkan orang lain memiliki Sasori selain aku." Jelas Tenten memberi penekanan nada di setiap katanya.
Iris merah bak batu rubi menatap gadis yang baru saja bersuara dengan tatapan dan hati yang tak menentu. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang baru saja gadis itu ucapkan adalah benar. Namun logikanya berkilah bahwa itu adalah imajinasinya saja.
"Dengan ini aku inginkan perjodohan antara aku dan Neji berhenti sampai di sini." Gadis itu beranjak berdiri. "Maafkan aku Akasuna-sama, Hiashi-sama, juga Ayah dan Ibu. Ini semua terjadi begitu saja. Permisi." Ia mengakhiri kata-katanya dan segera pergi.
"Maaf aku juga harus pergi. Tapi Tenten benar, aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisi Tenten. Aku sangat mencintai putri anda Iruka-sama. Aku harap kalian mengerti." Sasori menatap nanar semuanya lalu pergi hendak membuntuti Tenten yang sudah keluar terlebih dahulu.
Suasana di meja makan megah tersebut sangat kaku. Semua saling diam berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang di lontarkan oleh dua anak muda itu barusan.
"Jika boleh, aku ingin mengatakan sesuatu." Suara bariton berat tiba-tiba terdengar.
oOo
Tenten mengambil langkah seribu keluar dari restoran mewah itu menuju halte bus terdekat dengan perasaan tak menentu. Jujur saja, sampai sekarang ia tidak menyangka kata-kata itu keluar dari bibirnya. Semua itu terjadi begitu saja. Apalagi ketika ia mengatakan tidak ada yang boleh memiliki Sasori selain dirinya. Apa yang dia pikirkan sampai kata-kata seperti itu terlontar? Memang siapa Sasori? Apa arti Sasori baginya dan sebaliknya? Tapi jika boleh jujur, ia merasa kata-kata tersebut keluar dari hatinya yang paling dasar. Ia hanya tidak mau melihat Sasori menjadi sasaran kekesalan orang-orang di sana. Entah kenapa, ia tidak mau melihat pria itu terluka.
"Tidak kah kau mendengarku memanggilmu? Berhentilah!" Tangan kekar menahan bahu tak berbalut tersebut.
Tentu saja Tenten terkejut. Ia tak berani menatap Sasori setelah semua yang terjadi. Ia merasa malu dengan apa yang telah ia ucapkan di depan orangtua Sasori.
"Semua sudah berakhir. Aku, Neji, kau, dan juga Sakura." Gadis itu mencoba tersenyum ketika berbalik menatap Sasori.
"Belum. Tidak ada yang berakhir. Kau dan aku akan segera di mulai."
"Aku melakukan itu semua agar orangtuamu tidak menyalahkanmu karena perbuatan yang sama sekali tidak kau lakukan. Kau berjanji akan mengatakan semuanya, tapi kenapa kau melimpahkan semua masalah kepadamu?!"
"Semua yang kukatakan tadi bukan bermaksud untuk melindungi siapapun. Aku mengatakan apa yang ingin aku ungkapkan. Aku menyukai gadis lain. Jika kau tidak percaya, kau bisa tanyakan sendiri pada Sakura."
"Sakura?"
oOo
Suasana mencekam sangat kental di rasakan di kediaman Hyuuga. Seorang pria dewasa duduk di hadapan seorang lelaki dan juga gadis yang seumuran dengan pria di sebelahnya. Pria dewasa itu menatap tajam lelaki bersurai panjang tersebut dengan tatapam penuh tanya.
"Tousan, sebenarnya apa yang terjadi tadi?" Tanya Hinata menatap Ayahnya.
"Maafkan aku Hiashi-sama. Tapi dari awal aku sudah menyukai Sakura. Jika sebelumnya Hiashi-sama bicara padaku tentang perjodohan ini, semua ini mungkin tidak akan terjadi."
"Neji niisan..." Lirih Hinata lemah yang mulai tau duduk permasalahannya.
"Lalu bagaimana dengan Tenten. Apa dia sudah tau?" Hiashi melempar pandangannya ke arah lain.
"Iya. Dia sudah tau. Dan dia memintaku untuk membatalkan perjodohan antara aku dan dia bagaimanapun caranya."
"Jujur saja aku sangat kecewa denganmu Neji. Pertama karena kau telah membohongi kami. Dan lagi, aku dan juga Iruka telah sepakat membeli tanah dan juga rumah di hilir pantai atas nama kau dan Tenten. Untuk kalian tinggali berdua setelah kalian menikah. Pernikahan antara kau dan Tenten bukanlah sebuah bualan. Pernikahan kalian adalah aset untuk perusahaan kita. Meskipun Sakura juga putri dari Iruka, tapi semua saham atas nama Tenten karena dia adalah putri kandungnya. Sekeras apapun kami mencoba agar pembagian saham di sama ratakan, tetap tidak bisa karena Sakura tidak memiliki hubungan darah dengan Iruka. Kecuali jika Tenten menyetujui pembagian saham tersebut."
"Sekali lagi maafkan aku Hiashi-sama. Sekeras apapun kalian mencoba menyatukan kami, aku tetap memilih Sakura."
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"Aku akan pergi Iruka Jiisan dan meminta maaf karena telah mempermalukan dirinya."
oOo
"Baiklah, darimana aku harus memulai?" Tanya Tenten mengenggam gagang raketnya erat.
"Yang harus kau lakukan hanyalah memukul bola itu sekencang mungkin ke dinding dan menangkisnya lagi jika kembali."
"Kelihatannya sangat mudah memang. Apalagi ketika aku melihat kau memainkannya. Sepertinya aku bisa melakukannya."
"Coba saja. Paling tidak kau bisa meluapkan emosimu di sini."
"Tapi bagaimana jika bola itu lari kearahku?"
"Ayolah Tenten. Kau tidak pernah mempermasalahkan kaki lawan yang mengenai wajahmu. Tapi kenapa kau takut saat sebuah bola kecil berlari kearahmu?"
"Ini berbeda Sasori. Jangankan bola, serangga kecil saja bisa membuatku lari jika mereka menghinggapiku."
"Yang benar saja, gadis jelmaan sepertimu takut dengan serangga kecil?"
"Apa kau bilang? Gadis jelmaan? Apa maksudmu? Aku ini wanita tulen!" Teriaknya hingga menimbulkan gema di seluruh ruangan.
"Baiklah baiklah maafkan aku. Jadi, bisa kita mulai?"
Berbekal baju dan sepatu yang di sengaja di beli oleh Sasori di salah satu toko olahraga yang letaknya tidak begitu jauh dari sini, gadis itu mulai melempar bola ke udara dan segera memukulnya sekuat yang ia bisa. Sasori sempat terkejut melihat pukulan Tenten yang menurutnya cukup keras hingga bola malang itu terlihat sedikit mengelupas. Bunyi benda tumpul yang berbenturan dengan dinding menggema keras di area squash. Satu pukulan yang di lancarkan Tenten mengarah ke Sasori. Reflek pria itu menangksinya. Lama kelamaan permainan yang harusnya tunggal itu menjadi permainan ganda di karenakan bola yang selalu mengarah ke Sasori setelah mendapat pukulan dari Tenten.
Cucuran keringat membasahi pelipis kedua insan itu. Saking asiknya sampai mereka melupakan apa yang baru saja terjadi. Keseruan yang mereka lakukan membuat mereka berdua menjauh sejenak dari penatnya masalah yang mereka hadapi.
Bola mengarah ke tengah lapangan. Keduanya berusaha memukul dan pada akhirnya...
Brukk..
Keduanya jatuh ke belakang dengan posisi telentang. Dada mereka naik turun dengan nafas tersengal-sengal. Meski begitu, di tengah sesaknya nafas mereka, tawa kecil keluar dan menjadi tawa keras mengingat kebodohan mereka yang mengejar bola tanpa melihat apa yang ada di depannya.
"Kau lelah?" Tanya Sasori melirik Tenten.
"Menurutmu? Aku hampir kehabisan nafas."
"Kau membuat lebam biru di dahiku. Bagaimana denganmu?"
"Yah, sedikit memar di tulang hidungku. Tapi aku baik-baik saja." Gadis itu sedikit meringis ketika ujung jarinya mengenai memarnya.
Keduanya tertawa.
"Sasori..." Lirih Tenten dan beranjak duduk.
"Apakah gila jika aku mengatakan aku mulai menyukaimu?" Tanya gadis itu menatap Sasori yang masih berbaring.
Pria itu berangsur duduk dan menggeser sedikit posisinya mendekati Tenten. "Apa menyukaiku adalah kegilaan bagimu?" Tatapan serius Sasori membuat Tenten sedikit membeku.
"Iya- Maksudku tidak. Maksudku... Entahlah aku tidak tau. Aku sangat bingung. Dan lagi Deidara Senpai.." Tenten mengigit bibir bawahnya dan menunduk.
"Kenapa dengan Deidara?" Tanya Sasori sakarstik.
Tenten menengadahkan kepalnya menatap iris merah bak berkilau tersebut. "Dia sudah menyatakan perasaannya padaku. Sekarang kau tau bagaimana gilanya aku kan? Kalian bertiga menari dengan indahnya di otakku tanpa mempedulikan betapa menderitanya aku."
"Lalu apa keputusanmu?" Pandangan pria itu melemah.
"Aku membutuhkanmu."
.
.
.
.
.
"Jadi apa kalian sudah membuat keputusan?" Iruka menatap bergantian dua anak muda di hadapannya.
Suasana ruang keluarga kediaman Umino terasa dingin dan mencekam di rasakan oleh Sakura meskipun dirinya sebenarnya sudah terbiasa dengan suhu AC di ruangan ini. Namun kali ini di rasa berbeda. Tatapan tajam kedua orangtuanya mengarah pada Neji seolah kekasihnya itu adalah terpidana mati yang siap untuk di eksekusi.
"Tousan, Kaasan, ini juga kesalahanku. Maafkan aku." Lirih Sakura menundukkan kepalanya.
"Iya. Aku sudah membuat keputusan. Dan keputusanku adalah... aku memilih Sakura. Meskipun posisi nya di sini jauh di bawah Tenten, tapi aku tetap mencintainya." Jawab Neji mantap.
"Apa kau pikir perjodohan ini hanya semata-mata untuk uang saja anak muda? Jangan berpikir bahwa Sakura dan Tenten berbeda. Mereka berdua adalah putriku. Meskipun saham perusahaan semuanya atas nama Tenten, tapi aku juga sudah menyiapkan hal lain yang bisa aku berikan pada Sakura. Intinya, mereka berdua sama." Jelas Iruka.
"Itu terserah anda Iruka Jiisan. Tapi yang pasti aku tetap memilih Sakura."
"Lalu, bagaimana dengan Tenten?"
"Dia..."
"Aku pulang."
Pria bersurai panjang itu tidak melanjutkan kata-katanya karena seorang gadis berhasil memotong pembicaraanya.
"Tenten?" Lirih Akane.
"Sakura, bisa kau ikut denganku? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu." Kata gadis itu sembari menenteng gaun dan sepatu high heels nya naik ke atas.
oOo
Sakura segera masuk membuntuti Tenten begitu gadis bersurai cokelat itu membuka kamarnya. Gadis bermata emerald itu segera duduk du tepi ranjang menatap Tenten yang masih sibuk meletakkan barang bawaanya di tempat yang semestinya. Ia sedikit khawatir tentang pertanyaan yang akan di tanyakan Tenten padanya. Namun apapun itu, ia harap jawabannya tidak menyakiti saudaranya tersebut.
"Tidak perlu tegang Sakura. Aku hanya akan bertanya tentang hal kecil." Kata Tenten duduk di sofa yang jaraknya cukup jauh dari ranjangnya.
"Jadi, bisa kau ceritakan padaku apa yang Sasori katakan ketika kita menghadiri acara ulangtahun Hinata malam itu?" Tanya Tenten menatap Sakura intens.
Sakura sedikit terkejut dengan pertanyaan Tenten. Terlihat dari kedua bola matanya yang melebar sesaat dan nafas yang sedikit tertahan.
"Ketika kami tau kami berdua di jodohkan, dia bertanya padaku alasan mengapa aku mau menerima perjodohan semacam ini. Aku mengatakan padanya kalau aku akan mencoba. Dan ketika aku bertanya balik padanya, dia hanya menjawab bahwa ia berharap wanita yang di pertemukan dengannya adalah takdirnya. Terlihat sekali ia sedang putus asa saat itu. Maka dari itu ia terpaksa menerima perjodohan konyol ini."
'Tidak salah lagi. Pasti gadis pirang itu.' Batin Tenten mengepalkan tangannya geram.
"Lalu?" Gadis itu kembali menatap Sakura.
"Mungkin ini adalah jawaban yang sebenarnya kau inginkan dariku. Saat dia bertanya apa aku mencintainya, aku berkata 'Tidak'. Dan setelah itu Sasori mengatakan kalau dia juga merasakan hal yang sama denganku. Dia sudah menyukai gadis lain dari awal. Sasori memilih diam saat di jodohkan denganku karna dia tau, gadis itu sudah menyukai pria lain." Kata Sakura menghela nafasnya mengakhiri penjelasnnya.
'Tidak kusangka ternyata pria dungu itu sangat pintar menyembunyikan perasaannya sampai sejauh ini.'
"Lalu bagaimana hubungamu dengan Neji?" Tenten kembali bertanya.
"Neji sudah menceritakan semuanya saat kau keluar restoran tadi."
Tenten sedikit tercekat. "Lalu, apa keputusan Tousan dan Kaasan?"
"Aku tidak tau. Mereka bertiga masih membicarakan masalah ini di bawah." Sakura menunduk lemah.
"Ayo turun, akan kubantu menjelaskan semuanya." Gadis bertubuh sintal itu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Sakura.
"Tenten..." Lirih Sakura menengadahkan kepalanya menatap Tenten lemah.
"Apa? Aku hanya ingin membantu saudaraku. Jika di pikir lagi, untuk apa aku marah dan menyesali semuanya? Aku sudah mendapatkan pria yang tulus mencintaiku dan lebih baik daripada Neji. Dia mencintaiku begitupun sebaliknya. Apa kau pikir aku akan membiarkan saudaraku hidup di bawah garis penyesalan? Tentu saja tidak. Jika kau bahagia, akupun ikut bahagia." Tenten mengenggam tangan Sakura erat.
"Jadi apakah kita..."
"Kurasa kau cukup pandai untuk memahami situasi ini."
Keduanya tersenyum menampakkan deretan gigi mereka yang berbaris rapi.
.
.
.
.
.
"Senpai."
Seru seorang gadis memanggil nama Deidara ketika ia tengah asik membereskan barangnya seusai latihan. Gadis itu menghampiri dirinya dengan wajah sumringah beserta wajah yang segar akibat keringat yang berucuran di wajahnya.
"Hai, ada apa?" Tanya Deidara berbalik.
"Mau kemana kau setelah ini?"
"Ke kampus untuk menyerahkan tugas sebentar lalu pulang." Jawabnya enteng.
"Bagaimana kalau hari ini kita pergi keluar bersama. Aku sangat bosan di rumah." Kata Tenten dengan mimik wajah nelangsa.
"Memangnya kau mau kemana?" Tanya Deidara mengacak poni Tenten gemas.
"Bagaimana kalau ke Game Center? Sudah lama aku tidak kesana."
"Baiklah kita berangkat. Apa kau mau pergi dengan baju karate seperti ini?"
"Tentu saja tidak. Akan akan ganti baju. Tunggu aku ya?" Gadis itu berlari ke kamar ganti setelah menyambar tas nya yang letaknya tidak begitu jauh dari Deidara.
"Dasar." Deidara menggeleng pelan dan tertawa geli melihat tingkah gadis itu.
"Apa kabar kau Deidara?"
"Kau?" Deidara sedikit terkejut melihat keberadaan Sasori di depannya.
"Hm. Dimana dia?" Tanya Sasori santai.
"Di kamar ganti. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Hanya ingin menjemput Tenten." Jawab Sasori mengedikkan kedua bahunya.
"Benarkah?"
"Hm"
"Kudengar kau sudah menyatakan perasaanmu padanya."
"Bukan menyatakan perasaan. Aku hanya sedikit kelepasan dan terbawa suasana saat itu."
"Begitukah? Tapi kurasa dia tau kalau kau menyukainya."
"Syukurlah. Dengan begitu aku tidak perlu lagi menyatakan perasaanku padanya untuk yang kedua kalinya."
"Hm, tepat sekali." Kata Sasori tertawa renyah.
"Oh, hai Sasori. Sejak kapan kau berada di sini? Kau tidak bekerja?" Tenten tiba-tiba datang dengan menenteng tas besarnya.
"Baru saja. Ini sudah sore, jam kerjaku sudah habis setengah jam yang lalu. Apa kalian akan keluar?" Tanya Sasori sumringah.
"Hm, apa kau mau ikut? Akan lebih menyenangkan jika lebih banyak orang."
"Tentu saja."
oOo
Puas bermain, Sasori, Deidara, dan Tenten mengunjungi sebuah kedai ice cream yang letaknya tidak begitu jauh dari Game Center yang baru saja mereka datangi. Ketiganya masuk kedalam dengan wajah bahagia. Terlebih Sasori dan Deidara yang sejenak lupa bahwa tanpa mereka sadari, telah terjadi perang dingin di antara mereka.
"Biar aku yang bayar." Kata Sasori mengeluarkan dompetnya.
"Tidak tidak, untuk kali ini biarkan aku yang membayar." Sela Deidara tak terima.
"Dengarkan aku Deidara, lebih baik kau simpan saja uangmu untuk biaya kuliahmu. Kau masih kuliah bukan?" Pria bermarga Akasuna itu mendorong pelan tangan Deidara yang hendak mengeluarkan uang.
"Hanya 3 porsi ice cream. Itu hal sepele untukku." Balas Deidara tak mau kalah.
"Terimakasih Nii-san." Kata Tenten pada penjaga kasir.
"Aku yang bayar. Adil bukan? Sekarang diamlah dan habiskan ice cream kalian." Kata Tenten tersenyum lebar dan melangkah pergi meninggalkan dua laki-laki tersebut yang masih terdiam di tempatnya.
"Sudah di bayar tuan-tuan." Kata sang kasir terkikik geli.
"Kita sangat memalukan. Di mana harga diri kita sebagai lelaki? Membiarkan perempuan membayar makanan kita. Huh, ada-ada saja." Racau Deidara meninggalkan Sasori yang terpaku mendengar racauannya.
"Ini semua karena kau. Jika kau tidak menghalangiku, pasti tidak akan terjadi hal memalukan seperti ini." Gumam Sasori menatap punggung Deidara yang semakin menjauh.
Kedua laki-laki itu menghampiri Tenten yang berdiri di atas trotoar menunggu sesuatu. Tak lupa sesekali gadis itu menyuapkan ice cream miliknya ke dalam mulut. Menyadari kehadiran Sasori dan Deidara, Tenten segera berbalik dan melemparkan senyum pada kedunya.
"Sasori, Senpai."
"Malam ini sedikit terasa dingin dari biasanya." Kata Sasori mengalungkan jas hitamnya pada Tenten.
"Te-terimakasih Sasori."
"Hm, dia benar. Gadis secantik dirimu harus tetap hangat." Gantian Deidara yang memasukkan jemari kecil Tenten kedalam sarung tangannya.
"Te-terimakasih Se-senpai." Gadis itu sedikit terbata.
Kedua pria itu saling menatap dingin dan tajam sementara sang gadis menengok kesana kemari. Mata merah Sasori mengarah tajam pada iris mata berwarna biru yang menyala dalam kegelapan malam. Kedua mata berbeda warna tersebut seolah berkata "Jangan sentuh wanitaku atau kau akan mati."
"Ini sudah hampir malam. Kalian pulanglah." Kata Tenten tiba-tiba.
"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Deidara.
"Aku bisa pulang naik taksi. Rumahku tidak jauh dari sini. Sasori, kau antar saja Deidara Senpai. Rumahnya cukup jauh dari sini."
"Apa kau yakin?" Sasori mengerutkan keningnya ragu.
"Hm, pulanglah. Ini hampir malam." Jawab gadis itu mantap.
"Tidak Tenten. Aku bisa pulang sendiri. Kau perempuan, tidak akan kubiarkan kau pulang seorang diri." Deidara menatap gadis itu lekat.
"Deidara benar Tenten. Bagaimanapun kau adalah wanita. Tidak baik jika kau pulang sendiri. Akan aku antar kau pulang."
"Lalu bagaimana dengan Senpai?"
"Aku bisa pulang sendiri. Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir."
"Baiklah. Hati-hati Senpai." Kata Tenten melambaikan tangannya pada Deidara.
.
"Kau berhasil membuatku cemburu." Kata Sasori tiba-tiba dengan mata yang tetap fokus ke jalan raya.
"Cemburu? Apa maksudmu?"
"Perhatianmu pada Deidara. Sepertinya kalian berdua sangat akrab."
"Senpai adalah orang yang selama ini melatihku di perguruan hingga aku bisa menjuarai berbagai turnamen. Cukup lama kami mengenal satu sama lain. Hampir 6 tahun semenjak aku memutuskan untuk masuk ke perguruan. Dia pria yang baik, ramah, dan hangat. Tapi entah kenapa, aku tidak memiliki perasaan lebih padanya." Tenten mengakhiri penjelasannya dengan tatapan kosong ke dash board dan kedikan bahu.
Sasori terdiam mendengar penjelasan singkat gadis di sampingnya. Ia tak tau harus berkata apa. Jujur saja, setelah ia mendengar sekelumit cerita tentang Deidara dari Tenten, mencemburui Deidara adalah hal yang tidak masuk akal.
"Sasori-san, bisa kau percaya padaku bahwa kau adalah satu-satunya pria yang aku inginkan? Jangan hancurkan lagi kepercayaanku seperti yang sebelumnya. Entah apa yang terjadi jika aku mengalami hal itu lagi. Mungkin nafasku akan berubah menjadi racun untukku." Tenten menatap Sasori dengan tatapan teduhnya.
Sasori sedikit terkejut mendengar Tenten memanggilnya dengan embel-embel 'San' Namun keterkejutan itu tidak mengurungkan niatnya untuk menggenggam tangan Tenten dan meletakkanya di pangkuannya.
"Kurasa tidak ada kata-kata yang tepat di dunia ini untuk menafsirkan betapa bahagianya mendengar bahwa aku satu-satunya pria yang kau inginkan. Jangankan menyakitimu, tidak mendengar suaramu sehari saja sudah bagikan hidup di dalam neraka bagiku. Hanya aku dan Tuhan yang tau betapa besar dan sekuat apa cinta untukmu tertanam di dalam diriku." Pria itu mencium lembut punggung tangan Tenten.
"Huh, lucu sekali. Kita terikat erat setelah sama-sama telah di sakiti. Aku dengan Neji, dan kau dengan gadis pirangmu. Kupikir setelah aku dan Neji berpisah aku akan hancur. Ternyata aku salah. Kau bahkan jauh lebih baik dari harapanku. Terimakasih Sasori-san."
"Untuk?"
"Karena kau aku tidak berakhir menyedihkan."
Sasori menggenggam erat tangan Tenten yang berada di atas pahanya dan mencium punggung tangan mungil dalam genggamannya tersebut. Tenten tersipu dan melemparkan pandangannya keluar jendela.
'Senpai, maafkan aku.' Batin Tenten.
TBC
Maaf ya kalo chapter ini mengecewakan alurnya loncat sana-sini, berantakan dan nggak karuan :'( Karna seperti yang Author bilang sebelumnya, Author sempat kehilangan feel yang hingga sekarang belum pulih dan Author berusaha sebisa mungkin buat lanjutin 'Tell Me' Sekali lagi maafkan Author. Dan sampai jumpa di chapter depan minna ^,^
