Tell Me
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warn: Alur gaje di karenak pensiun lebih dari setahun, typo bertebaran, karakter yang OOC, serta segala keburukan di dunia ini tumpah ruah di sini.
Rated: T possible T+
DLDR
.
.
.
Cuaca cerah di siang April. Pertengahan hari kali ini terasa sangat menyenangkan bagi Tenten. Sejak percakapannya dengan Sasori kemarin, ia merasa sudah menghempaskan seluruh beban di bahunya. Meski masih sedikit mengganjal, setidaknya pria berambut cerah itu ada untuk membantunya menyangga itu semua.
Tenten melangkah menuju gerbang. Meninggalkan hiruk pikuk kelas yang ramai dengan teman-temannya. Sebenarnya mereka ingin mengajak Tenten ke kantin untuk mengerjai salah satu temannya yang hari ini sedang berulang tahun. Namun karena ia sudah memiliki janji, terpaksa ia menolak ajakan itu. Banyak yang menyayangkan hal itu, karena menurut mereka, tidak lengkap rasanya melakukan hal-hal seru tanpa putri Iruka itu. Namun di samping semua itu, mereka bisa mengerti dan membiarkan Tenten pergi.
Rok mekarnya terbang terbawa angin. Hampir saja terbuka memperlihatkan celana dalamnya yang ia rangkap dengan celana pendek. Beruntung seseorang dengan sigap menyingkap rok itu dengan jaket miliknya.
Hei tunggu, seseorang?
"N-Neji?" pekiknya terkejut.
Kedua tangan kekar itu segera merapatkan jaket hitamnya ke tubuh Tenten.
"T-Terimakasih." ucapnya gagap.
Semu merah terlihat matang menghiasi kedua pipinya.
"Sama-sama." jawab Neji enteng.
Masih dengan seragam sekolah putih hitam yang biasa para siswa kenakan di hari rabu dan kamis, pria itu mengambil posisi di sebelah Tenten.
Iris cokelat itu celingukan kesana-kemari. Menengok ke arah belakang dan kedepan. Sesaat kemudian berpaling pada Neji.
"Mana Sakura?" tanyanya. Alisnya berkerut. Bukan hanya karena heran, tapi juga karena terik matahari yang mulai menyengat bagian dahinya.
Sang lawan bicara menoleh dengan senyum menawan.
"Dia sedang ikut kelas tambahan."
"Lalu kau?"
"Aku tidak ikut."
"Kenapa?"
"Malas." singkatnya tetap pada posisinya. Menghadap kedepan dan melangkah pasti menuju gerbang sekolah.
Malas? Pertanda apa ini? Apakah dunia akan segera runtuh? Bertahun-tahun mengenal Neji, baru kali ini Tenten mendengar kata-kata 'malas' keluar dari bibirnya.
"Lalu kau? Kenapa kau terlihat tergesa-gesa ingin segera keluar?" giliran Neji bertanya.
Tenten kembali pada posisi santainya. "Aku punya janji."
"Sasori?"
"Hm, tentu. Siapa lagi?" katanya menaikkan kedua bahunya.
Setelah jawaban Tenten berakhir, keduanya memutuskan untuk diam. Larut dalam pikiran mereka masing-masing. Entah kenapa, sejak mengakui hubungan gelapnya dengan Sakura, Neji merasa biasa saja. Bahkan terkadang ia merasa, hampa. Pernah suatu hari di satu mimpinya, ia merasa sedang melihat Sakura dan Tenten secara bergantian. Dirinya tidak tahu pasti siapa yang ingin dan akan ia lihat untuk seterusnya. Jujur saja, perasaan itu menganggunya. Meski baru beberapa hari, ia sudah lelah memikirkannya.
"T-Ten..."
"Kenapa Sasori belum menghubungiku?" gumam Tenten seraya mengenggam erat ponsel di tangannya.
Panggilan Neji sirna. Tidak sampainya panggilan itu, membuatnya urung memanggil gadis di sampingnya untuk yang kedua kalinya.
Dalam hatinya, Neji merasa cintanya terus tumbuh untuk kekasihnya. Semakin hari semakin kuat dan nyaris tidak terkendali. Namun satu hal yang baru ia pahami, kenapa kini Tenten juga ikut menghantuinya? Ia yakin yang dirasakannya pada Tenten berbeda dengan apa yang dia rasakan pada Sakura. Namun kehadiran gadis bergaya China itu juga tidak bisa di anggap remeh.
Matanya masih terpaku pada Tenten yang sibuk menghubungi seseorang. Jarak mereka dengan gerbang sekolah hanya tersisa lima meter. Suasana sekolah memang masih agak sepi, karena para siswa dan siswi lebih suka berkumpul di kelas bersama teman-teman mereka hingga sore hari.
"Sial! Baiklah Sasori, itu yang kau mau!" dengus gadis itu sebal. Kedua pipinya menggembung bulat. Beberapa helai rambutnya terlihat jatuh di bagian dahi dan tengkuknya.
"A-ada apa Tenten?" tanya Neji gagap.
Baiklah, ini pertama kalinya Neji berbicara seperti Hinata.
"Tidak ada." jawabnya ketus kemudian berbalik badan. Entah kembali ke kelas atau kemanapun.
Neji tidak bodoh untuk memahami itu. Sasori tidak menjawab telepon dari Tenten. Dan kemungkinan yang akan terjadi nanti adalah, Sasori terlambat datang, atau bahkan bisa jadi, janji mereka dibatalkan sepihak oleh pria itu.
"T-tunggu.."
Entah sadar atau tidak, kini tangan Neji sudah mengenggam rapat pergelangan kecil itu.
"Ada apa Neji?"
Bibir tipis itu masih diam.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, gadis bermarga Umino itu segera berbalik. Menatap lurus Neji di depannya.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya melirik genggaman tangan Neji padanya sekilas.
Leher Neji terlihat bergerak. Menelan ludah yang rasanya sebesar jantung beruang. Entah sejak kapan ia mulai menunjukkan sikap yang tidak biasa di depan gadis ini.
"Aku ingin mengajakmu makan siang." ucap Neji lirih. "Jika kau tidak keberatan." imbuhnya tidak lama kemudian.
Dalam diamnya Tenten mengangguk, lantas berujar singkat,
"Tentu."
oOo
Siang telah beralalu. Hingga waktu menunjukkan pukul empat sore, Sasori masih tidak menampakkan tanda-tanda menghubungi Tenten untuk menepati janjinya.
Nuansa vintage sangat lekat pada cafe yang sejak beberapa jam yang lalu disambangi oleh Tenten dan Neji. Tempat kongkow para pemuda masa kini yang hanya memakan waktu 15 menit dari sekolahnya itu, sudah menjadi langganan para pelajar dan mahasiswa yang ingin menikmati sajian berbahan kopi dan coklat yang lezat, namun dengan harga yang ramah di kantong mereka. Lagi tempat yang strategis, membuat tempat berjuluk 'Cafe Bersahabat' ini, ramai di kunjungi setiap harinya. Entah itu dari kalangam muda ataupan setengah baya dan lanjut usia.
Keduanya terlihat asik larut dalam perbincangan yang kelihatannya sangat menyenangkan. Sejauh mereka berbincang, keduanya baru menyadari bahwa mereka memiliki kepribadian yang sangat jauh berbeda. Namun di sanalah letak dari intimnya perbincangan mereka. Tenten selalu bisa menghubungkan semuanya dan berakhir dengan tertawanya Neji di setiap akhir perkataanya.
"Neji, apa kau ingat? Saat pertama kali aku berkenalan denganmu, aku mengira kau adalah seorang gadis?" tanya Tenten diiringi tawa.
Aroma kopi khas robusta menguar di setiap sudut cafe yang sedang ramai pengunjung. Beberapa di antara mereka juga adalah pelajar yang sedang menikmati waktu santainya sepulang sekolah.
Neji mengangguk santai. "Tentu. Kau bahkan mengira aku sengaja ditinggalkan oleh orangtuaku di taman itu. Kau bilang, jika aku tidak kunjung menemukan kedua orangtuaku, kau akan membawaku kerumahmu." ujarnya tenang.
Tidak seinci 'pun senyuman pudar dari wajah Neji. Harus ia akui, ia senang hari ini. Senang untuk sebab yang tidak ia ketahui hingga detik ini.
Tenten sedikit tersedak saat ia memaksa tawanya keluar ketika sedang menyeruput jus berry yang tadi ia pesan.
"Hati-hati." kata Neji sedikit cemas.
Gadis itu tertawa dan mengambil sehelai tissue untuk membersihkan bibirnya.
"Aku baik-baik saja." ucapnya.
Lelaki itu kembali pada posisinya, di sebrang Tenten. Melipat kedua kakinya santai dan kembali bersandar.
"Bagaimana bisa di usia semuda itu, kau berpikir untuk membawaku pulang ke rumahmu?" tanya Neji kemudian.
Air wajah Tenten berubah. Yang tadinya penuh senyuman berganti serius. Senyum tipis terulas setelahnya. Kedua alisnya naik kemudian menjelaskan kepada Neji apa yang dia pikirkan waktu itu.
"Mudah saja. Karena kupikir, aku bertemu dengan Sakura yang lain." ujarnya santai.
Benar. Sakura bukanlah putri kandung keluarga Iruka. Pernah gadis beriris emerald itu bercerita, bahwa keluarga Umino mengambilnya dari sebuah panti asuhan yang letaknya sangat jauh dari sini. Sakura adalah gadis yatim piatu malang yang selalu di ejek oleh teman-temannya. Hanya satu orang yang peduli padanya di sana, dan itu adalah perawat yang menemukannya selama ini. Sangat banyak pengalaman pahit yang Sakura alami sebelum diangkat menjadi anak oleh keluarga Tenten. Oleh sebab itulah, Neji merasa iba padanya. Iba yang berujung asmara.
Tenten menengadah sesaat. Hembusan napasnya keluar berat. Menatap langit-langit coklat yang sesungguh tidak akan bisa menyembuhkan luka hatinya. Sungguh ia tidak akan menampik, meski Sasori sudah di sisinya, namun luka sisa penghianatan pria di hadapannya masih terasa. Memang tidak parah, namun cukup untuk meneteskan beberapa air dari matanya. Perkenalan yang tidak terduga, berujung rasa tertarik dan akhirnya cinta. Harus ternoda oleh penghianatan yang dilakukan oleh saudarinya sendiri. Seperti sebuah ironi di atas ironi.
"Kau menangis?" tanya Neji sedikit mencondongkan badannya.
Gadis itu berkedip cepat. Untuk kesekian kalinya ia menghembuskan napasnya cepat. Berharap sesak di dadanya segera sirna melalui itu semua. Bagaimanapun, Neji tetap menjadi pengalaman pahitnya yang mustahil untuk ia lupakan. Meski kelak, kuncup melati tumbuh di kelopak bunga anggrek.
"Tidak. Aku baik-baik saja." balasnya sesantai mungkin. "Hanya sedikit teringat masa lalu. Tapi jangan khawatir, perlahan aku pasti akan melupakannya."
Alis Neji berkedut. Tatapannya serius memandang Tenten dengan segala kecemasan dalam dirinya.
"Mau kubantu?" tawarnya.
Kedua iris madu itu membulat. Pupilnya melebar diikuti bibirnya yang menganga. Entah apa motif Neji mengatakan hal itu.
"T-tidak. Aku bisa sendiri." jawab Tenten penuh percaya diri.
"Caranya?"
"Seperti yang aku lakukan dahulu. Namun kini sedikit berbeda."
"Maksudmu?"
"Jika dahulu aku diam-diam menyukaimu dan mengharapkan cintamu, kini aku hanya harus melakukan hal yang bertolak belakang dengan itu semua.." ujarnya sedikit gugup.
Neji tidak paham dengan apa yang Tenten katakan. Maka dari itu dia memutuskan untuk diam dan menunggu perkataan Tenten yang selanjutnya.
"..maka kini, yang harus kulakukan hanyalah diam di tempatku. Aku hanya akan memperhatikanmu dari jauh tanpa menganggumu, dan perlahan akan melupakanmu." tuturnya perlahan.
Mendengar pernyataan itu, sang Hyuuga merasa di tampar keras oleh dewa langit. Ia merasa dirinya bodoh dalam memahami hati seseorang. Ia baru menyadari sesuatu yang sebelumnya hanya ia anggap sebagai angin lalu. Saat itu juga ia berharap waktu dapat berputar kembali. Membawanya ke tempat dimana ia tidak harus mendengar perkataan Tenten yang ini. Ke tempat di mana segalanya berawal. Ke tempat, dimana ia bisa berharap mengenal Tenten lebih jauh sebelum ia menyakitinya.
"Lakukan hal yang sama. Maka semua akan berjalan sesuai keinginanmu." imbuh Tenten penuh keteduhan.
Mata Neji memandang kosong. Belum terlambat memang. Tapi kenapa harus terjadi setelah segala yang dia inginkan di masa lalu terealisasikan? Neji akui, dirinya sangat mencintai Sakura. Tapi sejak Tenten memutuskan untuk mundur, perlahan gadis itu menggoyahkan dirinya.
Ponsel Tenten berbunyi. Gadis itu segera meraih benda kecil itu dari saku tasnya dan menerima panggilan itu.
Wajahnya berubah cemas. Gadis itu melekatkan ponselnya lebih dalam ke telinganya. Beberapa saat kemudian ia memutus sambungan teleponnya dan menatap Neji serius.
"Neji, aku harus pergi sekarang. Hidan menghubungiku dan dia bilang Sasori menghilang sejak tadi pagi." katanya gusar.
Pria itu mengangguk ragu. "T-tentu saja. Kau bisa pergi sekarang."
Tangan Tenten mengudara. Pandangannya mengarah pada pelayan cafe yang tengah berbincang kecil dengan sang kasir.
"Pergilah. Serahkan billnya padaku." kata Neji.
"Baiklah, terimakasih kalau begitu. Aku harus bergegas. Sampai jumpa." katanya mengakhiri pertemuan.
Wajah gadis itu sama persis dengan wajah Sakura saat mengetahui dirinya sakit beberapa bulan yang lalu. Cemas dan takut campur aduk menjadi satu.
Pelayan datang membawa serta bill yang di letakkan di atas nampan kecil kayu berwarna gelap. Segera pria itu mengeluarkan kartu debitnya. Pelayan tersebut pergi meninggalkan Neji yang masih diam dengan suara gaung di kepalanya.
Hampa.
Tatapannya mengarah pada remah lemon cake di atas piring dan juga garpu yang selesai digunakan. Meja bundar berdiameter sedang menjadi sanggahan untuk kedua tangannya yang terlipat di atasnya. Dibalik gelas tiramisunya, jemarinya bergerak pelan.
'Bukankah seharusnya ke khawatiran itu... untuk diriku?'
To Be Continued...
Hayoo, coba tebak kemana Sasori dan kenapa dia tiba-tiba ngilang? XD *eling dusomu nduk*
Duuuh, untuk yang kesekian kalinya fanfic ini harus berdebu ya huhuhu (T.T") Sekali lagi, aku minta maaf yang sebesar galaksi bima sakti karena udah anggurin fanfic ini lebih dari satu tahun. Ku memang tukang pehape yang belum tobat (^.^") /plakk Just for info untuk yang nunggu fanfic ini, alhamdulillah feel untum Tell Me berangsur pulih. Jadi pelan-pelan aku akan coba update ya :"D Sukur-sukur sampe tamat :"3 /nakk
Oke, mungkin aneh karena fanfic yang statusnya udah hampir 'discontinued' ini dilanjut lagi. But mungkin ini doa dari kalian yang merasa aku dzalimi karena ngaret update fanfic ini, jadi Allah kasih mukjizatnya untuk aku *halah* /slapp
Baiklah, sekali lagi ku gak mau terlalu banyak mulut. Karena aku pikir A/N yang terlalu panjang akan menjadi iritasi mata bagi para pembaca dan juga mungkin words nya akan lebih panjang dari cerita itu sendiri. Jadi, akan aku jelaskan semuanya jadi satu di sini review dari kalian di chapter sebelumnya :"3
Kebetulan di chapter ini fanfic kelas bawah ini masih belum tamat. Karena rasanya aku pengen Neji agak berpaling dulu supaya dia bener-bener tanggung jawab sama Sakura :"3 Dan untuk yang gak suka NejiSaku jadi canon di fanfic ini, itu sepenuhnya hak kalian. Aku hanya membuat cerita dan menuruti apa yang aku pikirkan. Semua pilihan ada di tangan kalian. Aku gak maksa baca dan jangan pikir aku marah. Tidak ya X"D Aku tegaskan sekali lagi, aku gak marah dengan keputusan kalian. Jadi, mohon dibawa santai aja ya :"D Sedikit bocoran, untuk konflik setelah kedua belah pihak tau, aku akan pusatkan konfliknya langsung ke personal masing-masing. Jadi mungkin akan terjadi pergulatan batin antara Neji dan Sasori. Tentang apa? Masih rahasia ya :"D
Dan khusus teruntuk reviewer yang bertanya kenapa Tenten selalu di kesampingkan di anime dan sebagainya, dengan ini aku sudah bisa memahami dan menyikapinya secara dewasa *mungkin*. Gini.. serial Naruto sudah tamat. Dan peranan Tenten masih segitu-gitu aja. Tenten gak merdeka seperti Kunoichi lain. Ambil sisi positifnya deh :"D
-Pertama, kita bisa memerdekakan Tenten sebebas-bebasnya menurut wewenang kita di dunia tulis menulis.
-Kedua, dengan cerita bagaimanapun, sepanjang apapun, serta dengan siapapun, kita bebas kan? XD Gak akan ada fandom dari pair canon yang murka gegara charanya kita pasangkan dengan chara A atau B ngahahaha *tawa nista*
-Dan terakhir, jujur aku senang ada di fandom Tenten. Bukan hanya karena aku suka sama Kunoichi satu ini. Melainkan karena fandom kita ini jauh dari kata 'WAR'. Fandom kita adem ayem. Jarang disambangi flamers dan kita bahagia dengan keluarga kecil ini. Jadi, mulai sekarang segala sesuatunya buang sisi buruknya dan nikamti sisi baiknya ya X"D
Done at all, untuk fanfic yang akhirnya di update setelah sekian lama. Maafkan kalo ada salah2 kata di atas dan terkesan menceramahi. Gak ada maksud apapun di balik barisan kata di atas selain nyebar hal-hal positif yang sudah terjadi di fandom ini.
Salam hangat dari Ran Megumi. Sampai jumpa di chapter depan :"D *dan si borok kembali pulang*
