Harry Potter © JK Rowling
ooo
A/N : Jadi, drama yang aku sadur plotnya itu adalah drama Korea yang judulnya "I'm Sorry I Love You".
Saat semua orang menggila karena drama DotS, aku malah mau bikin remake drama ini. Ya, alasannya sih simple. Aku rasa ini drama korea terbaik sepanjang masa.
Kenapa aku jatuh cinta sama drama itu?
Karena aku suka dengan tema yang mereka ambil.
Semua orang bilang kalau Endless Love adalah drama Korea tersedih tapi menurut aku ini lebih sedih… kalau kalian nggak (minimal) berkaca-kaca pasti ada yang salah dengan perasaan kalian.
Kalian nggak review cerita ini nggak apa-apa tapi yang paling penting dan aku mohon banget, kalian harus nonton drama itu. Please please please… tonton ya!
Aku mohon…
Bagi yang sudah tahu dan sudah nonton, aku mau minta maaf kalau hasil imajinasi kata-kataku ini jauh dari ekspektasi kalian. Nobody's perfect, right?
ooo
Warning :
Typo(s), Muggle World, OOC, a little bit different from the original drama
o
o
o
Chapter 1 :
Ratapan Lelaki Paling Sial Di Dunia
Girls don't like boys
Girls like cars and money
(Girls boys - Good Charlotte)
ooo
Mungkin ini bakat yang paling aku agungkan di hidupku, aku punya feeling yang begitu kuat. Kalau aku punya firasat buruk, satu hari itu aku benar-benar merasakan kesialan. Ini sudah aku alami puluhan kali. Dan kadang aku punya firasat aku akan mendapat sesuatu yang berharga atau minimal menyenangkan, dan teori ini sudah dibuktikan juga. Nah, sekarang aku punya firasat buruk…
Satu hari ini emosiku sangat memuncak. Aku tak tahu kenapa tapi rasanya marah adalah hal yang wajar, tapi aku pria dan tingkahku seperti seorang wanita yang mendapat tamu berharga. Ini menjijikan.
Untuk meredakan emosi tak terkontrol itu, aku menelpon Pansy, kekasihku selama lima tahun ini. Aku tak begitu tahu definisi cinta itu apa, yang jelas ada di dekat Pansy aku merasa begitu nyaman. Hanya Pansy yang tahu bagaimana memperlakukanku, hanya Pansy yang tahu bagaimana membuat mood ku kembali tenang, yang paling penting hanya Pansy yang tahu bagaimana nafsuku terlampiaskan.
Sekarang, aku mau emosi tak tertahan ini diobati dan tentu saja seks menjadi jawabannya.
Aku mencoba menghubunginya berkali-kali tapi tak satupun panggilanku diangkat. Merde, kenapa dia tak menjawab!
"Oh, Jeune![1]" teriak Leroy di kejauhan. Untuk informasi Leroy adalah pria yang umurnya dua kali lipat dari umurku. Hanya dengan Leroy aku mencoba bersikap sopan, walau akhirnya selalu gagal. Tapi aku sudah mencoba… dan aku pantas untuk dihargai.
Aku mendekat ke arahnya, dia sedang menyemir sepatu hitam kesayangannya menjadi mengkilat, "Ada apa?" tanyaku tak berminat.
"Regarde-moi ça![2]" sahut Leroy yang sambil menunjuk satu titik dengan kepalanya. Mau tak mau aku ikut menoleh dan sumpah demi apapun pandangan itu makin emosiku naik ke level yang terlalu tinggi.
Aku keluar dari terowongan dan menyusul ke sumber yang menjadi objekku itu. Dia Pansy, tapi dia tidak sendiri!
Tangan dia terpaut di lengan seorang laki-laki yang umurnya tidak jauh dengan Leroy. Rambut laki-laki itu klimis dengan jas abu-abu yang aku yakin harganya bisa membeliku sebuah rumah.
"Siapa dia?" tanyaku menuntut. Pansy memandang pria tua itu tersenyum dan menarik diri dari lengan si pria, "Beri aku waktu sebentar saja." si pria tua mengangguk dengan cengiran lebar menampilkan dua gigi depannya bukan gigi asli tapi gigi emas. Darimana Pansy bertemu pria seperti itu?
Aku pun ditarik untuk menjauh dari tempat si pria.
" J'ai un truc à te dire. [3]" katanya setelah posisi kita aman dari pendengaran siapa pun. Dia terlihat gugup, dia bahkan tak berani menatap kembali mataku.
"Qu'est-ce que tu fous?[4]" desakku.
Pansy semakin menundukkan wajahnya, "Maafkan aku."
"Maaf untuk apa?"
"Aku mau kita putus."
Firasatku terjawab, "Kenapa?" suaraku yang tadinya tinggi karena emosi menjadi lemah seperti cicitan tikus saat akan mencapai ajalnya.
"Aku akan menikah."
Aku membatu dalam posisiku. Aku muak dengan semua ini. Aku muak selalu dibuang. "Apa laki-laki itu dia?" aku mengarahkan lagi mataku pada pria tua bangka yang sekarang sibuk menjawab ponsel mewahnya.
"Ya, aku akan menikah dengan dia."
Aku tertawa. Benar-benar tertawa. Menertawai nasibku yang sangat sial. "Kenapa mesti dia?" tanyaku masih terdengar lemah. Pria itu cocok untuk menjadi ayah Pansy bukan menjadi isterinya, demi Tuhan!
"Aku butuh hidup, Drake. Aku mencintaimu tapi aku seorang wanita. Aku butuh pria yang sanggup membiayai keperluanku." jawabnya yang sekarang sudah berani mengangkat wajah, "Aku sudah cukup sabar ada di sampingmu selama empat tahun ini. Aku bahagia bersamamu, Drake, percayalah. Tapi aku juga butuh materi. Bersamamu, aku tak bisa mendapatkan itu. Dan aku menyerah padamu—"
Aku tak mau mendengar lagi semua ucapan perempuan jalang ini, aku berjalan sengaja menabrak tubuhku agak kencang dengan badan kecilnya. Dia bahkan pantas mendapat satu tamparan, tapi aku menahan itu… biar bagaimana pun dia pernah jadi orang istimewa buatku.
Jalanku terhenti di sebelah pria tua itu, dengan sengaja aku meludah di samping sepatu mahalnya.
"Merde!" umpatnya yang kubalas dengan seringai tajam. Aku kembali melangkah menjauh, sayup-sayup aku mendengar pria tua itu memanggil bodyguard-nya, dan ada suara Pansy yang memohon-mohon pada pria itu.
Lucu sekali, Pansy tidak mau aku dipukuli tapi dia berhasil meremukkan hatiku dan membuatku bersumpah untuk tidak mau dibodohi oleh cinta. Aku tidak mau jatuh lagi… lagi.
ooo
It's a Damn cold night
I try to figure out this life
Won't you take me by the hand
Take me somewhere New
I don't know who you are
But I, I'm with you
(Avril Lavigne - I'm With You)
Aku tidak pernah melangkah seberat ini. Hatiku sangat kacau. Aku tidak bisa melihat keadilan di hidupku. Pansy mengkhianatiku sangat dalam. Pantas saja seminggu ini dia seolah menghilang, ponsel tak aktif dan apartemen kecilnya yang kosong. Mungkin sejak seminggu yang lalu dia sudah membawa tubuhnya ke rumah besar tua bangka itu. Gadis murahan!
Masalahnya setiap kali aku melangkah semakin jauh, aku merasa apa yang diperbuat Pansy itu hal yang normal. Bersamaku dia selalu mendapat kesusahan, aku yakin dia sudah jera. Tapi persetan! Dia sudah berjanji akan jadi bagian paling penting di hidupku! Dia bahkan ingin ikut aku ke London dan bertemu ibu kandungku. Brengsek!
Saat aku berbelok ke sebuah tikungan, aku melihat satu pandangan menarik. Ada wanita dengan sweater biru muda sedang duduk dengan bahu yang naik turun.
Bukan saatnya untuk bersikap baik atau berbuat ramah. Suasana hatiku sedang buruk, dan menghadapi racuan gadis belia yang tengah menangis di areal jalan sepi ini bukan tipeku. Sayangnya, aku merasa ada magnet yang menarikku berjalan mendekat. Sebuah keharusan aku datang kepadanya.
"Kau baik-baik saja?"
Gadis itu mengangkat kepala. Aku bersumpah mata gadis itu adalah mata terindah yang pernah aku lihat. Jejak tangis masih membanjiri pipi gadis itu tapi tak menyurutkan kecantikan bersinar dari wajah itu. "English please!" seru gadis itu frustasi.
Melihat dari keadaannya, aku rasa gadis ini habis dijadikan korban oleh rekanku, dari logatnya pasti dia orang Inggris, dan sudah pasti dia tidak bisa bahasa Prancis. Ini sungguh menarik, aku butuh hiburan saat ini.
"T'as les plus beaux yeux que j'ai jamais vus. [5]"
Keuntungan besar saat aku berbicara dengan orang yang mengerti apa yang aku ucapkan adalah aku bisa berbicara apa pun padanya tanpa peduli soal gengsi. Dan ini sungguh menarik, apalagi melihat gadis itu kembali menangis di balik lekukan kakinya. Lucu sekali!
"Bloody Hell, I'm really fucked up."
"Oh, baiklah cukup untuk permainannya. Sekarang apa yang bisa aku lakukan untukmu?" aku sangat jarang memberi tawaran bantuan, berhubung gadis itu sudah membuatku ringan dan melupakan jejak kesakitan yang ditinggalkan Pansy selama beberapa menit, setidaknya aku bisa membalas jasa besarnya sedikit.
Aku kira reaksi dia saat aku mengerjainya dari tadi adalah memarahiku atau terparah menamparku, tapi kenyataannya gadis itu malah berjinjjt dan memelukku sangat erat. Aku bisa merasakan wangi parfum lembut dari gadis itu, aku bisa merasakan kelembutan wajah gadis itu yang ada di lekuk leherku, aku bisa merasakan kalau jantungku berdetak di luar kinerja normal. Merde ada apa denganku!
Aku segera melepas pelukan itu. Gila… kalau aku punya uang banyak mungkin aku akan segera memeriksa jantung tak normal ini.
"Maaf, aku hanya terlalu bersemangat." untuk pertama kalinya aku bisa melihat senyum gadis itu. Dan percayalah aku merasa duniaku melambat saat senyum itu hadir. Tapi sial, jantungku kembali berulah. Merde, aku rasa aku sudah gila!
Aku menelan ludah kesulitan bicara. Kembali tidak normal, aku seorang Draco Malfoy yang biasanya jago bersilat lidah dan mampu menipu ratusan orang asing dengan mulut ini kesulitan bicara menghadapi gadis yang belum lima menit ini aku jumpai.
"Aku mohon bantu aku. Aku tidak tahu jalan dan tas dan koperku diambil oleh pencuri. Aku benar-benar bingung, aku tidak tahu jalan. Aku sudah bertanya ke banyak tempat tapi mereka tak ada yang bisa bahasa inggris dan menyuruhku ke kantor polisi, masalahnya mereka hanya menyuruh tapi tidak mengarahkan. Dan kemudian aku kembali berjalan dan menemukan tempat ini, ini tempat yang sangat sepi. Aku sudah dua jam ada disini tapi tidak ada satu pun orang lewat—"
"Bisakah kau berhenti bicara, celotehanmu membuat kepalaku pusing."
Bibir dia terkatup, "Aku minta maaf."
Aku memutar mata jengkel, "Baiklah, dimana hotelmu?"
Dia kembali menunduk, "Aku lupa namanya. Nama itu terlalu sulit."
Oh, baiklah…
"Kalau nomor ponsel yang bisa aku hubungi?"
Tundukan dia semakin dalam, "Daya ingatku tak begitu bagus kalau menyangkut angka."
Mulutku sedikit terbuka tak percaya. Gadis ini minta dibantu tapi dia tak menunjukkan tanda-tanda untuk bekerja sama. Bagaimana caraku membantunya kalau dia sendiri tak tahu apa-apa!
"Maafkan aku."
Aku mendengus, sudah tiga kali gadis ini mengatakan maaf.
Dan ini membuatku sedikit muak. Aku tidak suka dengan gadis terlalu lemah dan selalu merasa dia salah. Aku benci gadis tipe ini…
"Yasudahlah, aku tak peduli." aku berbalik agak setengah hati. Aku merasa aku ingin ada di tempat itu, menatap mata indah itu selama yang aku bisa.
"Tunggu." dia menahan langkahku dengan jari dingin dia yang menyentuh lenganku. "Aku mohon bantu aku." walau aku belum berbalik, aku tahu kalau air mata anak itu sudah jatuh lagi.
Baiklah.
Tidak ada salahnya menjadi sinterklas musim gugur.
"Jadi, apa hal yang bisa aku bantu, nona?"
Dia menggigit bibirnya terlihat bingung. Aku bersumpah tidak pernah melihat seorang gadis bisa seseksi itu, bahkan mengalahkan tubuh telanjang Pansy yang punya badan sempurna. Gadis ini tidak punya badan sempurna, dia terlalu kurus dan sedikit mungil, tapi hanya karena dia mengigit bibirnya saja sudah menimbulkan getaran aneh di sekeliling tubuhku. Kalau aku orang brengsek mungkin aku akan segera melahap mulut mengundang itu… ya, kalau saja.… tapi sayang aku bukan pria brengsek. Aku selalu setia dengan pasanganku tapi sayang kekasih pertamaku itu malah mengkhianatiku sangat kejam. Merde, lupakan Pansy!
Beberapa detik kemudian, terdengar suara perut kelaparan. Aku menatap gadis itu, "Maaf." katanya lagi. Aku bersumpah sangat muak mendengar kata itu.
Aku menghembuskan napas pelan-pelan, "Aku rasa kau butuh bantuan pertama."
Dia mendongak, "Maksudmu?
"Kau kelaparan. Dan aku ingin memberikanmu makanan."
"Oh."
Aku memasang senyum miring kebanggaanku, "Hanya oh tanpa embel-embel?"
"Ah, maaf aku lupa. Terima kasih."
Aku pun berjalan berdampingan dengan dia. Ini kali pertama aku berjalan bersama seorang gadis selain Pansy.
"Siapa namamu?" tanyaku penasaran.
"Hermione Granger."
Aku sedikit terkejut, nama itu terdengar aneh sekali untuk ukuran orang London.
"Namamu sendiri siapa?"
"Draco Malfoy." jawabku cepat-cepat tak mau memori yang sudah di updrade ini untuk tidak mengingat masalah dua bulan lagi.
"Nama kita lucu sekali."
Ya, setidaknya lucu terdengar lebih sopan dibandingkan aneh.
Aku mengajak Hermione ke salah satu bistro makanan yang harganya sangat terjangkau. Makanan di bistro itu tidak terlalu enak, tapi karena keterbatasan dana, hanya di tempat itulah aku dan kawananku bisa mengeyangkan perutku.
Pierre sedikit kaget melihat aku datang bukan bersama Pansy tapi dengan gadis lain, "Kau sudah putus dengan Pans?"
Aku menatapnya tajam, "Bukan urusanmu."
Dia pun bungkam seribu bahasa. Menyadari hawa yang aku buat sedikit tegang, Hermione juga ikut menutup mulutnya. Dia makan dengan tenang tapi juga sedikit terburu-buru.
Lima belas menit kita makan dalam keadaan diam. Aku rasa tugas muliaku sudah waktunya untuk berakhir. Tidak baik terlalu baik dengan orang lain.
Aku keluar dari bistro dengan langkah-langkah besar walaupun begitu aku tahu kalau Hermione mengikutiku dari belakang. Ketika aku rasa aku sudah berjalan cukup jauh, aku menoleh ke belakang.
Hermione ikut berhenti, napas dia tak teratur. "Oh, akhirnya kau berhenti juga."
"Apa lagi yang kau mau?"
"Sekarang sudah malam. Aku… aku bingung harus kemana."
Aku memutar mata jengkel. Aku muak jadi pria baik. Dengan sedikit kasar aku menarik tangan Hermione. Dia tidak menolak, ya tentu saja karena dia mengira aku akan berbuat baik padanya. Tapi aku bukan orang baik, aku bisa melihat peluang bisnis dengan tubuh mungil ini. Ya, walaupun tidak seseksi Pansy tetap saja dia seorang wanita. Wanita dibutuhkan pria. Dan pria hidung belang sudah menunggunya.
Hermione agak kaget melihat tempat aku membawanya, "Untuk apa kita ke sini?"
Aku tak berniat menjawab dia lagi. Untung saja André ada di tempat yang tidak jauh dengan pintu masuk. Dia terlihat sangat bersemangat menghampiriku.
"Salut!" sapa André langsung menjabat tanganku.
"Aku punya barang bagus." kataku tak mau bertele-tele.
André melirik Hermione dan bersiul, "Dia?"
Aku mengangguk, "Gadis ini dari London."
Siulan dia makin keras, "Aku suka orang asing!"
"€ 500 baru aku lepaskan."
Tanpa menimbang lebih dulu André langsung setuju, dia memanggil salah satu anak buahnya. Tak lama dua orang berbadan besar dengan wajah penuh codet berdiri di samping kanan dan kiri André.
André membuka dompetnya dan mengeluarkan uangnya yang sangat banyak, "Aku memberimu €800."
Tanpa aba-aba tangan Hermione yang sedari tadi mencengkeram lenganku erat ditarik paksa oleh salah satu anak buah André,."Oh Tuhan, tolong aku, Draco."
Aku berbalik mencoba mengabaikan rintihan dan jeritan Hermione. Tapi baru beberapa langkah aku menjauh, aku merasa sangat bersalah dan buruk sebagai seorang pria. Aku tidak pernah memberikan gadis polos ke André dan demi Tuhan, Hermione tidak melakukan kesalahan apa-apa selama satu hari ini.
Dengan tekad kuat aku melepaskan tangan Hermione dari jeratan kuat pria botak itu. Tak ketinggalan aku melempar uang yang sudah aku dapat ke muka André membuat wajah André merah karena marah.
Aku mengajak Hermione berlari kencang, di belakangku dua orang anak buah André sudah mengikuti. Aku tahu kalau aku terus berlari, aku akan kalah. Kemampuan lari seorang wanita tentu saja tidak bisa menyamai lari laki-laki. Saat sampai di tikungan aku melihat drum besar berjejer. Aku menarik Hermione pelan untuk duduk di belakang drum-drum itu. Tangan Hermione yang sedikit gemetar masih ada di tanganku.
Aku mendengar dua orang idiot itu memaki-maki dalam kata kasar lalu setelah sepuluh menit aku yakin kondisi sudah kembali kondusif, aku dan Hermione keluar dari tempat persembunyian kami.
"Terima kasih." katanya sangat pelan.
Aku menoleh ke arahnya tak percaya, aku sudah membuatnya dalam masalah dan dia bilang terima kasih? Sinting sekali gadis ini.
"Kau boleh tinggal di rumahku." kataku pada akhirnya.
Dia kembali tersenyum lebar dan jantungku kembali berulah, "Kau memang seorang pahlawan!"
"Tidak ada pahlawan yang jahat sepertiku." kataku sangat pelan, aku yakin suara kecilku tak sampai di telinga Hermione.
Hermione sedikit kaget melihat kondisi rumahku.
"Kau masih mau tinggal satu malam ini di rumahku?"
Dia mengangguk pelan, "Tentu saja."
Kondisi rumahku saat ini masih sepi. Sekarang baru jam sembilan malam, mayoritas anak-anak lain masih melancarkan aksinya untuk memburu. Hanya beberapa orang yang ada di rumah, mereka menatap Hermione agak kaget tapi mereka tidak cukup berani berhadapan denganku dan bertanya siapa gadis yang aku bawa sekarang ini.
Tak butuh lama Hermione untuk tertidur. Ya, olahraga kita malam ini memang cukup menguras banyak tenaga. Aku pun sudah sangat mengantuk, tapi mataku melebar saat melihat koper merah muda yang di sebelahnya ada foto Hermione bersama sepasang orang yang umurnya sudah agak tua, mungkin orangtuanya.
Aku pun memasukkan kembali baju-baju dan barang-barang yang tercecer ke dalam koper itu. Setelah selesai aku menaruh koper itu di sebelah Hermione.
Kakiku berjalan menuju ke tempat Theodore. Dari tadi dia selalu melihat ke arahku dan Hermione. "Aku peringatkan, kalau sampai sesuatu terjadi pada gadis itu. Kau akan aku remukkan!" desisku tajam.
"Jaga dia!" seruku tajam pada semua orang yang ada di tempat itu.
Malam ini aku memilih untuk tidak tidur di rumah. Di mana saja selain di rumah. Aku ingin menjauh dari gadis itu.
Hari ini cukup melelahkan, terlalu banyak kejadian. Tapi satu hal yang aku tahu, mata indah Hermione takkan pernah hilang dari memoriku.
Sial, aku jadi picisan begini!
ooo
[1]Oh, Jeune! : Hey, Kid!
[2]Regarde-moi ça! : lihat itu!
[3] J'ai un truc à te dire. : ada sesuatu yang ingin aku sampaikan
[4]Qu'est-ce que tu fous?: apa sih rencanamu?
[5]T'as les plus beaux yeux que j'ai jamais vus.: kau punya mata yang sangat indah
Bahasa Prancis yang aku pakai ini bahasa slang ya...
