Harry Potter © JK Rowling
Plot : Sorry I Love You (Korean Drama)
.
.
.
Warning : OOC, Typo(s), A little bit different from original drama, and of course Muggle World!
ooo
Chapter 2 : I Save You
Sudah dua hari aku tak ingin pergi mencari umpan, semua rekanku tidak ada yang tahu ada apa dengan aku, mereka tidak cukup berani berharap muka denganku. Aku masih sakit hati dengan Pansy dan aku masih penasaran dengan Hermione. Hanya Leroy yang tahu duduk permasalahannya antara aku dan Pansy, dan bersyukurlah Leroy bukan pria tua yang suka memberi nasihat atau apapun tetek bengeknya itu. Leroy hanya bungkam dan sesekali tersenyum padaku.
Leroy juga kemarin memberiku selembar undangan yang dia bilang dikirim oleh Pansy saat aku tengah mabuk tak sadar kan diri. Gila bukan wanita brengsek itu, dia sudah menghancurkanku tapi kemudian dia mengundangku untuk kembali melihat aku hancur. Apa menurut dia itu lucu?
"Aku sangat mencintaimu, Drake"
Aku tersenyum dan mengecup ubun-ubun wanita dalam pelukanku, "Aku berjanji akan menjagamu sampai mati."
Aku tertegun dengan memori yang seketika menyeruak masuk itu. Laki-laki harus selalu menepati janjinya. Ya, aku harus menjaga Pansy bukan memarahinya atau membencinya. Bahkan Pansy kemarin bilang kalau dia mencintaiku… Pansy mencintaiku dan dia mencintai uang pria tua itu. Aku yakin pria tua itu akan membuat Pansy sengsara, firasatku tidak pernah salah. Aku sudah membuat keputusan mutlak. Aku tidak akan melepaskan Pansy.
"Aku butuh jas, kemeja, celana, dan sepatu resmimu!" Leroy menatapku dan mengerutkan kedua alisnya.
"Untuk apa?"
Dengan sangat tenang aku jawab, "Aku ingin kembali merebut Pansy. Dia bilang dia masih mencintaiku."
Leroy berdiri dari duduknya, menggelengkan kepala tak percaya, "Apa kau gila!" teriaknya membuat beberapa penghuni di rumah ini menatap kami sekilas. Untungnya, semua orang disini bukan tukang gosip.
"Apa kau juga gila, sejak kapan kau sibuk mencampuri urusanku."
"Drake, pergi ke tempat itu sama saja kau bunuh diri!"
"Aku tak peduli."
"Calon suami mantan kekasihmu itu seorang mafia!"
"Aku tetap tak peduli."
"Kau sinting."
Aku menyeringai, "Aku tahu itu."
Akhirnya Leroy menyerah, dia memberianku pakaian terbaik hasil curiannya. Ada untungnya juga di rumah ini ada tukang curi pakaian bagus.
"Hati-hati." katanya keesokan hari setelah aku bersiap untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.
Aku membalas Leroy tidak dengan seringai seperti biasanya, tapi aku memeluk tubuh pria tua itu. Dia salah satu orang yang menyelamatkanku belasan tahun lalu. Aku belum pernah mengucapkan sepatah kata terimakasih padanya, jadi aku anggap pelukan tiga detik ini adalah cara non verbal-ku untuk meminta maaf.
Aku punya firasat kalau sesuatu yang buruk bakal terjadi. Maksudku benar-benar buruk. Seperti ada bencana yang akan datang. Hatiku terus berteriak agar aku tidak menuruti rencana gila ini, tapi aku menolak… aku tetap bertahan dengan keyakinanku. Aku tetap menantang bencana yang akan datang. Leroy benar, aku sudah gila.
ooo
Konsep pernikahan yang Pansy pakai adalah garden party. Itu cita-cita Pansy dari dulu. Dia pernah bilang pernikahan akan lebih intim dan santai dengan garden party.
Sayang, aku tidak bisa mengabulkan keinginan Pansy.
Tapi apa artinya sih sebuah pernikahan?
Toh yang aku lihat banyak orang menikah lalu bercerai, lalu berubah jadi musuh, lalu berebut harta. Itu menjijikan. Dan itulah yang membuat aku tidak mau menikah.
Prinsip untuk tidak menikah ini sama sekali tidak diketahui oleh Pansy.
"Oh, Drake... kau hadir!" seru Pansy menghampiri dengan gaun pengantinnya yang hanya terhenti di lutut dia. Senyum dia sangat lebar. Apa dia bahagia?
Pansy mencium pipiku cepat, "Aku sudah menunggumu dari tadi. Terima kasih sudah datang."
"Aku tidak datang untuk hadir di pernikahanmu." kataku dengan gigi terkatup.
Tak lama pria tua bangka datang, dia menaruh tangannya di pinggang Pansy, "Kau lama sekali, Love." katanya sambil mencium leher Pansy.
Menjijikan.
"Tunggu sebentar lagi, love. Aku ingin bicara sebentar dengan temanku."
Mata pria tua bangka itu menatapku, tatapannya penuh dengan kerendahan, "Ah, pria tidak tahu sopan santun!"
Aku mengepalkan tangan bersiap untuk meninju muka orang brengsek itu tapi kemudian Pansy melepaskan diri dari pelukan pria itu, "Love, beri aku lima menit. Ada beberapa hal yang aku bicarakan dengan temanku."
Sekali lagi pria tua itu memberikan tatapan merendahkan, "Lima menit saja, Love." katanya lalu pergi dengan gaya angkuhnya.
"Aku tidak suka padanya." akuku jujur.
"Tapi aku suka padanya."
Aku tertawa ringan, "Bukankah kau hanya suka uangnya?"
"Oh, ayolah, Drake."
Aku mengambil tangan Pansy, mendekatkan wajahku ke kuping telinga Pansy, "Ikutlah denganku."
Pansy berusaha menjauh tapi aku menahan tubuhnya untuk tetap ada di tempat yang sama, "Drake, lepaskan aku. Aku butuh kebebasan. Lupakan aku…"
"Aku tidak bisa. Kau bilang kau mencintaiku!"
"Hentikan, Drake!" sekarang dia berhasil melepaskan diri, "Aku tidak suka dengan caramu ini. Kau kekanakan."
Dua pria botak berbadan besar menghampiri tempat aku dan Pansy, "Kau tak apa-apa, mademoiselle?"
"Tidak… dia tadi hanya bercanda."
Mereka berdua mengangguk singkat kemudian kembali menjauh walau tidak betul-betul jauh, hanya berjarak tiga langkah kaki dewasa dari tempatku.
"Pans, kau bilang kau mencintaiku." ulangku lagi dengan nada hampir frustasi. Aku benar-benar tak mau kembali dijadikan objek sampah. Dibuang lalu dilupakan. Mungkin bisa di daur ulang, tapi sampah tetap akan menjadi sampah.
"Drake, realistis sedikit… aku memang mencintaimu tapi aku letih dengan keadaan ini. Kau bilang kau ingin aku bahagia, maka bebaskanlah aku."
Aku memegang kembali bahunya, dua orang itu kembali mendekat tapi Pansy tersenyum menenangkan mereka, "Aku tidak bisa! Aku tidak mau melepasmu!"
"Oh ayolah, Drake—"
Pansy tidak melanjutkan ucapannya karena suara tembakan melebur sangat kencang di tempat ini. Aku langsung membekap Pansy dalam pelukanku dan menjauh dari tempat tidak aman ini. Merde, instingku tepat lagi, ini bukan hanya buruk, ini benar-benar bencana.
Para pengawal pria tua itu mulai melakukan formasi pertahanan, mereka semua mengelilingi si pria tua dan menyembunyikan si pria tua dalam tubuh tinggi besar mereka. Senjata api sudah mereka keluarkan untuk menjaga-jaga. Pengawal lainnya menyebar dengan pistol yang diacungkan mencari-cari sumber letupan pistol tadi.
Pria tua sinting!
Dia dikelilingi oleh para pengawal tapi dia tak memberi satu penjagaan pun pada Pansy, istrinya!
Pansy sendiri sangat panik di dalam pelukanku, dia gemetar ketakutan. Aku makin mengeratkan pelukan. Saat ini aku sudah berjongkok di belakang salah satu meja bundar di tempat itu. Mataku awas memandang sekeliling, mencari sumber suara ledakan tadi. Fokusku sedikit terbelah karena semua orang disini berteriak ketar-ketir ketakutan. Di sampingku ada seorang wanita empat puluhan, dia memegang rosario-nya dan berdoa dengan suara yang kencang. Well, tidak salahnya berdoa di situasi ini, tapi aku bersumpah suara wanita itu sangat kencang.
Mataku lalu terhenti pada satu titik, di belakang semak-semak ada pergerakan. Aku bisa melihat wajahnya yang tertutup oleh kain hitam. Pandangan mata kita bertemu, aku menatap dia sangat tajam seolah menantang, lalu pistol yang ada di genggamannya pun mengarah pada kepala Pansy.
Aku bergerak mengalahkan kecepatan cahaya, membalikkan badanku dan melindungi wanita yang sedang dalam pelukanku. Tiga peluru panas menyerang otakku. Aku sering bertingkah gila, tapi sepertinya kali ini kegilaanku sudah melebihi batas. Malaikat pantas mencatat kebaikan dan pengorbananku.
Sebelum semuanya menggelap, ada tiga hal yang aku rasakan. Pertama, kepalaku memberat, seakan-akan ada tangan berapi yang mengoyak otakku. Kedua, jeritan Pansy yang sangat histeris, well, aku kira dia tidak peduli lagi dengan keeksistensianku. Yang terakhir, aku melihat ada sosok berjubah hitam berdiri di samping penembak itu. Orang itu menyeringai tajam kepadaku. Tatapannya melumpuhkanku dalam sekejap.
Dan seketika duniaku sudah berubah jadi lautan hitam tanpa ada setitik pun cahaya.
ooo
Tbc
hey, fellas...
Fast update, huh?
Walaupun singkat yang penting lanjutin. Ya, kan?
Entah ini ada yang baca atau nggak, tapi jujur aku senang nulis ini.
Btw, buat guest yang review nanya kalau cerita Dramione gak dibuat sesedih Sorry I Love You... hmm... nggak janji ya. Tapi aku janji bakal buat sesuatu yang beda...
Terus buat reviewer pertama : Ley Gatharol. Thanks for stealing your time!
