Harry Potter © JK Rowling
Plot : Sorry I Love You (Korean Drama)
.
.
.
Warning : OOC, Typo(s), A little bit different from original drama, and of course Muggle World!
ooo
Chapter 3 : I don't belong here
I see a distant light, but girl this can't be right.
Such a surreal place to see so how did this come to be,
Arrived too early.
(Avenged Sevenfold - Afterlife)
Aku berjalan di antara kabut putih. Semua hal dari pandangan mataku adalah putih. Tapi tempat putih itu sangat sepi dan kosong. Aku melirik diriku sendiri yang berjalan di tanah putih, kakiku tanpa alas dan kotor, menimbulkan bekas setiap aku melangkah, bajuku pun sama kotornya dengan kakiku. Aku merasa sangat bersalah menodai tempat putih ini. Aku terlalu kotor untuk ada disini, aku tidak layak ada disini.
Ah, aku lupa pertanyaan paling krusialnya. Dimana ini? Kenapa aku bisa ada disini?
Aku menguras memoriku hingga tersisalah satu memori yang langsung masuk tanpa peringatan. Terakhir kali kakiku ini ada di tempat pernikahan Pansy, lalu aku ingin merebut kembali Pansy, Pansy menolak, dan ya… aku ditembak.
Jadi kalau aku ditembak, aku mati 'kan?
Mungkinkah aku ada di surga?
Tapi layakkah surga menampung diri kotor ini?
Aku terlalu banyak dosa.
Aku hanya berbuat baik sesekali, berbuat jahat setiap waktu, seharusnya aku diletakkan di neraka, bukan?
Seandainya tempat ini tidak sepi. Seandainya tempat ini punya petugas agar aku bisa bertanya dimana letak neraka. Ya, seandainya…. Sayang tempat ini sangat kosong dan sepi.
Eh, tapi, ada yang janggal… kenapa surga sesepi dan sekosong ini? Bukankah surga sering digambarkan dengan pemandangan indah nan menakjubkan dan sudah pasti tidak sesepi ini.
Atau mungkinkah ini neraka?
Kesepian, kesendirian adalah neraka besar. Di dunia aku selalu mengalami itu, dan sekarang di dunia lain pun aku tetap mengalami itu. Sial sekali hidupku… atau kematianku?
Aku berharap kalau aku bisa bertemu Tuhan di dunia lain ini. Aku tidak akan marah pada Tuhan yang bersikap tidak adil pada hidupku. Aku hanya ingin bertanya Tuhan tentang ibuku. Kalau ibuku sudah tiada, aku ingin sekali saja bertemu dengannya. Kalau ibuku masih ada di bumi, aku ingin Tuhan menjaga dan mengawasinya.
"Tuhan, dapatkah kau mendengarku?"
Suaraku menggema kencang sekali padahal aku mengeluarkan suara yang kecil.
Aku tidak mendapat jawaban dari telingaku tapi aku merasakan kehangatan di hatiku membuat senyumku mengembang tanpa sebab. Aku tahu Tuhan sudah menjawabku.
Dengan semangat tinggi aku kembali bertanya, "Apa ibuku ada disini?"
Senyum di bibirku berganti masam.
Mungkin itu artinya tidak.
Jadi, ibuku masih ada di bumi?
Baru saja aku ingin mengajukan pertanyaan lagi, aku melihat ada pintu terbuka. Menampilkan sebuah lorong panjang nan gelap. Apa itu sebuah petunjuk?
Aku tak tahu tapi kakiku melangkah begitu saja. Ini bukan karena rasa penasaran tapi ini semua keadaan refleks. Aku tetap berjalan, merasa jalan yang aku tuju sangat jauh. Aku merasa lelah, kepalaku mendadak sakit, dan aku merasa tubuhku tidak sehat.
Setelah perjalanan sangat lama itu akhirnya aku sampai, aku mendarat di pintu ruangan rumah sakit. Di depanku ada sosok aku sendiri, di sampingku ada dokter yang mencoba melakukan kejut jantung pada tubuhku, dan di sebelah kanan sisi ranjangku ada Pansy yang menangis tersedu di pelukan suaminya.
Jadi, aku sudah mati. Lalu kenapa aku kembali kesini?
Lagi-lagi tubuhku bergerak tanpa kehendakku. Aku seperti disedot dan aku merasakan badanku terasa sangat enteng. Rohku melayang mendekat ke arah tubuhku yang dipasang banyak sekali selang. Dan seketika aku merasa seperti kepingan puzzle utuh yang sudah sempurna.
Aku tidak jadi mati.
ooo
Sudah satu minggu sejak kesadaranku. Aku masih tetap ada di rumah sakit. Aku tetap menjalankan pemeriksaan rutin di bagian kepalaku. Satu fakta yang baru aku tahu tiga hari yang lalu kalau dokter tidak bisa mengambil satu peluru di otak kiriku karena itu terlalu berisiko untuk keselamatanku. Inti singkatnya adalah masih ada satu peluru yang hinggap di otakku. Kalau lebih diperjelas lagi, gara-gara peluru ini aku mempunyai waktu yang sangat singkat. Tiga bulan, itu waktu maksimal. Artinya, mungkin saja dalam seminggu, atau bahkan sehari lagi aku akan mati. Dokter bilang aku bangun saja sudah merupakan keajaiban.
Well, aku tak tahu harus bersyukur atau marah. Aku hidup lagi tapi kemudian aku dibilang aku akan mati, bahkan sudah diprediksi batas maksimalnya.
Tuhan sangat baik, eh?
Selama aku dirawat ini Pansy dan suaminya selalu ada di sampingku. Omong-omong biaya selama aku di rumah sakit yang pasti memerlukan biaya sangat banyak ini ditanggung oleh Dirk, suami Pansy. Sekarang aku harus terbiasa memanggil dia suami Pansy, walau aku masih menganggap si tua bangka adalah panggilan yang paling tepat.
"Maafkan aku," ini adalah perkataan Pansy yang sudah kudengar ribuan kali selama satu minggu. Percayalah aku benar benar muak mendengar kata Maaf. "Kau sudah menyelamatkanku." tangis Pansy pecah lagi.
Aku masih terdiam menatap kosong jendela terbuka yang menampilkan pohon yang daunnya berguguran mengikuti pola musim gugur. Aku tidak mau menatap Pansy. Ini bukan karena aku benci, tapi karena aku tidak suka dikasihani.
"Love, maukah kau mengabulkan permintaanku?"
"Apapun, love."
"Tolong biayai dan hidupi Draco untuk tinggal di London. Bahkan kalau bisa cari tahu dimana orangtua Draco atau sanak saudara Draco di kota London." aku makin tidak suka dengan cara Pansy mengasihaniku, seolah aku ini makhluk menyedihkan yang sudah tidak bisa apa-apa.
Aku berbalik menatap Pansy tajam.
"Baiklah, biar bagaimana pun anak ini sudah menyelamatkanmu. Kau masih hidup dan sehat karena dia. Aku juga merasa bersalah karena ulah si bajingan keparat Denzel itu, semua hal yang sudah dirancang indah jadi hancur berantakan. Untunglah, bajingan itu sudah dimasukkan ke penjara."
"Jadi, kau akan mengabulkan permintaanku, bukan?"
Dirk mengangguk dan mencium ubun-ubun Pansy, "Tentu saja, love."
Aku sungguh ingin menolak, tapi mulutku tak bisa diajak bekerja sama. Untuk terbuka saja tenggorokanku sangat sakit, untuk berbicara apalagi. Dokter bilang tidak ada masalah dengan kemampuanku sebagai manusia, masalah tenggorokan ini pun akan sembuh dalam waktu dekat. Ya, aku harap saja.
ooo
Pada akhirnya aku menuruti keinginan Pansy untuk kembali ke tanah kelahiranku. Aku tak punya pilihan. Keinginanku untuk bertemu ibuku sudah mengalahkan egoku sendiri. Aku hanya bersikap realistis. Uang tabunganku masih belum cukup untuk aku bisa kembali dan tinggal di London, jadi sangat wajar kalau aku menerima pemberian Pansy. Aku bisa ke London, dan selama aku disana kebutuhanku sudah disediakan. Bahkan, Dirk juga sudah mengarahkan orang-orangnya mencari keberadaan ibuku. Siapa orang normal yang tak menolak tawaran menggiurkan itu?
Setelah aku dinyatakan sudah bisa beraktifitas normal oleh dokter setelah dua minggu rawat inapku, aku pun terbang ke London.
Pansy tidak mengantarku ke Charles De Gaulle karena dia dan Dirk sudah pergi bulan madu sejak tiga hari sebelumnya. Well, mungkin sekarang aku sudah bisa melepas Pansy. Ini bukan karena Dirk dan uangnya yang diamalkan padaku, tapi sejak aku bangun dari komaku. Aku tidak merasakan apa-apa lagi dengan Pansy. Rasa itu sudah hilang. Lenyap. Tak ada bekasnya sama sekali. Tidak menimbulkan rasa sakit, lebih lagi rasa kecewa. Tidak... semuanya normal. Aku hanya tidak punya rasa lagi kepada Pansy.
Ada hal lucu, saat aku membuka mataku setiap pagi aku membayangkan sesosok gadis berambut megar, berbadan sangat mungil. Hermione Granger. Bahkan aku masih ingat namanya. Bahkan aku masih hapal bau tubuhnya. Bahkan aku masih ingat mata indahnya. Bahkan aku masih ingat senyumnya. Dia selalu menghantuiku setiap aku ingin tidur, dan setiap aku kali aku bangun dari tidur, bahkan aku yakin mimpiku pasti selalu dihadiri oleh sosok itu. Aku pun punya insting kalau di London akan bertemu kembali dengannya. Perasaan itu kuat sekali, dan itu membahagiakan…
Entah, ada apa denganku.
Mungkin peluru ini sudah menunjukkan tanda-tanda merusak otakku. Aku seperti bukan aku… aku bahkan tak mengenal diriku sendiri.
Well, sebaiknya aku melupakan masalah itu.
Sekarang pesawatku sudah mengangkasa di udara. Aku memejamkan mata menikmati lantunan indah kebahagiaan.
Tinggal selangkah lagi, aku bisa bertemu ibuku.
Tuhan tidak selamanya jahat padaku.
Aku tak masalah jika harus sekarat dulu baru bisa bertemu ibuku.
Setidaknya sebelum aku mati, aku bisa memeluk tubuh rapuh ibuku.
Ibu, tunggu aku…
Oh Tuhan, terima kasih.
ooo
Tbc
.
.
Ley Gatharowl :
Yang nembak Draco musuhnya Dirk- suami Pansy. Dirk ini anggota mafia, musuhnya banyak. Awal nya itu musuhnya ngincer Pansy tapi yang kena malah Draco.
Itu bukan inti cerita utamanya 'kok.
Btw, sorry ya... setiap aku post pasti ada aja kata-kata yang hilang. Aku nggak sempet ngedit, jadi maaf.
Sekali, terima kasih buat udah baca.
