4 : I'm all alone like an idiot

I walk a lonely road

The only one that I have ever known

Don't know where it goes

But it's home to me and I walk alone

(Boulevard of the broken dreams - greenday)

Untung saja aku tidak pernah percaya penuh pada keloyalan seseorang. Dirk, orang yang katanya mau memberiku segala fasilitas kehidupan di London nyatanya tidak memenuhi semua janjinya. Aku tidak mendapatkan tempat tinggal, aku tidak mendapatkan uang sepeser pun, dan tentu saja yang membuatku semakin marah adalah dia berbohong akan mencari tahu tentang ibuku.

Tak masalah kalau aku tak punya tempat tinggal, separuh hidup sudah aku habiskan di jalanan. Tak masalah aku kelaparan karena tak punya uang, aku pernah beberapa hari tak makan sama sekali. Tapi tentang ibuku… aku sangat tidak bisa menerima ini. Aku terbang jauh ke London bukan untuk kembali jadi anak jalanan, aku ke tempat ini untuk bertemu dengan ibuku! Tapi bajingan keparat itu benar-benar telah memanipulasiku.

Situasi semakin buruk karena musim dingin London sangat tidak bersahabat. Aku berjalan sendirian di tengah pusat kota, tanpa tujuan, tanpa uang, persis seperti orang gila. Belum lagi kepalaku yang terus berdentam seakan ingin meledak kapan saja. Rasanya lebih baik mati saja… sungguh, aku tidak bohong.

Perjalanan ini terasa sangat lama dan tak ada ujungnya. Aku ingin meminta tolong tapi tidak ada yang mengenalku, aku bahkan yakin mereka tidak akan sudi membantu orang yang lebih mirip penjahat daripada orang yang butuh dikasihani sepertiku.

Tidak tahan dengan segala situasi ini. Ditambah kakiku yang mati rasa. Aku butuh untuk duduk. Untung saja aku menemukan sebuah taman kota kecil yang menyediakan tempat duduk. Tapi beristirahat seperti ini tidak membuatku lolos dari kesedihan yang semakin menjadi. Sungguh, demi apapun, melihat banyak anak kecil yang tertawa dengan orangtuanya membuat aku tidak bisa menahan airmata.

Aku bersumpah aku tidak suka menangis, aku selalu bisa menahan laju airmataku bahkan di situasi paling sulit sekalipun. Tapi sekarang… aku tidak bisa mengontrol diri. Aku menangis seperti anak umur lima tahun yang marah dengan orangtuanya karena tidak dibelikan mainan. Orang-orang melihatku tak wajar, biarlah mereka mengira aku gila. Menyedihkan sekali, aku gila dan aku akan mati tanpa tahu siapa ibu kandungku.

Dokter bilang gara-gara peluru sialan ini bersarang di otakku, fungsi kognitif dan psikologis ku akan terganggu. Aku jadi tidak bisa mengontrol emosi, persis seperti orang gila.

Lalu tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke arahku. Jaket sangat tebal menyelubungi tubuhnya, bahkan sampai menutupi semua lehernya. Gadis berkuncir dua itu tersenyum hangat ke arahku dan memberikan coklat batang padaku. "Ambilah. Mom bilang coklat bisa memberi kehangatan dan membuat kau tidak sedih lagi."

Aku mengambil coklat itu langsung. Aku sangat lapar sekali, jadi aku memakannya sangat tergesa-gesa.

"Mulutmu kotor." Gadis yang masih tetap duduk di sampingku itu memberikan aku sapu tangan.

Kali ini aku menolak, mataku melayang ke beberapa meter di depanku. Disana ada seorang anak kecil laki-laki yang mungkin usianya belum mencapai lima tahun, anak itu juga sedang makan coklat, sama berantakannya denganku tapi di samping dia ada ibu yang membersihkan wajahnya dari coklat dengan tangan telanjang nya. Aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak mengalir lagi. Tidak bisa.

"Ibuku pasti akan membersihkan mulutku juga." Kataku penuh keyakinan.

"Memang kemana ibumu?"

Aku memandang gadis di sampingku sambil tersenyum miris, "Ibuku ada di London."

"Tapi—"

Anak berumur delapan tahun itu dipanggil oleh orangtuanya dari kejauhan. Aku bisa melihat kalau ibunya tampak tidak suka denganku, mungkin dia mengira aku berniat menculik putrinya. Aku memang memiliki tampang seperti penjahat. Dan sial, aku memang benar-benar penjahat. Atau sekarang aku bisa bilang kalau aku adalah mantan penjahat. Aku sudah tidak punya kapasitas menjadi seorang penjahat lagi, tubuhku tidak mendukungku. Peringatan Tuhan sangat kejam, bukan? Aku belum sampai neraka tapi aku sudah merasa ada di neraka sekarang.

Anak itu mengeluarkan sesuatu lagi dari kantongnya. Satu coklat batang lagi dan uang kertas bernilai sepuluh poundsterling. "Titip salamku pada ibumu." katanya lalu segera berlari menuju ibunya. Betapa beruntungnya anak itu, dia bisa mendapatkan pelukan hangat ibunya tanpa meminta, tanpa mengemis apapun pada Tuhan.

Aku menangis lagi. Jauh lebih kencang. Aku ingin semua orang tahu kesakitan yang menyiksa hati dan otakku. Aku ingin semua orang merasakan apa yang aku rasakan. Aku tidak bisa menjalani ini hanya seorang diri. Aku butuh bantuan. Aku ingin selamat dan memeluk tubuh ibuku. Sangat erat hingga aku rela mati kehabisan napas olehnya.

Entah sudah berapa lama aku menangis, aku tidak menghitungnya dengan detik tapi aku tahu hari sudah larut malam. Karena tangisan ku, banyak orang yang datang dan memberi uang logam mereka padaku. Dan aku semakin sedih… pecundang… rasanya aku ingin mati tapi aku tidak mau mati dulu.

Efek tangisanku akhirnya terasa. Kepalaku berdenyut sakit sekali. Aku tidak bisa menahan diri untuk mengerang, kepalaku benar-benar akan meledak. Kesakitan ini jauh lebih besar dari apa yang aku rasakan dari siang. Aku bahkan tidak peduli pada sengatan dingin dari salju lebat yang turun tak berperasaan di atasku. Kesakitan ini mengambil alih seluruh pikiranku. Aku merasakan hidungku pun ikut berulah karena mengeluarkan cairan merah yang jumlahnya tidak sedikit.

Apakah prediksi waktu tiga bulan ini akan berakhir hanya sampai disini?

Kematianku tinggal menunggu menit.

Cara kematian yang sangat menyedihkan sekali. Mungkin orang-orang akan menemukan mayatku tertimbun di bawah salju. Lalu mungkin saja mayatku menjadi bahan uji coba ilmiah siswa kedokteran yang butuh mayat untuk operasi mereka.

Ya… itu mungkin saja terjadi.

Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku hanya pecundang yang tidak punya apa-apa.

Aku hanya aku. Pria menyedihkan yang bahkan tak mengenal siapa ibu kandungnya.

"Maafkan aku Mom, aku tidak bisa menemuimu." Kataku lalu semua hal mendadak menjadi gelap gulita.

Aku terbangun oleh suara berisik yang ditimbulkan oleh keadaan sekitar. Suara seorang wanita melengking sangat tinggi, dari nadanya aku tahu dia sedang sangat marah dan kesal. Wanita itu sedang berargumen dengan suara laki-laki yang cukup serak, menurut perkiraan umurku pria itu pasti sudah di atas umur lima puluh tahun dari suaranya.

Aku memang sudah bangun tapi aku tidak berniat untuk membuka mataku, ralat, belum mau membuka mataku maksudnya. Meskipun aku tidak dengar jelas apa pembicaraan mereka, karena yang aku dengar hanya suara sumpah serapah si wanita tapi aku merasa sangat tertarik mendengar mereka berbicara.

"Mom itu brengsek, grandpa!" serunya tajam sekali. Terdengar penuh dengan kebencian.

"Beri dia kesempatan. Kalian berhak untuk mendapatkan kasih sayang dia."

"Kasih sayang? Apa membuang anak sendiri itu termasuk kasih sayang? Apa membuang anak lalu setahun kemudian malah mengadopsi anak lain sementara dua anaknya di taruh di panti asuhan itu dinamakan kasih sayang? Seorang ibu tidak akan tega melakukan ini pada anaknya, grandpa. Dia sudah keluar dari batas."

"Ibumu pasti punya alasan—"

"Alasan apa? Dia tidak mau aib dia sebagai artis ternodai karena mempunyai anak haram?! Dia sudah membuang aku dan saudara kembarku. Dan itu tindakan itu tidak akan pernah termaafkan."

Sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Aku terlalu penasaran, aku ingin ikut terlibat dalam perbincangan seru mereka. Sudah cukup aku menjadi pendengar aktif, aku juga mau bersuara.

Aku agak kesulitan menyesuaikan mata agar melihat dengan jernih saat membuka mata. Kepalaku masih sedikit nyeri tapi tidak separah sebelumnya. Well, haruskah aku berterima kasih pada Tuhan karena sudah menyelamatkanku… setidaknya untuk hari ini?

"Oh! Kau sudah bangun?" seorang wanita berambut lurus panjang dengan warna yang sangat identik dengan miliku berjalan mendekat.

Wanita itu sangat cantik dan entah kenapa wajahnya sangat familiar. Aku tidak pernah bertemu dengannya tapi aku merasa sudah mengenalnya seumur hidupku.

"Kau siapa?" suaraku sangat kering, terdengar begitu lemah dan volume-nya sangat kecil.

Wanita itu buru-buru memberikan segelas air minum padaku. Tenggorokanku agak sedikit sakit ketika dialiri oleh air tapi aku mengabaikannya karena kebutuhan untuk minum sudah sangat mendesak. Hanya dalam hitungan detik gelas itu sudah kosong.

"Kau baik-baik saja?"

"Kau siapa?"

"Beritahu aku, apa kau memiliki penyakit berbahaya? Kau terlihat sangat menakutkan waktu aku temui di atas bangku taman. Aku kira kau sudah mati tapi kau masih punya napas—"

Wanita ini terus berbicara tapi selalu mengabaikan pertanyaan pentingku, "Kau siapa?"

Dia lalu tersenyum dan melepaskan kalung dengan bandul cincin yang sama persis dengan punyaku. "Cincin kita kembar dan wajah kita pun mirip."

"So?"

"Kau saudara kembarku!" katanya langsung membawaku ke dalam pelukan yang sangat erat. Di pelukan itu keceriaan dia di awal berubah menjadi isak tangis.

"Akhirnya… akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Aku senang sekali."

Kalau dia saudara kembarku, berati dia tahu dimana ibuku berada. "Mom?"

Dia melepas pelukan dan menatapku dengan bara kebencian yang terlalu dalam. "Jangan pernah kau cari orang itu. Dia bukan ibu kita, dia musuh kita."

"Kenapa?"

"Sebelum aku cerita. Aku mau tahu segala hal tentangmu dan bagaimana kau bisa sekarat di tengah taman seperti itu? Aku dan Grandpa bahkan mau membawamu ke rumah sakit kalau kau tidak juga sadar."

"Draco Malfoy. Aku divonis dokter hanya punya waktu tiga bulan untuk hidup. Karena…" Aku menunjuk bagian belakang kepalaku tempat dimana otakku dan peluru saling berpelukan membawa kematian secara perlahan, "Disini aku masih punya dua peluru yang tidak bisa dikeluarkan."

Wanita ini langsung menutup mulutnya. Tangis dia semakin pecah. Dia kembali membawaku ke dalam pelukannya. "Kenapa kau harus datang membawa kabar buruk ini! Aku sudah menanti lama kehadiranmu dan kau datang… kau malah bilang kau akan mati! Demi Tuhan, bilang itu hanya salah satu lelucon konyolmu."

"Kau tahu kau mempunyai saudara kembar sejak dulu?"

"Ya. Grandpa yang memberitahuku."

Mataku mengarah pada seorang pria yang sangat tua, usianya mungkin sudah tujuh puluh tahun. Dia sekarang sedang menghapus air matanya dengan sapu tangan putih miliknya.

"Dia kakek kita?"

Gelengan terasa di dadaku. "Dia penjaga panti asuhan tempat dulu kita dibuang."

"Dibuang? Maksudmu?"

"Kita anak yang tidak diharapkan, Draco."

"Tapi kau—"

"Namaku Phoebe. Kau bisa memanggilku Phe."

Aku tidak peduli dengan namanya. Yang mau aku tahu hanyalah tentang ibuku. Bagaimana bisa anak ini mengeluarkan tatapan ingin membunuh ketika berbicara tentang ibu kita. Harusnya dia cukup pintar untuk tahu kalau ibu kita melarat, makanya dia menaruh kita di panti asuhan. Ibuku tidak mungkin setega itu membuang anaknya sendiri.

"Kau pernah bertemu dengan Mom?"

Seringai tajam terlihat disana. Dia lalu menyalakan televisi kecil di kamar ini yang memperlihatkan seorang wanita cantik sekali sedang bermain di salah satu serial televisi. "Aku melihatnya setiap hari. Membuatku benar-benar muak."

"Dia ibuku?"

"Ya. Ibu kita yang kaya raya dan terkenal."

Aku merasa sedang ditelanjangi dan dipermalukan sekarang. Orang yang sudah aku banggakan ke banyak orang, orang yang sudah aku bela mati-matian, orang yang membuatku nyaris mati di London karena mencari keberadaannya, orang yang selalu aku impikan pelukannya, orang yang selalu aku gaungkan perasaan cintaku di setiap aku bernapas, orang yang aku perjuangkan, orang yang ingin aku buat bahagia.… orang itu malah berkhianat. Dia bahagia sementara aku dalam kondisi nyaris mati disini… dia tidak pernah sekalipun memikirkanku ternyata… dia kaya dan dia bahagia.

Tbc...

A/N :

Entah ini cerita masih ada yang inget atau nggak.

Atau nggak tahu deh ada yang suka atau nggak.

Aku pengen banget nulis ini karna aku pengen buat cerita tentang unsur keluarga yang lebih dominan dibanding dengan romannya. Ya, sekali-kali buat cerita yang ada pesan moralnya, why not?

Aku mungkin bakal Update cerita ini seminggu sekali atau kalau mood sedang bagus mungkin bisa dua hari sekali. Tapi mungkin ya… tergantung demands dari kalian sih… kalau ada yang suka, aku semangat buat lanjut… kalau nggak Well, tetap bakal aku lanjut tapi dengan update yang jauh lebih lama (menyesuaikan mood jangka panjang). Jadi give me your words bout this chapter, please…

Oh ya… lupa.

Cerita aku yang Secret Love aku pindahin di wattpad (username : unemiraille), udah aku tambahin dua Chapter disana.