Hari-hari biasanya, Wonho akan bangun pagi-pagi sekali, sarapan sebentar, dan segera berangkat bekerja. Bekerja dalam kamusnya berarti pergi ke kafe kopi yang dikelolanya bersama Changkyun dan memastikan semuanya berjalan dengan baik. Itu bukan hal yang benar-benar sederhana karena kafe mereka sudah punya beberapa cabang yang letaknya cukup berjauhan. Namun, Wonho tidak pernah lelah memikirkannya karena kafe-kafe itu sudah seperti anak-anak baginya; anak-anak yang harus dia perhatikan setiap hari.
Namun, pagi ini dia memutuskan untuk absen tanpa pikir panjang untuk mengantar Changkyun ke rumah sakit. Kehilangan ingatan secara tiba-tiba seperti ini bisa berarti sesuatu yang lebih buruk dan Wonho tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada Changkyun.
Setelah menghabiskan makan siang mereka, Changkyun mengambil semua peralatan makan yang mereka gunakan dan membawanya ke tempat mencuci piring secara refleks. Kebiasaan itu sudah ada sejak mereka di Monsta X dan sampai sekarang—bahkan sebelum Changkyun kehilangan ingatannya—dia masih menjalankannya. Wonho tersenyum tipis melihat gerak-geriknya.
Sekian menit menghabiskan waktu hanya memerhatikan Changkyun dari tempatnya duduk, Wonho lantas beranjak menghampiri laki-laki yang lebih mudanya. Dia tahu Changkyun yang sekarang tidak terbiasa dengan Wonho yang selalu berdiri dekat-dekat dengannya, tapi itu sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.
Wonho memeluknya dari belakang, menaruh dagunya di bahu Changkyun. Changkyun sempat tampak terkejut sebentar, tapi kemudian dia melanjutkan kegiatannya dalam diam. Posisi ini membuat mereka benar-benar tampak seperti pasangan suami-istri. Changkyun merasakan wajahnya memanas dan kedua kakinya melemas karena gugup.
"Hei," Wonho berbisik, tepat melalui telinga lawan bicaranya. Setiap napas yang dia hembuskan menggelitik leher Changkyun. "Aku punya ide untuk membuatmu ingat beberapa hal," dia tertawa.
Changkyun menoleh sejenak, tersenyum tipis, lalu mengangguk. Dia tahu reaksi itu akan terlihat aneh di mata Wonho, tapi mau bagaimana lagi? Meskipun dia sekarang sudah yakin bahwa keadaan di sekelilingnya adalah nyata dan bukan drama kecil-kecilan yang dibuat para hyung untuknya, tetap saja Changkyun butuh waktu untuk terbiasa dengan segalanya. Ini bukanlah hal yang sederhana karena kemarin dia masih mendapati Wonho sebagai hanya sebatas hyung yang tidak benar-benar akrab dengannya (bukan berarti mereka saling tidak suka, hanya tidak bisa menemukan topik setiap kali mereka ingin bicara). Dan, sekarang, Wonho tiba-tiba berubah menjadi suami yang sungguh baik dan senang sekali menempel-nempel padanya setiap kali mereka bicara. Perubahan yang benar-benar kontras.
.: Please, Remember Me :.
Shin Hoseok | Lim Changkyun
[ch. 2 of 2]
Story by iKyun
Monsta X belongs to Starship Entertaiment
.
warns: boys love, typo, ooc.
don't like? don't read.
Changkyun sepertinya sudah tenggelam dalam lamunannya sendiri terlalu lama. Sadar-sadar, dia telah selesai mencuci semua perlatan makan yang mereka gunakan. Wonho lantas mengajaknya berpindah ke ruangan utama rumah mereka. Itu adalah sebuah ruangan besar yang berisi beberapa sofa, televisi, hiasan-hiasan dinding yang elegan, dan rak buku kecil di sudut ruangan. Tempat itu benar-benar nyaman, Changkyun bisa duduk berjam-jam di sana sendirian tampa merasa bosan sedikit pun.
Wonho meminta Changkyun duduk di sofa selama dirinya berjalan ke rak buku dan kembali dengan membawa tumpukkan buku berukuran besar. Ketika Wonho ikut duduk di sebelah Changkyun, Changkyun langsung mengenali buku-buku itu sebagai album foto. "Yang satu ini yang tertua," Wonho membuka sebuah album foto, yang paling tebal di antara yang lainnya. "Tidak benar-benar tua, sih," katanya. "Foto ini diambil sekitar delapan tahun yang lalu."
Changkyun memerhatikan foto yang Wonho tunjukkan, itu adalah foto mereka berdua tersenyum di depan kamera seraya saling merangkul satu sama lain. Dari yang terlihat, sepertinya mereka sedang ada di sebuah kafe. Di atas meja, ada dua gelas americano; kopi favorit Changkyun. Di samping foto itu—Changkyun terkejut itu benar-benar tulisan tangannya—tertulis, 'Kencan pertama! Hahaha!' Rasanya aneh karena Changkyun tidak mengingat apapun tentang foto itu, tapi mereka tampak begitu bahagia di sana. "Kita benar-benar tampak bahagia, hyung," katanya. "Kau pasti menggelitik perutku dari bawah meja supaya aku bisa tersenyum lebar begitu," candanya.
"Kau yang paling semangat saat kita berangkat, tahu," Wonho mencibirnya, lalu tertawa. "Tapi, ya, aku juga sangat menantikannya. Jadwal kita sangat padat dan begitu sulit menemukan sejenak waktu untuk mengajakmu berkencan keluar."
Changkyun tersenyum, sesuatu yang hangat terasa menelusup ke dalam tubuhnya.
Kedua matanya berpindah ke halaman berikutnya, dia menemukan foto selfie yang diambil Minhyuk (karena kepala Minhyuk mendominasi hampir seluruh bagian foto). Di belakangnya, tampak anggota lain yang tersenyum lebar ke arah kamera. Meja tempat mereka berkumpul itu dipenuhi makanan, kue, dan kotak hadiah. Satu hal yang membuat Changkyun superkaget adalah Wonho tengah menciumnya di sudut ruangan; gambar itu terambil benar-benar jelas. "Hyung—!"
"Ya ...," Wonho menggaruk bagian belakang kepalanya. "Kau tahu, aku hanya menciummu, seperti biasa. Aku tidak tahu Minhyuk sedang mengambil foto, jadi ... begitu," katanya. "Tapi jangan khawatir, hanya aku yang menyimpan foto itu di sini. Minhyuk mengambil beberapa foto lain dan mengunggahnya ke internet."
"Kau menciumku di depan yang lain?" Kata cium itu benar-benar terasa aneh di lidah Changkyun. Pertanyaan yang dilontarkannya sendiri itu membuatnya malu.
"Tidak, biasanya tidak, meskipun mereka tahu apa yang kita lakukan jika hanya berdua saja," jelas Wonho. "Kau tahu, aku hanya ... terbawa suasana. Malam itu adalah ulang tahun Monsta X ke-enam. Aku sangat bahagia memiliki anggota lain, memilikmu. Kau tepat duduk di sebelahku ... jadi, aku melakukan itu."
Changkyun menunduk, dia menyayangkan begitu banyak hal yang dia lupakan. Momen-momen indah dan hangat bersama anggota lain pun sudah dia lupakan begitu saja. Rasanya menyakitkan.
Wonho membuka beberapa lembar berikutnya, beberapa foto masih menyangkut tentang malam perayaan ulang tahun Monsta X sebelumnya. Semua anggota tersenyum lebar dan Changkyun bisa melihat kebahagiaan yang terpancar di tatapan mata mereka. Itu pasti benar-benar menyenangkan.
Foto-foto lainnya lebih banyak tentang keseharian mereka di dorm, Changkyun jadi merindukan masa lalunya di dorm, meskipun itu rasanya hanya seperti kemarin baginya. Tapi dia tidak bisa kembali lagi ke masa itu.
Wonho mengambil buku album lainnya, satu itu ukurannya lebih kecil. "Foto-foto di dalam sini di ambil beberapa hari setelah Monsta X resmi tidak lagi melakukan kegiatan band-nya," katanya. "Semua anggota sepakat berlibur bersama ke Hongkong. Rasanya seperti mengulang acara Right Now, ya?"
"Aku baru saja akan bilang begitu, Hyung!" Changkyun tertawa. Dia bertanya-tanya keributan semacam apa yang mereka lalui untuk berakhir dengan satu keputusan pergi ke Hongkong, karena semua anggota pasti memiliki tempat lain yang ingin dikunjungi. Changkyun sendiri yakin dirinya lebih ingin pergi ke negara-negara di Eropa. Tapi ke mana pun itu, jika bersama keenam hyung -nya, dia akan merasa senang.
Dari foto ke foto, Wonho menceritakan semua kejadian-kejadian di baliknya. Sesekali hal itu mengundang tawa dari bibir Changkyun. Mulai dari kekalahan Jooheon dalam game yang membuatnya harus memakan dua buah tahu Hongkong yang baunya menyengat itu, sampai Hyungwon yang ketiduran di dalam bus dan tidak ada yang sadar sampai semua anggota turun dari bus dan menyadari ada salah seorang yang hilang.
"Kau mencoba bungee-jumping lagi, Hyung?" Changkyun tertawa geli, mengingat betapa payahnya Wonho menghadapi ketinggian.
"Aku bersumpah tidak mau lagi melakukannya semenjak Right Now," balas Wonho. "Aku bisa saja pingsan, tahu," katanya. "Tapi—! Kau ingat kencanmu dengan Shownu di Right Now?"
Changkyun tidak ingat detailnya apa saja yang mereka lakukan di acara itu, tapi dia ingat saat semua hyung membuatnya melakukan 'kencan' dengan Shownu karena menganggap mereka sebagai dua anggota yang paling canggung satu sama lain. Changkyun juga canggung dengan Wonho saat itu, tapi dia tidak memilih Wonho karena hyung-nya itu takut ketinggian, Wonho tidak bisa naik bianglala. "Aku ingat itu," Changkyun menyahut.
"Ya," Wonho mengangguk. "Kali ini ... kita yang naik."
"Serius?! Kau tidak apa-apa Hyung? Hyung yang lain yang menyuruhmu naik?" Changkyun terkejut.
Wonho tertawa, "Telapak tanganku terus berkeringat dingin selama di dalam gondola, tapi kau terus memegang tanganku," katanya. "Aku bahkan tidak berani melihat keluar jendela." Dia tersenyum, itu benar-benar tampan. "Itu ide Jooheon, sebenarnya."
"Mereka menganggap kita masih canggung?"
"Omong kosong, mereka bahkan tahu aku menciummu setiap malam sebelum tidur," tutur Wonho. "Kau mungkin lupa, tapi kau pernah bercanda dan mengatakan 'Shownu adalah pacarku sekarang dan pacarku selanjutnya adalah Wonho' setelah kencanmu dengan Shownu berakhir. Jooheon mengingat kata-kata itu dan itu lucu karena candaanmu ... benar-benar terjadi."
Ya, benar-benar terjadi, mereka bahkan sudah menikah sekarang. Changkyun bersumpah kata-kata itu hanyalah sebatas candaan semata dan dia tidak pernah menyangka beberapa tahun selanjutnya dia akan berakhir seperti ini.
Mereka berpindah ke buku-buku album foto berikutnya yang lebih banyak menceritakan tentang mereka berdua. Wonho menceritakan tentang bagaimana mereka memulai usaha kafe di pusat kota Seoul. Itu benar-benar tidak mudah, tapi Changkyun selalu menyemangatinya dan mengambil keputusan-keputusan besar yang membuat usaha mereka berkembang baik. Changkyun membayangkan rintangan semacam apa yang sudah mereka lalui hingga usaha kafe mereka menjadi seperti sekarang, itu pasti benar-benar perjalanan yang panjang.
Selanjutnya, Wonho menunjukkan foto-foto ketika mereka pertama kali berpindah ke rumah besar ini (sebelumnya mereka tinggal berpisah di apartemen masing-masing). Rumah itu sebenarnya adalah hadiah untuk Changkyun setelah Wonho menabung lama dari uang yang didapat dari usahanya. Sedangkan barang-barang seisi rumah adalah hasil bersama dari mereka berdua.
Terakhir, Wonho membuka sebuah album berukuran sedang yang bersampul putih. Dibandingkan dengan album lainnya, album foto itu memiliki sampul yang paling cantik dengan hiasan-hiasan permata palsu di beberapa tempat. Sedikit feminin sebenarnya, tapi tetap tampak keren untuk beberapa alasan. Sesuai dugaan, itu adalah album foto pernikahan mereka.
"Dulu, di setiap acara wawancara dengan Monsta X, aku selalu bilang bahwa aku tidak ingin menikah," Wonho membuka suaranya. "Aku tidak menganggap bahwa pernikahan itu penting," katanya. "Tapi ... pandangan itu bertahan sampai aku sadar bahwa aku belum pernah benar-benar jatuh cinta pada seseorang." Wonho menyatukan tatapan matanya dengan Changkyun, dia tersenyum hangat. "Sampai aku mulai mencintaimu."
Changkyun bergeming, wajahnya terasa memanas perlahan-lahan. Dia selalu tahu Wonho mudah sekali menyatakan apa yang dia pikirkan pada orang lain (terbalik dengan Changkyun yang lebih tertutup), tapi mendapatinya mengatakan itu di hadapan Changkyun seperti ini ternyata jauh lebih memalukan dari apa yang dia bayangkan.
Terus bertatapan dengan Wonho membuat dada Changkyun bergemuruh kencang, senyuman Wonho membuat hatinya merasa nyaman untuk beberapa alasan. Itu membuatnya merasa sangat menyesal sudah melupakan terlalu banyak hal, terutama hal-hal yang membuat mereka saling menyayangi seperti ini satu sama lain. Dia ingin sekali membalas perasaan Wonho sebesar itu. Tapi, di mata Changkyun, Wonho bukanlah orang yang memulai usaha kafe bersamanya dan membeli rumah untuknya. Wonho bukanlah orang yang menciumnya setiap malam sebelum tidur dan bercerita tentang banyak hal. Changkyun benar-benar ingin tahu seperti apa rasanya, tidak hanya sebatas mendengar cerita dan melihat foto-foto saja.
"Hei, hei," Wonho meraih bahu Changkyun, ekspresinya berubah khawatir. "Changkyunnie, sayang, kau menangis?"
Changkyun sendiri terkejut dengan apa yang dia dengar. Dia akhirnya sadar bahwa setetes air mata sudah jatuh menuruni pipinya. Changkyun menyeka air matanya, lalu tertawa kecil. "Aku benar-benar payah," katanya.
"Kau biasanya jarang sekali menangis," Wonho tersenyum tipis. "Lagi pula, seharusnya aku yang menangis sekarang. Aku harap kau bisa mengingatku seperti sebelumnya."
"Aku juga," Changkyun menunduk dalam. "Aku ingin mengingatmu, Hyung. Aku merasa seperti melewatkan sangat banyak hal, aku tidak mau seperti ini," katanya.
Wonho meraih sebelah tangan Changkyun, menaruhnya ke dadanya. Changkyun mengangkat kepalanya secara refleks, menyatukan tatapan mereka. "Jangan khawatir, kau akan segera ingat," katanya. "Jika tidak—" Wonho tersenyum, tapi dia tampak terluka. "Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, sekali lagi."
Wonho menarik Changkyun ke dalam pelukan hangat. Changkyun menenggelamkan wajahnya ke dada laki-laki di hadapannya, lalu perlahan-lahan mengangkat kedua tangan dan membalas pelukan Wonho untuknya.
.: ~ :.
Sisa hari itu berjalan normal dan tidak ada sesuatu yang benar-benar terjadi kecuali Wonho terpaksa meninggalkan Changkyun sebentar di sore hari untuk mengecek kafe mereka dan lalu makan malam yang berjalan menyenangkan. Changkyun yang membuat makan malam mereka selama Wonho pergi meskipun dia tahu itu tidak akan menjadi makan malam terenak yang pernah Wonho rasakan. Changkyun hanya ingin berterima kasih atas semua kebaikan Wonho seharian itu dan kesabarannya menghadapi Changkyun yang tidak mengingat apapun.
Setelah makan, Wonho sempat menceritakan mengenai anggota Monsta X yang lain dan keadaan mereka sekarang. Kihyun dan Jooheon masih bekerja di Starship sebagai penyanyi dan produser karena musik sudah seperti hidup bagi mereka. Shownu membangun usaha travel di Seoul, Minhyuk membuka toko kue, dan Hyungwon sering terlihat di majalah-majalah fashion belakangan ini.
Ketika Changkyun bertanya apakah ada anggota yang memiliki hubungan spesial seperti mereka berdua, Wonho tertawa kecil seraya menjawab, "Aku tidak tahu. Selama di Monsta X, kupikir Shownu dan Minhyuk itu mencurigakan, tapi kemudian Shownu tampak lebih dekat dengan Hyungwon, tapi Kihyun juga dekat dengannya. Jooheon juga dekat sekali dengan Minhyuk, jadi ... entahlah. Aku belum mendengar sesuatu seperti itu lebih lanjut. Kita tunggu undangan pernikahan saja dan lihat nama siapa yang tertera di atasnya," katanya. "Siapa tahu muncul pasangan yang mengejutkan."
Changkyun ikut tertawa dibuatnya.
Mereka kemudian berpindah ke kamar tidur setelah membereskan dapur. Kamar itu, kamar yang membuatnya terkejut setengah mati di pagi hari karena tiba-tiba terbangun di dimensi waktu lain. Hal yang terjadi padanya nyaris begitu lucu, tapi juga menyedihkan di saat yang bersamaan. Changkyun duduk di tepian ranjang tanpa ragu, tapi Wonho justru berdiri mematung seperti ragu mau melakukan sesuatu.
"Hyung?" Changkyun bertanya heran.
"Kau tahu, Changkyun," Wonho membuka suara. "Kau mungkin tidak terbiasa tidur bersamaku. Apalagi ... aku selalu tidur tanpa mengenakan atasan, jadi ... aku akan tidur di sofa saja."
"Tunggu—" Changkyun menahan tangannya tepat sebelum Wonho beranjak keluar dari pintu kamar. Dengan gerakan cepat, dia berjinjit sedikit dan mengecup bibir Wonho singkat. Changkyun tidak tahu apa yang dia pikirkan ketika melakukan itu dan kecupan itu terasa canggung baginya. Tapi, dia merasa lega setelah melakukannya. "Tidak apa-apa, Wonho-hyung, tidurlah di sebelahku." Changkyun tersenyum.
Wonho bergeming, perlu beberapa detik baginya untuk sadar ke dunia nyata setelah kecupan kecil Changkyun membuat pikirannya melayang beberapa saat lalu. "Uh ... serius, tidak apa-apa?"
Changkyun mengangguk, lalu tertawa kecil. "Tapi jika kau menyentuhku tiba-tiba saat aku tidur, aku mungkin akan terkejut dan menendangmu kuat-kuat, jadi jangan lakukan itu."
Wonho tertawa kecil, lalu mengikuti Changkyun kembali ke ranjang. Changkyun naik ke atas ranjang duluan, lalu menarik selimut. Wonho membuka kaos yang dikenakannya, menggantungnya di sembarang tempat, dan ikut naik ke atas ranjang. Changkyun memang bilang tidak apa-apa mereka tidur bersama, tapi pada prakteknya ternyata wajahnya terus memanas, terlebih karena Wonho tidak mengenakan piyama atasannya.
"Tidak usah malu begitu," Wonho tertawa geli melihat ekspresi Changkyun.
"Aku lupa ingatan, 'kan? Ini tidak mudah."
"Kau tetap seperti itu bahkan sebelum lupa ingatan."
"Serius?"
"Ya, kau selalu berekspresi seperti itu setiap kali aku membuka kaos," aku Wonho. "Padahal sudah ratusan kali kau melihatku telanjang tapi tetap saja malu—aww!" Wonho meringgis memegangi perutnya, Changkyun adalah pelaku yang mencubit perutnya kuat-kuat. "Changkyun, teganya kau," Wonho membuat ekpresi kesakitan yang berlebihan dan dibuat-buat.
"Ini salahmu Hyung, jangan mengatakan hal memalukan," Changkyun merajuk, dia membalikkan tubuh sehingga berbaring membelakangi Wonho. Wonho bisa melihat telinganya yang memerah dari belakang, itu lucu.
Wonho tersenyum seraya mengelus kepala Changkyun, lalu berbaring menyamankan dirinya dan menarik selimut untuk segera tidur. "Selamat malam, Changkyun-ah," katanya, sebelum akhirnya mematikan lampu kamar dan memejamkan mata.
Dalam kegelapan yang menyelimuti mereka, Changkyun berdoa bahwa besok semua kegilaan yang menerpanya akan segera berakhir.
.: ~ :.
"Changkyun, Changkyun-ah ..."
Dalam gelap matanya yang terpejam, Changkyun merasakan samar-samar suara seseorang yang sangat familier memanggilnya dari dekat. Beberapa detik, mulai terasa bahwa orang itu juga menepuk-nepuk pelan bahunya. Changkyun ingin membuka mata segera, tapi kepalanya terasa sedikit sakit dan pusing.
"Changkyunnie, bangun, ini sudah pagi."
Changkyun akhirnya tersadar sepenuhnya dan hal pertama yang menyapa penglihatannya adalah wajah Wonho yang sangat dekat.
Changkyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, semuanya sangat normal; ranjang tingkat kecilnya, kamar dorm yang dipenuhi barang-barang berantakkan, dan—tunggu—ke mana hyung yang lain?
Uh, dan, kepalanya sangat sakit. Melihat Wonho tepat di pagi hari ketika membuka mata juga membuat dadanya terasa berat, entah kenapa. Sepertinya semalam Changkyun memimpikan sesuatu tentang Wonho, mimpi yang cukup panjang dan penuh emosi. Sayangnya Changkyun nyaris tidak ingat apapun mengenainya.
"Hyung, ke mana yang lain?" Changkyun bertanya seraya menguap kecil.
"Minhyuk dan Hyungwon pemotretan, Jooheon dan Kihyun acara radio, Shownu-hyung punya jadwal shooting iklan," katanya. "Hanya kita yang tidak punya jadwal sekarang," dia tersenyum tipis. "Ayo turunlah dan kita buat sarapa—" kata-kata Wonho terpotong oleh batuk; Wonho terbatuk-batuk beberapa kali. Changkyun baru menyadari hidung hyung-nya itu memerah dan sepertinya flunya sudah cukup parah.
"Hyung, kau sedang sakit," Changkyun menatap khawatir.
"Aku baik-baik saja, sungguh."
"Tidak, kau tidak baik," Changkyun menuruni ranjang dan mendorong Wonho pelan, membawanya keluar dari kamar. "Tidur saja, hyung. Istirahat di kamarmu."
"Hei, aku baik-baik saja, sungguh—"
"Istirahat."
"Tidak, Changkyun. Aku hyung-mu, dengarkan aku—"
"Aku akan membuatkan ramyun kesukaan hyung."
Wonho bergeming sejenak, mudah sekali membuat Wonho tampak begitu senang. "Serius?"
Changkyun mengangguk yakin, "Jadi, istirahatlah. Aku akan membuat ramyun terenak, buatan Kihyun-hyung pun akan kalah dengan buatanku."
"Baiklah, baiklah," Wonho menjawab semangat, dia terbatuk sejenak. "Aku akan berbaring sekarang."
Changkyun mengangguk, Wonho segera beranjak pergi ke kamarnya. Sepeninggal hyung-nya, Changkyun mematung di depan pintu kamarnya dengan kikuk. Dia mengutuk dirinya sendiri karena dengan bodohnya begitu saja menjanjikan ramyun enak yang lebih baik dari buatan Kihyun. Kenyataannya, Changkyun sangat payah dalam memasak.
Uh, sepertinya Changkyun akan berakhir dengan membuat dapur dorm menjadi seperti bekas medan perang.
end.
[2/2]
halooo, kawaan!
pertama, saya mau berterima kasihhh sebesar-besarnya untuk reviewnya di chapter kemarin, seneeeeng bangetdeh! kira saya couple langka seperti ini tidak akan mendapat perhatian sama sekali wkwk sumpah saya terharu sekali atas support teman-teman :')
kedua, semoga ch 2 ini tidak mengecewakan :') masih ingat dengan kata-kata wonho di ch 1 bahwa dia jatuh cinta pada changkyun semenjak changkyun membuatkannya ramyun? hahaha jika ada yang masih bingung dengan jalan ceritanya, bisa langsung ditanyakan saja, ya. ehehe.
kritik dan sarannya silakan ke kotak review, kawaan~ terima kasih banyakkk
berikut ini balasan review untuk non-akun, yaa
Crazeh People aaa saya seneng banget, makasih! saya juga suka banget jookyun, hyungkyun, showkyun—semuanya, well, semua couple yg ada changkyun lol sayangnya emang jarang ff nya haha. ini lanjutannya, semoga tidak mengecewakan ;) sekali lagi, terima kasih banyaak.
(sekian, review yang pakai akun dibalas di PM yaaa. terima kasih. /bow/)
