Cast : GS!Min Yoongi. Park Jimin. Kim Taehyung. Kim Namjoon. Jung Hoseok.

Rate : M for harsh-word. Violent scene. Emm Sexual content.

Warning!

Cerita ini (lagi-lagi) remake. Kali ini Karya Terri Anne Browning. Novel Terjemahan yang sudah lama terkenal sekali ,salah satu best-selling. Disini Yoongi lebih muda 10tahun dari pada cast lainnya dan tentu saja GS yaa. Setting dan Nama cast ku rubah sesuai kebutuhan remake wkwk but alur tetap seperti apa adanya novel ini dibuat dan BIG WARNIG! Disini bener-bener dengan kehidupan liberal (minuman keras-one night stand-kalimat profokatif) ,so yang gak suka membayangkan member Bangtan jadi so-liberal ,get ur ass off babe!

Jadi ,pengen hidup bersama member Bangtan versi Rocker dan Band ? here we go~~

Bab 1

Aku membuka mata begitu bus berhenti. Sambil meringis, aku mendorong diri untuk bangun dari sofa dan melihat sekilas keluar. Bus wisata terparkir di parkiran sebuah hotel. Bus lainnya penuh dengan para kru dan dua trailer beroda delapan belas di tarik dibelakangnya, penuh dengan segala perlengkapan panggung dan band. Aku ingin mandi dan tidur sepanjang malam yang benar-benar penuh, tapi aku masih punya banyak hal yang harus dilakukan.

Berdiri, aku berjalan menuju bagian belakang bus untuk membangunkan yang lain. Hoseok tengkurap di tempat tidur paling bawah. Dia memegang sebotol *Jack Daniel's di tangannya, setengah botolnya telah kosong. Di atasnya Namjoon sedang mendengkur, bassnya di dekap erat ke dadanya. Di sisi lain Taehyung sedang mengigau, bergumam tentang beberapa "pengacau"

Sambil mendesah, aku mengguncang bahunya terlebih dahulu. "Tae" aku harus mendekat ke telinganya dan meneriakkan namanya. Mereka semua tukang tidur yang parah, tapi Taehyunglah yang terparah. "Tae! Ayolah, mari kita pergi tidur di tempat tidur yang sebenarnya."‖

Taehyung menguap kemudian membuka matanya. "Yoon?"

Aku menyeringai ke arahnya. "Siapa lagi?" aku mencium pipinya dan menarik lengannya. "Bangunlah, kita sudah sampai." Ketika dia sudah duduk, aku pindah ke Namjoon. Yang harus aku lakukan hanyalah mengambil bassnya. Dia mengencangkan tangannya di sekitar bassnya dan bangun. "Aku sudah bangun"‖ gerutunya.

"Hoseoki" Aku mengambil botol Jack Daniel's dari tangannya dan menutupnya kembali. Punggungnya telanjang dan tato Bangtan sepanjang punggungnya itu menekuk saat aku membangunkannya. "Ugh, kau benar-benar harus mandi."

Aku hampir muntah mencium bau minuman keras di napasnya saat dia berbalik dan menarikku ke arahnya. "Bangun kau, Pemabuk."‖

Dia mencium pipiku sebelum dia melepaskanku dan aku berdiri, bergerak maju menuju akhir bus. "Kalian semua segera berpakaian. Setelah aku membangunkan Jimin, aku akan mengurus masalah kamar kita... Jangan kembali tidur, Taehyung!"‖ aku memperingatkannya.

Mengetahui dia akan melakukannya. "Aku punya seember air es untukmu jika kau melakukannya."

Dia menggumam mengutukku, tapi aku hanya menyeringai. Televisi menyala. Aku mematikannya dan menjatuhkan diri di sofa di samping Jimin. Dia tidak memakai apa - apa kecuali celana boxernya. Aku tidak berhenti untuk mengerlingkan mataku pada dadanya yang keras dan perutnya yang kencang. Aku sudah melakukannya berulang kali sebelumnya. Malahan aku membungkam mulutnya dan mencubit hidungnya. butuh beberapa detik saat sebelum dia tersentak dan

mendorongku jatuh.

"Sialan!"

Dia menggerutu tapi membantuku untuk bangun dari tempat aku terjatuh. Aku berdiri sambil tertawa dan meraih kaus Bangtannya.

"Apakah tidurmu nyenyak?"

"Aku baru saja tertidur beberapa jam lalu" dia mengambil kaus yang aku berikan padanya dan memakainya. "Banyak hal yang aku pikirkan. Lagu-agu yang ingin keluar tapi terkunci di otakku."

"Aku bermimpi"curhatku.

Dia menegang, mengetahui bahwa mimpi-mimpiku tidak pernah menyenangkan. "Kau baik-baik saja?" tanyanya sembari meraih tanganku dan menarikku ke pangkuannya. "Mau membicarakannya?"

Menenangkanku, dia menyisir rambutku dengan jari- jarinya. Aku memejamkan mata dan mengubur wajahku di lehernya. Oh Tuhan, dia begitu harum! "Seperti biasa, kalian semua menjagaku. Itu salah satu dari sekian banyak mimpi ketika Ibuku mencambukku."

Lengannya yang keras memelukku dengan erat. Jari-jarinya mengencang di ikatan rambutku, tapi aku tak protes. "Aku benci wanita sialan itu" ucapnya. "Semoga dia membusuk di neraka sana."

Aku sangat setuju. Ibuku meninggal 6 tahun yang silam akibat overdosis obat-obatan terlarang. Untuk berkata aku merasakan kasihan rasanya merupakan pernyataan yang berlebihan. Semua yang aku rasakan ketika aku menemukan tubuh dinginya terbujur kaku saat aku pulang dari sekolah hari itu hanyalah kelegaan yang sangat luar biasa. Aku 15 tahun dan aku bebas dari penyakit yaitu Ibuku.

"Aku butuh kopi" Jimin berdiri dengan aku masih dalam pelukannya.

Aku memeluknya dengan erat untuk beberapa detik kemudian melepaskannya.

"Aku pastikan kau akan mendapatkannya" aku berbicara dari balik bahuku saat aku melangkah menuju bagian depan bus.

"Itu bukan tugasmu untuk mendapatkannya!" Dia berteriak kepadaku.

Tapi memang iya. Sepanjang hidupku, Jimin dan lainnya telah merawatku. Bahkan ketika mereka harus meninggalkanku setelah mendapatkan tawaran kontrak sepuluh tahun silam, mereka masih memperhatikanku. Mengirimkan aku uang dan hadiah-hadiah. Memastikan seseorang mengecekku setiap hari. Mereka tengah mengadakan tour, melakukan apa yang harus dilakukan oleh para rocker, tetapi mereka tetap menelponku setiap hari. Ponsel yang mereka berikan padaku adalah satu-satunya penghubungku ke mereka. Aku bisa menelpon, mengirim pesan singkat, mengirim e-mail atau apapun yang aku inginkan atau butuhkan, sehingga aku bisa berbicara dengan mereka setiap hari.

Kemudian ketika Ibuku meninggal, mereka kembali, meninggalkan segalanya segera setelah aku menelpon Jimin. Mereka mengurus pemakaman. Dan disaat petugas Dinas Sosial datang mencoba membawaku, mereka membelaku dengan mengatakan bahwa aku adalah bagian dari mereka. Mereka membawaku jauh dari kehidupan gelap trailer dimana selama ini kami dibesarkan. Mereka membelikanku laptop, mengatur agar aku mengikuti kelas online sehingga aku bisa menyelesaikan pendidikanku dari balik bus.

Para priaku takkan pernah meninggalkanku lagi. Dan aku berhutang pada mereka untuk selalu merawatku. Menjemputku, memulihkanku. Menjaga kewarasanku. Memberiku makan. Memberiku pakaian. Menyayangiku. Tidak semua orang bisa melakukannya. Tapi Jimin, Hoseok, Namjoon dan Taehyung berbeda. Mereka mengenalku sejak aku berumur 5 tahun. Membawaku di bawah sayap-sayap gelap mereka, melindungiku meskipun mereka 10 tahun di atasku. Mereka adalah

keluargaku dan kini adalah saatnya aku untuk merawat mereka.

Jadi aku mengurus semuanya. Mereka ingin kopi, aku bawakan mereka kopi. Jika Hoseok ingin sekotak Scotch berumur 50 tahun yang baru, yang sangat mustahil untuk di dapat, aku pastikan dia akan mendapatkannya. Aku mengurus semuanya, dari pemesanan kamar hingga perempuan. Yeah, aku telah menjadi seorang profesional yang mampu menyingkirkan wanita-wanita manapun yang telah lewat

masa keberadaannya. Dan itu biasanya terjadi di pagi hari berikutnya.

Dua jam kemudian, aku telah mengatur mereka berempat masing-masing di kamarnya. Aku menghabiskan waktu lebih lama di kamar Hoseok, untuk memastikan dia mandi dan menggosok giginya. Memberikannya sepasang pakaian bersih dan menyuruhnya tidur. Ketika aku menuju kamarku, aku merasa melayang. Aku mandi dengan cepat dan hampir terlelap sebelum kepalaku menyentuh bantal.

.

.

.

"Yoon!" Taehyung menggedor pintu kamarku membangunkanku beberapa jam kemudian. Aku menatap jam, melihat bahwa sudah saatnya menuju Seoul Center untuk mempersiapkan konser malam ini dan bangun dari tempat tidur. Aku membuka pintu untuk Taehyung supaya dia tidak merubuhkannya. Dia berjalan masuk saat aku mengganti baju tidurku.

"Kau baik- baik saja, Yoongi?" tanyanya bahkan tidak pusing untuk mengalihkan pandangannya saat aku memakai bra dan memasang kaus Bangtan dari atas kepalaku. "Kau tidak pernah lewat tertidur sebelumnya."

Kenyataannya aku merasa tidak enak badan untuk akhir-akhir ini. Tapi, aku tak berniat untuk memberitahukannya. Dia akan memberitahu ke yang lain dan mereka akan mengerumuniku, memaksaku untuk pergi ke dokter. Aku benci dokter! "Baru saja mengalami malam yang sulit kemarin."‖Elakku. "Mimpi buruk."

Aku menarik celana dalam baru dan kemudian memasang celana jins ketat. Sepatu bot selutut dengan hak 3 inci dan aku siap. Aku mengikat rambut berantakanku menjadi ekor kuda. Tidak perlu berdandan, lalu berputar dengan dia masih menatapku. "Aku baik-baik saja, Tae."

Aku memeluknya erat dan berjinjit untuk mencium pipinya. "Tenanglah."

Aku menarik satu tanganku ke atas dan mengusap kepalanya dengan rambut yang berwarna pirang. Itu sangat seksi dan semua orang sangat ingin mengusap kepalanya. Tetapi dia hanya menyukainya jika aku yang melakukannya.

"Aku pikir kita perlu sebuah liburan" ujarnya saat mengikutiku keluar dari kamar. "Mungkin kita harus kembali ke rumah untuk beberapa saat." Aku meliriknya melalui bahuku saat aku memencet tombol lift.

"Dan dimana tepatnya rumah itu? Kita tinggal di bus selama 6 tahun ini."

"Jimin berbicara tentang membeli rumah. Tapi kita tidak bisa memutuskan dimana kita akan menetap. Hoseok menyarankan di Busan, Namjoon ingin ke Jeju."‖ Dia mengangkat bahunya sambil melangkah masuk bersamaku ke dalam lift.

"Bagaimana menurutmu?"

Sejujurnya, aku tak tahu apa yang aku pikirkan. Aku akan mengikuti kemanapun mereka pergi asalkan kami tetap bersama. Aku tidak perduli. Tapi aku tidak menyangka mereka akan secepat ini menetap, bahkan di saat kita telah lelah untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain. "Aku tak pernah memikirkannya" ucapku padanya.

"Well, kau harus memikirkannya. Kami ingin tahu dimana kau ingin tinggal dan menetap. Kau tahu kemanapun kau pergi, kami akan mengikutimu."

Kata-katanya menghangatkan hatiku dan aku memeluknya erat. Dia mencium puncak kepalaku dan kami keluar dari lift di lantai dasar. Jimin, Hoseok, dan Namjoon sudah menunggu kami. Mereka semua memberiku tatapan khwatir, tapi aku hanya melewati mereka menuju ke limo yang sudah menunggu di luar.

TBC

Note :

*Jenis minuman keras

Banyak yang bilang gak ngeh sama ceritanya ,apa aku terlalu gagal menjelaskan alurnya ? tapi emang kalian harus baca ini secara keseluruhan baru nangkep sihhh. Ini salah satu novel keren yang aku suka dan sangat saying kalo gak di remake jadi ff bangtan wkwk

So, review ?