Cast : GS!Min Yoongi. Park Jimin. Kim Taehyung. Kim Namjoon. Jung Hoseok.

Rate : M for harsh-word. Violent scene. Emm Sexual content.

Warning!

Cerita ini (lagi-lagi) remake. Kali ini Karya Terri Anne Browning. Novel Terjemahan yang sudah lama terkenal sekali ,salah satu best-selling. Disini Yoongi lebih muda 10tahun dari pada cast lainnya dan tentu saja GS yaa. Setting dan Nama cast ku rubah sesuai kebutuhan remake wkwk but alur tetap seperti apa adanya novel ini dibuat dan BIG WARNIG! Disini bener-bener dengan kehidupan liberal (minuman keras-one night stand-kalimat profokatif) ,so yang gak suka membayangkan member Bangtan jadi so-liberal ,get ur ass off babe!

Jadi ,pengen hidup bersama member Bangtan versi Rocker dan Band ? here we go~~

Bab 3

Aku tidak pernah menjadi penyuka muntah. Aku telah membersihkan lebih banyak muntahan orang lain daripada diriku sendiri selama bertahun-tahun. Sebagian besar muntahan ibuku, dalam beberapa tahun terakhir ini para priaku – terutama Hoseok. Tapi aku sendiri? Aku hanya melakukannya beberapa kali seumur hidupku.

Pagi ini adalah salah satunya.

Aku tahu bahwa aku takkan bisa menahannya secepat mungkin saat aku turun dari tempat tidur. Perutku memberiku peringatan dua detik sebelum aku mencoba untuk melompat dari tempat tidur. Aku melakukannya di ujung tempat tidur sebelum aku membersihkan semua sedikit makanan yang aku paksakan untuk ditelan sehari sebelumnya. Baunya sangat tidak mengenakan daripada melihatnya.

Secepatnya ketika aku bisa sedikit menguasai refleks mualku aku berlari ke dalam toilet sehingga aku bisa menyelesaikannya. Rambutku menghalangi pandanganku dan aku memuntahi rambutku juga sebelum aku bisa menyingkirkannya dari wajahku. Baunya membuatku mual dan aku muntah sampai aku kehabisan nafas. Air mata bercucuran di wajahku, alisku berkeringat dan perutku terasa bergulung.

Aku berdoa kepada setiap Tuhan yang kuketahui dan memohon ampun. Tidak ada yang terjadi. Bahkan aku harus memaksa diriku untuk berdiri sendiri pada kakiku yang goyah dan memegang mulutku dibawah kran air sampai aku bisa menghilangkan sebagian besar rasa pahit di dalam mulutku. Aku ingin mandi tetapi pertama aku harus membersihkan kekacauan di kamar tidur sebelum aku melakukannya.

Ketika akhirnya aku mandi aku merasa lebih baik setelahnya. Tetapi aku terlambat sehingga tetap membiarkan rambutku basah dan tergesa-gesa berpakaian sebelum membangunkan para priaku.

Aku tidak terkejut ketika menemukan Namjoon masih diselimuti gadis-gadis ketika aku membuka pintu kamar hotelnya. Aroma seks didalam ruangan sangat kental membuat perutku protes, tetapi aku menelan rasa pahit di mulutku dan menyeretnya keluar dari bawah ketiga gadis. Tanganku mengepal di rambutnya dan aku menyentakknya sampai ia berdiri.

"Cepat mandi!" perintahku, sedang tidak ingin berurusan dengan para gadis nakal setelah mengalami pagi seperti tadi. "Aku memberikan ceramah pada adikmu tentang hal ini, tetapi ternyata kau yang harus aku urus pagi ini.‖

"Yoongi!" Namjoon protes ketika aku memaksanya berjalan pancuran air berdiri dan memutar air dingin dengan kekuatan penuh. "sialan!"

"Turun ke lantai bawah dalam sepuluh menit!"

Aku berteriak padanya sebelum membanting pintu kamar mandi di belakangku. Para jalang itu di tempat tidur terbangun dan aku membelalak jijik pada mereka. "Ambil baju kalian dan keluar. Kalian mempunyai waktu dua menit sebelum keamanan melemparkanmu keluar, berpakaian atau telanjang. Aku tidak perduli."

Taehyung masih tidur ketika aku berjalan ke dalam kamarnya. Aroma seks masih tertinggal di dalam kamar tetapi dia sendirian di tempat tidur. Aku bahkan tidak mencoba membangunkannya dengan lembut. Aku mengisi air ke dalam gelas dan membuangnya ke kepalanya. "Aku bangun. Aku bangun." Dia megap-megap.

"Bagus." Aku membentak lalu meninggalkannya untuk bersiap.

Aku terkejut menemukan Jimin sudah bangun. Ketika aku meletakkan kunciku di pintunya ternyata sudah terbuka. Dia sudah berpakaian. Rambutnya tebal sudah tertata. Seperti biasa melihatnya aku merasakan sakit di tempat yang tidak seharusnya sakit. Dahinya berkerut khawatir saat melihatku.‖

"Yoongi. Merasa lebih baik, baby girl?"

Berlari kesana kemari membuatku pusing dan perutku masih protes. Tetapi aku tidak ingin berdebat dengannya. Jika dia tahu aku sakit dia akan memaksaku untuk pergi ke dokter. Tidak akan terjadi.

"Terimakasih sudah bangun." Gumamku.

"Yoong..."‖ Dia memanggil pelan ketika aku meninggalkannya.

Aku mengabaikannya dan melangkah ke lift dan pergi ke lantai atas. Kamar Hoseok berbau keringat, minuman keras dan seks. Tapi untungnya gadis atau beberapa gadis mengingat jumlah bungkus kondom di atas lantai di samping tempat tidur lenyap. Dia sepertinya sudah bangun ketika aku masuk ke dalam. Tentu saja karena kepalanya ada di dalam toilet. Suara muntahannya membuat reflek muntahku bereaksi dan aku muntah ke dalam wastafel. Cairan pahit hijau adalah semua yang dapat kuhasilkan dan aku memutar keran air sehingga aku dapat menelan beberapa tegukan air. Setidaknya sekarang aku mempunyai sesuatu untuk di keluarkan.

Tangan Hoseok yang berkeringat menyentuh punggungku. "Yoong?" Suaranya parau memanggil namaku dan aku melihat sekilas kepadanya, menyeka keringat dari atas bibirku. "Kau tidak apa-apa?"

Aku memberinya senyum lemah. "Sepertinya kita berdua mengalami pagi yang buruk." Gumamku.

Dia mengerang saat berdiri. Pantatnya telanjang tapi tak ada satupun dari kami perduli. Aku telah melihat setiap inci dari tubuh para priaku. Tidak ada yang memalukan dari bagian tubuh kami.… Tidak ada satupun yang mengedipkan mata ketika kami melihat satu sama lain telanjang. Oke mungkin aku mengedipkan mata sekali atau dua ketika aku melihat Jimin telanjang, tapi aku tidak akan membiarkan mereka tahu.

"Kau tidak pernah sakit."

Aku mengangkat bahu. "Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatikan. Pergi mandi, oke?" Dia mengangguk dan aku berbalik pergi.

"Sikat gigimu" Aku mengingatkannya.

.

.

.

Sepuluh menit kemudian mereka telah duduk di sofa panjang di ruang pertemuan. Hidangan makanan pagi telah disiapkan. Aku mencoba bernafas melalui mulutku untuk mengatasi aroma yang tidak mengenakan. Biasanya aku akan menyiapkan sepiring makanan dan secangkir kopi, tetapi pagi ini aku rasa aku tidak bisa berurusan dengan itu dan tidak muntah. Untungnya tidak ada satupun dari mereka perduli bahwa aku tidak menyiapkan segala kebutuhan mereka.

Wartawan dari majalah Rock Korean telah mulai mengajukan pertanyaan pada mereka. Kurus dengan kacamata tebal dan suara sengau membuatku saraf bawahku merinding mendengar setiap perkataan yang diucapkan dari mulutnya, aku heran bagaimana laki-laki seperti ini bisa menjadi wartawan di dunia musik rock. Mungkin mempunyai seseorang ayah orang penting. Aku tidak yakin dan aku

tidak perduli.

Dia seseorang yang ingin mengetahui apa yang juga ingin diketahui semua fans Bangtan. Bagaimana mereka bertemu? Apa makna signifikan dari nama band? Apa yang mereka lakukan saat musim panas? Kapan mereka akan membuat album baru?

Seperti yang selalu mereka lakukan mereka tidak pernah menjawab dua pertanyaan pertama dari orang tersebut-tidak ada yang tahu dari mana mereka berasal atau bagaimana kehidupan mereka sebelum terkenal; kebanyakan merupakan bentuk perlindungan mereka padaku karena gaya hidup ibuku yang tidak menyenangkan walaupun kehidupan masa kecil mereka juga tidak begitu bahagia. Tetapi mereka selalu menceritakan secara detil tentang musim panas dan lagu-lagu baru yang Jimin sedang kerjakan untuk album mereka selanjutnya.

Sejam kemudian lelaki itu berdiri dan pergi. Setelah berjabat tangan dengan semua orang dia berbalik padaku. "Jadi bagaimana rasanya kamu bekerja untuk Bangtan?"

"Yoongi bukan pembantu." Taehyung memberitahu pria itu, yang mana kami semua sudah tahu bahwa pria itu sudah mengetahuinya. "Wawancaramu telah selesai."

Nada peringatan tegas dan jelas dari suara sang drumer dan membuat wartawan itu segera kabur. Taehyung bisa mejadi si 'kepala panas', mudah marah dalam satu waktu dan cepat melayangkan sebuah tinju. Aku harus menjamin dia untuk keluar beberapa kali dari penjara karena ia terlibat perkelahian.

Aku menunggu beberapa saat untuk memastikan pria itu pergi sebelum aku berhadapan dengan mereka.

"Aku ingin meminta maaf karena bersikap mengesalkan kemarin dan pagi ini."

Aku mengatakan pada mereka, penuh penyesalan. Aku tidak sering bersikap mengesalkan pada para priaku. Sejujurnya aku bisa menjadi seorang ratu jahat jika aku mau, tetapi bukan pada mereka.

"Duduk, Yoongi." Taehyung memerintahkan padaku. Ketika aku hanya berdiri, dia menarik tanganku dan mendorongku ke sofa diantara dia dan Jimin. "Kita perlu bicara."

Aku menggigit bibirku, takut jika mereka membuatku pergi ke dokter. Atau berteriak padaku. Dari kedua pilihan aku pikir aku memilih diteriaki, tapi keduanya tetap akan membuatku menangis. Tangan Jimin membungkus disekitar pundakku, jarinya bermain di ujung rambutku yang masih basah. Ini menenangkan dan hanya dengan berada didekatnya membuatku aman dan dicintai.

"Yoongi, kami bisa melihat jika kau mulai lelah. Ini tidak apa-apa. Kita semua seperti itu. Itu sebabnya kami memutuskan berlibur di musim panas."

"―Aku sudah tahu bahwa kau merencanakan liburan musim panas ini."‖Aku memutar mataku padanya. "―Rich menelponku kemarin malam."

Aku mengatakan padanya ketika ia terlihat bingung. "―Kita akan tur bersama Chanyeol dan tur HYYH dimulai bulan September."

"―Jack sialan." Tae bergumam. "―Kami ingin mengejutkanmu."

"―Ngomong-ngomong...Kami berfikir untung menyewa sebuah rumah di suatu tempat. Tetapi kami pikir kau yang ingin memilihnya."

Jimin tersenyum padaku, senyumnya selalu membuatku hatiku nyeri untuk sesuatu yang tidak mungkin aku miliki. "―Dimanapun di dunia ini yang kamu inginkan, Yoongi-ya. Pilih sebuah tempat, temukan sebuah rumah untuk kita dan dimana kami bisa menghabiskan musim panas kita."

Daguku bergetar. Aku lega mereka tidak berteriak, bahwa aku tidak dikhianati Hoseok mengadukan keadaanku tadi pada yang lain dan mereka tidak memaksaku untuk pergi ke dokter. Jadi kenapa tiba-tiba aku terisak-isak?

TBC

NOTE : Hallo aku sudah berusaha keras untuk update ditengah sawah ni :( so, review yg banyak yaaa. See next time, (hope) really soon.