Cast : GS!Min Yoongi. Park Jimin. Kim Taehyung. Kim Namjoon. Jung Hoseok.
Rate : M for harsh-word. Violent scene. Emm Sexual content.
Warning!
Cerita ini (lagi-lagi) remake. Kali ini Karya Terri Anne Browning. Novel Terjemahan yang sudah lama terkenal sekali ,salah satu best-selling. Disini Yoongi lebih muda 10tahun dari pada cast lainnya dan tentu saja GS yaa. Setting dan Nama cast ku rubah sesuai kebutuhan remake wkwk but alur tetap seperti apa adanya novel ini dibuat dan BIG WARNIG! Disini bener-bener dengan kehidupan liberal (minuman keras-one night stand-kalimat profokatif) ,so yang gak suka membayangkan member Bangtan jadi so-liberal ,get ur ass off babe!
Jadi ,pengen hidup bersama member Bangtan versi Rocker dan Band ? here we go~~
Bab 5
Malam ini adalah konser terakhir. Aku sudah tidak sabar untuk mengakhirinya. Aku merasa sangat sakit dan hari ini aku telah menjadi jalang terbesar dengan perubahan suasana hati yang hamper mendekati pengidap kepribadian ganda. Setelah melihat semua gejalanya aku yakin bahwa aku mempunyai kanker otak. Hal itu hanya menambahkan kecemasanku yang bergolak.
Para priaku semua keluar di panggung dengan lampu-lampu yang memantul dan berkedip seirama dengan hentakan musik. Penonton masih menggila. Saat pembukaan konser Jimin berjanji pada mereka satu lagu baru yang dia kerjakan. Salah satu janjinya adalah lagu itu ada di dalam album mereka selanjutnya. Itu mengejutkanku setengah mati dan para priaku yang lain, tentu saja. Aku yakin bahwa jika Jackson ada disini dia akan mendapatkan serangan jantung...Tetapi aku tidak masalah jika hal itu terjadi.
Aku berdiri dari jarak yang aman di atas panggung, menyiksa diri dengan melihat para gadis melemparkan celana dan bra mereka ke Jimin. Dia menangani semua itu seperti biasanya, dengan senyuman dan melihat dengan tatapan menggoda ke penonton. Aku hanya ingin malam ini cepat berakhir!
Seseorang menabrak bahunya kepadaku dan aku berbalik untuk memeloti orang tersebut, bersiap untuk menggigit kepala mereka dan memasukkannya ke dalam tenggorokannya sendiri. Kemudian aku melihat siapa orang itu aku memutar mataku.
"Hei. Apa yang kau lakukan disini?"‖Park Chanyeol mengangkat bahunya yang ramping. Aku perhatikan dia punya tato baru, di bagian dalam tangan kirinya. Aku hampir tersedak ketika aku melihat apa yang tertulis. Baek.
"Jadi kalian berdua telah resmi?" Aku menganggukan kepalaku ke pergelangan tangannya dan dia mengangkat bahu.
"Masih berusaha." Dia memberitahuku. Dia tahu aku bukan penggemar berat Byun Baekhyun. Benar-benar membenci jalang itu. Nona sok alim. Dia juga sangat tidak menyukaiku. Namjoon bilang itu karena kami sangat mirip. Aku berfikir itu karena jalang tersebut telah tidur dengan Jimin saat kami sedang tur di Australia dan kemudian dengan bangga dia memberitahuku tentang hal itu. Tentu saja itu sudah lebih dari setahun yang lalu dan dia sudah bersama Chanyeol sekarang. Setidaknya mereka putus dan sambung lagi.
"Aku kebetulan berada di daerah sini." Chanyeol akhirnya menjawab pertanyaanku di awal. "Sebenarnya aku merasa bosan sekali di Busan dan berfikir aku ingin melihat kekacauan macam apa yang aku bisa lakukan bersama dengan teman-teman tololmu.‖
"Dengan segala cara, masuklah ke dalam semua masalah sesuai dengan hasrat hati kecilmu. Tetapi kami memiliki jadwal tiket pesawat penerbangan pertama di pagi hari. Membuat aku terlambat untuk liburanku dan mereka akan menggores isi perutmu dari trotoar."
‖
Tangannya memeluk pinggangku dan aku bersandar kepadanya. "Ah, ayolah cantik. Kau tahu kau ingin menyebabkan beberapa masalah denganku.‖ Dia menggosok hidungnya dengan hidungku membuatku terkikik. "Kau menyukaiku. Akui saja."
Aku mendengus. "Aku membencimu."
Tetapi aku harus mengakui bahwa walaupun perasaanku untuk Jimin, Park Chanyeol bisa membuatku terengah-engah. Jadi aku membiarkan Chanyeol menciumku. Dia beraroma mint dan sedikit kopi. Bibirku tergelitik dan aku membuka mulutku sedikit untuk membiarkannya mencicipi rasaku. Aku tidak bisa jujur mengatakan bahwa aku tidak terpengaruh, tapi aku tidak terburu-buru untuk mendapatkan dia telanjang. Ketika dia melangkah mundur sedikit aku mendesah.
"Okey, jadi aku tidak kebal."
Tetapi aku meragukan setiap wanita dengan libido yang masih bekerja juga akan kebal.
Dia terkekeh dan melepaskanku. "Tur bersamamu akan menjadi sangat menyenangkan."
Aku meringis. "Apakah jalang troll itu juga ikut?"
"Kemungkinan besar. Tergantung pada bagaimana keadaan dia dengan keluarganya. Kyungsoo mengalami masa yang sulit sekarang."
Hatiku sedikit miris memikirkan sepupu Baekhyun, Kyungsoo. Perempuan itu telah melalui banyak hal selama setahun atau lebih. Dia telah mengalami kecelakaan mobil yang hampir menghancurkannya. Tetapi dia sangat kuat. Dia berjuang untuk bisa berjalan kembali. Kemudian melewati cobaan yang sangat besar dengan pacarnya, yang mana tabloid-tabloid menggila karena Kim Kai dan masa lalunya hubungannya dengan istri adiknya.
"Bagaimana dia?" tanyaku, karena sementara aku membenci Baekhyun, aku bisa akrab dengan Kyungsoo saat aku bertemu dengannya beberapa kali.
"Dia hamil."
Mengatakan bahwa aku terkejut adalah sebuah pernyataan meremehkan. Setelah kecelakaan dokter mengatakan bahwa Kyungsoo tidak akan pernah memiliki bayi.
"Bagaimana itu mungkin terjadi?"
Chanyeol mengangkat bahu. "Aku tidak benar-benar Baek mengatakan bahwa mereka melakukan USG dan sepertinya mereka hanya mengambil sebagian dari bisa membayangkan betapa bahagia dan tertekannya gadis itu. Dokternya menyuruhnya istirahat total karena dia mulai sedikit pendarahan pekan lalu. Baek tidak ingin meninggalkannya."
"Sampaikan salamku padanya. Aku sangat senang untuknya."
Di atas panggung kerumunan penonton di bawah hening dan aku berpaling untuk menemukan Jimin sedang duduk di atas bangku. Hoseok menarik satu kursi juga dan mengeluarkan gitar akustiknya.
"Oke. Seperti yang dijanjikan lagu ini aku telah bekerja keras untuk lagu ini selama beberapa minggu. Semoga kalian menyukainya."
Apakah hanya perasaanku atau dia terlihat sedikit gugup? Meskipun pikiran itu gila. Jimin telah menyanyikan lagunya sendiri sejak album kedua Bangtan saat dia telah menulis setiap lagu dan mendapatkan platinum dalam waktu kurang dari seminggu. Perusahan rekaman telah memberikannya kekuasaan penuh saat itu.
Tidak ada alasan baginya untuk gugup tentang lagu-lagunya Bangtan tidak dikenal karena lagu-lagu cintanya. Bukan mengatakan bahwa beberapa hits mereka bukan tentang cinta, tetapi biasanya lagu-lagu tersebut lebih tentang seks daripada cinta sejati. Jadi kau tidak bisa mengerti bagaimana terkejutnya aku saat Jimin mulai bernyanyi.
Aku pikir hatiku akan hancur. Jimin menulis lagunya dari pengalaman. Ada banyak masa kecilnya di dalam lagunya. Masa kecil dia, para priaku, dan juga aku. Musiknya selalu dekat dengan kami semua. Kegelapan, penderitaan, obat-obatan dan bahkan pemukulan.
Tetapi saat Jimin bernyanyi tentang bagaimana hatinya telah dingin untuk waktu yang lama, tetapi sekarang ada sebuah bara membakar disana menangkap api, membawa dia kembali ke kehidupan aku pikir aku akan mati.
Jimin sedang jatuh cinta? Aku tidak berpikir aku bisa mengatasinya. Tidak. Tidak, aku tahu bahwa aku tidak bisa mengatasinya. Jimin bisa berbuat apa saja yang dia inginkan. Jimin bisa melakukan semua kencan satu malam, seks tanpa bermakna dengan siapapun. Aku bisa menghadapi itu...Okey, jadi aku berusaha dengan sekuat tenaga menahan diri untuk mencoba berurusan dengan itu.
Tetapi jika Jimin sedang jatuh cinta itu akan menghancurkanku. Aku tidak dapat menghadapi dia dengan seseorang jalang sepanjang waktu. Dan mengetahui bahwa hatinya milik jalang itu?
Aku limbung. Lengan Chanyeol mengelilingi tubuhku, menahanku.
"Pelan-pelan, babe."
Rasa pahit meningkat di belakang tenggorokanku. Memutar tubuh, aku berlari. Aku tahu aku tidak akan bisa sampai ke kamar mandi, jadi dengan aku putus asa mencari tempat sampah. Untungnya ada salah satunya yang dekat atau aku harus membersihkan tubuhku lagi.
Aku mengosongkan perutku, lagipula isinya tidak banyak. Untungnya rambutku di ikat ekor kuda. Sebuah tangan hangat mengusap punggungku menenangkan. Air mata mengalir di pipiku. Sampai sekarang aku berpikir bahwa aku sedang sekarat. Sekarang...Sekarang aku berharap aku akan sekarat!
"Ya Tuhan!" Gumam Chanyeol. "Kau baik-baik saja, babe?"
"Aku hanya ingin berbaring." Bisikku.‖"Aku tidak merasa baik akhir-akhir ini."
‖
"Ayo." Dia mendesak. "Aku akan membawamu kembali ke hotelmu."
Dunia berputar. Begitu mobil berhenti di depan hotel tempat kami menginap aku tahu aku dalam masalah. Masalah besar. Aku membanting pintu dan muntah sampai aku pikir perutku akan keluar dari mulutku. Tubuhku mandi keringat dan aku tidak tahu apakah aku bisa berjalan tanpa tertelungkup.
Chanyeol bergumam rangkaian kutukan kotor dan meneriakkan sesuatu ke penjaga pintu yang sedang menahan pintu terbuka untukku. Aku butuh waktu satu detik untuk menyadari bahwa pria malang itu mendorongku kembali ke mobil sewaan Chanyeol dan menutup pintunya. Aku hampir tidak punya energi untuk membuka mataku ketika aku melihat si rocker meninju sesuatu pada GPS dan kemudian dia segera bergerak cepat.
Ban berdecit saat ia masuk ke lalu lintas. Bunyi klakson yang marah di belakang kami, tapi aku tidak melihat ke belakang. Pada kecepatan kami aku yakin bahwa dia akan dihentikan ke tepi oleh polisi, tetapi dia tetap saja menabrak lampu tanda bahaya dan melewati peliut peringatan polisi saat berkelok-kelok masuk dan keluar dari lalu lintas.
"Tunggu, Yoongi." Gumamnya.
Aku tidak dapat menjawab. Dunia terasa kabur sekarang. Pada saat dia membanting rem untuk berhenti di depan UGD aku hampir tidak bisa berfungsi. Aku merasa dia mengangkatku keluar dari mobil, tahu bahwa dia praktis berlari dengan aku dalam pelukannya. Aku merasa dadanya bergemuruh ketika dia berteriak, tetapi tidak bisa cukup fokus untuk memahami apa yang dia katakan.
.
.
.
Rasa dingin tempat tidur dipunggungku cukup membangkitkanku untuk membuka mataku untuk sesaat. Aku melihat lampu terang, bau antiseptik.
"Dehidrasi berat." Suara seorang pria mengatakan.‖"Sudah berapa lama muntah-muntah?"
"Tidak tahu." Chanyeol terdengar stress.
"Tunggu disini." Suara itu memerintahkan. Aku merasa diriku mengambang, berasumsi itu adalah tim medis mendorong tempat tidur untuk menjauh. Jarum disuntikkan ke lenganku, tetapi aku tidak mempunyai energi sangat banyak untuk merintih.
"Yoongi?" Suara itu memanggilku dengan nada memerintah. "Kami memberimu cairan." Ada jarum lain di lenganku.
"Hanya mengambil sedikit darah, sayang."
Suara seorang perempuan kali ini. lembut dan ramah. Aku tidak pernah berhubungan dengan wanita lain yang sangat baik padaku. Aku yakin bahwa jika aku memiliki cadangan air aku akan menangis.
Pria dengan suara berwibawa meletakkan tangannya di pergelangan tanganku. Dia memegang disana beberapa menit lamanya. Tak berapa lama kemudian cairan yang mereka pompakan ke aku mulai menghidupkanku kembali. Perlahan-lahan aku mengerjapkan membuka mataku.
"―Aku benci dokter." Bisikku.
Dokter, seorang pria berwajah tampan dengan rambut hitam pendek dan mata coklat yang besar menyeringai ke arahku. "―Sayang sekali. Aku sebenarnya seorang pria yang lumayan."
Meskipun begitu mengerikan perasaanku saat ini, aku merasakan senyuman menggoda di bibirku. "―Aku memegang kata-katamu itu."
Dokter melepaskan tanganku. "Kau sangat sakit, wanita muda. Berapa lama kau telah muntah-muntah?"
Pikiranku masih berkabut, tetapi aku mencoba untuk menentukan berapa lama itu terjadi. "―Sebulan, aku fikir."
Mata dokter itu melebar. "Apakah kau pernah menemui seorang dokter sebelumnya?"
Aku menggelengkan kepala dan melihat dia menggelengkan kepalanya yang lucu dengan putus asa. "Tidak heran kau begitu dehidrasi. Apakah kau bisa makan sama sekali?"
"Tidak terlalu."
"Bagaimana dengan minuman? Air, isotonik?"
Aku menggelengkan kepalaku lagi. Dia menghela nafas. "―Kau benar-benar benci dokter ya? Jika kau sesakit ini dan menolak untuk mencari bantuan. Ini adalah hal yang sangat bagus pacarmu membawamu masuk saat dia menyadarinya. Terlambat sedikit saja dan kau bisa meninggal karena dehidrasi."
‖
"―Pacar?" Siapa pacarku? Apakah dokter ini gila? Jika para priaku tahu bahwa aku mempunyai pacar mereka akan mengamuk. Seorang pria harus memiliki lebih banyak keberanian daripada otak jika dia berfikir ada anggota dari Bangtan yang akan membiarkan mereka dekat denganku. Kadang kau akan berfikir jika aku berumur enam belas dan bukan dua puluh satu dengan cara perlakukan mereka jika ada pria lain yang memandangku dua kali.
"Pria menyeramkan dengan tato." Dia mengangguk di atas kepalanya dan aku melihat Chanyeol berdiri di pintu, mencoba untuk mengintip.
Teleponnya ada di telinganya dan dia mengerutkan dahinya.
Sebuah senyum lagi menggoda mulutku. "Chanyeol, bukan pacarku. Para priaku akan mematahkan kakinya jika mereka berfikir dia pacarku."
"Para priamu?" dokter memiringkan alisnya.
"Jangan dipikirkan." Gumamku. Sangat sulit untuk menjelaskan tentang para priaku dan aku tidak mempunyai energi bahkan untuk mencoba menjelaskannya. Mataku terasa berat.
"Cepatlah dan buat aku lebih baik jadi aku bisa kembali ke hotel. Aku ingin pergi tidur.‖Kau tidak akan kemana-mana setidaknya sampai besok, Min Yoongi. Kami harus melakukan beberapa tes, memasukkan lebih banyak lagi cairan ke dalam tubuhmu –dan mungkin sangat banyak- kau akan bisa pulang di pagi hari. Sampai saat itu biarkan aku mengambil darahmu lagi dan menemukan sebuah kamar untukmu."
Kepalaku tersentak. "Tetapi aku sudah pesan pesawat untuk membawaku ke Jeju di pagi hari. Aku akan pergi berlibur."
Sekali lagi dengan alis terangkat terkutuk itu. "Kelihatannya kau akan sangat terlambat untuk berlibur, sayang. Sekarang santailah. Monitor jantungmu akan gila."
Saat itulah aku merasakan bantalan lengket menempel ke dadaku dan menyadari suara bip bip yang konstan berbunyi.
Chanyeol masuk kembali ke dalam ruangan. "Aku tidak mendapat jawaban dari siapapun dari telepon sialan mereka." Dia menggeram.
"Konser sialan itu harusnya sudah selesai."
Aku tertawa kecut. "Kau seorang bintang rock Chanyeol. Apa hal pertama yang ingin kau lakukan ketika kau turun panggung, mabuk dalam egomu sendiri?"‖ Ekspresi di wajahnya menjelaskan padaku itu adalah jawabannya. "Jangan khawatirkan itu. Mereka akan kembali ke hotel dan menikmati malam gila mereka. Ketika mereka bangun di siang hari dan bertanya-tanya mengapa aku tidak datang untuk menyeret pantat mereka dari tempat tidur, mereka akan datang mencariku."
Matanya menggelap karena marah. "Jadi kau hanya menjadi yang kedua?"
Aku mengangkat bahuku. "Setelah konser, biasanya." Itu tidak menggangguku... terlalu. Tapi aku tidak akan mengeluh. Aku tahu bahwa mereka mencintaiku. Aku melirik ke dokter. "Bagaimana hasil pemeriksaan tes tersebut?"
Dokter melirik ke Chanyeol. "Apakah dia selalu ingin menang sendiri?"
Chanyeol mendengus. "Jika anda tahu orang-orang yang harus dia urus setiap hari Anda akan mengerti bahwa Anda mendapatkan versi yang baik dari tukang perintah."
TBC
Note : am I back ? anyone miss my remake ? or maybe everyone forget it already ?
