Cast : GS!Min Yoongi. Park Jimin. Kim Taehyung. Kim Namjoon. Jung Hoseok.

Rate : M for harsh-word. Violent scene. Emm Sexual content.

Warning!

Cerita ini (lagi-lagi) remake. Kali ini Karya Terri Anne Browning. Novel Terjemahan yang sudah lama terkenal sekali ,salah satu best-selling. Disini Yoongi lebih muda 10tahun dari pada cast lainnya dan tentu saja GS yaa. Setting dan Nama cast ku rubah sesuai kebutuhan remake wkwk but alur tetap seperti apa adanya novel ini dibuat dan BIG WARNIG! Disini bener-bener dengan kehidupan liberal (minuman keras-one night stand-kalimat profokatif) ,so yang gak suka membayangkan member Bangtan jadi so-liberal ,get ur ass off babe!

Jadi ,pengen hidup bersama member Bangtan versi Rocker dan Band ? here we go~~

Bab 7

Cahaya temaram di saring melalui jendela dengan tirai plastik. Aku mengerang pada gangguan untuk tidurku dan berbalik memunggungi jendela, tak ada yang aku inginkan selain tidur kembali.

Rasa sakit dilenganku karena aku bergerak membuatku membuka mata lagi. Aku tidak bisa menggerakkan lengan ku karena selang IV (infus) ku tidak akan mengizinkannya. Peristiwa malam sebelumnya datang kembali ke dalam pikiran berkabut tidurku dan tanpa berpikir tanganku menutupi perut bawahku. Bayi perempuanku berada di sana.

Dengkuran dalam di sekitar ruangan membuatku mengangkat kepala. Staf keperawatan telah di buat jengkel dan senang oleh penjagaku ketika aku dimasukkan ke dalam kamar pribadi malam sebelumnya. Beberapa dari mereka adalah fans Bangtan; yang lainnya hanya kagum karna ada roker di gedung yang sama dengan mereka.

Kursi dibawakan tanpa harus meminta, bersama dengan bantal dan selimut. Sekarang para pria ku tersebar di seluruh ruang tidur seperti orang mati. Dengan senyum bahagia di bibir aku meraih tangan yang berbaring paling dekat denganku sendiri di tempat tidur. Taehyung benarbenar tersentak ketika aku menyentuhnya.

"―Yoongi?"

"Aku masih disini." Aku meyakinkannya.

Dia menggosokkan tangan pada wajahnya. "―Aku butuh kopi."

"―Kita berdua membutuhkannya." Nik bergumam dari kursinya berjalan ke sisi kananku. Dia menggeliatkan lehernya ke kiri dan kanan, berusaha untuk memelemaskannya. "―Aku akan pergi mencari kopi untuk kita.‖ Dia berdiri dan mendaratkan sebuah ciuman di kening ku. "―Butuh sesuatu, baby girl?"

"Sesuatu yang dingin dan rasa jeruk? mulutku terasa lengket."

"Kau mendapatkanya." Dia berjanji dan menciumku lagi.

Aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya sampai dia tak terlihat. Taehyung menggelengkan kepalanya. "―Bodoh." Dia bergumam sambil bernapas.

"Diam, Tae." Terkutuk dia karena melihat semuanya!

"Hanya mengungkapkan kebenaran, Yoong." Dia berdiri, mengeretakan leher dan punggungnya sampai ia mampu bergerak dengan mudah. "―Wow, kau terlihat lebih baik. Aku belum melihat warna di pipimu selama seminggu ini."

Hoseok dan Namjoon sudah bangun ketika Jimin kembali dengan kopi dan minuman dingin untuk ku. Rasa lemon soda jeruk itu seperti surge untuk indra pengecapku dan aku meneguk setengahnya sebelum berhenti dan bersendawa. Para priaku menertawakanku karena aku bisa bersendawa lebih baik dari mereka semua.

Seorang perawat dengan rambut abu-abu pendek masuk tanpa mengetuk. Sebuah papan klip di satu tangan dan sebuah mesin kecil di tarik bersama dibelakangnya dengan tangan yang lain. Dia menggelengkan kepalanya kepada para priaku, dan memutar jalannya melalui mereka untuk sampai padaku.

"―Kau keliahatannya sudah boleh pulang, Miss Min"

Aku mendesah lega. "Terima kasih Tuhan."

"Biarkan aku memeriksa tekanan darah dan suhu tubuhmu, sayang."

Dia meletakkan sebuah manset pada lengan ku yang tanpa IV (infus) dan termometer di bawah lidahku. Sambil menunggu untuk mencatat tanda-tanda vital dia melirik kesekelilingnya. "Kalian tak apa-apa melihat darah?"

"Ya, ma'am." Taehyung meyakinkan perempuan itu. "―Tapi memangnya apa yang akan anda lakukan?"

"Saya harus mengambil selang infus di lengan Miss Min. Jika Anda tidak bisa melihat darah maka saya sarankan Anda keluar sampai dia selesai dibalut."

Aku memandang cepat pada Namjoon. "Mungkin kau harus pergi untuk mendapatkan kopi lagi." usulku. Dia tidak harus di suruh dua kali.

Pria itu bisa melihat darahnya sendiri sepanjang hari, kecuali darah orang lain dan dia cenderung takut. Perawat itu tertawa sambil menarik manset dari lengan ku, menulis beberapa hal di papan klip dan kemudian meraih lenganku yang berinfus. Benda itu dibalut dengan baik dan ketat dan aku tidak bisa menahan rengekkan selama perawat menarik perban lepas. Kemudian ia menggerakkan pelan-pelan jarum dari lenganku dan menambalku dengan perban kecil.

"Baiklah sayang, ini ada petunjuk dokter. Ikuti dengan dokter pribadimu minggu depan. Kembalilah jika kau merasa pusing lagi, tidak bisa menahan muntah, atau demammu parah."

Dia merobek lembaran atas kertas dan menyerahkannya bersama dengan sepotong kertas kecil. "―Dan resep untuk vitamin. Saranku minum itu sebelum tidur karna vitamin itu cenderung mengacaukan perut."

"Vitamin?" Taehyung mengerutkan dahi. "―Hanya itu? Hanya vitamin?"

"Tidak banyak yang bisa kita berikan padanya." Perawat itu mengatakan padanya sambil berputar ke arahnya.

"Kenapa tidak?" Hoseok menuntut, berdiri di sebelah pemain drum. "―Dia sangat menderita!"

"―Guys…" Perawat itu hanya tertawa dan aku mengerang, tahu hal ini akan jadi masalah besar. "―Seorang bayi tidak benar-benar memenuhi syarat sebagai penyakit yang serius, sayang."

"―Apa…" Taehyung.

"―…Itu…" Hoseok.

"SIALAN!" Jimin.

"―Yoongi!?" Taehyung lagi. Dia sudah disampingku seketika. "―Hal sialan apa yang dia bicarakan, seorang bayi?" Matanya terbakar dengan kemarahan bingung.

Aku menghela napas dan menyibak rambut dari wajahku, mengetahui bahwa aku harus menghadapi ini. Aku ingin mengatakannya secara perlahan pada mereka. Tapi, terima kasih pada perawat itu, aku harus melakukannya sekarang. Aku belum siap untuk ini! Aku belum siap untuk mengatakan apapun pada mereka.

Tentu saja mereka ingin tahu semuanya.

"―Aku hamil."

Akhirnya aku memberitahukan padanya dan melihat mata gelapnya melebar. Hidungnya mengembang dan aku teringat pada banteng yang mengamuk. Hebat! Aku membelalak pada perawat itu. Wanita itu bergumam permisi dan pergi keluar. Ya, kemudian mudah untuk menentukan siapa orang yang paling tidak aku sukai di dunia ini.

"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?" Hoseok menuntut.

Walaupun situasi sangat serius aku benar-benar tertawa padanya.

"Maksudmu kau tidak tahu caranya, Hoseok?"

Dia memberikan tatapan yang meremukkan padaku dan aku kehilangan senyumanku. "Jangan coba melucu, Min Yoongi. Kau tahu apa yang sebenarnya kumaksud."

"Ada apa dengan semua teriakan-teriakan itu?" Namjoon menuntut, berjalan kembali kedalam ruangan.

"Yoongi hamil." Taehyung membentak.

"Bagaimana mungkin?" dia menuntut, melihat kearahku dengan terkejut. Ya, kau bisa mengatakan siapa saudara biologis di band ini.

"Siapa?"

Mataku memusatkan perhatian pada Jimin dan pertanyaan yang diucapkanya dengan pelan "―Apa?"

Mata dinginnya itu yang selalu bisa melihat kedalam relung jiwaku sekarang terbakar. "―Siapa, Yoongi? Siapa ayahnya?" Dan dia memandang lurus pada Taehyung. "―Atau apakah aku sudah tahu."

"Apa?" Aku tak percaya bahwa dia berpik itu Taehyung…

"Apa maksudmu, Park Jimin!" Taehyung marah pada temannya. "―Kau pikir aku akan..? Apa kau sudah gila? Dia mungkin seksi, tapi aku tak pernah menyentuhnya! Dia seperti saudara bagiku."

"Aku tak percaya padamu." Suara Jimin sedingin es dan aku tahu saat itu juga bahwa ia lebih dari marah. Jimin hanya akan sangat dingin ketika ia benar-benar marah. Aku tidak yakin bagaimana atau bahkan kenapa dia sangat marah. Para pria lainnya marah, pasti. Tapi tidak seperti Jimin.

"Aku melihat cara kau menatapnya. Aku lihat bagaimana dia selalu menempel padamu."

"Jimin…" Aku hancur ketika dia menatap kembali padaku. Untuk sesaat aku tak mampu bernapas selama aku mendapatkan kegusaran di mata indahnya. Dia tak pernah melihat ku seperti itu sebelumnya.

"Jimin, bukan Taehyung ayahnya."

"Lalu siapa, Yoongi?"

Dia melintasi ruangan dengan sangat cepat. Dia menyandarkan tangannya di tempat tidur kedua sisiku dan mendorong wajahnya sangat dekat bahkan aku bisa merasakan kopi di napasnya.

"Siapa yang menyentuh mu?!"

Aku tak bisa berkata-kata. Tak bisa membentuk kata-kata yang dia inginkan untuk aku katakan. Bagaimana bisa aku mengatakan padanya ketika dia berpikiran seperti itu? Kenapa dia menuduh seperti itu? Laki-laki ini yang telah menyaksikan seluruh kehidupanku, yang telah menyanyikan lagu tidurku, yang telah mencintaiku seperti saudara, dan memperlakukanku seolah aku ini istimewa... Dia terlihat seperti benci padaku sekarang dan aku tak mengerti itu.

Hoseok mendorongnya kembali. "Hentikan, Park Jimin. Tak bisakah kau melihat bahwa dia takut padamu sekarang?"

"Cukup katakan siapa!"

"Kenapa?" Aku berteriak. "Kenapa kau sangat ingin tahu?"

"Supaya aku bisa membunuhnya!" Dia berteriak.

Air mataku mengalir. "―Ada apa denganmu, Jim? Kenapa kau bersikap seperti ini?"

"―Chanyeol? Dia mendekatimu beberapa bulan yang lalu. Apakah dia? Aku melihatnya malam kemarin dan tangannya selalu menyentuhmu." Dia berjuang membebaskan dirinya dari Hoseok dan aku takut jika Hoseok tak mampu menahannya dia akan memukulku. "―Apakah dia!?"

"Bukan!"

"Siapa!"

Taehyung memposisikan dirinya antara aku dan Jimin, tapi dia memutar kearahku dan menggenggam tanganku. "―Katakan padanya, Yoongi. Katakan padanya supaya dia bisa tenang."

"―Aku…" Aku menggeleng. Jika aku katakan yang sebenarnya maka aku harus mengatakan tentang itu juga. Aku tak bisa bersembunyi lagi. Aku akan sangat malu.

"―Seseorang dalam ruangan ini?" Jimin bertanya. "―Benar?"

"―Ya"

Aku berbisik dan kepala Taehyung tersentak seolah-olah aku menamparnya. Matanya bertemu dengan mataku dan aku tahu bahwa dia tahu jadi aku mengalihkan pandangan ke tempat tidur.

Jimin mendengar ku. Seperti dia memiliki pendengaran supersonic karna aku bahkan tak mendengar suaraku sendiri. "―Siapa, Min Yoongi? Katakan padaku siapa." Apakah suaranya benar-benar pecah?

Aku menelan dengan kuat dan mengerjapkan air mataku, tapi itu tak mampu untuk mencegahnya. "―Jim…"

"―SIAPA!"

"―KAU!"

TBC

Note : terereeeeeeeeeee yeah here comes the daddy~ doakan moodku yang baru saja kehilangan belahan jiwa a.k.a hpku tersayang segera kembali sehingga bisa fast update yaaak

review juga mempengaruhi kecepatan update uyeeee