Cast : GS!Min Yoongi. Park Jimin. Kim Taehyung. Kim Namjoon. Jung Hoseok.

Rate : M for harsh-word. Violent scene. Emm Sexual content.

Warning!

Cerita ini (lagi-lagi) remake. Kali ini Karya Terri Anne Browning. Novel Terjemahan yang sudah lama terkenal sekali ,salah satu best-selling. Disini Yoongi lebih muda 10tahun dari pada cast lainnya dan tentu saja GS yaa. Setting dan Nama cast ku rubah sesuai kebutuhan remake wkwk but alur tetap seperti apa adanya novel ini dibuat dan BIG WARNIG! Disini bener-bener dengan kehidupan liberal (minuman keras-one night stand-kalimat profokatif) ,so yang gak suka membayangkan member Bangtan jadi so-liberal ,get ur ass off babe!

Jadi ,pengen hidup bersama member Bangtan versi Rocker dan Band ? here we go~~

Bab 8

(A/N: Tolong bernafas dan berdoalah sepanjang membaca Bab ini. WASPADALAH!)

Jika aku memberitahumu bahwa itu mungkin bagiku melukai orang yang kucintai apakah kau akan percaya? Itu memang benar. Aku mengambil sesuatu yang sebenarnya bukan untukku. Aku mengambilnya dan berpura-pura tidak melakukannya. Aku mengambilnya dan menghargai setiap detik sialan itu.

Aku adalah orang yang jahat. Aku mengambil keuntungan dari seorang teman, dari seseorang yang telah menghabiskan masa hidupnya untuk membuat hidupku lebih baik. Jimin mempercayaiku. Aku satu-satunya orang yang dipercayainya sepanjang hidupnya, sehingga jika dia tidak percaya lagi maka tidak akan ada orang lain. Dan aku menghancurkan kepercayaan itu.

Empat bulan yang lalu aku menjadi seorang yang lemah dan egois. Tapi sampai hari ini, detik ini aku tidak menyesalinya. Aku hanya membiarkan diriku memikirkannya saat aku berada sendirian dikamar hotelku. Ketika cinta dan kebutuhanku pada Jimin membuatku kewalahan sampai pada titik dimana aku tahu aku tak punya pilihan selain mengingat kembali saat malamku bersamanya.

.

.

.

Untuk sekali ini kami beristirahat sepanjang hari sebelum konser dimulai. Aku senang karena ada badai diluar dan aku benci berada di bus selama hujan badai. Bahkan diumur 21 tahun pun aku masih takut akan petir.

Aku meringkuk dalam selimutku dan mencoba untuk tidak berpikir macam macam tentang badai yang mengamuk diluar. Namun itu tak ada gunanya. Jadi aku mengambil kunci kamarku dengan kunci kamar yang lain dan beranjak keluar dari kamar. Lampu berkedap-kedip kala aku berlari melintasi koridor dan membuka pintu kamar Jimin. Aku tahu seharusnya aku tidak melakukannya, sebab ada kemungkinan aku tidak sengaja menyaksikan Jimin sedang bercinta dengan salah satu fansnya. Tapi guntur lebih menakutkan bagiku.

Ketika kubuka pintu kamarnya, aku terkejut menemukannya sendirian dan tak lama merasa senang karena pada kenyataannya dia tidak sedang bersama seorang pelacur. Lampu dikamar mandi menyala dan pintunya sedikit terbuka, menjatuhkan cahaya lembut disekitar ruangan. Dia sedang berbaring dengan satu tangannya berada dibawah kepalanya sementara yang satunya... Tangan satunya tengah membelai kejantanannya yang mengeras!

Aku tersentak, melihat untuk pertama kalinya Jimin yang sedang terangsang. Dia sepenuhnya telanjang, dan kejantanannya yang panjang dengan puncak lebar membentang melewati pusarnya.

Bolanya, bulat sempurna mengetat saat dia melanjutkan gerakan tangannya naik dan turun di kejantanannya yang berdenyut-denyut. Mulutku mendadak mengering saat aku tanpa rasa malu melihatnya.

"―Akhirnya." Dia melantur dan aku menyadari dia sedang mabuk.

"Akhirnya apa?" Aku menarik napas dalam-dalam, tidak dapat menemukan suara yang lebih kuat.

"Kau akhirnya datang padaku. Oh Tuhan! Aku sudah nyeri sepanjang malam hanya untukmu." Dia duduk dan mengulurkan tangannya yang tidak membelai dirinya, sesuatu yang masih tetap dilakukannya. Jemarinya bergoyang, menggodaku untuk datang kepadanya.

"Kemarilah, baby!"

Tanpa berpikir, aku maju ke arahnya dan meletakan tanganku digenggamannya. Dengan sedikit tarikan dia menarikku jatuh ke sampingnya ditempat tidur.

"Sentuhlah!" Masih memegang tanganku, dia membawanya ke kejantanannya dan menangkupkan jemariku di sekelilingnya. "―Apakah kau merasakan betapa aku membutuhkanmu?"‖

"―Ya." Bisikku, terpesona akan pemandangan jemariku yang meluncur naik turun di kejantanannya yang besar.

Aku tahu ini salah. Jimin mabuk dan berpikir aku adalah salah satu dari fansnya yang datang untuk bermain cinta dengannya. Tapi begitu aku menyentuh benda hidup yang mana itu adalah kejantanannya, aku tahu bahwa aku tidak perduli. Aku menginginkannya, sungguh menginginkannya sejak lama. Dan aku mencintainya dengan cara yang tak bisa dilakukan oleh orang lain.

Tidak masalah aku masih perawan, dia kemungkinan besar tidak akan mengingatnya begitu pagi menjelang, dimana waktu yang aku rencanakan untuk telah pergi lama dari tempat tidur ini. Badai yang mengamuk diluar sudah bukan hal yang penting lagi, pikiranku teralihkan sepenuhnya ketika aku membungkuk dan mencium Jimin.

Suara erangannya dalam, seksi dan membuatku merinding ketika kurasakan lidahnya menyapu bibir bawahku. "Manisnya! Belum pernah aku merasakan sesuatu yang semanis ini sebelumnya."

Dia melumat mulutku, membuatku pusing akan hasrat dan membuatku kehilangan napas. Jemariku saling tertaut di rambut tebalnya, membutuhkan sesuatu untuk dipegang saat dia memulai petualangan liar ini yang hanya pernah kuimpikan dengan pria ini.

"―Perlahan, baby." Dia terkekeh geli dengan suara yang kaya akan godaan yang begitu kusukai. "―Aku takkan kemana-mana."

"―Aku sangat menginginkanmu." Ujarku padanya, tanpa menghiraukan perasaanku terungkap di pikiran gelapnya yang berkabut. "―Aku membutuhkanmu, Jimin."

"Oh Tuhan! Aku juga menginginkanmu, baby." Dia menangkup wajahku, seakan mengingat setiap detilnya, namun aku juga bertanya-tanya apakah dia benar mengenaliku. "―Begitu cantik."

Bibirnya menyapu di sepanjang rahangku, lidah nakalnya meluncur di leherku dan menghisap urat yang praktis berdenyut-denyut dari dasarnya. Dia menikmati waktunya berlama-lama denganku. Dengan hati-hati melepas baju kaus & celana pendekku. Dia menjilati setiap inci tatoku di pinggul, menggigit-gigit di sayap iblis hitam yang mengelilingi gambar hati berwarna hitam dengan semua nama mereka tertulis di dalamnya dengan tinta berwarna merah. "―Sungguh seksi sekali."

Geramnya sebelum membalik tubuhku sehingga dia bisa member perhatian lebih jelas tato yang menghiasi sebagian besar punggungku. Sayap iblis yang berwarna gelap, menggambarkan aku sebagai iblis bersayap itu dengan penulisan gaya Gothic yang menyebutku adalah―Milik dari Bangtan, ditulis dengan huruf Goth.

Kurasakan kejantanannya menyenggolku, meluncur di sepanjang celah pantatku dan aku melebarkan kakiku tanpa ragu.

"Kau belum siap untuk aku melakukan itu, baby. Pantat perawanmu itu harus dijinakkan perlahan. Terutama ketika aku keras seperti ini...Belum pernah aku sekeras ini, baby. Tidak pernah! Semuanya untukmu..."

Dia menggigit bahuku. Aku menjerit dari kenikmatan murni dari rasa sakit sedikit yang mendalam di antara kakiku. Ketika dia membalik tubuhku kembali ke punggungku dan menyerang bibirku lagi, terlihat hilang dalam cecapan rasaku.

Dia menangkup payudara kecilku ditangan besarnya, membuatku merona. Dia terbiasa dengan payudara yang besar daripada punyaku. Jimin adalah pecinta payudara dan aku tahu bahwa punyaku tidak memukau dia sebelumnya. Tapi kelihatannya dia menyukainya.

Mulutnya meninggalkan mulutku dan menelan hampir keseluruhan salah satu payudaraku saat dia mengisap putingku ke dalam mulut panasanya. Aku menjerit, menyukai sensasi tarikan yang ditimbulkan saat dia menghisap. Jemarinya menarik putingku yang lain, tidak mau melewatkannya sedikit pun. Setelah beberapa menit, mulutnya berpindah ke payudaraku yang lain sementara jemarinya bergerak meluncur ke bawah, membelai sepanjang pusarku dan semakin turun.

Ketika dia mencapai kewanitaanku, dia mengangkat kepalanya dan melihat saat jemarinya membuka lipatanku. Sebuah erangan tersiksa keluar dari mulutnya. "―Sungguh basah untukku."

Dia tampak terpesona dengan rambut pubisku. Aku selalu membersihkannya dengan waxing kecuali pada bagian yang disebut orang-orang garis landasan di sepanjang lipatan luarku. Dari cara dia menatapku begitu intens pada rambut pubis keriting pirangku, aku mengambil kesimpulan dia menyukainya. "―Apakah rasamu sama bagusnya dengan aromamu, baby?"

Sebelum aku bisa menjawabnya, dia telah pindah dan memposisikan mulutnya diklitorisku. Aku menjerit saat dia menghisap pusat intiku dengan mulut panasnya. Punggungku melengkung dari ranjang saat dia menghisap dan terus menghisap hingga aku tak bisa bertahan lagi dan akhirnya orgasme dimulutnya. Cairanku melimpah ruah dipintu kewanitaanku dan dia merintih sambil membersihkanku hingga tetes terakhir.

Ketika dia mengangkat kepalanya, wajahnya berkilauan dengan bukti gairahku. Jimin tidak bersusah payah untuk mengelapnya ketika dia menciumku. Rasaku di lidahnya sungguh memalukan pada awalnya, tapi kemudian aku dapat merasakan seutuhnya hal itu dan mengerang akan betapa eksotisnya rasa ini.

Dia berbaring terlentang dan membawaku ke atasnya. "Katakan kau milikku" Tuntutnya.

"―Aku milikmu." Jawabku tanpa keraguan. "―Semuanya untukmu, Jimin!"

"―Bawa aku ke dalam dirimu, baby. Jadikan aku bagian darimu."

Jika aku bisa berhenti berpikir sejenak, aku mungkin akan menyarankan kondom. Tapi saat ini aku mungkin telah terlalu terangsang. Pengaman adalah hal paling jauh yang ada di pikiranku saat aku meluncur turun ke kejantanannya.

Aku menggigit bibirku dan menelan balik tangisan kesakitanku saat dia mencoba menerobos penghalang keperawananku. Dia terengah-engah saat aku memulai gerakan turun sampai ke dasar. "―Begitu nikmat. Sungguh sangat ketat." Desisnya.

Tangannya dipinggulku menahanku untuk tetap stabil. "Tahan sebentar, cantik. Jika kau bergerak sekarang aku akan mempermalukan diriku dan meledak terlalu cepat di dalammu."

Aku dengan senang hati memberinya semua waktu yang dia butuhkan karena aku sendiri sedang berjuang untuk menampungnya. Aku membungkuk ke depan hingga putingku menelusuri dadanya dan menciumnya. Lidahnya bergelut dengan lidahku dan kurasakan otot intiku mengendur, membuatnya pas untuk diatur. Aku mulai bergerak diatasnya tapi tangannya mengencang dipinggulku, memaksaku untuk tetap diam.

"―Belum sekarang." Ucapnya. "―Aku terlalu dekat untuk keluar."

"Jimin!" Aku perlu bergerak sekarang. Aku terbakar lagi untuknya.

Memahami kebutuhanku, ibu jarinya menggosok klitorisku. Aku berteriak menikmatinya. "―Kumohon. Aku hampir sampai.

Dia melepaskan pegangannya di pinggulku dan aku mulai bergerak maju dan mundur dengan hati-hati. Otot dalamku menegang saat pelepasanku mulai dekat. Jempolnya terus menggosok dan memutar dengan cepat di atas klitorisku, memburuku hingga aku sampai ke tepian jurang orgasme.

"―Jimin!" Aku tak bisa bertahan lebih lama. "―Sialan, Jimin!"

"―Baby...!" Punggungnya melengkung saat melepaskan dirinya di dalam diriku.

Aku jatuh di dada kerasnya, mencoba untuk bernafas. Lengannya mendekapku erat dan dia mencium bahuku. "―Sungguh menakjubkan." Gumamnya setengah tertidur.

Aku tersenyum di atas dadanya yang berkeringat basah sambil mengangguk setuju.

Pada saat aku telah bisa mengatur napas, Jimin telah terlelap. Aku benci meninggalkannya, tapi aku tahu aku tidak bisa tinggal sehingga aku turun dari atas tubuhnya. Dia mengigau sesuatu hal yang tidak bisa kupahami saat dia berguling menjauh dariku. Aku cepat-cepat berpakaian dan pergi meninggalkannya.

.

.

.

Keesokan harinya ketika berprilaku seperti Jimin yang telah lama kukenal, aku tahu dia tidak mengingat apa-apa. Sebagian kecil diriku mati perlahan didalam, namun sebagian besarnya terlihat lega. Aku tak bisa menghadapinya bila dia tiba tiba memperlakukanku berbeda karena kejadian spontan dimana aku terlalu lemah untuk berkata tidak.

TBC

Note : Masih pada hidup ?

ps: udah pada liat star 360 bts ? itu syub kok ekspresinyanya ga bisa dijaga pas chim dance haaaaaaaa apa kabar hati para shipper ?